Kapitalisme Musuh Kemanusiaan

Kapitalisme merupakan sistem ekonomi yang bertumpu pada modal, dengan kepemilikan modal atau penguasaan modal oleh segelintir orang, dimana  individu maupun kelompok dapat memiliki maupun melakukan tindakan penguasaan, memperdagangkan benda sebagai milik pribadi, terutama kepemilikan alat-alat produksi, seperti tanah, bahan mentah/ bahan baku bahkan manusia untuk kepentingan keuntungan pribadi.

Tampak jelas dalam faktanya bahkan kepemilikan ini bisa menembus batas yang awalnya hanya sekadar benda, menjadi manusia memiliki atas manusia lainnya. Dalam kapitalisme, hal ini menjadi sah dengan dibalut perjanjian kerja atau memperhalus bahasanya menjadi buruh adalah aset. Manusia menjadi bagian dari aset kepemilikan modal walaupun pada kenyataannya buruh adalah variabel pengubah atau pengembang modal tersebut. Sedangkan manusia yang memiliki modal inilah yang kita sebut sebagai KAPITALIS.

Dari mana Kapitalis mendapatkan modal?

Penting untuk diketahui awal mula kapitalis mendapatkan modal, menguasai modal, dari rangkaian sebab akibat yang bisa dilacak dalam sejarah sampai semrawutnya (baca: rumitnya) peredaran modal hingga modal dari meminjam ke bank. Tapi dari mana bank itu sendiri mendapatkan modalnya?

Bahwa alam semesta ini sejak dari awal menyediakan bahan keperluan hidup manusia baik yang dapat dikonsumsi langsung maupun tidak langsung, seperti bahan mentah yang harus diolah dulu baru dapat dimanfaatkan. Dari pengakuanlah awalnya modal itu datang setelah produksi manusia mencapai surplus. Bahwa tanah itu milikku, gunung itu milikku, sungai itu milikku, pohon itu milikku, laut itu milikku, batu itu milikku, hutan itu milikku. Untuk mendapatkan pengesahan kepemilikan tersebut tentunya diperlukan kekuatan agar kepemilikan tersebut diakui dan tidak mudah dirampas oleh orang lain. Dari sini hukum rimba ditetapkan, yang kuat menguasai yang lemah juga mulai terjadi, bahkan sampai pada merasa berhak untuk merampas. Dari sini juga mulai timbul “hak” mengelola, mengembangkan kepemilikan tersebut bahkan timbul hak untuk memperdagangkannya untuk maksud-maksud tertentu.

Lalu bagaimana dengan kepemilikan manusia atas manusia lainnya? Untuk menjaga kepemilikan dan untuk memanfaatkan kepemilikan pribadi maka diperlukan cara untuk untuk mempertahankan kepemilikan dan mengembangkannya agar dapat nilai manfaat atau kepentingan pribadinya terlaksana. Pemilik modal/kapitalis ini bergerak lebih jauh dengan memanfaatkan manusia lainnya dengan memperkerjakannya atau membeli tenaga kerja manusia. Cakupan pembelian kerja ini cukup luas dan cenderung merugikan manusia. Yang perlu digarisbawahi disini, memperkerjakan dalam artian harus tunduk dan patuh terhadap pemberi kerja dan BUKAN KERJA SAMA. Jadi tenaga kerja manusia dibeli dengan harga sesuai keinginan pembelinya bukan dari hasil kerja yang dibagi secara adil.

Sebagai contoh, untuk menjaga kekayaannya maka Kapitalis (kita sebut K) perlu mengembangkan kekayaannya. K mendirikan perusahaan bernama N yang bergerak di bidang komponen otomotif yaitu pembuatan lampu mobil yang terbuat dari plastik. Untuk membuat perusahaan tersebut K menggunakan sebagian kekayaannya sebagai modal yakni berupa tanah dan sejumlah uang. Jumlah keseluruhan nilai modal tersebut ditaksir Rp10 miliar. Dari modal tersebut K mengggunakannya untuk pembangunan gedung 900 juta dan izin pembuatan perusahaan 100 juta (termasuk di dalamnya harus menyetor sejumlah uang ke bank sebagai persyaratan). Uang 900 juta tersebut untuk pembangunan gedung sudah termasuk biaya buruh yang membangun gedung. Pembuatan gedung dan izin pendirian perusahaan menghabiskan sebesar Rp1 miliar (900 juta + 100 juta) menjadi modal tetap yang nilainya bisa naik kalau dijual di kemudian hari (modal konstan). Untuk menjalankan usahanya K merekrut buruh 100 orang dengan upah rata-rata Rp4 juta dengan bekerja dua shift untuk memenuhi target penjualan. Total pengeluaran upah, makan dan tunjangan lannya setiap bulannya Rp2 miliar, sudah termasuk uang lembur dan tunjangannya. Untuk menjalankan produksi K membeli 10 mesin dengan harga masing-masing mesin 200 juta, dengan total pembelian Rp2 miliar. Untuk pembelian material bahan baku sebesar Rp1 miliar, keperluan administrasi serta jasa pengiriman sebesar Rp1,5 miliar, biaya perawatan gedung dan mesin 250 juta serta  cadangan pengeluaran lain-lain sebesar 250 juta. Biaya pajak Rp2 miliar.

Dari hasil produksi lampu dalam sebulan perusahaan dapat memproduksi lampu sebanyak 1.500.000 lampu dengan harga 1 lampu adalah 50.000,00 rupiah. Dari hasil penjualan 1 bulan terjual 1.000.000 lampu dengan nilai penjualan sebesar 50.000.000.000,00

Hasil penjualan: Rp. 50.000.000.000,00

Modal:  Rp.10.000.000.000,00
Gedung: Rp.900.000.000,00
Izin pendirian perusahaan: Rp.100.000.000,00
10 mesin @ Rp. 200.000.000,00: Rp.2.000.000.000,00
Bahan baku (material,packing dan lain-lain): Rp.   1.000.000.000,00
Administrasi dan jasa pengiriman: Rp.1.500.000.000,00
Perawatan gedung dan mesin Rp.250.000.000,00
Cadangan pengeluaran lain-lain: Rp.250.000.000,00
Sisa uang di Bank: Rp.4.000.000.000,00
Total: Rp. 10.000.000.000,00

Biaya upah, tunjangan, makan dan lain-lain terkait buruh

(100 buruh): Rp.   2.000.000.000,00
Biaya pajak: Rp.   2.000.000.000,00
Total: Rp    4.000.000.000,–

Dari hasil penjualan dikurangi modal, upah buruh beserta tunjangan lainnya dan pajak adalah nilai lebih atau keuntungan bersih sebesar Rp. 36 Miliar!

Catatan: Upah, material dan pembiayaan lainnya dibayar setelah jatuh tempo satu bulan. Selanjutnya biaya pembuatan gedung dan izin pembuatan perusahaan, pembelian mesin tidak diperlukan lagi kecuali kalau mau perluasan usaha. Misalnya saja untuk pemenuhan usaha berikutnya diperlukan untuk bahan baku, administrasi, perawatan, cadangan pengeluaran sebesar Rp3 miliar uang hasil penjualan masih Rp33 miliar. Bahkan K masih memiliki barang berupa lampu yang akan terjual berikutnya yaitu 500.000 lampu dengan nilai jual Rp25 miliar. Ingat Rp58 MILIAR!

Kemana uang 33 miliar itu? Yang jelas secara pengakuan itu disebut KEUNTUNGAN MILIK KAPITALIS. Mau dipergunakan untuk perluasan usaha ataupun ditumpuk jadi kekayaan, konon itu jadi hak Kapitalis. Dari pendapatan sebesar itu K seharusnya dapat menyerap tenaga kerja berlipat-lipat bahkan sampai 4 (empat) shift dengan kenaikan jumlah 300 orang dan menurunkan jam kerja lebih dari 2 jam, dengan tetap meraup keuntungan meskipun berkurang dari keuntungan awalnya. Kapitalisme melanggenggkan pengangguran, menjaganya dan menetapkannya demi upah murah. Semakin banyak pengangguran, semakan mau buruh dibayar murah karena banyak cadangan tenaga kerja yang bisa menggantikannya.

Adilkah buruh yang hanya dapat Rp4 juta dibanding Kapitalis yang mendapat Rp33 miliar bahkan Rp58 miliar? Padahal walaupun Kapitalis merasa memiliki modal Rp10 miliar itu kalau tidak ada ada yang bekerja untuk mengubah modal tersebut apakah bisa berkembang jadi Rp36 miliar bahkan Rp58 miliar? Tidak! uangnya akan tetap Rp10 miliar dan tidak bisa jadi Rp36 miliar ataupun Rp58 miliar. Di sinilah kelihatan manusia menghisap manusia lainnya. Kapitalis menghisap Buruh.

Namun apa yang terjadi, sudah menjadi tabiatnya Kapitalis yang selalu jahat, ia hanya ingin meraup keuntungan secara fisik dan psikis buruh. Buruh akan selalu dibuat tergantung kepada Kapitalis. Menambah tenaga kerja akan mengurangi keuntungan Kapitalis apalagi menurunkan jam kerja,  dengan membiarkan banyak pengangguran secara otomatis akan menurunkan harga pasar tenaga kerja. Calon buruh akan bertambah, kebutuhan manusia untuk bekerja akan meningkat dan menimbulkan persaingan bahkan sampai pada titik dibayar berapa saja mau asal dapat kerja. Praktis secara sadar ataupun tidak, hidup buruh sudah dibeli dan menjadi milik Kapitalis. Buruh telah menjadi milik Kapitalis, bahkan kepemilikan ini dilindungi oleh Negara dengan aturan hukum yang mengistimewakan Kapitalis.

Sejak zaman perbudakan sampai sekarang kepemilikan-kepemilikan seperti ini terus berlanjut dan sekarang dijaga oleh Kapitalis dengan berbagai cara, bahkan sampai sekarang perbudakan tersebut juga belum tuntas. Secara sadar atau tidak, terpaksa atau tidak, manusia menjalankan sistem penindasan seperti ini berulang-ulang dan terus menerus. Sistem kepemilikan modal ini terus dijaga oleh Kapitalis. Di mana posisi Negara? Apakah Negara juga merupakan sebuah identitas lain dari Kapitalis? Negara menjadi pelindung Kapitalis di mana elit-elit politik dan pegawai birokrasi memperoleh keuntungan dari perlindungan yang diberikannya.

Apa saja yang dirusak oleh Kapitalisme? Kapitalisme merusak alam. Kapitalisme dengan jahatnya mengeksplotasi atau menguras alam tanpa pandang bulu demi keuntungan yang terus menerus. Gunung pun dikeruk tanpa mempedulikan akibatnya bencana alam, laut pun diuruk tak peduli merusak ekosistem, hutan pun dibabat untuk ditanam sawit biar lekas untung, rumah warga digusur untuk pembangunan infrastruktur agar distribusi produksi cepat dan lancar sekaligus mempercepat datangnya keuntungan.

Manusia pun dirusak, manusia dibuat tunduk atas manusia lainnya, manusia dikuasai atas manusia lainnya, manusia dibuat tergantung kepada Kapitalis, hukum dibuat untuk memanjakan Kapitalis. Buruh dipaksa menuruti kehendak Kapitalis untuk bekerja dan bekerja di bawah kendali sistem kontrak, outsourcing dan magang. Bekerja dan bekerja sampai habis tidak bisa bekerja ataupun dipaksa habis untuk tidak bisa bekerja dengan dalih Pemutusan Hubungan Kerja (PHK), dengan alasan efisiensi, habis kontrak, melawan Kapitalis atau membahayakan Kapitalis. Kapitalis tidak pernah memikirkan kebahagiaan buruh. Buruh lajang dan buruh usia muda dirasa fresh, kuat, produktif dan sedikit biaya, bisa dipersaingkan dalam bursa kerja, tapi dengan hanya sedikit peluang kerja. Buruh berkeluarga diambil manfaatnya oleh Kapitalis. Kapitalis tak perlu bertanggungjawab mencuci pakaian buruh akibat kerja atau menyembuhkan ketika buruh sakit akibat kerja. Ada yang ngurusi, yakni isterinya kalau sudah menikah atau ibunya kalau masih lajang. Bahkan tenaga kerja pengganti sudah melimpah bila buruh mati sekalipun. Pertambahan penduduk hanya dimanfaatkan untuk persaingan dalam pasar kerja, bukan demi kemajuan umat manusia.

Apa yang diperbuat Kapitalis dalam pendidikan? Kapitalisme menghalangi perkembangan ilmu pengetahuan bahkan menghancurkannya. Apa sumbangsih Kapitalis dalam dunia pendidikan? Hanya dalam batas-batas keuntungannya. Apakah Kapitalis menyumbangkan sebagian keuntungannya untuk pendidikan atau pengetahuan demi kemajuan umat manusia? Tidak, dimana-mana Kapitalis itu pelit bahkan kikir. Kapitalis sedikit pun tidak punya tanggungjawab meningkatkan kecerdasan buruhnya dan anak-anak buruhnya. Kapitalis secara langsung diuntungkan oleh sistem pendidikan yang dicanangkan oleh Pemerintah melalui kurikulum-kurikulum persaingan dan  persiapan masuk dunia kerja tanpa pembelajaran hukum agar bisa makin diperas. Yang pasti pelajar harus bisa bersaing bisa dapat kerja. Sistem pendidikan dibuat agar menjadi mahal untuk melegitimasi pencarian keuntungan di sektor apapun, tak terkecuali sektor pendidikan. Walaupun sebenarnya nilai yang dihasilkan oleh kerja buruh mampu menopang pendidikan gratis sampai pendidikan tinggi gratis.

Apa sumbangan Kapitalis dalam hal kemajuan teknologi? Kapitalis sedikit pun tak menyumbang perkembangan teknologi untuk kemanusiaan, justru Kapitalis menguras atau mengeksploitasi penemuan teknologi seseorang untuk kepentingan kepemilikan dan keuntungan belaka, bahkan kapitalis mengendalikannya agar mendapatkan keuntungan berkelanjutan. Teknologi mengalami kemajuan, tapi Kapitalis membentuk buruh larut dalam kebodohan.

Meskipun teknologi produksi semakin maju, Kapitalis tetap menggunakan jam kerja panjang, lembur dan kerja shift  agar buruh tidak sempat memikirkan asupan pengetahuan dan diskusi ataupun belajar. Hanya kerja dan kerja, diawasi dan terus diawasi. Kapitalis menciptakan kondisi buruh butuh lembur dan bersaing untuk mendapatkan lembur, bahwa lembur adalah segalanya untuk memenuhi dan memuaskan hidup. Buruh dipaksa mengikuti jejak kapitalis bagaimana menumpuk kekayaan. Kapitalis tak pernah memikirkan hidup yang baik adalah sesuai kebutuhan. Kapitalis menggambarkan bahwa hidup mewah itu sudah menjadi haknya sebagai kelas pemilik kekayaan. Begitu juga buruh apabila ingin mendapat ceceran kemewahan harus kerja keras, lembur dan lembur, menjilat dan patuh kepada kapitalis. Namun, faktanya buruh hanya dibenturkan pada pola konsumerisme yang tentunya tetap mengarah pada keuntungan Kapitalis.

Kapitalis secara jelas melanggengkan semangat feodal, menjilat dan patuh, atasan-bawahan, pemilik dan buruh dalam persaingan dan pengkhianatan. Kapitalis melawan hukum agama (bahkan sampai pada tingkat mampu mengendalikan buruh agar tidak taat beribadah dan tak lagi peduli urusan keadilan), melawan kemanusiaan dan menghambat peradaban. Kapitalis menumpuk-numpuk harta kekayaan, secara jelas menindas buruh, menghisap buruh dan merealisasikan neraka secara cepat di dunia ini, tidak berbelas kasih dan membunuh baik secara cepat ataupun perlahan.

Bagaimana tindakan kita dengan kondisi seperti ini? Pertama apakah kita menyadari dari mana awalnya penindasan dan penghisapan, apakah ada hal lain? Kedua apakah kita bersepakat sistem yang dibuat kapitalis ini keliru dan merusak? Ketiga, mengapa perlawanan-perlawanan selalu kandas bahkan tidak bersejarah panjang?

Tak pelak lagi buruh berkesadaran maju harus menjawab pertanyaan ini. Buruh harus menjawab pertanyaan dunia dan menuangkan solusinya terutama bagaimana cara menghancurkan Kapitalis. Pertama-tama, buruh harus menyadari dari mana akar penindasan dan siapa penghisap tenaga kerjanya sehingga bisa memastikan siapa musuh yang sebenarnya. Buruh harus menyepakati siapa musuhnya, bersatu, belajar, konsolidasi membuat strategi dan siasat bersama untuk praktik melawan sampai ke tingkat menghancurkannya. Untuk itu buruh harus berorganisasi, memulai demokrasi di internal dan meluaskannya keluar, diskusi, pendidikan, mematuhi siasat, memegang teguh prinsip, tidak berkhianat, mau memimpin dan dipimpin, berpolitik yang baik, menjaga track record (jejak rekam) selalu bersih dan amanah, evaluasi, rela/ikhlas (meluangkan waktu, dana dan tenaga), membaca dan menulis sampai pada tingkat menggelorakan perlawanan dan merebut kekuasaan dari negara kapitalis.

Mari hidup berkonsolidasi demi kemanusiaan!***

(Penulis adalah buruh yang bekerja di sebuah pabrik komponen di Bekasi)

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *