Kategori: Uncategorized

persatuan kiri
Aksi Sekber Buruh tahun 2012.

Oleh Allen Myers

Proses penyatuan antara Socialist Alternative (SA) dan Revolutionary Socialist Party (RSP) mendapat perhatian yang tidak sedikit dari gerakan kiri di Australia. Sejumlah aktivis di sekitar kedua organisasi telah bergabung atau sedang mempertimbangkan untuk bergabung menjadi bagian dari penyatuan organisasi revolusioner tersebut.

Sebaliknya, dalam diskusi terdaftar di internet yang disponsori oleh koran mingguan Green Left Weekly, banyak atau sebagian besar komentar dari anggota Socialist Alliance bernada meragukan atau meremehkan. Setelah keributan awal, anggota Socialist Alliance yang aktif dalam diskusi hampir bersamaan hilang ketertarikannya pada tema tersebut.

Rangkaian kejadian ini patut disayangkan, karena dapat menimbulkan kesan bahwa Socialist Alliance menyangsikan atau bahkan menentang persatuan antar organisasi sosialis. Kita sekarang tahu bahwa kesan semacam itu keliru, karena Peter Boyle, sekretaris nasional Socialist Alliance, telah menulis sebuah artikel di Green Left Weekly yang menyatakan bahwa “penyatuan kiri telah ada pada agenda”.

Boyle tidak menganggap penyatuan Socialist Alternative -RSP sebagai hal yang sangat penting, malahan menyebutnya sebagai semata “pengelompokan kembali yang kecil”, dan menyebutkannya setelah peristiwa yang lebih penting seperti “Socialist Alliance dan CPA (Communist Party of Australia) bekerja[sama] dalam program pemenangan kandidat mereka untuk pemilu Dewan Kota Sydney pada awal tahun ini dengan membentuk Komite Aksi untuk Perumahan”. Walaupun begitu, proses penyatuan Socialist Alternative-RSP memberi manfaat tambahan yang nyata jika ia mendorong pembahasan kembali dalam Socialist Alliance mengenai tujuan dan landasan dari persatuan kiri.

Kiri yang mana?

Artikel Peter Boyle yang berjudul “Politik apa untuk menyatukan gerakan kiri Australia?”, sesuai dengan judulnya, berbicara secara murni dan sederhana mengenai penyatuan “kiri”. Tetapi ketika menyebutkan beberapa organisasi yang ingin dimasukkan dalam penyatuan ini, artikel ini tidak pernah menyatakan dengan jelas “kiri” ini terdiri dari apa saja. Di antara organisasi yang dianggap kiri oleh siapapun, ada perbedaan tentang di mana “kiri” berakhir dan “tengah” dimulai. Apakah “kiri” yang seharusnya disatukan termasuk faksi kiri Australian Labor Party* (ALP)? Apakah mencakup semua, beberapa atau tak satupun dari Green Party? Tentunya hal ini penting karena akan menentukan batas-batas terhadap politik dari organisasi persatuan.

Sebagian besar dari artikel Boyle disajikan sebagai respon terhadap sebuah editorial di majalah Socialist Alternative yang mengomentari proses penyatuan Socialist Alternative-RSP dan akibat-akibatnya. Akan tetapi bagian dari editorial Socialist Alternative yang dikutip oleh Boyle bukanlah mengenai penyatuan “kiri” secara umum; melainkan tentang penyatuan “kiri sosialis revolusioner”. Namun Boyle di sepanjang artikelnya berbicara semata mengenai mempersatukan “kiri” secara umum, seolah-olah ia sedang mendiskusikan subyek yang sama dengan editorial Socialist Alternative.

Read Full Article

Image

Oleh: Arie Lamondjong*

 

“Kewajiban dari perjuangan revolusioner dan memperbanyak mahasiswa progresif di bawah panji – panji revolusioner kerakyatan membuat itu menjadi penting untuk membongkar oportunisme borjuis kecil…..” Ninel Olesich dan Victor Privalov

 

Ketika gejolak perlawanan buruh meningkat dari tahun ke tahun, kapitalisme tidak kehilangan taktik untuk meredam perlawanan buruh. Pemerintah menggunakan berbagai regulasi untuk meredam gejolak gerakan buruh minsalnya SK Menteri Perindustrian Nomor 620 Tahun 2012 yang menetapkan 38 industri dan 10 kawasan industri sebagai objek vital diperkuat dengan penandatangan MOU (momerandum of understanding) Menteri Perindustrian  dan Kepolisian untuk mengamankan industri dan kawasan industri dari gangguan yang mengancam akumulasi modal. Sehingga ketika buruh melakukan mogok di kawasan industri maka aparat militer tidak akan segan – segan merepresi pemogokan tersebut. 

Kapitalisme mengarahkan “obat”  krisisnya sampai kedalam sendi – sendi kehidupan masyarakat. Liberalisasi dunia pendidikan adalah salah satunya. Tujuan utamanya sama, meraup akumulasi kapital dalam dunia pendidikan, yang dijalankan lewat regulasi UU PT dan UU Sisdiknas.

Rakyat menanggung akibat dari krisis kapitalisme. Wujud kongkretnya adalah buruh di upah murah, sistem kerja outsourcing, PHK, perampasan tanah, penggusuran, pendidikan dan kesehatan mahal, dsb.

Tolak ukur kesejahteraan rakyat adalah ketika rakyat dapat memenuhi kebutuhan hidupnya selayaknya sebagai seorang manusia. KHL (kebutuhan hidup layak) sebagai penentu besaran upah minimum buruh hanya menggunakan 64 komponen. Sementara idealnya perhitungan upah minimum menggunakan 84 komponen dan 122 komponen bagi buruh yang berkeluarga.

Politik upah murah merugikan buruh dan menjauhkan buruh dari kesejahteraan. Sistem kerja outsourcing berakibat pada tidak adanya kepastiaan kerja, jaminan sosial yang minim dan diskriminasi  upah kerja antara pekerja tetap dan outsourcing. Upah murah, sistem kerja kontrak, outsourcing, jaminan sosial yang minim dan diskriminasi upah, merupakan cara bagi kapitalisme untuk meningkatkan akumulasi kapital, dengan cara menekan kapital variabel (modal yang dikeluarkan kapitalis untuk membayar kerja buruh). Namun, lebih jauh lagi, merendahkan daya beli, memperparah krisis.

Read Full Article

 

Image

Oleh: Allen Myers

 Ya, pada akhirnya kita membutuhkan sebuah partai Leninis, demikian yang sering disampaikan pada anggota Revolutionary Socialist Party. Hanya saja belum memungkinkan untuk menjalankannya sekarang. Di kemudian hari, bisa jadi, tetapi sekarang kita harus lebih realistis. Untuk sementara, yang bisa kita lakukan sekarang hanyalah membangun sebuah sayap kiri di dalam ALP (Australian Labor Party) atau sebuah partai kiri “luas”.

Kita semua dapat setuju bahwa partai massa Marxis-Leninis yang dibutuhkan untuk memimpin revolusi sosialis di Australia tidak akan ada seketika. Namun apa yang sesungguhnya menunjukkan mengenai apa yang seharusnya dilakukan kaum sosialis sekarang?

Bolshevik Rusia belum benar-benar menjadi partai massa hingga setelah revolusi Februari 1917. Namun ini bukan berarti bahwa Lenin dan rekan-rekan pemikirnya membuang waktu sebelum itu: pertumbuhan Bolshevik menjadi partai massa sepanjang 1917 tidak akan mungkin tanpa puluhan tahun perjuangan dan persiapan yang menghasilkan kerangka kekaderan Bolshevik.

Untuk mencapai tujuan akan adanya sebuah partai massa Marxis-Leninis cepat atau lambat, kita memerlukan semua orang yang memahami tujuan itu untuk mulai membangunnya sekarang. Menundanya hingga kemunculan beberapa kondisi obyektif yang diharapkan lebih sesuai hanyalah bermakna bahwa tujuan itu akan tercapai—jika dan hanya jika—kemudian hari, bukan segera. Betapapun panjang dan berliku jalannya untuk membangun sebuah partai revolusioner, bagaimanapun suramnya kemungkinan pada waktu tertentu, akan selalu memungkinkan untuk melakukan sesuatu untuk mempersiapkan tahap berikutnya. Dan jika sesuatu itu tidak dilakukan, maka tahap berikutnya itu bisa jadi tertunda. Kegagalan membangun apapun yang bisa dibangun hari ini akan menjadi bagian dari kondisi obyektif tahun selanjutnya.

Partai Leninis harus siap

Partai Leninis tidak tumbuh di pohon. Ia harus dibangun, dan sebagian besar harus dibangun sebelum kedatangan situasi revolusioner yang untuk itu lah ia dibangun. Ini berarti bahwa kaum Leninis bekerja di bawah keadaan yang pada umumnya tidak akan menyenangkan. Dalam sebagian besar waktu, mayoritas besar orang cenderung tidak memahami penjelasan Marxis tentang apa yang salah dalam masyarakat dan mengapa itu perlu diubah. Dalam sebagian besar waktu, tidak mudah menjual koran-koran revolusioner. Dalam sebagian besar waktu, para birokrat mampu mengurung kaum revolusioner dalam serikat-serikat buruh. Dalam sebagian besar waktu, negara mampu menekan atau menggelincirkan gerak yang mengarah pada sebuah partai revolusioner. Dalam sebagian besar waktu, kaum Leninis akan dikekang secara politik.

Read Full Article

Image

Nomor : 97/II-Eks/PP FPPBI/IX/2013
Lampiran : 1 Bundel
Perihal : Kronologis Kejadian

Perselisihan Hak dan Perselisihan PHK
Antara
Perusahaan Kecap, Petis, dan Saos RATU
Dengan
Buruh Perusahaan RATU yang tergabung dalam SBTK FPPBI Perusahaan RATU

Menyampaikan dengan hormat,

Mengingat:
1. Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1998 tentang Menyampaikan Pendapat dimuka Umum beserta aturan pelaksananya;
2. Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2000 tentang Serikat Pekerja/Serikat Buruh beserta aturan pelaksananya;
3. Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan beserta aturan pelaksananya;

Hari Tjahyono, Thoha Maksum, Iis Ratnawati, Moh. Arifin, M. Afid, Rizqy Cipto Rahmadhani, Umi Maslaha selaku Pimpinan Pusat Federasi Persatuan Pergerakan Buruh Indonesia dengan ini hendak menyampaikan penjelasan dan kronologis kejadian perselisihan Ketenagakerjaan antara Para Buruh dengan Perusahaan Kecap, Petis, dan Saos RATU yang beralamat di Jl. Baypass KM. 54 No. 5 Ds. Balongmojo Kec. Puri Kab. Mojokerto. Adapun fakta-fakta kejadiannya akan kami uraian berikut ini:

1. Bahwa Perusahaan RATU adalah Perusahaan yang bergerak dibidang pengolahan makanan yaitu memproduksi Kecap, Petis dan Saos yang berdiri sejak Tahun 1980 atau kerang lebih 33 Tahun. Pada awal berdiri Perusahaan RATU adalah Perusahaan kecil melihat kapasitas produksi dan tempat kerjanya yaitu di Jl. Mojopahit Kota Mojokerto, lambat laun Perusahaan RATU berkembang menjadi Perusahaan yang cukup punya nama dan mempunyai pembeli tidak hanya di Pulau Jawa tetapi diluar Pulau Jawa juga banyak, sekitar tahun 2005 Perusahaan RATU tempat bekerjanya atau pabriknya berpindah ke daerah Industri Balong Mojo yaitu tepatnya di Jl. Baypass KM. 54 No. 5 Ds. Balongmojo Kec. Puri Kab. Mojokerto. Perusahaan RATU mempunyai buruh kurang lebih 75 orang di bagian Produksi dan 50 orang dibagian staf dan sales;

2. Bahwa rata-rata masa kerja para buruh di bagian produksi adalah antara 10 Tahun sampai 32 Tahun. Selama bekerja para buruh Perusahaan RATU tidak pernah melakukan hal yang merugikan Perusahaan dan tidak pernah “neko-neko”, hal ini ditunjukkan dengan selama bekerja di Perusahaan RATU hanya dua kali para buruh merasakan upahnya dibayar sesuai dengan Upah Minimum Kota/kabupaten (UMK) yang berlaku, yaitu 8 Tahun yang lalu dan Tahun 2013. Sekedar informasi bahwa UMK Kab. Mojokerto adalah sebesar Rp. 1.700.000,- (Satu Juta Tujuh Ratus Ribu Rupiah) pada Tahun 2013 ini dibayar oleh Pimpinan Perusahaan hanya mulai Bulan Mei 2013 dan pada Bulan September 2013 kali ini sudah tidak dibayar karena ada permasalahan;

3. Bahwa para buruh dalam menjalankan aktifitas bekerjanya ikut dalam organisasi yang tergabung dalam anggota Federasi Persatuan Pergerakan Buruh Indonesia (FPPBI) dan telah di catatkan di Disnakertrans Kab. Mojokerto dengan Nomor Register: 565/15/416-105/2013 pada Tanggal 23 April 2013;

Read Full Article

Image

Sudah Saatnya Kaum Tani Bangkit dan Bersatu!

 

Hidup Kaum Tani!

Hidup Rakyat!

Setiap tahun, pada tanggal 24 September, kita selalu memperingatinya sebagai hari tani nasional. Dari tahun ke tahun kebutuhan akan pentingnya sebuah gerakan rakyat dalam menentang pemerintahan neoliberal semakin dirasakan. Selama pemerintahan neoliberal masih berkuasa, maka seluruh problem-problem rakyat khususnya kaum tani tidak akan dapat teratasi.

Sejumlah negara maju seperti AS, Autralia dan lain-lain melalui Agreement on Agriculture (AOA), IMF, Bank Dunia dan kesepakatan perdagangan bilateral lainnya sangat agresif untuk mendorong liberalisasi perdagangan dan investasi disektor pertanian, fakta-faktanya dapat ditunjukan dengan munculnya berbagai UU, yang sangat penting dalam menopang pertanian, seperti UU Sumberdaya Air, UU Pengadaan Tanah, UU Kelistrikan, UU Pertambangan, UU Kehutanan, UU Perkebunan, dan lain-lain, diserahkan penguasaannya kepada swasta, yang bermuara pada dua hal, pertamaterjadi penyingkiran rakyat dari sumber-sumber hidupnya (perampasan tanah), yang terkonversi menjadi berbagai macam peruntukan, seperti perkebunan dan pertambangan, yang kecepatan mencapai 10.000 Ha/tahun atau di Jawa angkanya bahkan sudah mencapai 40.000 Ha/tahun, hal ini bisa terlihat, misalnya untuk sektor perkebunan, terjadi perluasan perkebunan sawit hingga 100.000 Ha, dimana sebagian besar dikuasai oleh segelintir perusahaan saja dan hingga tahun 2010 lalu, pemerintah telah mengeluarkan izin lokasi baru mencapai 26,7 juta Ha. Di sektor pertambangan, menurut data JATAM, dari 192.26 juta Ha wilayah Indonesia, 95.45 juta lahan telah dikontrak karyakan kepada perusahaan pertambangan baik dari dalam dan luar negeri dan lain-lain. Kedua munculnya berbagai macam kekerasan yang menimpa kaum tani akibat keberpihakan pemerintah kepada perusahaan-perusahan agrobisnis atau tambang. Menurut data BPS pada tahun 2007 jumlah konflik tanah yang masuk sebanyak 2.615 kasus dan meningkat menjadi 7491 kasus pada tahun 2009 di seluruh Indonesia dengan luas lahan konflik sebesar 608.000 Ha, yang telah menewaskan sedikitnya 23 petani, 183 kasus bentrok bersenjata, 668 kasus kriminalisasi terhadap kaum tani.

Read Full Article

partai pembebasan rakyat dukung mogok nasional

Siaran Pers – 20 September 2013

Naik Upah Minumum  2014 Sebesar 50%

Buruh Indonesia Siapkan MOGOK NASIONAL, Lawan Rezim Upah Murah

KSPI, SEKBER BURUH ( GSPB, FPBI, SBTPI, Federasi Progresip, FBLP, SBMI, SBM, SPCI, SERBUK, Front Jakarta, SMI, SPRI, Pembebasan, Perempuan Mahardika, PPI, KPO PRP, PR, Partai Pembebasan Rakyat, SBIJ, SPKAJ, KPOP) KASBI, FSPMI, ASPEK Indonesia , FSP KEP, SP PAR Ref, SP PPMI, FSP Farkes Ref, FSP ISI, PGRI, SEKBER Buruh ( GSPB, FPBI, SBTPI, Federasi Progressip, FBLP, SBMI, SBM, SPCI, Front Jakarta, SMI, SPRI, Pembebasan, Perempuan Mahardika, PPI, KPO PRP, Politik Rakyat, PPR, SBIJ, SPKAJ, KPOP) , GSBI, FKI, SPSI LEM Jakarta, TURC, Forum Buruh DKI, Forum Buruh Bogor Bersatu ( FB3), Buruh Bekasi Bergerak ( BBB), LBH Jakarta, KONTRAS, SP TSK, FSBI, OPSI, YLBHI, Imparsial.

Menuntut kenaikan upah minimum 2014 sebesar 50%.

Setelah melakukan serangkaian aksi nasional dan daerah secara bergelombang sejak 3 September sampai 16 September 2013 di Jakarta, Jabodetabek, Bandung, Surabaya, Medan, Batam, semarang untuk memperjuangkan kenaikan upah minimum sebesar 50%, para buruh Indonesia siap melakukan aksi kembali dengan massa yang jauh lebih besar dan gelombang aksi yang lebih panjang lagi yang puncaknya pada “Mogok Nasional” 2013 pada akhir Oktober.

Read Full Article

Oleh: John Percy

Beberapa Pengalaman Lainnya

Seperti ditulis diatas, pertama kali kecuali kamu hegemonik di antara kelompok kiri maka aliansi dan persoalan mengenai persatuan akan muncul secara terus menerus, namun akan dimunculkan dengan berbagai macam bentuk. Kedua, tipe aliansi dan front yang dibutuhkan dalam negeri-negeri neo-kolonial akan berbeda dengan negeri-negeri imperialis – front untuk demokrasi atau pembebasan nasional akan menjadi utama. Ketiga, pelajaran mendasar yang dapat diserap oleh kaum revolusioner adalah kau tidak menyembunyikan atau menenggelamkan kekuatan Marxist revolusionermu tanpa alasan yang baik – seperti kebutuhan untuk mengembangkan front politik yang dapat berjalan terus atau kebutuhan untuk mempertahankan diri melawan represi dan pengkambing hitaman oleh Negara – namun kau tidak bergerak dibawah tanah kecuali itu dibutuhkan.

Read Full Article

 

 Image

 

Bencana Skotlandia

 

Di Skotlandia perpecahan dan penurunan dramatis dalam dukungan elektoral diderita oleh Scottish Socialist Party telah menjadi bencana. Banyak kaum kiri di Inggris dan diseluruh dunia melihat pengalaman SSP dengan harapan. Phil Hearse menyatakan sebagai berikut:

 

Di Skotlandia, dimana hubungan kekuasaan jauh lebih maju dibandingkan dengan daerah Inggris lainnya, langkah-langkah perantara menuju resolusi terhadap persoalan perwakilan politik dari klas buruh sangat dimungkinkan ada. SSP tidak dapat segera menjadi partai massa, namun dia dapat memiliki gaung di bagian-bagian massa dan dilihat sebagai kepemimpinan potensial massa nyata oleh bagian-bagian tertentu dari buruh dan kaum muda.[xxv]

 

Namun sekarang segala kemungkinan tersebut telah hilang. SSP jatuh dari memiliki 6 anggota di Parlemen Skotlandia pada tahun 2003 menjadi nol pada tahun 2007. Suaranya jatuh dari 6,7 persen menjadi 0,66 persen.

Read Full Article

Image

Oleh: John Percy*

 

Diterjemahkan oleh Dipo Negoro untuk Partai Pembebasan Rakyat

Diterbitkan oleh Bintang Nusantara, Yogyakarta, 2013

Terdapat banyak sekali “partai-partai luas” dimasa lalu mengklaim mewakili buruh, atau klas-klas yang lebih luas, atau “progresif” secara umum – partai-partai yang kadang kala massal, kebanyakan dengan ambisi elektoral, namun dengan program yang sosial demokratik, atau liberal kiri, kadang kala “semua masuk”, namun bukan Leninis dan bukan Marxis. Partai-partai semacam itu tidak mampu untuk membawa perubahan sosial fundamental; mereka tidak dapat menghancurkan kekuasaan Negara dari klas pemilik modal. Untuk melaukan hal itu kita membutuhkan revolusi. Kita mengetahui bahwa partai revolusioner dibutuhkan untuk melancarkan revolusi, sebuah partai Leninis.

Program Revolutionary Socialist Party (RSP), yang dahulu merupakan program Democratic Socialist Party (DSP), sangat jelas untuk persoalan tersebut:

Klas buruh tidak dapat secara keseluruhan atau secara spontan mendapatkan kesadaran klas politis yang dibutuhkan untuk menyiapkan dan memandu perjuangannya untuk sosialisme. Karena itu, sangat dibutuhkan mengembangkan sebuah partai yang menyatukan semua perjuangan melawan penganiayaan dan ketidakadilan kapitalisme dan partai yang telah mengembangkan kesadaran sosialis dan berkomitmen untuk melancarkan aktivitas politik revolusioner terlepas dari apapun kondisi pasang dan surut gerakan massa…akhirnya, hanya sebuah partai sosialis revolusioner yang memiliki akar mendalam di klas buruh, yang terutama terdiri dari kaum buruh dan mendapatkan penghormatan dan keyakinan dari kaum buruh, dapat memimpin massa tertindas dan tereksploitasi dalam menggulingkan kekuasaan politik dan ekonomi dari kapital. Tujuan utama dari Revolutionary Socialist Party adalah untuk membangun partai sosialis revolusioner semacam itu di Australia (i)

DSP sekarang membuang program ini dan meleburkan dirinya kedalam “partai luas” Socialist Alliance, dengan program non revolusioner.

Read Full Article