Penulis: koranpembebasan

#HILANG #GESTOK (Rakyat) oleh Nobodycorp. Internationale Unlimited

Alex de Jong**

Periode 1960-an adalah suatu periode pergolakan dan perubahan di seluruh dunia. Namun,  ketika di banyak bagian lain dunia dekade itu sering diingat sebagai suatu masa menggairahkan dan penuh harapan, di Indonesia masa itu terbelah dua oleh suatu gelombang kekerasan yang hebat. Sekitar 45 tahun yang lalu, satu dari kejahatan terbesar di abad ke-20 terjadi: dari awal Oktober 1965 hingga Maret 1966, setelah percobaan kudeta oleh perwira-perwira pro-Partai Komunis yang berbuah menjadi bumerang, Indonesia menyaksikan pembantaian paling berdarah di dalam sejarahnya.

Wujud pembunuhan yang paling utama adalah pogrom[1] anti komunis, menargetkan tidak saja pimpinan-pimpinan Partai Komunis Indonesia (PKI) dan organisasi-organisasi sekutunya, namun juga jajaran massa pendukungnya. Ribuan mati dalam pembunuhan sistematis dan ditargetkan ini. Hasil dari pembunuhan adalah pendirian Orde Baru Soeharto atau kediktatoran Orde Baru. “1965” menjadi legenda berdirinya rejim Soeharto. Ingatan soal itu seketika direpresi dan diperalat, dibentuk dan diingkari: “jangan bicarakan soal pembunuhan itu”, “pembunuhan merupakan satu periode histeria massa”, “amuk massa”, “pembunuhan disebabkan oleh perseteruan diantara Komunis”, “jangan dukung komunisme, ingat bagaimana mereka membunuhi orang-orang itu di tahun 1965”—dan, dengan suara setengah berbisik; “jangan dukung komunisme, ingat bagaimana kami hancurkan PKI itu”.

Read Full Article

Barat dan Timur

Edwin Erlangga*

Perkenalan saya dengan Tiziano Terzani, terus terang terjadi secara kebetulan. Barangkali sebuah kebetulan yang membawa kemujuran. Bagi saya pribadi melalui tulisan – tulisannya saya mendapatkan banyak sekali “pencerahan”, setidaknya dalam memahami dunia dan peradaban dari perspektif komparatif.

Baiklah, bermula pada tahun 2006, saat pertama kali saya masih mengeja rangkaian kata dalam bahasa ibu nya, bahasa italia. Di sebuah perpustakaan kota, saya menemukan sebuah buku dengan judul yang langsung menarik perhatian saya ” In Asia”. Ketika itu saya sedang giat – giatnya mencari pemahaman akan basis ” dialog peradaban”. Sebuah pertemuan yang barangkali “ditakdirkan” begitu saya seringkali berujar pada diri sendiri, dengan tanpa maksud melebih – lebihkan.

Read Full Article

Thomas Rieger

Perdebatan menarik antara Bung Coen dan Bung Goenawan kelihatannya mulai seru dan memang menyentuh sejumlah hal yang sangat mendasar bagi siapapun yang tergolong pencinta emansipasi, dalam arti penghentian penindasan manusia atas sesamanya dalam segala bentuknya – kelas, gender, etnis, orientasi seksuil dsb. Saya jelas-jelasnya terlalu muda untuk termasuk golongan manikebu diabetis, apa boleh buat, saya memilih untuk tetap marxis, agaknya di kubu si Charly, bukan si Groucho. Seriusnya, saya berpendapat bahwa urusan „keterbukaan“, „pluralis“ dsb., pokoknya apa saja yang menyangkut „suluh“ -sebagai lawannya benteng, kerangkeng dan entah engengan apa lagi – bukan monopoli aliran non-marxis. Sosialisasi politik saya di Indonesia pada zaman orde baru yang segelap-gelapnya. Dalam konfrontasi dengan orde baru, „kiri“ hampir otomatis berarti „PKI“, entah karena memang pilihan sang subyek begitu, entah karena dicap mereka (kaum Orba). Hanya segelintir orang – seperti Bung Joesoef Isak almarhum – bisa menerima kehadiran „kiri“ di luar dikotomi itu. Dalam konteks kebebasan intelektuil yang relatif jauh lebih besar masa pasca-Suharto sering dilupakan, bahwa sebelum diktator ter­laknat itu jatuh, perlawanan rakyat berkembang, antara lain juga karena kemunculan aliran kiri baru yang keluar dari paradigma stalinis yang lama (tanpa menjadi jinak alias sosial demokrat). Sumbangan saya ini tidak ada pretensi teoretis apa-apa, melainkan dimaksudkan untuk menghormati salah seorang kawan, Bung Kohar („AKI“), yang pada masa awal kebangkitan kembali pergerakan kiri itu termasuk yang berhaluan pluralis tanpa kehilangan orientasi marxisnya.

Read Full Article

Free Baba Jan and all Political Prisoners

Bebaskan Baba Jan dan Semua Tahanan Politik!

Ganti Rufi Bagi Korban Kekerasan Polisi!

Ganti Rugi Bagi Korban Longsor 4 Juli!

Pada tanggal 11 Agustus kemarin, polisi Pakistan menggunakan peluru tajam untuk membubarkan rakyat yang menuntut pembayaran tunjangan kompensasi setelah longsor yang terjadi setahun lalu di lembah Hunza, pada tanggal 4 Juli 2010. Longsor di daerah Gilgit-Baltistan tersebut menghancurkan beberapa rumah dan memutus jalan-jalan penting. Pemerintahan daerah meninggalkan masyarakat yang menjadi korban dan mengkorupsi pembayaran kompensasi yang ditujukan untuk beberapa keluarga korban.

Read Full Article

Kartini adalah sang pemula dari proses revolusi nasional

Max Lane

 

PADA kolom “17 Agustus versus 1 Oktober” yang lalu diakhiri dengan pertanyaan: “memilih Indonesia versi 17 Agustus 1945 atau Indonesia versi 1 Oktober 1965?”. Di dalam tulisan tersebut saya berusaha berpendapat bahwa 17 Agustus adalah simbol revolusi nasional Indonesia (yang belum tuntas) dan 1 Oktober simbol kontra-revolusi 1965 yang melahirkan Orde Baru Suharto (OBS). Tetapi dengan melemparkan dua pilihan tersebut, mungkin pantas juga sedikit membahas apa itu Indonesia versi “17 Agustus”. Apalagi hal ini masalah sejarah dan masalah kontemporer yang sangat menarik, menantang dan membutuhkan banyak diskusi.

Ada kemungkinan, dalam masa yang telah jauh berjarak itu, kita akan terseret ke dalam perspektif di mana revolusi nasional disamakan dengan Sukarno dan kontra-revolusi 65 disamakan dengan Suharto, sehingga seolah-olah pilihannya hanya Sukarno atau Suharto. Saya kira tak ada salahnya kita menyamakan kontra-revolusi 1965 dengan Suharto. Suharto memimpin proses ini dan melakukan kepimpinannya sebagai diktator dan berlangsung selama 32 tahun.

Read Full Article

Tak Cukup Kemarahan (Anger), Tapi Daya Kuasa (Power) Rakyat (karya andreas isw)

Setidaknya terdapat lima kepentingan yang muncul dalam konsolidasi gerakan menjelang Hari Tani Nasional 2011 di Jakarta, 12 September 2011 lalu. Pertama, pencabutan Rancangan UU Pengadaan Tanah untuk Pembangunan[1] (RUUPTP) versi pemerintah dan DPR dan menggantinya dengan jaminan pengadaan tanah untuk rakyat; kedua,momentum konsolidasi gerakan tani dan perluasan kampanye reforma agraria sebagai kepentingan seluruh rakyat; ketiga,melakukan protes terhadap peningkatan kekerasan dan kriminialitas terhadap kaum tani dan serangan teradap hak demokrasi rakyat secara umum, keempat, momentum untuk mengonsolidasikan semua kekuatan pergerakan yang berlawan; kelima, menyatukan isu dan respon bersama terhadap penyebab kesengsaraan kaum tani dan rakyat secara keseluruhan, yakni: kegagalan pemerintah pro imperialisme.

Read Full Article

Oleh: catatankaki.org

Pondok Pesantren Al Um, Kampung Utan, Ciputat, Jakarta menjadi saksi bisu pendirian Front Pembela Islam (FPI). Di lokasi itu, tanggal pada kalender-kalender yang ada pada waktu itu menunjukan 17 Agustus 1998. Sejumlah Ulama, Habib, Mubaligh, para petinggi militer termasuk Kapolda Metro Jaya saat itu, Nugroho Djayoesman, mendeklarasikan FPI. Momen tersebut disaksikan ratusan santri yang berasal dari daerah Jabotabek.

Lengsernya Soeharto menjadi cela oleh para Deklarator FPI untuk beraktifitas. Pendirian organisasi yang dipimpin oleh Mohammad Rizieq Shihab tujuannya menegakan hukum Islam di Indonesia. Kegiatan tidak bakalan ditolelir oleh Pemerintahan Orde Baru yang berkuasa selam 32 tahun.

Prahara politik pada tahun 1998 dimanfaatkan oleh FPI untuk menuntut kembali pengembalian tujuh kata dalam Piagam Jakarta, yakni “Ketuhanan dengan Menjalankan Syari’at Islam bagi Pemeluk-pemeluknya”. Hal ini didasari oleh pihak FPI melihat bahwa konsep demokrasi refresentatif yang dijalankan di Indonesia telah gagal. Tidak pernah berjalannya fungsi strategis negara dalam menjamin kesejahteraan ekonomi membuat FPI bergerak.

Read Full Article

Anom Astika, Peluncuran Jurnal Problem Filsafat

Sambutan Setengah Virtual Setengah Verbal untuk Peluncuran JURNAL PROBLEM FILSAFAT

Anom Astika

Jakarta, 20 Agusutus, 2011

Kawan,

Mulai hari ini kita hidup dan tumbuh menurut terang. Yang tak seharusnya redup pendar-pendarnya. Yang bukan lahir dari asas-asas sesal maupun garis-garis dendam akan masa lalu. Namun ia dibangun dari keraguan-keraguan yang didasarkan atas pemahaman terhadap realitas. Baik itu realitas teoritik, maupun realitas praktis seluruhnya tetap harus dijadikan dasar bagi rumusan terang itu sendiri. Sehingga tak serampangan kita memahami realitas. Pun tak seenaknya sendiri kita menutur itu abstrak, itu kongkret, lantaran sesuatu yang kongkret bisa lahir karena proses abstraksi, dan begitu pula sebaliknya. Tak ada cerita sebuah simpulan bisa lahir tanpa proses-proses kategorisasi, konseptualisasi, elaborasi, problematisasi, maupun hal-hal lain. Semuanya harus dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Read Full Article

Aksi menuntut THR PPBI Jatim

Yusuf Dwi Handoko*

SERUAN TERBUKA DAN PENYERAHAN DIRI !

TINDAK DAN AWASI PELAKSANAAN THR !

Ibarat dongeng dari Yunani, “Mitos Sisifus”, persoalan yang terjadi dan kesalahan yang sama selalu terjadi beurulang-ulang selama bertahun-tahun, di saat mayoritas rakyat Indonesia merayakan Hari Raya Iedul Fitri. Seakan-akan dewa tak akan sudi mencabut kutukan ini, dan Sisifus akan terus mengangkat batu karang hingga ke puncak gunung, lalu jatuh kembali ke dasar dan diangkat lagi ke puncak, begitu seterusnya. Apakah ini juga berlaku bagi buruh Indonesia? Walaupun bisa dibilang kita berada dalam situasi masyarakat modern, bukan berarti mitos ini akan hilang begitu saja.

Read Full Article

Solidaritas kekerasan Tiaka di depan kantor Medcogroup, Jakarta.

PEMBEBASANNews

25 Agustus 2011
Rakyat Bergerak
Siang tadi pukul 14:00 puluhan aktivis gerakan rakyat mendatangi kantor pusat PT. Medco, di Gedung Energy, Jalan Sudirman. Mereka yang menamakan diri Komite Aksi Bersama untuk Solidaritas Rakyat Tiaka* terdiri dari gabungan beberapa organisasi rakyat antara lain WALHI, PARTAI PEMBEBASAN RAKYAT, KPO-PRP, SBTPI, FBLP, PPBI, PEMBEBASAN, KSN, PEREMPUAN MAHARDHIKA, PPRM. Aksi tersebut merupakan respon atas kasus penembakan aparat kepolisian terhadap warga Tiaka yang menyebabkan 2 orang tewas, 1 kritis, 5 warga mengalami luka tembak, dan belasan luka-luka. Aksi warga Tiaka dipicu oleh tidak terpenuhinya janji-janji dari pihak PT. Medco yang pernah menjanjikan fasilitas-fasilitas sosial berupa listrik, pendidikan, dan dana program Community Development-nya PT. Medco.
Read Full Article