Penulis: admin

(Sam King)

Hampir 100 tahun setelah karyanya ditulis, teori Marxis klasik Lenin tentang imprealisme, terutama yang diungkapkan dalam bukunya, Imperialism, Highest Stage of Capitalism (imprealisme, perkembangan tertinggi kapitalisme)[1], tetap menjadi kerangka terbaik untuk memahami ekonomi politik internasional kapitalisme. Perkembangan kapitalis setelahnya menunjukkan aspek-aspek kunci bahwa tesis Lenin itu benar. Sama seperti gagasan dasar pendapat Marx dalam bukunya Capital (modal), yang terbukti benar bila diamati dari perkembangan kapitalisme masa kini, demikian juga hal tersebut termaktub dalam dasar-dasar teori imprealisme Lenin. Hal tersebut tetap merupakan titik awal yang penting untuk memahami perkembangan dunia internasional saat ini, seperti “globalisasi” dan “kebangkitan Cina”.

Artikel ini dibagi menjadi tiga bagian. Pertama, tentang garis besar teori Lenin dan gagasan-gagasan kuncinya yang dibutuhkan untuk diterapkan pada kondisi saat ini. Bagian akhir, bagaimana menerapkan kerangka teori Leninis untuk menunjukkan bahwa Cina bukan lah kekuatan imprealis yang sedang bangkit, dan bahkan perkembangan sepenuhnya sebagai ekonomi kapitalis pun dihalangi oleh imprealisme. Sebelum mengamati Cina, bagaimanapun juga, kita harus membuang kesalahpahaman yang menyebabkan kaum Marxis tidak mau menggunakan teori Lenin dan mendorong kita mengabaikan Lenin karena dianggap suatu kesalahan, sehingga ditanggalkan atau disingkirkan. Banyak pihak yang menyelewengkan Lenin. Dalam hal ini, akademisi Marxis, secara keseluruhan, adalah yang paling bersalah ketimbang pihak manapun.[2] Bagaimanapun juga, gagasan yang dimiliki oleh kaum Marxis yang aktif secara politik memiliki konsekuensi yang sangat penting. International Socialist Tendency (IST) adalah aliran (tendensi) Marxis yang paling kuat aktivitasnya di dunia berbahasa Inggris saat ini (di luar India). Jadi, bagian kedua akan berfokus pada kesalahpahaman dari tradisi tersebut dan dari berbagai penulis yang, pada saat tertentu, memiliki kaitan dengannya. 

Teori Lenin di Abad 21

Teori imprealisme Lenin memusatkan diri pada penjelasan tentang eksploitasi (penghisapan) yang sistematis terhadap negeri-negeri terbelakang (yang, secara secara ekonomi, miskin) oleh modal monopoli yang, terutama, berbasis di negeri-negeri kaya. Dalam kerangka-pikir Lenin, perang antar-imperialis bersifat sekunder dalam mengisap negeri-negeri yang, secara ekonomi, miskin, karena semua perang tersebut pada akhirnya ditujukan untuk menciptakan kembali batas-batas dan syarat-syarat penghisapan tersebut.

Bagi Lenin, kunci untuk memahami imprealisme adalah monopoli. Dia berpendapat: “Jika memang butuh untuk memberikan kemungkinan definisi singkat tentang imprealisme, kita harus mengatakan bahwa imprealisme adalah tahap monopoli kapitalisme. Definisi tersebut akan mencakup hal yang paling penting.”[3] Lenin menguraikan lima ciri utama karakteristik impreliasme pada awal abad 20. Lima ciri utama watak impreliasme pada awal abad 20.(Dan monopoli merupakan inti dari kelima ciri tersebut.) Yaitu:

  1. transisi dari persaingan bebas menuju monopoli;
  2. di atas landasan tersebut, terjadilah pembentukan trust, kartel, bank, dan penggabungan ke dalam bentuk baru, yang lebih tinggi dari monopoli—kapital (modal) finansial;
  3. ekspor modal menjadi lebih sangat penting dibandingkan ekspor komoditas (barang dagangan);
  4. pembagian dunia di antara perusahaan-perusahaan monopoli internasional dimulai;
  5. Tuntasnya pembagian dunia di antara kekuatan-kekuatan besar.

    Namun, sejak Lenin menuliskannya, beberapa bentuk monopoli telah berubah.

Lenin memiliki pemahaman bernuansa monopoli. Ia tidak pernah menyatakan secara spesifik bentuk-bentuk monopoli (dilihat dari tahap-tahap teknis tertentu) yang mencerminkan “perkembangan” tertitinggi yang bisa diwjudkan oleh monopoli. diwakili oleh “negara” yang mengambil-alih peran monopoli. Bukharin membuat kesalahan karena lebih menitik-beratkan pada intervensi (campur-tangan) negara secara langsung sebagai bentuk umum pada masanya, yang dianggap sebagai perkembangan tertinggi dan tak terelakkan dari monopoli kapitalis. Perusahaan “Trust kapitalis negara” sebagaimana yang dikatakan Bukharin[4], di era modern sekarang ini, sebagian besar telah digantikan oleh perusahaan-perusahaan swasta multinasional (MNC). Yakni monopoli kapitalis swasta yang didukung oleh negara dan oligopoli.

Fleksibilitas (keluwesan) pendekatan Lenin dapat dilihat, misalnya, saat memahami kolonialisme. Bila pendekatan “trust kapitalis negara” yang menjadi landasan-pikir, atau bila terlalu literal (harfiah) memahami lima lima ciri imprealismenya Lenin, maka kita akan berpendapat bahwa imprealisme memerlukan kekuasaan kolonial. Namun, Lenin berkali-kali menyatakan sebaliknya, seperti yang akan dibahas di bawah ini.

Teori Lenin telah terbukti menjadi instrumen yang sangat fleksibel untuk memahami imprealisme saat ini. Dalam menerapkannya bukan berarti menghapalkan setiap baris bukunya, tapi sebaiknya dengan mempelajari (lebih dalam) bukunya dan memahami bentuk-bentuk khusus monopoli kontemporer (masa kini). Dengan demikian, kita bisa mengungkapkan cara modern bagaimana nilai dihisap dari negeri-negeri miskin oleh modal imperialis.

Perusahaan Multinasional (MNC) modern merupakan bentuk lebih tinggi dari kapitalis monopoli, ketimbang kartel dan trust pada masa Lenin. Itulah penguatan, bukan pelemahan, monopoli kapitalis yang membuat kadar penguasaan oleh swasta yang lebih besar menjadi mungkin. Dalam kapitalisme yang lebih awal, negara (atau milisi swasta dan semi-swasta, dan lainsebagainya) harus menghilangkan kelemahan hubungan komoditas kapitalis yang terbelakang. Monopoli perizinan negara seperti oleh Inggris dan Hindia Belanda justru memberikan jalan bagi bentuk yang lebih tinggi dalam pertukaran komoditas. Perbudakan digantikan dengan upah buruh. Koloni memenangkan kemerdekaan politik. “Trust negara kapitalis” Bukharin tersebut sekarang digantikan oleh perusahaan-perusahaan multinasional. Hal tersebut mencerminkan segala kemajuan dalam hubungan produksi kapitalis.

Era neoliberal  menggambarkan keunggulan pokok monopoli swasta ketimbang kepemilikan negara. Perusahaan swasta dapat memiliki hubungan yang lebih fleksibel dengan negara. Mereka dapat meminta intervensi negara saat mereka mengalami krisis, sehingga mengizinkan perusahaan MNC untuk mensosialisikan kerugiannya (agar ditanggung negara), sambil menswastakan keuntungan mereka. Kapitalis juga mendapatkan jaminan keamanan yang jauh lebih besar bila bisnisnya dijalankan sebagai milik pribadi.

Subsidi negara untuk modal swasta dinormalisasi melalui kolaborasi (kerjasama) “perpanjangan tangan”, misalnya, “kemitraan publik-swasta”. Subdisi negara secara tidak langsung diberikan agar produktivitas tenaga kerja dan perkembangan teknologi yang tinggi terjadi melalui universitas dan lembaga-lembaga keilmuan lainnya yang disponsori negara, serta lembaga teknis lainnya. Melalui cara tersebut, produktivitas tenaga kerja yang lebih tinggi di negeri-negeri utama imprealis menjadi kunci dari monopoli yang dikerahkan oleh perusahaan multinasional di pasar internasional. Hal ini dicapai oleh perusahaan multinasional dengan sangat terorganisir, yang dikombinasikan dengan negara-negara kapitalis yang lebih makmur dan maju.

Ketidaksetaraan Pertukaran Monopolistik

Saat ini, pertukaran nilai yang tidak setara di pasar internasional antara buruh yang berproduktivitas tinggi, yang bekerja di bawah syarat-syarat kerja  “Dunia Pertama”, dengan buruh “Dunia Ketiga”, yang sangat jauh kurang produktif, adalah mekanisme kunci transfer kemakmuran dari negeri-negeri miskin ke negeri-negeri kaya. Lenin tidak secara spesifik mengungkapkan konsep ketidaksetaraan pertukaran di dalam bukunya tentang imprealisme, tapi konsepnya adalah teori pokok tentang nilai, yang ditulis Marx dalam bukunya, Capital. Sebagai contoh, teori “harga produksi” sudah mengungkapkan ketidaksetaraan pertukaran kerja antara modal dalam komposisi organic yang berbeda-beda. Meskipun Marx tidak mengantisipasi bentuk-bentuk khusus dari ketidaksetaraan pertukaran di pasar dunia setelah 150 tahun kematiannya, poin-poin imprealisme Lenin pun mengalami hal yang sama sehingga, kemudian, kaum Marxis pun sekadar melafalkannya belaka.

Pada tahun 1972, seorang Marxis Belgia, Ernest Mandel, menunjukkan bahwa pertukaran yang tidak setara telah menjadi mekanisme utama untuk menghisap nilai yang diciptakan oleh buruh Dunia Ketiga pada periode pasca perang.[5] Mandel (dan sebelumnya Grossman) menunjukkan bahwa teori pertukaran yang tidak setara telah diformulasikan oleh Marx.[6] Mandel mengaplikasikan teorinya pada pasar dunia di tahun 1970-an untuk menunjukkan bahwa, meskipun terjadi penurunan relatif dalam ekspor modal dari negeri kaya ke negeri miskin pada saat itu (sesuatu yang kemudian menjadi  sebaliknya), tidak ada akhir bagi penghisapan nilai tersebut. Perusahaan multinasional semakin mampu untuk merampas nilai tanpa kesulitan harus melakukan investasi langsung. Kecenderungan yang sama terus berlanjut hingga hari ini karena banyak jalur produksi yang semakin “di-outsourcing-kan” (dialih-dayakan) kepada pemasok independen, sedangkan perusahaan multinasional “berhemat” dan berkonsentrasi pada monopoli “kompetensi (kemampuan) pokok”, seperti diuraikan di bawah ini.

Doug Lorimer menguraikan secara spesifik mekanisme yang digunakan (oleh negara imperialis dan perusahaan multinasional dalam “pasar bebas” di era globalisasi neoliberal) untuk membangun posisi monopol yang stabil. Bagi Lorimer, “sejarah kapitalis monopoli adalah, pada saat yang sama, merupakan sejarah penguatan masing-masing negara imperialis dan penggunaannya untuk memajukan kepentingan kaum kapitalis finansial negerinya sendiri di pasar dunia”.[7]

Lorimer mencatat: “segala inovasi teknologi utama dalam 50 tahun terakhir ini diciptakan dan dikembangkan pada awalnya untuk berperang (atau mempersiapkan diri untuk berperang) oleh para peneliti yang bekerja untuk departemen militer negara imprealis… Defisit pemerintah secara massif dihabiskan untuk mengembangkan barang-barang kebutuhan perang, persenjataan, selama Perang Dunia II dan Perang Dingin, yang menciptakan hampir semua inovasi teknologi pada paruh abad 20.”[8] Keuntungan dari pemasaran teknologi ini (seperti mikrowave, internet, radar) dibagi di antara perusahaan-perusahaan multinasional, sementara tanggungjawab dan biaya untuk pengembangannya diambil-alih oleh negara.

Subsidi negara untuk mengembangkan produktivitas tenaga kerja yang tinggi umumnya diberikan kepada lembaga-lembaga negara seperti universitas. Hubungan antara negara dengan modal swasta yang intim tersebut menjelaskan mengapa perusahaan multinasional tidak meluas secara global, seperti yang dahulu pernah populer dipercaya. Hal itu juga menjelaskan mengapa produksi berteknologi tinggi semakin terkonsentrasi di negara-negara kaya—sementara, sensasi yang menyesatkan menunjukkan sebaliknya.

Berbekal teknologi terbaik, produktivitas tenaga kerja tertinggi dan didukung oleh organisasi yang paling kuat di planet ini—negara imperialis—selain berkompetisi di antara mereka sendiri, perusahaan multinasional di pasar dunia menghadapi  produsen non-monopoli, menguasai teknologi  yang sebenarnya dan mudah direproduksi atau diproduksi oleh perusahaan multinasional itu sendiri. Sebagian besar perusahaan non-monopoli tersebut mengerjakan bagiannya yang sederhana, proses produksi “massal” untuk menghasilkan barang-barang non-monopoli. Perusahaan-perusahaan multinasional dapat mendikte baik pembelian maupun harga jual dalam perdagangan mereka dengan produsen non-monopoli. Dengan demikian, produsen non-monopoli diperbolehkan mengambil keuntungan yang sekadar memadai untuk kelangsungan hidup mereka. Sisanya, dari nilai yang dihasilkan oleh para pekerja di perusahaan-perusahaan tersebut, dirampas oleh perusahaan multinasional.

Dengan demikian, produksi monopoli modern tidak meniadakan pasar tapi memperluasnya. Bahkan, dalam lingkup “persaingan bebas”, diperluas ke daerah berteknologi rendah di mana monopoli yang stabil tidak dapat dibangun. Bagaimanapun juga, “persaingan bebas” hanya ada di bawah kendali dan  disubordinasikan kepada monopoli serta persaingan monopoli. Semuanya, kecuali produksi berteknologi tinggi[9], semakin didorong ke ranah persaingan bebas yang subordinat (dikendalikan). Dengan kata lain: “bebas” bersaing memperebutkan remah-remah (recehan).

Ekspansi besar-besaran pasar dunia selama 30 tahun terakhir ini, termasuk pelipatgandaan angkatan kerja global[10], telah menciptakan lautan tenaga kerja untuk dihisap oleh perusahaan multinasional demi perluasan keuntungannya, bahkan tanpa diawasi secara langsung. Hal itu terutama terjadi di Cina. Produksi komoditas kapitalis yang berkembang pesat di Cina adalah produksi non-monopoli. Perusahaan yang melakukan “produksi missal” secara sederhana, yang tidak mereka monopoli sendiri, karenanya tidak dapat menetapkan harga. Mereka harus menjual dengan harga yang ditentukan oleh perusahaan multinasional. Hal itu membuat mereka menjadi kapitalis yang kerempeng, kere—berkeuntungan kecil.

Perusahaan multinasional yang didukung oleh negara imprealis semakin besar dan dominan dalam memegang monopoli pengetahuan dan teknologi di pasar internasional, menghisap nilai dari produsen non-monopoli, tidak memiliki arti apapun selain: sebuah sistem global yang saya sebut “ketidaksetaraan pertukaran monopoli”.

Pembagian kerja internasional yang modern dan yang sangat terspesialisasi terkait erat dengan “globalisasi” produksi, yang lebih sempurna mengungkapkan karakter monopoli imperialis dari bentuk yang sebelumnya kurang maju. Pada masa Lenin, monopoli didasarkan terutama pada pemindahan lokasi fisik mesin-mesin imprealis yang paling pokok. Dalam kasus saat ini, mesin yang paling canggih ditahan, sisanya sering dipindahkan ke negeri berupah-rendah. Terdapat kecanggihan yang lebih tinggi dalam pembagian kerja modern: produksi  yang “dicacah-cacah kecil“[11] ke dalam aspek yang dibeda-bedakan dan diorganisir sesuai dengan tingkat kecanggihannya (kesulitan). Dengan demikian, “globalisasi” dalam beberapa dekade terakhir, lebih lengkap memisahkan kapasitas ilmiah dan teknologi (yang secara umum) merupakan pekerjaan kasar atau tenaga kerja berketerampilan rendah. Sejauh mungkin, memisahkan ilmu itu sendiri—murni, hanya mengejar pengetahuan praktis yang disediakan dalam bantuan kemajuan teknis atau budaya—dari proses produktif biasa (yang sudah ditetapkan dan, dengan demikian, relatif berketerampilan rendah).

Bentuk monopoli modern mencerminkan dengan lebih baik bahwa pengetahuan ilmiah, dan aplikasi canggih untuk produksi, terkonsentrasi, pada akhirnya, tidak dalam benda-benda fisik tapi di dalam diri manusia dan interaksi manusia dengan objek lainnya. Maksudnya: itulah monopoli tenaga kerja oleh pekerja yang paling berpendidikan tinggi, baik oleh negara-negara imperialis maupun perusahaan multinasional, yang membentuk basis utama dan paling stabil bagi reproduksi imperialis. Oleh karenanya, pemindahan aparatus industri jenis tertentu ke Cina dan negeri-negeri miskin lainnya (meskipun besarannya berlebihan) tidak merusak reproduksi monopoli dalam ekonomi imperialis selama reproduksi aspek yang paling tinggi masih di kendalikan oleh inti imperialis. Sebagai contoh-contoh kasus, segunung bukti dapat menunjukkan hal tersebut.

Pandangan IST tentang imprealisme dan Lenin

Para penulis utama teori imprealisme dalam tradisi IST, Mike Kidron, Chris Harman dan Alex Callinicos, menciptakan aliran teoritis yang runut yang mengajukan posisi umum bagi seluruh pertanyaan mendasar.[12] Inovasi teoritis Kidron dirintis pada 1962, yang ditegaskan kembali oleh Harman dan Cllinicos, sehingga menciptakan kesinambungan tertentu di dalam IST berdasarkan inovasi teori Kidron yang asli tersebut.[13] Sesudah Kidron keluar dari IST, Harman, sampai dengan kematiannya pada tahun 2009, adalah teoritisi imprealisme yang paling berpengaruh. Karyanya yang paling penting, Analysing Imperialism (menganalisa Imprealisme), mempengaruhi IST dan beberapa kelompok yang tidak lagi di dalam tendency secara internasional. [14]

Eksploitasi Dunia Ketiga

Para penulis IST mengklaim telah menegakkan teori imperialismenya Lenin (kadang-kadang menggambarkannya sebagai teori “Lenin-Bukharin”) tapi, sebenarnya, menolak kesimpulan Lenin yang paling mendasar—bahwa imperialisme adalah tentang eksploitasi sistematis negeri-negeri terbelakang oleh modal dari negara-negara inti imprealis. Kesimpulan mendasar Lenin tersebut diselewengkan dengan, secara berlebihan, lebih menekankan pada kompetisi antar- imperialis, yang dipahami melalui prisma konsep monopoli negara kapitalis ala IST.

Penyajian yang tidak tepat tentang teori Lenin (dan teori Bukharin) yang diterapkan dalam berbagai isu, pada akhirnya, akarnya adalah karena mereka menolak makna eksploitasi yang sistematis. Harman berargumen bahwa posisi tersebut dibutuhkan untuk memerangi “nasionalisme kiri”, yang “mengalihkan perhatian dari dinamika sentral sistem dunia dan yang, dalam banyak hal, analisanya lebih dilandaskan pada apa yang terjadi di lokasi akumulasi yang sangat penting, pada investasi asing, dan pada perdagangan”.[15] Di tempat terjadinya eksploitasi, yakni di negeri-negeri miskin, para penulis IST lebih menekankan “persaingan antar-imprealis” dan bentrokan antara kekuatan adi-kuasa yang, menurut dalihnya, terutama bertujuan mengamankan bahan baku dan secara langsung mengambil-alih kendali ekonomi dari kekuatan adi-kuasa lain. Namun, belum ada perang yang berlangsung antara “negeri-negeri industri mapan” selama 70 tahun terakhir ini.

Harman berpandangan, “Sebagai besar negeri Dunia Ketiga, termasuk hampir seluruh Afrika dan banyak negeri Amerika Latin (di luar Brazil dan Meksiko), mengalami penurunan penting ekonomi  dalam dinamika sistem secara keseluruhan. Keuntungan dan pembayaran bunga dari daerah-daerah tersebut hanyalah seperti lapisan krim bagi kue dunia kapitalis, bahkan besarnya tidak sampai sepotong kue itu sendiri”, sementara, “sumber utama nilai lebih di dunia ada di negeri-negeri maju’.[16] Lenin dimunculkan seolah mendukung posisi tersebut.[17]

Tapi, bagi Lenin, “titik fokus dalam program Sosial Demokrat harus bertumpu pada adanya pembelahan antara bangsa penindas dan bangsa yang ditindas, yang membentuk esensi dari imprealisme.”[18] Dua tahun kemudian, ia menulis: “Akan menjadi bijaksana, mungkin, untuk menekankan secara lebih kuat dan mengungkapkan dengan lebih jelas dalam program kita: keunggulan segelintir orang paling kaya di negeri-negeri imperialis yang makmur yang, secara parasit, merampok negeri-negeri koloni dan negeri-negeri yang lebih lemah. Itulah ciri yang sangat penting dari imperialisme.[19] Bagi Lenin, “kapitalisme tumbuh menjadi sebuah sistem dunia penindasan kolonial dan yang, secara finansial, segelintir negeri ‘maju’mencekik mayoritas penduduk dunia.”[20] Imperialisme awal abad 20 menuntaskan pembagian dunia di antara segelintir negara yang, saat ini, masing-masing melakukan eksploitasi (dalam makna penarikan keuntungan-super dari) satu belahan di “seluruh dunia”.[21]

Apapun kebenaran posisi Harman mengenai tidak pentingnya eksploitasi terhadap negeri-negeri miskin demi imprealisme, namun hal itu tidak dapat dikatakan memiliki kesamaan apapun dengan posisi Lenin. 

Ekspor Kapital

Mungkin kesalahpahaman yang paling umum terhadap teori yang diajukanLenin adalah bahwa imprealisme itu prinsipnya mengenai ekspor modal. Harman berpendapat bahwa Lenin “nampaknya membuat seluruh teori imprealisme bersandar pada peran-kunci bank dalam mengekspor modal finansial”. [22]

Tapi Lenin tidak pernah menulis bahwa ekspor modal adalah landasan bagi sandaran imperialisme. Karya-karyanya berulang kali dan secara langsung menentang kesimpulan tersebut. Lenin mengurutkan lima ciri utama imprealisme; ekspor modal hanya salah satunya. Daftar ciri imperialisme tersebut memiliki hubungan sebab-akibat, ekspor modal muncul sebagai ciri ketiga. Dalam 10 bab tulisan Lenin, masing-masing dari lima ciri tersebut ditempatkan dalam satu pembahasan tersendiri. Dan bab “ekspor modal” adalah yang terpendek dari semuanya, hanya 1.115 kata.

Di bab lain bukunya, Lenin menjelaskan tentang “kemungkinan definisi singkat mengenai imperialisme”. Ekspor modal tidak disebutkan. Ia berpendapat:

[I]mperialisme adalah tahap monopoli kapitalisme. Definisi tersebut mencakup apa yang paling penting, untuk, di satu sisi, menjelaskan bahwa modal finansial adalah modal bank dari beberapa bank monopoli yang sangat besar, yang digabungkan dengan modal milik asosiasi monopoli industrialis; dan, di sisi lain, penjelasan bahwa pembagian dunia merupakan transisi dari kebijakan kolonial yang telah diperluas (tanpa hambatan) ke wilayah yang telah direbut oleh kekuatan kapitalis (manapun), menjadi kebijakan kolonial monopoli yang menguasai wilayah dunia yang telah benar-benar berhasil dibagi-bagi.[23]

Dalam perdebatan revisi program Bolshevik pada tahun 1917, Lenin secara eksplisit menentang proposal V. Sokolnikov yang mendefinisikan prinsip imperialisme sebagai “ekspor modal”. Dalam pandangan Lenin, jika program itu dimulai dengan karakterisasi imperialisme, “kita harus memulainya dengan karakterisasi imprealisme secara keseluruhan—dan, dalam kasus ini, kita harus tidak hanya mendefinisikan satu hal saja, “ekspor modal”. Dan keluhan Lenin,  “Definisi kawan Sokolnikov tentang imprealisme hanya sedikit saja cakupannya (yakni ekspor modal)”.[24]

Harman memperkenalkan kesalahpahaman kedua. Ia menegaskan: Lenin menyatakan bahwa ekspor modal mengalir, terutama, dari negeri-negeri maju menuju negeri-negeri terbelakang. Harman menulis bahwa hal itu adalah “titik berangkat utama dari penjelasan Hobson-Lenin” saat pasca perang modal  “arusnya tidak dari negeri industrial ke negeri ‘terbelakang’. Arus modal melimpah ke daerah di mana industri sudah ada.[25]

Lenin tidak menekankan pentingnya arus modal ke negeri-negeri terbelakang; namun, ia tidak percaya bahwa arus ekspor modal “sangat melimpah” dari negeri  maju ke negeri terbelakang. Lenin menyediakan tabel statistik yang menjelaskan secara rinci ekspor modal berdasarkan tujuan ekspornya.  Tabel yang langsung dibantah oleh Harman. Mengomentari hal itu, Lenin mengatakan, “modal Prancis diinvestasikan terutama di Eropa”, sementara modal Jerman “dibagi (paling) merata antara Eropa dan Amerika”. Hanya dalam kasus Inggris, tabel statistik Lenin memberikan pengakuan bahwa kapital mengalir terutama ke daerah yang belum dikembangkan. Dalam hal itu, Lenin menulis, “daerah utama investasi…berada di koloni-koloni Inggris” tapi, bahkan juga, termasuk di negeri-negeri maju, seperti Australia dan Kanada.[26] 

Kolonialisme

“Masalah utama” teori Lenin bagi Harman dan para penulis IST adalah: karena pendekatan Lenin yang sangat kuat lebih bertumpu pada penekanan bahwa kekuatan Barat (sic) yang hebat mendorong adanya pembagian dan pembagian kembali dunia di antara mereka yang, di satu sisi, mengarah pada perang dan, di sisi lain, penguasaan kolonial secara langsung. Hal itu nyaris sulit diterapkan pada situasi di mana kemungkinan perang di antara negara-negara Barat nampaknya semakin mustahil dan koloni-koloni telah memperoleh kemerdekaannya.”[27] itulah kesalahpahaman lainnya. Lenin pernah menegaskan bahwa kolonialisme sangat dibutuhkan bagi imperialisme:

Kecenderungan imperialis mengarah pada imperium besar yang sepenuhnya harus dicapai dan, dalam prakteknya, sering dapat dicapai, dalam bentuk sebuah aliansi antara negara imperialis dengan negara berdaulat—berdaulat secara politik… Perjuangan nasional, pemberontakan nasional, peralihan kekuasaan nasional sepenuhnya “dapat dicapai” dan dipenuhi dalam praktek imprealisme.

Norwegia “meraih”  hak untuk menentukan nasibnya sendiri di era imperialisme yang paling merajalela yang, konon, seharusnya tidak dapat dicapai pada tahun 1905 itu. Oleh karena itu, tidak hanya tak masuk akal, tapi menggelikan, dari sudut pandang teoritis, untuk berbicara tentang “ketidaksanggupan”… modal finansial Inggris bisa (tetap) “berjalan” di negeri Norwegia sebelum maupun sesudah peralihan kekuasaan. Modal finansial Jerman (tetap) “berjalan” di Polandia sebelum peralihan kekuasaan Polandia dari Rusia, dan akan terus “berjalan” di di sana tak peduli apa status politik yang diperoleh Polandia.[28]

Lenin berpendapat: “Era imperialis tidak akan hancur baik oleh kemerdekaan politik nasional ataupun “pencapaian” semacamnya selama dalam batas-batas hubungan imperialis dunia. Di luar batas tersebut, bagaimanapun juga, sebuah Republik Rusia atau, secara umum setiap transformasi demokratik di manapun di dunia ini, ‘tidak bisa diraih’ tanpa serangkaian revolusi dan tidak lah akan stabil jika tanpa sosialisme. [29] Di sini Lenin lebih profetis dalam mengantisipasi munculnya kebangkitan daerah-daerah koloni dalam perjuangan pembebasan nasional.

Industrialisasi

Harman berpendapat bahwa posisi Lenin adalah bahwa “ekspor modal ke negeri-negeri koloni akan mengakibatkan pembangunan industri negeri koloni”. Untuk menguatkan hal itu, ia mengutip Lenin: “Ekspor modal mempengaruhi dan sangat mempercepat perkembangan kapitalisme di negeri-negeri di mana modal tersebut diekspor. Oleh karenanya, sementara ekspor modal bisa jadi cenderung, dalam batas tertentu, menelikung pembangunan di negeri-negeri pengekspor-modal, namun hal itu hanya dapat dilakukan dengan memperluas dan memperdalam perkembangan lebih lanjut kapitalisme di seluruh dunia.”

Tapi, untuk menyimpulkan bahwa kutipan tersebut mendukung pandangan Lenin—bahwa ekspor modal membawa industrialisasi—Harman harus percaya bahwa “perkembangan kapitalisme” dan “industrialisasi” meripakan hal yang sama.

Melanjutkan pencampur-adukan yang sama, Harman menulis: “Salah satu karya Lenin di masa awal, The Development of Capitalism in Russia (perkembangan kapitalisme di Rusia), ditujukan kepada orang-orang yang membantah kemungkinan perkembangan kapitalis. Ia terus bersikukuh di posisi tersebut saat menulis Imperialism (imprealisme). Itulah keyakinan bahwa perkembangan industri yang semakin [terkonsentrasi] di daerah-daerah koloni membuat Lenin menggambarkan negeri-negeri kolonial sebagai ‘parasit’”[30] Sekali lagi, saat Lenin menyebut “kapitalisme”, Harman memahaminya sebagai “perkembangan industri”.

Dengan tidak membuat perbedaan di antara keduanya, Harman harus menyangkal kemungkinan bentuk pra-industri kapitalisme atau, setidaknya, secara tersirat menyangkal bahwa kapitalisme tak terelakkan akan berkembang dari tahap yang lebih rendah ke tahap yang lebih tinggi: kapitalisme industri. Pandangan tersebut yang, sebenarnya, tidak didukung oleh apapun yang dikatakan Lenin, pada akhirnya menjadi landasan bagi posisi IST—bahwa perkembangan kapitalis akan selalu mengarah pada bentuk-bentuk kapitalisme Cina yang lebih maju; dan industrialisasi, oleh karenanya, akan menjadi imperialisme. [31]

Imprealisme modern telah menciptakan sebuah bentuk seni yang mempromosikan “pembangunan” kapitalis non-industri. Pemahaman tersebut sangat dibutuhkan untuk memahami ekonomi-politik saat ini. Contoh yang gamblang adalah Indonesia. Ekonomi borjuis secara umum tidak membedakan antara industri maju dengan industri perakitan padat karya (dengan buruhnya yang berketerampilan rendah). Perakitan sepeda motor (yang suku-komponennya diimpor) dan mesin produksi tekstil genggam di Indonesia, keduanya digolongkan sebagai “manufaktur”. Dalam penggolongan tersebut, keduanya digabungkan dengan industri mesin paling canggih dari AS dan Jepang. Ekonom borjuis (terutama yang bekerja di Bank dunia), sejak awal tahun 1980-an, berpandangan bahwa Indonesia mulai “terindustrialisasi”—tak ada seorang pun di Indonesia yang masih percaya hal itu. Pencampuradukan antara perkembangan kapitalisme dengan industrialisasi, seperti dala pendapat Harman, cenderung mendukung pijakan-kunci teori pembangunan borjuis tersebut.

Imprealisme sebagai tahap kapitalisme

Artikel Kidron yang paling penting tentang imperialisme berjudul “Imperialisme —satu-satunya tahap tertinggi”. Dimulai dengan:

Nasib kurang baik menimpa Lenin saat menulis satu-satunya pamphlet yang ia anggap penting, dan menjadi tulisan yang paling berpengaruh, The Highest Stage of Capitalism (imperialisme: tahap tertinggi kapitalisme)… Sebenarnya pamflet tersebut ditulis untuk menjelaskan penyebab Perang Dunia I namun kemudian, pada puncaknya, [telah] kehilangan pandangan (jauh ke depan), menjadi tidak kritis, menjadi hampir universal, dalam menerima tema-tema sentralnya. Hal itu menjadi lebih aneh karena banyak hal yang ia analisa jelas-jelas telah berlalu atau menjadi kurang penting ketimbang pada zamannya. [32]

Callinicos berpendapat bahwa dalam judul asli (bahasa Rusia) pamplet Lenin tertulis tahap kapitalisme “terbaru”, bukan “tertinggi”; hal itu berubah hanya setelah kematiannya.[33] Callinicos mengambil acuan dari sebuah artikel Bellamy Foster, yang justru sangat bertentangan dengan pengakuannya. Pada khirnya, Bellamy, bagaimanapun juga, mengakui bahwa naskah tulisan tangan Lenin tahun 1916 berjudul Imperialism, the Highest Stage of Capitalism Imprealisme (imperialisme, tahap tertinggi kapitalisme).[34] Hal itu mungkin nampaknya seperti debat semantik, tetapi dampaknya adalah melemahkan legitimasi dan pentingnya teori imprealisme Lenin. Menyimpulkan pandangan tersebut, Harman mengakui bahwa “kekuatan abadi” karya Lenin dan Bukharin “tidak seperti yang lain, (kekuatannya) terletak pada caranya memberikan penjelasan mengenai seluruh apa yang disebut dengan ‘perang 30 tahun’ dalam abad ke-20 ini [1914-1945].[35] Jadi, bagi Harman, “kekuatan abadi” Lenin itu tidak kekal.[36]

Harman berpendapat bahwa “kapitalisme monopoli” telah digantikan oleh “kapitalisme negara” pada tahun 1929.[37] Sebagai akibat dari swastanisasi, yang meluas pada 1980 dan di tengah-tengah keruntuhan Stalinisme pada tahun 1991, Harman sempat menawarkan istilah “kapitalisme trans-negara”.[38] Callinicos lebih suka (memilih) tahap dan tanggal: “imprealisme klasik” (1870-1945); “imperialisme adi-kuasa” (1945-1991), dan “Imperialisme setelah Perang Dingin” (1991 dan seterusnya). Banyak akademisi yang memilih tahapnya sendiri; baik David Harvey maupun Ellen Meiksins Wood memilih versi mereka sendiri. Penggandaan tahap yang terlalu beragam akhirnya  menjadi sewenang-wenang dan deskriptif, tapi kurang analitis—seperti sebuah pepatah, seorang profesor sosiologi yang sibuk memperdebatkan apakah ada lima atau tujuh kelas sosial yang berbeda dalam masyarakat kapitalis. Dalam hal itu, pemaknaan Lenin dalam menjelaskan imperialisme sebagai tahap kapitalisme yang tertinggi dan terakhir tak ada kesamaanya.

Kisruh, sebagaimana menurut Lorimer, “berangkat dari asumsi bahwa kemungkinan-kemungkinan bentuk sosial produksi tertentu (yang dikondisikan secara historis) itu tidak terbatas. Seluruh fakta dan proses yang dianalisa oleh Marx, dan Lenin, menunjukkan justru sebaliknya—hanya secara spesifik terbatas dan bersyarat lah perkembangan tenaga produktif bisa terjadi, setiap bentuk sosial produksi ditentukan oleh kesejarahannya.[39]

Jelas, akan selalu ada gerak dari satu masa tertentu ke masa yang lainnya. Namun, saat Lenin menulis tentang suatu “tahap” kapitalisme, ia tidak bermaksud memberikan penjelasan tentang ciri yang dangkal, tapi tentang kristalisasi bentuk tertinggi dari hubungan sosial produksi kapitalis. Ia mengindentifikasikan adanya kemungkinan perubahan terakhir dalam struktur kelas mendasar yang dibentuk oleh tahap monopoli kapitalisme. Dan monopoli kapitalisme tidak dapat digulingkan tanpa revolusi sosial.

Menurut Marx, dengan terbentuknya perusahaan saham gabungan,

Modal, yang melekat di landasan cara produksi masyarakat dan mensyaratkan konsentrasi sarana-sarana/alat-alat produksi dan tenaga buruh, sekarang bisa menerima bentuk modal sosial (modal gabungan individu-individu secara langsung) yang berbeda dengan modal swasta, dan perusahaan yang terbentuk adalah perusahaan-perusahan sosial yang bertentangan dengan perusahaan-perusahaan swasta. Itulah penghapusan modal sebagai milik pribadi dalam batas-batas cara produksi kapitalis itu sendiri.

Hal ini mencakup:

Transformasi fungsi kapitalis (yang sebenarnya) yakni menjadi sekadar manajer belaka, yang bertanggung jawab terhadap uang orang lain, dan (fungsi) pemilik modal menjadi sekadar pemilik belaka, sekadar kapitalis pemilik uang …pemilikan modal, yang sekarang…sepenuhnya terpisah dari fungsinya dalam proses produksi aktual…Sehingga keuntungan menjadi sekadar sebagai perampasan surplus tenaga kerja orang lain…

Dalam perusahaan saham gabungan, fungsi (produksi) dipisahkan dari kepemilikan modal, sehingga tenaga kerja juga benar-benar terpisah dari kepemilikan sarana-sarana/alat-alat produksi dan surplus tenaga kerja. Hasil produksi kapitalis dalam perkembangan tertingginya (perusahaan saham gabungan) adalah titik penting transisi menuju transformasi modal kembali pada kepemilikan produsennya, meskipun tidak lagi sebagai milik pribadi masing-masing produsen, melainkan sebagai kepemilikan bersama produsen, kepemilikan sosial secara langsung. Hal itu, lebih jauh lagi, menjadi titik transisi menuju transformasi semua fungsi yang sebelumnya terikat pada kepemilikan modal dalam proses reproduksi menjadi fungsi sederhana gabungan/himpunan produsen, menjadi fungsi sosial.

Itulah penghapusan cara produksi kapitalis dalam cara produksi kapitalis itu sendiri, dan karenanya disebut kontradiksi yang menghapuskan dirinya sendiri yang, sekilas saja bisa dipahami, kehadiran dirinya sekadar sebagai titik transisi ke bentuk baru produksi. Kehadiran dirinya merupakan sebuah kontradiksi bahkan dalam permunculannya. Itulah yang melahirkan monopoli dalam lingkup tertentu dan karenanya memprovokasi campur-tangan negara. Itulah juga yang mereproduksi aristokrasi keuangan baru, jenis baru parasit dalam kedok penyokong/pengembang perusahaan, spekulan dan segelintir direksi; seluruh sistem yang menipu dan curang bila dikaitkan dengan pengembangan perusahaan, masalah saham dan transaksi saham. Itu sekadar produksi swasta yang tidak dikendalikan sebagai kepemilikan pribadi. [40]

Pembaca yang mengakrabi Lenin akan mengakui kedekatan argumentasi Lenin dengan apa yang tertulis dalam halaman-halaman Capital  (modal) tersebut. Sebagai yang ditunjukkan oleh Lorimer:

Lenin tak perlu menciptakan sebuah teori baru untuk sampai pada kesimpulan bahwa kapitalisme monopoli finansial adalah tahap tertinggi perkembangan kapitalisme. Ia hanya harus menunjukkan bahwa ciri yang telah Marx gambarkan sebagai karakteristik tahap tersebut—perusahaan bersaham gabungan; pemisahan kepemilikan pribadi kapital dari fungsi manajerial dalam proses produksi langsung; monopoli; munculnya “aristokrasi keuangan”; parasitisme dalam bentuk rentenir; segelintir direksi perusahaan; dan para penipu di bursa saham—telah menjadi bentuk dominan dan khas bisnis kapitalis pada awal abad ke-20. Gambaran Lenin mengenai tahap kapitalisme monopoli finansial sebagai tahap tertinggi—tahap yang kehabisan kemungkinan-kemungkinan untuk “berevolusi” , yang berbeda dengan perkembangan revolusioner—adalah kesetiaan terhadap konsepsi Marx tentang “produksi kapitalis dalam perkembangan tertingginya”.[41]

Lorimer menjelaskan:

Keterasingan produsen langsung dari kepemilikan sarana-sarana/alat-alat produksi adalah relasi internal yang merupakan esensi dari bentuk kapitalis yang memproduksi komoditas. Itulah sebabnya saat terjadi relasi internal, yang menghubungkan individu-individu pekerja dengan  individu-individu kapitalis di dalam proses produksi, maka secara lahiriah terungkap lah perkembangan antagonisme sosial yang sepenuhnya—sebagai konflik sosial antara, di satu sisi, produsen sebenarnya, yang terhimpun oleh proses produksi menjadi kolektif individualitas, dengan, di sisi lain, para penghisap non produsen yang, sama saja, terhimpun oleh kepemilikan mereka sebagai kolektif individualitas yang bertentangan dengan kolektifnya sendiri—jadi, jelas lah bahwa (a) tidak ada kemungkinan terjadi perkembangan selanjutnya dalam hubungan produksi kapitalis; (b) bahwa antagonisme sosial telah menjadi titik awal transisi ke bentuk sosial baru proses produksi; dan (c) bahwa titik awal tersebut merupakan landasan material dan bentuk umum dalam kutub positif dan negatif antagonisme sosial itu sendiri, yakni dalam himpunan produksi oleh himpunan pemilik untuk kepuasan individual dan kebutuhan bersama.[42]

 Modal Keuangan

Harman mengaitkan argumen ini dengan Lenin, yakni bahwa “kunci untuk memahami kapitalisme modern adalah pemahaman mengenai dominasi negeri-negeri maju terhadap ‘modal finansial’ (bank dan bursa saham) dalam modal industri.”[43] Ia berpendapat bahwa, dalam pandangan Lenin, “modal finansial (bank) dainggap memainkan peran sentral. Modal finansial telah mencapai tingkat yang lebih tinggi dalam monopolisasi ketimbang industri, dan sangat mengsubordinasi modal industri demi kebutuhannya.”[44] Tapi Lenin tidak pernah mendefinisikan modal finansial sebagai “bank” ataupun “bank dan bursa saham”. Definisinya terang-terangan bertentangan dengan pendapat tersebut.

Lenin mendefinisikan modal finansial sebagai penggabungan (merger) perbankan dengan modal industri, dan kemunculannya merupakan landasan bagi bentuk monopoli yang sama sekali baru serta lebih tinggi. Dengan mengacu pada dari buku Rudolf Hilferding tahun 1910, Finance Capital (modal keuangan), Lenin menulis:

Proporsi modal industri yang terus menerus meningkat…berhenti menjadi milik industrialis yang menanamkan modalnya. Mereka mendapatkan modalnya melalui media, bank yang, dalam kaitannya dengan mereka, mewakili para pemilik modal. Di sisi lain, bank dipaksa untuk meningkatkan porsi penyaluran dananya ke dalam industri. Dengan demikian, dalam tingkat yang lebih tinggi, para bankir sedang berubah menjadi kapitalis industri. Modal bank tersebut, yakni modal dalam bentuk uang, yang sebenarnya sudah diubah menjadi modal … [adalah] “modal finansial”… Modal finansial dikendalikan oleh bank-bank dan dikerjakan (investasinya) oleh para industrialis.

Lenin menambahkan bahwa definisi Hilferding “adalah definisi yang tidak lengkap sejauh definisi tersebut bungkam terhadap satu fakta yang sangat penting—bahwa peningkatkan konsentrasi produksi dan modal hingga kadar sedemikian rupa maka konsentrasi akan mengarah, dan sudah mengarah, menuju monopoli”.[45]

Dalam pandangan Lenin, kemudian, modal keuangan adalah “konsentrasi produksi; monopoli yang lahir darinya; penggabungan atau peleburan bank-bank dengan industri” dan, kemudian, “modal keuangan adalah modal bank dari beberapa bank monopoli yang sangat besar, bergabung dengan modal asosiasi monopolis industrialis.[46]

Lenin juga memberikan nama-nama pemilik modal keuangan. Mereka termasuk pemilik perusahaan-perusahaan Siemens, General Electric, Sugar Trust, United State Steel, Egyptian Sugar Refineries, Union Mining Company of Dortmund, dan Steel Syndicate of Germany. Perusahaan-perusahaan itu bukan bank (namun dimiliki juga oleh para pemilik modal keuangan).

Berdasarkan kesalahan pembacaannya, Harman berpendapat, “Bukharian melanjutkan pengembangan teori yang lebih umum ketimbang Lenin” karena “ia berfokus tidak hanya pada modal keuangan, tetapi pada cara bagaimana modal industri [sic] terlalu didorong pada petualangan militer… dalam banyak hal, sejarah kapitalisme Barat 50 tahun terakhir telah dilengkapi oleh gambaran Bukharin yang lebih umum, yang lebih cermat daripada gambaran Lenin yang agak sempit dengan konsentrasinya sekadar pada ‘modal keuangan’.[47]

Harman kebingungan memahami perbedaan antara modal keuangan yang didapat dari pinjaman dengan uang kredit[48] atau dengan kategori ekonomi sektoral borjuis, “sektor finansial” yang terdiri atas keuangan, asuransi dan perumahan (FIRE). Kategori ekonomi sektoral borjuis adalah kategori teknis dalam pembagian kerja bisnis kapitalis. Definisi Lenin, yang menjelaskan tentang kelahiran dominasi “oligarki finansial”, menggambarkan perubahan kesejarahan dalam struktur kelas kapitalis dan hubungannya dengan produksi.

Dua dekade kemudian, Harman mengayuh-balik pendapatnya, sedikit terbuka menghubungkannya kepada pandangan Lenin yang dianggap salah bahwa “modal keuangan” merupakan sub-sektor yang berbeda dan terpisah dari kelas kapitalis (mempertentangkannya dengan modal industri). Pada tahun 2003, ia hanya mengklaim bahwa “Penyampaian pikiran (phraseology) di bagian lain pamplet Lenin memungkinkan orang [yaitu Harman] menafsirkan apa yang Lenin katakan, sebagaimana juga yang dikatakan Hobson dan Kautsky, bahwa bunga (yang didapat dari bisnis) finansial dan bank-bank terutama merupakan tanggung jawab imperialisme.[49]

Harman berpikir “ungkapan” Lenin  “terutama” membingungkan karena “ia bersikeras mengenai watak ‘parasit’ modal keuangan”. Ia mengutip Lenin sebagai berikut: imperialisme menciptakan “pertumbuhan kelas yang luar biasa, atau lebih tepatnya strata (lapisan) sosial kaum rentenir, yakni orang yang hidup dari ‘guntingan kupon’, yang mengambil bagian dalam setiap perusahaan apapun, yang berprofesi sebagai pemalas (pengangguran). Ekspor modal, yang merupakan salah satu dari basis ekonomi yang paling penting dari imperialisme, samasekali masih mengisolir rentenir dari produksi, dan mensegel parasitisme di seluruh negeri yang hidup dari mengeksploitasi buruh berbagai negeri dan koloni.” [50] Namun, bagi Lenin dan Marx, lapisan parasit rentenir tidak terpisah dari sayap kelas kapitalis, atau berbeda dari “kapitalis produktif”, tetapi merupakan seluruh bagian atasnya—seluruh borjuis besar, yang sekarang terpisah dari produksi, sebagaimana dijelaskan oleh Marx.

Harman lebih lanjut menjelaskan mengapa, meskipun tampaknya ia menyadari kesalahannya dalam  membaca Lenin, ia bersikukuh mengasosiasikan Lenin sebagai pihak yang berpendapat bahwa terjadi pemisahan antara modal produktif dengan “bunga finansial dan bank”. Itu karena pengakuan tersebut mendukung posisi politik penting Harman, bahwa imprealisme bukan tentang eksploitasi ekonomi negeri-negeri terbelakang, sebagaimana Lenin bersikeras. Hal tersebut juga menjadi dasar Harman mengembangkan posisi yang dapat menyebabkan orientasi sektarian nasionalisme Dunia Ketiga.

Harman berpendapat bahwa “penekanan” Lenin “pada ‘parasitisme’ modal keuangan” mengakibatkan “beberapa orang, yang diduga mendasarkan dirinya pada karya Lenin, berposisi (dalam beberapa dekade setelah kematian Lenin) adalah mungkin untuk membentuk aliansi anti-imperialis bersama kelompok modal industri dalam melawan modal finansial—atau, dengan kata lain, jatuh kembali setepat-tepatnya ke dalam kebijaksanaan Kautsky, yang menyerang Lenin dengan begitu getir”. Formulasi Lenin “nampaknya dipandang sebagai teori imperialisme yang yang segalanya dibebankan pada peran kunci bank dalam mengekspor modal”.

Bila kita kesampingkan argumen Harman yang, sebenarnya, bukan apa yang dikatakan oleh Lenin, tapi kita amati “ungkapan” yang nampaknya ia ajukan, maka sangat lah mudah untuk menemukan sanggahan kategorisnya. Lenin menyebutnya sebagai “cara pandang reformis borjuis”, yang percaya  “adalah mungkin, di bawah kapitalisme, memisahkan” antara “modal yang diinvestasikan secara ‘produktif’ (usaha industri dan komersial) dengan modal yang diinvestasikan secara ‘spekulatif’ (dalam Bursa Saham dan operasi-operasi finansial)”.[51]

Sumber: http://marxistleftreview.org/index.php/no8-winter-2014/112-lenins-theory-of-imperialism-a-defence-of-its-relevance-in-the-21st-century

 

[1] Lenin, 1963

[2] Butuh artikel terpisah untuk mengritik tulisan-tulisan tentang imprealisme dari para akademisi yang berpengaruh, seperti David Harvey, John Bellamy Foster dan mazhab (mereka yang tergabung dalam buletin) Monthly Review.

 

[3] Lenin, 1963

[4] Istilah “trust kapitalis negara” Bukharin ini  kadang-kadang (salah) dikaitkan dengan Lenin juga. Lenin sendiri tidak pernah menggunakan istilah ini.

[5] Mandel, 1980.

[6] Tidak seperti Emmanuel—yang merumuskan teori secara eklektif (campur-aduk), dan pada akhirnya menjadi teori non marxis—pertukaran yang tak setara didasarkan pada tingkat upah diferensial. Padahal, hal itu hanyalah gejala, bukan penyebab, dari pertukaran yang tidak setara. Emmanuel, 1972, hal.87.

[7] Lorimer, 1999, hal.13.

[8] Lorimer, 2002, hal.32; juga Eaglen dan Pollak, 2012, hal.1.

[9] Pengecualian ini adalah “alamiah” monopoli berdasarkan kedekatan dengan sumber daya alam atau ke pasar di negara-negara imprealis.

[10] Freeman, 2006.

[11] UNCTAD, 2013a, hal.125.

[12] Kidron mewariskan teori imperialis pada tahun 1965, tak lama sebelum meninggalkan IST. Kidron, 1962.

[13] Dari tahun 2003, Callinicos mulai mengembangkan versi teori “imprealisme baru” yang terkait dengan David Harvey.

[14] Harman, 2003; buku Harman,  Zombie Capitalism (kapitalisme zombie), terbit tahun 2009, sebagian besar isinya mengulang formulasi teoritis tahun 2003 sampai tahun 1991; Jeff Bale, sebagai contoh, menyetujuinya dengan menulis bahwa karya Harman, Analysing Imperialism (menganalisa Imprealisme), “merupakan contoh yang luar biasa bagaimana menganalisa imprealisme secara historis (menyejarah)—baik dari segi bagaimana buku itu membeberkannya dan bagaimana pemikiran Marxis telah berkembang saat menanggapinya. Bale, 2010.

[15] Harman, 2003, p72.

[16] Harman, 2003; juga Callinicos, 2009, p178.

[17] Harman, 2003, p6.

[18] Lenin, 1974.

[19] Lenin, 1972.

[20] Lenin, 1963, Kata Pengantar untuk edisi Prncis dan Jerman.

[21] Lenin, 1963.

[22] Harman, 2003; juga Kidron, 1962; Callinicos, 2009, hal.153, 179.

[23] Lenin, 1963.

[24] Lenin, 1972.

[25] Harman, 2003; juga Kidron, 1962; Callinicos, 2009, pp153, 179,

[26] Lenin, 1963.

[27] Harman, 2003; lihat juga Kidron, 1962; Kidron, 1965; Callinicos, 2009, p179.

[28] Lenin, 1964b.

[29] Lenin, 1964b.

[30] Harman, 2003.

[31] Harman mengklaim bahwa karya Lenin, The Development of Capitalism in Russia  (perkembangan kapitalisme di Rusia), mendukung pendapatnya, tapi tanpa memberikan referensi. Karya Lenin tersebut, secara hati-hati, memisahkan berbagai tahapan perkembangan kapitalis. Lenin, 1964a, Chapter VII, Part XII.

[32] Kidron, 1962

[33] Callinicos, 2009, p44; juga Harman, 2009, p93.

[34] Bellamy Foster, 2004.

[35] Harman, 2003.

[36] Lihat juga Gasper, 2011.

[37] Harman, 1984, pp55, 62,74.

[38] Harman, 1991.

[39] Lorimer, 1999.

[40] Marx, 1981, Chapter 27, pp567-569.

[41] Lorimer, 1999, p17.

[42] Lorimer, 1999, pp17-18.

[43] Harman, 1975.

[44] Harman, 1980; juga Kidron, 1962.

[45] Lenin, 1963.

[46] Lenin, 1963.

[47] Harman, 1980.

[48] Lihat Lorimer, 2011.

[49] Harman, 2003.

[50] Harman, 2003; Callinicos mengutip frasa yang sama, dia menggambarkannya sebagai “salah satu elemen terlemah dari buku Lenin”. Callinicos, 2009, hal.48.

[51] Lenin, 1963.

Read Full Article

Menyingkirkan Perempuan (1)

I. Pendahuluan

Sejak Frederick Engels menulis The Origin of the Family, Private Property and the State (asal-usul keluarga, pemilikan pribadi dan negara) pada tahun 1884, telah banyak data yang dikumpulkan oleh para arkeolog dan para antropolog yang membenarkan ide bahwa komunitas manusia pada awalnya tak terbagi-bagi ke dalam kelas-kelas sosial dan, secara jender, egalitarian.

Engels memberikan suatu analisa tentang bagaimana hubungan-hubungan sosial bisa berubah, diputarbalikan, akibat adanya perubahan radikal dalam tenaga produktif manusia–saat muncul kegiatan peternakan. Menurut Engels, pada zaman pra-sejarah, ditemukannya cara-cara beternak hewan oleh komunitas kesukuan bisa meningkatkan kemakmuran mereka, yang sebelumnya tak pernah mereka nikmati. Namun, kemakmuran tersebut justru, malahan, sekadar meningkatkan status sosial kaum lelaki, dan kaum perempuan menjadi korbannya–itu karena kaum lelaki lah yang menjalankan dan menguasai kegiatan peternakan tersebut. Sumbangan kaum lelaki terhadap kesejahteraan komunitas kesukuan tersebut malahan menyebabkan kaum perempuan tersingkir dari produksi sosial, digantikan dengan tugas-tugas perempuan tradisional–menyiapkan makanan dan mengerjakan kerajinan tangan yang, sebenarnya, merupakan jasa-jasa perumahan individual.

Namun demikian, Engels sendiri mengakui bahwa ia, yang hanya memberikan bukti-bukti yang tersedia pada saat itu saja, tak sanggup menjelaskan mengapa kegiatan peternakan, yang sebelumnya dimiliki bersama oleh komunitas kesukuan, berubah menjadi milik kaum lelaki secara individual.

Tulisan ini mencoba memberikan suatu sumbangan untuk menjawab pertanyaan tersebut; tulisan ini berusaha menyelidiki bukti-bukti ilmiah baru yang akan mengisi beberapa kesenjangan (dalam pemahaman kita) tentang bagaimana proses produksi dan hubungan-hubungan produksi berubah sejalan dengan perkembangan dalam kegiatan pertanian (yang menggunakan bajak); dan tulisan ini akan memberikan garis besar tentang: bahwa peningkatan produkstivitas pertanian (yang menggunakan bajak) lebih besar ketimbang peningkatan produkstivitas holtikultura; bahwa kaum lelaki menurun minatnya terhadap kegiatan berburu; fakta yang mengungkapkan bahwa, memang, proses membajak merupakan kerja yang lebih individual dan lebih berat ketimbang holtikultura; bahwa terdapat kesulitan untuk mengkombinasikan kerja individual tersebut dengan kegiatan memelihara bayi; dan, bahwa perdagangan makanan dan produk-produk ternak peliharaan (dengan basis kuantitas yang lebih besar dan beragam) sekarang bisa dilaksanakan dan semakin berkembang; semuanya itu memberikan sumbangan yang menyebabkan kaum perempuan diisolasi hanya dalam pekerjaan-pekerjaan rumah tangga sehingga, kemudian, tak memiliki kekuasaaan terhadap produksi makanan-utama–yang, sebenarnya, merupakan landasan bagi terciptanya status dan kekuasaan yang sama antara kaum lelaki dan kaum perempuan di dalam masayarakat sebelumnya.

Dalam tahap perkembangan sosial yang penting seperti sekarang ini, bukti-bukti paling akhir yang, sebenarnya, ditujukan untuk mengisi beberapa kesenjangan dalam penjelasan Engels dan kaum Marxis lainnya, justru membenarkan penjelasan kaum Marxis: bahwa, dalam masyarakat yang berkelas, terdapat hubungan antara perkembangan pemilikikan pribadi dengan penindasan terhadap kaum perempuan. Karena itu, tulisan ini sangat lah penting bagi mereka yang sedang berjuang untuk memblejeti kesalahkaprahan pemahaman kaum determinis-biologis tentang ketidaksetaraan jender; ketidaksetaraan jender dianggap sebagai “alamiah” dan tak bisa diubah lagi. Yang demikian itu tentu saja merupakan penjelasan ilmiah-palsu, dan merupakan ideologi reaksioner. Celakanya, penjelasan tersebut, sekarang ini, telah begitu meluas.

Biologi sebagai ideologi.

Mengapa kaum perempuan masih dianggap sebagai warga negara kelas dua? Mengapa mereka terpaksa harus memilih antara menjadi ibu yang “baik” atau menjadi wanita (pemburu) karir yang “hanya mementingkan diri sendiri”? Mengapa kapasitas untuk melahirkan anak membatasi rentang pilihan yang tersedia bagi kaum perempuan, sementara kapasitas untuk menghasilkan anak tak membatasi kaum lelaki? Mengapa keluarga merupakan isu yang begitu penting dalam politik neo-liberal? Mengapa distribusi ekonomi dan kekuasaan sosial sebegitu tak setaranya di antara kaum lelaki dengan kaum perempuan?

Selama berabad-abad, telah terjadi debat tentang apa yang mementukan tingkah laku manusia: apakah sesuatu yang memang telah ada secara alamiah, atau memang timbul dari lingkungan sosial dan fisik tempat manusia itu hidup dan berinteraksi? Sekarang ini, beberapa teori mengaku bisa menjelaskan tingkah laku manusia didasarkan pada karakter “alamiahnya”–yang, sebenarnya, maknanya lebih ke landasan biologis. Kaum determinis-biologis berargumen bahwa biologis kita tak sekadar membentuk tingkah laku (keberadaan) manusia, namun juga menentukan ketidaksetaraan sosial dan ekonomi (dalam masyarakat berkelas, tentunya).

Penjelasan (varian paling akhir) sosio-biologi, yakni psikologi evolusioner adalah: bahwa ketidaksetaraan ras, etnik, kelas dan, khususnya, jender, itu dikarenakan penyesuaian genetik individual. Para penganutnya berargumen, misalnya, bahwa gen kita menentukan tingkah laku dan hubungan-hubungan lelaki-perempuan–yang tujuannya sekadar untuk memaksimalkan kesempatan-kesempatan menyukseskan reproduksi generasi mendatang. Itu artinya, bahwa peranan jender, perkawinan, praktek-praktek hukum dan lembaga keluarga merupakan turunan dari upaya untuk mereproduksi genetika.

Teori-teori tersebut seolah-olah memiliki keabsyahan ilmiah padahal, kenyataannya, merupakan pandangan yang parsial dan distorsif/menyimpang–merupakan pembenaran bagi ideologi status quo. Mereka berusaha membenarkan: bahwa sistim-sistim yang tak adil dan menghisap itu tak bisa ditolak, tak terhindarkan, dan tak bisa diubah, karena alamiah dan moralis.

Kaum determinis-biologis bukan lah pihak yang pertama kali berusaha untuk mendesakkan kebenaran moral pandangan: bahwa tatanan sosial sekarang ini alamiah, tak bisa diubah lagi. Bukan, mereka bukan yang mengawalinya namun, sayangnya, merupakan yang terakhir–ketenarannya dalam ilmu-ilmu alam semakin meningkat.

Keluarga Inti―Ayah, Ibu dan Anak―Dianggap “Alamiah”

Sementara teori-teori ilmiah pada abad ke-19 (yang vulgar) sudah tak laku lagi; dan beberapa ideologi keagamaan, yang mengabsyahkan “absolutisme”, telah kehilangan daya penjelas lagi; namun pemahaman “alamiah”–yang berusaha menjelaskan segala gejala sosial–semakin meluas saja dan memiliki signifikansi budaya dalam meracuni varian-variannya yang baru. Coba saja pikir, bagaimana mungkin keluarga inti (yang terdiri dari ayah, ibu dan anak) diproyeksikan sebagai unit sosial yang alamiah, padahal terdapat berbagai hubungan-hubungan sosial antara berbagai individu dengan anak-anak, sekarang ini.

Itu tercermin dalam cerita-cerita yang kita dongengkan pada anak-anak. Ambil lah contoh dongeng tentang 3 beruang; bapak, ibu dan anak beruang hidup bahagia bersama dalam rumah mungilnya, sampai akhirnya diganggu oleh maling-licik bernama Goldlocks. Keluarga semacam itu begitu “alamiahnya”, sehingga gambarannya harus ditiru dalam kerajaan hewan. Itu lah yang disebut antropomorpisme–peniruan atribut-atribut tingkah laku manusia dalam kehidupan makhluk lain.

Realitasnya, berbeda sama sekali. Beruang betina dan jantan hanya beberapa saat saja berpasangan. Yang betina menyendiri bila hendak melahirkan, dan membesarkan bayinya sendirian. Seandainya pun yang jantan (“sang bapak”) mendatanginya, ia akan memandang sang bayi sebagai makanan lezat, bukan sebagai keturunannya (atau turunan genetikanya). Huh, begitu luasnya turunan penjelasan genetika!

Demikian pula dalam kebudayaan Barat, begitu penuh proyeksi kekeluargaan dalam kehidupan dunia hewannya, yang sebenarnya merupakan cerminan historis keluarga dan saling-silang kebudayaan tipe-tipe masyarakat–sehingga dijadikan landasan “alamiah” unit masyarakat manusia. Tipe-tipe cerminan demikian disebut etnosentrisme, atau mengatributkan bentuk organisasi sosial tertentu terhadap masayarakat di segala zaman dan tempat.

Bentuk keluarga semacam itu sudah menjadi lazim: terdiri dari bapak, sebagai kepala keluarga, pencari nafkah; Ibu, sebagai pengasuh, yang tugas utamanya adalah menjaga agar keluarga berada dalam keseimbangan sosial dan emosional; dan anak-anak, yang memiliki hubungan biologis terhadap kedua orang tuanya (dengan pengecualian, anak pungut) dan berada di bawah otoritas dan penjagaan kedua orang tuanya–dengan berbagai cara, tentunya.

Pengaturan tata cara hidup tersebut dikatakan telah ada sejak manusia turun dari pohon dan berubah menjadi makhluk yang baru. “Ke-alamiah-an” pandangan tersebut dipertahankan dari segala sudut posisi: ilmiah, keagamaan, hukum, ekonomi dan sebagainya. Lelaki, sang bapak, begitu dominannya, pelindung dan kepala kelompok keluarga tersebut–patriarki. Perempuan lebih lemah dan, dalam hubungan tersebut, tersubordinasi di bawah kekuasaan dan perlindungan lelaki; sebagaimana juga anak-anak, pun demikian, sampai mereka dewasa dan sudah sanggup membina unit-unit keluarganya sendiri.

Peran kaum perempuan yang tersubordinasi tersebut telah diabsyahkan dalam makna fungsi-fungsinya yang, katanya, memang sudah melekat dari sananya, seperti melahirkan dan membesarkan anak; subordinasi tersebut nampaknya dilandasi ciri biologis mereka, dan merupakan nasibnya–sekali lagi, huh, itu lah yang disebut sebagai “alamiah”.

***

II. Penjelasan Teori Evolusioner

Kaum Marxis menentang penjelasan tersebut; kaum Marxis percaya bahwa kaum perempuan, dalam sejarahnya, tidak selalu mengalami penindasan. Penindasan terhadap kaum perempuan terbentuk pada tahap (tertentu) perkembangan sosial dan dilembagakan melalui keluarga. Dengan kata lain, penindasan perempuan adalah permasalahan sosial, bukan ditentukan secara biologis, dan hal itu terus berlanjut, berkali-kali mengalami perkembangan.

Tulisan ini akan menguji pembuktian terhadap cara pandang yang (sangat) berbeda dalam melihat formasi sosial, yakni memahami bagaimana formasi sosial tersebut menempatkan kaum perempuan pada posisi kelas-kedua, dan yang memberikan kesempatan bagi ketidaksetaraan (yang dilembagakan) dalam skala yang lebih luas, bila masyarakatnya terbagi ke dalam kelas-kelas.

Apa yang dianggap sebagai sebuah “penjelasan yang valid” sangat lah berbeda-beda dalam berbagai ilmu pengetahuan berikut ini. Teori-teori evolusioner cukup diterima dalam ilmu biologi, paleontologi, dan arkeologi, tapi dalam ilmu-ilmu sosial (sosiologi, dan, khususnya, antropologi), penjelasan teori evolusioner telah dihina, ditolak, dilabeli tidak ilmiah, diejek, atau diperlakukan sebagai hal yang tabu karena, tentu saja, mereka melandasi argumen penolakannya pada beberapa teori reduksionisme biologis.

Usaha untuk menjejaki perkembangan spesies manusia dan upaya untuk menjelaskan berbagai bentuk organisasi sosial telah mereka tolak karena dianggap mekanistik dan tidak ilmiah. Contohnya, banyak orang menuduh bahwa penjelasan teori evolusioner pasti “unilineal” (yakni, bahwa masyarakat akan berkembang menurut arah tertentu, yang sudah bisa dipastikan). Yang lain berpendapat, bahwa kita hanya bisa menangkap sekadar kilasan-kilasan perbedaan bentuk-bentuk masyarakat dalam berbagai kurun (sebagaimana dijelaskan oleh teori-teori strukturalis/fungsionalis), tapi kita tak bisa, secara dinamis, memahami bagaimana masyarakat tersebut berubah, sekalipun di tahap yang berbeda. Jika kita hendak membandingkan dua tahap yang berbeda, menurut mereka, kita seharusnya tak boleh berupaya menarik gambaran jeneralisasi atau kesimpulan sejarah yang panjang/menyeluruh, tapi harus dibatasi pada observasi yang sempit/khusus dan pararel waktunya.

Banyak orang yang meneliti/menguji perubahan sosial, misalnya saja para teoritikus diffusionis, dengan mengkaji dan menjejerkan peta-peta yang menunjukkan, misalnya, bahwa hubungan antara masyarakat A dengan masyarakat B bisa menjelaskan mengapa masyarakat tersebut memiki persamaan praktek-praktek sosial. Memang, hubungan semacam itu bisa menjadi sebabnya, tapi teori-teori tersebut bersikeras bahwa itu lah satu-satunya cara untuk menjelaskan kesamaan sosial, padahal hubungan tersebut hanyalah sekadar salah satu cara untuk menjelaskan penyebab perubahan sosial.

Namun, tak ada penjelasan yang begitu salah kaprah selain penjelasan teori evolusioner saat harus menjelaskan masalah perbedaaan jender dan asal muasal penindasan terhadap kaum perempuan. Seorang Antropolog Marxis, Evelyn Reed, dalam bukunya Sexism and Science (seksime dan ilmu pengetahuan) berpendapat bahwa salah kaprah penjelasan teori evolusioner bukan karena landasan kajian bukti-buktinya tapi karena landasan politiknya–penolakan ilmuwan-ilmuwan sosial atas bukti-bukti yang dikumpulkan dari masyarakat ditata sedemikian rupa, menjadi beragam, sesuai dengan kehendak politiknya. Namun, perbedaan tersebut justru memberikan tantangan yang mengusik ideologi borjuis karena, menurutnya, kapitalisme merupakan puncak pencapaian manusia dan tak akan ada lagi perkembangan tipe atau bentuk masyarakat lebih jauh lagi¾posisinya “meng-akhiri perkembangan sejarah”.

Doktrin Perbedaan Alamiah

Segala hal yang berkaitan dengan (keharusan) biologis merupakan kunci untuk menjelaskan tentang kelanjutan dan kemandegan perkembangan masyarakat, munculnya dominasi, serta ketidaksetaraan dalam masyarakat manusia.

Ada dua versi utama dalam “doktrin perbedaan alamiah” tersebut, yang teori-teorinya didasarkan pada penjelasan biologis. Dalam versi yang pertama, masyarakat dianggap sebagai suatu lapisan atas tak bermakna (suatu supra-struktur gejala sekunder yang dibentuk oleh gejala primer) yang dibangun di atas landasan penjelasan biologis. Sedangkan dalam versi yang kedua, masyarakat dianggap sebagai pelengkap atau “embel-embel” bagi penjelasan biologis.

Dalam versi yang pertama, jender ditentukan oleh faktor biologis, makna istilah “jender” menurut pendekatan biologis adalah bahwa perilaku sosial dipahami sesuai dengan perbedaan jenis kelaminnya, walaupun pendekatan tersebut mengakui adanya beberapa wilayah problem yang tak sanggup membedakan antara jenis kelamin dengan jender. Perbedaan teori-teori tersebut merentang mulai dari yang melandaskan teorinya pada faktor hormonal–dapat dilihat pada teori laterisasi (yang berpendapat bahwa perbedaan kemampuan disebabkan oleh perbedaan kualitas di belahan otak)–hingga teori biogramer manusia Tiger dan Robin Fox (yang berpendapat bahwa program yang berlandaskan pada genetika bisa mempengaruhi manusia dalam cara tertentu, dan itu bukan dipengaruhi oleh instink, karena instink bisa direkayasa melalui kebudayaan hingga menjadi landasan utama yang mempengaruhi perilaku manusia). Tiger dan Fox berpendapat bahwa, karena 99% kehidupan manusia digunakan untuk berburu dan mengumpulkan bahan makanan, sedangkan berburu (dianggap) merupakan sumber kehidupan yang paling penting, maka kaum lelaki lebih agresif serta dominan (karena kaum lelaki lah yang hidupnya “terikat untuk berburu”)¾landasannya: perbedaan hormonal antara kaum lelaki dan kaum perempuan. Itu lah sebabnya mengapa kaum lelaki tak terhindarkan akan menjadi pemimpin politik dalam masyarakat modern. Perempuan, tentu saja, sekadar akan menjadi penghasil dan perawat anak.

Yang bisa dimasukkan dalam kategori teori tersebut adalah teori sosio-biologi Edward Wilson dan David Barash, yang berlandas pada teori seleksi alam Charles Darwin. Teori tersebut menempatkan teori Darwin pada posisi yang ekstrim–dengan mendesakkan tujuan eksplisit dan arahan moral ke dalam proses evolusi.

Teori sosio-biologi berpendapat bahwa perilaku binatang dan manusia secara genetik diarahkan untuk memaksimalkan pengalihan gen-nya ke generasi penerusnya agar keturunannya bisa tetap hidup. Masing-masing jenis kelamin menggunakan strategi berbeda dalam memaksimalkan kesempatan tersebut. Teori-teori tersebut memberikan landasan bagi teori psikologi evolusioner. Barash, contohnya, mengatakan bahwa kaum lelaki menghasilkan jutaan sperma, sementara kaum perempuan hanya menghasilkan satu indung telur pada satu saat atau sekitar 400 indung telur sepanjang hidupnya. Karenanya, kaum lelaki berkepentingan membuahi sebanyak mungkin perempuan untuk memaksimalkan pengalihan gen-nya ke generasi berikutnya, sementara kaum perempuan, karena mengandung janin dalam tubuhnya, lebih mementingkan kualitas, maka ia berusaha mencari pasangan yang secara genetik paling sesuai.

Makna penjelasan tersebut bertujuan untuk mempertegas perbedaaan peran-peran jender. Kaum lelaki tidak terlalu selektif dalam melakukan hubungan. Ketimbang kaum lelaki, kaum perempuan lebih maklum, lebih siap, pada ketidaksetiaan pasangannya karena baginya hal itu bukan kerugian besar. Lain halnya jika kaum perempuan yang tak setia, kaum lelaki bisa saja mencurahkan enerjinya untuk membesarkan anak dari perempuan lain. Karena kaum perempuan sadar betul bahwa anak itu, secara genetik, adalah miliknya maka ia berkeinginan mencurahkan perhatian untuk merawatnya. Dengan demikian, dalam masyarakat modern, ia lebih berhasrat menjadi ibu rumah tangga.

Menurut pandangan tersebut, kaum perempuan, karena berkecenderungan mencari lelaki terbaik, berusaha menikahi lelaki dengan status sosial yang lebih tinggi. Kaum lelaki harus bersaing untuk memiliki perempuan karena kaum perempuan tak begitu banyak menghasilkan anak. Karenanya, lelaki yang lebih kuat dan lebih agresif akan lebih sukses¾itu lah yang memperkuat dominasi kaum lelaki atas kaum perempuan. Dalam masyarakat pemburu dan pengumpul makanan, pemburu terbaik merupakan pemasok makanan terbaik. Perang dan penguasaan wilayah akarnya adalah hasrat, usaha, lelaki untuk memiliki perempuan, dan mencegah lelaki lain memilikinya. Teori tersebut bukan saja meletakan faktor keturunan langsung (berdasarkan genetik), tapi juga meletakan faktor keturunan langsung (berdasarkan sel telur), sebagai landasan perbedaan jender. Teori tersebut mengabaikan kenyataan bahwa, dalam masyarakat berburu, kaum lelaki berburu secara berkelompok, bukan secara individual.

Dalam rangkaian-kedua teori-teori yang dilandaskan pada faktor biologis, masyarakat tak dibatasi oleh faktor biologis tapi merupakan embel-embel bagi faktor biologis: masyarakat, secara budaya, akan memberikan penjelasan rinci tentang perbedaan antar jenis kelamin.

Sosiologi fungsionalis merupakan contoh bagi cara pandang tersebut. George P. Murdock berpendapat bahwa pembagian kerja secara seksual terkait dengan perbedaan biologis: kaum lelaki lebih kuat, kaum perempuan mengandung/merawat anak, dan perbedaan peran sosial tersebut merupakan cerminan yang paling sesuai dengan takdir biologisnya.

Talcot Parson mengedepankan suatu teori yang mengatakan bahwa kaum perempuan lebih “ekspresif” sedangkan kaum lelaki lebih “instrumental”. Kaum perempuan, dalam keluarga inti, bertanggung jawab terhadap pergaulan anak remajanya dan kematangan/kestabilan kepribadian (lelaki) dewasa. Lelaki adalah pencari nafkah, yang bersaing dalam suatu masyarakat yang berorientasi-pada-prestasi, yang bisa menyebabkan stress dan keterasingan; karenanya, mereka membutuhkan kaum perempuan untuk menjaga keseimbangan.

Femisnisme Radikal

Karakter ideologis teori-teori perbedaan alamiah diungkapkan dalam gelombang kedua gerakan pembebasan kaum perempuan, gerakan yang bertujuan untuk merubah posisi ekonomi dan sosial kaum perempuan. Namun, kekuatan dan isian budaya yang dilandaskan pada teori-teori biologis–yang digunakan untuk mengabsyahkan ketidaksetaraan kaum perempuan dan masyarakat berkelas (terutama dalam masyarakat kapitalisme)–menggiring mereka memasuki wilayah teori feminis.

Jadi, kaum feminis radikal menganggap bahwa perbedaan jender sebagai hal yang mendasar. Kelebihan kaum perempuan menghasilkan dan memelihara anak dipertentangkan dengan hakikat kaum lelaki yang jahat, suka menyiksa, suka kekerasan, dan suka berperang. Dalam teori patriarki, ditekankan bahwa dominasi kaum lelaki akarnya adalah hakikat kaum lelaki yang suka kekerasan dan suka melakukan pemaksaan seksualitas. Karena kaum feminis radikal tak sanggup menyediakan satu pun penjelasan sosial tentang seksualitas tersebut, maka teori mereka berhenti pada penegasan bahwa perbedaan esensial tersebut hanya bisa dijelaskan oleh teori-teori yang landasannya biologis.

Beberapa pendahulu teoritikus feminis radikal terang-terangan menegaskan sebab-musabab biologis. Susan Brownmiller menganjurkan teori biologi struktural untuk menjelaskan perbedaan seksual. Shulamith Firestone menyuguhkan teori biologis reproduksi fungsional. Kate Millet mengedepankan teori kekuasaan kaum lelaki tanpa bisa dengan jernih menjelaskan landasan sosialnya.

Beberapa feminis radikal mengaku bahwa mereka menolak determinisme biologis, tapi mereka gagal memberikan penjelasan alternatif tentang penindasan terhadap kaum perempuan. Dalam prakteknya, mereka lebih suka memprioritaskan aktivitas-aktivitas yang mengacu pada seksualitas, teknologi reproduksi, perkosaan dan kekerasan seksual. Saat kaum feminis radikal mengunggulkan teori mereka yang, katanya, dilandaskan pada kepentingan kaum perempuan, yang tak ternoda oleh pikiran-pikiran kaum lelaki (teori-teori dan budaya kaum lelaki), mereka sebenarnya sedang mempertontonkan ketidakpedulian mereka terhadap bahaya-bahaya dari kesimpulan “bahwa perbedaan jender adalah alamiah adanya” yang, bila tak ada penjelasan lainnya, maka mereka akan kembali berkutat pada teori-teori yang landasannya biologis.

Kesimpulan teori eko-feminis ditarik dari landasan yang sama. Mereka berpendapat bahwa terdapat paralelisasi antara eksploitasi terhadap alam dengan eksploitasi terhadap kaum perempuan yang dilakukan oleh masyarakat yang didominasi kaum lelaki, dan kaum perempuan lebih terikat pada alam saat mereka merawat anak dan bersosialisasi. Karenanya, bila alam “diperkosa” dan dieksploatasi kaum lelaki maka hal demikian juga menimpa kaum perempuan.

Kiasan “Ibu pertiwi/bumi”, secara harfiah, dimaknai oleh teori eko-feminis untuk menggambarkan kemampuan kaum perempuan dalam hal melahirkan anak, sama halnya denga bumi, rahim kehidupan. Kedekatan kaum perempuan dengan alam, atau hakikat alamiah kaum perempuan, katanya, memberikan nilai moral yang lebih tinggi bagi kaum perempuan, yang memiliki intuisi dan hubungan mistis dengan alam karena mengalami “pengalaman” eksploitasi yang sama. Dengan demikian, kaum perempuan akan memiliki “suara” yang lebih lantang dalam memelihara bumi, melawan eksploitasi dan ilmu pengetahuan kaum lelaki.

Pentingnya Teori Darwin

Seluruh teori perbedaan alamiah bermuara pada tipe-tipe penjelasan yang mengacu pada ilmu pengetahuan alam dan ilmu pengetahuan sosial abad ke-19.

Pada abad ke-19, karakter ideologis penjelasannya berbeda dengan saat ini. Penjelasan tentang perkembangan sosial lebih mengacu pada kerangka agama, ketimbang pada kerangka ilmu pengetahuan. Penjelasan Sang Pencipta lah yang mendominasi: berdasarkan penjelasan sejarah tertulis (4.000 tahun S.M), Tuhan lah yang menciptakan masyarakat manusia. Dengan demikian, masyarakat manusia dimulai pada masa-masa awal masyarakat Mesir, atau lima kitab nabi Musa dijadikan sebagai landasan acuannya.

Eropasentrisme, yang mengunggulkan masyarakat kapitalis Eropa sebagai puncak peradaban, menyebabkan cara pandang yang berkesimpulan bahwa masyarakat apa pun yang berbeda dengannya, apakah itu masyarakat pemburu-pengumpul makanan atau masyarakat feodal, merupakan suatu kemunduran, suatu indikasi kemerosotan menuju status masyarakat binatang. Salah satu varian dari posisi tersebut berpendapat bahwa masyarakat yang mengambil jarak terhadap pusat kebudayaan (Eropa) bisa disimpulkan derajat kemundurannya. Pandangan semacam itu memberikan pengabsyahan ideologis bagi perbudakan rasial dan kolonialisme.

Dengan adanya kemajuan dalam ilmu pengetahuan maka penjelasan lama–penjelasan yang percaya pada keharusan takdir, yang memang cocok dengan dunia aristokrat agraris (sebelum terbentuknya masyarakat kapitalisme industrial)–digantikan oleh tipe penjelasan yang lebih sesuai dengan lingkungan industri perkotaan, yang lebih kompetitif. Penjelasan baru tersebut berkisar di sekitar perdebatan tentang tempat manusia dalam alam.

Pengaruh teori Charles Darwin–evolusi spesies melalui seleksi alam dan variasi–begitu besarnya dan sangat kontroversial. Teorinya, secara relatif, sangat sederhana: organisme itu akan berubah-ubah, menjadi beragam, dan variasinya diwariskan (paling tidak sebagian) melalui keturunan. Organisme menghasilkan lebih banyak keturunannya ketimbang yang berhasil hidup dan, biasanya, keturunan yang lebih kuat lah (karena didukung oleh lingkungannya) yang akan berhasil hidup dan menyebar.

Teori Darwin didasarkan pada observasinya atas perkawinan domestik (ternak/tanaman sejenis) dan atas pengalaman perjalanannya ke Kepulauan Galapagos. Ia tak bisa menjelaskan bagaimana hal itu bisa terjadi selain memaparkannya secara material, tanpa mengacu pada intervensi takdir apa pun. Namun demikian, ungkapannya (tentang seleksi alam dan siapa kuat dia menang) bisa dan memang diterjemahkan seperti ini: sepertinya ada suatu entitas yang bisa menentukan siapa yang kuat dan siapa yang terpilih.

Penerjemahan tersebut menjadi lebih kuat karena Darwin percaya pada teori populasi seorang pastor Inggris, Thomas Malthus yang, pada tahun 1798, berpendapat bahwa kemiskinan dan ketimpangan sosial pasti bergerak menurut derajat/tingkat hitungan geometris, padahal produksi/persediaan makanan bergerak menurut derajat/hitungan aritmatika. Menurut Malthus, reformasi sosial untuk mengatasi ketimpangan sosial akan gagal dan ia, secara khusus, menentang tindakan untuk meringankan penderitaan orang-orang miskin, manula, atau orang-orang sakit karena hal tersebut akan memberikan semangat hidup dan akan meningkatkan tingkat kelahiran. Walaupun perkembangan/perbaikan dalam produksi makanan membuktikan bahwa teori Malthus itu salah, namun idenya tentang “siapa yang kuat” (dalam populasi), pada abad ke-19 dan ke-20, telah menjadi landasan bagi program-program untuk memperbaiki keturunan.

Darwin menerjemahkan dan menggambarkan teorinya tentang seleksi alam sejalan dengan gambaran suram yang diberikan oleh Malthus–perjuangan berdarah di antara spesies untuk memperebutkan sumberdaya yang langka. Tapi, sebenarnya, sukses reproduksi melalui seleksi alam bisa berjalan/berhasil melalui berbagai cara, bukan sekadar melalui kompetisi. Kerjasama, hidup berdampingan dan saling bantu juga merupakan kemungkinan yang lain, sebagaimana layaknya perubahan iklim dan migrasi bisa mengubah konteks saat seleksi alam terjadi.

Jadi, pertanyaan tentang tempat manusia dalam alam jelas dijawab dalam konteks yang benar-benar ideologis. Karena tak mau mempercayai keharusan takdir–yang dilandasi pemikiran adanya harmoni dalam alam dengan masyarakat, sehingga segala sesuatu dan semua orang akan mendapatkan tempatnya yang layak–maka pandangan tentang Tuhan pun berubah sehingga memandang bahwa: Kemahakuasaan diidentifikasi dengan hukum alam yang bisa mengatur dirinya sendiri dan, karenanya, ketimpangan/ketidaksamaan dijelaskan menurut hirarki biologis. Jadi, sebenarnya, Ilmu pengetahuan tidak menggantikan Tuhan, tapi Tuhan diidentifikasi berdasarkan hukum alam.

Kiasan tersebut lebih diperluas lagi sehingga masyarakat dipahami sebagai organisme biologi: struktur kelompok-kelompok manusia mencerminkan bentuk-bentuk alam, dan hukum-hukum alam inheren/melekat dalam bentuk-bentuk tersebut. Pandangan seperti itu mengabsyahkan dominasi satu kelompok terhadap kelompok lainnya atas dasar perbedaan-perbedaan yang dianggap alamiah, tak terelakan dan, karenanya, moralis. Jadi, Eropasentris–yakni, asumsi-asumsi borjuis tentang kemajuan moral peradaban–diterjemahkan ke dalam hirarki evolusioner orang-orang yang berharga secara sosial.

Mekanisme yang mendasari evolusi spesies telah diklarifikasi pada abad ke-20 dengan ditemukannya gen, kromosom dan DNA, variasi genetik dalam reproduksi seksual, serta dengan adanya efek kebetulan/kecelakaan dalam mutasi genetik. Tapi, karena genetika, kromosom atau DNA juga memberikan hambatan pada kehidupan, maka ada alasan untuk menempatkan orang pada posisi sosial dan ekonominya dengan menggunakan landasan biologi sebagai senjata sosial. Teori-teori semacam itu tak lain merupakan ideologi yang bersembunyi di balik jubah ilmu pengetahuan.

Pada kenyataannya, individu-individu merupakan produk dari interaksi kompleks antara warisan genetik, lingkungan dan peristiwa-peristiwa kebetulan yang akarnya bukan genetik atau pun lingkungan. Mengabsyahkan perbedaan status, kekayaan dan kekuasaan, dengan membebankan kesalahan pada perbedaan warna kulit atau organ seksual (perbedaan yang, walaupun mencolok, namun dibuat-buat, cupet), bisa menutupi ketimpangan sosial yang, sebenarnya, sistimatik.

III. Engels dan Evolusi Manusia

Meskipun terbatas, teori Darwin telah mengangkat pertanyaan tentang asal-muasal spesies manusia ke dalam suatu kerangka ilmiah. Para antropolog seperti Lewis Morgan, Edward Tylor, Jacob Bachofen dan James Fraser mulai mengembangkan teori-teori evolusi masyarakat, mempelajari masyarakat pra-sejarah sejak awal kemunculannya, bukan saja sejak fase peradaban (saat munculnya budaya tulis).

Morgan, contohnya, bisa membedakan tiga zaman (besar) perkembangan masyarakat: zaman kebuasan, zaman barbarisme dan zaman peradaban. Setiap zamannya ditandai oleh kemajuan nyata dalam taraf aktivitas ekonomi–cara manusia memenuhi kebutuhan hidupnya. Dan setiap tahap terdiri dari sub-tahap yang, secara garis besar, dijelaskan sebagai berikut: aktivitas ekonomi pada zaman kebuasan didasarkan pada kegiatan berburu dan mengumpulkan makanan; aktivitas ekonomi pada zaman barbarisme didasarkan pada kegiatan memproduksi makanan melalui holtikultura dan peternakan; sedangkan zaman peradaban didasarkan pada kegiatan tulis-menulis serta pertanian.

Dalam tekanannya, teori evolusioner Marxisme berbeda dengan teori-teori evolusioner lainnya–misalnya, Darwinisme. Darwin lebih mengamati kontinuitas perkembangan perbedaan spesies, lebih melihat pada perubahan kuantitatif dan lebih menitikberatkan pengamatannya pada lambatnya laju perubahan. Di sisi lain, Frederick Engels, juga mempertimbangkan perubahan kualitatif–bisa saja berupa pengamatan terhadap diskontinuitas spesies, yang bisa menjawab pertanyaan: sebagai spesies, apa sebenarnya kekhususan dalam perkembangan kemanusiaan.

Itu lah perbedaan antara pendekatan gradualisme dan pendekatan dialektik. Teori Darwin, walaupun bisa menjelaskan beberapa aspek evolusi, namun hanya menceritakan sebagian saja kisah sejarah. Darwin gagal menjelaskan perubahan-perubahan cepat yang nampak terekam pada bukti-bukti fosil, misalnya saja ledakan Cambrian–adanya penampakan spesies baru yang (walaupun, secara historis, sezaman) namun lebih besar dan cepat pertumbuhannya ketimbang pertumbuhan nenek moyang pada umumnya, yang lebih lambat.

Darwin memang bisa membuktikan bahwa saat manusia berhasil keluar dari dunia binatang–sehingga nampak layaknya (nenek moyang) manusia-kera dengan taraf yang lebih tinggi–terdapat gambaran penting dalam perubahannya, yakni memiliki otak yang lebih besar dan sudah mahir berbicara. Namun Darwin tak mampu menjelaskan bagaimana bisa terjadi perubahan seperti itu. Engels lah yang bisa melanjutkan tugas tersebut, yang ia jelaskan dalam esaynya yang belum selesai, The Part Played by Labour in the Transition from Ape to Man (sumbangan tenaga kerja dalam transisi dari manusia-kera menjadi manusia).

Manusia Sebagai Hasil Tenaga Kerja

Engels dan Darwin, keduanya, percaya bahwa manusia-kera, yang tarafnya lebih tinggi, harus melewati pra-kondisi biologis (penting) agar bisa bertransisi: berpostur tegak, berpenglihatan tiga dimensi, memiliki masa pertumbuhan dan perawatan-induk lebih lama, organ suara, serta tangan (yang bebas) dengan ibu jari yang bisa berputar. Tapi Engels mengembangkan sebuah teori yang menjelaskan hubungan interaktif antara perkembangan (transisi) tersebut dengan landasan atau basis penggeraknya–yakni: tenaga kerja; dan perluasan penggunaan perkakas kerja–yang, dalam proses yang panjang/lama, bisa membentuk perubahan fisik sehingga manusia-kera yang tarafnya lebih tinggi bisa berutransformasi menjadi spesies yang lain.

Ketimbang menyetujui pandangan yang telah tersebar luas–bahwa perkembangan otak merupakan tahap yang paling penting dan paling utama dalam evolusi manusia–Engels justru berpendapat bahwa tahap pertamanya pasti lah saat ia mulai turun dari pohon, sehingga tubuhnya bisa berevolusi menjadi tegak. Penyesuaian terhadap postur tubuh (yang sekarang sudah tegak) dan terhadap gerak dua telapak kaki berhasil lebih membebaskan/meluweskan (gerak/penggunaan) tangan¾sehingga meningkatkan kemampuannya membuat dan menggunakan perkakas kerja. Seiring dengan berjalannya waktu, evolusi tersebut menyebabkan perubahan lebih lanjut pada struktur tangan¾maka tangan, kemudian, bukan semata-mata “organ kerja” tapi juga merupakan “produk kerja”.

Bila pada binatang, peralatannya (seperti cakar, taring, paruh, dan lain sebagainya) terutama merupakan bagian dari kelengkapan tubuh spesies (yang juga bisa semakin membaik), serta merupakan bagian dari interaksi binatang dengan alam, dalam bentuk respon langsung terhadap rangsangan lingkungan–ada beberapa contoh spesifik pembuatan alat yang sangat sederhana: misalnya saja simpanse, yang menggunakan ranting untuk menangkap anai-anai, tapi hal itu bersifat sporadis dan tidak berpusat pada pemenuhan kebutuhan makanan binatang; pada manusia pembuatan dan penggunaan perkakas kerja merupakan aktivitas spesies-khusus yang bisa mentransformasikan hubungan manusia dengan alam. Tanpa praktek tenaga kerja dan perkakasnya, manusia tak akan memiliki asal-usul, tak’kan mampu bertahan hidup atau berkembang sebagai satu spesies yang berbeda. Sebagaimana dikatakan oleh Engels:

Penguasaan alam diawali oleh perkembangan tangan, oleh tenaga kerja, yang memperluas cakrawala manusia dalam setiap perkembangan barunya. Manusia terus-menerus berusaha menemukan segala hal baru, segala hal yang sekarang belum diketahuinya, segala hal untuk mengetahui sifat obyek alam. Pada sisi lain, perkembangan tenaga kerja dibutuhkan agar bisa membantu mendorong anggota masyarakat saling mempererat hubungannya–dengan memperbanyak hubungan yang saling mengutungkan, aktivitas bersama, dan dengan mempertegas keuntungan dari aktivitas bersama tersebut bagi masing-masing individu. (Engels, 1934, hal.173)

Kemampuan berbicara memberikan kelengkapan simbolik sehingga manusia bisa mulai mengorganisir, memelihara dan menyebarluaskan pengalaman tenaga kerja kolektifnya. Engels menjelaskan garis besar tentang sebuah hubungan timbal-balik (positif) antara perkembangan (jeneral) kecakapan mental dengan peningkatan (terus menerus) dalam efisiensi serta kualitas tenaga kerja manusia. Kemampuan berbicara dan kemampuan tenaga kerja mendorong pertumbuhan otak manusia.

Saat hendak merencanakan kegiatan di masa mendatang, identifikasi terhadap sifat-sifat obyek, dan pembagian tugas dalam proses tenaga kerja hadir secara lambat, demikian juga dalam perkembangan konteks sosial dan kerjasamanya. Spesies menjadi lebih manusiawi karena tenaga kerjanya. Umpan-balik tak melulu positif tapi kumulatif; aktivitas tenaga kerja melapangkan jalan agar kemajuan (jeneral) manusia bisa mulai beranjak.

Penjelasan dialektik dan materialis tersebut mencerminkan tesis (jeneral) Marx dan Engels, yakni: bahwa produksi dan reproduksi kehidupan, yang segera harus ditangani, merupakan elemen yang menentukan dalam kehidupan sosial, termasuk juga produksi biologis dan ekonomi–produksi kebutuhan hidup (makanan, pakaian, tempat bernaung atau rumah, perkakas kerja, yang juga dibutuhkan untuk produksi tersebut), bahkan produksi bagi keberadaan manusia itu sendiri. Karenanya, bentuk masyarakat, dalam setiap tahap perkembangan historisnya …ditentukan oleh dua bentuk/jenis produksi: di satu sisi, oleh tahap perkembangan tenaga kerjanya; dan, di sisi lain, oleh keluarga. (Engels, 1970, hal.191)

Dari pemahaman tersebut, Engels menganalisa perkembangan masyarakat dan (pada suatu tahap tertentu) penaklukan perempuan.

Perkembangan Keluarga dan Sejarah Kekalahan Kaum Perempuan

Dalam The Origin of the Family, Private Property and the State (asal muasal keluarga, pemilikan pribadi, dan negara) Engels mengembangkan karya-karya Morgan dan karya-karya para anthropolog evoluioner abad ke-19 lainnya. Ia sepakat dengan gambaran (jeneral) yang diberikan Morgan–yakni tentang tiga tahap pokok evolusi sosial–tapi Engels memberikan penjelasan yang lebih jernih tentang perbedaan antara masyarakat primitif dengan masyarakat beradab: masyarakat yang tahap perkembangan sosialnya telah sampai atau bisa mengembangkan pembagian kerja dan pertukaran komoditas (baca: barang dagangan) di antara para individunya. Hanya pada tahap perkembangan sosial seperti itu lah penaklukan terhadap kaum perempuan bisa terwujud sepenuhnya.

Sebelum sampai pada teori Engels, sangat berharga untuk dicatat bahwa terdapat dua corak pengumpul makanan: yang satu, corak pengumpul makanan sebelum nenek moyang bertubuh tegak dan berdiri/berjalan di atas kedua telapak kakinya–atau pengumpul makanan individual–yang segera memakan habis semua bahan makanan yang telah diperoleh/terkumpul; yang lainnya, corak pengumpul makanan setelah nenek moyang bertubuh tegak dan berdiri/berjalan di atas kedua telapak kakinya–atau pengumpul makanan secara kolektif (yang, secara sistimatik, mengunakan perkakas kerja)–dan makanan yang telah dikumpulkannya dibawa pulang, kemudian dibagi-bagi dalam kelompok sosial.

Zaman tak-beradab mencakup tiga periode. Periode pertama, masa nenek moyang manusia mengambil/mengumpulkan bahan makanan produk alamiah–buah-buahan, kacang-kacangan, umbi-umbian, dan lain sebagainya, baik dalam iklim tropis atau subtropis–tapi belum mengembangkan bahasa; periode kedua, mulai mengumpulkan makanan laut, dan pengembangan penggunaan api membebaskan nenek moyang manusia pada ketergantungan cuaca. Dengan demikian memungkinkan migrasi, dan perkembangan awal penggunaan perkakas yang terbuat dari batu memperluas produksi makanan hingga menjangkau kegiatan berburu dan mengumpulkan makanan; pada periode ketiga, kegiatan berburu telah sepenuhnya berkembang, mereka mulai mebangun dan menetap di desa-desa, peralatan rumah tangga yang terbuat dari kayu mulai dikembangkan, tenun tangan, keranjang anyaman dan perkakakas kerja yang terbuat dari batu yang diasah mulai bemunculan.

Zaman barbarisme dimulai saat mengenal peralatan tembikar dan pengembangan peternakan, dilanjutkan dengan bercocok tanam, yang bisa meningkatkan produktivitas alam. Pada masa ini, terdapat perbedaan antara Dunia Lama (Afrika/Eropa/Asia) dan Dunia Baru (Amerika) karena perbedaan alam dan dukungan benuanya, termasuk perbedaaan jenis-jenis tanaman pertaniannya, binatang-binatang ternaknya dan logam yang dileburnya. Periode Dunia Lama berakhir dengan adanya peleburan logam, penemuan mata bajak yang terbuat dari besi yang, awalnya, ditemukan oleh para peternak untuk mengembangkan pertanian berskala luas, sehingga memungkinkan perkembangan populasi yang tinggi, konsentrasi masyarakat di perkotaan, perkembangan kerajinan dan perdagangan.

Sejarah peradaban ditandai oleh adanya spesialisasi kerajinan, pemisahan kota dengan desa, produksi barang dagangan, munculnya kelas-kelas sosial, pemilikan pribadi, keluarga monogami (dengan ayah sebagai kepala keluarganya), dan negara.

Ketidaksetaraan jender mulai muncul pada zaman kedua, dan berkembang sepenuhnya pada zaman peradaban.

Data antropologi yang diperoleh Engels dari Morgan dan para antropolog lainnya menunjukkan bahwa masyarakat primitif telah mempraktekan hubungan sosial dan seksual yang setara dan, selain itu, ditandai oleh adanya produksi secara kolektif dan pemilikan komunal. Engels juga memperoleh data tentang sejarah keluarga hasil rekonstruksi yang dilakukan Morgan, yakni: perkembangan historis hubungan sosial dan seksual masyarakat tertentu.

Unit dasar masyarakat tak-beradab adalah marga (clan) menurut garis ibu, yang terdiri dari komunitas ibu-ibu, saudara lelakinya, dan anak-anak (ibu-ibu tersebut). Morgan menggunakan terminologi primitif untuk menggambarkan tahap perkembangannya. Ia memberikan gambaran tentang perkembangan hubungan jender berdasarkan kebebasan seksual dan organisasi sosialnya, yang didasarkan pada jejak kekerabatan menurut garis ibu–apa yang ia sebut: berbagai bentuk keluarga yang didasarkan, pertama, pada siapa seseorang bisa melakukan hubungan seksual dan, kedua, kerabat mana kah yang boleh membentuk kelompok sosial inti seseorang.

Larangan hubungan seksual yang paling awal diterapkan adalah hubungan seksual antara orang tua dengan anak, kemudian dengan saudara kandung, setelah itu dengan kategori (tertentu) saudara kandung lainnya (menurut garis ibu atau matrilineal). Aturan tersebut, pada tahap akhir zaman tak-beradab dan tahap awal zaman barbarisme, mengarah pada hubungan-berpasangan yang didasarkan pada kesepakatan bersama, dan setiap anggota (pasangan tersebut) memiliki kemampuan untuk menyudahi ikatan hubungan tersebut. Menurut Engels, “keluarga berpasangan” tersebut memiliki ciri yang alami; dan ia melihatnya sebagai tahap akhir evolusi hubungan keluarga yang terseleksi secara alamiah.

Domestikasi binatang (peternakan) dan perkembangan penyimpanan/pengawetan persediaan makanan memungkinkan akumulasi kesejahteraan/kekayaan yang lebih besar, sehingga terbentuk lah hubungan-hubungan sosial baru yang merubah hubungan-hubungan jender. Pemilikan kekayaan/kesejahteraan mulai beralih: dari pemilikan marga (turun-temurun) menjadi pemilikan pribadi dalam keluarga. Jenis-jenis barang (lain) yang dimiliki pun berakumulasi (peralatan logam, barang-barang mewah), sehingga dibutuhkan tenga kerja manusia yang lebih banyak.

Perempuan, sebagai sumber daya manusia (dengan hakikat yang baru), mulai dirubah menjadi hak milik berharga, dan manusia lainnya mulai digunakan sebagai budak. Tenaga kerja tambahan tersebut menyebabkan perdagangan dan kerajinan seperti penenunan, tembikar serta pertanian (ladang) berkembang. Proses tersebut berbarengan perubahan dalam garis kekerabatan–lebih menekankan garis kebapakan (paternity) dan bapak–serta perubahan dalam hubungan seksual¾menjadi monogami.

Peningkatan dalam kesejahteraan/kekayaan justru memberikan status yang lebih tinggi kepada kaum lelaki (dalam keluarga), sehingga memberikan dorongan untuk merubah hak waris (yang sebelumnya berdasarkan garis ibu) dan mengkukuhkan institusi berdasarkan garis bapak (patriliny). Engels bersikukuh bahwa revolusi hubungan jender tersebut terjadi pada zaman pra-sejarah, sebelum ditemukannya tulis-menulis, karenanya tak bisa dipastikan bagaimana dan kapan hal tersebut terjadi, walaupun bisa dibuktikan secara etnografi.

Menurut Engels, …penggulingan kekuasaan/hak ibu merupakan kekalahan historis kaum perempuan di dunia (Engels, 1970, hal. 233). Kaum lelaki mengambil alih kendali rumah tangga, kaum perempuan direndahkan dan dijadikan budak nafsu kaum lelaki, serta sekadar perangkat untuk melahirkan lebih banyak anak. Karenanya, kata keluarga (family) berasal dari istilah latin famulus–yang berarti budak rumah tangga–dan familia–yang berarti seluruh budak milik seorang lelaki–atau patriarki, yang mewarisi semua kekayaan serta mendapatkan kekuasaan absolut untuk menguasai seluruh anggota rumah tangga.

Singkatnya, kemudian, tak seperti pendapat teori-teori determinisme biologis, apa pun variasi dan keragamannya, analisa kaum Marxis menolak suatu pandangan evolusi yang didominasi-kaum lelaki–atau: bisa membuktikan bahwa primata dan spesies (bertubuh tegak dan berjalan di atas kedua telapaknya) yang berjenis kelamin memiliki peranan yang penting dalam perkembangan kemanusiaan.

IV. Pengujian Bukti-Bukti Baru

Beberapa istilah yang membingungkan dalam analisa Engels yang, secara khusus, relevan dengan arah perdebatan seputar asal muasal penindasan perempuan, telah berkembang di abad ini. Oleh sebab itu, harus dijernihkan terlebih dulu untuk menguji seberapa tepat teori Marxis tentang perkembangan manusia sesuai dengan bukti-bukti yang ada sekarang ini.

Pertama, Engels menggunakan istilah “keluarga” untuk menunjukkan kelompok sosial produksi dan reproduksi kehidupan sehari-hari pada semua tahap manusia. Reed (Evelyn Reed–pentj.) secara tegas berpendapat bahwa hal ini merancukan tipe institusi keluarga masyarakat berkelas dengan tipe keluarga yang sangat berbeda dari kelompok sosial pada tahap sebelum terjadinya masyarakat berkelas, yang lebih tepat diistilahkan dalam ungkapan kekerabatan seperti nenek moyang, klan/marga, kelompok, dan garis keturunan.

Kedua, pemakaian istilah “alamiah” nya Engels, yang berkaitan dengan ikatan awal (bebas) pasangan lelaki-perempuan, berbeda penggunaannya dibandingkan dengan doktrin tentang perbedaan alam yang memaknai “alamiah” sebagai perubahan-perubahan yang ditentukan oleh biologis. Marx dan Engels memandang soal “alamiah” sebagai bagian dari sebuah interkoneksi dialektis antara umat manusia dan alam. Engels menegaskan:

Walau bagaimanapun, jangan lah memuji diri kita sendiri melebihi gambaran kemenangan manusia terhadap alam. Untuk tiap-tiap kemenangan tersebut, alam memberi pembalasannya kepada kita. Sesungguhnya setiap kemenangan, di sisi pertama membawa hasil yang kita harapkan, tetapi di sisi kedua dan ketiga hal ini sangat berbeda, memiliki efek yang tidak terduga, yang seringkali membatalkan yang pertama. Masyarakat di Mesopotamia, Yunani, Asia Minor, atau dimana pun berada, yang merusak hutan untuk mendapatkan lahan tanah yang dapat diolah, tidak pernah membayangkan bahwa dengan memindahkan hutan–hutan berikut sumber alam dan penampungan air/waduknya, mereka sedang menabur sumber bagi bencana yang pedih dari negeri-negeri itu.…

Lantas, pada setiap langkah, kita diingatkan kembali bahwa kita bukannya menguasai alam seperti halnya seorang penguasa menundukkan orang asing, layaknya seseorang yang berdiri di luar alam¾tetapi kami, dengan daging, darah dan otak, memiliki alam dan ada di tengah-tengahnya. Bahwa seluruh penguasaan kita terhadap alam tersebut terdiri dari fakta bahwa kita mempunyai kemampuan melampaui semua ciptaan lain, mampu mempelajari hukum-hukum tersebut dan menerapkannya secara benar. (Engels, 1934, hal. 180)

Marx dan Engels menekankan keunikan manusia dalam hubungannya dengan dunia alam, tidak seperti pandangan Cartevian tentang pemisahan dan superioritas manusia terhadap alam. Isi dari “alam” tidak bisa begitu saja dianggap dari penjelasannya sendiri: apa yang dianggap sebagai alam adalah bermacam-macam dan dihasilkan secara kultural. Maka, sebuah taman yang terbuka dan luas mungkin termasuk bagian dari alam jika dibandingkan dengan sebuah pabrik, akan tetapi itu hanya produk dari intervensi dan manipulasi manusia. Saat ini, dampak dari produksi sosial kapitalis (sebagai contoh, pemanasan global dan perubahan iklim) membuat kategorisasi manusia/alam menjadi lebih berat.

Marx dan Engels mendasarkan penjelasan mereka tentang perkembangan sosial pada bukti-bukti arkeologi dan antropologi yang tersedia dalam zamannya. Menjadi sangat terbatas, karena ilmu-ilmu tersebut saat itu relatif baru. Walau garis waktu sejarah telah berpindah dari ukuran waktu yang dikaitkan dengan kitab Injil, tetapi teknologi yang ada masih sangat lemahnya akurasinya.

Marx dan Engels bersandar sepenuhnya pada bahan-bahan etnografis yang menggambarkan masyarakat yang terorganisir yang sangat berbeda dari masyarakat yang ada di Eropa pada zaman mereka, sekaligus rekaman sejarah tertulis yang dapat diterjemahkan. Engels dan para ahli evolusi sosial lain menggunakan “peninggalan” (survival) secara sungguh-sungguh¾praktik sosial yang tampak dalam rekaman sejarah dan etnografi sepertinya tidak mempunyai sangkut paut yang nyata bagi masyarakat yang tengah dipelajari. Diduga bahwa peninggalan-peninggalan tersebut adalah sisa-sisa bentuk organisasi sosial terdahulu yang telah terlewati dan berubah oleh waktu.

Bagaimana teori Engels tentang munculnya spesies dan perkembangan sosial sub-ordinasi perempuan menemukan buktinya sekarang ini? (Engels sendiri menekankan bahwa teori harus lah dihadapkan pada ujian bukti-bukti material dan pengalaman). Meskipun ada beberapa kekurangan, yang umumnya bersumber dari kemandekan ilmu pengetahuan di abad ke-19, penjelasan Marxis tetap bertahan.

Apa yang saat ini dapat dianggap sebagai bukti? Kemajuan teknologi dan penemuan bukti-bukti yang lebih banyak, menawarkan satu pandangan yang lebih detail (meski fragmentatif) tentang masa lalu. Ada sisa-sisa kerangka, biasanya terfragmentasi, yang memberi tempat bagi beberapa perkiraan dalam hal gerakan sosial yang melibatkan individu. Ada bukti arkeologis tentang perkampungan penduduk, perkakas kerja dan situs kuburan. Ada analisis biologis seputar tulang, seperti juga ada bukti molekular dan analisa genetik. Ada rekaman fosil yang menampakkan beberapa hal tentang makanan dan efek dari perpindahan lingkungan. Ada penelitian tentang bahasa untuk merekonstruksi langkah dari perubahan, seringkali berkaitan dengan faktor lingkungan yang mengarah pada perpindahan/migrasi.

Ada juga penelitian tentang tingkah laku primata dalam kebuasan (primatologi) sekaligus perbandingannya dengan manusia modern yang terorganisir dalam relasi produksi yang berbeda, yang memiliki pola serupa dengan yang di masa lampau, antara lain dalam hal berburu dan mengumpulkan (etnografi). Namun kita membutuhkan ketelitian ekstra dalam menarik kesimpulan evolusioner primatologi dan etnografi. Primata modern dan manusia modern yang hidup dalam masyarakat berteknologi lebih sederhana telah berkembang, maka perbandingan dengan masa lampau harus dilakukan dengan sangat hati-hati.

Manusia Pertama

Jangka waktu apa yang sedang kita bicarakan? Semua fosil primata, yang sejauh ini telah ditemukan, memiliki bentuk seperti yang hidup pada 70 juta tahun terakhir (era Cenozoic), seperti juga seluruh fosil mamalia (terkecuali bagi sangat sedikit mamalia primitif) yang pertama kali muncul dalam era sebelumnya, era dinosaurus.

Sampai sekarang, fosil itu masih dianggap fosil non-antropoid tertua (Ramapithecus), berusia kira-kira 14 juta tahun, namun telah terjadi banyak perdebatan tentang apakah peninggalan tersebut cocok dengan garis hominid (2). Saat ini Ramapithecus diyakini sebagai nenek moyang dari satu bagian kera besar modern.

Tahap paling awal dalam perkembangan menuju evolusi manusia tampaknya mengambil tempat di Lembah Besar Rift di Afrika Timur, tempat dimana makhluk pertama yang dikenal dengan postur tubuh tegak, terpisah dari primata Afrika lainnya, hidup sekitar 5-7 juta tahun yang lalu. Bukti kerangka yang pertama berusia antara 4 dan 5 juta tahun yang lalu (Australopithecus). Peralatan tertua ditemukan sekitar 2,5 sampai 2 juta tahun yang lalu, dan penambahan ukuran otak tampaknya berlangsung pada saat yang sama.

Peninggalan paling awal dari makhluk berpostur tegak, yang disebut Homo Erectus, berusia sekitar 2 juta tahun. Homo erectus bermigrasi keluar Afrika, masuk ke Asia, sekitar 1 3/4 juta tahun lalu. Kemajuan utama perkakas kerja terjadi 1½ juta tahun lalu, dan bukti kuat adanya pemakan daging (secara regular) ada sejak zaman ini.

Sekitar 1 juta tahun yang lalu, beberapa species Australopithecus menghilang. Penggunaan api pertama sekitar 700.000 tahun yang lalu, dan sebuah kemajuan utama dalam pembuatan perkakas terjadi sekitar 200.000 tahun yang lalu. Manusia modern (Homo sapiens) tampaknya berasal dari Afrika, sekitar 100.000 tahun yang lalu.

Periode yang paling awal dari pra-sejarah, Paleolithicum (atau Jaman batu tua), terbentang kira-kira 2-2 1/2 juta tahun yang lalu, merentang sekitar 250 kali sisa periode pra-sejarah.

Selama masa Paleolithicum di atas, yang berakhir sekitar 35.000 tahun yang lalu, bentangan es besar yang menutupi benua utara mulai mencair. Periode ini dicirikan oleh satu perkembangan utama dalam jarak dan pengembangan peralatan batu, penggunaan gading dan tanduk, hiasan bunga-bungaan dengan pahatan, lukisan di gua dan, mungkin, penemuan teknologi yang berdasar pada tali/benang untuk jaring-jaring, alat perangkap, dan sebagainya.

Homo Sapiens kuno terlihat sekitar setegah juta tahun yang lalu, hidup bersama dengan Neanderthal, yang tampak sekitar 135.000 tahun yang lalu dan meninggal sekitar 35.000 tahun yang lalu.

Manusia pertama yang terlihat serupa dalam segala hal dengan kita, Homo Sapiens, terlihat sekitar 100.000 tahun yang lalu.

Jaman Neolitikum (Jaman Batu Baru) adalah sebuah periode dimana tumbuh-tumbuhan mulai dikembangkan di Eropa, sejak 8500 tahun pra-sejarah (di Timur Dekat) sampai (menyebar ke Eropa) pada 7000-6000 tahun pra-sejarah.

Perkembangan Fisik

Bukti perkembangan bahasa lebih sukit dilacak jejaknya. Petunjuk sarana berbahasa adalah (sebagian besar) kertas lunak yang rusak dengan cepat. Beberapa bukti tulang tengkorak tampak menunjukkan bahwa sebuah jangkauan lebih luas dari produksi suara dimulai saat Homo Erectus pada dua juta tahun yang lalu, tetapi pembentukan paling awal dari potongan dasar tengkorak (basicranium) belum menjadi lentur/tegak sepenuhnya hingga sekitar 300.000-400.000 tahun yang lalu, sebagaimana dalam Homo Sapiens yang kuno. Namun, perkembangan tersebut tidak terjadi pada Neanderthals. Maka, ketika bukti-bukti rangka mengindikasikan bahwa penggunaan bahasa secara sederhana bisa jadi telah berkembang secara bertahap; maka jangkauan dan kerumitan perkembangan perkakas mungkin merupakan satu indikator yang lebih baik dalam penggunaan bahasa secara penuh.

Hal itu tak muncul sampai lompatan besar budaya Palaeolithic Atas di Eropa (35.000 tahun lalu), ditandai dengan adanya produk artefak yang yang lebih besar, penemuan teknologi, imaginasi artistik, kesadaran dan peraturan, dimana kemunculan bahasa reguler komunikasi termasuk di dalamnya.

Adalah mungkin (bagi kita) untuk melacak jejak evolusioner dengan menggunakan sisa kerangka, molekul, analisa genetic, dan bukti dampak iklim terhadap perubahan tumbuh-tumbuhan–sekitar 15 juta tahun yang lalu, Afrika ditutupi hutan lebat, dan mulai berubah dengan adanya pergeseran permukaan bumi saat lempengan tektonik mulai menembus garis pegunungan dari Laut Merah (melalui Etiopia) menuju Mozambique, menciptakan areal dataran tinggi raya.

Yang berubah bukan hanya topografi tapi juga iklim, khususnya curah hujan. Tanah di daerah timur curah hujannya rendah, dan mulai kehilangan lapisan hutan lebatnya, menyisakan campuran hutan tambalan, hutan tanaman keras, semak belukar, namun sedikit sekali padang rumput.

Sekitar 12 juta tahun yang lalu, aktivitas tektonik selanjutnya mengubah lingkungan menjadi berbentuk Lembah Great Rift, bercampur dengan dataran tinggi dingin berhutan dan dataran rendah kering yang panas, serta membentuk penghalang bagi gerak binatang. Konsekuensinya, berbagai spesies baru muncul, sementara lainnya menghilang.

Perkembangan bipedalisme (1) dalam salah satu varietas kera pada benua saat itu merupakan satu kemajuan yang membuka jalan bagi perpindahan selanjutnya dalam pola-pola evolusi primata. Di samping membebaskan penggunaan tangan untuk fungsi baru, postur tegak menimbulkan dampak penting dalam perilaku kelompok dan perkembangan baru pola-pola kerja sama yang, pada gilirannya, menyediakan basis bagi kewajiban sosial yang timbal balik, kebanyakan berfokus seputar perubahan tingkah laku betina dan anak-anak.

Perubahan kerangka (seperlunya) yang menggerakkan binatang berkaki dua mengarahkan perubahan pada bentuk kaki, perubahan alat-alat perawatan bayi. Kera muda mempunyai jari kaki yang besar untuk berpegangan/mengait pada ibunya; ini mulai hilang saat kaki beradaptasi untuk berjalan.

Binatang berkaki dua berjalan menyempitkan tulang pangggul, mengakibatkan modifikasi pada bentuk saluran kelahiran. Makhluk muda manusia lahir pada sebuah tahap perkembangan paling awal dari makluk kera, dan oleh karenanya periode ketergantungannya lebih lama.

Ukuran otak yang lebih besar juga akan meningkatkan tekanan untuk melahirkan lebih cepat. Otak Australophitecus mempunyai ukuran sekitar 400 centimeter kubik. Sedangkan otak Homo Erectus berkisar antara 650 sampai 800 sentimeter kubik. Otak manusia modern rata-rata 1.350 centimeter kubik. Peningkatan ukuran otak sejalan dengan bukti pertama adanya peralatan baru dan menandakan pergeseran penuh makhluk berkaki dua.

Perkembangan Australopithecus ke Homo yang paling awal sejalan dengan perubahan tipe gigi geraham pengunyah ke gigi yang juga digunakan untuk memakan daging. Ini juga dicirikan dengan perubahan dalam dimorphism seksual. Pada Australopithecus, laki-laki lebih tinggi (berkisar antara 1.52 meter sampai 1.22 meter), dan dua kali lipat lebih berat dibanding perempuan, tetapi ukuran ini hilang dalam gen Homo.

Perpanjangan masa kecil dan perluasan hubungan ibu dan anak menunjukkan sebuah pertumbuhan kultur. Berkelompok bersama demi melindungi yang muda, mungkin dengan saudara kandung keturunan perempuan, akan berujung pada pembagian dan pengumpulan makanan ketimbang penyingkiran.

Jari kaki yang mengungkit bermakna bahwa ibunya harus merawat bayi tersebut. Perawatan ini bisa mendorong pemakaian kulit, serabut/tali dari tumbuh-tumbuhan, dan sebagainya, untuk menggendong, membebaskan tangan dan memudahkan mencari makanan. Ketika bukti arkeologi yang ada hanyalah perkakas batu, tak ada alasan untuk menduga bahwa peralatan yang terbuat dari fiber dan kayu (seperti halnya tongkat untuk menggali) tidak dipergunakan; ini adalah jenis peralatan para pemburu modern.

Sekarang menjadi jelas bahwa umat manusia pada awalnya bukanlah berburu dengan cara seperti yang telah digambarkan di masa lampau. Tidak ada bukti mengenai pembagian seksual/gender dalam pembagian kerja: laki laki dan perempuan, keduanya bekerja bersama, makan bersama dan saling melindungi dari pembunuhan makluk lainnya. Ini tidak terjadi hingga sekitar 100.000 tahun yang lalu dimana peralatan dan teknik-teknik berburu hewan yang lebih besar mulai tampak. Untuk perburuan sistematik ini, beberapa ahli menetapkan waktu yang bahkan lebih dekat, sekitar 45.000 sampai 35.000 tahun yang lalu.

Ketika masyarakat pemburu-pengumpul yang sezaman membagi kerja berdasarkan jenis kelamin dan umur, 60-80% dari makanan masyarakat itu dihasilkan lebih banyak oleh aktifitas perempuan dibandingkan dengan perburuan yang dilakukan secara sporadis oleh kaum laki-laki. Dengan begitu, asumsi tentang peranan historis dari ‘pemburu laki-laki’ tidaklah tepat.

V

Bukti-bukti genetis yang ada sekarang memberikan informasi yang lebih jelas mengenai pentahapan perkembangan gen Homo. Hingga saat ini, terdapat pemikiran bahwa kita berasal dari manusia primitif yang bermigrasi keluar dari Afrika sekitar 2 juta tahun yang lampau. Akan tetapi, bukti-bukti DNA menunjukkan bahwa spesies manusia berasal dari nenek moyang yang baru sekitar 200.000 tahun yang lalu bermigrasi dari Afrika dan akhirnya menetap sekitar 100.000 tahun lampau. Gelombang migrasi sebelumnya dan jenis-jenis gen Homo lebih dahulu punah pada migrasi berikutnya, kemudian Neanderthals yang punah 35.000 tahun yang lalu, meninggalkan hanya Homo sapiens.

Lebih 20.000 ribu tahun berikutnya terjadi sedikit perubahan, termasuk adanya migrasi yang tersebar ke Amerika dan sekitarnya. Kehidupan manusia menjadi sangat seragam. Orang-orang hidup dalam jumlah kecil, mengelompok kira-kira 25-30 orang. Kelompok ini saling berinteraksi, mendirikan sebuah jaringan sosial sesuai dengan adat istiadat dan bahasanya. Mereka berusaha mencari tempat-tempat sementara dimana mereka bisa mencari bahan makanan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Bentuk kerjasama (gotong royong) tampak lebih menonjol dibandingkan dengan saling serang dan persaingan, jika perbandingan tersebut dibuat terhadap kehidupan sosial primata yang lain.

Lantas bagaimana bukti-bukti teori Engels? Sungguh menarik, khususnya jika dibandingkan dengan bukti-bukti yang dikemukakan selanjutnya oleh Darwin. Berpostur tegak, tangan yang menggantung, perkembangan perkakas, perluasan otak dan evolusi bahasa dari teori dialektik Engels didukung oleh bukti-bukti yang ada sekarang. Jangka waktunya memang berbeda, tetapi hal itu diharapkan memberi sedikit data-data teknik dan informasi arkeologi serta geografis pada masa Engels.

Darwin, pada sisi lain, berpendapat bahwa gambaran yang paling istimewa dari makluk manusia–tubuh tegak, teknologi dan perluasan otak–berkembang bersama-sama, sehingga manusia berbeda dari makluk kera sejak awal, dan perbedaan spesies manusia tersebut kasar dan asing. Bukti-bukti yang ada tidak lah mendukung hal tersebut. Ada perbedaan yang pokok antara Australopithecus dengan Homo erectus serta dengan yang lainnya yang muncul pesat 40.000 tahun yang lalu ketika es mulai menyusut dan pada periode perubahan iklim. Periode tersebut menyebabkan perpindahan ke wilayah yang lebih luas, yang secara geografis, ekologis, berbeda, dan dengan binatang serta tumbuh-tumbuhan yang berbeda pula. Secara keseluruhan, garis evolusioner jauh lebih kompleks (dan juga diperjelas dengan akhir perkembangan) ketimbang teori yang diajukan Darwin.

Peranan awal Perempuan

Teori Engels menekankan peranan perempuan dalam evolusi sosial kelompok manusia. Teori ini memperkenalkan perempuan sebagai sentral kerjasama sosial dan organisasi kelompok sosial, dan kesetaraan jender yang mendominasi sebagian besar periode pra sejarah¾zaman kebuasan. Subordinasi perempuan terjadi belakangan, dimulai pada zaman barbarisme dan berkembang secara utuh pada permulaan zaman peradaban.

Zaman kebuasan bertepatan dengan periode purbakala Palaeolitic sampai sekitar 12.000 tahun lalu, saat produksi, teknologi dan pemukiman berubah secara cepat. Menurut Engels, permulaan tahapan massa barbarian dititik-beratkan pada masa Neolithic (zaman batu baru, bercirikan alat dari batu serta meliputi permulaan pekerjaan logam), termasuk zaman perunggu sampai perkembangan peralatan besi mulai sekitar tahun 1.000 SM.

Spekulasi tentang permulaan kelompok sosial Hominid didasarkan pada bukti yang sangat sedikit, tapi sepertinya desakan yang lama pada ikatan monogami laki-laki dan perempuan. Saat lelaki pergi berburu dan perempuan tinggal di rumah menjaga bayi, bisa diperdebatkan secara sustansial.

Diperkirakan lebih dari 90% orang yang hidupya telah berkumpul dalam kelompok tersebar pada daerah luas yang populasinya sedikit, dan dapat memilih lingkungan yang paling menguntungkan. Kini, kurang dari 0,003% populasi dunia hidup sebagai pemburu-pengumpul dan mereka hidup dalam lingkungan ekstrim, terisolasi, serta berada di bawah tekanan masyarakat yang berteknologi kompleks, karena itu data dari masyarakat harus disuguhkan secara hati–hati. Tapi sangatlah jelas bahwa hubungan jender dalam masyarakat pengumpul-pemburu lebih egaliter dibandingkan dari masyarakat lain. Pada masyarakat pengumpul–pemburu ada pembagian kerja berdasarkan jenis kelamin dan umur, tapi kontribusi perempuan terhadap kelompok secara keseluruhan, dan status mereka pada umumnya, adalah tinggi.

Pengertian kerangka bipedalisme, perkembagan kapasitas otak untuk melahirkan, dan ketergantungan bayi yang lama menambah pertimbangan Engels bahwa kelompok sosial hominid pada masa awalnya mengelompok sekitar perempuan serta bayi mereka. Kerjasama untuk keberhasilan membesarkan anak dapat mengarah pada proses domestikasi spesies manusia itu sendiri, dan saat memilih kooperatif ketimbang agresif serta menyerang, laki–laki, sebagai pasangan, memperkuat pembagian dan ikatan sosial. Tipe peralihan ini telah diobservasi diantara simpanse betina.

Ketergantungan bayi dan jangka waktu membesarkan anak juga mempengaruhi pola pembagian makanan yang membentuk basis interaksi sosial. Bukti dari kelompok primata seperti simpanse, menunjukkan bahwa pembagian makanan terjadi dengan kelompok matrifocal (mother-centered) ketimbang dengan pasangan seksual. Ikatan yang kuat antara keturunan dan ibu membentuk ikatan utama, ditambahkan dengan saudara kandung, penguatan hubungan saudara tua, dengan ibu sebagai pusatnya. Peranan utama ibu mendorong meningkatnya kekerabatan serta guru utama inovasi teknologi yang terjadi dalam jangka waktu ketergantungan anak.

Tekanan untuk memiliki bayi dan makanan, yang kembali dibagi di dalam kelompok, akan memperkuat proses tersebut, juga untuk mendorong perkembangan arterfak dan peralatan seperti kontainer/wadah, tongkat penggali, dan lain-lainnya. Peralatan tersebut merupakan ciri sezaman aktivitas pengumpulan.

Tak ada bukti pembagian kerja berdasar jender yang tak dapat diperdebatkan, baik pada penggunaan alat dalam pengumpulan makanan, sampai penggunaan alat untuk perburuan besar yang muncul sekitar 100.000 tahun yang lalu. Kehadiran seorang bayi dapat menjadi penghalang bagi aktivitas tersebut, namun hal itu tak menghentikan perempuan (yang tak memiliki anak) untuk berburu, dan ada bukti wanita pemburu dalam masyarakat modern (Contohnya adalah orang Agta di Timur laut Luzon, Filipina).

Seperti yang dinyatakan oleh Margareth Ehrenberg :

Oleh karena itu, dapat dibuktikan bahwa langkah penting dalam perkembangan utama manusia terinsipirasi oleh perempuan. Juga mencakup perkembangan ekonomi dan inovasi teknologi, serta peran perempuan sebagai pusat sosial kelompok. Hal itu berbeda sekali dengan gambaran tradisional pria sebagai pelindung dan pemburu, membawa makanan kepada pasangan perempuannya. Model tradisional laki–laki tersebut berhubungan dengan serangan maskulin yang dianggap normal, yakni yang menganggap bahwa dalam jangka waktu lama, satu melawan satu, ikatan laki-perempuan merupakan perkembangan utama. Dengan lelaki sebagai penyedia makanan yang paling utama, dan dominasi laki-laki berhubungan (secara inheren) dengan keahlian berburu. Tak satupun dari pola ini yang sesuai (bagaimana pun sesuainya dengan lelaki tradisional, kecuali lelaki tradisional Barat). Primata jantan lainnya tak mengikuti pola ini, tak terjadi selain di kalangan Barat, khususnya yang mengumpulkan makanan dan dan pola kultural Palaolithic.” (Ehrenberg, 1989, hal. 150)

Argumen tersebut mendukung pola yang digambarkan Engels.

Pemukiman dan domestifikasi

Keragaman bukti meningkat dari zaman Neolithic ke muka. Ketika lapisan es mencair, wilayah tundra yang luas terbuka dan kumpulan ternak mundur ke utara. Kumpulan hewan diikuti oleh banyak pemburu yang berburu di lingkungan baru, vegetasi yang baru serta iklim yang berbeda.

Pada akhir periode Palaeolitic, 12.000 -15.000 tahun yang lalu, ada perubahan lingkungan dan corak hubungan. Pada “daerah bulan sabit subur” sekitar sungai Tigris dan sungai Efrat (daerah ini sekarang terletak di Turki, Siria, Iran, Irak, Yordania dan Israel) ada bukti pemukiman dan penyimpanan biji–bijian, tetapi hanya biji-bijian liar. Dari sekitar tahun 8.500 SM, biji-bijian liar ini berkembang, dan orang bermigrasi karena biji-bijian tersebut, karena binatang buruan, tinggal di sekitar benih yang berlimpah. Situs ini berisi bukti-bukti binatang domestik pertama, yakni anjing.

Saat itu, orang mulai memelihara biji-bijian liar, baik dengan menanam benih, yang tersebar secara tak sengaja, dan membiarkannya tumbuh atau, semakin berkembang, dengan menanam secara sengaja. Kegiatan ini menuntun pada modifikasi tanaman. Biji-bijian akan mudah tersemai jika benih terburai, tapi biji yang berbonggol besar cenderung biasanya berakar kuat. Domestikasi ini mempermudah pengumpulan tapi penyebarannya tergantung pada manusia

Hewan pun telah mulai mengalami perubahan. Daging yang harus ditangkap setiap hari, maupun hasil dari perburuan besar, mendatangkan masalah baru, yakni penyimpanan. Jika penjagalan dilakukan jauh dari pemukiman, masalahnya adalah bagaimana membawa (bangkai) hewan ini pulang. Jauh lebih mudah untuk membawa hewan tersebut pulang dalam keadaan hidup-hidup, mengurung dan memberinya makan dari pakan ternak yang tersedia.

Domestifikasi mungkin terjadi karena binatang yang gugup dan agresif harus dibunuh dan dimakan, sementara hewan yang jinak bertahan lama dan berkembang biak, menunjukan pola kapasitas seleksi. Perbedaan warna dan pertumbuhan rambut binatang mungkin disebabkan oleh ketergantungan yang besar pada perlindungan manusia predator. Binatang ini hanya dipakai dagingnya dan produk kulitnya saja.

Pemeliharaan tanaman dan binatang mencukupi persediaan makanan, bahkan surplus untuk disimpan. Pengasahan permukaan batuan jaman Neolitic bersamaan dengan penggilingan biji-bijian untuk konsumsi. Perbedaan bentuk tulang–yang berhubungan dengan penggilingan besar–ditemukan pada tulang lelaki dan perempuan di dekat daerah timur, tapi penggilingan benih terbuat dari batu–yang berhubungan dengan tulang perempuan–ditemukan di makam perempuan di Eropa, tempat teknologi berkembang.

Hasil panen makanan sekunder adalah tumbuhan polong-polongan, buah-buahan, kacang-kacangan, dan perempuan secara kolektif mengurus hasil panen dengan pertanian hortikultur.

Pemukiman tidak hanya memungkinkan untuk menyimpan makanan, namun juga mampu mengatasi keterbatasaan kapasitas pemburu-pengumpul. Pemukiman memungkinkan untuk mengakumulasi barang lain dan menghasilkan banyak anak. Tapi pemukiman juga menimbulkan masalah sanitasi, kuman, dan epidemic penyakit (kolera, tipoid,wabah pes, dipteri, dan lain sebagainya). Anak–anak lebih rentan penyakit sehingga lebih banyak tekanan terhadap anak.

Walaupun pemukiman telah merubah sistem produksi dan akumulasi, organisasi sosial masih tetap berdasarkan struktur klan matrilineal, yang diatur dalam masyarakat. Juga ada ketergantungan pada iklim dan kebutuhan untuk memelihara binatang serta menjaganya dari predator. Kelompok klan dalam rumah panjang (longhouses) ini, atau kelompok yang menetap matrilocal, membentuk inti kerjasama yang memungkinkan kelompok tersebut bertahan hidup.

Menyebarnya pemukiman mulai dari daerah “sabit subur” sampai Eropa dimulai disekitar 6.000 SM, bersamaan dengan teknologi yang berkembang cepat. Pemukiman meluas dan meningkat dengan pesat.

Dengan biji-bijian yang melimpah, tersedia serat baru seperti rami. Anyaman tenun yang sederhana, yang digunakan perempuan untuk ambin dan ikat pinggang, sekitar tahun 6.000 SM sampai berkembangnya 2 perkakas tenun yang berbeda, sampai tenunan pakaian. Pada wilayah panas yang curah hujannya sedikit, tenunan dasar horizontal, yang dianyam di luar, muncul pertama kali di Irak dan dari situ menyebar ke daerah tenggara, di daerah yang beriklim lebih dingin. Tenunan vertikal ditambahkan pada kasok dan ditenun di dalam rumah, menyebar di Barat .

Tak ada bukti pembagian kerja berdasarkan jender dalam kerja menenun, selain simbol artistik. Sepertinya perempuan yang menjadi penenun, tapi dari stuktur perkakas tenun, tergambar saat proses konsumsi menyiapkan serat dan perkakas tenun merupakan satu proses kolekif lintas jender.

Sekitar 6000 SM tembikar juga berkembang di sekitar Timur dan menyebar ke Eropa tenggara. Sekali lagi, tak ada bukti pembagian kerja berdasar jender dalam pembuatan tembikar, kecuali dalam mendekorasi, tapi kemungkinan itu kerja yang dilakukan perempuan karena pembuatan bejana berhubungan dengan kerja yang dilakukan perempuan dalam produksi dan penyimpanan makanan.

Tugas kaum lelaki pun mulai berubah. Perburuan berlanjut karena jumlah hewan piaraan masih terbatas, tetapi persediaan makanan terjamin oleh pertanian hortikultur dan pemeliharaan hewan. Berdasarkan perbandingan kontemporer, pemeliharaan hewan ini lebih sering dilakukan oleh perempuan.

Memancing dan pembersihan lahan untuk menanam menjadi hal yang lazim, bersamaan dengan perdagangan produk perhiasan seperti kerang tapi, yang lebih penting lagi, adalah produk yang jarang seperti pisau (obisidian) yang lebih tajam, yang terbuat dari batu api, dan sangat diperlukan untuk memanen hasil. Perkembangan teknologi kerajinan seperti tenun dan tembikar mengarah pada produksi komoditi kecil dan pertukaran. Jaringan pertukaran ini berkembang bersamaan dengan penanaman biji–bijian domestik dan inovasi teknologi. Pertahanan bukan aktivitas yang signifikan karena jumlah populasi yang sedikit serta tak ada perbedaan kemakmuran yang besar sehingga perang bukanlah permasalahan yang signifikan.

Perkembangan produk dari hewan yang kedua muncul dari Mesopotamia sekitar tahun 4000 SM. Daripada hanya menggunakan daging dan kulit domba, kambing dan lembu, memproses susu dan wol serta menggunakan kekuatan otot binatang memperbanyak variasi makanan. Wol untuk tenun berkembang. Wol lebih hangat dan lebih kuat dari linen, serta mudah untuk diwarnai. Perkembangan sekawanan hewan mencerminkan ciri perpaduan perkembangan pertanian.

Bahkan yang lebih signifikan adalah bahwa pemeliharaan hewan menandai organisasi sosial pertanian. Menggantikan kolektif holtikultur, rangka hewan besar dimanfaatkan untuk menggali lebih dalam dan produksi panen yang lebih baik. Rangka hewan lebih efektif untuk mengirim bijian dan, dengan penemuan roda, memungkinkan transportasi lebih banyak produk.

Pertanian bajak, dengan kerja individu manusia secara terisolir atau hanya dengan beberapa asisten/pembantu, menggantikan aktivitas kolektif pertanian perempuan sebagai sumber utama makanan, dan tugas perempuan secara bertahahap berpindah di dalam komponen desa atau pemukiman. Pergantian ini merupakan pusat subordiasi perempuan

***

VI

Engels berpendapat bahwa sumber penindasan perempuan adalah dikeluarkannya perempuan dari produksi sosial dan beralihnya tugas-tugas rumahtangga menjadi urusan pribadi. Kedua hal tersebut merupakan akibat dari perpindahan pemilikan komunal ke pemilikan pribadi laki-laki yang merupakan sumber produksi. Hal tersebut diperkirakan Engels terjadi secara berbarengan dengan munculnya pemeliharaan dan pembiakan hewan, yang menciptakan kekayaan sosial baru. Secara otomatis kekayaan ini dimiliki oleh laki-laki anggota klan tersebut.

Engels mendasarkan penjelasan ini pada dua dasar pemikiran yang keliru. Menurutnya, kegiatan penggembalaan muncul sebelum adanya pertanian, dan bahwa laki-laki lah yang menjadi pemberi nafkah secara alamiah: Mencari nafkah adalah menjadi urusan kaum laki-laki; oleh karenanya dia menciptakan dan memiliki fungsi produksi. Binatang ternak adalah fungsi baru pemenuhan kebutuhan hidup, awal mula dari domestifikasi, tujuan dari kerja-kerja mereka. (Engles, 1970 hal. 319).

Mengenai dasar pemikiran yang keliru tersebut, Engels berspekulasi bahwa laki-laki memiliki binatang (seperti lembu) dan komoditi yang mulai dipertukarkan. Namun demikian, Engels masih belum bisa menjelaskan bagaimana peternakan yang semula dimiliki secara komunal oleh klan atau suku berubah menjadi milik individu laki-laki yang menjadi kepala rumah tangga.

Dalam hal ini, pemilikan mempunyai arti yang khusus: barang-barang yang memiliki nilai produksi potensial merupakan hak milik. Itu berarti bahwa pertanian dan peternakan, seperti yang mereka kembangkan, adalah sumber-sumber produksi yang dimiliki secara komunal. Orang memiliki secara individu (seperti barang-barang dan peralatan), misalnya pemilikan tanah pekuburan yang tampak selama periode Neolithikum. Akan tetapi, pemilikan pribadi seperti itu tidaklah penting karena mereka semua memilikinya secara merata. Ketika Engels menyatakan hak milik, dia memetakan perkembangan sumber daya yang dipergunakan dalam produksi dan reproduksi sehari-hari, serta bagaimana sumber daya produksi ini dimiliki.

Bukti-bukti menunjukkan bahwa domestifikasi binatang dan pemeliharaan ternak yang luas tidak hadir lebih dulu dari perkembangan pertanian. Senyatanya, hal itu terjadi belakangan. Tak ada isolasi perempuan dari produksi-produksi pokok, bahkan seperti dalam kelompok masyarakat pemburu pun, perempuan lah yang menyediakan nafkah sehari-hari: pertanian dan pemeliharaan hewan merupakan tugas utama perempuan. Manakala persedian mulai menipis, perempuan lah yang berkewajiban mencukupinya.

Jadi, anggapan Engels tentang peranan laki-laki sebagai pemberi nafkah adalah sejarah yang keliru, mencerminkan bias jender pada periode tersebut.

Pemukiman matrilineal pada jaman Neolithikum pada dasarnya hanya memproduksi kebutuhan mereka sehari-hari. Demikian juga dengan peternakan hewan yang hanya diambil daging dan kulitnya, untuk konsumsi mereka sendiri, dan bukan sebagai komoditi. Semenjak pertukaran barang terjadi antara pemukiman pertanian, pertukaran yang luas tidak akan terjadi sampai teknik-teknik pertanian menyebar pada daerah-daerah yang kekurangan produk yang dibutuhkan untuk membuat peralatan pertanian (kayu, batu-batuan, silica dan, yang terakhir, tembaga), atau daerah dimana keahlian atau produk alamiahnya kurang seperti tanah liat yang diperlukan bagi perkembangan spesialisasi kerja kerajinan yang terjadi belakangan (seperti tembikar, tenun, bengkel dan lain lain).

Meski demikian, penjelasan yang menempatkan penyebab utama munculnya pemilikan pribadi adalah tumbuhnya pertukaran komoditi, seperti yang ditulis Reed dalam Women’s Evolution, tidak lah menjawab sebuah pertanyaan mendasar: bagaimanakah individu laki-laki menjadi pemilik dari barang-barang yang dipertukarkan atau alat produksi yang dihasilkan oleh mereka?

Jawaban Engels, adalah: “mencari nafkah selalu menjadi urusan laki-laki”; atau jawaban Reed: bahwa lembu adalah sebagai simbol baru kekayaan dan komoditi, mulai dibarterkan dengan istri-istri sebagai ongkos perkawinan dan ongkos pengasuhan anak; peralihan dari pemilikan komunal ke pemilikan pribadi oleh laki-laki, menimbulkan pertanyaan. Tak ada penjelasan dari kaum materialis mengapa praktik-praktik sosial diletakan pada tempat pertama, juga mengapa mereka berubah pada waktu tertentu.

Reed, secara khusus, memisahkan munculnya pemilikan pribadi dari beberapa perubahan dalam karakter tenaga produktif. Dia gagal menjelaskan bagaimana ongkos perkawinan menjadi ada atau mengapa telah terjadi pemisahan dari matrilokalitas menuju patrilokalitas, sebuah syarat peralihan yang diperlukan jika kita menganggap biaya perkawinan atau pengasuhan anak yang, layaknya, pembayaran atas kerja, harus dikeluarkan.

Pendapat Reed, bahwa munculnya pemilikan pribadi terhadap alat produksi–dimana berarti sebuah perubahan fundamental dalam basis ekonomi masyarakat dan dalam hubungan produksi–adalah sebuah hasil dari perubahan dalam institusi suprastruktur perkawinan, bertentangan dengan hukum pokok dari materialisme historis yang menyatakan bahwa hubungan produksi (bentuk pemilikan) terkait dengan tingkat perkembangan dan karakter tenaga produktif, oleh karenanya, hal itu, pada awalnya, mengarah pada mekanisme perubahan.

Pentingnya Pertanian Bajak

Walau dasar pemikiran Reed dan Engels keliru, bukti-bukti arkeologi dan anthropologi modern mendukung penjelasan kaum Marxis bahwa kemunculan pemilikan pribadi meyebabkan penindasan terhadap kaum perempuan.

Perubahan kualitatif dalam karakter tenaga produktif terjadi pada peralihan dari pertanian kolektif–yang dikontrol oleh perempuan–pada pertanian secara individual–yang dikontrol oleh laki-laki. Laki-laki, untuk pertama kalinya, menjadi petani ketika masa peralihan ke pertanian bajak. Bagaimana peralihan tersebut berpengaruh pada hubungan produksi, terutama dalam terminologi jender?

Pertanian bajak pada awalnya memerlukan kekuatan fisik yang lebih besar, termasuk pemanfaatan binatang tak hanya kambing dan biri-biri, melainkan binatang yang lebih besar seperti lembu, dan menjadi bergantung pada bajak dengan mata bajak yang terbuat dari tembaga (bukan besi yang lebih kuat, yang berkembang kemudian). Pertanian bajak juga merupakan pekerjaan yang terisolasi dibandingkan dengan pertanian yang dilakukan perempuan. Di samping itu, pertanian bajak juga tidak mudah dikerjakan sambil mengasuh anak. Berbarengan dengan peralihan dalam pemeliharaan binatang untuk diambil daging dan kulitnya, yang dimanfaatkan sebagai sumber tambahan produk susu, wool dan kekuatan penarik untuk membajak, memanen dan transportasi, perkembangan bajak kemudian mengalihkan perempuan dari peranan dalam produksi sumber-sumber pokok pangan.

Pertanian bajak dan perkembangan teknologi terpadu menyebar mulai dari Mesopotamia, pada 4.500 SM, sampai ke Eropa, pada periode pada 500 tahun. Dengan pertanian bajak, awal mulanya tanah menjadi sumber kekayaan pribadi. Juga pemrosesan produk-produk susu tambahan dan perkembangan wool untuk pakaian, artinya bahwa pemeliharaan peternakan besar juga tersebar secara cepat.

Pertanian campuran (sistem tumpang sari) mempunyai cabang-cabang dan keragaman fungsi. Bajak mutlak harus diproduksi, binatang dilatih, pengaturan regulasi susu, dihasilkannya produk-produk lain dari susu seperti yoghurt dan keju, kulit domba untuk bahan wool, pemberian makanan pada ternak, menggembalakan dan memberi minum, wool dipintal dan ditenun menjadi benang dan kain. Perubahan pembagian kerja menjadi penting, semua anggota masyarakat (contohnya, laki-laki, sebaliknya juga perempuan) diperlukan dalam rangka memenuhi perkembangan bagian-bagian kerja.

Peralihan dalam kerja-kerja tersebut kemungkinan diperkuat oleh perkembangan populasi dan kebutuhan untuk memperoleh ladang (atau lahan-lahan yang tidak subur) yang lebih luas.Tanah menjadi sumber perselisihan dan migrasi/perpindahan merupakan salah satu cara utama untuk memperluas akses terhadap sumber tersebut.

Dari 4.500 SM, semua tekanan ini datang secara berbarengan. Pertanian intensif, yakni untuk mendapatkan makanan dan produk-produk tambahan, makin bertambah penting. Laki-laki meninggalkan pekerjaan berburu dan lantas terserap dalam tugas-tugas baru pertanian dan peternakan. Peralihan tersebut disertai dengan pembagian sosial dan ekonomi yang lebih signifikan dibanding sebelumnya–pemisahan antara yang kaya dan dan yang miskin, sebagaimana halnya kepemilikan tanah.

Ehrenberg (1989, hal. 105-107) menekankan 5 faktor penting dan berpengaruh dalam peralihan tersebut.

1. Setelah peternakan dalam skala yang besar diatur, penggopyokan hewan, sebagai variasi bentuk-bentuk perburuan, dikembangkan. Itulah asal muasal timbulnya kemakmuran/kekayaan: untuk pertama kalinya, pemilikan terhadap sumber daya yang bernilai dan mudah dicuri menjadi ada.

2. Pertanian bajak secara individual menegaskan terjadinya perubahan dalam pengontrolan pertanian berdasar jender. Laki-laki mengontrol pertanian dan peternakan, sedangkan perempuan lebih banyak bekerja menyiapkan makanan dan membuat kerajinan seperti tekstil, serta mengasuh anak.

3. Walau sedikit, tanah dibutuhkan untuk produksi-produksi serupa seperti dalam holtikultura. Pertanian bajak menghemat lebih banyak tenaga, terutama di lahan-lahan yang kurang subur. Perkembangan populasi pun menekankan tanah-tanah yang subur untuk ditanami. Oleh karenanya, perempuan diperlukan untuk menghasilkan lebih banyak lagi pekerja anak-anak, hal ini akan menegaskan lagi apa yang tampak sebagai peranan utama mereka. Juga akan mengarahkan nilai yang lebih besar pada anak laki-laki karena perempuan menarik diri dari kegiatan pertanian dan hanya sedikit saja dalam membantu mencari nafkah, yang menjadi peranan utama dan basis bagi kesetaraan status sosial mereka.

4. Hal tersebut berimplikasi pada kelompok sosial masyarakat dan menjadi basis peralihan kelompok matrilineal/matrillocal ke kelompok patrilineal/patrilokal. Pada gilirannya, hal tersebut mengarahkan pada pemukiman oleh sistem klan secara individual dan unit keluarga yang dikepalai oleh seorang suami.

Petani dan peternak laki-laki akan mengajarkan keahlian dan teknik-teknik pertanian intensif pada anak-anak lelaki mereka, memberikan penindasan terhadap sistem warisan matrilenial. Dalam pertanian yang didominasi oleh perempuan, perempuan akan mengajarkan pada anak-anak perempuan mereka, sehingga warisan ini tidaklah menjadi persoalan. Dalam pertanian holtikultura, pemilikan dimiliki secara komunal dengan sedikit peralatan yang dibutuhkan, oleh karenanya warisan ini tidaklah terlalu penting. Tetapi dominasi laki-laki dalam menghasilkan makanan dan produk-produk lainnya menimbulkan pertentangan bagi matrilineal/matrilocalitas. Penindasan yang dibangun untuk menentang pemilikan komunal–sebagai metode komunal kolektifisasi tenaga kerja–dirusak oleh tenaga kerja laki-laki pada masa pertanian bajak dan peternakan.

5. Peningkatan besar yang berkaitan dengan tugas-tugas, dan semakin berkembangnya bagian-bagian pemilikan material dalam jangka waktu yang panjang, spesialisasi kerajinan, serta pertukaran, kemudian menimbulkan semakin bertambahnya pembagian kerja.

Perdagangan dan pertukaran komoditi umumnya dibawa oleh laki-laki atas nama rumah tangga atau klan. Semakin menjadi-jadi, hal itu memberikan tekanan pada mereka untuk menggabungkan produk kerja-kerja pertanian yang mereka miliki dengan produk rumah tangga, sehingga makin meningkatkan kecenderungan pemilikan individu dan penguasaan atas semua produk.

Pemilikan materi dan warisan tersebut kemudian mengarahkan pada akumulasi kekayaan pada seluruh generasi, membangun hirarki sosial kelas, status dan kekuasaan. Kekayaan menjadi memiliki kekuatan penuh dengan dipinjamkan pada keluarga-keluarga miskin yang, lantas, membayarnya dengan memberikan jasanya seperti tenaga atau tugas-tugas perang. Pembagian antara si kaya dan si miskin semakin meluas, misalnya si miskin diberi hutang semakin banyak dan tidak mempunyai waktu lagi untuk memproduksi kebutuhan mereka sendiri. Proses ini adalah kerangka kerja antara manusia yang, sebagaimana layaknya produk, binatang, barang-barang dan tanah, menjadi obyek nilai yang dipertukarkan. Anak-anak atau perempuan bisa diserahkan (untuk digunakan sebagai tenaga kerja atau peternak) guna membayar hutang-hutang keluarga miskin.

Adalah ironis bahwa pertanian diketemukan oleh perempuan sejak jaman Neolithikum, merubahnya menjadi berakibat negatif bagi perempuan.

Kerja perempuan, kerjasama dalam perkembangan kerajinan, menenun, tembikar dan sebagainya, semakin banyak yang dikerjakan di rumah semenjak dikeluarkannya perempuan sebagai penghasil utama makanan (sekalipun peranan perempuan dalam mempersiapkan makanan bertambah). Pengucilan dari sumber-sumber status dan kekuasaan yang tinggi, serta kehilangan kesetaraan yang ada sebelumnya pada periode masyarakat pemburu-pengumpul dan pada awal Neolithikum, mengarahkan pada ketidakberdayaan mereka dalam masyarakat berkelas—yang berkembang dari periode sebelumnya ke masa sekarang.

VII. Relevansinya dengan Kondisi Sekarang

Tulisan ini bukanlah sekadar sebuah rekonstruksi sejarah (yang menarik) yang didasarkan pada bukti-bukti yang ada sekarang. Penjelasan Marxis tentang kaitan antara perkembangan sosial pemilikan pribadi dengan penindasan perempuan makin diperjelas dengan data tersebut, dan menyangkal penjelasan yang dominan mengenai bagaimana ketidakadilan sosial itu ada dan mengapa tak dapat dirubah (sebagaimana doktrin tentang perbedaan alamiah).

Tidak ada bukti yang mendukung teori-teori determinis biologis, walau sebenarnya mereka pun tak terlalu bersandar pada bukti-bukti. Teori-teori demikian memiliki landasan ideologisnya, memberi keyakinan untuk mengubah, mengurangi atau meminimalisir upaya-upaya untuk menghapuskan ketidakadilan jender. Adanya ideologi seperti determinasi biologis tersebut adalah untuk melayani kepentingan sebuah kelas–sekarang ini, merupakan kepentingan kelas yang ingin menurunkan pencapaian yang telah diperoleh perempuan sejak tahun 1960-an.

Sekarang ini, kelas kapitalis dan pemerintahannya melakukan kampanye untuk mengurangi upah riil, memangkas dana bagi pelayanan sosial dan kesejahteraan, memungut biaya bagi pendidikan, pelayanan kesehatan serta pelayanan kaum jompo. Serangan tersebut membutuhkan unit tradisional, yakni keluarga untuk diserap masuk ke dalam kubangan. Keluarga merupakan salah satu wilayah utama masyarakat kapitalis di mana tenaga kerja keluarga diserap tanpa bayaran: perempuan dibebani kerja yang tak diupah.

Kebijakan-kebijakan pemerintah dalam penataan bidang sosial telah mendorong tekanan di dalam rumah. Biaya perawatan anak telah melonjak semenjak layanan perawatan anak dihapuskan. Konsesi rumahtangga dengan upah tunggal terjadi. Pasar kerja telah merestukturisasi kerja penuh-waktu (full time) ditranformasikan ke dalam kerja paruh-waktu (part time). Tenaga kerja laki-laki pun kemudian diisi oleh perempuan. Apabila perempuan tersebut mempunyai anak, seringkali yang terjadi adalah upah mereka hanya cukup untuk membeli keperluan bagi perawatan anak, dan upah keluarga yang dibayar pemerintah tak berarti apa-apa.

Serangan kapitalis tidak bertujuan mendorong semua perempuan untuk keluar sebagai tenaga kerja. Ini dihambat secara historis; diskriminasi upah bagi perempuan sudah muncul sejak dimulainya revolusi industri. Tujuannya lebih untuk membuat perempuan semakin rentan terhadap eksploitasi, untuk mendorong mereka keluar sebagai tenaga kerja (upah yang lebih rendah, jam kerja yang lebih sedikit, tanpa jaminan keamanan kerja, tanpa hari libur, jenis kerja yang lebih banyak, tanpa jaminan keselamatan dan tanpa serikat kerja). Dengan cara demikian lah didesakkan tekanan untuk mengurangi upah dan kondisi kerja bagi buruh perempuan. Serta mencangkokkan pemikiran bahwa tempat “alamiah” bagi perempuan yang pertama-tama dan yang paling utama dalam keluarga, sebagai perawat suami dan anak, dengan tanpa diupah. Oleh karenanya, upah kerja bagi perempuan hanya bersifat sekunder, tergantung dari kemampuan kelas penguasa untuk membayarnya.

Serangan ini tidak berarti bahwa semua capaian dari gerakan pembebasan perempuan akan gagal. Perempuan yang digaji secara layak dan bekerja penuh-waktu masih bisa menentukan pilihan-pilihan antara karier dan anak, akan tetapi mereka juga akan sangat dipengaruhi oleh ideologi yang mengkontradiksikan antara kepuasan kerja dan perawatan anak. Rasa bersalah lantaran lebih mementingkan hal-hal lain di luar keluarga dan rasa keibuan adalah bagian terpenting dari serangan ideologi ini.

Serangan itu juga berarti bahwa perbedaan-perbedaan kelas makin bertambah pengaruhnya pada kemajuan yang dicapai perempuan di masa lalu. Perempuan-perempuan berduit telah mampu melewati tahap paling buruk penindasan dan eksploitasi. Ketika perempuan bisa mengambil warisan dan mengontrol uangnya (yang merupakan pencapaian terpenting dari gelombang pertama feminisme di abad dua puluh), mereka bisa mengambil pilihan untuk menghindar dari keadaan yang memaksa seperti yang dialami oleh perempuan lain.

Sekarang jelaslah, pada model kebijakan neoliberal, banyak perempuan kelas menengah yang telah mampu memperbaiki nasib mereka, sepanjang mereka terhindar dari kondisi buruk seperti yang dialami oleh perempuan yang nasibnya kurang beruntung. Terdapat pembagian antara “kaum senasib”, yang dengan keputusan-keputusan mereka–dan jumlahnya makin luas–punya kepentingan yang berbeda. Kebijakan ekonomi neoliberal menciptakan kondisi material untuk menyatukan jurang perbedaan tersebut.

Penjelasan historis tentang akibat-akibat sosial penindasan perempuan, seperti tercermin dalam pamflet ini, menunjukkan dengan sangat tegas akibat-akibat dari dikeluarkannya perempuan dari peranan utama dalam kehidupan ekonomi. Tanpa kemandirian ekonomi, perempuan akan rentan dan tak bisa membuat serta mengimplementasikan keputusan-keputusan mereka sendiri.

Tentu saja, tidak berarti bahwa hanya isu-isu ekonomis saja yang mempengaruhi perempuan.Ada berbagai cara dimana perempuan ditindas dalam kelas sosial¾menyerang hak-hak reproduksi adalah wilayah pokok yang lain. Akan tetapi, marjinalisasi ekonomi lah yang secara signifikan telah menyingkirkan pilihan-pilihan yang lain. Juga memperkuat pengaruh dari serangan-serangan gencar dengan mereduksi kesempatan-kesempatan lain yang terbuka bagi perempuan yang dipaksa tinggal di dalam rumah ketika anaknya masih kecil. Tatkala si anak mulai masuk sekolah, perempuan diperbolehkan bekerja paruh waktu, harga yang dibayar lebih kecil.Sangat menyedihkan

Pembebasan Perempuan dan Perspektif Feminis

Tatanan sosial perempuan masuk ke dalam kemandirian ekonomi dan keluar dari konservatisme psikologis makin diperburuk oleh bertambahnya pembagian-pembagian dalam feminisme, yang merupakan satu kelemahan, dan pemisahan-misahan gerakan perempuan justru merusak kenyataan akan dibutuhkannya pengorganisiran bersama.

Kini, feminisme liberal menyandarkan perjuangannya pada rasionalisasi “beberapa perempuan memang melakukannya, namun kebanyakan tidak”. Berbagai upaya ditempuh dalam rangka membenarkan hal tersebut, dengan argumentasi bahwa perempuan yang berada di garis depan adalah perintis jalan ke dalam dunia-menjijikkan yang didominasi laki-laki, dan itu membutuhkan dukungan dari perempuan yang lain. Apa yang luput untuk sering disebutkan adalah bahwa jalan yang sedang dirintis tersebut adalah bagian dari karir individu, dan bukan bertujuan untuk kepentingan semua perempuan. Ditambah lagi, kepentingan individual sedang dijustifikasi oleh apa yang disebut feminisme “lakukan lah sendiri”, yang menolak kepentingan pribadi yang konservatif atau menolak kekalahan generasi feminisme liberal terdahulu–yang beranggapan bahwa hambatan institusional bagi kesetaraan perempuan tak akan berlangsung lebih lama lagi. Justru, jika perempuan tidak melakukannya (terserah definisi anda tentang “melakukannya”), itu adalah kesalahannya sendiri–sekalipun “menyalahkan sesama korban” juga keliru.

Feminisme radikal sangat membingungkan dalam hal: bagaimana mungkin serangan terhadap perempuan ditangkal dengan menyerahkan keyakinan pada “alam” sehingga, dengan demikian, menjadi pusat serangan ideologis. Menganggap esensial nilai moral perempuan tidak dengan sendirinya akan mengatasi merosotnya nilai ekonomis dan sosial, melainkan justru memberikan pembenaran bahwa “perempuan adalah ibu dan pengurus rumah tangga”, yang akan menambah serangan ideologis. Itu terutama jika analisis para feminis radikal–dalam mengapa perempuan itu “superior”–didasarkan pada karakter reproduktif dan karakter pemelihara mereka.

Ketika kaum feminis radikal memahami bahwa penindasan perempuan adalah persoalan struktur, mereka bersikeras bahwa hanya pandangan mereka lah yang sah dan tegas. Hal itu membuat kesatuan tindakan untuk membagun kembali gerakan pembebasan perempuan menjadi sebuah hal yang mustahil. Hal tersebut juga mensejajarkan cabang-cabang feminisme itu dengan beberapa kekuatan sayap kiri terbesar yang bergabung memperjuangkan perempuan dalam hal seperti hak-hak seksualitas dan reproduksi.

Cabang utama lainnya dalam feminisme, yang menambah kebingungan ideologis, adalah postmodernisme. Cabang ini menjiplak individualisme feminisme liberal dan, seringkali, diadopsi untuk bereaksi terhadap dogmatisme feminisme radikal.

Dalam satu makna, postmodernisme merupakan satu ekspresi di dalam feminisme dengan filsafat neoliberalisme. Postmodernisme memperkuat keragaman dan perbedaan; masing-masing umat manusia mempunyai pengalaman yang unik di dunia dan akan merasakan serta merespon dunia secara berbeda. Ini berarti bahwa upaya-upaya untuk menduniakan dan menjeneralkan hukum tentang bagaimana dunia (alam atau masyarakat) itu bergerak, adalah untuk meniadakan pandangan tentang pengalaman setiap orang. Siapa yang pada zaman dulu telah mendominasi sains atau kemajuan, yang dilakukan dengan cara menekan dan mengeksploitasi kelompok yang tak punya kekuatan, termasuk di antaranya, perempuan. Oleh karenanya, dikatakan oleh kaum postmodernis, bahwa ilmu pengetahuan dan teori-teori kemajuan sosial harus disingkirkan.

Pengalaman dalam masyarakat tidak lah memiliki pola yang tetap, yang ada hanyalah sudut pandang yang terpisah-pisah, yang diekspresikan melalui bahasa sebagai cerita individu yang tertinggi (teks). Maka, menginstitusikan penindasan perempuan, kelas, etnik, ras, dan sebagainya adalah sebuah khayalan belaka, kemustahilan sudut pandang yang lain tentang pengalaman mereka (perempuan) sendiri.

Bagi kaum postmodernis, pembebasan tidak mempengaruhi secara nyata usaha untuk mengubah masyarakat, apakah itu lewat reformasi atau revolusi. Justru, pembebasan adalah bersifat individu dan subyektif. Perubahan sejajar dengan pembagian dalam bahasa atau penampilan, dan dengan itulah anda “mendefinisikan’ diri anda sendiri atau “mengidentifikasi” diri dalam berbagai situasi tertentu. Sudut pandang ini membuat solidaritas berdasarkan pada pengalaman-pengalaman penindasan yang serupa, dan perjuangan bersama untuk mengubah penindasan adalah hal yang mustahil. Postmodernisme merupakan senjata lain dalam gudang senjata milik penguasa.

Kaum Marxis berargumen bahwa penindasan dan eksploitasi ada secara sistematis, dan kita bisa menentukan mekanismenya, bagaimana serta mengapa hal tersebut terjadi, agar kita dapat mengubahnya.

Perubahan tidak lah jatuh dari langit, akan tetapi hanya dapat terjadi jika semua kaum tertindas memahami alam penindasan mereka dan bergabung dengan yang lainnya untuk berjuang menghapuskannya. Itu lah mengapa menjadi signifikan untuk memerangi mitos bahwa perempuan adalah makluk yang selalu tersubordinasi.

Gagasan bahwa ketidaksetaraan jender itu ada secara alamiah dan tidak dapat dirubah, dilihat dari fakta-fakta ilmiah, dalam kenyataannya, hal tersebut merupakan: bagian dari ideologi politik yang reaksioner. Hanya dengan cara menjelaskan sejarahnya–memberi bukti-bukti ilmiah munculnya masyarakat manusia dan perkembangannya–maka semua mitos tersebut dapat dibongkar.

TAMAT

***

Catatan:

1. Diterjemahkan dari buku yang ditulis oleh Pat Brewer, The Dispossession of Women, Resistance Books, 2000.

2. Spesies bertubuh tegak yang berjalan di atas kedua kakinya.

Read Full Article

Karl Marx (1845)

1

Kekurangan utama dari semua materialisme yang ada sampai sekarang–termasuk materialisme Feuerbach–adalah bahwa hal ihwal (Gegenstand), kenyataan, kepancainderaan, digambarkan hanya dalam bentuk obyek (Objekt) atau renungan (Anschauung), tetapi tidak sebagai aktivitet pancaindera manusia, praktek, yang tidak subyektif. Karena itu terjadilah bahwa segi aktif, bertentangan dengan materialisme, dikembangkan oleh idealisme—tetapi hanya secara abstrak karena, sudah barang tentu, idealisme tidak tahu akan aktivitet pancaindera yang nyata sebagai hal yang sedemikian adanya. Feuerbach membutuhkan benda-benda kepancainderaan, yang benar-benar dibedakan dari benda-benda pikiran, tetapi dia tidak mengartikan aktivitet manusia itu sendiri sebagai aktivitet obyektif (gegenständliche). Oleh karena itu, dalam Hakekat Agama Kristen, dia memandang sikap teoritis sebagai satu-satunya sikap manusia yang sejati, sedang praktek digambarkan dan ditetapkan hanya dalam bentuk permunculannya yang keYahudian dan kotor. Karena itu, dia tidak menangkap arti penting aktivitet “revolusioner”, aktivitet “kritis-praktis”.

2

Soal apakah kebenaran obyektif (gegenständliche) bisa dianggap berasal dari pemikiran manusia bukanlah soal teori, melainkan soal praktek. Dalam praktek, manusia harus membuktikan kebenaran itu, yaitu, kenyataan dan daya, serta kesegian (Diesseitigkeit) dari pemikirannya. Perdebatan mengenai kenyataan, atau bukan kenyataan, dari pemikiran yang terasing terhadap praktek merupakan soal skolastik semata-mata.

3

Ajaran materialis yang menyimpulkan bahwa manusia itu adalah hasil keadaan dan didikan, serta bahwa, oleh karenanya, manusia yang berubah adalah hasil keadaan-keadaan lain dan didikan yang berubah, maka janganlah lupa bahwa manusialah yang mengubah keadaan dan bahwa pendidik itu sendiri memerlukan pendidikan. Karena itu, ajaran tersebut, menurut keharusan, sampai pada membagi masyarakat menjadi dua bagian, satu di antaranya adalah lebih unggul ketimbang masyarakat (Robert Owen, misalnya). Terjadinya (secara bersamaan) perubahan keadaan dengan perubahan aktivitet manusia bisa dibayangkan dan dimengerti secara rasionil hanya sebagai praktek yang merevolusionerkan.

4

Feuerbach bertolak dari kenyataan pengasingan-diri secara keagamaan, dengan menggandakan dunia menjadi dunia khayali yang bersifat keagamaan dan dunia nyata. Pekerjaannya berupa melebur dunia keagamaan ke dalam dasar duniawinya. Dia mengabaikan kenyataan bahwa sesudah menyelesaikan pekerjaan itu, hal yang utama masih tetap harus dikerjakan. Karena, kenyataannya, bahwa dasar duniawi itu melepaskan diri dari dirinya dan menegakkan diri di awang-awang sebagai kerajaan yang berdiri sendiri, sesungguhnya hanyalah dapat diterangkan dengan pembelahan-diri, dan sifat penentangan dengan diri sendiri, dari dasar duniawi itu. Karena itu, yang tersebut belakangan itu sendiri, lebih dahulu harus dipahami dalam kontradiksinya dan kemudian, dengan ditiadakannya kontradiksi tersebut, direvolusionerkan dalam praktek. Dengan begitu, misalnya, sekali keluarga duniawi itu ditemukan sebagai rahasia dari keluarga suci, maka yang tersebut lebih dahulu itu sendiri harus dikritik dalam teori serta direvolusionerkan dalam praktek.

5

Feuerbach tidak puas dengan pemikiran abstrak, berpaling kepada kontemplasi kepancainderaan; tetapi dia tidak menganggap kepancainderaan sebagai aktivitet praktis, aktivitet pancaindera-manusia.

6

Feuerbach melebur hakekat keagamaan ke dalam hakekat kemanusiaan. Tetapi hakekat kemanusiaan bukanlah abstraksi yang terdapat pada satu-satu individu. Dalam kenyataannya, ia adalah keseluruhan dari hubungan-hubungan sosial. Oleh karenanya, Feuerbach, yang tidak memasuki kritik terhadap hakekat yang nyata itu, terpaksa:

1. Mengabstraksikannya (dari) proses sejarah dan menetapkan sentimen keagamaan (Gemüt) sebagai sesuatu yang dengan sendirinya dan mengandaikan perorangan manusia yang abstrak-yang terisolasi.

2. Karena itu, baginya, hakekat kemanusiaan bisa dimengerti hanya sebagai “jenis”, sebagai suatu keumuman intern yang bisu yang hanya dengan wajar mempersatukan perorangan yang banyak itu.

7

Oleh karenanya, Feuerbach tidak melihat bahwa “sentimen keagamaan” itu sendiri adalah hasil sosial, dan bahwa perorangan yang abstrak, yang dianalisanya, nyatanya termasuk bentuk khusus dari masyarakat.

8

Kehidupan sosial pada hakekatnya adalah praktis. Segala keghaiban yang, secara menyesatkan, membawa teori kepada mistik menemukan pemecahannya yang rasionil dalam praktek manusia dan dalam pemahaman praktek tersebut.

9

Titik tertinggi yang dicapai oleh materialisme kontemplatif, yakni materialisme yang tidak memahami kepancainderaan sebagai aktivitet praktis, adalah renungan perorangan individu dalam “masyarakat sipil”.

10

Pendirian materialisme lama adalah masyarakat “sipil”; pendirian materialisme baru adalah masyarakat manusia, atau umat manusia yang bermasyarakat.

11

Para ahli filsafat, dengan berbagai cara, hanya telah menafsirkan dunia; akan tetapi, duduk perkaranya, adalah mengubahnya.

Read Full Article

(Ditulis oleh George Novack dalam An Introduction to the Logic of Marxism, yang merupakan bahan kuliah)

Bagian I

Memahami (secara benar) kemajuan ilmu-pengetahuan—yang, sejak abad ke-16, sudah berkembang begitu luas dalam berbagai bidang—merupakan salah satu cara untuk mempelajari metode dialektika secara lengkap. Kemajuan ilmu-pengetahuan menuntut suatu rekonstruksi (radikal) terhadap ilmu logika, sebagaimana juga meluasnya tenaga produktif kapitalis menuntut suatu transformasi (radikal) terhadap tatanan ekonomi dan politik. Hegel, dalam karya filosofisnya, menuntaskan revolusi dalam ilmu logika tersebut dengan penuh kebimbangan (baca: perhitungan), sebaliknya dari yang dilakukan oleh kaum revolusionis kampungan seperti kaum Jacobin yang, secara serampangan, mencoba menata kembali masyarakat dan negara Prancis. Metode dialektika Hegel, yang juga merupakan suatu prestasi dalam sejarah pemikiran, hanya layak disebandingkan dengan metode dialektika Aristoteles.

Karena itu, dalam mempelajari metode dialektika, harus didiskusikan juga konsepsi-konsepsi utamanya. Tujuannya: agar, dalam pelajaran awal logika formal, kita bisa memberikan perhatian khusus terhadap gagasan-gagasan utamanya, atau memfokuskan diri pada tiga hukum fundamentalnya, menuliskannya dalam bentuk formulasi dan, lebih jauh lagi, menganalisa gambaran-gambaran penerapannya serta kekurangan-kekurangannya yang ada.

Gagasan-gagasan metode dialektika bisa bersesuaian dengan metode-metode yang lain. Artinya: kami tidak akan dengan serta-merta memberikan satu atau beberapa hukum fundamental dialektika karena, dengan demikian, akan memagari seluruh sistem logika, sebagaimana yang terjadi dalam kasus logika formal. Kami tak akan mendekati dialektika sebagai sebuah sistem yang tertutup; karena, sebaliknya, dialektika merupakan sebuah sistem yang terbuka, memerlukan pendekatan yang elastis, kongkret dan lebih informal.

1. Perbedaan antara logika formal dengan logika dialektika dalam memandang realitas

Prosedur (yang paling utama) untuk memahami perbedaannya haruslah dengan menangkap motifnya—yang lahir atau dihasilkan karena terdapat perbedaan (menyolok) antara karakter berpikir logika formal dengan logika dialektika. Hukum-hukum dan gagasan-gagasan mendasar logika formal bisa diungkapkan dengan mudah dalam rumusan-rumusan yang sederhana, bahkan juga dengan persamaan-persamaan yang sederhana, karena jeneralisasi sepihak seperti itu memang menunjukkan hakekat utama, keberadaan sesungguhnya, dari cara berpikir formal. Sebagaimana sudah kami jelaskan, hukum-hukum dasar logika formal tidak berisi apa pun selain dari penguraian terhadap sebuah konsepsi tentang identitas yang sudah ditetapkan, hanya seperti itu saja, walau dalam bentuknya yang lain sekali pun.

Logika formal adalah istilah yang salah. Karena formalisme lah yang menjadi nafas kehidupannya, dan formalisme, di mana pun diletakkan, cenderung memelihara rumusan-rumusan mutlak dan tetap—di atas landasan model tiga hukum logika formal, yakni hukum-hukum yang menyatakan, menampung, kandungan realitas yang seolah-olah telah selengkap-lengkapnya, di manapun hukum-hukum tersebut dihadapkan pada realitas. Formalisme mengambil bentuk-bentuk yang spesifik dan episodik, yang dimanifestasikan pada alam, masyarakat, dan pikiran manusia—menilai alam, masyarakat, dan pikiran manusia sebagai sesuatu yang kekal, mutlak dan tetap.

Basis sudut pandang dialektika sepenuhnya berbeda, dan pandangannya terhadap realitas—yang bentuk-bentuknya bisa berubah—(dengan begitu) juga berbeda. Dialektika merupakan logika terhadap gerak, evolusi, dan perubahan. Realitas, sebenarnya begitu penuh dengan kontradiksi, begitu sukar dipahami, begitu beragam, dan tak bisa dikerangkeng dalam satu bentuk tunggal maupun dalam satu atau seperangkat rumusan. Setiap tahapan khusus realitas memiliki hukum-hukumnya sendiri, kategori khasnya sendiri, dan memiliki konstelasi kategori-kategori—yang berkaitan dengan bagaimana kategori-kategori tersebut berbagi/bersesuaian dengan tahapan lain realitas. Hukum-hukum dan kategori-kategori tersebut harus ditemukan melalui investigasi langsung terhadap seluruh kenyataan kongkret, karena hukum-hukum dan kategori-kategori tersebut tidak bisa didapatkan dari hasil perenungan pikiran semata, sebelum realitas materialnya dianalisa. Lebih jauh lagi, seluruh realitas berubah secara konstan, menyingkapkan setiap aspek baru realitas itu sendiri—dan perubahan tersebut harus dipertimbangkan karena tidak bisa lagi dimasukkan ke dalam rumusan yang lama, apalagi aspek yang baru tersebut sudah bukan saja sekadar berbeda, tapi ia juga sering berkontradiksi dengan aspek yang lama.

Metode dialektika berusaha mengakomodir gambaran realitas (yang fundamental) tersebut. Sebagai titik awal keberangkatannya, dan sebagai landasan bagi prosedurnya, metode dialektika harus mempertimbangkan gambaran tersebut. Bila setiap perubahan realitas itu kongkret, penuh dengan pembaruan, mengalir seperti sungai, dibelah oleh kekuatan-kekuatan yang saling-bertentangan, maka dialektika—dalam kerangka logika—yang berusaha menjadi sebuah refleksi, cerminan, murni realitas, harus berbagi karakteristik yang sama dengan realitas. Pemikiran dialektis harus lah kongkret, mampu berubah, selalu segar, mengalir layaknya alur arus pemikiran yang berkilauan, dan siap mendeteksi, menangkap, kontradiksi dalam aluran arusnya.

Para ahli dialektika mengakui bahwa semua rumusan harus lah sementara dan terbatas sifatnya, karena semua bentuk eksistensi pun sifatnya sementara dan terbatas. Semua rumusan yang sifatnya terbatas dan sementara itu lah yang harus diterapkan pada ilmu-pengetahuan dialektika—pada hukum-hukumnya dan pada gagasan-gagasannya. Karena dialektika berhadapan dengan realitas yang selalu berubah, kompleks, dan berkontradiksi, maka rumusan-rumusannya memiliki batasan-batasan intrinsik. Dalam interaksinya dengan realitas obyektif, dan dalam proses pengembangan dirinya—sehubungan dengan aktivitasnya—pemikiran dialektika menciptakan, memelihara, namun selanjutnya juga menyingkirkan rumusan-rumusan lama pada setiap tahap pertumbuhannya. Dialektika mengalami pertumbuhan, berubah, sering dengan cara yang bertentangan, sesuai dengan kondisi material dan intelektual spesifik yang mengendalikannya. Dan dialektika telah melalui dua tahap perkembangan yang krusial, yakni perkembangan dalam versi idealis (Hegel) dan dalam bentuk materialis (Marxisme).

Karenanya, pemikiran dialektika tidak bisa sepenuhnya terdiri dari seperangkat rumusan yang tetap, dan dialektika juga tak dapat dikodifikasi dengan cara yang sama atau dikodifikasi dengan bidang yang sama, sebagaimana lazim dilakukan oleh logika formal. Mendesakkan semacam tuntutan terhadap dialektika, atau berusaha mencekokkan rumusan yang sempurna kepada proses-prosesnya, berarti mengkhianati upaya untuk membedakannya dari metode berpikir formal; cara seperti itu asing, tidak sesuai dengan hakekat esensial dialektika—suatu metode berpikir yang memiliki semangat yang hidup. Seperti kata Goethe, “Kawanku, teori itu berwarna abu-abu, tapi pohon kehidupan yang abadi itu berwarna hijau.”

Namun, semua uraian di muka tersebut bukan berarti dialektika merupakan subyek yang berada di luar hukum, atau bukan berarti tak memiliki hukum-hukum yang bisa dibentuk dalam kerangka yang jelas. Setiap logika harus berkemampuan mendeterminasikan dan mengekspresikan realitas obyektif secara kategoris. Jika tidak demikian, maka upaya untuk mempelajari dialektika akan menjadi upaya yang tak masuk akal, dan ilmu-pengetahuan tentang logika menjadi tak mungkin diwujudkan; selain itu, maka pemikiran logis akan tenggelam ke dalam skeptisisme, yang produk logisnya adalah mistisisme. Segala sesuatu yang terjadi bukan lah hasil dari kekuatan-kekuatan yang mistis, melainkan hasil dari hukum-hukum yang bergerak secara regular dan memiliki kepastian. Itu lah kebenaran yang diperoleh dari proses-proses mental—di sini lah logika secara langsung menempatkan dirinya. Artinya, hukum-hukum proses mental itu memang ada, dan hukum-hukum tersebut bisa ditemukan, diketahui, dan dipergunakan.

Berangkat dari penjelasan sebelumnya, maka dialektika menggabungkan sistemnya sendiri dan menggunakan perangkat-perangkat logika formal—definisi yang ketat, klasifikasi, koordinasi kategori-kategori, silogisme, penilaian, dan sebagainya. Akan tetapi, logika formal menempatkan alat-alat pemikiran tersebut sebagai pelayannya, bukan tuan bagi proses pemikiran. Sebenarnya, elemen-elemen pemikiran logis tersebut seharusnya menyesuaikan diri dengan proses realitas dan dengan realitas pemikiran. Elemen-elemen tersebut tak diperbolehkan melangkahi batas-batas manfaatnya yang ada, tak boleh memaksa (baik realitas obyektif maupun pemikiran), dan tak boleh mengadaptasikan dirinya pada mekanisme dialektika, sebagaimana dilakukan dan dituntut oleh kaum formalis yang picik.

Sebagaimana mesin, alat-alat disubordinasi dan diadaptasikan dengan kebutuhan-kebutuhan proses produksi dan produknya, tak lebih dari itu. Karenanya, seharusnya, bersesuaian dengan alat-alat pemikiran yang dibentuk oleh logika formal atau logika dialektika. Masing-masing harus menemukan tempatnya yang tepat dalam proses produksi mental, bekerjasama dengan alat-alat dan operasionalisasi kerja masing-masing, guna memperoleh hasil yang diharapkan—itu lah konsepsi reproduksi realitas material yang tepat.

Sehubungan dengan teoritisasi formalistik—yang dilakukan oleh seorang profesor Jerman, Stammler, penulis wacana “Ekonomi dan Hukum”, yang berpengaruh terhadap sejumlah intelektual Sosialis Eropa; sebagaimana juga gagasan-gagasan filsuf Morris Cohen, yang berpengaruh terhadap sejumlah intelektual Amerika—Trotsky menegaskan: “Apa yang ditulis oleh Stammler hanya lah salah satu dari sekian banyak usaha untuk memaksa arus besar alam dan sejarah manusia—sejak masih amuba hingga menjadi manusia sekarang ini, dan lain-lainnya—dengan berkubang dalam lingkaran tertutup kategori abadi, yang realitasnya hanya sebatas salinan otak orang yang sok berilmu”. (My Life, hal.119).

Kebiasaan mental yang ditanamkan oleh orang-orang yang sok berilmu itu begitu susah dihilangkan. Khususnya ketika kebiasaan tersebut berakar dalam pemikiran yang dilatih di universitas-universitas borjuis. Menurut kebiasaan tersebut, dialektika dipaksa memberikan temuan hukum-hukum dan gagasan-gagasannya agar berlaku di setiap waktu, untuk semua kegunaan, di semua lingkungan, dan itu sama artinya dengan meniadakan dialektika itu sendiri. Jelas, dialektika tak bisa memenuhinya. Karena, sekali lagi, usaha seperti itu akan mengingkari hakekat utama dialektika itu sendiri, dan dialektika akan tergelincir kembali ke dalam formalisme.

Sebaik-baiknya dan setepat-tepatnya hukum serta gagasan dialektika digambarkan, hasilnya pasti tak akan pernah lebih dari: ‘kira-kira, ini lah yang benar’. Hukum dan gagasan dialektika tak bisa mencakup seluruhnya dan, juga, tak abadi. Tuntutan semacam itu seringkali diminta dan didesakkan oleh kaum borjuis kecil gerakan Marxis yang tetap diperbudak oleh formalisme kehidupan dan pemikiran akademik. Dalam hal itu, Engels berkata, “Sistem pengetahuan alam dan sejarah, yang mencakup segalanya dan dianggap tuntas saat terakhir disimpulkan, tetap berkontradiksi dengan hukum-hukum fundamental metode berpikir dialektika; dialektika lepas atau jauh dari tujuan untuk melakukan pembatasan atau, sebaliknya, justru memasukkan gagasan pengetahuan sistematik tentang alam semesta sehingga bisa membuat langkah besar dari generasi ke generasi” (Anti-Duhring, hal.31).

Kritik yang mencela dialektika kadang kala dipertanyakan dengan begitu bersemangat oleh orang-orang yang mempelajari dialektika: “Jadi, di mana sebenarnya kita bisa menemukan risalah dialektika yang paling pokok?” Ketika mereka diarahkan untuk mempelajari karya-karya Marxis terkemuka—Marx, Engels, Mehring, Plekhanov, Lenin, Trotsky, dan sebagainya—mereka terkejut ketakutan dan berteriak: “Buku-buku tersebut tidak lah seperti buku-buku teks sebagaimana yang biasa kami terima di sekolah dan universitas. Gagasan-gagasannya tidak ditabulasi, tidak disebutkan satu demi satu, dan tidak siap pakai. Buku-buku itu penuh dengan polemik mulai dari halaman pertama hingga yang terakhir; polemik tentang problem-problem kongkret dalam berbagai bentuknya; mereka tidak menuliskan hukum-hukum dan kesimpulan-kesimpulannya dengan tatanan yang tetap dan judul yang pasti; seperti para prajurit dalam jajaran angkatan bersenjata. Di satu tempat dan di suatu waktu gagasan tertentu dihadirkan sebagai yang paling unggul, di tempat dan waktu yang lain berbeda lagi. Lalu, julukan apa yang yang pantas diberikan pada perilaku semacam itu?”

Jika memang itu keberatan-keberatannya, maka jawabannya: apa yang kalian temukan dalam tulisan-tulisan Marxis tersebut bukan lah suatu kejutan. Kami bisa memberikan semua buku teks dan risalah tentang dialektika beserta hukum-hukumnya, sebagaimana yang kalian minta. Bahkan Marx sendiri pun berharap, sebagaimana dalam suratnya pada Engels pada tahun 1858: “Jika pun harus ada waktu untuk mengerjakan hal semacam itu lagi, dengan senang hati aku akan membuatnya dalam cara yang mampu diserap oleh akal sehat manusia biasa, yang tercetak dalam dua atau tiga lembar cetakan (yang hakekatnya tak beda dengan 32 atau 48 halaman cetak), yang akan membahas tentang rasionalitas dalam metode yang ditemukan Hegel yang, sebenarnya, pada saat yang sama, terbungkus dalam mistisisme” (Marx-Engels, Selected Correspondence, hal.102). Nilai kegunaan risalah semacam itu tak terkira besarnya bagi orang-orang yang mempelajari dialektika. Karya-karya Engels—Ludwig Feurbach and the End of Classical German Philosophy dan Anti-Duhring—bisa menyelesaikan tugas yang diharapkan oleh Marx tersebut.

Namun demikian, presentasi sistematis yang ditulis oleh Marx sekalipun belum tentu bisa memuaskan kaum formalis. Mereka haus akan formalisme, akan pengungkapan yang mutlak, final, dan dialektika tak bisa memuaskannya. Menurut dialektika, kebenaran itu selalu kongkret. Itu lah mengapa, sebagai contohnya, dialektika akan selalu menampilkan sesuatu yang terbaik saat menganalisa persoalan-persoalan kongkret dalam bidang pengalaman tertentu; itulah mengapa, secara alami dan tak terhindarkan, dialektika mengasumsikan segala sesuatu dengan karakter yang saling-bertentangan, karakter polemik. Tidak lah mengejutkan bahwa ungkapan sastra terbaik bagi dialektika terdapat dalam dialog-dialog Plato—yang bentuknya kontroversial dan isinya dialektik. Demikian pula halnya dengan Aristoteles, yang terus menerus berpolemik melawan pandangan-pandangan para pendahulunya dan yang ada pada jamannya.

Pemikiran progresif dan revolusioner (dalam ilmu-pengetahuan) secara spontan mengasumsikan, sedikit banyaknya, karakter polemik. Bacalah dialog Galileo sehubungan dengan Dua Sistem Dunia, yang mempertentangkan skema-skema astronomi Copernicus dengan Ptolemeus, yang menyebabkan ia dipenjara. Atau karya Bacon yang berjudul Advancement of Learning, yang menandai era baru dalam pemikiran moderen. “Seluruh isi buku yang kutulis ini merupakan argumentasi yang panjang”, tegas Darwin dalam bagian terakhir karyanya The Origin of Species. Karya-karya yang memeras otak dan mengguncang dunia tersebut berkarkater polemik, dialektik kandungannya, karena mereka mengemban tugas untuk menghancurkan yang lama demi membuka jalan bagi gagasan-gagasan yang baru, atau demi memperbarui kesadaran sosial.

Dalam pidato terkenalnya, On the Essence of Constitutions, yang dicetak ulang pada bulan Januari, 1942, oleh Fourth International, Lassalle menegaskan bahwa konstitusi tertulis negara merupakan ungkapan yuridis konstitusi material struktur sosial yang spesifik, dan konstitusi tersebut bisa berubah seiring dengan peralihan-peralihan dalam hubungan kekuatan-kekuatan kelas. Definisi formal tak akan sanggup menjelaskan asal-usul, perkembangan, dan kehancuran konstitusi negara. Karenanya, kita harus selalu bergerak dengan mengacu pada hubungan-hubungan kelas dan perjuangannya yang nyata ada dalam masyarakat yang, sebenarnya, sepenuhnya, mendasari eksistensi bentuk-bentuk konstitusional, penciptaan, perubahan, dan penghancurannya.

Bukan lah tugas yang besar dalam membuat draft konstitusi tertulis; bisa diselesaikan dalam beberapa hari saja. Pimpinan Bolshevik, Lenin khususnya, pada tahun 1917, menulis konstitusi Republik Soviet dalam waktu yang singkat, seperti sambil lalu saja, namun demikian tetap bertumpu pada kepatuhan untuk mengakomodir kebutuhan perjuangan revolusioner di tahap tertentu. Kaum Bolshevik bukanlah orang-orang formalis. Mereka memahami peran subordinasi semua dokumen formal, menempatkan dinamika perjuangan kelas dan hubungan aktual kekuatan-kekuatan yang terlibat di dalamnya merupakan hal yang harus diwadahi sebagai problem-problem konstitusional.

‘Konstitusi’ tertulis sebenarnya berkarakter sama dengan logika dialektika. Karena konstitusi merupakan cerminan bentuk dialektika satu momen tertentu, memiliki titik pandang spesifik dan terbatas. Karenanya, kodifikasi semacam itu penting, diperlukan dan berguna, namun tidak lah berarti bisa seenaknya melepaskan kepedulian (secermat-cermatnya) terhadap realitas material dan kekuatan-kekuatan yang berkonflik—sebagaimana dialektika mendasarkan dirinya—yang akan menentukan karakteristiknya dan juga akan menentukan perubahan-perubahan karakteristiknya.

Hubungan yang sebenarnya antara materi dengan bentuk mengasumsikan bahwa keduanya harus diteliti, dipahami, karena keduanya selalu saling bergantung dan saling bereksistensi satu terhadap yang lainnya. Bagi para ahli dialektika materialis, itu lah yang disebut gerak materi—yang kini diekspresikan dalam ilmu-pengetahuan alam sebagai energi massa—gerak materi itu lah yang menentukan, bukan bentuk-bentuk sementara dan khusus, dan gerak materi harus dipandang sebagai gerak materi pada satu tahap tertentu dan dalam formasi khusus yang spesifik. Formalisme adalah sesuatu yang menjijikkan bagi materialisme dialektik.

Ketika aku mendiskusikan dialektika (dan kaitannya dengan persoalan-persoalan lainnya) bersama Kawan Vincent Dunne, ia menegaskan bahwa tuntutan terhadap dialektika—agar memiliki pernyataan yang tegas dan cepat—menyerupai permintaan orang-orang baru dalam gerakan massa; menghararapkan parasmanan instruksi-instruksi yang ketat tentang, misalnya, bagaimana merundingkan sebuah kontrak serikat buruh, bagaimana memimpin sebuah pemogokan, bagaimana mengorganisasir sebuah cabang dan, bahkan, menganjurkan “bagaimana mendapatkan dukungan kawan serta mempengaruhi massa rakyat”. Buku-buku panduan dan arahan semacam itu memang sangat membantu, misalnya saja, bagi orang-orang yang menerima instruksi partai-tingkat-pusat. Akan tetapi, buku-buku tersebut memiliki batasan-batasan inheren tertentu. Buku-buku tersebut tak bisa memberikan apresiasi kongkret terhadap situasi aktual—apresiasi yang didasarkan pada sebuah analisis terhadap seluruh situasi yang kompleks, termasuk hubungan-hubungan kekuatan yang ada dan arah perkembangannya. Karenanya, setiap problem yang berbeda atau khusus memerlukan solusi tertentu yang berbeda pula. Lalu, Apa susunan esensialnya?

Kawan Cannon sering mengungkapkannya dalam bentuk pernyataan tegas: “intelejensia tak bisa ada gantinya”. Kita bisa mencapai tahap tertinggi intelejensia bila dibimbing oleh metode dialektika materialis. Bagaimana mungkin intelejensia Marxis seperti itu bisa dicapai? Melalui pengalaman dalam gerakan massa, melalui studi, melalui pemikiran kritis, melalui keterlibatan dalam kehidupan dan perjuangan kelas pekerja sehingga gerakan, semangat, dan pikiran massa menjadi mudah dikenal dan diketahui. Yang demikian itu: gerakan sosial yang memberikan cahaya kehidupan bagi dialektika materialis, mengilhami dan mempromosikan perkembangannya melalui perkawinannya dengan realitas kongkret.

Di sepanjang perjuangannya melawan oposisi borjuis kecil, dialektika materialis dituntut memberikan jawaban (kilat dan mencakup segalanya) bagi seluruh bentuk pertanyaan yang abstrak. Lalu, apa yang akan kamu lakukan dan katakan? Jawaban Trotsky bagi orang-orang yang sangat panik tersebut: “Jawaban bagi persoalan-persoalan ‘kongkret’, sebagaimana yang diinginkan oleh kaum oposisionis, hanya lah sekadar resep-resep yang tercantum dalam sebuah buku pintar, yang berisi tentang, misalnya, epik perang imperialis. Aku tak mau menulis buku pintar semacam itu. Namun, saat kita harus memberikan jawaban (bagi persoalan-persoalan fundamental) dengan pendekatan prinsipil, kita akan selalu bisa memberikan solusi yang tepat bagi setiap problem kongkret, serumit apa pun persoalan tersebut.” (In Defence of Marxism, hal.42).

Tak seorang pun bisa menyediakan sebuah buku pintar tentang dialektika. Namun, gagasan-gagasan utama dialektika bisa dikedepankan dengan suatu cara tertentu—sebagai metode yang bisa dipahami dan digunakan untuk mencari jalan keluar bagi problem-problem kongkret. Engels pernah menulis: “Sejak kita menerima teori evolusi, maka semua konsep kita tentang kehidupan organik selalu harus dihubungkan dengan realitas. Yang tak akan berubah lagi: begitu konsep dan realitas sepenuhnya telah berada dalam dunia organik, maka perkembangan selanjutnya akan menuju ke titik akhirnya. Konsep ikan mencakup kehidupan dalam air, namun bisa bernafas melalui insang: bagaimana mungkin kalian bisa memperoleh suatu manfaat dari ikan (saat akan memahami amfibi) tanpa memecahkan konsep ikan tersebut? Nyatanya, konsep tersebut sudah dipecahkan: kini kita bisa mengetahui berbagai macam ikan yang telah mengembangkan kantung-kantung udaranya (sebagai paru-paru) sehingga bisa menghirup udara. Tanpa mempertentangkan satu atau dua konsep dengan realitas, bagaimana mungkin kalian bisa mempelajari reptilia (petelur) hingga binatang menyusui (yang melahirkan keturunannya)? Kenyataannya, lihat saja monotremata, sub-kelas mamalia petelur—pada tahun 1843, saat aku melihat telur platipus di Manchester, aku kemudian mengejek pikiran sempit dan aroganku. Seekor mamalia petelur sekarang justru menjadi kenyataan! Karenanya, jangan lah memperlakukan konsepsi nilai dengan cara sepertiku, hingga akhirnya harus meminta maaf pada seekor platipus!” (Marx-Engels, Selected Correspondence, hal.530).

Hukum dialektika berada dalam kapal yang sama sebagaimana halnya hukum nilai (ekonomi politik)—dan begitu juga dengan hukum-hukum lainnya. Hukum-hukum tersebut memiliki realitas hanya sebagai perkiraan, kecenderungan, dan pukul rata saja. Hukum-hukum tersebut tak bisa dengan segera, secara langsung dan lengkap berada bersamaan dengan realitas. Karena, bila demikian, maka hukum-hukum tersebut tak akan menjadi refleksi, cerminan (konseptual) realitas, tapi akan menjadi realitas obyektif itu sendiri. Walaupun pemikiran dan eksistensi itu saling tergantung, namun keduanya tidak lah identik.

2. Keabsyahan Realitas—dan Keniscayaannya

Logika formal dimulai dengan pertanyaan: apakah sesuatu itu? Sedangkan dialektika dimulai dengan pertanyaan: apakah yang bukan atau selain dari sesuatu itu? Sekarang kami akan mendiskusikan apakah dialektika itu, apakah isi positif yang terkandung di dalamnya.

Hegel berangkat dari filsafat dan logikanya dengan premis: “Semua yang nyata adalah yang rasional.” Walaupun proposisi tersebut jarang dikemukakan dengan kerangka yang cermat, namun proposisi tersebut berguna dalam membimbing semua praktek dan upaya teorisasi yang akan kita lakukan. Saat diri kita diarahkan pada pekerjaan dan kehidupan sehari-hari kita maka, di seputar kita, terdapat begitu banyak landasan fakta material yang memiliki hubungan-hubungan yang seolah-olah telah mapan, terdapat begitu banyak gejala-gejala alam yang seolah-olah teratur, segalanya seolah-olah berubah menurut hukum-hukum yang pasti—segalanya, termasuk hubungan-hubungannya dan kejadian-kejadian yang muncul kembali secara obyektif, seolah-olah memiliki hukum-hukum yang bisa diketahui dan tepat—padahal, seperti yang dikatakan oleh para akademisi: secara rasional, semuanya harus selalu diamati.

Aturan yang sama, dalam kaitannya dengan rasionalitas, berlaku juga dalam wilayah teori. Memang, teori diarahkan oleh rasionalitas. Semua investigasi ilmiah dihasilkan di atas landasan pengertian bahwa segala sesuatu berhubungan satu dengan yang lainnya dalam cara-cara yang pasti, bahwa perubahan-perubahannya memperlihatkan keseragaman yang pasti, keteraturan, dan keabsyahan—karenanya, keterkaitan, transisi (antara yang satu dengan yang lainnya), serta hukum-hukum perkembangannya bisa diketahui dan dijelaskan. Banyak pemikir skeptis dan kaum agamawan yang menolak bahwa dunia yang nyata adalah dunia yang rasional. Sebagaimana juga postulat utama eksistensialisme. Dan, anehnya, banyak filsuf yang menyatakan bahwa realitas itu tidak rasional, dan karenanya tak mampu diketahui oleh pikiran manusia—walau kesimpulan tersebut diperoleh melalui metode-metode yang rasional. Jadinya: walaupun metode prosedur mereka sebenarnya rasional, namun kesimpulannya menjadi irasional, bohong, dan kontradiktif .

Ilmu-pengetahuan logika harus dipelajari sebagai titik berangkat kesatuan antara proses subyektif pemikiran dengan proses dunia eksternal. Alam itu mampu dipikirkan karena, bila tidak, alam akan bertentangan dengan pemikiran. Segala sesuatu, demi kecukupan eksistensinya, membutuhkan kecukupan pemikiran—harapan tersebut bisa dipenuhi, dan hasilnya bisa dikomunikasikan kepada orang lain. Konsepsi tersebut dirumuskan pada tahun 1646 oleh Leibnitz (ahli logika, matematika dan filsuf terkenal Jerman) sebagai “prinsip pemikiran yang berkecukupan” yang, menurutnya, didasarkan atas: “Kita tahu bahwa tak ada fakta yang dapat diketahui dengan nyata, tak ada proposisi yang benar, tanpa pemikiran yang cukup tentang mengapa sesuatu itu lebih atau berbeda ketimbang yang lainnya.”

Landasan material hukum tersebut: segala sesuatu itu memiliki saling-ketergantungan aktual dan memiliki interaksi timbal-balik di dalamnya. Gambaran-gambaran tentang dunia material tersebut merupakan determinasi konseptual dan ekspresi logis dalam kategori-kategori semacam sebab-akibat, determinisme-kebebasan, dan lain sebagainya. Jika kita mengerti mengapa segala sesuatu, demi kecukupan eksistensinya, membutuhkan kecukupan pemikiran yang diperlukannya, maka akan mengerti lah kita mengapa segala sesuatu itu menjadi ada/berada. Segala sesuatu itu ditekan untuk bereksistensi dan memaksakan caranya sendiri untuk bereksistensi melalui keniscayaan alam. Segala sesuatu itu harus berjuang melawan segala bentuk kekuatan yang menentangnya, dalam rangka menciptakan ruang bagi eksistensi dirinya di dunia nyata. Realitas membuktikan dirinya berdasarkan keniscayaannya. Realitas, rasionalitas, dan keniscayaan, berkaitan erat di segala waktu.

Guna mencerahkan gagasan-gagasan di atas, ambil lah, misalnya, kasus gerakan sosialisme. Sebelum masa Marx, sosialisme adalah utopia, sebuah mimpi usang humanitas, yang tak akan bisa diwujudkan dalam realitas karena prakondisi material yang diperlukannya memang tak ada. Sosialisme, karenanya, tak nyata dan tak diperlukan bagi tahap perkembangan humanitas—irasional, mimpi di siang bolong, dan merupakan penolakan terhadap realitas.

Melalui perkembangan kapitalisme, untuk pertama kalinya, sosialisme memiliki prospek yang nyata sebagai capaian manusia. Marx dan Engels bisa membuktikan hal tersebut setelah berhasil menemukan sosialisme ilmiah. Keduanya berhasil menyingkap bentuk teoritis realitas, rasionalitas, keniscayaan sosialisme dan perjuangan proletariat menuju realisasinya. Namun, perlu dipahami, bahwa hal tersebut paling-tidak merupakan antisipasi teoritis terhadap realitas, bukan sebuah prospek praktek yang mendesak. Sosialisme, pada umumnya, merupakan suatu program dan tujuan yang diperbandingkan dengan realitas sosial kapitalisme.

Namun, dengan berkembangnya gerakan massa proletariat dan perluasan gagasan-gagasan sosialis, sosialisme semakin lama semakin mendekati realitas, keniscayaan, dan rasionalitasnya. Mengapa? Karena, seperti yang ditegaskan oleh Marx dan Engels, gagasan-gagasan akan memperoleh kekuatannya bila massa menerimanya. Lompatan besar idealitas menuju menjadi realitas bisa diwujudkan saat terjadi revolusi Bolshevik, tahun 1917, yang membuat sosialisme jauh lebih nyata ketimbang kapitalisme di atas seperenam permukaan bumi.

Dengan demikian, realitas sosialisme telah terwujudkan melalui pertumbuhan eksistensi material yang semakin lama semakin banyak. Hal itu juga membuktikan rasionalitas keterkaitannya, katakan lah, dengan kebutuhan humanitas yang mendesak lagi nyata dan, terutama, pada bagian yang paling progresif, dengan perkembangan kelas pekerja. Sosialisme membuktikan hasil rasional usaha manusia untuk memperbaiki kondisinya menjadi lebih baik. Hal itu menjadi aktual karena rasional, yakni selaras dengan kecenderungan kemajuan sosial. Sosialisme menjadi rasional karena semakin lama semakin nyata, merupakan kekuatan aktif dalam kehidupan dan perjuangan kemanusiaan. Rasionalitas dan realitasnya bereaksi serta saling-memperkuat satu dengan yang lainnya.

Pada saat dan cara yang bersamaan, saat sosialisme membuktikan rasionalitas dan realitasnya, sosialisme juga membuktikan keniscayaannya. Jika sosialisme tak dibutuhkan, jika kondisi-kondisi yang disyaratkan oleh produksi dan reproduksinya (dengan basis yang diperluas) tak muncul, maka sosialisme tak akan bisa menjadi suatu realitas, sekalipun didorong atau diperbarui dalam jangka waktu yang lama.

Situasi yang sama juga terjadi pada asal-usul dan evolusi spesies: bereksistensi melalui perjuangannya dalam alam organik. Spesies bisa bertahan karena sesuai dengan kondisi-kondisi lingkungannya. Spesies bisa berubah karena keragaman-keragaman dalam spesies yang sama, yang diseleksi oleh alam—sehingga menjadi individualitas yang lebih baik—bersesuaian dengan lingkungan yang berubah dan bahkan dengan penciptaan spesies yang baru. Di situ lah terdapat hubungan yang nyata, masuk akal, dan diperlukan di kalangan spesies tumbuhan, binatang dan lingkungannya, yang menyebabkan spesies itu ada, bertahan, berubah maupun lenyap.

Jikalau segala sesuatu yang aktual itu rasional, itu artinya segala hal di dunia nyata ini memiliki alasan yang cukup untuk eksis dan harus menemukan penjelasan rasionalnya. Semua bentuk kemanusiaan akan menjadi keliru jika mengabaikan eksistensi atau menolak signifikansi rasional beberapa porsi realitasnya. Orang-orang Yunani mengatakan bahwa angka-angka yang berbasis 2 itu ‘irasional’ dan, karenanya, bukanlah angka, sehingga tak perlu diperhatikan. Namun studi dan pengembangan angka-angka ‘irasional’ ternyata melahirkan cabang matematika yang bermanfaat.

Para filsuf Yunani, secara prinsipil, merendahkan nilai praktek sebagai sebuah elemen pengetahuan. Kami, di lain pihak, menempatkan pengetahuan pada landasannya yang sesungguhnya.

Jika tidak karena Freud, para ahli psikologi akan selalu mengabaikan mimpi—kelalaian, kesalahan ucap, akan dianggap sebagai fenomena mental yang remeh dan tak bermakna. Freud menunjukkan bagaimana manusia bisa menyingkapkan operasi terselubung pikiran yang tak sadar.

Seperti juga pengilangan minyak modern yang telah disempurnakan—melalui produk-produk penyulingan dan penggaliannya yang lebih bernilai ketimbang sekadar minyak murni—demikian pula tumpukan sampah warisan sejarah yang tak berharga bisa disempurnakan melalui proses-proses kerja dan berpikir. Menurut Engels, konsepsi materialis (dalam menganalisa sejarah) atau materialisme historis, mendasarkan dirinya pada “fakta sederhana, yang sebelumnya disembunyikan di balik baju ideologis, yakni: bahwa yang pertama-tama harus dipenuhi dalam kehidupan manusia adalah kebutuhan untuk makan, minum, perumahan dan pakaian bagi dirinya, sebelum mereka memberikan perhatian pada politik, ilmu-pengetahuan, seni dan agama…”

Peristiwa-peristiwa yang paling mengerikan dari epik kita—krisis ekonomi, perang sipil, perang imperialis, dan fasisme—kelihatan irasional, luar biasa, dan tak bermakna bagi mentalitas filistin kaum demokrat borjuis kecil. Namun, peristiwa-peristiwa tersebut bukan saja nyata tapi juga diperlukan oleh mereka—dan karenanya memiliki penjelasannya yang rasional. Peristiwa-peristiwa tersebut merupakan proses-proses yang paling penting dan menentukan dalam kehidupan kontemporer. Peristiwa-peristiwa tersebut mengungkapkan hakekat terdalam bagaimana kapitalisme sedang mengejang-sekarat menerima ajalnya. Peristiwa-peristiwa tersebut merupakan manifestasi nyata sistem hubungan sosial yang sangat irasional.

Lebih jauh lagi, apa yang rasional dan dibutuhkan oleh anggota-anggota satu kelas—bagi kelas pekerja: upah yang tinggi karena pajak dan biaya hidupnya yang tinggi—tampak tak masuk akal dan tak dibutuhkan oleh kelas yang menentangnya—pengusaha yang akan terpangkas keuntungannya. Apa yang rasional dari satu sudut pandang sosial yang satu dianggap sebagai puncak absurditas bagi sudut pandang sosial lain yang lain. Namun irasionalitas tersebut memiliki penjelasan rasionalnya, yang nyata: tergantung kepentingan-kepentingan dua kelas yang saling-bertentangan, yang terlibat dalam perjuangan atas pembagian pendapatan nasional.

Gerakan kita, bagi kaum borjuis kecil liberal, begitu tampak tak nyata, begitu tak penting untuk diperhatikan secara serius, bahkan pemerintah yang berkuasa malahan menuntut kita. Mereka ‘mempertahankan’ kita dengan landasan semacam itu. Bagi mereka, kita dilihat sebagai kekuatan signifikan, sebagaimana Stalin, Hitler, Roosevelt—itu karena realitas kita, itu karena kekuatan sosial-politik (laten) yang ada dalam gagasan-gagasan kita. Tuntutan irasional mereka terhadap kaum Trotskis secara rasional juga bisa dijelaskan. Dan akan lebih signifikan lagi bila dorongan revolusioner kaum pekerja dan rakyat yang dijajah (kolonialisme) bisa dimanifestasikan dengan kekuatan yang lebih besar.

Mengapa partai dan gerakan internasional kita bisa eksis? Apa yang sebenarnya sedang terjadi sehingga berbagai individu dari berbagai negeri bisa berada dalam ikatan politik yang kuat dan disatukan oleh disiplin? Itu karena, di bawah kondisi kondisi sosial yang ada saat ini, dan karena eksistensi kita merupakan keniscayaan yang rasional, maka kita lahir dan terus menerus tumbuh semakin kuat. Gerakan Trotskis bukan lah suatu kecelakaan, dan bukan juga kekuatan yang bisa diremehkan. Gerakan kita tercipta untuk memenuhi kebutuhan (kelas pekerja) akan kepemimpinan revolusioner. Kita hadir untuk mengungkapkan kenyataan dan rasionalitas politik kita, sebagai suatu keniscayaan politis.

Itu lah sebabnya mengapa kita harus mempelajari metode dan gagasan kita secara serius. Prinsip-prinsip dan tradisi di atas merupakan patokan untuk menyeleksi kader-kader kita, sesuatu yang penting dan vital bagi eksistensi kita. Itu lah juga mengapa kami mempelajari gagasan-gagasan (yang kami perlakukan secara holistik) dengan begitu seriusnya karena, bagi kita, gagasan-gagasan tersebut secara harfiah merupakan persoalan hidup dan matinya politik. Dan kami telah terlibat dalam berbagai pertempuran mati-matian melawan musuh yang kuat dan tersamar, untuk melindungi, memelihara dan menyebarluaskan gagasan-gagasan tersebut.

Ketimbang semua gerakan politik yang ada, gerakan politik kita adalah yang paling rasional karena gerakan politik kita, dalam makna historis, merupakan yang paling nyata dan yang paling dibutuhkan. Kita harus rasional agar menjadi nyata. Itu lah juga mengapa kita bisa meletakkan begitu banyak kehidupan ke dalam logika kita, dan bisa meletakkan begitu banyak logika ke dalam kehidupan kita. Keduanya, bagi kita, tak bisa dipisahkan.

Orang-orang berdatangan menghampiriku dan berkata: “Anda membuat logika menjadi begitu hidup.” Tak ada keuntungan personal bagiku karena pujian tersebut. Logika kami, dialektika materialis, dengan sendirinya adalah logika kehidupan. Logika tersebut meluap bersama dengan pergerakan, dengan vitalitas, dengan kekuatan. Saat dipelajari dan diajarkan, logika, bagi profesor kelas borjuis (dan borjuis kecil), seperti bangkai, mati. Karena, memang, yang demikian itu lah logika alam semesta yang statis dan mati. Logika mereka semakin lama semakin tak berkaitan dengan realitas kehidupan sosial dan ilmu-pengetahuan yang ada saat ini. Logika mereka adalah fosil masa lalu yang mati, bukan bagian dari masa kini yang hidup, dan bukan bagian dari masa depan yang kreatif. Sebenarnya, logika yang telah diformalisasikan tersebut kini menjadi demikian tak berguna, begitu sterilnya, sehingga para profesornya merajalela bergerak sedemikian jauh, mengerjakan segalanya sesuka hatinya, dan berkata (seperti ucapan Burnham) bahwa logika hanya memiliki kegunaan yang kecil, atau tak berguna secara praktis, atau tak bisa diterapkan di dunia nyata. Suatu pengakuan jujur: kebangkrutan teoritis. Dengan demikian, realitas, rasionalitas dan kepastian, berjalan beriringan satu dengan yang lainnya.

***

Proposisi tersebut kelihatannya membenarkan segala sesuatu yang eksis, menerima eksistensi segala seuatu sebagaimana adanya. Proposisi tersebut, agar bisa berlaku secara tepat, memang seharusnya lah demikian. Segala sesuatu yang eksis membutuhkan pembenaran teoritis karena fakta yang ada, dilihat dari aktualitasnya, memberikan suatu pengakuan yang valid atas rasionalitas, realitas dan kepastiannya.

Doktrin-doktrin kaum konservatif dan kaum reaksioner yang bersandar pada pemikiran Hegel hanya melihat dari sisi tersebut saja: yakni pembenaran terhadap apa yang eksis. Itu lah sisi konservatif pemikiran Hegel dan juga metode dialektika secara umum bila itu memang pilihan kalian. Pemikiran merupakan elemen yang sangat dibutuhkan oleh semua dialektika, termasuk dialektika materialis. Karena segala sesuatu bisa menjadi eksis dan disimpulkan hanya untuk waktu yang telah ditetapkan. Lebih jauh lagi, segala sesuatu yang pernah eksis dalam beberapa tahapan tertentu akan dipelihara namun juga akan dihancurkan oleh apa yang hadir sebelum dan sesudahnya. Yang ada pada masa lalu akan diperlakukan sebagai bahan mentah bagi generasi-generasi yang baru, sebagai bahan mentah bagi pekerjaan dan landasan (jalur tertentu) untuk mempersiapkan masa depan.

Akan tetapi, hal tersebut bukan lah kebenaran akhir pengetahuan kita tentang realitas, hanya merupakan kebijakan awal. Sisi lain realitas dan dialektika yang terkandung di dalamnya akan menjadi tema pelajaran selanjutnya.

Hikmah pelajaran terakhir (yang kita dapatkan) dari dua proposisi Hegel adalah: bahwa kebenaran itu kongret dan, lebih jauh lagi, semua yang riil itu rasional. Dengan sesadar-sadarnya kita mengerti bahwa segala sesuatu itu memiliki eksistensi dan tetap ada dalam segala sesuatu, bukan karena kecelakaan, tetapi sebagai hasil dari kondisi-kondisi yang menentukan dan karena sebab-sebab yang pasti. Terdapat beberapa alur keabsyahan yang bergerak melalui proses-proses realitas dan ditampilkan dalam eksistensi serta keberlanjutan hasil-hasilnya. Dunia nyata memiliki alasan, dan karenanya, secara rasional, direfleksikan dan diterjemahkan dalam pikiran kita.

Dalam diskusi ini kita akan menguji sisi lain proposisi tersebut, tetapi yang mana? Seperti yang akan kita lihat, sisi lain tersebut merupakan sebuah aspek realitas yang tak terpisahkan dari proposisi tersebut. Marilah kita ubah penegasan kita sebelumnya, yakni dalam hal poros dan aspek negatif proposisi tersebut.

Seperti yang sudah kita tegaskan, ukuran kebenaran yang terdapat dalam proposisi tersebut adalah bahwa yang riil itu yang rasional; segala sesuatu memiliki eksistensi dan memiliki ketetapan dalam cara yang absyah dan pasti. Tetapi hal tersebut bukan lah merupakan keseluruhan dan kebenaran akhir segala sesuatu. Kebenaran itu sepihak, relatif dan sementara sifatnya. Kebenaran riil tentang segala sesuatu itu: bahwa segala sesuatu itu tidak hanya eksis, berlanjut, tetapi juga berkembang dan mati. Kematian sesuatu, mengakhiri sesuatu dengan kematian, diungkapkan dengan terminologi logis: ‘negasi’.

Seluruh kebenaran segala sesuatu bisa dibongkar hanya jika kita memperhatikan aspek pertentangan dan aspek negatifnya. Dengan kata lain, jika kita tidak memperhitungkan negasi dari penegasan kita yang pertama maka, sebenarnya, kita sedang memeriksa realitas yang abstrak dan superfisial.

Segala sesuatu itu serba terbatas dan berubah. Segala sesuatu tidak saja memaksakan jalannya tapi juga dipaksa hadir dan mempertahankan dirinya. Segala sesuatu juga berkembang, membelah atau berdisintegrasi, ditendang dari eksistensinya dan, pada akhirnya, menghilang. Dalam kerangka logis, segala sesuatu tak sekadar menegasikan dirinya sendiri. Tampaknya, segala sesuatu juga menegasi dirinya sendiri dan dinegasi oleh sesuatu yang lain. Karena memiliki eksistensi, segala sesuatu bisa berkata kepada realitas dan pemikiran yang mencoba memahaminya: “Ya, aku di sini!” Karena segala sesuatu itu berkembang dan, pada akhirnya, ditendang dari eksistensinya, segala sesuatu akan berkata sebaliknya: “Tidak, aku tak seperti yang dahulu; aku tak bisa menyatakan diriku lagi.” Jika segala sesuatu yang eksis harus keluar dari eksistensinya, dan semua realitas terus menerus menyerbu masuk ke dalam benak kita, maka pemikiran logis kita harus berpendapat: setiap penegasan harus mengungkapkan negasinya. Gerak sesuatu dan gerak pemikiran semacam itu yang disebut sebagai gerakan dialektis.

“Segala sesuatu…pasti menemui ajalnya; dan, dengan demikian, kita memiliki satu persepsi bahwa dialektika merupakan kekuatan yang universal, dan segala sesuatu tak akan bertahan, segala sesuatu tak bisa menetap, seberapa pun aman dan stabilnya segala sesuatu itu menganggap dirinya”, tulis Hegel (Shorter Logic, hal.128).

Kisah Seribu Satu Malam, yang berasal dari Arab, memberikan satu fabel: di awal tahtanya, seorang raja dari Timur bertanya kepada penasehatnya tentang ringkasan dari semua yang telah dipelajarinya, tujuannya untuk mendapatkan kebenaran yang akan ia terapkan pada segala waktu dan di bawah segala kondisi, sebuah kebenaran yang akan menjadi landasan bagi kedigjayaan absolut, sebagaimana yang ia cita-citakan. Akhirnya, di atas ranjang kematian sang raja, penasehatnya memberikan jawaban seperti ini: “Oh, rajaku yang mulia, kebenaran ini (kematian—red.) akan selalu berlaku pada, dan ini juga akan meninggalkan, segala sesuatu.” Jika keadilan ditegakkan, sang raja seharusnya memberikan penghargaan yang besar pada sang penasehatnya karena telah menyingkapkan kepadanya rahasia dialektika. Itu lah kekuatan, kelumpuhan di lihat dari sisi negatif eksistensi, yang selalu muncul, menghancurkan, dan melebihi aspek afirmatif segala sesuatu.

“Kegelisahan yang kuat” ini, sebagaimana disebut Leibnits, adalah kekuatan yang mempercepat tindakan destruktif atas kehidupan—dilihat dari sisi negatifnya—yang terdapat di mana pun selama ia masih beroperasi; dalam pergerakan benda, dalam pertumbuhan eksistensi segala sesuatu yang hidup, dalam perubahan-perubahan substansi, dalam evolusi masyarakat, dan dalam pikiran manusia yang merefleksikan semua proses obyektif tersebut.

Berangkat dari esensi realitas (yang dialektik) tersebut, Hegel menarik kesimpulan yang sangat menentukan pada bagian (tak terpisahkan) aforisme (pepatah)-nya yang terkenal itu: semua yang rasional itu nyata. Tapi, bagi Hegel, semua yang nyata, tanpa pengecualian dan kualifikasi yang selayaknya, memiliki eksistensi. “Eksistensi ada dalam atau sebagian dari penampakan, dan itu hanya lah sebagian dari realitas” (Introduction to Shorter Logic, § 6). Eksistensi secara elemental dan pasti membagi dirinya sendiri, sedangkan berdasarkan pikiran yang menyeledikinya: eksistensi menjadi begitu terbagi ke dalam aspek-aspek pertentangan antara penampakan dan esensi. Persilangan antara penampakan dan esensi tidak lah lebih misterius ketimbang persilangan antara bagian dalam dengan bagian luar sebuah obyek.

Bila bukan sekadar penampakan, lalu apa yang membedakan esensi atau realitas esensial? Suatu materi menjadi benar-benar nyata jika materi itu pasti, jika penampakannya benar-benar berkaitan dengan esensinya, dan jika hanya sepanjang materi itu membuktikan dirinya menjadi pasti. Hegel, seorang idealis yang paling konsisten, berusaha mencari dan mendapatkan sumber kepastian dalam pergerakan pikiran universal—Ide Absolut. Kaum materialis, di lain pihak, mencari dan mendapatkan akar kepastian dalam dunia obyektif, dalam kondisi-kondisi material dan kekuatan-kekuatan yang berkonflik, yang menciptakan, mempertahankan, dan menghancurkan segala sesuatu. Akan tetapi, bila dilihat dari sudut pandang yang benar-benar logis, maupun dari sudut pandang aliran-aliran filsafat, disepakati bahwa terdapat kaitan antara realitas dengan kepastian.

Sesuatu mendapatkan realitasnya karena memang terdapat kondisi-kondisi (yang dibutuhkannya) guna produksi dan reproduksinya, yang beroperasi dan tampil secara obyektif. Atau menjadi (kurang-lebih) nyata bila, dalam perkembangannya, dikaitkan dengan perubahan-perubahan situasi eksternal dan internal. Kesimpulannya menjadi (kurang-lebih) benar sepanjang dan sejauh mana ia berada di bawah kondisi-kondisi yang tersedia. Selanjutnya, bila kondisi-kondisi tersebut berubah, maka ia akan kehilangan kepastian dan realitasnya, ia akan menjadi sekadar penampakan.

Mari lah kita pertimbangkan beberapa ilustrasi proses tersebut—kontradiksi antara esensi dan penampakan, yang dihasilkan oleh bentuk-bentuk yang berbeda dan diasumsikan oleh problem dalam pergerakannya. Dalam proses produksi tanaman—bibit, tunas, bunga dan buah, semuanya, tanpa pilih kasih, merupakan tahap-tahap dalam bentuk-bentuk eksistensinya. Secara terpisah, perkembangan masing-masing harus dilihat (tanpa pilih kasih) sebagai kenyataan, kepastian, dan tahap-tahap rasional perkembangan tanaman.

Setiap eksistensi digantikan oleh eksistensi lainnya dan, karenanya, menjadi kurang pasti serta tidak nyata. Setiap tahap perwujudan tanaman muncul sebagai sebuah realitas yang, selanjutnya, diubah (oleh perkembangannya) menjadi bukan realitas, atau meniadakan penampakan lamanya. Pergerakan tersebut lah—tritunggal (dalam kasus khusus ini), dari yang bukan realitas menjadi realitas yang, kemudian, kembali lagi ke yang bukan realitas—yang menentukan esensi, pergerakan di balik semua penampakan. Penampakan tidak bisa dimengerti tanpa memahami proses tersebut. Itu lah yang menentukan apakah setiap penampakan dalam alam, masyarakat, dan (bahkan) dalam pikiran manusia itu rasional atau non rasional.

Menurut Engels: Republik Roma itu nyata, demikian juga Kekaisaran Romawi yang menggantikannya. Pada tahun 1789, monarki Prancis telah menjadi demikian tak nyata, sehingga bisa dikatakan seolah-olah telah merampok semua bentuk kepastian, begitu tak rasional, sehingga monarki tersebut memang layak dihancurkan oleh Revolusi (Prancis) yang Agung—Hegel selalu berbicara tentangnya dengan antusiasme yang tinggi. Dalam kasus tersebut, monarki merupakan sesuatu yang tak nyata dan revolusi lah yang nyata. Dengan demikian, bila perkembangan dipertimbangkan, maka semua yang sebelumnya nyata menjadi tak nyata, kehilangan kepastiannya, kehilangan haknya untuk eksis, kehilangan hak rasionalitasnya.

Dan, dalam realitas yang sekarat, hadir lah realitas baru, yang mampu hidup—baik secara damai, yakni jika realitas lama memiliki cukup intelejensia untuk sampai ke kematiannya tanpa suatu perlawanan; maupun dengan kekerasan, yakni jika realitas lama mengadakan perlawanan menentang kepastian baru. Dengan demikian proprosisi Hegelian ditentang oleh dialektika Hegelian itu sendiri. Semua yang nyata dalam lingkup sejarah manusia bisa menjadi irasional dalam proses waktu dan, karenanya, membawa irasionalitas dalam mencapai tujuannya, dicemari irasionalitas. Dan segala sesuatu yang rasional dalam pikiran manusia berjuang untuk menjadi nyata, sebanyaknya apa pun ia berkontradiksi dengan realitas yang muncul atau dengan kondisi-kondisi yang tersedia. Sesuai dengan semua aturan metode pemikiran Hegelian, proposisi rasionalitas segala sesuatu yang nyata menentukan dirinya sendiri menjadi proposisi yang lain. “Semua yang eksis mengabdi pada kematian” (Engels, Ludwig Feurbach and the End of Classical German Philosophy).

Kapitalisme sekali waktu memang merupakan suatu sistem sosial yang nyata dan dibutuhkan. Kapitalisme menjadi nyata karena berlandaskan kondisi-kondisi sosial yang ada dan dengan pertumbuhan tenaga produktif manusia. Kapitalisme bereksistensi dan berkembang luas ke seluruh dunia, menggulingkan, mensubordinasikan (pada dirinya), atau menggantikan semua hubungan-hubungan sosial lama, menjadi yang lebih nyata, ke dalam barisan kemenangannya. Kapitalisme, dengan demikian, membuktikan kepastiannya, keniscayaannya, dalam praktek historis—dengan menetapkan realitasnya, rasionalitasnya, dan mendesakkan kekuatannya dalam masyarakat.

Ada suatu ukuran kebenaran—dalam bentuk pernyataan—yang begitu menakutkan kaum filistin: “Yang kuat menjadi benar”. Tapi kaum filistin, yang kurang memahami dialektika, tak mengerti bahwa lawan dari proposisi tersebut juga sama benarnya: “Yang benar menjadi kuat”. Pada saat ini, kapitalisme telah sampai di ujung tali gantungannya, atau lebih dari siap untuk digantung. Sistem produksi kuno tersebut begitu tak dibutuhkan lagi, tak nyata, tak rasional di abad ke duapuluh ini, tak seperti di awal kebangkitannya di abad ke limabelas, atau di sepanjang abad ke delapanbelas dan ke sembilanbelas. Sistem tersebut harus dihapuskan atau dinegasikan, jika manusia ingin hidup dan berkembang. Sistem tersebut akan menegasikan dunia melalui suatu kekuatan sosial dalam kapitalisme itu sendiri, yang jauh lebih nyata dan kuat, yang jauh lebih dibutuhkan dan rasional, ketimbang kapitalisme-imperialis: kaum proletariat sosialis dan sekutunya—kaum tertindas di negeri-negeri jajahan (kolonialisme).

Kelas pekerja memiliki alasan historis dan, karenanya, memiliki hak historis. Perjuangan kelas terbukti lebih efektif ketimbang semua kekuatan yang memiliki kebenaran (hanya pada masa lalu)—misalnya, reaksi kaum kapitalis, seandainya pun ia mengakumulasikan seluruh kekuatan masa lalunya. Revolusi Oktober, 1917, membuktikan bahwa alasan dan hak historis tersebut bisa menjadi cukup kuat untuk mengubah kapitalisme. Negasi terhadap kekuasaan kapitalis merupakan penegasan yang paling kuat terhadap kemungkinan dipenuhinya hak-hak sosial dan politik para pekerja (industrial) untuk mengatur dan membangun kembali tatanan sosial.

Dengan demikian, terbukti bahwa negasi bisa bukan merupakan sesuatu yang menghalangi atau menghancurkan diri sendiri. Negasi merupakan penegasan terhadap langkah atau tahap selanjutnya transformasi diri, dan negasi menunjukkan karakter positifnya sebagai negasi dari negasi, yakni: seluruh penegasan baru, yang mengandung bibit negasinya sendiri. Itu lah yang disebut sebagai dialektika perkembangan, kebutuhan untuk mentransformasikan satu proses ke dalam proses yang lainnya.

Untuk mengerti tentang tahap formatif gerakan Trotskis, sangat lah penting dan tepat jika kita selalu berusaha melampirkan kemunduran gerakan Internasional Ketiga, dengan demikian bisa dimengerti bahwa gerakan Trotskis merupakan upaya untuk memperbarui tingkah laku lama gerakan Internasional Ketiga yang tercela dan, selain itu, merupakan upaya untuk memenangkan program Bolshevik Lenin di hadapan massa pekerja revolusioner. Di Jerman, tahun 1933, setelah menyerah pada Hitlerisme, tak ada reaksi dari jajaran partai—dengan demikian menjadi semakin jelas bahwa proses kemunduran telah mencapai titik kematian. Perubahan kwantitatif telah menghasilkan suatu kwalitas yang baru. Gerakan Internasional Ketiga bukan obatnya—gerakan Internasional Ketiga telah mati. Demikian pula yang terjadi pada Internasional Kedua, ‘mayat busuk’. Internasional Ketiga dikubur Stalin pada tahun 1943.

Karenanya, kebijakan utama kita terhadap Komintern (Komunis Internasional) menjadi tak penting, tak tepat, tak realistis, dan usang. Tahap perkembangan baru menuntut kebijakan baru dan bidang kerja baru yang disesuaikan dengan kondisi yang baru. Kaum Trotskis harus memutus semua ikatannya dengan Internasional Ketiga yang Stalinis, mulai membangun Internasional Keempat yang baru dan sepenuhnya independen. Kita seharusnya bukan untuk memperbarui Internasional Ketiga tapi menggantikannya dengan sebuah organisasi kelas pekerja yang benar-benar revolusioner.

Beberapa orang melihat—dan sebenarnya tetap melihat—adanya kontradiksi (yang tak terpecahkan) dalam tahap-tahap kejadian tersebut. “Bagaimana mungkin, pada satu masa, kalian berniat memperbarui Komintern namun, pada saat lainnya, kalian menyukai kehancurannya?”, demikian kesimpulan mereka. Karena mereka itu sok tahu, mereka menjadi formalistik, tak dialektis baik dalam pemikirannya maupun dalam aktivitas politiknya. Mereka tak mengerti bahwa bila realitas obyektif berubah maka dibutuhkan kebijakan dan strategi baru yang sesuai dengannya—karena memang dibutuhkan dan rasional. Mereka tak mengerti bahwa kebijakan yang berbeda dan, bahkan, bertentangan, bisa dan berlaku untuk mengembangkan salah satu tujuan strategi yang sama. Dalam kerangka logis, mereka tak bisa mengerti bahwa, secara umum, apa yang tampak berbeda bisa menjadi identik. Mereka sekadar berpikir menurut hukum identitas logika formal. Apa yang identik harus selalu/tetap sama, baik dalam penampakan maupun dalam esensinya, tanpa memperhatikan situasi. Tetapi dialektika mengajarkan: apa yang identik juga bisa dan, bahkan, harus berubah.

Problem yang sama juga muncul pada setiap tahap baru perkembangan gerakan kita. Setiap tahap merubah taktik politik kita, yang merupakan suatu keharusan karena adanya perubahan kondisi gerakan buruh radikal, yang telah mengerti makna peperangan antara penganut logika formal dan penganut dialektika. Pada tahun 1934, ketika terjadi penggabungan dengan Partai Buruh Amerika, kaum Oehlerite yang sektarian, pada kenyataannya, menentang penggabungan tersebut, dan berusaha meletakkan kerangka formal untuk menghalangi kaum sentris Musteite, yang juga berusaha mencegah perkawinan indah antara dua kelompok politik berbeda. Gagal dalam mencampuradukkan formalismenya dengan kebutuhan membangun sebuah partai revolusioner di negeri ini, mereka kemudian memisahkan diri.

Di tahun 1935, proposal untuk melebur ke dalam Partai Sosialis memunculkan penentangan dari kaum formalis yang ingin memelihara bentuk organisasi partai yang sudah ada, tanpa memperhatikan kebutuhan politik mendesak dalam proses pembangunan partai proletariat. Mereka berpikir bahwa partai kita telah mencapai struktur organisasional yang sempurna, padahal partai kita sesungguhnya baru dalam tahap pembangunan. Hengkangnya kita dari Partai Sosialis sebaliknya juga memunculkan penentangan dari kaum formalis lainnya, yang mulai mengakomodasikan diri mereka untuk hidup bersama dengan lingkungan kaum sentris, walaupun keharusan politik menunjukkan bahwa perjuangan bersama dengan kaum sentrisme bisa dijalankan hingga ke tujuannya. Tidak lah penting untuk diingat-ingat, dan tak perlu juga heran bahwa, kemudian, beberapa individu yang sama, yang menentang masuknya kita ke dalam partai Sosialis, adalah orang-orang yang paling malas untuk hengkang dari partai sosialis (Martin Abern). Semakin banyak perubahan terjadi, semakin saja formalisme dianggap benar bagi dan oleh dirinya sendiri—karena realitas telah mereka palsukan.

Semua tindakan yang berbeda tersebut yang, oleh kaum formalis dan sektarian, dianggap begitu kontradiktif satu dengan yang lainnya, sesungguhnya merupakan tahap-tahap yang penting dan rasional dalam proses dialektis penggabungan kekuatan-kekuatan kita. Rumusan-rumusan taktik, sebagaimana semua rumusan, harus menyesuaikan dirinya pada bidang yang berbeda, yakni: arus kejadian yang nyata.

Bisa saja kami mengutip berbagai contoh perubahan-perubahan dialektis dalam sejarah partai kami: perubahan terhadap program transisional, perubahan sikap terhadap pembentukan Partai Buruh dan sebagainya. Dengan caranya sendiri, semuanya menegaskan kebenaran dialektika—itu karena semua perkembangan nyata memang bergerak dengan cara yang bertentangan, dengan berlandaskan pada konflik kekuatan-kekuatan (yang eksis) yang saling-bertentangan. Tak satu pun yang mapan tak berubah, atau selesai secara absolut. Segala sesuatu menghilang dalam perkembangan. Kepastian berubah menjadi kurang pasti, atau kemungkinannya berkurang atau kurang memiliki kesempatan; realitas berubah menjadi tak nyata, atau penampakannya berubah; rasionalitas menjadi irasionalitas, kebenaran pada saat yang lalu menjadi setengah benar pada saat sekarang, atau menjadi salah pada saat yang akan datang dan, akhirnya, menjadi kesimpulan yang usang.

Hegel menjeneralisasi gambaran mendasar kenyataan tersebut sebagai hukum logis: bahwa segala sesuatu yang pasti, nyata, dan masuk akal, bisa berubah menjadi sebaliknya selama berada di dalam area lingkungan yang isinya saling mempengaruhi. Menurut hukum-hukum logika formal, hal itu tak mungkin, tak logis, absur, karena mengandung kontradiksi dalam dirinya. Dalam logika formal, kontradiksi, khususrnya kontradiksi diri dalam realitas, adalah tak mungkin, dan tak disyahkan dalam pemikiran.

Setelah Hegel memperkenalkan dialektika, maka hukum logika formal bisa ia koyak-koyak, ia merevolusionerkan ilmu-pengetahuan logika. Meski Hegel pun menyingkirkan kontradiksi dari realitas dan logika, namun ia menjadikannya batu pijakan bagi konsepsi tentang realitas dan sistem logika. Seluruh struktur logika Hegel dihasilkan berdasarkan proposisi identitas, kesatuan dan saling interpenetrasi dari hal-hal yang saling-bertentangan. Sesuatu itu bukan lah sekadar dirinya sendiri tapi juga bisa bukan dirinya. A bukan lah sekadar setara dengan A; tapi juga lebih setara dengan yang non A.

Pencapaian Aristoteles yang agung dan luar biasa—yang tak melepaskan penghargaannya terhadap penemuan para pendahulu Yunani, yang mengakui bahwa A setara dengan A—adalah menjadikan hukum identitas tersebut sebagai landasan bagi penjelasan sistematik ilmu-pengetahuan logika, dan itu tak lebih merupakan upaya untuk membuat epik dalam mensistematisasikan penemuannya; demikian pula yang Hegel lakukan—yang mengakui bahwa A tidak sekadar setara dengan A tapi juga bisa setara dengan yang non A—ia menjadikan hukum identitas, kesatuan dan interpenetrasi dari hal-hal yang saling-bertentangan sebagai basis sistem logika dialektikanya.

Hukum kesatuan dari hal hal yang saling-bertentangan, yang begitu membingungkan dan menakutkan bagi para pecandu logika formal, bisa dengan mudah dipahami tidak saja saat diterapkan pada proses perkembangan aktual dan saling keterkaitan antara berbagai kejadian, tapi juga saat dipertentangkan dengan hukum formal identitas. Memang benar, secara logis, bahwa A setara dengan A; bahwa John adalah John, dan bahwa lima ditambah satu setara dengan enam. Tapi, akan menjadi jauh lebih benar bila A juga setara dengan yang non A; bahwa John bukan lah sekedar John: John adalah seorang manusia. Proposisi yang tepat tersebut bukan lah sebuah penegasan terhadap identitas abstrak tapi sebuah identifikasi dari hal hal yang bertentangan. Kategori logis atau kelas material—manusia—dengan nama John adalah salah seorang manusia yang sama, namun ia bukan sekadar John, ia adalah individu. Manusia, pada saat yang bersamaan, identik dengan yang berbeda dari John.

Logika formal mengabaikan pertentangan, mengabaikan kontradiksi—realitas Indian Amerika sekadar dilihat sebagai balas dendam mereka atas minyak bumi di masa lalu; realitas totalitarian sekadar dilihat sebagai balas dendam terhadap demokrasi. Logika formal mengabaikannya, membuangnya ke keranjang sampah. Hegel memulihkan kembali permata tersebut, memotong dan mengasah perwajahannya dan, dengan demikian, menghaturkan sumbangan besar bagi logika. Ia bisa menunjukkan bahwa pertentangan dan kontradiksi, sekalipun tanpa makna dan tanpa nilai, merupakan faktor-faktor yang penting dalam alam, masyarakat dan pemikiran. Hanya dengan menggenggam kuat prinsip tersebut maka seseorang bisa menangkap getarannya, kekuatan motif yang ada dalam realitas, dalam kehidupan—itu lah landasan logikanya Hegel.

“Ketimbang kita berbicara tentang perumpamaan hukum tiada jalan tengah (the law of excluded middle)—harus disadari bahwa perumpamaan itu merupakan pemahaman abstrak—lebih baik kita lebih mengatakan: segala sesuatu itu bertentangan. Apakah itu di surga maupun di bumi, apakah itu di alam pikiran maupun di alam itu sendiri, karenanya tak terdapat, di mana pun, semacam abstraksi ‘yang baik’; atau tak ada kebenaran, yang masuk akal, terus menerus bisa dipertahankan/dipelihara. Semuanya kongkret, dengan pembedaan dan pertentangan dalam dirinya. Keterbatasan ketetapan, kepastian, segala sesuatu terletak dalam keinginannya untuk saling berkaitan di antara berbagai keberadaannya saat ini, sekarang ini, dan semuanya jelas-jelas ditampakkan oleh segala sesuatu itu sendiri”. (Introduction to Shorter Logic, hal. 119).

Sebagai contohnya, bisa diperhatikan dua proposisi yang telah kita analisa. Yang kedua, proposisi ‘semua yang rasional itu nyata’ merupakan penentangan terhadap yang pertama dan, pada kenyataannya, memang bertentangan: ‘semua yang nyata itu rasional’. Hegel sama sekali tak terganggu oleh kontradiksi tersebut. Sebaliknya, sebagai seorang akhli dialektika, ia mengerti betul bahwa kontradiksi tersebut merupakan suatu petunjuk untuk memahami esensi atau intisari realitas. Ia memahami bahwa hal tersebut merupakan suatu kontradiksi murni, yang harus diterima dan harus berjalan seiring dengannya, karena baik oposisi maupun kontradiksi sesungguhnya nyata dan rasional. Kontradiksi khusus mengungkapkan hakekat inheren segala sesuatu, yang bisa muncul karena memang demikian lah karakter kontradiktif realitas itu sendiri.

Akhli logika formal meletakkan hukum identitasnya dengan cara yang sama sebagaimana monarki absolut meletakkan hukum pada subyeknya. Ini lah hukum; jangan berani melanggarnya. Sama halnya dengan subyek-subyek yang selalu memberontak melawan absolutisme politik maka, demikian juga, kekuatan-kekuatan realitas akan selalu resah hingga, akhirnya, melanggar hukum-hukum logika formal. Proses-proses alam, dalam perkembangannya, selalu mengkontradiksikan dirinya sendiri. Tunas menegasikan bibit, bunga menegasikan tunas, buah menegasikan bunga. Hal yang sama juga terjadi dalam masyarakat. Kapitalisme menegasikan feodalisme; sosialisme menegasikan kapitalisme. “Kontradiksi, di atas segalanya, adalah yang menggerakkan dunia dan sungguh tak masuk akal mengatakan bahwa kontradiksi itu tak terpikirkan. Poin yang tepat dalam pernyataan tersebut: kontradiksi bukan lah akhir dari sesuatu tapi sedang menunda dirinya sendiri.” (Introduction to Shorter Logic, hal.119) Bunga yang menegasikan tunas dan, dengan sendirinya, dinegasikan oleh buah. Kapitalisme menggulingkan feodalisme dan, dengan sendirinya, digulingkan oleh sosialisme. Proses tersebut dikenal dalam logika sebagai hukum negasi dari negasi.

Dalam gerak dialektik tersebut, dalam bagian yang muncul dan menjadi bertentangan, terletak rahasia gerak segala sesuatu yang nyata. Karenanya, di situ terletak juga tempat bersemainya metode logika dialektika, yang merupakan penerjemahan konseptual yang tepat terhadap proses-proses perkembangan dalam realitas. Dialektika merupakan logika bagi materi yang bergerak, atau logika kontradiksi, karena perkembangan dalam dirinya mengandung kontradiksi yang melekat dalam dirinya (inheren). Dalam dirinya, segala sesuatu mengandung kekuatan yang mengarah pada negasinya, dan ketiadaannya berlanjut menjadi bentuk keberadaan yang lebih tinggi.

“Di mana pun terdapat pergerakan, di mana pun terdapat kehidupan, di mana pun segala sesuatu yang beroperasi mempengaruhi dunia aktual, maka di situ lah dialektika bekerja. Dialektika juga merupakan jiwa seluruh pengetahuan yang benar-benar ilmiah. Cara pandang umum memahami sesuatu: penolakan untuk patuh terhadap segala bentuk abstrak pemahaman hanya berlaku bila diterapkan pada hukum. Sebagaimana pepatah berkata: hidup dan biar lah hidup. Tiap-tiapnya harus berubah; kita menghargai yang satu tapi juga menghargai yang lain.

Namun, saat kita melihat lebih dekat, kita menemukan keterbatasan dari yang terbatas (sebagaimana juga yang tak terbatas—G.N.), yang tak sekadar hadir dari ketiadaan; (dalam setiap kasus, dan dengan caranya sendiri) hakekatnya sendiri lah yang merupakan penyebab dari ketiadaannya dan, dengan caranya sendiri, bergerak menjadi lawannya. Sebagai contoh, katakan lah bahwa manusia itu tak abadi dan, yang terpikir, bahwa dasar atau sebab kematiannya adalah hanya dari lingkungan eksternalnya; jika cara pandang tersebut dianggap benar maka manusia memiliki dua kepemilikan khusus: kehidupan dan kematian. Namun pandangan yang benar dalam memahami materi adalah: kehidupan, sebagaimana yang hidup, mengandung bibit-bibit kematian, dan keterbatasan tersebut berperang dalam dirinya sendiri, menyebabkan penghancuran dirinya sendiri.” (Introduction to Shorter Logic, hal. 81). Selain itu, Locke juga mengungkapkan gagasan yang sama saat ia menyatakan: bahwa segala sesuatu yang eksis berada dalam proses ‘terus menerus membusuk’.

Aktivitas dialektik tersebut universal kadar jeneralitasnya. Tak ada tandingan terhadap cakupannya, yang tak kunjung padam dan berkesinambungan. “Dialektika mengungkapkan sesuatu yang bisa dirasakan dalam setiap tingkat kesadaran dan dalam pengalaman umum. Segala sesuatu yang melingkupi kita bisa dipandang sebagai bagian dari dialektika. Kita menyadari bahwa segala sesuatu yang terbatas—selain itu, yang menjadi tidak fleksibel dan berakhir—merupakan yang lebih mampu diubah, mengalir, dan itu lah setepatnya yang kami maksudkan dengan dialektika dari yang terbatas—yang secara implisit dipaksa menyerahkan keberadaannya yang nyata, sehingga seketika berubah menjadi lawannya” (Introduction to Shorter Logic, hal. 81)

Kaum sipil adalah lawan dari tentara. Namun, wajib militer mengajarkan kepada banyak kaum sipil bahwa statusnya sebagai sipil ‘tidak lah tak fleksibel, bisa berakhir, mampu berubah dan sementara’; eksistensinya dalam status sedang menggeliat dan konvensional, tiba-tiba berubah menjadi lawannya. Itu lah yang disebut transformasi dialektik di area yang sama—manusia bahkan, lebih dari itu, bisa sadar bahwa perang tersebut memiliki karakter imperialis dan, walaupun individu diabaikan, karakter dialektik proses tersebut tak akan berubah.

Dialektika merupakan sisi revolusioner Doktrin Hegel

“Apa pun sisi lemahnya, di situ lah tepatnya terletak signifikansi yang benar dan karakter revolusioner filsafat Hegelian… Itu merupakan penyempurnaan (pertama kalinya) terhadap semua produk pikiran dan tindakan manusia, karenanya, yang sebelum-sebelumnya menjelang kehancurannya. Kebenaran, kognisi, yang merupakan bisnis filsafat, di tangan Hegel menjadi tak lebih dari sebuah agregat atau berlama-lama lagi menjadi sebuah agregat—atau kini menjadi pernyataan dogmatik yang tuntas, sehingga orang bisa melakukan studi dengan sesungguh-sungguhnya. Sekarang, kebenaran terletak dalam proses kognisi itu sendiri, dalam perkembangan ilmu-pengetahuan, yang ditinjau secara historis, yang bergerak memuncak dari tingkatan ilmu-pengetahuan yang paling bawah hingga ke tingkatan yang lebih tinggi tanpa pernah bisa menggapai apa yang disebut kebenaran absolut. Itu lah poin di mana kebenaran tak bisa dihasilkan tanpa lebih jauh lagi, tak akan ada lagi yang bisa atau harus dikerjakan kecuali mengekang tangan, menahan diri, atau sekadar menghargai kebenaran absolut yang telah dicapai.

Apapun yang bisa memelihara kebenaran alam pengetahuan filosofis, juga bisa memelihara kebenaran segala bentuk pengetahuan dan hal-hal praktis. Sebagaimana juga pengetahuan, yang tak akan mampu mencapai garis pengehentian yang sempurna (dalam suatu kondisi humanitas yang sempurna, ideal), demikian juga dengan sejarah; sebuah masyarakat yang sempurna, dengan ‘bentuknya’ yang sempurna, hanya lah hal-hal yang sekadar bisa eksis dalam imajinasi. Sebaliknya, seluruh situasi sejarah yang bergunta-ganti hanya lah merupakan tahap-tahap peralihan perkembangan masyarakat manusia, yang tanpa akhir, dari yang tahapan paling rendah menuju ke tahapan yang paling tinggi.

Setiap tahap memang dibutuhkan karena memang dibenarkan oleh waktu dan kondisi, dan setiap tahap memiliki asal-usulnya sendiri. Tapi, dalam kondisi-kondisi baru dan lebih tinggi—yang berkembang dalam rahimnya sendiri—setiap tahapan kehilangan validitas dan justifikasinya. Setiap tahap harus memberikan jalan bagi satu bentuk (tahap) yang lebih tinggi—yang juga akan mengalami kehancuran, melenyap. Sebagaimana juga yang akan menimpa kaum borjuis pemilik industri skala besar, kompetisi dan pasar dunia, dalam prakteknya, akan menghancurkan semua stabilitas pranata-pranata (berpengalaman) lama; pandangan dialektik pun demikian: mewajarkan kehancuran segala konsepsi atau kebenaran absolut dan, demikian juga, mewajarkan kehancuran bentuk absolut kemanusiaan yang berkaitan dengan konsepsi tersebut. Karenanya, tak ada yang final, absolut, dan sakral. Dialektika bisa membongkar adanya karakter peralihan dari sesuatu dan dalam sesuatu, tak ada yang bisa mendorongnya kecuali proses berkelanjutan untuk menjadi dan menghilang, atau perkembangan tanpa akhir dari tahapan yang rendah menuju ke tahapan yang lebih tinggi.

Dan pandangan dialektik sendiri tak lebih dari sekadar refleksi proses otak yang berpikir. Hal itu, tentunya, juga merupakan sisi yang konservatif: pandangan tersebut mengakui bahwa tahap-tahap pasti ilmu-pengetahuan dan masyarakat dibenarkan oleh waktu dan lingkungannya, walaupun hanya dalam batasan-batasan tertentu. Konservatisme cara pandang tersebut, memang, relatif; yang absolut adalah karakter revolusionernya—itu lah satu-satunya keabsolutan yang harus diakui.” (Engels, Ludwig Feurbach and the End of Classical German Philosophy).

***

Read Full Article

Pengantar Lama untuk [Anti]-Dühring (1)

oleh: Friedrich Engels

Tentang Dialektika

Tulisan ini dibuat bukan karena dorongan “nurani untuk berdalih” (2). Sebaliknya, kawanku, Liebknecht, bisa menjadi saksi—ia berusaha keras membujukku agar aku menulis tangapan-kritik atas teori terbaru tentang sosialisme yang ditulis Herr Dühring. Begitu aku putuskan untuk menulisnya, maka tak ada pilihan lain kecuali menyelidiki teori tersebut yang, katanya, merupakan sitim filosofis baru yang membuahkan tuntunan praktis terbaru. Karenanya, sitim baru itu sendiri tersebut harus diuji. Dengan demikian terpaksa aku meneliti Herr Dühring, dengan merambah wilayahnya yang sangat luas—yang membicarakan segala hal yang sebisa-bisanya ia bicarakan, dan juga hal-hal lainnya. Itu lah asal-usul seri tulisan yang diterbitkan dalam Vorwärts Leipzig (3) mulai awal tahun 1877 dan seterusnya, yang sekarang aku sajikan seutuhnya.

Mengapa tulisan ini disajikan dengan begitu rinci—karena hakikat subyeknya, yakni kritik atas suatu sistem yang, sebenarnya, tak berarti selain memuji-muji diri sendiri—itu karena ada dua alasan yang perlu aku kemukakan. Di satu sisi, kritik ini akan memberikan kesempatan padaku untuk membeberkan—dalam bentuk positif berbagai bidang—pandanganku tentang berbagai masalah kontroversial yang, saat ini, memiliki makna ilmiah yang umum dan praktis. Dan, sejumput pun tak terpikir olehku ada suatu sistim alternatif lain yang ditawarkan oleh Herr Dühring; aku harapkan pembaca tidak luput melihat antar-kaitan dengan yang terkandung dalam pandangan-pandanganku yang telah aku ajukan sebelumnya, walaupun bahan yang aku uji sangat beraneka-aragam.

Di sisi lain, Herr Dühring, sang “pencipta-sistem”, sama sekali bukan lah merupakan suatu gejala yang terpisah/terisolir dari kondisi Jerman saat ini. Di Jerman, sudah demikian lama sistem-sistem filosofis—terutama filosofis alam—bermunculan berlusin-lusin bagaikan jamur di musim hujan, belum lagi munculnya sistem-sistem baru yang tak terhitung jumlahnya, apakah itu mengenai politik, ekonomi, dan sebagainya. Persis, layaknya negara modern, setiap warga negara sepertinya berkemampuan memberikan keputusannya terhadap segala masalah yang menyebabkan mereka terpanggil (bertanggungjawab) untuk memberikan suaranya; persis seperti dalam ilmu ekonomi yang mengasumsikan bahwa setiap pembeli adalah seorang ahli mengenai komoditi, yang bisa secara tepat membelinya untuk kepentingannya—asumsi-asumsi semacam itu lah yang harus diputuskan dalam ilmu-pengetahuan. Setiap orang bisa menulis mengenai segala hal, dan “kebebasan ilmu” justru diisi oleh orang-orang yang, dengan sengaja, menulis mengenai hal-hal yang belum mereka pelajari, dan mengemukakannya sebagai satu-satunya metode yang benar-benar ilmiah. Namun Herr Dühring, bagaimanapun juga, adalah tipe orang yang paling berkarakter—sangat congkak mengagung-agungkan ilmu-gadungan-nya—yang, saat ini, di mana pun di Jerman, menampilkan dirinya dan menenggelamkan segala hal ke dalam bualan-muluknya yang gegap-gempita—omong-kosong sublim (yang diagung-agungkan). (4) Omong-kosong sublim dalam puisi, dalam filsafat, dalam ekonomi, dalam historiografi; omong-kosong sublim di ruang-ruang ilmiah dan dipajang-pajang; omong-kosong sublim di mana-mana; omong-kosong sublim yang mengaku unggul dan mendalam pemikirannya yang, katanya, berbeda dengan omong-kosong pasaran yang sederhana dari bangsa-bangsa lain; omong-kosong sublim, produk massal industri intelektual Jerman yang paling berkarakter—murah tapi jelek—persis seperti barang-barang buatan-Jerman yang, sayangnya, omong-kosong sublim tersebut tidak dipamerkan bersama-sama di Philadelphia. (5) Bahkan, akhir-akhir ini, sosialisme Jerman—terutama setelah ada contoh yang paling bagus, yang bisa dilihat pada diri Herr Dühring—rakus pada omong-kosong sublim; apalagi, faktanya, gerakan praktis Sosial-Demokratik sedikit sekali membentengi omong-kosong sublim tersebut, membiarkan dirinya disesatkan oleh omong-kosong sublim tersebut, dan ada bukti lagi: bahwa keadaan kesehatan kelas pekerja kita sangat mengkhawatirkan apalagi mereka berada di negeri yang, sekarang ini, hampir segala sesuatunya, kecuali ilmu-pengetahuan alamnya, sedang dijangkiti penyakit.

Nägeli, dalam pidatonya di Munich, dalam pertemuan para sarjana ilmu-pengetahuan alam, mengajukan ide bahwa pengetahuan manusia tak akan pernah sampai memperoleh watak kemahatahuannya—ia pasti tidak tahu prestasi-prestasi Herr Dühring. Prestasi-prestasi tersebut memaksaku menelusuri sejumlah bidang yang, paling bagus sekalipun, hanya membuatku bekerja dalam kapasitas sebagai seorang pengamat, belum akhli (diletante). Terutama sekali dalam berbagai cabang ilmu-pengetahuan alam yang, bagi orang “awam”, dianggap sebagai kepongahan bila ikut-ikut mengatakan sesuatu tentangnya. Namun, aku sedikit banyak disemangati oleh suatu ungkapan yang diucapkan Herr Virchow—juga di Munich; dan di tempat lain didiskusikan dengan lebih rinci—bahwa, di luar bidang keahliannya sendiri, setiap sarjana ilmu-pengetahuan alam hanya lah seorang setengah-pemula (6), vulgo: awam. Tepat. Seorang ahli seperti dia saja bisa dan harus memberanikan diri, walau kadang-kadang harus bersinggungan dengan disiplin-disiplin ilmu yang mendekatinya—namun tentunya akan diberi kelonggaran oleh para akhli bersangkutan bila ada kekurangcermatan-kekurangcermatan kecil dan kecanggungan dalam mengungkapkannya. Dengan demikian, kuberanikan diriku mengutip proses-proses alamiah dan hukum-hukum alam sebagai contoh-contoh untuk membuktikan pandangan-pandangan teoritisku secara umum, dan aku berharap bahwa diriku memperoleh kelonggaran-kelonggaran tersebut. (7) Hasil-hasil yang dicapai oleh ilmu-pengetahuan alam modern memaksakan setiap orang untuk berurusan dengan masalah-masalah teoritis dan, dengan kekuatan tak-terelakkan yang sama juga, mendorong ilmuwan ilmu-pengetahuan alam sekarang ini mau-tak-mau harus memberikan kesimpulan-kesimpulan teoritis umum. Dalam hal itu, berlaku lah suatu kompensasi tertentu. Bila dikatakan bawa para ahli teori merupakan setengah-pemula di bidang ilmu-pengetahuan alam, maka para sarjana ilmu-pengetahuan alam sekarang ini sesungguhnya juga sama setengah-pemulanya di bidang teori, atau dalam bidang yang hingga kini disebut filsafat.

Ilmu-pengetahuan alam telah mengakumulasikan material positif dengan sedemikan massifnya, yang sangat berguna bagi ilmu-pengetahuan, oleh karena itu harus diklasifikasikan sedemikian rupa ke dalam bidang-bidang investigasi yang terpisah-pisah secara sistimastis. Dan didasarkan pada interkoneksi-dalamnya, ilmu-pengetahuan alam, secara absolut, sudah demikian intrukstifnya. Demikian pula, sudah begitu instruktifnya menggiring bidang pengetahuan yang terpisah-pisah tersebut (individual) ke dalam koneksi yang benar dengan yang lainnya. Ketika dilakukan, bagaimanapun juga, ilmu-pengetahuan alam akan masuk ke dalam bidang teori dan, dengan demikian, metode empirisisme tak bisa dipakai, hanya pemikiran teoritis lah yang akan banyak membantu. Tapi, pemikiran teoritis akan memiliki kualitas yang medalam (tidak empiris) sepanjang ia menghargai kapasitas hakikatnya. Kapasitas hakiki tersebut harus dikembangkan, diperbaiki dan, untuk memperbaikinya, tak ada cara lain kecuali mempelajari filsafat-filsafat sebelumnya.

Dalam setiap kurun, dan karenanya juga dalam kurun kita, pikiran teoritis merupakan sebuah produk historis yang, di waktu yang berbeda, bentuknya pun berbeda dan, dengan demikian, isi/kandungannya pun sangat berbeda pula. Ilmu mengenai pikiran karenanya, seperti semua ilmu lainnya, adalah suatu ilmu-pengetahuan historis, ilmu-pengetahuan mengenai perkembangan historikal pikiran manusia. Yang demikian juga penting sekali bagi penerapan-praktis pikiran dalam bidang-bidang empiris. Karena, pertama-tama, teori hukum-hukum pikiran sama sekali bukan lah suatu “kebenaran abadi” yang berlaku selamanya, seperti nalar cupet filistin (8) yang mereka-reka dengan menggunakan “logika”. Sejak zaman Aristoteles hingga sekarang, logika formal itu sendiri telah menjadi medan kontroversi yang sengit. Dan dialektika sejauh ini telah diteliti secara memadai, mendalam, hanya oleh dua pemikir, Aristoteles dan Hegel. Justru dialektika itu lah yang merupakan bentuk pemikiran yang paling penting bagi ilmu-pengetahuan alam saat kini, karena hanya dialektika lah yang menyediakan analogi dan, dengan demikian, memberikan metode penjelasan terhadap proses-proses evolusioner yang terjadi dalam alam, antar-kaitan antar-kaitan pada umumnya, dan transisi-transisi dari satu bidang penelitian ke bidang penelitian lainnya.

Kedua, mengakrabi pemikiran historis untuk melihat evolusi pikiran manusia, mengakrabi pandangan mengenai saling-koneksi umum dalam dunia eksternal, yang terungkap pada berbagai waktu, sangat dibutuhkan oleh atau merupakan syarat ilmu-pengetahun alam teoritis karena, memang, dianjurkan oleh ilmu-pengetahuan itu sendiri. Di Jerman, bagaimanapun juga, kurangnya keakraban dengan sejarah filsafat justru cukup sering dan, secara mencolok, dipamerkan. Proposisi-proposisi yang diajukan dalam filsafat abad-abad yang lalu, yang acapkali telah lama dikesampingkan secara filosofis, seringkali dikemukakan oleh para pakar ilmu-pengetahuan alam—yang menganggap teori usang tersebut sebagai kearifan keluaran baru, bahkan menjadi mode untuk beberapa saat. Benar-benar merupakan suatu prestasi besar ketika teori mekanika-panas menemukan teori yang memperkuat prinsip koservasi enerji dengan bukti-bukti yang masih segar, dan itu ditonjolkan kembali; tapi apakah prinsip tersebut bisa dikatakan sebagai sesuatu yang mutlak baru bila akhli fisika yang terhormat tersebut mengingat kembali bahwa hal tersebut pernah dirumuskan oleh Descartes? Karena ilmu fisika dan ilmu kimia mengulangi pekerjaannya secara ekslusif, hanya di tataran molekul-molekul dan atom-atom, maka, mau tidak mau, filsafat atomik Yunani kuno tampil kembali ke depan. Itu pun diperlakukan secara dangkal oleh yang terpintar di antara mereka! Jadi, Kekulé berkata pada kita (Ziele und Leistungen der Chemie) (9) bahwa Democritus, yang semestinya Leucippus, yang pertama menemukannya, namun ia bersikukuh bahwa Dalton lah yang paling pertama menyatakan eksistensi atom-atom elementer yang secara kualitatif berbeda-beda dan, katanya, Dalton lah yang pertama juga menemukan pengertian bahwa sumber atom-atom tersebut memiliki elemen-elemen berbeda-beda yang karakter bobotnya pun berbeda-beda. Padahal, setiap orang bisa membaca dalam Diogenes Laertius (X, 1, §§ 43-44 dan 61): bahwa Epicurus telah menemukan pengertian bahwa sumber atom-atom tersebut berbeda-beda bukan saja besaran dan bentuknya namun juga bobotnya, dengan demikian ia, dalam kerjanya, sudah akrab dengan bobot atom dan volume atom.

Tahun 1848, revolusi yang tak tuntas, yang sebenarnya tak memberikan apapun kecuali revolusi di bidang filsafat. Dengan menerjunkan diri ke bidang yang praktis, itu artinya menyiapkan industri modern dan penipuan, itu artinya memprakarsai kemajuan perkasa seperti yang telah dialami oleh ilmu-pengetahuan alam di Jerman, yang dibabtis oleh para pengkhotbah keliling karikatural—Vogt, Büchner, dan lainya—dan bangsa Jerman sedang dengan tegas membalikkan dirinya dari filsafat klasik Jerman yang telah tersesat di padang pasir Hegelianisme-Lama Berlin. Hegelianisme-Lama Berlin memang layak menerima (perlakuan) tersebut. Tapi suatu bangsa yang berniat mencapai puncak-puncak ilmu-pengetahuan tak mungkin berhasil tanpa pemikiran teoritis. Namun, tak hanya Hegelianisme, tapi dialektika juga dibuang ke laut—dan itu justru pada saat sifat dialektis proses-proses alami, tanpa bisa ditolak lagi, sedang mendesakkan dirinya ke dalam pikiran kita, dan saat—karenanya—hanya dialektika lah yang dapat membantu ilmu-pengetahuan alam menyeberangi bukit-bukit teori. Itu lah yang menyebabkan keheningan tanpa-daya metafisika-lama. Yang berlaku di kalangan umum sejak itu ialah, di satu pihak, refleksi-refleksi hambar terhadap Schopenhauer, yang gayanya hanya cocok sebagai kaum filistin, bahkan kemudian cocok bagi Hartmann; dan di pihak lainnya, materialisme vulgarnya si pengkhotbah keliling, Vogt dan Büchner. Di universitas-universitas, varitas-varitas eklektisisme yang paling beraneka-ragam bersaing satu sama lain, namun hanya memiliki satu kesamaan: semuanya hanya diramu dari fosil-fosil filsafat-filsafat lama dan semuanya sama-sama metafisik. Segala yang diselamatkan dari fosil-fosil filsafat klasik adalah neo-Kantianisme tertentu, yang kata akhirnya: “benda-dalam-dirinya-sendiri”, yang selama-lamanya tidak-bisa-dikenali, yang, sebenarnya, hanya sekeping Kantianisme yang paling tidak layak dilestarikan. Hasil akhirnya: ketidakutuhan dan kebingungan pikiran teoretis, yang kini berkuasa.

Orang nyaris tidak bisa memungut satu buku teori pun mengenai ilmu-pengetahuan alam tanpa memperoleh kesan bahwa para sarjana ilmu-pengetahuan alam alam itu sendiri pun merasa betapa mereka sedang dikuasai oleh ketidakutuhan dan kebingungan tersebut, sedangkan apa yang dinamakan filsafat, yang kini beredar, sama sekali tak menawarkan suatu jalan keluar bagi mereka. Dalam hal itu, memang benar-benar tak ada jalan keluar, tak ada kemungkinan untuk mendapatkan kejelasan, kecuali berpindah, dengan satu atau lain bentuk, dari pemikiran metafisik kepada pemikiran dialektis.

Perpindahan ke pemikiran dialektis tersebut bisa dilakukan dalam berbagai cara. Bisa terjadi secara spontan, semata-mata karena kekuatan penemuan-penemuan ilmu-pengetahuan alam itu sendiri, yang menolak dipaksa masuk ke dalam metafisika Procrustean-lama. Tapi proses tersebut akan berkepanjangan, akan menyita banyak tenaga, padahal bisa digunakan untuk menanggulangi begitu banyaknya friksi yang tak perlu. Dalam banyak hal, proses tersebut sudah berlangsung, terutama dalam biologi. Proses tersebut sebenarnya bisa dipersingkat jika para ahli teori di bidang ilmu-pengetahuan alam lebih mengakrabkan diri pada filsafat dialektika dalam bentuk-bentuk yang, secara historis, telah ada. Di antara bentuk-bentuk yang ada, terdapat dua yang, mungkin, khusus bermanfaat bagi ilmu-pengetahuan alam modern.

Yang pertama adalah filsafat Yunani. Dalam filsafat Yunani, dialektika masih tampil dalam bentuk kesederhanaannya yang murni, masih belum terganggu oleh rintangan-rintangan (10) memukau yang dipajang oleh metafisika abad ke tujuhbelas dan ke delapanbelas-—Bacon dan Locke di Inggris, Wolff di Jerman—yang, karena caranya sendiri, menghambat kemajuannya sendiri, sehingga kemudian tidak bisa memahami apa itu bagian dan apa itu keseluruhan, juga tidak bisa memahami inter-koneksi umum benda-benda. Di antara orang-orang Yunani—karena mereka belum cukup maju untuk membedah, menganalisa alam—alam masih dipandang sebagai suatu keutuhan, sebagai sesuatu yang umum. Keterkaitan universal gejala-gejala alam tak terbukti bila kita tak mengerti partikular-partikular; bagi orang-orang Yunani hal tersebut merupakan hasil dari kontemplasi (renungan) langsung. Di situ lah letak kekurangan filsafat Yunani yang menyebabkan ia kemudian harus mengalah pada model-model pandangan lain mengenai dunia. Tetapi di situ pula letak keunggulannya ketimbang semua lawan metafisik mereka berikutnya. Sehubungan dengan Yunani, metafisika benar dalam partikular-partikular; sehubungan dengan metafisika, Yunani benar dalam jeneralisasi. Itu lah alasan pertama mengapa kita harus tertarik pada filsafat, sebagaimana juga bidang-bidang lainnya (yang begitu banyak), yang harus dihubungkan dengan filsafat, agar bisa kembali dan kembali lagi kepada prestasi-prestasi sedikit orang itu, yang memiliki bakat dan aktivitas universal, yang menyempurnakan perkembangan manusia—dan itu tak bisa diklaim oleh siapapun. Alasan lainnya, bagaimanapun juga: bahwa berbagai bentuk filsafat Yunani, dalam embrionya, dalam awal kelahirannya, sudah terkandung hampir semua cara pandang dunia yang ada pada filsafat setelahnya. Karena itu, ilmu-pengetahuan alam teoretis juga harus kembali ke Yunani bila ia berhasrat menelusuri kembali sejarah asal-usul dan perkembangan prinsip-prinsip umum yang dipakainya saat ini. Dan cara pandang tersebut kini semakin mengedepan. Semakin jarang saja contoh-contoh ilmuwan pengetahuan alam yang, sambil beroperasi dengan fragmen-fragmen filsafat Yunani—misalnya filsafat atomik, juga filsafat tentang kebenaran-kebenaran abadi—memandang rendah Yunani (dengan kecongkakan Baconian) karena Yunani tak memiliki ilmu-pengetahuan alam empiris. Akan sangat menggairahkan bila upaya untuk memajukan pandangan tersebut dapat diakrabkan dengan filsafat Yunani.

Bentuk kedua dialektika, yang paling dekat pada para naturalis Jerman, adalah filsafat Jerman klasiknya Kant dan Hegel. Di Jerman, sekarang sudah dilakukan upaya-upaya awal, misalnya, telah menjadi mode untuk kembali pada Kant, bahkan terpisah dari neo-Kantianisme (sepotong-sepotong) seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya. Sejak diketahui bahwa Kant adalah penulis dari dua hipotesis yang brilyan yang, tanpa itu, ilmu-pengetahuan alam teoritis sekarang ini jelas-jelas tak bisa maju—yakni teori (yang tadinya dianggap sebagai penemuan Laplace) mengenai asal-usul sistem matahari dan teori mengenai penghambatan peredaran (rotasi) bumi oleh pasang-surut—dan Kant kembali dihormati oleh kalangan ilmuwan ilmu-pengetahuan alam, yang memang layak diterima oleh Kant. Namun mempelajarai dialektika dalam karya-karya Kant akan merupakan suatu tugas yang sia-sia, membuang banyak tenaga, dan ganjarannya sedikit, karena kini sudah ada, dalam karya-karya Hegel, deretan garis besar komprehensif tentang dialektika, walaupun dikembangkan dari titik-berangkat yang sama sekali salah.

Setelah, di satu pihak, reaksi menentang “filsafat alam” tak memiliki wacana dan merosot menjadi sekadar cercaan—suatu reaksi yang sebagian besar diberi alasan karena kesalahan titik-berangkatnya dan pemerosotan (yang tak tertolong lag) akibat Hegelianisme Berlin; dan setelah, di pihak lain, ilmu-pengetahuan alam terang-terangan ditinggalkan luluh lantak oleh metafisika eklektik karena kekurangan syarat-syarat teoritiknya, maka barangkali ada kemungkinan untuk sekali lagi menyebut nama Hegel di depan para ilmuwan ilmu-pengetahuan alam tanpa memancing tarian St.Vitus yang (begitu mengasyikkan) dipertontonkan Herr Dühring.

Pertama-tama, harus ditegaskan bahwa, dalam hal ini, masalahnya bukan lah untuk membela kelemahan titik-berangkat Hegel—yang berkesimpulan bahwa jiwa, pikiran, ide, adalah primer dan dunia nyata sekadar fotokopi dari ide. Feuerbach sudah meninggalkan kesimpulan tersebut. Kita semua setuju, bahwa di setiap bidang ilmu-pengetahuan, baik dalam ilmu-pengetahuan alam maupun ilmu-pengetahuan sejarah, orang harus memulainya dari fakta-fakta yang sudah tersedia (given facts)—dalam ilmu-pengetahuan alam, karenanya, dimulai dari berbagai bentuk material dan berbagai bentuk gerak materi; karenanya, dalam ilmu-pengetahuan alam teoritis (juga), inter-koneksi inter-koneksi tidak dibentuk menjadi fakta-fakta tapi harus diselidiki di dalamnya dan, saat ditemukan, harus diverifikasi sejauh mungkin lewat eksperimen.
Masalahnya juga bukan untuk membela isi dogmatik sistem Hegelian sebagaimana dikhotbahkan oleh para Hegelian Berlin, baik dari aliran yang lebih tua maupun dari aliran yang lebih muda. Oleh karena itu, bila titik-berangkat idealis sudah bisa ditumbangkan, maka sistim yang dibangun di atas titik-berangkat tersebut—khususnya filsafat alam Hegelian—juga ikut tumbang. Namun harus diingatkan kembali, bahwa polemik ilmuwan ilmu-pengetahuan alam ketika menentang Hegel, sejauh mereka memang memahami Hegel secara tepat, semata-mata ditujukan terhadap dua hal: yaitu, titik-berangkat idealis tersebut, dan konstruksi sistem yang arbiter (serampangan) serta mengingkari fakta.

Setelah semua nya dijadikan bahan pertimbangan, sebenarnya masih ada juga yang tersisa dari dialektika Hegel. Karena jasa Marx lah—berbeda dengan Eniyovo (11) yang cuma setengah-setengah saja, tanggung-tanggung, congkak, cerewet, genit, tapi kini bekoar-koar di Jerman yang berkebudayaan—untuk yang pertama kalinya, metode dialektika diangkat kembali setelah dilupakan. Marx pula lah yang bisa menjelaskan kaitan dan perbedaan dialektikanya dengan dialektika Hegelian dan, pada saat yang sama, menerapkan metode tersebut—dalam karyanya, Capital—pada fakta-fakta ilmu-pengetahuan empiris, ekonomi politik. Dan ia berhasil melakukannya sehingga, bahkan di Jerman pun, aliran ekonomi baru mengangkat-ngangkat perbincangan mengenai sistem perdagangan-bebas—yang masih vulgar karena hanya menyalinnya dari Marx (namun sering meleset)—dengan alasan (berpura-pura) mengritiknya.

Dalam dialektika Hegel masih berlaku posisi-terbalik, yang juga berlaku baik dalam semua inter-koneksi maupun dalam semua cabang lain dalam sistemnya. Tapi, sebagaimana yang dikatakan Marx: “Di tangan Hegel, Mistifikasi yang diderita dialektika sedikit pun tak menghalanginya untuk menjadi yang pertama menyajikan bentuk umum bagaimana dialektika bekerja secara konprehensif dan dengan cara yang sadar. Oleh Hegel dialektika diberdirikan oleh kepalanya. Dialektika harus dibalikkan agar berdiri secara benar, agar orang bisa menemukan inti-rasional di balik kulit mistiknya.” (12)

Dalam ilmu-pengetahuan alam sendiri, cukup sering kita menemukan teori-teori yang relasi nyatanya berdiri dengan kepalanya, refleksinya diambil dari bentuk aslinya, karenanya harus dibalik agar berdiri dengan kakinya. Teori-teori seperti itu cukup sering mendominasi dalam jangka waktu yang panjang. Selama hampir dua abad, panas itu dipandang sebagai suatu zat istimewa yang misterius, padahal hanyalah merupakan bentuk gerak materi biasa, tapi itu lah memang yang terjadi. Dan teori mekanik mengenai panas lah yang melakukan pembalikan tersebut. Namun begitu, ilmu fisika didominasi oleh teori kalori, yang menemukan serangkaian hukum yang sangat penting mengenai panas dan membuka jalan, khususnya melalui Fourier dan Sadi Carnot, (13) bagi konsepsi yang benar, sehingga kini bagian-bagiannya telah membalikkan secara tepat hukum-hukum yang ditemukan oleh pendahulunya, atau untuk menerjemahkannya ke dalam bahasanya sendiri. (14) Demikian pula dalam ilmu-kimia, teori folgistik (15) (phlogistic) pertama-tama memberikan bahannya, yang diambil dari seratus tahun kerja eksperimentasi, dan dengan bantuan Lavoisier berhasil menemukan—di dalam oksigen yang ditemukan Priestley—penangkal sesungguhnya terhadap fantasi folgiston sehingga bisa membuang jauh-jauh seluruh teori folgistik. Tapi hal itu bukan berarti bisa menyingkirkan sama sekali hasil-hasil eksperimentasi ilmu folgistik. Bahkan sebaliknya. Teori-teori folgistik tetap bertahan, hanya formulasinya saja yang dibalikkan, sudah diterjemahkan dari folgistik ke dalam bahasa kimia yang kini berlaku dan, dengan demikian, teori-teori folgistik masih mempertahankan kesahihannya.

Hubungan dialektika Hegelian terhadap dialektika rasional sama seperti hubungan teori kalori terhadap teori mekanik (mengenai panas) dan hubungan teori folgistika terhadap teori Lavoisier.

***

Catatan:

1. Marx, Karl dan Engels, Frederick, Selected Works, Vol. 3 (Progress Publishers: Moscow, 1977), hal. 58.

2. Ada yang menerjemahkan “dorongan kalbu”; atau mungkin bisa juga “kalbu berkilah” atau “kilah lubuk hati”; yakni memberikan alasan/penolakan yang datang dari lubuk hati, kalbu atau nurani. (—ed.)

3. Vorwärts (maju)—organ sentral Partai Buruh Sosialis Jerman, yang diterbitkan di Leipzig dari 1 Oktober, 1876, hingga 27 Oktober, 1878. Tulisan Engels, Anti-Dühring, diterbitkan dalam organ tersebut antara 3 Januari, 1877, hingga 7 Juli, 1878.

4. Pikiran-pikiran, pendapat-pendapat, atau kesimpulan-kesimpulan primitif yang disampaikan oleh orang kuno, bodoh, kepada intelektual modern; Merriam Webster’s Collegiate Dictionary, Tenth Edition (Merriam-Webster, Incorporated: Springfield, Massachusetts, USA,1996) hal.1172. (—ed.)

5. Mengacu ke Pameran Industri Dunia ke VI, yang dibuka di Philadelphia, Amerika Serikat, pada tanggal 10 Mei, 1876; empatpuluh negeri turut berpartisipasi dalam pameran tersebut, termasuk Jerman. Pameran tersebut membuktikan bahwa industri Jerman masih ketinggalan dan dijuluki berprinsip “murah tapi jelek.”

6. Mengacu pada pidato Nägeli dan Virchow di Kongres Sarjana-sarjana ilmu-pengetahuan alam dan fisika Jerman, September, 1877, dan juga mengacu pada proposisi Virchow dalam bukunya Die Freiheit der Wissenschaft im modernen Staat (kebebasan ilmu dalam negara modern), Berlin, 1877, hal. 13. Bahan-bahan Kongres diterbitkan dalam Tageblatt der 50. Versammlung deutscher Naturforscher und Aerzte in München 1877 (buletin kongres sarjana-sarjana Ilmu-pengetahuan alam dan fisika Jerman ke-50 di Münich, 1877).

7. Engels tidak mau lagi menggunakan teks tersebut—ia mencoretnya—karena ia menggunakannya dalam Pengantar edisi pertama Anti-Dühring.

8. Philistine: Penduduk asli Palestian-kuno barat daya; seseorang—yang di luar kebiasaan masyarakatnya, sering tak menggunakan tudung kepala—yang dipandu oleh filsafat materialisme dan selalu mengagung-agungkan pemikiran-pemikiran intelektual dan nilai-nilai artistik; seseorang yang kurang pengetahuannya dalam pengetahuan tertentu; Merriam Webster’s Collegiate Dictionary, Tenth Edition (Merriam-Webster, Incorporated: Springfield, Massachusetts, USA,1996) hal.872. (—ed.)

9. Engels mengacu pada pamflet Kekulé Aims and Achievements of Chemistry, yang terbit di Bonn pada tahun 1878. (—ed.)

10. “Enchanting Obstacle” (holde Hindernisse); hambatan tapi memukau—suatu ungkapan dari New Springnya Heine, prolog. (—ed.)

11. Mengacu pada filosof-filosof borjuis Jerman seperti Büchner, Lange, Dühring, Fechner dan yang lain-lainnya; Marx, Karl dan Engels, Frederick, Selected Works, Vol. 2 (Progress Publishers: Moscow, 1977), hal. 98.

12. Marx, Karl dan Engels, Frederick, Selected Works, Vol. 2 (Progress Publishers: Moscow, 1977), hal. 98.

13. Mengacu pada buku-buku: J.B.J. Fourier, Thëorie analytique de la chaleur (analisa teori tentang Panas), Paris, 1822 dan S. Carnot, Rëflexions sur la puissance motrice du feu et sur les machines propes à développer cette puissance (refleksi terhadap kekuatan motif api dan mesin untuk mengembangkan kekuatan tersebut), Paris, 1824. Engels kemudian mengacu pada fungsi C dalam catatan halaman 73-79 buku Carnot.

14. Fungsi C Carnot secara harfiah membalikkan: 1/c = temperatur absolut. Tanpa pembalikan tersebut tak satu pun bisa dikerjakan olehnya [catatan Engels].

15. Menurut pandangan yang berlaku dalam ilmu kimia pada abad ke-18, folgiston (phlogiston) dianggap sebagai prinsip pembakaran (kerentanan daya bakar, mudah terbakar, mudah panas, mudah meledak) yang diperkirakan, diharapkan, eksis dalam raga-raga (bodies) yang mudah terbakar. Kerapuhan teori tersebut dibuktikan oleh Lavoisier, akhli kimia terkemuka Perancis, yang memberikan suatu penjelasan yang benar tentang proses pembakaran, yakni sebagai kombinasi kimia antara zat-zat yang mudah terbakar dengan oksigen.

Read Full Article

Oleh George Novack

Daftar Isi

Bahan I : Logika Formal dan Logika Dialektik

Bahan II : Keterbatasan Logika Formal

Bahan III: Sekali Lagi, Tentang Keterbatasan-Keterbatasan Logika Formal

Pelajaran di bawah ini adalah tentang pemikiran dialektika materialis, atau apa yang dikenal sebagai logika Marxisme.

Betapa mengejutkan, apakah pelajaran ini memang penting? Di sini berkumpul anggota dan simpatisan dari sebuah partai revolusioner yang, di tengah-tengah perang dunia ke II, sedang berada di bawah tekanan pemerintah. Perang tersebut merupakan sebuah perang terbesar dalam sejarah dunia. Buruh-buruh industri, kaum revolusioner profesional, berkumpul bersama bukan untuk membicarakan dan memutuskan sebuah aksi bersama, tapi untuk mempelajari sebuah ilmu yang menjadi tuntunan—sama seperti matematika tingkat tinggi—bagi perjuangan politik sehari-hari sekarang ini.

Alangkah berbedanya dengan karikatur yang menyakitkan (tentang gerakan marxis) seperti yang di gambarkan oleh tangan-tangan kelas kapitalis! Kelas-kelas pemilik menggambarkan kaum sosialis yang revolusioner sebagai orang-orang gila yang culas dan sedang membohongi diri sendiri serta orang lain dengan pandangan-pandangan fantastisnya tentang dunia kelas buruh. Kita pun bisa membuat karikatur seperti itu: penguasa-penguasa kapitalis layaknya seperti anak-anak kecil yang yang sedang marah melihat gambaran sebuah dunia tanpa ada mereka atau tanpa peran sentral mereka.

Mereka mengaku bahwa mereka lebih logis dan masuk akal. Akhirnya, kini telah terbukti bahwa, dengan melihat bagaimana cara mereka memandang dunia, bisa dipisahkan siapa sebenarnya yang irasional dan siapa yang rasional dan masuk akal: kaum kapitalis kah atau musuhnya—kaum revolusioner. Susunan masyarakat pada saat ini sedang menuju ke arah kekacauaan dan berlaku seperti seorang maniak. Mereka menenggelamkan dunia ke dalam pembunuhan massal untuk kedua kalinya dalam seperempat sejarah manusia; mereka menyalakan obor peradaban; namun kemudian menghancurkannya tanpa sisa-sisa kemanusiaan. Dan juru bicara mereka selalu menyebutkan kita “gila”, dan perjuangan kita untuk sosialisme dilihat sebagai sebuah bukti yang “tidak realistis”.

Mereka yang salah! Dalam pertempuran melawan kekacauaan-gila kapitalisme, demi sebuah sistim sosialis yang bebas dari penghisapan dan penindasan kelas, bebas dari perang, bebas dari krisis, bebas dari perbudakan imperialisme dan bebas dari barbarisme—kita, kaum marxis, merupakan orang-orang yang paling beralasan dan masuk akal sepanjang hidup kita. Itu lah mengapa—tidak seperti kelompok-kelompok politik lainnya—kita harus mempelajari ilmu logika secara serius. Perjuangan kita melawan kapitalisme, demi sosialisme, tak bisa digagalkan dengan cara menghancurkan logika kita karena logika kita adalah sebuah alat yang tak dapat dihancurkan.

Logika atau cara pikir dialektika materialis pasti lah berbeda dengan logika atau cara pikir borjuis yang ada sekarang ini. Metode kita, ide-ide kita—seperti yang ingin kita buktikan—lebih ilmiah, jauh lebih praktis dan jauh lebih “logis” ketimbang logika (cara pikir) lainnya. Kita menyusunnya dengan berbagai perbandingan dan jauh lebih lengkap karena diisi oleh prinsip-prinsip mendasar ilmu-pengetahuan yang bisa menemukan logika hakikat relasi-relasi semua realita—oleh karenanya, hukum-hukum berfikir bisa disebarkan luaskan pada yang lain (pada masyarakat di sekeliling kita yang terlihat tak berperasaan) dan dapat dipelajari. Itu lah metode kita—walaupun harus hidup di tengah-tengah kegilaan kelas kapitalis. Tugas kita adalah menemukan hukum-hukum yang paling umum dari logika terdalam alam, masyarakat dan jiwa manusia. Sementara borjuis kehilangan akal sehatnya, kita harus mencoba mengembangkan dan memperjelas logika kita.

1. Pengertian Awal Logika

Logika adalah sebuah ilmu. Setiap ilmu memperlajari suatu gerak khusus dalam hubungannya dengan corak gerak material lainnya, dan berusaha untuk menemukan hukum-hukum umum dan corak tertentu dari gerak tersebut. Logika adalah ilmu tentang proses berfikir. Seorang akhli logika mempelajari kegiatan-kegiatan proses berfikir yang ada di kepala setiap manusia dan mencoba merumuskan hukum-hukum, bentuk-bentuk dan inter-relasi semua proses mentalnya.

Dua tipe penting logika yang pernah muncul dalam dua tahap perkembangan ilmu logika adalah: logika formal dan logika dialektik. Keduanya merupakan bentuk-bentuk perkembangan tertinggi gerak mental. Keduanya memiliki kesesuaian fungsinya—pengertian sadar terhadap semua bentuk gerak.

Walaupun kita baru saja tertarik pada dialektika materialis, jangan lah kita langsung mempelajari dialektika materialis sebagai cara berfikir. Kita harus mendekati dialektika secara tidak langsung dengan pertama kali menguji ide-ide mendasar dari jenis lain cara berfikir: cara berfikir logika formal. Sebagai metode berfikir, logika formal adalah lawan dari dialektika materialis.

Dalam ilmu logika, mengapa kita harus memulai pelajaran kita tentang motode dialektika dengan mempelajari lawannya?

2. Perkembangan Logika

Ada beberapa alasan mengapa cara tersebut kita ambil. Pertama, dalam sejarah perkembangan cara berfikir, dialektika merupakan perkembangan lebih lanjut dari logika formal. Logika formal adalah sebuah ilmu-pengetahuan besar tentang sistim proses berfikir. Logika formal merupakan hasil karya filasat zaman yunani kuno. Pemikir-pemikir Yunani kuno awal lah yang menemukan metode berfikir. Pemikir Yunani kuno, seperti Aristoteles, mengumpulkan, mengkelasifikasikan, mengkritik dan mensistimasikan hasil-hasil positif dari berbagai pemikiran dan membangun sebuah sistim berfikir yang disebut logika formal. Euklides melakukan hal yang sama untuk dasar-dasar geoemetri; Archimides untuk dasar-dasar mekanika; Ptolomeus dari Alexandria kemudian menemukan astronomi dan geografi; dan Galen untuk anatomi.

Logika aristoteles mempengaruhi cara berfikir umat manusia selama dua ribu tahun. Cara fikir tersebut tidak memiliki lawan sampai kemudian ditantang, dijatuhkan dan menjadi ketinggalan zaman oleh dan karena dialektika, sebuah sistim besar kedua dalam ilmu cara berfikir. Dialektika merupakan hasil dari gerakan ilmu-pengetahuan revolusioner selama seabad, yang dilakukan oleh pekerja-pekerja intelektual. Dialektiaka muncul sebagai cara fikir terbaru dari filsuf-filsuf besar dalam Revolusi Demokratik di Eropa Barat (pada abad ke-6 dan abad ke-17). Hegel, seorang tokoh dari sekolah filsafat idealis (borjuis) di Jerman, adalah seorang guru besar yang pertama kali mentransformasikan ilmu logika, seperti di sebutkan oleh Marx: “…bentuk-bentuk umum gerakan dialektika yang memiliki cara yang komprehensif dan sadar sepenuhnya.”

Marx dan Engels adalah murid Hegel dalam lapangan Logika. Dalam ilmu logika, mereka berdua lah yang kemudian melakukan revolusi pada revolusi Hegelian—dengan menyingkirkan elemen mistik dalam dialektikanya, dan menggantikan dialektika idealistik dengan sebuah landasan material yang konsisten.

Pada saat kita mendekati dialektika materialis dengan menggunakan logika formal, kita harus memundurkan langkah kita pada sejarah aktual kemajuan ilmu logika, yakni perkembangan dari logika formal menuju ke logika dialektik.

Adalah salah jika kita mengira bahwa sejarah perkembangan cara berfikir adalah seperti ini: bahwa para filsuf Yunani tidak mengetahui soal dialektika; atau mengira Hegel dan Marx menolak sepenuhnya logika formal. Seperti yang dituliskan oleh Engels: “…filsuf yunani kuno sudah dialektik sejak kemunculannya dan Aristoteles, sebagai intelektual yang paling ensiklopedis di antara mereka, bahkan sudah menganalisa bentuk-bentuk paling esensial pemikiran dialektik.” Tak ketinggalan pula, dialektika muncul dalam bentuk cikal bakalnya dalam pemikiran filsuf Yunani. Namun filsuf Yunani belum dan tidak dapat mengembangkan serpihan-serpihan pemikiran dialektik dalam sebuah sistimatika berfikir yang ilmiah. Mereka menyumbangkan serpihan-serpihan pemikiran tersebut hingga menjadi bentuk akhir logika formal Aristoteles. Pada saat yang bersamaan, penelitian dialektika mereka, kritisisme pada cara fikir formal dan sebaliknya—dan semua persoalan yang dihadapinya—dilakukan dengan keterbatasan logika formal, yang diperjuangkan selama berabad-abad—yang, kemudian, dapat diselesaikan oleh dialektika Hegelian dan, kini, oleh dialektika Marxis.

Para akhli Dialektika modern tidak melihat logika formal sebagai sesuatu yang tak berguna. Sebaliknya, mereka menganggap bahwa logika formal tidak sekadar sesuatu yang penting dalam sejarah perkembangan metode berfikir tapi juga cukup penting pada saat ini agar berfikir benar. Tapi, dalam dirinya, logika formal jelas kurang lengkap. Unsur-unsur absyahnya menjadi bagian dalam dialektika. Hubungan antara logika formal dengan dialektika menjadi berkebalikan. Di dalam pemikiran Yunani klasik sisi formal logika menjadi dominan dan aspek dialektiknya menjadi tergeser. Dalam ajaran modern, dialektika berada di garda depan dan sisi formal logika menjadi sub-ordinat terhadapnya.

Karena kedua tipe yang bertentangan tersebut memiliki banyak kesamaan, dan logika formal masuk sebagai materi struktural dalam kerangka logika dialektik, maka berguna sekali bagi kita menguasai logika formal. Dalam mempelajari logika formal, secara tak langsung, kita sudah siap menuju logika dialektik. Dengan mengakui, atau setidaknya sedikit mengakui, logika formal, kita telah siap memisahkan logika formal dari logika dialektik. Hegel menunjukkan hal yang sama: ”Dalam kedekatannya yang terbatas (antara logika formal dan logika dialektik) terdapat suatu kotradiksi yang bisa menyumbangkan sesuatu ke dalam dirinya (sehingga menjadi logika dialektik).”

Akhirnya, lewat prosedur tersebut, kita mendapatkan pelajaran berharga dalam pemikiran dialektik. Hegel menjelaskan lagi: “Sesuatu tidak bisa dikenali secara menyeluruh sebelum mengenali lawannya.” Contohnya, kau tidak dapat benar-benar mengerti tentang seorang buruh-upahan sampai kau mengetahui bagaimana sebaliknya lawan sosial ekonominya, kelas kapitalis. Kau tidak dapat mengetahui Trotskyisme sampai kau mempelajari secara mendalam esensi antitesis politiknya, yakni Stalinisme. Jadi kau tak akan bisa mempelajari kedalaman dialektika tanpa pertama kali mempelajari secara mendalam sejarah pendahulunya dan antitesis teoritisnya, yakni logika formal.

3. Tiga Hukum Dasar Logika Formal

Ada tiga hukum dasar logika formal. Yang pertama dan terpenting adalah hukum identitas. Hukum tersebut dapat disebutkan dengan berbagai cara seperti: “sesuatu adalah selalu sama dengan atau identik dengan dirinya, dalam Aljabar: A sama dengan A.”

Rumusan khusus hukum tersebut tak terlalu penting. Pemikiran esensial dalam hukum tersebut adalah sebagai berikut. Dengan mengatakan bahwa sesuatu itu sama dengan dirinya, maka dalam segala kondisi tertentu sesuatu itu tetap sama dan tak berubah. Keberadaannya absolut. Seperti yang dikatakan oleh akhli fisika: ” materi tidak dapat dibuat dan dihancurkan.” Materi selalu tetap sebagai materi.

Jika sesuatu adalah selalu dan dalam semua kondisi sama atau identik dengan dirinya, maka ia tidak dapat tidak sama atau berbeda dari dirinya. Kesimpulan tersebut secara logis patuh pada hukum identitas: Jika A selalu sama dengan A, maka ia tidak pernah sama dengan bukan A (Non-A).

Kesimpulan tersebut dibuat secara eksplisit dalam hukum kedua logika formal: hukum kontradiksi. Hukum kontradiksi menyatakan bahwa A adalah bukan Non-A. Itu tidak lebih dari sebuah rumusan negatif dari pernyataan posistif, yang dituntun oleh hukum pertama logika formal. Jika A adalah A, maka menurut pemikiran formal, A tidak dapat menjadi Non-A. Jadi, hukum kedua dari logika formal, yakni hukum kontradiksi, membentuk tambahan esensial pada hukum pertama. Beberapa contoh: manusia tidak dapat menjadi bukan manusia; demokrasi tidak dapat menjadi tidak demokratik; buruh-upahan tidak dapat menjadi bukan buruh-upahan.

Hukum kontradiksi menunjukkan pemisahan perbedaan antara esensi materi dengan fikiran. Jika A selalu sama dengan dirinya maka ia tidak mungkin berbeda dengan dirinya. Perbedaan dan persamaan menurut dua hukum di atas adalah benar-benar berbeda, sepenuhnya tak berhubungan, dan menunjukkan saling berbedanya antara karakter benda (things) dengan karakter fikiran (thought)

Kwalitas yang saling berbeda dan terpisah dari setiap benda ditunjukkan dalam hukum yang ketiga logika formal. Yakni: hukum tiada jalan tengah (the law of excluded middle). Menurut hukum tersebut segala sesuatu hanya memiliki salah satu karakteristik tertentu. Jika A sama dengan A, maka ia tidak dapat sama dengan Non-A. A tidak dapat menjadi bagian dari dua kelas yang bertentangan pada waktu yang bersamaan. Dimana pun dua hal yang berlawanan tersebut akan saling bertentangan, keduanya tidak dapat dikatakan benar atau salah. A adalah bukan B; dan B adalah bukan A. Kebenaran dari sebuah pernyataan selalu menunjukkan kesalahan (berdasarkan lawan pertentangannya) dan sebaliknya.

Hukum yang ketiga tersebut adalah sebuah kombinasi dari dua hukum pertama dan berkembang secara logis.

Ketiga hukum tersebut mencakup sebagian dasar-dasar logika formal. Alasan-alasan formal berjalan menurut proposisinya. Selama 2.000 tahun aksioma-aksioma yang jelas dalam sistim berfikir Aristoteles telah menguasai cara berfikir manusia, layaknya hukum pertukaran dari nilai yang sama, yang telah membentuk fondasi bagi produksi komoditi masyarakat.

Lihatlah contoh dariku tentang sistim berfikir Aristoteles, sebagai berikut: dalam bukunya yang berjudulPosterior Analytics ( Buku I; Bagian 33), Aristoteles mengatakan bahwa seseorang tidak dapat secara terus menerus memahami bahwa manusia pada dasarnya adalah hewan, dengan demikian bisa juga dikatakan bahwa manusia adalah bukan hewan. Dengan demikian, manusia pada dasarnya adalah seorang manusia dan tidak dapat dianggap bukan manusia.

Hal tersebut seperti yang diungkapkan dalam hukum logika formal. Kita mengetahui bahwa hal itu berlawanan dengan kenyataan. Teori perkembangan alam mengajarkan bahwa tidak bisa lain—manusia pada dasarnya adalah binatang. Secara logika manusia adalah binatang. Tapi kita ketahui juga dari teori evolusi sosial, bahwa manusia adalah kelanjutan dari perkembangan evolusi binatang. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa secara esensial ia adalah manusia, yang spesiesnya cukup berbeda dengan binatang lainnya. Kita mengetahui bahwa hal tersebut merupakan dua hal: yang satu dengan yang lainnya berbeda pada saat yang bersamaan. Aristoteles dan hukum logika formal tidak dapat berlaku lagi.

4. Isi Material dan Realitas Obyektif Hukum-hukum Tersebut

Kita bisa melihat dari contoh tersebut betapa cepat dan spontannya karakter dialektik suatu materi, oleh karena itu, dengan segera, muncul lah pemikiran yang merupakan cermin kritis terhadap pikiran formal. Walaupun ada suatu intensitas yang mengetatkan logika formal, namun tetap saja kita akan tergiring dan terdorong untuk melangkah lebih ke depan, melewati batas logika formal, pada saat kita hendak mencari kebenaran sesuatu hal. Dan sekarang kita kembali kepada logika formal

Seperti yang aku katakan sebelumnnya, dialektika modern tidak menolak kebenaran yang dikandung oleh hukum-hukum logika formal. Sikap penolakan terhadap logika formal akan berlawanan dengan semangat dialektika, yang melihat beberapa kebenaran dalam kenyataan logika formal itu sendiri. Pada saat bersamaan, dialektika membuat kita bisa melihat batas-batas dan kesalahan dalam memformalkan pandangan tentang sesuatu.

Hukum-hukum logika formal berisikan unsur-unsur kebenaran yang sangat penting dan tak bisa ditolak. Semua hukum tersebut bukan lah merupakan jeneralisasi pikiran-pikiran yang random dan hasil khayalan yang tak berarti. Hukum-hukum tersebut keluar lewat sebuh proses dunia nyata yang, selama ribuan tahun, oleh Aristoteles dan para pengikutnya, digunakan oleh peradaban manusia. Jutaan orang yang belum pernah mendengar tentang Aristoteles dan pikiran-pikirannya, sampai sekarang, berpikir untuk mengabaikan hukum-hukum awal yang pertama kali dirumuskannya. Mereka, yang seperti itu, tak akan bisa sampai mengerti tentang hukum-hukum gerak Newton—walaupun mereka dapat melihat kerangka fisik setiap hasil pemikiran Newton, namun mereka gagal memahami teori Hukum Newton tersebut secara lengkap. Dalam dunia obyektif, mengapa orang berfikir dan melakukan penyejajaran antara hukum-hukum Newton dengan hukum-hukum Aristoteles. Karena, kenyatannya, hukum berpikir Aristotles memiliki isi yang material, sama halnya juga dalam dunia objektif, sama halnya juga dalam hukum gerak mekanika Newton. “…metode berpikir kita, apakah itu logika formal atau logika dialektik, bukan lah sebuah susunan serampangan akal sehat kita tapi lebih sebagai sebuah ekspresi interelasi-aktual dalam alam kita sendiri.”

Karakter macam apa yang ada dalam realitas material yang hendak dicerminkan, dan secara konseptual dihasilkan kembali, oleh hukum-hukum berfikir formal?

Hukum identitas bertujuan merumuskan fakta material agar bisa mendefinisikan segala sesuatu dan memperlakukan segala hal dalam semua perubahan fenomenanya. Dimana pun kelanjutan (perubahan) esensial hadir dalam realitas, hukum identitas tetap bisa mendeteksinya.

Kita tak bisa berbuat atau berfikir secara sadar bila menolak hukum tersebut. Jika kita tidak bisa lagi mengenali diri kita sendiri karena amnesia atau karena sesuatu hal—karena kerusakan mental, misalnya—hingga menghilangkan kesadaran identitas pribadi kita, maka diri kita akan hilang. Tapi hukum identitas hanya lah absyah untuk melihat dunia secara universal ketimbang untuk melihat kesadaran manusia itu sendiri. Hukum tersebut muncul setiap hari dan dimana saja dalam kehidupan sosial. Jika kita tidak bisa mengenali bagian mental yang sama, lewat beberapa tindakan, maka kita tidak akan bisa melakukan produksi. Jika seorang petani tidak bisa mengerti perkembangan jagung yang ia tanam dari biji sampai menghasilkan jagung lagi, dan kemudian menjadi bahan makanan, maka tidak mungkin ada pertanian.

Anak-anak yang telah mengerti lebih jauh, bisa memahami alam dunianya saat pertama kali ia menemukan fakta bahwa ibu yang menyusuinya adalah orang yang sama yang, dengan berbagai cara, memberinya makan. Pengenalan kebenaran dengan cara seperti itu tak lain merupakan sebuah contoh khusus tentang pengenalan terhadap hukum identitas.

Jika kita tidak jernih melihat proses perkembangan dan perubahan-perubahan menuju negara kelas pekerja, maka kita tentu saja akan dengan mudah terjebak dalam kekacauan pemahaman saat berupaya untuk mengerti tentang perjungan kelas yang ada sekarang. Dalam kenyataannya, oposisi borjuis kecil menjawab dengan cara yang salah ketika merespon persoalan yang terjadi di Rusia, tidak hanya karena mereka menolak metode dialektik, tapi juga karena mereka tak bisa mengaplikasikan hukum identitas secara tepat. Dalam proses perkembangan Soviet Rusia, mereka tak bisa melihat—lepaskan dari Uni Sovyet yang di bangun selanjutnya oleh rejim Stalin—bahwa Uni Soviet bisa mempertahankan landasan–landasan sosial ekonomi negara kelas pekerja, yang didirikan oleh kelas buruh dan petani Rusia setelah revolusi oktober. Kelasifikasi secara benar, yang lepas dari perbandingan yang berbasiskan suka tidak suka, merupakan suatu basis yang sangat penting dan sebagai langkah awal dalam investigasi ilmiah. Kelasifikasi sangat penting untuk memilah penambahan terhadap kelas yang sama dan pengurangan terhadap kelas yang berbeda serta untuk menyatukan kelas-kelas yang berbeda—semua itu tak mungkin dilakukan tanpa menggunakan hukum identitas. Teori Darwin tentang revolusi pengorganisasian manusia berasal dan tergantung dari pengenalan terhadap identitas esensial berbagai makhluk yang berbeda di atas bumi ini. Hukum gerak mekanik Newton dapat disimpulkan berasal dari gerak massa, dari logika batu jatuh hingga planet-planet yang berputar dalam sistim matahari. Semua ilmu-pengetahuan lahir dan merupakan bagian dari hukum identitas.

Hukum identititas mengarahkan hingga bisa mengenali keragaman, perubahan permanen, kesamaan, pemisahan dan penampakan yang berbeda, guna mencakup keseluruhan semua itu, serta guna mendapatkan penghubung antar fase-fase berbeda dari fenomena tertentu. Oleh sebab itu, penemuan dan penggunaan hukum tersebut disimpulkan telah membuat sejarah dalam pemikiran ilmiah dan, oleh karenanya, kita memberikan penghargaan pada Aristoteles untuk semua yang telah dirumuskannya. Oleh karena itu pula, manusia berbuat dan berpikir sesuai dengan hukum dasar logika fiormal tersebut.

Mungkin akan muncul pertanyaan: “bagaimana hukum tersebut berlaku secara gampangannya? Jawabnya: fakta bahwa sesuatu adalah sesuatu.

Amat lah penting kehadiran hukum dasar tersebut dalam sejarah. Merupakan sebuah kemajuan yang besar sekali dalam sistim pengetahunan tentang dunia ketika manusia menemukan bahwa awan, uap, hujan dan es semuanya berasal dari air. Atau bawah surga dan bumi adalah dua hal yang bertentangan namun juga sama (surga di bumi). Ilmu Biologi mengalami revolusi dengan penemuan bahwa kehidupan organisme bersel satu dan manusia terdiri dari substansi yang sama. Ilmu fisika mengalami revolusi dengan bisa ditunjukkannya bahwa semua bentuk gerak material dapat saling bertukar dan secara esensial sama.

Tidak kah merupakan sebuah langkah yang menakjubkan dalam pengetahuan sosial dan politik ketika kelas pekerja menemukan pengetahuan, di satu sisi, bahwa upah kerja adalah upah kerja dan, di sisi lain, kapitalis adalah kapitalis. Pengetahuan bahwa buruh di mana saja memiliki kepentingan yang sama, menembus batas wilayah, nasional dan ras. Sehingga pengakuan terhadap kebenaran yang berasal dari hukum identitas adalah sebuah syarat untuk menjadi seorang sosialis yang revolusioner.

Satu hal, bagaimanapun kita memperhatikan dan menggunakan suatu hukum, adalah merupakan hal yang berbeda dengan mengerti dan memformulasikannya dalam sebuah cara yang ilmiah. Semua orang dapat bertindak sesuai dengan hukum namun sulit untuk mengetahui bagaimana hukum tersebut beroperasi. Sama dengan hukum logika itu sendiri. Setiap orang berpikir tapi tak seorang pun tahu hukum yang mana yang sedang berlangsung dalam pemikirannya.

Hukum kontradiksi merumuskan fakta-fakta material yang hadir secara bersamaan dengan yang lainnya, dan bisa dalam keadaan-keadaan yang berbeda-beda. Secara nyata aku tidak sama dengan anda—jelas kita berbeda. Atau aku hari ini berbeda dangan aku kemarin—jelas keberadaanku berbeda. Atau Uni Soviet berbeda dengan negeri lainnya, dan perkembangan Uni Soviet membedakan Uni Sovyet dahulu dengan Uni Sovyet sekarang—jelas perbedaan-perbedaannya.

Hukum formal kontradiksi, atau penajaman perbedaan-perbedaan adalah penting untuk memperoleh kelasifikasi yang tepat sesuai dengan hukum identitas. Tanpa keberadaan perbedaan-perbedaan tersebut, tak perlu ada kelasifikasi, tanpa identitas maka tak mungkin melakukan kelasifikasi.

Hukum tak ada jalan tengah (excluded middle) menunjukkan bahwa semua hal saling bertentangan dan saling mengisi dalam kenyataannya. Aku pasti lah aku atau orang lain; hari ini aku seharusnya sama atau berbeda dengan kemarin; Uni Soviet seharusnya sama atau berbeda dengan negeri lain; aku pasti lah manusia atau binatang; aku tidak dapat secara bersamaan merupakan dua identitas yang berbeda.

Oleh karenanya, hukum logika formal mengekspresikan masa depan yang merepresentasikan dunia nyata. Hukum-hukum tersebut berisi suatu materi dan suatu dasar objektif. Hukum-hukum tersebut secara bersamaan merupakan hukum berfikir, hukum masyarakat dan hukum alam. Ketiga akar Hukum tersebut memiliki karakter universal.

Ketiga hukum yang kita pelajari di atas bukan merupakan keseluruhan logika formal. Namun merupakan hukum-hukum dasar yang sederhana. Di atas dasar itu lah, dan di luar darinya lah, muncul sejumlah struktur ilmu logika yang kompleks, yang memiliki kerumitan rincian-rincian setiap elemennya, dan yang di dalamnya memiliki bentuk mekanisme berpikir. Tapi kita tak akan masuk ke diskusi tentang berbagai kategori, bentuk proposisi, sikap-sikap, silogisme dan yang lainnya, yang membentuk isi tubuh logika formal. Hal tersebut bisa dicari di buku tentang logika elementer lainnya. Secara prinsipil kita lebih peduli pada pemahaman ide-ide esensial logika formal, tapi bukan pada detail perkembangannya.

5. Logika Formal dan Akal Sehat

Dalam lingkaran intelektual borjuis, akal sehat dijadikan satu pola dan cara berfikir serta menjadi penuntun tindakan. Hanya ilmu-pengetahuan yang dilandasi akal sehat lah yang bisa berada pada hirarki nilai yang tinggi. Atas nama akal sehat dan ilmu-pengetahuan, misalnya, Max Eastman menuduh Marxis sebagai penjunjung dialektika metafisik dan mistik. Sialnya, ideolog-ideolog borjuis dan borjuis kecil jarang menginformasikan pada kita apa sisi logis akal sehat mereka dan bagaimana hubungan antara akal sehat dengan ilmu-pengetahuan? Kita akan menjawab mereka! Kenyataannya, mereka yang anti dialektika sebenarnya tidak hanya tidak tahu apa dialektika itu. Mereka bahkan tak tahu apa logika formal itu. Hal itu tidak mengejutkan. Apa kah kelas kapitalis tahu apa itu kapitalisme, bagaimana hukum-hukumnya beroperasi? Jika mereka tahu, mereka akan sadar akan krisis dan perang yang mereka buat, dan tak akan seyakin sekarang dengan sistim yang mereka nikmati itu. Stalinis tak tahu apa sebetulnya stalinisme itu dan akan ke mana arah sistim tersebut. Jika mereka tahu mereka tidak akan lagi menjadi Stalinis, atau mereka akan menjadi sesuatu yang lain.

Sejauh ini, akal sehat masih secara sistimatis tersusun dan memiliki karakter logis, serta akal sehat menyatu dengan logika formal. Akal sehat bisa diurai menjadi bentuk yang tidak sistimatis dan setengah sadar dalam hubungannya dengan ilmu-pengetahuan logika formal. Ide-ide dan metode logika formal yang digunakan sekarang, sebenarnya, telah digunakan sejak berabad-abad yang lalu, memiliki saling hubungan dengan proses berfikir kita, masuk dalam pabrik peradaban kita, dan nampak bagi kebanyakan orang sebagai sesuatu yang normal, ekslusif, serta bercorak pikir wajar. Konsepsi dan mekanisme logika formal, seperti silogisme, merupakan alat berfikir yang seakrab dan seuniversal layaknya pisau tajam.

Seperti kita ketahui, borjuis percaya bahwa masyarakat kapitalis akan abadi karena, menurut mereka, merupakan hal yang ilmiah dan tak dapat diubah. Sosialisme, kata mereka, adalah tidak mungkin dan tidak masuk akal sehat karena manusia akan selalu terbagi ke dalam dua kelas yang saling bertentangan. Yakni yang kaya dan yang miskin, yang kuat dan yang lemah, pemerintah dan yang diperintah, yang bermilik dan yang tak bermilik, dan setiap kelas akan berjuang sampai mati demi hidup yang lebih baik. Sebuah bentuk organisasi sosial yang tanpa kelas, yang terencana sehingga tidak anarki, yang melindungi si lemah melawan si kuat, terlihat absur, tak masuk akal, bagi mereka. Mereka melihat ide sosialis sebagai fantasi, harapan-harapan kosong.

Sampai kita tahu sosialisme bukan lah sebuah mimpi tapi sebuah keniscayaan sejarah. Sebagai sebuah tahapan evolusi sosial selanjutnya. Kita tahu kapitalisme tidak lah abadi tapi suatu bentuk sejarah tertentu cerminan produksi material, yang terbentuk karena perkembangan produksi sosial, dan takdirnya: akan digantikan oleh bentuk yang lebih superior, produksi sosialis.

Mari kita lihat ilmu berpikir dari satu titik yang sama, yakni dengan melihat pada ilmu sosial. Pemikir-pemikir Borjuis dan borjuis kecil percaya bahwa pemikiran formal adalah bentuk akhir yang sudah final dan pas. Mereka menolak dilalektika materialis sebagai bentuk tertinggi pemikiran.

Kau ingat, ketika seseorang bertanya tentang kapitalisme itu permanen atau berargumentasi tentang pentingnya sosialisme, kau akan jatuh dalam keraguan pada ide-ide revolusioner yang baru. Kenapa? Karena dirimu telah diperbudak oleh ide penguasa zaman kita yang, seperti di katakan Marx, sebagai ide-ide kelas penguasa. Ide-ide kelas penguasa dalam ilmu logika sekarang ini adalah ide-ide logika formal yang lebih rendah, lebih hina, dari akal sehat. Semua bagian dan kritik dialektika sebenarnya berdiri di atas landasan logika formal—terserah mereka mau mengakuinya atau tidak.

Tak diragukan lagi, dalam masyarakat kita, ide-ide logika formal berisikan semua praduga teoritis yang paling kepala batu. Meski telah beberapa orang menanggalkan keyakinannya terhadap kapitalisme, dan telah menjadi sosialis yang revolusioner, bisa saja mereka belum secara keseluruhan bisa melepas kebiasaan logika formal mereka yang diperoleh dari kehidupan borjuis sebelumnya. Kesungguhan seorang akhli dialektika bisa mengalami kemunduran jika mereka tak berhati-hati dan sadar dalam cara berfikirnya.

Marxisme, selain menolak keabadian kapitalisme, ia juga menolak keabadian kelas kapitalis. Pemikiran manusia telah berubah dan berkembang sepanjang perkembangan umat manusia. Hukum berpikir tidak lah lebih abadi daripada hukum yang ada di masyarakat. Sama halnya dengan kapitalisme, yang hanya sekadar sebuah mata-rantai bentuk sejarah produksi sosial, demikian halnya dengan logika formal, yang hanya sekadar sebuah mata-rantai bentuk sejarah produksi intelektual. Seperti halnya kekuatan sosialisme, yang sedang berjuang untuk menggantikan bentuk produksi sosial kapitalisme dengan sebuah sistem yang lebih berkembang dan maju, demikian pula halnya pembela dialektika materialis, sebagai sebuah logika sosialisme ilmiah, sedang berjuang melawan logika formal yang telah ketinggalan zaman. Perjuangan teoritis dan praktek politik praktis merupakan bagian yang integral satu dengan yang lainnya, dan sama-sama berada dalam proses revolusioner.

Sebelum kemunculan astronomi modern, orang-orang percaya bahwa matahari dan planet lainnya mengitari bumi. Mereka secara tidak kritis percaya pada pembuktian akal sehat yang ditangkap oleh mata. Aristoteles mengajarkan bahwa bumi telah pas dan sempurna. Tahun ini adalah peringatan 400 tahun penerbitan buku Copernicus. Sebuah revolusi pemikiran tentang tata surya, yang menumbangkan pemikiran bahwa bumi adalah pusat kekuasaan.

Seabad kemudian Galileo membuktikan kebenaran teori Copernicus. Semua profesor yang bertentangan dengan Copernicus mencemohkannya, seperti yang dikeluhkan Galileo: ”Aku berharap bisa menunjukkan bahwa planet Yupiter, yang menjadi satelit bagi para profesor di Florence, bisa mereka lihat lewat mata mereka sendiri atau dengan teleskop.” Para profesor tersebut, atas nama teori Aristoteles, menyerukan perlawanan terhadap usaha Galileo tersebut, dan akhirnya menggunakan kekuasaan untuk memenjarakan Galileo. Pelayan-pelayan negara dan gereja tersebut berhasil menekan argumen Galileo, melarang pengedaran bukunya, menteror dan bahkan membunuh lawan-lawan ilmuwan lainnya karena ide-ide mereka sangat revolusioner. Mereka membudak pada dominasi kelas penguasa.

Sama halnya dengan dialektika, khususnya dialektika materialis, ide dan metode nya bahkan lebih revolusioner ketimbang ide Copernicus tentang Astronomi. Pertama pemutarbalikan sorga (yang selama ini diagungkan oleh abad tengah), kemudian penajaman terhadap kelas progresif dalam masyarakat yang akan memutarbalikan masyarakat kapitalis. Itu lah sebabnya ide-ide dialektika materialis sangat ditentang oleh para pembela logika formal dan akal sehat. Mendatang, dengan revolusi sosialis, dialektika akan menjadi akal sehat dan logika formal akan mengambil posisi sub-ordiansi, hanya dianggap sebagai penolong dalam cara berfikir ketimbang seperti yang berlaku sekarang ini—mendominasi pemikiran, menyesatkan fikiran dan menghambat semua kemajuan berfikir yang menjadi tuntutan zaman.

Bahan II: Keterbatasan Logika Formal

Pada bahan pelajaran pertama kita telah menjawab tiga pertanyaan.

1. Apa itu logika? Kita mendefininisikan logika sebagai sebuah ilmu proses berpikir dalam hubungannya dengan semua proses yang lain di dunia ini. Kita telah belajar mengetahui dua sistim penting dalam logika: logika formal dan logika dialektik.

2. Apa itu logika formal? Kita telah belajar memahami bahwa logika formal adalah cara berpikir yang didominasi oleh hukum identitas, hukum kontradiksi dan kukum tak ada jalan tengah. Kita telah paham bahwa ketiga hukum fundamental logika formal tersebut memiliki isi materi dan basis objektif; yang dirumuskan secara eksplisit berdasarkan logika instinktif yang ada pada akal sehat; yang bersisikan aturan-aturan berfikir dalam kehidupan borjuis.

3. Apa hubungan antara logika formal dan logika dialektik? kedua sistim berfikir tersebut tumbuh dan berhubungan di dua tahap yang berbeda dalam perkembangan ilmu-pengetahuan berfikir. Logika formal berkembang secara dialektik dalam evolusi sejarah logika, seperti yang biasa terjadi dalam perkembangan intelektual seseorang. Kemudian logika dialektik muncul sebagai kritik terhadap logika formal, menjatuhkan dan menggantikannya. Logika dialektik menjadi lawan yang revolusioner, mengambil alih dan menjadi solusi.

Dalam pelajaran kedua ini, kita berharap bisa mengungkap keterbatasan logika formal, dan mendapatkan bagaimana dialektika bangkit karena ujian kritis terhadap ide-ide fundamentalnya. Saat ini kita telah memahami apa yang menjadi dasar logika formal, dan apa yang dicerminkannya dari realita, mengapa menjadi penting dan bermanfaat bagi proses berfikir dan, sekarang, kita akan melangkah lebih jauh lagi untuk melihat apa yang distorsif (menyimpang) dalam logika formal serta apa yang harus ditolak dari logika formal. Kita akan melihat sisi yang tak bermanfaat dari logika formal.

Dalam langkah selanjutnya dari investigasi kita, kita tak akan mendapatkan hasil negatif yang bisa dijadikan alasan keraguan kita sehingga harus menolak seluruh bagian dari logika formal. Sebaliknya, justru kita akan mendapatkan hasil yang paling positif. Walaupun terdapat beberapa kekurangan dalam logika formal, namun terdapat juga beberapa karakter penting yang bisa diambil dari logika formal yang bisa menyempurnakan logika penggantinya, logika dialektik. Sehingga dalam proses pembelahan logika elementer dan pemisahan unsur yang absyah dari yang salah, kita bisa mendapatkan sebuah landasan bagi dialektika. Tindakan kritis dan kreatif, negasi dan affirmasi, saling bergandengan sebagai dua sisi dari proses yang sama.

Kedua gerak penghancuran dan pembentukan dilahirkan tidak saja dalam evolusi logika tapi juga dalam semua proses. Setiap lompatan ke depan, setiap tindakan kreatif melibatkan penghancuran. Agar dapat lahir, seekor anak ayam harus memecahkan kulit telor yang membungkusnya, yang telah menjadi tempat tinggal dan sumber kehidupan pada tahap tertentu. Sehingga, agar mendapatkan ruang bagi kebebasannya dan melanjutkan perkembangan selanjutnya, ilmu berpikir harus menghancurkan kulit pembungkus logika formal.

Logika formal selalu mulai dengan preposisi: A adalah selalu sama dengan A. Kita mengakui bahwa hukum tentang identitas ini mengadung beberapa kebenaran, yang merupakan sebuah fungsi yang tidak bisa dipisahkan dalam pengetahuan berfikir, dan yang selanjutnya digunakan dalam peradaban mansuia di dalam kegiatan sehari-harinya. Tapi sejauh mana kebenaran hukum tersebut? Apakah hukum tersebut bisa terus menjadi penuntun dalam realitas yang menjadi lebih kompleks? Demikian lah, pertanyaan selanjutnya.

Pembuktian salah benarnya setiap preposisi diperoleh dengan melihat realitas objektif dan praktek nyatanya, derajatnya dan isi konkrit yang terkandung dalam preposisi tersebut. Apa kah isinya berhubungan dengan sebuah output yang bisa dihasilkan oleh realitas, sehingga preposisi itu menjadi benar. Jika tidak, maka preposisi tersebut tidak bisa dibenarkan.

Sekarang apa yang bisa kita dapat saat harus berhadapan dengan realitas, bukti apa yang bisa membenarkan kebenaran preposisi: A sama denan A? Ternyata, tak ada sesuatu pun dalam realita yang secara sempurna sama dengan isi preposisi tersebut. Sebaliknya, kebalikan dari aksioma tersebut jauh lebih mendekati pada kebenaran.

Bagaimanapun kita berusaha membuktikan bahwa A sama daengan A—ternyata, kita tidak bisa berhasil secara sempurna. Seperti kata Trotsky: “…meneliti dua huruf tersebut di bawah sebuah lensa pembesar—satu dengan yang lainnya sama sekali berbeda. Namun, orang bisa saja berkeberatan, karena hal-hal lain (misalnya) semata-mata merupakan simbol bagi kuantitas-kuantitas yang sederajat, contohnya, satu pon gula, masalahnya bukan ukuran atau bentuk dari huruf-huruf tersebut.”

“Di samping kecurigaan ekstrim pada nilai praktis. Hal tersebut juga menunjukan ketidakkritisan teoritis. Bagaimana dengan momentum? Hal yang pertama tentu berbeda momentumnya dengan hal yang kedua karena segalanya ada dalam kurun waktu tertentu. Waktu adalah sebuah unsur yang paling fundamental bagi keberadaan. Sehingga aksioma A sama dengan A akan berlaku jika tidak ada perubahan, jika tidak, maka aksioma tersebut tidak akan berlaku”

Itu lah sebabnya beberapa pembela logika formal mencoba membela diri dengan berkata: memang benar hukum identitas tidak bisa absolut, tapi itu tidak berarti kita dapat menolak prinsip tersebut. Kebenaran tersebut adalah absyah walaupun tidak berhubungan dengan realitas. Posisi mereka tidak bisa memahami kontradiksi; justru, dengan demikian, semakin menunjukkan bahwa, dalam pandangan mereka, hukum identitas tersebut hanya berlaku sejauh tidak berhubungan dengan realitas, dan jika berhubungan dengan realitas maka hukum tersebut justru akan mendatangkan kesalahan-kesalahan tertentu.

Seperti yang di kemukakan oleh Trotsky: “Aksioma A sama dengan A menunjukkan suatu titik keberangkatan menuju ke keseluruhan kebenaran pengetahuan kita namun, di sisi yang lain, juga merupakan titik keberangkatan menuju ke keseluruhan kesalahan pengetahuan kita.” Bagaimana mungkin sesuatu hal, yang ada dalam hukum yang sama, menjadi sumber bagi kedua pengetahuan—pengetahuan yang salah dan pengetahuan yang benar? Kontradiksi tersebut dapat dijelaskan oleh fakta bahwa hukum identitas memiliki dua sisi karakter: kesalahan dan kebenaran. Hukum identitas memiliki kebenaran pada batas-batas tertentu. Batasan tersebut dikarenakan karakter esensialnya, yang ditunjukkan oleh perkembangan aktual obyek pertanyaannya. Di sisi lain, dilihat dari tujuan praktis cara pandang tertentu.

Sekali waktu, batasan-batasan tersebut muncul, sehingga hukum identitas tidak lagi tepat dan berbelok menjadi kesalahan. Semakin jauh kita maju tanpa pegangan batasan tersebut, semakin jauh pula hukum identitas tersebut menyeret kita membelok dari kebenaran. Hukum yang lain mungkin akan mengoreksi kesalahan yang semakin banyak tersebut, namun tidak terlepas juga kemungkinannya akan masuk ke persoalan yang lebih kompleks dan yang lebih baru lagi.

Mari kita lihat contohnya. Dari Albany ke New York hanya disusuri oleh sungai Hudson, tak ada yang lainnya. A selalu sama dengan A. Dengan keterbatasan tersebut akan sulit untuk memastikan bahwa sungai Hudson tersebut merupakan satu-satunya sumber air yang ada, dan sama dari hilir sampai muara, sungai Hudson. Setelah sampai di muara pelabuhan New York, ternyata sungai Hudson telah kehilangan identitasnya dan menyatu dengan Samudra Atlantik. Sedangkan air Sungai Hudson, terpecah menjadi beberapa anak-anak sungai yang lain yang, walaupun berasal dari mata air yang sama, tapi memiliki identitas yang berbeda-beda dan materi yang berbeda pula, jauh berbeda dengan sungai Hudson itu sendiri. Sehingga di kedua tempat tersebut—sumber mata air dan muaranya—identitas Sungai Hudson menghilang, tak lagi seutuhnya sama.

Demikian pula halnya dengan kemungkinan hilangnya identitas di sepanjang sungai Hudson tersebut. Identitas sungai tersebut tergantung pada kedua sisi parit yang menahan aliran airnya. Namun, jika sungai tersebut pasang atau surut, atau jika terjadi erosi, maka parit tersebut akan berubah. Hujan dan banjir akan merubah batasan-batasan sepanjang sungai itu secara permanen atau sementara. Walaupun sungai tersebut tetap bernama Hudson, namun isinya tak akan pernah berupa air yang sama. Setiap tetesnya sudah berbeda. Oleh karenanya, sungai Hudson tersebut terus berubah identitasnya setiap saat.

Atau coba kita lihat contoh Dolar yang di kemukakan Trotsky. Kita biasanya mengasumsikan bahwa mata uang Dolar adalah mata uang Dolar itu sendiri. A sama dengan A. Tapi kita mulai sadar sekarang bahwa Dolar sekarang berbeda nilainya dengan dolar pada waktu yang lampau. Dolar tersebut semakin berkurang nilainya. Pada tahun 1942 kemampuan dolar hanya tiga perempat kemampuan pada tahun 1929.

Sepertinya, dolar tidak berubah dan hukum identitas masih bisa di gunakan, tapi, pada saat yang sama, nilainya juga sudah berubah.

“Pemikiran ilmiah kita hanya lah salah satu bagian dari keseluruhan tindakan praktek kita, termasuk teknik-teknik. Dalam konsep-kopsep, eksistensi ‘toleransi’ juga diperkenankan. Toleransi tersebut ditegakkan bukan dengan logika formal yang berasal dari aksioma A adalah sama dengan A, tapi dengan logika dialektik yang berasal dari aksioma bahwa semua hal selalu berubah. ‘Akal sehat’ dikarakterisasi oleh kenyataan bahwa ia secara sistematis melampaui ‘toleransi’ dialektik.”

Dalam bengkel kerja, toleransi diukur di setiap seperseratus sampai seperseribu setiap incinya, tergantung hasil kerja yang hendak diperolehnya. Sama halnya dengan kerja otak dan konsep-konsep peralatannya. Bila batas atau marjin toleransi kesalahan sudah bisa disetujui, maka hukum logika formal dapat berlaku. Tapi pada saat tidak diizinkan oleh toleransi, maka sebuah alat baru harus dibuat untuk memenuhi batas toleransi yang diperbolehkan. Dalam lapangan produksi intelektual, peralatan tersebut adalah logika dialektik.

Hukum identitas bisa diterapkan dalam toleransi dialektik pada dua arah yang bertentangan. Misalnya, toleransi minimum dan toleransi maximum, sehingga hukum identitas tersebut akan berlangsung semakin absyah atau kurang absyah seperti yang dicontohkan oleh deflasi. Satu Dolar nilainya berlipat, sehingga A tidak sama dengan A, tapi lebih besar dari A. Dan dalam contoh inflasi maka, sekali lagi, satu Dolar tidak sama dengan satu Dolar sebelumnya, menjadi setengahnya. Sekali lagi A tidak sama dengn A, tapi setengah A. Dalam beberapa kasus, hukum identitas tidak lagi menjadi benar tapi menjadi semakin salah, tergantung pada jumlah dan karakter khusus perubahan nilai yang ada. Selain A = A, kita juga melihat kemungkinan A = 2A atau 1/2A.

Perhatikan bahwa kita mulai menguji hukum identitas: A adalah yang kita uji. Yang kita dapatkan, kontradiksi: benar bahwa A = A; tapi benar juga A tidak sama dengan A dan, tambahannya, A bisa menjadi 2A atau 1/2A.

Cara tersebut membuat kita lebih mengenal A. A ternyata tidak sesederhana yang kita bayangkan, pasti, tidak berubah seperti yang dianut oleh akhli logika formal. Mereka hanya melihat penampakannya saja. Dalam kenyataanya, A sangat kompleks dan bisa kontradiktif. Tidak hanya A tapi menyangkut semua hal. Kita tidak bisa menangkap A yang sama karena setiap saat A tersebut berubah menjadi berkurang atau bertambah.

Kau mungkin bertanya: kalau begitu, sebenarnya apa itu A? Jawaban dialektiknya adalah A adalah A atau Non-A. Jika kau melihat A seperti akhli logika formal maka kau hanya akan melihat satu sisinya saja, sisi negatifnya. A sama dengan A adalah sebuah abstraksi yang tidak dapat secara penuh menjadi kenyataan atau ditemukan dalam realitas. Abstraksi tersebut berguna sepanjang kau mengerti batasan-batasannya, dan jika batasan telah tercapai maka segera kita akan mengabaikan logika formal tersebut untuk mendapatkan kebenaran final. Hukum dasar identitas bisa dipegang sebagai cara pandang dan untuk bertindak sehari-hari, tapi hukum itu harus digantikan dengan hukum yang lebih dalam dan kompleks.

Para akhli mekanik akan bertanya: mengapa harus ada batas, apakah peralatan yang dimiliki dalam mekanika telah mencakup kebenaran? Segala hal berlaku dalam kondisi tertentu dan dalam operasi tertentu: sebuah potongan, lengkungan, pendalaman dan lain sebagainya, semuanya ditempatkan pada setiap tahapan proses produksi industri. Kelas buruh menentang batasan-batasan yang nyata dalam setiap peralatan dan mesin. Mereka berhasil mengatasi batasan-batasan tersebut dengan dua cara: menggunakan peralatan yang lain atau mengkombinasikan beberapa peralatan dalam proses produksi.

Berpikir secara esensial merupakan produksi intelektual, dan keterbatasan peralatan berpikir akan menghasilkan cara yang sama. Pada saat kita mentok dengan logika formal maka kita harus menggunakan logika lainnya, yakni logika dialektik, atau mengkombinasikan logika formal dengan logika dialektik untuk mendapatkan kebenaran. Itu lah yang disebut dialektika. Sama seperti peralatan-peralatan di pabrik yang harus dikombinasikan agar bisa mengoperasikan pabrik tersebut. Jadi, kalau kita menginginkan hasil yang paling tepat dalam produkis intelektual kita, maka kita harus mengembangkan ide-ide dialektika itu sendiri.

Jika kita kembali pada abstraksi awal, A sama dengan A, maka kita melihat bahwa ada sebuah kontradiksi dalam perkembangannya. A adalah berbeda dengan dirinya sendiri. Dengan kata lain, A selalu berubah dan perubahan tersebut ke segala arah. A selalu berkembang menjadi berlebih atau berkurang dari A sebelumnya.

Perubahan tersebut memiliki nilai kwalitas tertentu, yang berbeda dari yang sebelumnya, sehingga perlu juga membandingkan kwalitas awal dan kwalitas yang berikutnya dari sesuatu hal yang terus berubah.

Sungai Hudson yang kehilangan identitasnya, menjadi bagian dari samudara atlantik; atau seperti yang terjadi pada mata uang. Mata uang yang semula koin yang bernama mark Jerman telah menjadi kertas cetakan. Dalam bahasa aljabar, A menjadi Minus A. Dalam bahasa dialektikanya perubahan kwantatif menghancurkan kwantitas yang lama sehingga menjadi kwalitas yang baru. “Menentukan titik kritis pada saat yang tepat, saat kwantitas berubah menjadi kwalitas, adalah merupakan suatu tugas yang paling penting serta paling susah di dalam semua bidang pengetahuan, termasuk sosiologi.”

Salah satu dari problem sentral ilmu logika adalah mengetahui dan memformulasikan hukum tersebut. Kita harus mengerti bagaimana perubahan kwantitas akan mendatangkan kwalitas baru dan sebaliknya.

Kita tiba pada satu kesimpulan. Pada saat hukum identitas secara tepat mencerminkan bentuk tertentu realitas, hukum itu juga mendatangkan distorsi kesalahan dalam mencerminkan hal yang lainnya. Lebih jauh lagi, aspek yang salah tidak bisa mencerminkan kenyataan objektif yang ada. Campuran setiap partikel fakta jeneralisasi logika yang mendasar bisa memiliki sisi kesalahan yang serius. Hasilnya, instrumen kebenaran menjadi kesalahan umum.

Bahan III: Sekali Lagi, Tentang Keterbatasan-Keterbatasan Logika Formal

Dari kedua bahan pertama yang kita pelajari, kita mendapat hukum-hukum dasar logika formal; bagaimana dan mengapa mereka hadir; hubungan apa yang dimiliki dialektika terhadapnya; dan batas-batas apa yang kemudian menjadikan logika formal tak berguna lagi.

Kita akan melihat 5 kesalahan mendasar dalam elemen-elemen hukum identitas:

1. Tuntutan Logika Formal: Semesta Tidak Berubah

Pertama sekali, logika formal menolak suatu gerak, perubahan dan perkembangan dalam realitas. Penolakan tersebut tidak secara eksplisit ditujukan pada keberadaan realitas. Tapi, secara tak langsung, yakni, hukum-hukumnya menolak implikasi penting logika internalnya.

Seperti yang dikemukan oleh hukum identitas, jika setiap hal sama dengan dirinya maka, seperti yang ditunjukkan oleh hukum kontradiksi, tak ada yang tidak sama dengan dirinya, semuanya sama. Tapi ketidaksamaannya merupakan manifestasi dari perbedaan—dan, sebenarnya, perbedaan mengindikasikan operasional perubahan. Jika semua perbedaan ditolak maka tidak akan ada gerak dan perubahan itu sendiri, oleh karenanya tidak ada alasan menjadi berbeda.

Jika logika formal ingin mendapatkan sisa kebenaran dirinya, bukan lah dengan menolak keberadaan nyata dan rasionalitas gerak. Tak ada tempat bagi perubahan di dunia ini yang bisa diterima oleh atau digambarkan oleh logika formal. Tak ada gerak dalam dirinya. Tak ada ledakan logis dalam hukum-hukumnya yang dapat melewati dan masuk ke dunia nyata. Tak ada dinamika dari dunia luar yang mendorong segala hal keluar dari kondisinya yang sekarang guna menghasilkan formasi baru. Gerak digambarkan atau ditunjukkan sebagai realisme statistik, yang segalanya membeku di tempatnya masing-masing.

Mengapa formalisme tersebut memunggungi realitas? Karena gerak memiliki karakter kontradiksinya sendiri. Seperti kata Engels: ”…bahkan perubahan mekanis sederhana suatu tempat bisa berlangsung dalam sebuah tubuh dan, pada saat yang bersamaan, keduanya bisa berada di sebuah tempat lainnya, berada di suatu tempat atau tidak berada di suatu tempat lainnya pada saat yang bersaman.” Segala yang bergerak memiliki kontradiksi dalam keberadaanya, di suatu tempat yang berbeda pada saat yang bersamaan, dan bisa menundukkan atau keluar dari kontradiksi tersebut dengan menerjang satu tempat guna menuju ke tempat lainnya.

Perkembangan dan bentuk kompleks gerak, seperti perkembangan pohon dan tumbuhan, perkembangan spesies, perkembangan masyarakat dalam sejarah dan perkembangan sejarah filsafat, hadir bahkan lebih sulit bagi logika formal. Tahap sekarang, yang menggantikan setiap proses adalah serial kontradiksi. Pada pertumbuhan tanaman, contohnya, tunas keberadaannya diganti oleh bunga dan kemudian oleh buah.

Dimana pun mereka dikonfrontasikan dengan kontradiksi nyata, penganut logika formal selalu akan gagal. Apa yang akan mereka lakukan? Anak kecil, sewaktu berhadapan dengan sesuatu yang asing, sesuatu yang menakutkan mereka, yang mereka tak mengerti dan tak dapat mereka kuasai, akan menutup mata mereka dan menutup mukanya dengan kedua tangannya, serta akhirnya melarikan diri dari ketakutan tersebut. Penganut formalis bereaksi dan terus bereaksi, sama seperti anak-anak berhadapan dengan kontradiksi. Ketika mereka tidak bisa secara komprehensif melihat kenyataan alamiahnya dan tidak mengetahui apa yang harus dilakukan dengan semua hal yang mengerikan—itu lah yang menyedihkan dari dunia logika formal—maka, dengan ledakan kontradiksi, segera mereka akan menghancurkan logika formal mereka.

Dimana pun, saat otoritas reaksioner diancam oleh kekuatan subversif, mereka akan menekan, memenjara dan membuang kekuatan subversif tersebut. Penganut logika formal menjawab kontradiksi dengan cara yang demikian. Seperti yang dilakukan oleh Sir Anthony Absolute terhadap anaknya dalam lakon komedi Sheridan: “…Jangan masuk dalam ruanganku, jangan berani menghirup udara dan menggunakan lampu bersamaku, tapi carilah atmosfir dan matahari lain untuk dirimu! …” Hukum tersebut menunjukkan bahwa A tidak pernah menjadi Non-A. Itu bukan sebuah ekspresi nyata dari kontradiksi yang nyata, atau, terbaca: A bukan Minus A atau bukan Non-A.

Logika formal tidak dapat mentoleransi kontradiksi aktual dalam sistimnya sendiri. Logika formal akan menekan dan menghancurkan kontradiksi tersebut. Dalam usahanya untuk membebaskan dirinya dari kontradiksi, penganut logika formal memperketat kontradiksi absolut di atas kenyataan objektif. Dalam dunia yang direpresentasikan oleh logika formal, segala sesuatu berdiri dalam oposisi absolut terhadap yang lainnya. A adalah A; B adalah B; C adalah C, namun, sebenarnya, secara logis, mereka tidak ada yang sama

Kontradiksi dieliminasi dari sistim logika formal, kemudian bergerak naik menghindari semua kenyataan. Penganut logika formal menolak kontradiksi dalam sistimnya sendiri hanya demi merestorasinya, mengambil kekuasaan dari luar sistim mereka.

Kontradiksi nyata harus memasukkan kedua hal: kesamaan dan perbedaan di dalam dirinya. Penganut logika formal tak bisa melakukannya. Semua hukum logika formal sebenarnya tidak lain merupakan kesamaan-kesamaan dalam berbagai versi. Merka tak mengenal apa perbedaan-perbedaan. Itu lah sebabnya hukum kategori yang pas bagi logika formal tidak dapat menjelaskan esensi gerak. Gerak adalah sangat lengkap, terang-terangan, bahkan kontradiksinya kasar. Dalam dirinya, ia memiliki dua sisi perbedaan waktu, unsur, fase dan lain sebagainya secara diametris. Pada saat yang bersamaan, benda yang bergerak adalah keduanya, di sini dan di sana, secara terus menerus. Jika tidak, dia tidak bergerak tapi diam. A tidak semata-mata Non-A. Diam adalah gerak yang berhenti; gerak adalah perhentian yang berurutan.

Logika formal tidak bisa mengetahui atau menganalisa kontradiksi alam nyata—yang di dalamnya terdapat gerak—tanpa melanggar dirinya sendiri, tanpa menjatuhkan hukum-hukumnya sendiri, tanpa menerjang dan masuk ke alam yang lain. Adalah mimpi mengharapakan logika formal menjadi dialektik. Itu tepatnya dengan apa yang terjadi pada logika dalam evolusi. Tapi, logika formal, dalam dirinya dan oleh dirinya, tidak dapat mengambil lompatan revolusioner, tidak bisa keluar dari kulitnya. Semua pemikir formal yang konsisten tetap bertahan pada azas jeneralitas identitas dan terus menolak—cukup logis menurut logika mereka, tapi tak logis menurut kenyataan—keberadaan objektif yang nyata, yakni kenyataan perbedaan diri atau kontradiksi.

Kategori identitas itu abstrak: hukum logika formal merupakan ekspresi langsung dari konsepsi dan persamaan logika ke-diam-an keberadaan objek. Oleh sebab itu, logika formal, secara esensial, merupakan logika kematian, hubungan yang dingin, sesuatu yang diam, pengulangan abadi dan kemandegan. Sejauh kita mengganggap bahwa sesuatu itu statis dan mandeg, maka adalah benar bahwa kita tidak bertentangan dengan kontradiksi. Kita mendapatkan kwalitas tertentu yang sebagian merupakan hal yang bias, terpisah, bahkan saling kontradiktif, tapi, dalam kasus ini (dalam sistim logika formal), kwalitas tersebar di antara objek yang berbeda dan tanpa kontradiksi.

Bila melihat apa yang terjadi pada kasus lain, yang bergerak, ternyata tidak saja saling berhubungan, dan tidak saja secara eksternal tapi juga secara internal, sesuatu akan kehilangan identitas dan bergerak menuju sesuatu yang lain. Sungai Hudson mengalir dan bergabung dengan samudra Atlantik; Mark jerman merosot menjadi secarik kertas cetakan dan lainnya. Apa yang bisa dilakukan oleh sesuatu hal dapat dilihat saat ia kehilangan identitas. Hasil internal dan eksternal gerak benda-benda nyata terwujud secara kontradiktif. Tapi tetap ada benarnya juga bahwa: mereka berhubungan dengan realitas. Tidak ada yang permanen. Kenyataan tidak pernah berhenti, selalu berubah, selalu fluktuatif (tidak stabil/naik turun). Proses universal, yang tak terbantahkan, membentuk landasan material bagi teori yang di ajarkan Engels ”…seluruh alam, dari unsur yang paling kecil sampai yang paling besar, dari debu hingga matahari, keberadaannya ada dalam keabadian menjadi dan melenyap, menghilang, kemudian bergolak dalam gerak yang tak berhenti…” Dalam ilmu modern, tak ada jeneralisasi yang lebih aman selain berbasiskan pada percobaan, fakta, ketimbang memahami teori perkembangan universal pikiran manusia, yang bergerak maju dalam abad ke-19.

Hukum logika formal, yang berada di luar kontradiksi, mengabaikan kontradiksi dalam teori dan realitas perkembangan universal. Hukum identitas itu abstrak, tak melahirkan perubahan. Sebenarnya, dari dua preposisi yang bertentangan tersebut, yang mana yang benar dan yang salah? Itu lah pertanyaan dari penganut dialektika—yang melandasi pikirannya berdasarkan proses alamiah—kepada penganut logika formal yang berkepala batu. Persoalan pikiran ilmiah, yang sedang berhadapan dengan logika formal, tidak semata-mata merupakan persoalan yang terjadi dari akhir abad ini saja namun sejak zaman sebelumnya.

2. Logika Formal Mendirikan Benteng/Hambatan (di Antara Segala Hal) yang Tak Boleh Diterobos

Logika formal memiliki kesalahan-kesalahan karena dikepung oleh persoalan-persoalan material, ditelikung oleh ketidakmengertian terhadap fase perkembangan semua persoalan, dan tak bisa mengerti mengenai cerminan, refleksi, kenyataan objektif dalam jiwa kita. Antara kebenaran dan kesalahan tak ada fase antaranya, tak ada tahap transisi dan rantai penghubungnya.

Hegel bicara tentang hal tersebut: “Pikiran-Jiwa, mengambil posisi oposisi di antara kebenaran dan kesalahan, serta menjadi pas, terlebih-lebih setelah diterima entah sebagai perjanjian atau sebagai kontradiksi antara sistim filsafat. Dan hanya melihat alasan pada sesuatu yang ada dalam pernyataan-pernyataan sistim tersebut. Hal tersebut tidak lah menggambarkan perbedaan sistim filsafat sebagai evolusi progresif kebenaran; tapi harus lebih dilihat sebagai kontradiksi.”

“Tunas menghilang setelah bunga berkembang, dan dapat kita katakan: yang awal ditolak keberadaanya oleh yang berikut; sama dengan setelah buah muncul, bunga bisa dijelaskan sebagai sesuatu bentuk yang salah (dari keberadaan tumbuhan) bagi kemunculan buah, dilihat sebagai kebenaran alamiah menggantikan bunga. Tahapan tersebut bukan berarti sekadar pembedaan; yang satu merupakan pengganti, tak tepat lagi, bagi yang lain. Aktivitas tanpa henti hakikat inherennya membuat mereka, pada saat yang sama, dan dalam seluruh momentumnya, memiliki kesatuan organik, yang bukan saja sekadar nmengkontradiksikan yang satu dengan dengan yang lainnya, namun yang satu merupakan keniscayaan bagi yang lainnya; dan keniscayaan (setara) seluruh momen tersebut lah yang menentukan kehidupannya secara keseluruhan. Tapi kontradiksi antar sistim filsafat tidak bisa diselesaikan dengan cara seperti itu; di lain pihak, pikiran-jiwa yang menerima kontradiksi tersebut bukan berarti, secara akal sehat, ia memiliki pengetahuan bahwa kebenaran merupakan hasil perbaikan dan pembebasan dari kesalahan bersatu-sisi, dan mengakui bahwa semua itu merupakan hasil dari kehadiran momen-momen selayaknya (niscaya) yang saling melengkapi atau berbalasan—walaupun kelihatannya saling bertentangan dan, secara inheren, antagonostik.”

Jika kita menggunakan logika formal sebagai nilai, maka kita harus mengakui bahwa semua hal, atau segala keadaan sesuatu, adalah mutlak independen dari segala hal atau dari segala keadaan. Dunia diperkirakan sebagai segala sesuatu yang eksis dalam kesendiriannya yang sempurna, terpisah dari segala hal. Posisi filsafat yang menggambarkan logika tersebut mencapai hasil akhir berupa: filsafat idealis-subjektif, yang muncul dengan membawa asumsi bahwa tidak ada yang benar-benar eksis, kecuali dirinya sendiri. Itu bisa diketahui dari soligisme (dalam kata latin) solus ipse (aku sendiri).

Itu lah cerminan posisi absur dalam melihat sesuatu. Apapun teori yang dikemukakannya, ia hanya mengakui keberadaan dirinya. Lebih jauh lagi, jika kita mau sedikit lebih mendalam, bagaimanapun terisolasi dan independennya sesuatu hal, sebenarnya ia membutuhkan keberadaan yang lain. Untuk berada dan menjadi dirinya, jika kita tidak menghubungkannya dengan sesuatu yang terkait dengan realitas, maka kita tidak akan pernah bisa mengerti secara tepat dan pas.

Segala sesuatu akan melaju dan mengubah dirinya menjadi sesuatu yang baru. Untuk mengerti hal tersebut, kita harus menerobos batasan-batasan formal yang memisahkan satu dengan yang lainnya. Sejauh ini, kita tahu bahwa tak ada benda yang diam.

“Preposisi fundamental dialektika Marxisme: semua batasan dalam alam dan masyarakat adalah konvensional dan bergerak, artinya: tak ada satu fenomena pun yang, ketika berada di bawah kondisi-kondisi tertentu, tidak berubah menjadi bertentangan,” kata Lenin.Dalam skala sejarah yang lebih luas, Trotsky berkata bahwa: ”…kesadaran tumbuh dari ketidak sadaran, psikologi dari luar psikologi, dunia organik dari non-organik, sistim tata surya dari nebula.”

Penghancuran batas-batas, perjalan sesuatu menjadi yang lainnya, ketergantugan bersamanya, tidak terlepas dari garis perkembangan sejarah itu sendiri; semuanya berjalan bersama kita. Kita bertindak berbasiskan ide, dan ide tersebut kehilangan karakter mental yang mendominasinya serta menjadi kekuatan aktif di dalam dunia lewat diri kita. Marx menunjukkan bahwa sebuah sistim ide, seperti sosialisme, menjadi sebuah kekuatan material ketika ia berada dalam pikiran massa kelas pekerja, dan akan bergerak dalam aksi-aksi untuk merealisasikannya—perjuangan menuju sosialisme.

Segalanya memiliki garis batas demarkasi, yang membatasi segala sesuatu. Bila tidak, ia tak akan menjadi sebuah tubuh yang memiliki identitas yang unik. Kita harus menemukan batasan-batasan tersebut dalam praktek dan menyusunnya dalam pikiran kita. Tapi batasan-batasan tersebut jangan menjadi kaku dan menelikung segala kondisi; batasan-batasan tersebut tak akan sama dalam setiap saat. Mereka berfluktuasai menurut proses perubahan. Batasan-batasan relatif, gerak dan cair dikenal namun ditolak oleh logika formal. Hukum tersebut menyimpulkan segalanya memiliki batasan-batasan tapi, yang lebih penting lagi, bahwa batasan-batasan tersebut memiliki pembatas-pembatas bagi dirinya.

3. Logika Formal Menolak Pembedaan Setiap Identitas

Kita telah melihat bahwa logika formal menggambarkan pembatasan tajam antara kesamaan, atau identitas (identity), dengan perbedaan (difference). Semuanya ditempatkan dalam pertentangan yang mutlak satu dengan yang lainnya. Jika terdapat hubungan antara keduanya, dianggap kebetulan dan eksternal, serta tidak akan berdampak pada keberadaan internalnya.

Penganut logika formal melihat semua itu sebagai sebuah kontradiksi logis, dan merupakan sebuah horor yang mengerikan untuk mengatakan—seperti para penganut dialektika—bahwa identitas bisa menjadi perbedaan, dan perbedaan bisa menjadi identitas. Mereka yakin bahwa identitas adalah identitas dan perbedaan dalah perbedaan, dan tidak dapat sama pada saat yang bersamaan. Coba kita bandingkan kesimpulan-kesimpulan tersebut dengan fakta-fakta pengalaman yang diuji dari kebenaran semua hukum dan ide.

Dalam Dialectic of Nature, Engels mengatakan: “Tumbuhan, binatang, dan setiap sel, setiap saat dalam hidupnya adalah sama dengan dirinya dan menjadi berbeda dari dirinya, karena bergabung dan mengalir dalam substansi hidup, karena respirasinya, karena pembentukan sel dan karena kematian sel—lewat proses perputaran yang bergantian, dengan singkatnya bisa disebutkan: karena ada perubahan molekul yang membuatnya hidup. Dan karena kesimpulan dari setiap hasilnya merupakan bukti bagi mata kita bahwa mereka memiliki setiap fase kehidupan: fase embrio, remaja, kematangn seksual, proses reproduksi, usia lanjut dan kematian. Semua itu adalah bagian dari evolusi semua spesies di bumi. Fisiologi lebih lanjut menggamblangkannya: yang lebih penting adalah ia tidak berhenti, tidak selesai dan, yang lebih penting lagi, adalah bahwa semuanya tetap berbeda di dalam identitasnya. Namun pandangan abstrak-kuno indetitas formal memahaminya bahwa suatu organik berada seperti sebuah identitas yang sederhana dalam dirinya, konstan dan statis—menjadi ketinggalan jaman.

“Namun demikian, corak berpikir itu berbasiskan seperti itu, bersama dengan kategorinya, terus menerus bertahan. Tapi, bahkan dalam hakikat non-organik pun, identitas seperti itu tak terdapat dalam realita. Setiap orang terus menerus menunjukkan dan menerima pengaruh-pengaruh mekanik, fisika dan kimia, yang selalu merubah dan memodifikasi identitasnya.”

Hambatan/benteng absolut tak mungkin bisa didirikan oleh logika formal—misalnya dalam kasus antara dua hal yang saling berpenetrasi dalam realitas yang berlanjut, bergerak—karena telah dicuci oleh proses perkembangan sehingga kemudian perbedaan telah menjadi kesamaan. Sebelum kami datang ke gedung ini, kami adalah orang-orang New York yang berbeda-beda. Persamaan menjadi perbedaan: setelah pelajaran ini selesai, kita akan berpisah ke tempat yang berbeda-beda. Perubahan dari perbedaan menjadi persamaan dan persamaan menjadi perbedaan mengambil peran dalam semua hubungan. Tunas yang mekar menjadi bunga, bunga menjadi buah, sehingga setiap fasenya yang berbeda adalah menjadi bagian dari pohon yang sama.Tidak seperti hukum logika formal, kesamaan material yang nyata tidak menyingkirkan dari dirinya sendiri perbedaan-perbedaan yang ada tapi mengisi ke/di dalam dirinya sebagai bagian yang esensial. Perbedaan nyata tidak membuang kesamaan tapi memasukkannya sebagai elemen esensial di dalam dirinya. Kedua bentuk tersebut dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya dengan membuat pembedaan dalam pemikiran, tapi itu tidak berarti—seperti dalam logika formal—bahwa, dalam realita, mereka bisa dipisah-pisahkankan.

4. Hukum-hukum Logika Formal: Absolut

Ketidaklengkapan keempat hukum logika formal adalah bahwa mereka menyatakan dirinya sebagi sesuatu yang absolut, mutlak, final, tak bersyarat, dan pengecualian adalah tidak mungkin. Mereka mengatur dunia pemikirannya dengan cara yang totaliter, memastikan kepatuhan yang tidak boleh dipertanyakan dalam segala hal, memanjat otoritas tanpa batas demi kedaulatan mereka. A selalu sama dengan A, tak ada satu pun yang bisa menggugatnya.

Sialnya, bagi penganut logika formal, tak ada di dunia ini yang seperti mereka kemukakan. Ternyata, segalanya hadir sebagaimana aslinya, dengan sejarah dan syarat-syarat materialnya yang sudah tertentu, baik dalam hubungan satu dengan yang lainnya maupun dalam keterpisahannya, dan setiap waktu proporsinya sudah tertentu serta dapat diukur. Masyarakat manusia, contohnya. Manusia hadir di muka bumi pada waktu tertentu dan secara material dibedakan evolusinya (lebih tinggi) dari binatang. Namun Ia tak dapat dipisah-pisahkan sebagai sesuatu yang organik atau non-organik; mereka berkembang dalam derajat-derajat tertentu dan kehadirannya telah melangkah jauh, tumbuh, secara kwantitif penuh menuju kwalitatif yang berbeda. Setiap tahap perkembangan sosialnya memiliki hukum perkembangan sendiri dan memiliki karakter-karakter khususnya.

Hukum yang mutlak tidak dapat lagi bertahan di dunia nyata. Dalam berbagai tahap alam, perkembangan ilmu fisika, elemen kimia, molekul, atom, elektron diyakini oleh pemikir-pemikir metafisika sebagai atau memiliki substansi yang tidak berubah. Manusia tidak dapat mundur atau maju. Dengan kemajuan ilmu alam, setiap bagian keabadian-mutlak telah ditumbangkan—setiap pembentukan materialnya telah teruji memiliki syarat, terbatas dan relatif. Semua kepentingannya yang menjadi mutlak, terbatas (secara absolut) dan tidak berubah telah terbukti: salah.

Ketika, pada akhir abad ke-19, ilmuwan mulai mengadakan dan memperoleh berbagai macam penemuan, ilmuwan sosial Amerika Serikat malah meyakini bahwa demokrasi borjuis merupakan bentuk mahkota pemerintahan bagi peradaban manusia. Namun, pengalaman sejarah sejak 1917 telah menjadi saksi bahwa demokrasi borjuis telah ditumbangkan oleh Bolsevikisme dan fascisme—telah terbukti bahwa alangkah terbatasnya sejarah ini, dan alangkah banyak serta bersyaratnya bentuk-bentuk kapitalisme.

Jika setiap hal hadir di bawah syarat material sejarah tertentu, berkembang, beragam, kemudian menghilang, bagaimana mungkin hukum absolut berlaku pada segala hal dengan cara yang sama, pada derajat yang sama, di setiap waktu dan di bawah semua syarat-syarat tertentu? Itu tentunya merupakan klaim yang dibuat oleh logika formal. Tuntutannya pada realistas, dan dalam pencarian hukum-hukumnya, logika formal menyebabkan ilmuwan jatuh pada kebutaan logika.

Pada analisanya yang terakhir, hanya Sang Absolut lah yang memenuhi standar logika formal. Sang Absolut lah yang seharusnya mulak, tidak terikat, sempurna, independen dari segalanya.

5. Logika Formal Bisa Membuat Perhitungan tentang Segala Hal—Tapi Tidak atas Dirinya

Akhirnya, hukum logika formal, yang seharusnya memberikan penjelasan rasional bagi segala hal, memiliki kesalahan yang serius. Logika formal tak bisa memperhitungkan dirinya. Menurut teori Marxisme, segalanya menjadi ada karena hasil dari sebab-sebab material, yang berkembang lewat fase-fase yang silih-berganti, yang akhirnya mati.

Bagaimana logika formal dan hukummya? Dimana, kapan dan mengapa segala hal bertumbuh, bagaimana segala hal berkembang? Apakah segala hal abadi?

Jika kau menantang penganut logika formal, bertanya bagaimana cara menerapkan hukum-hukum logika ke dalam sejarah dan bagaimana menerima aturan-aturan universal tersebut maka, tak ada yang berbeda, mereka akan menjawab seperti halnya kaum monarki menjawabnya: kami melakukannya atas nama … (Sang Absolut)

Kita lihat berapa banyak kebenaran dalam dialektika dan agama seperti yang dibuat profesor James Burnham dan Sidney Hook. Dalam kenyataanya, logika formal berjalan bergandengan dengan ke-Absolut-an dan dogmatisme. Sebagai hukum-hukum keabadian.

Logika formal berdiri bersamaan dengan prinsip-prinsip keabadian moralitas, seperti yang digambarkan Trotsky: “Surga selalu hanya dijadikan senjata—yang digunakan dalam operasi militer—untuk melawan dialektika materialis.”

Pada kenyataannya, logika formal muncul dalam suatu masyarakat pada tahapan tertentu, dalam sebuah titik perkembangannya. Dan, kemudian, manusia dapat menundukkan alam; kemudian ia berkembang sepanjang pertumbuhan umat manusia, sepanjang pertumbuhan tenaga-tenaga produktifnya, hingga bisa bekerja sama dengan pemikiran dialektik, yang ditanamkan lewat perkembangan lebih lanjutnya. Tempat bagi logika dialektik ada dimana saja, tapi dibutuhkan suatu revolusi dalam pemikiran manusia untuk menempatkannya secara tepat.

Salah satu kelebihan dialektika dari logika formal bisa dilihat dalam kenyataan; tidak seperti logika formal, dialektika tidak hanya dapat menghitung keberadaan logika formal namun juga dapat menunjukkan mengapa harus menggantikan logika formal tersebut. Dialektika dapat menjelaskan tentang dirinya, pada dirinya, dan pada yang lain. Oleh karenanya, dielektika lebih logis ketimbang logika formal.

***

Mari kita melihat bagaimana kemajuan kritik kita terhadap logika formal. Kita mulai dengan mencari kepastian tentang kebenaran logika formal. Kemudian kita mencapai sebuah batas yang, bila kita teruskan (pencarian tersebut), hanya akan berisi kesalahan-kesalahan semata. Kemudian kita dorong maju melewati batasan tersebut. Maka kita, akhirnya, akan menolak “kebenaran” logika formal yang tak bersyarat, absolut, bertentangan dengan apa yang hendak kita pastikan.

Hukum formalisme terlihat memiliki dua sisi, kebenaran dan kesalahan. Kemudian, ketika segala hal menjadi lebih kompleks dan kontradiktif, hukum-hukum bisa berkembang dan berubah sesuai dengan akal sehat saat menganalisa kecenderungan yang berlawanan (secara terus menerus)—memang demikian lah hukum yang ada dalam diri segala hal. Ketika kita meganalisa dua kutub yang bertentangan dari segi karakter kontradiksinya, melepas saling-hubungan di antaranya, maka kita dapatkan bagaimana dan mengapa masing-masing kutub tersebut menjadi berubah sesuai dengan hukum-hukum dirinya masing-masing.

Itulah metode dialektik yang digunakan dalam berfikir. Hasilnya, kita akan tiba di depan gerbang dialektika dengan menggunakan jalur dialektik yang sejati. Itu lah sebabnya juga mengapa kemanusiaan akan sampai pada dialektika, memegangnya sebagai sebuah sistim perumusan pemikiran. Manusia menemukan batasan-batasan dalam logika, namun bisa menundukkannya dengan membuat sebuah bentuk logika yang lebih tinggi lagi secara teoritis. Dialektika membuktikan kebenarannya dengan menerapkan metode berpikirnya demi menjelaskan dirinya dan asal usulnya.

Dialektika hadir sebagai hasil dari sebuah revolusi sosial yang kolosal, menembus batas semua bagian kehidupan. Dalam politik, representasi massa yang bangkit secara tidak sadar kemudian dibimbing oleh pemahaman dialektik. Mengetuk pintu kaum monarki dan menghancurkannya: “Waktu telah berubah, kami menuntut kesederajatan!” Dengan semangat formalisme, dengan semangat logika formal, kaum pembela absolutisme menjawab: “Kau salah, kau subversif, tidak ada yang berubah dan tidak ada yang dapat berubah. Raja tetap lah raja, dimana saja dan kapan saja. A sama dengan A, kedaulatan tidak dapat mensejajarkan manusia yang bukan A, yang Non-A.” Alasan formal semacam itu tidak dapat membendung kemajuan, kemenangan revolusi demokratik borjuis lah yang, kemudian, menghancurkan monarki. Dialektika revolusioner, bukan logika formal, yang berlaku dalam politik praktis.

Dalam ruang ilmu-pengetahuan, logika formal terjerumus dalam kriris revolusioner yang sama sebagaimana yang dialami politik absolutisme. Kekuatan baru ilmu-pengetahuan bangkit dalam perkembangan alam dan ilmu sosial—yang memukul logika formal yang sudah berkuasa ribuan tahun—guna menuntut hak mereka. Bagaimana revolusi logika dimulai dan dan ke mana arahnya, akan dijadikan topik berikutnya.

(TAMAT)

Catatan:

1. George Novack, An Introduction to The Logic of Marxism, bahan kuliah.

Read Full Article

Brussel, 28 Desember 1846

Tuan Annenkov yth.

Semestinya anda menerima jawabanku atas surat anda tanggal 1 November, tetapi itu tidak terjadi karena toko buku baru minggu lalu mengirimkan padaku buku Monsieur Proudhon, The Philosophy of Poverty. Buku itu telah aku baca dan selesai dalam dua hari agar dapat segera menyampaikan pada anda pendapatku tentang buku itu. Karena aku membaca buku itu dengan sangat tergesa-gesa, aku tidak dapat membicarakan hingga terperinci sekali, tetapi hanya dapat menyampaikan pada anda kesan umum yang aku peroleh darinya. Jika anda menghendaki, aku dapat membicarakannya secara mendetail dalam sepucuk surat yang kedua.

Dengan terus-terang, aku harus mengakui bahwa buku itu, menurutku, secara umum, buruk, dan sangat jelek. Anda sendiri tertawa dalam surat anda yang berbicara soal “sekelumit filsafat Jerman” yang diperagakan M. Proudhon dalam karya tiada bentuk dan pretensius itu, tetapi anda beranggapan bahwa argumen ekonominya tidak terinfeksi oleh racun filsafatnya. Aku sendiri jauh daripada menuduhkan kesalahan-kesalahan dalam argumen ekonomik dalam filsafat M. Proudhon. M Proudhon tidak menyajikan suatu kritik palsu mengenai ekonomi politik karena ia adalah pemilik suatu teori filsafat yang absurd, tetapi ia memberikan pada kita suatu teori filsafat yang absurd karena ia gagal memahami sistem sosial dewasa ini dalam engrenement-(proses merangkaikan/menghubungkan dalam suatu rangkaian)nya, bila kita menggunakan sebuah kata yang, seperti banyak lainnya, dipinjam M. Proudhon dari Fourier.

Mengapa M. Proudhon berbicara tentang Tuhan, tentang nalar universal, tentang nalar kemanusiaan yang impersonal dan yang tidak pernah salah, yang selalu setara dengan dirinya sendiri selama berabad-abad, dan yang tentangnya orang cuma memerlukan kesadaran yang tepat agar mengetahui kebenaran? Mengapa ia bersandar pada Hegeliansime yang lembek untuk memberikan pada dirinya sendiri tampang seorang pemikir yang berani?

M. Proudhon serndiri yang memberikan kunci pada enigma itu.

M. Proudhon melihat dalam sejarah suatu rentetan perkembangan sosial; ia menemukan kemajuan diwujudkan dalam sejarah; akhirnya ia mendapatkan bahwa manusia, sebagai individual-individual, tidak mengetahui apa yang sedang mereka kerjakan dan melakukan kesalahan dalam gerak mereka sendiri, yaitu, perkembangan sosial mereka pada penglihatan pertama tampaknya jelas, terpisah dan berdiri sendiri dari perkembangan individual mereka. Ia tidak dapat menerangkan fakta tersebut, dan karenanya ia cuma membikin-bikin hipotesis mengenai nalar universal lah yang mengungkapkan dirinya sendiri. Tidak ada yang lebih mudah daripada membikin-bikin sebab-sebab mistikal, yaitu, frase-frase yang tidak mengandung akal sehat.

Tetapi, tatkala M. Proudhon mengakui bahwa ia tidak mengerti sedikitpun tentang perkembangan historis kemanusiaan–-ia mengakui hal itu dengan menggunakan kata-kata yang bernada-tinggi seperti: Nalar Universal, Tuhan, dan sebagainya–tidakkah dengan begini ia secara implisit dan mau-tidak-mau mengakui bahwa dirinya tidak mampu memahami perkembangan ekonomi?

Apakah masyarakat itu, apa dan bagaimanapun bentuknya? Produk dari tindakan timbal-balik orang-orang. Bebaskah orang memilih masyarakat yang bentuknya begini atau bentuknya yang begitu bagi diri mereka sendiri? Sama sekali tidak bisa. Andaikan lah suatu kelas dan perkembangan tertentu dalam tenaga-tenaga produktif manusia, dan anda akan mendapatkan suatu bentuk perdagangan dan konsumsi yang tertentu pula. Andaikan lah tahap-tahap perkembangan tertentu dalam produksi, perdagangan dan konsumsi, dan anda akan mendapatkan bentukan sosial yang bersesuaian, suatu organisasi keluarga yang bersesuaian, dari suatu tatanan-tatanan atau dari kelas-kelas, singkat kata, suatu masyarakat sipil (madani) yang bersesuaian. Andaikan sebuah masyarakat sipil tertentu dan akan anda dapatkan kondisi-kondisi politik tertentu yang hanya merupakan ungkapan resmi dari masyarakat sivil. M. Proudhon tidak akan pernah memahami hal itu karena ia mengira dirinya sedang melakukan sesuatu yang besar dengan dalam dari negara pada masyarakat –yaitu, dari resume/ikhtisar resmi masyarakat pada masyarakat resmi.

Adalah terlalu berlebihan untuk menambahkan bahwa manusia tidak bebas memilih “tenaga-tenaga produktif” mereka–yang adalah dasar dari seluruh sejarah mereka–karena setiap tenaga produktif adalah suatu tenaga perolehan, produk dari aktivitas sebelumnya. Karenanya, tenaga-tenaga produktif adalah hasil energi praktikal manusia; tetapi energi itu sendiri dikondisikan oleh keadaan-keadaan yang didapatkan manusia untuk diri mereka, oleh tenaga-tenaga produktif yang sudah diperoleh, oleh bentuk sosisal yang sudah ada sebelumnya, yang tidak mereka ciptakan yang, adalah, produk dari generasi yang mendahului mereka. Karena, kenyataan sederhana, bahwa setiap generasi berikutnya mendapatkan dirinya memiliki tenaga-tenaga produktif yang diperoleh generasi sebelumnya, yang berlaku sebagai bahan-bahan mentah bagi produksi baru, maka lahirlah suatu koherensi (perpautan) di dalam sejarah manusia, suatu sejarah kemanusiaan yang terbentuk dan semakin merupakan suatu sejarah kemanusiaan karena tenaga-tenaga produktif manusia dan, karenanya, hubungan-hubungan sosialnya telah semakin berkembang. Dari situ, mau tidak mau, barulah menyusul kesimpulan bahwa sejarah sosial manusia tidak lain dan tidak bukan adalah sejarah perkembangan individual mereka, baik hal itu mereka sadari atau tidak sadari. Hubungan-hubungan material mereka adalah dasar dari semua hubungan-hubungan mereka. Hubungan-hubungan material tersebut hanyalah bentuk-bentuk yang diharuskan untuk merealisasikan aktivitas material dan individual mereka.

M. Proudhon mencampur-adukkan gagasan-gagasan dengan hal-hal ikhwal. Manusia tidak pernah melepaskan yang telah dimenangkannya, tetapi itu tidak berarti bahwa mereka tidak pernah melepaskan bentuk sosial yang di dalamnya mereka telah memperoleh tenaga-tenaga produktif tertentu. Sebaliknya, agar hasil yang telah dicapainya tidak dirampas, dan kehilangan buah-buah peradaban, mereka diharuskan–sejak saat bentuk perdagangan mereka tidak lagi bersesuaian dengan tenaga-tenaga produktif yang diperoleh–untuk mengubah semua bentuk-bentuk sosial tradisional mereka. Aku menggunakan kata “lalu lalang perdagangan” (commerce) di sini dalam arti seluas-luasnya, sebagaimana kita menggunakan kata verkehr dalam bahasa Jerman. Misalnya, hak-hak istimewa (prvivilese-privilese), lembaga gilde-gilde dan korporasi-korporasi, rezim regulatori Abad-abad Pertengahan, yang merupakan hubungan-hubungan sosial satu-satunya yang bersesuaian dengan tenaga-tenaga produktif yang telah dicapai dan bersesuaian dengan kondisi sosial yang ada sebelumnya dan dari padanya lembaga-lembaga itu telah lahir. Di bawah perlindungan rezim korporasi-korporasi dan regulasi-regulasi, modal diakumulasi, perdagangan seberang lautan dikembangkan, koloni-koloni dibangun. Tetapi buah-buahnya berarti akan hilang bagi manusia apabila mereka mencoba mempertahankan bentuk-bentuk yang mengayomi/mematangkan buah-buah tersebut. Dari situlah menyambarnya dua petir–Revolusi-revolusi tahun 1645 dan tahun 1688. Semua bentuk ekonomi lama, hubungan-hubungan sosial yang bersesuaian dengannya, kondisi-kondisi politik yang menjadi ungkapan resmi masyarakat sipil lama, semua itu dihancurkan di Inggris. Dengan demikian, maka bentuk-bentuk ekonomi, yang dengannya manusia berproduksi, berkonsumsi dan melakukan pertukaran, adalah semuanya bersifat peralihan (transitoris) dan historis. Dengan diperolehnya jurusan-jurusan produktif baru, manusia mengubah cara produksi dan, dengan cara produksi itu, muncul lah semuahubungan ekonomi yang cuma sekedar hubungan-hubungan yang diperlukan dari cara produksi tertentu itu.

Itulah yang tidak dimengerti M. Proudhon dan bahkan, terlebih-lebih, tidak diperagakannya. M. Proudhon, yang tidak mampu mengikuti gerak sesungguhnya sejarah, membuat suatu fantasmagoria yang dengan pongah menyatakan diri sebagai puncaknya dialektika. Ia tidak merasa perlu untuk berbicara tentang abad-abad ke tujuhbelas, ke delapanbelas atau ke sembilanbelas bagi proses-proses sejarahnya alam alam-imajinasi yang berkabut dan menjulang jauh di atas ruang dan waktu. Singkat kata, itu bukan sejarah tetapi rongsokan lama Hegelian, itu bukan sejarah duniawi–suatu sejarah kemanusiaan–tetapi sejarah keramat–suatu sejarah ide-ide. Dari sudut pandangnya, manusia Cuma alat yang digunakan oleh ide atau nalar abadi untuk mengungkap diri sendiri. Evolusi-evolusi yang dibicarakan M. Proudhon dipahami sebagai evolusi-evolusi sebagaimana yang digenapkan dalam lubuk mistik ide mutlak itu. Jika orang merobek cadar bahasa mistikal itu, jadinya adalah bahwa M. Proudhon menawarkan pada kita tatanan yang di dalamnya kategori-kategori ekonomi menata dirinya sendiri di dalam kepalanya. Tidaklah memerlukan banyak pengerahan tenaga dari pihakku untuk membuktikan bahwa hal itu adalah tatanan dari suatu pikiran yang sangat amburadul.

M. Proudhon memulai bukunya dengan sebuah disertasi tentang nilai, yang memang menjadi subjek kegemarannya. Sekarang ini aku tidak akan melakukan suatu pemeriksaan atas disertasi itu.

Rangkaian evolusi-evolusi ekonomi dari nalar abadi mulai dengan “pembagian kerja.” Bagi M. Proudhon pembagian kerja itu sesuatu yang sederhana sekali. Padahal, tidakkah rejim kasta itu juga suatu pembagian kerja tertentu? Tidakkah rejim korporasi-korporasi suatu pembagian kerja yang lainnya? Dan tidakkah pembagian kerja di bawah sistem manufaktur, yang di Inggris dimulai sekitar pertengahan abad ke tujuh belas dan berakhir pada bagian akhir abad ke delapanbelas, juga sangat berbeda dari pembagian kerja dalam industri modern raksasa?

M. Proudhon begitu jauhnya dari kebenaran sehingga ia mengabaikan yang, bahkan, diperhatikan oleh para ahli ekonomi duniawi. Ketika M. Proudhon berbicara tentang pembagian kerja, ia tidak merasa perlu menyebutkan pasar dunia. Bagus. Namun, tidak kah pembagian kerja pada abad-abad ke empatbelas dan limabelas–ketika belum terdapat koloni-koloni, ketika Amerika masih belum eksis bagi Eropa, dan Asia Timur hanya ada baginya (bagi Eropa) lewat perantaraan Konstantinopel–adalah secara fundamental berbeda dari yang ada pada abad ke tujuhbelas ketika koloni-koloni sudah berkembang?

Dan itu belum semuanya. Adakah seluruh organisasi intern bangsa-bangsa (nasion-nasion), adakah semua hubungan-hubungan internasional mereka tidak lain dan tidak bukan adalah ungkapan dari suatu pembagian kerja tertentu? Dan tidakkah itu berubah ketika pembagian kerjanya berubah?

M. Proudhon begitu dangkal memahami masalah pembagian kerja sehingga ia bahkan tidak pernah menyebutkan pemisahan kota dan desa yang terjadi di Jerman, misalnya dari abad ke sembilan hingga abad ke duabelas. Demikianlah bagi M. Proudhon, pemisahan tersebut adalah suatu hukum abadi karena ia tidak mengetahui asal-usulnya maupun perkembangannya. Di sepanjang bukunya, ia berbicara sepertinya penciptaan suatu cara produksi tertentu itu akan bertahan hingga akhir zaman. Segala yang dikatakan M. Proudhon mengenai pembagian kerja hanyalah sebuah ringkasan, dan lebih dari itu suatu ringkasan yang sangat dangkal dan tidak lengkap dari yang telah dikatakan oleh Adam Smith dan ribuan orang lainnya sebelum dirinya (M. Proudhon).

Evolusi kedua adalah “permesinan.” Hubungan antara pembagian kerja dan mesin adalah sepenuh-penuhnya mistikal bagi M. Proudhon. Setiap jenis pembagian kerja mempunyai alat-alat produksinya yang khusus. Antara pertengahan abad ke tujubelas dan pertengahan abad ke delapanbelas, misalnya, orang tidak membuat segala sesuatu dengan tangan. Terdapat mesin-mesin, dan mesin-mesin yang sangat rumit, seperti perkakas tenun, bahtera, pengumpil, dan sebagainya.

Karenanya, tidak ada yang lebih absurd daripada menderivasi mesin dari pembagian kerja pada umumnya.

Sambil lalu, boleh juga aku menyatakan bahwa, karena memang sebenarnya M. Proudhon tidak memahami asal-usul permesinan, ia lebih tidak memahami lagi perkembangannya. Orang dapat mengatakan bahwa sampai tahun 1825–periode krisis umum pertama–tuntutan-tuntutan konsumsi pada umumnya telah meningkat lebih pesat daripada produksi, dan perkembangan permesinan adalah suatu konsekuensi yang niscaya atas kebutuhan-kebutuhan pasar. Sejak 1825, penemuan dan penerapan permesinan cuma hasil belaka dari pergulatan antara kelas buruh dengan kaum majikan. Namun itu hanya benar bagi Inggris. Sedangkan bagi bangsa-bangsa Eropa, mereka itu didera untuk mengadopsi permesinan karena persaingan dengan Inggris, baik di pasar-pasar dalam negeri mereka maupun di pasar dunia. Akhirnya, di Amerika Utara sendiri pengenalan mesin disebabkan oleh persaingan dengan negeri-negeri lain maupun karena kekurangan tenaga pekerja, yaitu, karena adanya disproporsi (ketidakseimbangan) antara penduduk Amerika Utara dan kebutuhan-kebutuhan industrialnya. Dari fakta itu, dapatlah dilihat kebijaksanaan apa yang dikembangkan Monsieur Proudhon ketika ia memanterakan hantu persaingan sebagai evolusi ketiga, antitesis terhadap permesinan!

Yang terakhir dan pada umumnya, adalah sepenuhnya absurd menjadikan “permesinan” sebagai suatu kategori ekonomi yang berdampingan dengan pembagian kerja, persaingan, kredit dan sebagainya.

Permesinan tidaklah lebih merupakan suatu kategori ekonomi layaknya lembu yang menyeret luku. Penerapan mesin dewasa ini merupakan salah satu hubungan sistem ekonomi kita masa kini, tetapi cara permesinan itu dipergunakan secara total berbeda dari permesinan itu sendiri. Bubuk tetaplah bubuk, apakah ia dipakai untuk melukai seseorang atau untuk mengobati luka-lukanya.

M. Proudhon melampaui dirinya sendiri ketika ia memperkenankan persaingan, monopoli, pajak-pajak atau polis-polis, neraca perdagangan, kredit dan pemilikan berkembang di dalam kepalanya menurut urutan sebagai aku menyebutkannya. Nyaris semua lembaga perkreditan telah dikembangkan di Inggris pada awal abad ke delapanbelas, sebelum penemuan mesin-mesin. Kredit publik hanyalah suatu cara segar untuk meningkatkan pemajakan dan pemuasan tuntutan-tuntutan baru yang diciptakan oleh naiknya burjuasi pada kekuasaan. Akhirnya, kategori terakhir dalam sistem M. Poroudhon terbentuk oleh pemilikan. Dalam dunia nyata, sebaliknya, pembagian kerja dan semua kategori M. Proudhon yang lainnya adalah hubungan-hubungan sosial yang dalam keseluruhannya membentuk apa yang dewasa ini dikenal sebagai pemilikan: di luar hubungan-hubungan ini, pemilikan burjuis tidak lain dan tidak lebih adalah suatu ilusi metafisikal atau juristik. Pemilikan, dalam suatu kurun waktu lain, misalnya pemilikan feodal, berkembang dalam serentetan hubungan-hubungan sosial yang sepenuhnya berlainan. M. Proudhon, dengan menegakkan pemilikan sebagai suatu hubungan yang bebas, melakukan lebih dari sebuah kesalahan dalam metode: ia dengan jelas menunjukan bahwa dirinya tidak menangkap hal ikatan yang meragamkan semua bentuk produksi burjuis, bahwa dirinya tidak memahami sifat “historis” dan “transitori” (sementara/peralihan) bentuk-bentuk produksi dalam suatu kurun waktu tertentu. M. Proudhon, yang tidak memandang lembahga-lembaga siosial kita sebagai produk-produk historis, tidak dapat memahami asal-usul maupun perkembangan mereka, ia hanya dapat menghasilkan kritik dogmatik tentang semua itu.

Karenanya, M. Proudhon terpaksa lari pada sebuah fiksi agar dapat menjelaskan perkembangan. Ia membayangkan bahwa pembagian kerja, kredit, permesinan, dan sebagainya., semuanya ditemukan untuk melayani ide pancangannya, ide mengenai persamaan/keadilan. Penjelasannya itu sungguh kepandiran sublim. Hal-hal itu ditemukan untuk kepentingan-kepentingan keadilan tetapi malangnya semua itu berbalik terhadap keadilan. Inilah seluruh persoalannya. Dengan kata-kata lain, M. Proudhon membuat suatu pengandaian mubazir dan kemudian, ketika perkembangan sesungguhnya bertentangan dengan fiksinya di setiap langkah dan sudut, ia menyimpulkan akan adanya suatu kontradiksi. Ia menyembunyikan fakta bahwa kontradiksi itu semata-mata ada antara ide-ide pancangannya dan gerak sesungguhnya.

Demikianlah M. Proudhon, karena terutama karena ia kekurangan pengetahuan historis, maka ia tidak memahami bahwa dengan berkembangnya tenaga-tenaga produktif manusia, yakni dalam kehidupan mereka, maka mereka mengembangkan hubungan-hubungan tertentu satu sama lainnya, dan bahwa sifat hubungan-hubungan itu mau tidak mau berubah bersama perubahan dan pertumbuhan tenaga-tenaga produktif itu. Ia tidak memahami bahwa “kategori-kategori ekonomi” hanyalah “ungkapan abstrak” dari hubungan-hubungan aktual tersebut dan hanyalah tetap berlaku selama hubungan-hubungan itu ada. Karena itulah, ia terjerumus ke dalam kesalahan para ahli ekonomi burjuis, yang menganggap kategori-kategori ekonomi itu sebagai hukum-hukum abadi dan tidak sebagai hukum-hukum historis yang, adalah, semata-mata hukum-hukum bagi suatu perkembangan historis tertentu dalam suatu perkembangan tertentu tenaga-tenaga produktif. Karena itu, menggantinya dengan menganggap kategori-kategori politikal-ekonomi ini sebagai ungkapan-ungkapan abstrak hubungan-hubungan sosial historis, transitori, yang sesungguhnya, Monsieur Proudhon, berkat suatu pembalikan mistik, melihat dalam hubungan-hubungan sesungguhnya itu cuma perwujudan dari abstraksi-abstraksi tersebut. Abstraksi-abstraksi itu sendiri adalah perumusan-perumusan yang ngendon di jantung Allah Bapa sejak awal dunia.

Tetapi, di sini, M. Proudhon kita yang baik itu sudah terjerumus ke dalam kejang-kejang intelektual yang amat sangat. Apabila semua kategori ekonomik itu adalah pancaran-pancaran dari jantung Tuhan, kehidupan yang tersembunyi dan kekal dari manusia, bagaimanakah kejadiannya, pertama-tama, bahwa ada yang disebut perkembangan dan, kedua, bahwa M. Proudhon bukan lah seorang konservatif? Ia menjelaskan kontradiksi-kontradiksi yang sangat jelas itu dengan suatu sistem antagonisme yang menyeluruh.

Untuk mendapatkan kejelasan mengenai sistem antagonisme-antagonisme itu marilah kita mengambil sebuah contoh.

“Monopoli” adalah sesuatu yang baik, karena ia adalah suatu kategori ekonomi dan karenanya suatu pancaran dari Tuhan. Persaingan adalah sesuatu yang baik karena ia juga suatu kategori ekonomi. Namun yang tidak baik adalah realitas dari monopoli dan realitas dari persaingan itu. Yang lebih buruk lagi adalah kenyataan bahwa persaingan dan monopoli saling mengganyang satu sama lain. Apakah yang harus dilakukan? Karena kedua ide kekal dari Tuhan itu saling berkontradiksi, maka tampaknya jelas sekali padanya bahwa terdapat juga di lubuk Tuhan suatu sintesis dari keduanya, di mana kejahatan-kejahatan monopoli diseimbangkan dengan persaingan dan sebaliknya (vice versa). Sebagai hasil pergulatan di antara kedua ide itu, hanya sisi baiknya yang akan tampak pada kita. Orang harus menyambar ide rahasia itu dari Tuhan dan kemudian menerapakannya dan segala sesuatu, dan akan jadilah yang paling baik; perumusan sintetik yang tersembunyi dalamn kegelapan nalar manusia, yang tidak mempribadi, harus diungkapkan. M. Proudhon tidak ragu-ragu sejenak pun untuk maju ke depan sebagai pengungkapnya.

Tetapi, lihatlah sejenak pada kehidupan nyata. Dalam kehidupan ekonomi masa kini, maka anda tidak hanya akan menjumpai persaingan dan monopoli, tetapi juga sintesis mereka, yang bukanlah sebuah “perumusan” (formula), melainkan adalah sebuah “gerakan.” Monopoli menghasilkan persaingan, persaingan menghasilkan monopoli. Tetapi kesetaraan itu, meripakan kesebalikan daripada menghilangkan kesulitan-kesulitan keadaan dewasa ini, sebagaimana para ahli ekonomi borjuis membayangkannya, yakni menghasilkan suatu situasi yang semakin sulit dan membingungkan. Maka, jika anda mengubah landasan yang di atasnya hubungan-hubungan ekonomi dewasa ini bertumpu, jika anda menghancurkan cara produksi “masa-kini,” maka anda tidak hanya akan menghancurkan persaingan, monopoli dan antagonisme mereka, melainkan juga akan menghancurkan kesatuan mereka, sintesis mereka, atau gerakan yang merupakan keseimbangan yang sesungguhnya dari persaingan dan monopoli.

Nah akan saya berikan sekarang sebuah contoh dari dialektika Monsieur Proudhon.

“Kebebasan” dan “perbudakan” merupakan sebuah antagonisme. Tidak perlu berbicara mengenai sisi baik dan sisi buruk dari kebebasan, juga–berbicara mengenai perbudakan–tidak perlu membicarakan sisi buruknya. Satu-satrunya hal yang harus dijelaskan adalah sisi baiknya. Kita tidak membicarakan perbudakan secara tidak langsung, atau perbudakan proletariat, tetapi mempersoalkan perbudakan langsung, perbudakan ras-ras hitam di Suriname, di Brazil, di negeri-negeri Bagian Selatan dari Amerika Utara.

Perbudakan langsung dewasa ini sepenuhnya merupakan poros industrialisme kita seperti halnya mesin, perkreditan dan sebagainya. Tanpa perbudakan tidak akan ada kapas; tanpa kapas tidak akan ada industri modern. Perbudakan telah memberi nilai pada koloni-koloni; koloni-koloni telah menciptakan perdagangan dunia; perdagangan dunia menjadi syarat mutlak bagi industri mesin besar-besaran. Demikianlah, sebelum lalu-lintas orang negro dimulai, koloni-koloni menyuplai Dunia Lama dengan produk-produk yang sedikit sekali dan tidak membuat suatu perubahan yang gamblang pada wajah bumi. Perbudakan, karenanya, merupakan suatu kategori ekonomi dengan arti-penting tertinggi. Tanpa perbudakan, maka Amerika Utara–negeri yang paling progresif–akan ditransformasi menjadi sebuah negeri patriarkal. Cukup anda menghapus Amerika Utara dari peta bangsa-bangsa, dan yang anda dapatkan adalah anarki, pembusukan total perdagangan dan peradaban modern. Tetapi, membiarkan perbudakan menghilang berarti menyapu Amerika Utara dari peta bangsa-bangsa. Dan, karena ia adalah suatu kategori ekonomik, kita mendapati perbudakan di setiap bangsa sejak awal dunia. Bangsa-bangsa modern cuma mengetahui caranya menyembunyikan perbudakan di negeri-negeri mereka sendiri, sambil secara terbuka mereka mengimportnya ke Dunia Baru. Sesudah pengamatan-pengamatan mengenai perbudakan itu, bagaimana kah M. Proudhon kita yang terhormat itu melanjutkannya? Ia akan mencari sintesis antara kebebasan dan perbudakan, jalan tengah atau keseimbangan antara perbudakan dan kebebasan.

Monsieur Proudhon telah dengan sangat baik menangkap kenyataan bahwa manusia memproduksi kain, lenan, sutera, dan adalah suatu jasa besar dari pihak M. Proudhon bahwa dirinya telah menangkap sejumlah hal kecil itu! Yang tidak ditangkapnya adalah bahwa orang-orang itu, sesuiai kemampuan-kemampuan mereka, telah juga memproduksi “hubungan-hubungan sosial” saat membuat kain dan lenan itu! Yang lebih tidak dipahaminya adalah bahwa orang-orang yang memproduksi hubungan-hubungan sosial mereka sesuai dengan produktivitas material mereka, juga memproduksi “ide-ide,” “kategori-kategori,” yaitu ekspresi ideal abstrak dari hubungan-hubungan sosial itu pula. Dengan demikian, kategori-kategori tidaklah lebih kekal-abadi daripada hubungan-hubungan yang mereka ekspresikan itu. Itu semua adalah produk-produk historis dan transitori.

Bagi M. Proudhon, sebaliknya, abstraksi-abstraksi, kategori-kategori adalah sebab primordial. Menurutnya, itulah, dan bukan manusia, yang membuat sejarah. “Abstraksi-abstraksi,” “kategori sebagaimana adanya,” yang terpisah dari manusia dan aktivitas material mereka, sudah barang tentu kekal, tidak bisa berubah, tidak digerakkan; ia hanyaklah satu bentuk dari keberadaan nalar murni; yang hanyalah merupakan satu cara lain untuk mengatakan bahwa abstraksi itu sendiri adalah abstrak. Sungguh sebuah tautologi yang mempesona!

Demikian, dipandang sebagai kategori-kategori, hubungan-hubungan ekonomi bagi M. Proudhon adalah formula-formula kekal-abadi tanpa asal-usul atau kemajuan.

Biarlah kita mengatakan dengan cara lain: M. Proudhon tidak secara langsung menyatakan bahwa “kehidupan burjuis” bagi dirinya adalah suatu “kebenaran abadi”; ia menyatakan itu secara tidak langsung dengan mendewakan kategori-kategori yang mengekspresikan hubungan-hubungan borjuis dalam bentuk pikiran. Ia menganggap produk-produk masyarakat borjuis sebagai makhluk-makhluk/keberadaan-keberadaan abadi yang lahir secara spontan, yang memberkati kehidupan mereka sendiri, seketika mereka itu menghadirikan diri mereka sendiri dalam pikirannya dalam bentuk kategotri-kategori, dalam bentuk pikiran. Jadi, ia tidak bangkit di atas kaki langit borjuis. Selagi dirinya beroperasi dengan ide-ide borjuis, kebenaran abadi yang dipraperkirakannya kemudian mencari suatu sintesis, suatu keseimbangan/ ekuilibrium dari ide-ide tersebut, dan tidak melihat bahwa metode satu itu, yang dengannya mereka mencapai ekuilibrium, adalah satu-satunya metode yang memungkinkannya.

Sesungguhnya, M. Proudhon telah melakukan apa yang dilakukan semua borjuasi yang baik. Mereka semua mengatakan bahwa pada azasnya, yaitu dipandang sebagai ide-ide abstrak, persaingan, monopoli, dan sebagainya, semua itu adalah satu-satunya landasan kehidupan yang, namun, di dalam praktek, masih menyisakan banyak sekali kekurangan. Semua, mereka it,u menghendaki persaingan tanpa akibat-akibat mematikan bagi persaingan. Semua, mereka itu, menginginkan yang tidak mungkin, yakni kondisi-kondisi keberadaan (kehidupan) burjuis tanpa keharusan konsekuensi-konskuensi dari kondisi-kondisi itu. Tiada di antara mereka memahami bahwa bentuk produksi burjuis adalah historis dan transitori, tepat sebagaimana bentuk feodal adanya. Kesalahan itu lahir dari kenyataan bahwa manusia borjuis bagi mereka merupakan satu-satunya landasan yang mungkin bagi setiap masyarakat; mereka tidak dapat membayangkan sebuah masyarakat di mana manusia berhenti sebagai borjuis.

Karena itu M. Proudhon tidak bisa tidak adalah seorang “doktriner.”

Baginya gerak historis yang menjungkir-balikkan dunia masa-kini telah menyusut menjadi masalah menemukan ekuilibrium yang tepat, sintesis dari dua pikiran borjuis. Dan dengan begitu, si pintar itu, dengan kelicikannya, dapat mengungkapkan pikiran Tuhan yangh tersembunyi, kesatuan dari dua pikiran terisolasi–yang hanya terisolasi karena M. Proudhon telah mengisolasinya dari kehidupan praktikal, dari produksi masa-kini, yaitu dari kesatuan realitas-realitas yang mereka ekspresikan.

Gantinya, gerakan bersejarah yang besar yang lahir dari konflik antara tenaga-tenaga produktif yang sudah dicapai oleh manusia dengan hubungan-hubungan sosial mereka yang sudah tidak bersesuaian lagi dengan tenaga-tenaga produktif tersebut; gantinya, peperangan-peperangan yang mengerikan yang sedang disiapkan antara berbagai kelas di dalam setiap bangsa dan di antara berbagai bangsa; gantinya, aksi massa yang praktikal dan penuh kekerasan sebagai penyelesaian satu-satunya untuk konflik-konflik tersebut–namun, gerakan besar, berkepanjangan dan rumit itu, oleh Monsieur Proudhon diganti sebagai gerak-ulah dari kepalanya sendiri. Jadinya, maka orang-orang terpelajar lah yang membuat sejarah, orang-orang yang tahu caranya mencuri pikiran-pikiran rahasia Tuhan. Orang-orang biasa cuma tinggal menerapkan wahyu-wahyu orang-orang terpelajar itu. Kini, anda mengertilah mengapa M. Proudhon bisa dinyatakan sebagai musuh dari setiap gerakan politik. Pemecahan bagi masalah-masalah sekarang ini, bagi dirinya, tidaklah terletak pada aksi publik, tetapi dalam perputaran dialektikal pikirannya sendiri. Karena baginya kategori-kategori itu adalah tenaga pendorong, maka tidak perlu mengubah kehidupan praktikal untuk mengubah kategori-kategori itu. Justru sebaliknya, orang harus mengubah kategori-kategori itu dan konsekuensinya adalah terjadinya perubahan dalam masyarakat yang ada itu.

Dalam hasratnya untuk mendamaikan kontradiksi-kontradiksi itu, Monsieur Proudhon bahkan tidak bertanya apakah landasan kontradiksi-kontradiksi itu sendiri tidak perlu ditumbangkan. Ia presis seperti doktriner politik yang menginginkan raja, dewan para wakil, dan dewan para sesepuh menjadi bagian-bagian integral dari kehidupan sosial, sebagai kategori-kategori abadi. Yang dicarinya hanyalah sebuah perumusan baru yang, dengannya, dibentuknya suatu keseimbangan/ekuilibrium antar kekuatan-kekuatan yang, padahal, keseimbangannya justru ada di dalam gerakan aktual, di mana kekuatan yang satu sekarang sedang menajdi penakluknya dan yang lainnya adalah budaknya. Demikianlah, dalam abad ke XVIII sejumlah pemikiran yang tanggung-tanggung (mediocre) sibuk mencari formula yang benar yang akan menyeimbangkan golongan-golongan sosial, kaum ningrat, raja, parlemen dan sebagainya dan, ketika mereka terbangun pada suatu pagi, mereka menemukan bahwa dalam kenyataan tidak ada lagi seorang pun raja, parlemen atau kaum ningrat. Ekuilibrium yang sesungguhnya dalam antagonisme tersebut adalah penumbangan semua hubungan sosial yang berlaku sebagai suatu landasan bagi keberadaan-keberadaan feodal tersebut dan bagi antagonisme-antagonisme eksistensi-eksistensi feodal tersebut.

Karena, di satu sisi, M. Proudhon menempatkan ide-ide abadi, kategori-kategori nalar murni dan, di sisi lain, menganggap makhluk manusia dengan kehidupan praktikalnya adalah terapan-terapan kategori-kategori tersebut, maka sejak awal orang bisa melihat bahwa di diri M. Proudhon terdapat suatu “dualisme” antara kehidupan dan ide-ide, antara roh dan tubuh, suatu dualisme yang berulang-jadi dalam banyak bentuk. Sekarang orang dapat melihat bahwa antagonisme itu tidak lain dan tidak bukan adalah ketidak-mampuan M. Proudhon untuk memahami asal-usul keduniawian dan sejarah keduniawian kategori-kategori yang didewa-dewakannya.

Suratku ini sudah menjadi terlalu panjang untuk berbicara lagi mengenai kasus yang absurd yang diangkat oleh M. Proudhon dalam memahami komunisme. Untuk sementara ini, sudilah anda membiarkan aku mengatakan bahwa seorang yang tidak memahami keadaan masyarakat sekarang, pastilah semakin tidak memahami gerakan yang cenderung akan menumbangkannya, dan semakin tidak memahami ungkapan-ungkapan literer dari gerakan revolusioner ini.

“Satu-satunya hal” yang sepenuhnya saya bersepakat dengan M. Proudhon adalah ketidaksukaannya akan mimpi-mimpi sosialistik yang sentimental di siang-hari bolong. Saya sendiri sudah, sebelum M. Proudhon, membuat diriku dimusuhi karena mencemoohkan sosialisme utopian, yang berotak-kosong dan sentimental itu. Tetapi, tidak kah M. Proudhon secara ganjil membohongi dirinya sendiri ketika ia membangun sentimentalitas borjuis-kecilnya–dalam hal ini, aku mengacu pada penolakannya mengenai rumah-tangga, cinta suami-isteri (konjugal) dan semua kedangkalan-kedangkalan seperti itu–secara berlawanan dengan sentimentalitas sosialis, yang pada Fourier, misalnya, adalah sangat lebih mendalam ketimbang pernyataan-pernyataan berulang yang penuh pretensi dari Proudhon kita yang terhormat itu? Ia sendiri begitu menyadari sendiri akan kehampaan argumen-argumennya, akan ketidakmampuannya yang setengah mati untuk berbicara mengenai hal-hal itu, sehingga ia meledak-ledak dalam amarah, keributan riuh-rendah dan murka (irae hominis probi), berbusa-busa mulutnya, mencaci-maki, mengumpat, menista dan menyumpah-nyumpah, memukul-mukul dadanya dan berteriak-teriak di hadapan Tuhan dan manusia bahwa dirinya tidak dicemari oleh kehinadinaan sosialis! Ia tidak dengan serius mengritik sentimentalitas-sentimentalitas sosialis, atau yang dianggapnya seperti itu. Bagaikan seorang suci, seorang paus, ia mengekskomunikasikan para pedosa yang malang dan menyanyikan kejayaan-kejayaan burjuasi-kecil dan dari ilusi-ilusi rumah-tangga yang penuh asmara serta patriarkal yang menyengsarakan. Dan itu bukan lah kebetulan belaka. Dari ujung rambut hingga telapak kakinya, M. Proudhon adalah filsuf dan ahli ekonomi borjuis-kecil. Dalam suatu masyarakat yang maju, sang borjuis-kecil, dari posisinya sendiri, niscaya (di satu sisi) adalah seorang sosialis dan (di sisi lain) seorang ahli ekonomi; artinya, ia silau dengan kemuliaan borjuasi besar dan bersimpati pada penderitaan rakyat. Ia sekaligus borjuis dan rakyat biasa. Di lubuk hatinya ia memuji diri sendiri bahwa dirinya tidak memihak dan telah menemukan keseimbangan yang tepat, yang mengklaim dirinya sebagai sesuatu yang berbeda karena bukan orang biasa-biasa saja. Seorang borjuis-kecil dari jenis ini memuliakan “kontradiksi” karena kontradiksi adalah landasan keberadaannya. Ia sendiri tidak bukan dan tidak lain adalah kontradiksi sosial yang sedang beraksi. Ia harus memberi pembenaran teori yang, dalam praktek, berwujud dirinya, dan M. Proudhon memahkotai dirinya sebagai penerjemah ilmiah borjuasi kecil Perancis–sebuah berkah sejati, karena burjuasi-kecil akan menjadi suatu bagian integral dari semua revolusi sosial yang akan datang.

Bersama surat ini, ingin sekali aku bisa mengirimkan pada anda bukuku mengenai ekonomi politik tetapi, sampai sejauh ini, aku tidak berhasil mencetakkan buku itu, dan juga tentang kritik atas para filsuf serta Sosialis Jerman yang aku bicarakan dengan anda di Brussel. Anda tidak akan percaya betapa banyaknya kesulitan yang dihadapi publikasi seperti itu di Jerman, kesulitan yang dari pihak kepolisian (di satu sisi) dan dari para penjual buku–yang merupakan wakil-wakil berkepentingan dari semua kecenderungan yang aku serang (di sisi lain). Dan mengenai Partai kita sendiri, ia tidak cuma sekadar miskin, tetapi sebagian besar dari Partai Komunis Jerman juga marah padaku karena aku telah menentang utopia-utopia dan hafalan-hafalan mereka.

Read Full Article

Terjemahan Manifesto Komunis dan Relevansinya Saat Ini (1)

Oleh Doug Lorimer

1

Manifesto komunis adalah dokumen yang paling terkenal dari seluruh dokumen yang pernah dibuat oleh gerakan sosialis. Dokumen tersebut dipublikasikan bulan Februari, 1848, saat terjadinya pergolakan perjuangan revolusioner di Prancis dan Jerman—gerakan massa revolusioner yang telah diramalkan oleh manifesto tersebut. Pengarang dokumen tersebut, Karl Marx dan Frederick Engels, memulai kehidupan politik mereka sebagai demokrat yang radikal, berjuang untuk hak-hak konstitusional di Jerman, khususnya bagi kebebasan pers, perwakilan rakyat serta pencabutan hak-hak istimewa kaum feodal. Pada pertengahan 1840-an, dua orang intelektual Jerman itu telah menjadi sosialis atau komunis yang militan, sebagaimana mereka menyebut dirinya sendiri—yang berjuang demi mewujudkan masyarakat tanpa kelas (berdasarkan pada kepemilikan bersama terhadap kesejahteraan produktif) yang dicapai dengan penggulingan revolusioner kekuasaan ekonomi-politik kapitalis. Manifesto Komunis adalah gambaran ringkas pandangan Karl Marx dan Frederick Engels.

2

Kedua pengarang Manifesto tersebut bukan lah yang pertama yang mengembangkan visi tentang masyarakat tanpa kelas. Sebagaimana mereka sendiri kemudian mencatat, pada abad ke-16 dan ke-17, ada orang-orang yang lebih dahulu mengembangkan visi tersebut dengan menawarkan gambaran utopia kondisi sosial ideal; pada abad ke-18, sudah terdapat teori komunistik aktual “…(yang menjelaskan bahwa) bukan hanya sekedar hak-hak istimewa kelas yang harus dihapuskan , tetapi perbedaan kelas itu sendiri”. (2) Prestasi besar Marx dan Engels dalam melihat proses sejarah sesungguhnya atau, dalam pandangan mereka, bahwa sosialisme bisa menjadi realitas material. Dan mereka menemukan apa yang disebut sebagai sosialisme ilmiah. ”Untuk membuat ilmu tentang sosialisme”, Engels menunjuk pada pamfletnya pada tahun 1880, “Socialism: Utopian and Scientific”, yang menjelaskan bahwa “sosialisme harus ditempatkan pada basis riil/nyata nya” (3).

“Basis riil/nyata” tersebut adalah konsepsi materialis dalam memahami sejarah, yang dapat menunjukkan bahwa sosialisme tidak dapat dijelaskan berdasarkan persuasi (semua) moral kemanusiaan yang memiliki visi masyarakat tanpa kelas, tetapi melalui perebutan kekuasaan politik oleh kelas tertindas, yakni proletariat. Hal tersebut lah yang merupakan kesimpulan utama dari kerja awal Marx dan Engels dalam menggarap prinsip-prinsip teori/ilmu materialisme historis—lihat The German Ideology.

Ditulis antara bulan November, 1845 sampai April, 1846, The German Ideology—yang tak pernah diterbitkan saat Marx dan Engels masih hidup —menjelaskan bahwa terdapat kontradiksi antara perkembangan tenaga produktif manusia dengan (bentuk kadaluarsa) kepemilikan tenaga produktif, dan itulah yang merupakan basis material perubahan dari satu sistem sosial ke sistem sosial lainnya. Juga ditunjukkan bahwa kontradiksi objektif tersebut merupakan akar persoalan perjuangan kelas antara proletariat dengan kapitalis (penghisap), perjuangan yang hanya bisa diselesaikan oleh revolusi komunis.

Di awal tulisan “Theses on feurbach”, yang diterbitkan tahun 1845, Marx telah merumuskan gagasan bahwa, lewat praktek revolusiner, manusia tak sekakadar merubah situasi materialnya saja tetapi juga merubah diri mereka sendiri. Dalam “The German Ideology”, Marx dan Engels menekankan bahwa susunan sosial baru yang kwalitatif hanya bisa diwujudkan melalui revolusi sosial. Menurut mereka, revolusi sangat dibutuhkan “…tak hanya karena kelas berkuasa tak bisa digulingkan dengan cara lain, tetapi juga karena penggulingan kelas hanya bisa diwujudkan oleh keberhasilan revolusi untuk melepaskan diri mereka dari semua sampah zaman dan menemukan masyarakat yang baru”. (4)

Langkah pertama dalam revolusi sosial-komunis, menurut “The German Ideology”, adalah perebutan kekuasaan politik oleh proletariat. Gagasan tersebut digambarkan sebagai berikut, ”Setiap kelas yang mendominasi, bahkan ketika dominasinya dilakukan oleh proletariat, akan mengarah mengarah pada penghilangan bentuk masyarakat lama—yang kreteria dominasinya secara umum dilihat juga dari segi jumlahnya—dan untuk mencapainya pertama-tama harus merebut kekuasaan politik.” (5)

Sering diasumsikan bahwa kontribusi utama yang telah dibuat Marx kepada pemikiran sosialis adalah ide bahwa sejarah adalah produk perjuangan/pertarungan antara kelas-kelas sosial. Bagaimanapun, Marx sendiri mendebat dirinya sendiri tentang pandangan ini. Dalam sebuah surat yang di tulis tanggal 5 Maret, 1852, Marx menjelaskan secara gamblang apa yang menurutnya benar-benar baru:

“Sejauh menyangkut diriku, tak ada kewajiban yang dibebankan padaku untuk membongkar eksistensi kelas-kelas dan perjuangannya dalam masyarakat modern. Jauh sebelumku, sejarawan borjuis telah menggambarkan perkembangan historis perjuangan kelas tersebut, dan ekonom borjuis telah memberikan anatomi ekonomi kelas-kelasnya. Apa yang baru dariku adalah penjelasan: 1) bahwa keberadaan kelas-kelas terkait dengan fase-fase sejarah dalam perkembangan produksi, 2) bahwa perjuangan kelas mau tak mau mengarah pada kediktatoran proletariat, 3) bahwa kediktatoran ini sendiri hanyalah bentuk transisi/peralihan menuju penghapusan seluruh kelas dalam masyarakat atau pembentukan measyarakat tanpa kelas.” (6)

Menurut Lenin, tidak benar bahwa poin utama teori Marx adalah perjuangan kelas. Hal tersebut telah dijelaskan oleh para ideolog kelas kapitalis sebelum Marx, dan secara umum diterima borjuis. Apa yang diajarkan Marx adalah sesuatu yang baru, yang tak bisa diterima oleh para pemikir borjuis, yaitu pengakuan bahwa perjuangan kelas dalam masyarakat kapitalis modern hanya bisa diakhiri dengan perebutan kekuasaan Negara oleh kelas terhisap, yakni kelas pekerja. Dengan memberi komentar briliannya pada tahun 1917, yakni dalam tulisannya yang berjudul Negara dan revolusi, menurut Lenin, “dalam hal ini, Marx berhasil menjelaskan dengan gamblang, pertama, perbedaan radikal antara teorinya dengan teori terdahulu dan para pemikir borjuis; dan, kedua, intisari teorinya tentang negara”. (7) Dalam hal ini, Lenin mencoba mensistimatisir ide sentral dalam doktrin politik Marx.

Walaupun tidak tertata dengan baik, The German Ideology mampu menemukan kesimpulan teoritis tentang tugas riil kaum sosialis yakni, sebagaimana yang ditekankan oleh Lenin pada tahun 1899, “tidak menawarkan rencana membentuk lagi masyarakat, tidak dengan berkhotbah kepada kapitalis , tidak dengan mengadakan konspirasi, tetapi mengorganisir perjuangan kelas proletariat dan memimpinnya, tujuan utamanya adalah perebutan kekuasaan politik oleh proletariat dan mengorganisir masyarakat sosialis”.(8)

Dalam sepucuk surat kepada kaum sosialis Denmark pada tahun 1889, Engels menunjukkan bahwa “…kaum proletariat tak bisa merebut kekuasaan politik—sebagai satu-satunya pintu ke arah masyarakat baru—tanpa revolusi kekerasan. Bagi proletariat, agar menjadi cukup kuat untuk memenangkan pertarungan pada hari yang menentukan, maka mereka harus membentuk partai tersendiri, berbeda dengan yang lainnya, bertentangan dengan yang lainnya, yakni sebuah partai kelas yang sadar”. (9)

3

Setelah tahun 1844-45, setelah Marx dan Engels menyepakati beberapa prinsip dasar sosialisme ilmiah dan merumuskannya lebih rinci, seperti yang mereka tuangkan dalam menyusun “The german Ideology”, mereka kemudian, pada tahun 1846, berusaha, seperti yang dikatakan Engels, “memenangkan Eropa, dan sasaran pertamanya adalah proletariat German”. (10)

Di awal 1846, mereka merancang Komite Korespondensi Komunis Brussel, yang tujuannya adalah untuk membangun kontak dengan kelas pekerja radikal dan pemimpin-pemimpin sosialis di seluruh Eropa Barat, serta memfasilitasi penyebaran ide-ide sosialis ilmiah di kalangan mereka. Anggota komitenya terdiri dari Emigran Jerman, termasuk Breslau (bekas guru),Wilhelm Wolf, dan Joseph Werdemeyer (bekas serdadu artileri Prussia).

Marx dan Engels mendirikan komite yang sama ditempat lain, terutama di Jerman. Lewat Wolf, mereka membangun kontak dengan intelektual komunis di Silesia, sementara Werdemeyer berusaha membangun Komite Korespondensi Komunis di Westphalia dan propinsi Rhine.

Dalam membuat garis taktik yang harus diikuti kaum komunis di Jerman, Marx dan Engels menyarankan mereka agar mendukung tuntutan borjuis dalam hal konstitusi demokratik, kebebasan pers, perwakilan/parlemen dan sebaginya, karena bila tuntutan tersebut tercapai maka “era baru bagi propaganda komunis akan datang” (11). Konsekwensinya, kaum komunis harus mengambil peran aktif dalam aksi massa menentang rejim absolut feodal Jerman dan membantu kemenangan revolusi demokratik borjuis di Jerman agar terdapat kondisi yang lebih mudah bagi perjuangan proletariat melawan borjuis. Itu lah garis taktik yang diterapkan Marx dan Engels beserta organisasi mereka selama revolusi Jerman 1848.

Di antara mereka yang menerima pamflet dan surat kabar dari Brussels adalah para pemimpin Liga Keadilan Masyarakat Rahasia, dibentuk tahun 1836, yang anggotanya terdiri dari emigran Jerman, kebanyakan penjahit.

Beberapa tahun sebelumnya, Marx dan Engels telah bertemu pemimpin Liga Keadilan di Paris dan London, dan mereka diminta bergabung dengan organisasi tersebut. Namun demikian, pada saat itu, Liga Keadilan benar-benar dipengaruhi oleh pandangan borjuis-kecil romantik dan reaksioner—yakni posisi yang mempercayai kemungkinan tercapainya masyarakat tanpa kelas secara dadakan/instan bila hal tersebut ditetpakan/dilaksanakan oleh pemerintah revolusioner, yang salah satu tugasnya adalah mendistribusikan barang-barang konsumsi secara adil. Mereka menyangka bahwa pemerintahan revolusioner ersebut bisa terwujud tanpa melalui pengambilalihan kekuasaan politik oleh gerakan massa pekerja revolusioner, tetapi sekadar mengikuti ide-ide seorang komunis utopia Prancis, August Banqui, yakni melalui sebuah kudeta oleh masyarakat rahasia atau konspirator. Marx dan Engels menolak bergabung dengan Liga karena tak menyetujui tujuan dan maksud yang ditawarkannya, atau karena bertentangan dengan sosialisme proletariat.

4

Mendekati akhir tahun 1846, terjadi perubahan pandangan/posisi ideologi para pemimpin Liga Keadilan. Mereka tak puas dengan berbagai skema sosialis utopia, yang dinilai telah gagal menjawab persoalan-persoalan praktis gerakan kelas pekerja yang mereka organisir. Pada saat itu, mereka mulai melihat ide sosialisme ilmiah yang dipropagandakan di Brussels oleh Marx dan Engels , yang dianggap bisa merumuskan gerakan kelas pekerja ke arah yang benar.

Pada bulan November, 1846, komite eksekutif Liga Keadilan—di antaranya adalah Heinrich Bauer (si tukang sepatu), Joseph Moll (si pembuat jam), dan Karl Schapper (si juru ketik)—mengkampanyekan perlunya Kongres Komunis Internasional yang akan diselenggarakan pada bulan Mei, 1847 di London. Untuk itu, Moll diutus untuk menemui Marx di Brussels dan menemui Engels di Paris untuk meminta kesediaan mereka bergabung dengan Liga Keadilan dan turut terlibat dalam menyiapkan dokumen-dokumen Kongres. Mereka dijanjikan kebebasan penuh untuk menyampaikan pendapat. Dibawah kondisi tertentu, Marx dan Engels, yang sedang mencari organisasi yang lebih besar untuk bekerja di dalamnya, memutuskan untuk bergabung dengan Liga. “…pokoknya, anggotanya berkekuatan ratusan orang,” tulis Engels kepada Marx bulan Desember, 1846. (12)

Bulan Februari, 1847, Komite Eksekutif Liga Keadilan mengirimkan panggilan kedua, yang mencerminkan hasil diskusi antara pimpinan Liga Keadilan dengan Moll, Marx dan Engels. Komite tersebut melakukan gerakan Chartist di Inggris, yang mereka nilai sebagai sebagai sebuah contoh bagi kaum komunis namun ”sangat disesalkan, belum membangun sebuah partai” (13). Komite tersebut mengundurkan jadwal kongres, dari bulan Mei ke bulan Juni, untuk memberi waktu yang lebih lama bagi persiapannya. Agenda kongres termasuk reorganisasi menyeluruh Liga Keadilan, penetapan peraturan baru, konsiderasi program, dan sebuah terbitan periodik.

Kongres diselenggarakan pada tanggal 2-7 Juni, 1847. Marx tak bisa untuk menghadirinya karena tak punya uang. Engels, yang kemudian menjadi anggota Liga Keadilan, datang sebagai utusan cabang Paris, sementara Wolf datang sebagai utusan cabang Brussels.

5

Demi seluruh tujuannya, kongres membuat mendirikan suatu organisasi yang benar-benar baru, yakni dengan struktur dan prinsip-prinsip ideologi yang baru, serta nama yang baru pula, Bund der Kommunisten, atau Liga Komunis. Nama tersebut diambil berdasarkan program Liga Komunis, yang diselesaikan dan diringkas Engels (dalam bentuk kitab yang revolusioner) pada kongres berikutnya, dan kemudian populer di kalangan masyarakat pekerja sehingga diputuskan untuk disebarkan dan didiskusikan di cabang-cabang lokal.

Peraturan baru dirancang dengan partisipasi langsung Engels dan Wolff, kemudian disebarkan untuk didiskusikan di cabang-cabang lokal, sebelum ditetapkan dalam kongres berikutnya. Berdasarkan persetujuan antara Marx dan Moll, Liga Komunis mencabut semua praktek-praktek masyarakat konspiratif, yakni ritual semi-mistik dalam membai’at anggota baru, sumpah kesetiaan, peraturan mengenai tugas-tugas, dan konsentrasi berlebihan pembuatan keputusan di tangan lembaga-lembaga pimpinan yang tidak dipilih.

Di bawah peraturan baru, pembuat keputusan tertinggi Liga Komunis adalah Kongres, yang terdiri dari delegasi cabang-cabang lokal. Satu klausula dalam rancangan peraturan, yang memberikan hak pada organisasi lokal untuk menerima atau menolak keputusan Kongres, kemudian dihapus atas desakan Marx. Di antara Kongres dengan organ eksekutif Liga Komunis terdapat “Otoritas Sentral”, sebuah komite yang paling sedikit terdiri dari lima orang yang dipilih oleh “Lingkaran” atau “Distrik” saaat kongres diselenggarakan. Pada saat kongres diselenggarakan, Anggota Otoritas Sentral ditempatkan tanpa hak mengambil keputusan.

Unit basis Liga Komunis disebut “Komunitas”, yang anggotanya teridiri paling sedikit tiga orang dan paling banyak 20 orang. Masing-masing “Komunitas” memilih dua orang pimpinan—seorang ketua, yang memimpin pertemuan-pertemuan; dan wakilnya, yang bertanggung-jawab bagi pendanaan “Komunitas”. Dua atau lebih “Komunitas” dikelompokkan bersama sebagai sebuah ”Lingkaran”, sebuah organ eksekutif yang terdiri dari orang-orang yang dipilih komunitas masing-masing, dan akan diketuai oleh seorang Presiden terpilih. “Lingkaran-lingkaran” dalam suatu negara bagian atau propinsi disubordinasikan ke dalam “Lingkaran Otoritas”, yang dipilih Kongres dan bertanggung-jawab kepada “Otoritas Sentral”.

“Komunitas”, “Lingkaran Komunitas”, dan “Otoritas Sentral” bertemu paling sedikit sekali dalam empatbelas hari. Anggota “Lingkaran Otoritas” dan “Otoritas Sentral” dipilih setahun sekali, dan dapat dipilih serta dicopot (recall) kembali jabatannya oleh para pemilih setiap saat. “Otoritas Sentral” berwenang menyelenggarakan diskusi di kalangan anggota Liga Komunis.

Anggota yang maju, yang telah paham dan patuh pada pertauran, ditempatkan di Liga Komunis dengan persetujuan komunitas lokal mereka. Juga dibuat peraturan mengenai pemecatan anggota yang merusak kondisi keanggotaan, dan anggota yang dipecat itu dapat diakui kembali hanya dengan kebijakan “Otoritas Sentral” atas usulan “Lingkaran”.

Anggota Liga Komunis diharuskan mengakui prinsip-prinsip Liga Komunis, mengatur suatu “jalan hidup dan aktivitas yang berhubungan” (14) dengan tujuan-tujuan organisasi, mensubordinasikan aktifitas mereka kepada keputusan-keputusan organisasi, menjaga kerahasiaaan urusan internal Liga Komunis, tidak berartisipasi dalam organisasi anti-komunis, dan segera memberi tahu kepada organisasi tentang partisipasinya di organisasi lain. Persyaratan yang terakhir tersebut ditulis dalam peraturan yang kemudian, atas inisiatif Marx, menjadi rancangan yang mengatur larangan inisial sectarian bagi anggota Liga Komunis yang bergabung dalam organisasi politik lain.

Marx kemudian mengatakan bahwa: ”Konstitusi demokratis ini, yang tidak tepat untuk masyarakat konspiratif (rahasia), pada tingkat tertentu, tidak bertentangan dengan tugas-tugas masyarakat propaganda.”

Kongres pertama Liga Komunis juga memutuskan untuk menghapuskan semboyan borjuis-kecil “Semua Manusia adalah Saudara”, dan menggantinya dengan semboyan yang dibuat Engels “Kelas Buruh Seluruh Dunia, Bersatu lah” (15)

Sekalipun demikian, di samping semua kemajuan ideologis yang diperoleh dalam kongres pertama, mereka terus memperlakukan Liga dalam pandangan-pandangan borjuis-kecil Liga Keadilan. Peraturan tersebut mendeklarasikan bahwa tujuan Liga adalah untuk “Menghancurkan perbudakan manusia dengan mencurahkan/mewujudkan segala upaya teori komunitas barang dan prakteknya secepat mungkin”. (16)

6

Berdasarkan kondisi obyektif di Jerman dan hambatan-hambatan yang ditemui para emigran dalam aktivitas politik mereka di negeri-negeri dengan rejim liberal, seperti Belgia dan perancis, Liga Komunis terpaksa harus bersifat organisasi rahasia. Tetapi Marx bersikukuh, berusaha meyakinkan bahwa organisasi tersebut tidak boleh mewarisi keadaan organisasi sebelumnya, terisolasi, kekuarangan kontak dengan massa dan pekerja. Ia percaya bahwa organisasi rahasia pekerja tetap memiliki pelopor; Liga Komunis harus dikelilingi dan bekerja dalam suatu jaringan kerja komunitas pekerja yang terbuka, seperti Masyarakat Pendidikan Pekerja Jerman di London. Liga Komunis juga harus membangun kontak dengan Masyarakat Pendidikan Pekerja yang sudah ada atau mendirikan yang baru.

Ide tersebut segera dipraktekkan, yakni dengan bekerja dalam Masyarakat Pendidikan Pekerja Jerman, yang didirikan oleh Liga Komunis di Brussels pada akhir Agustus, 1847. Anggota intinya berkembang dari 37 orang menjadi 100 orang dalam beberapa bulan. Organisasi tersebut menyediakan perpustakaan, menyelenggarakan kuliah bagi para pekerja, dan beberapa perayaan-perayaan sosial. Kemudian, Marx mengatakan: “Liga Komunis, yang berdiri di belakang komunitas pekerja terbuka, langsung menemukan ruang (mendesak) aktivitas mereka untuk berpropaganda secara terbuka dan juga mampu membesarkan dirinya sendiri bersama anggota-anggota terbaiknya. (17)

Rencana kongres pertama yaitu menerbitkan bacaan periodic liga secara teratur, ternyata hanya bisa direalisir satu nomor, yaitu edisi September, 1847, dengan nama Kommunistische Zeitschrift. Artikel dalam terbitan tersebut sebagian besar ditulis oleh Schapper, yang mengritik ide-ide sosialis utopia dan menjelaskan pandangan komunis terhadap persoalan taktis yang ditemui gerakan kelas pekerja di Jerman. Karena kurang dana, nomer dua tidak bisa terbit. Namun demikian pada tahun 1847, pimpinan Liga Komunis di Brusssels mengorganisir pengambilalihan kontrol editorial majalah tiga mingguan kelas pekerja yang sudah ada, yakni Deutsche-Brusseler Zeitung. Sejak itu, sampai nomer terakhir yang diterbitkan, yakni pada tanggal 27 Februari, 1848, koran tersebut merupakan organ tak resmi Liga Komunis.

7

Langkah selanjutnya dalam konsolidasi organisasional dan ideologis Liga Komunis adalah Kongres kedua, yang diselenggarakan di London pada tanggal 28 November hingga 8 Desember, 1847. Saat itu, baik Marx, maupun Engels, hadir. Program merupakan agenda utama kongres. Marx dan Engels harus mengerahkan seluruh kemampuannya dalam Kongres 10 hari tersebut untuk meyakinkan mayoritas yang hadir akan kebenaran pandangan mereka dan, akhirnya, mereka berhasil.

Hal tersebut tercermin dari perubahan pada pasal 1 peraturan Liga. Tujuan lama, yang ideal, yakni ”Masyarakat Barang” digantikan dengan formulasi baru. Tujuan baru Liga adalah ”Menggulingkan borjuasi, melenyapkan dominasinya terhadap proletariat, menghancurkan masyarakat borjuis yang berdasarkan antagonisme kelas, dan membangun masyarakat baru tanpa kelas serta tanpa kepemilikan pribadi.”(18)

Berdasarkan hasil kesepakatan, Kongres memberikan tanggung-jawab kepada Marx dan Engels untuk merancang secara rinci “praktek dan teori program partai” (19). Mereka menerimanya dan, kemudian, mereka menulis manifesto komunis.

Manifesto tersebut terdiri dari 4 bagian. Bagian pertama, dibuka dengan pernyataan klasik: ”Sejarah semua masyarakat yang ada sekarang ini adalah sejarah perjuangan kelas”, garis besar pertumbuhan kelas kapitalis dan penghapusan feodalisme. Bagian pertama ini menyatakan bahwa tenaga produktif yang dibuat dalam masyarakat borjuasi—produksi mekanik mekanik berdasarkan kepemilikan pribadi terhadap sumber-sumber produktif proletariat, dan buruh-tersosialisasi—tidak lagi tepat dengan hubungan (sosial) produksi yang ada. Proletariat adalah kelas yang tak memiliki apa-apa, yang hanya mendapat upah yang ditentukan oleh borjuis, dan merupakan kelas revolusioner baru yang akan mengorganisir (secara sosial) buruh-kooperatif, serta satu-satunya kelas yang bisa mengambilalih tenaga produktif kooperatif demi kemajuan kesejahteraan manusia. Tetapi karena kemenangan borjuis terhadap kelas feodal merupakan penggantian peran sosial dari satu minoritas penindas ke minoritas penindas lainnya, maka, kemenangan proletariat dalam perjuangan kelas akan menguatkan mayoritas yang tertindas sehingga, dengan demikian makna pembebasan sosialnya menuntut penghapusan segala penindasan dan penghisapan kelas.

Bagian kedua menjelaskan peranan kaum komunis dalam perjuangan kelas antara proletariat dan borjuis.

Bagian ketiga menggambarkan pemikiran-pemikiran lain yang menyebut dirinya sebagai sosialis: kritik aristokrat feodal terhadap kapitalisme, perwaklan (anti-kapitalis) dari keruntuhan kelas pemilik kecil desa dan kota, reformis sosial-borjuis, dan sekte sosialis utopia idealis.

Bagian keempat menjelaskan posisi kaum komunis dalam kaitannya dengan gerakan demokratik radikal lainnya, dan tugas mendesak kaum komunis dalam revolusi demokratik borjuis di Jerman.

8

Walaupun nyata bahwa program Liga Komunis tertulis dalam Manifesto Partai Komunis, namun Marx dan Engels mengakui bahwa Liga Komunis hanyalah masih merupakan cikal-bakal dari partai yang mereka cita-citakan.

Manifesto tersebut hanya mengatur hal-hal paling umum mengenai konsepsi Marx dan Engels tentang partai kelas pekerja. Dalam bagian pertama Manifesto, mereka menunjukkan bahwa partai proletariat merupakan “organisasi proletariat dalam sebuah kelas”, yang “memaksa pengakuan legislatif terhadap kepentingan utama pekerja dengan mengambil keuntungan dari perpecahan di antara borjuis sendiri”.

Acuan mendesak yang dituntut pada legislatif, yaitu nota 10 jam kerja di Inggris, menurut Marx dan Engels menggambarkan perkembangan historis aktual pertama gerakan politik kelas pekerja, Asosiasi Perjanjian Nasional, di Inggris. Gerakan Chartis adalah front persatuan longgar serikat buruh, para pejuang yang menuntut 10 jam kerja sehari, demokrat-radikal dan humanis-borjuis, yang mencapai puncak aktivitasnya pada tahun 1842 dan runtuh pada tahun 1848.

Dalam bukunya tahun 1847, “The Poverty of Philosophy”, (20) yang isinya membantah si anarkis Perancis Pierre Proudhon, Marx menggambarkan transformasi perjuangan mereka, pertama, ketika masuk ke dalam serikat buruh, dan, kemudian, ketika masuk ke dalam “Partai politik besar di bawah nama Chartists”. Gambaran tersebut memperlihatkan kelas pekerja Inggris mulai mengembangkan dirinya, dari tidak berbentuk, memfragmentasikan “kelas dalam dirinya sendiri”, menjadi kohesif-nasional, mempertimbangkan “kelas untuk dirinya sendiri”.

Konsep Marx bahwa “setiap perjuangan kelas adalah perjuangan politik” (21), bukan berarti bahwa setiap perjuangan kelompok kecil buruh melawan majikan mereka adalah perjuangan politik. Dalam surat yang ditulis pada tanggal 23 November, 1871, Marx menjelaskan bahwa perjuangan kelas sejati adalah perjuangan kelas pekerja yang telah terorganisir dengan baik ketika menuntut kepentingan umum mereka melawan kekuatan (kolektif) politik kelas kapitalis. Tugas kaum komunis adalah melatih kelas pekerja “mengambil inisiatif kampanye melawan kekuatan (kolektif) politik kelas yang berkuasa, melalui agitasi terus menerus melawan kekuatan tersebut dan dengan menunjukkan sikap bermusuhan terhadap kebijakan kelas yang berkuasa”. Menurut Marx, dimanapun bila kelas pekerja kekurangan pelatihan revolusioner maka mereka “akan menjadi kelas pekerja yang menyerahkan permainan ke tangan perwakilan politik borjuis”. (22)

Bagian kedua Manifesto dipersembahkan untuk menjawab pertanyan “dalam hubungan apa kaum komunis mengemban kepentingan proletariat sebagai keseluruhan?” Bagian kedua Manifesto, memberi jawabannya: ”kaum komunis tidak membentuk partai terpisah dari partai kelas pekerja lain”. Hal tersebut dikarenakan mereka “tidak mempunyai kepentingan yang terpisah dari proletariat secara keseluruhan”. Lantas, mereka saling membantu dalam mencapai “tujuan mendesak” yang sama, selayaknya: ”seperti partai proletariat lain: mengukuhkan proletariat ke dalam suatu kelas, menggulingkan supremasi borjuis, merebut kekuasan politik oleh proletariat sendiri”.

Apa yang membedakan kaum komunis dengan partai kelas pekerja lainnya adalah: 1) dalam perjuangan nasional proletariat di berbagai negeri, mereka menunjukkan bahwa terdapat front kepentingn (umum) seluruh proletariat, pembebasan proletariat seluruh bangsa; dan 2) dalam berbagai tahapan perkembangan perjuangan kelas pekerja melawan borjuis, mereka selalu mewakili kepentingan gerakan secara keseluruhan.

Konsekuensinya, menurut Manifesto, dalam prakteknya kaum komunis ”di setiap negeri, merupakan bagian termaju atau paling menentukan di antara partai kelas pekerja lainnya, merekalah yang akan mendorong bagian lainnya”. Itu karena partai komunis, “di antara proletariat keseluruhan, mempunyai keuntungan yang lebih besar: mengerti benar garis massa, kondisi, dan hasil hasil utama gerakan proletariat.”

Dalam Poin polemik melawan Pieree Proudhon, setahun sebelumnya, poin tersebut pernah diucapkan Marx: kaum komunis adalah “teoritisi kelas prletariat”. (23)

Lalu, apa makna pernyataan Manifesto tentang hubungan antara kaum komunis dan kelas pekerja sebagai keseluruhan, yakni: bahwa kaum komunis tak mempunyai kepentingan yang terpisah dari kepentingan proletariat secara keeluruhan; bahwa mereka adalah pelopor teoritis kelas pekerja, dikombinasikan dengan pernyataan tentang bagaimana Liga Komunis, organisasi kecil kader revolusioner, yang memiliki beberapa ratus aggota yang menyebar ke seluruh Eropa Barat, harus berhubungan dengan organisasi politik kelas pekerja yang jauh lebih besar, misalnya saja organisasi Chartist dengan 40.000 anggotanya di Inggris? Jawabannya: para kader Liga Komunis, sambil membesarkan organisasi mereka sendiri, harus bergabung dengan organisasi kelas pekerja yang lebih besar dan harus membuat anggota organisasi tersebut yakin dengan pandangan-pandangan komunisme.

Pernyataan tersebut didasarkan pada orientasi taktis yang dipercaya Marx dan Engels: Liga Komunis yang kecil bisa bertransformasi menjadi sebuah Partai Komunis berbasis massa.

9

Liga Komunis itu sendiri runtuh tahun 1852 karena akibat gelombang reaksi dan represi yang menyapu Eropa pasca Revolusi borjuis demokratik yang gagal pada tahun1848-1849.

Dalam tahun-tahun awal keruntuhannya, Liga Komunis terpecah menjadi faksi-faksi antara Marx dan Engels serta pendukungnya, di satu sisi, dengan Schapper dan Willich serta pendukung mereka, di sisi lainnya.

Perjuangan faksional dimulai diakhir 1850, ketika Marx dan Engels menyimpulkan bahwa konsesi ekonomi yang diberikan monarki absolut di Jerman telah melicinkan jalan bagi ekspansi produksi kapitalis. Sampai pertengahan tahun 1850, Marx dan Engels percaya bahwa krisis ekonomi seperti tahun 1847 akan segera dating, dan krisis baru itu akan memancing perjuangan revolusiner di Eropa. Namun demikian, ramalan yang didasarkan pada studi ekonomi mereka ternyata tidak benar.

Marx dan Engels juga tak memiliki harapan lagi seperti sebelumnya bahwa akan terjadi revolusi proletariat di Perancis, yang akan mempercepat dan memudahkan transformasi revolusi borjuis Jerman bisa menjadi revolusi sosialis. Pernyataan prematur tersebut didasarkan pada penghitungasn kematangan kapitalisme di Eropa dan perkembangan kondisi material bagi transisi revolusioner ke sosialisme. Dalam pengantar dalam buku Marx tahun 1850, “Class Struggle in France”, Engels, pada tahun 1895, menulis : ”Sejarah telah membuktikan pada kita, bahwa ramlan kami salah; Sejarah telah memperjelasnya bahwa perkembangan ekonomi di negeri-negeri benua Eropa tersebut masih memerlukan jalan atau belum lah matang untuk menghapuskan produksi kapitalis.” (24)

Berangkat dari pendapat baru mereka tentang situasi obyektif, Marx dan Engels menyimpulkan bahwa tugas utama Liga Komunis untuk masa yang akan datang adalah mempersiapkan dan mengakumulasikan secara bertahap kader-kader proletariatnya, memberikan mereka dasar teori yang kuat, memperkuat hubungan mereka dengan organisasi kelas pekerja yang lain yang lebih besar, dan mengambil emua kesempatan untuk mempropagandakan sosialisme.

Mayoritas anggota Liga Komunis di London tidak setuju dengan persektif tersebut. Mereka menolak pendapat yang menyatakan bahwa untuk melancarkan revolusi komunis dibutuhkan persyaratan materialnya. Menurut mereka, revolusi di Jerman bisa diselesaikan hanya dengan usaha keras kader-kader militan revolusioner.

Perbedaaan pendapat tersebut muncul setelah Marx, dalam pidatonya di pertemuan luar biasa Komite Liga Komunis, 15 September, 1850, mengatakan: “Pandangan nasionalis Jerman telah digantikan dengan pandangan internasionalis seperti yang tertulis dalama Manifesto, dengan demikian, perasaan kebangsaan artisan jerman akan menghilang. Patokan awal materialis Manifesto telah menyimpang ke arah idealisme. Revolusi tidak dilihat sebagai produk realitas situasi yang ada tetapi sebagai hasil dari usaha yang dilakukan. Perbedaannya, yang materialis kan mengatakan kepada kelas pekerja: kalian membutuhkan 15, 20 atau 50 tahun untuk mengubah situasi dan melatih dirimu sendiri sebelum melancarkan perang saudara untuk mengambil kekuasaan; sedangkan yang idealis akan mengatakan pada kelas pekerja: kita harus segera mengambil kekuasaan, bila tidak, lebih baik tidur.” (25)

Pada pertemuan tersebut disetujui bahwa Liga distrik Cologne, tempat Marx dan Engels menetap, mendapat dukungan mayoritas untuk memimpin Komite Sentral. Namun demikian, faksi Willich dan Schapper dari distrik London menolak untuk mematuhi keputusan Komite Sentral Cologne. Ketika distrik London mengambil keputusan untuk membentuk Komite Sentral tandingan dan memecat Marx, Engels dan para pengikutnya dari Liga Komunis, Komite sentral Cologne memecat semua pendukung faksi Schapper dan Willich dari Liga Komunis. Kemudian faksi tersebut terpecah-pecah menjadi beberapa bagian yang terpisah.

Perpecahan di Liga Komunis dibarengi dengan masa gelombang reaksi di jerman, target polisi adalah para pengikut Marx dan Engels. Dalam laporan rahasia yang ditulis pada bulan April, 1852, Kepala Polisi Berlin menulis: ”Saat ini bisa dikatakan bahwa Partainya Marx dan Engels, yang terdiri dari para emigran, agitator dan Komite Sentral, tak bisa ditanyakan memiliki kekuatan dalam pengetahuan dan kemampuan. Namun, Marx sendiri dikenal luas memiliki kekuatan intelektual di ujung jarinya ketimbang yang dipunyai orang di kepala mereka.” (26)

Sisa anggota Liga Komunis di Jerman kemudian merusak Liga Komunis, organisasai tingkat benua. DI London keanggotaannya menyusut akibat perpecahan. Pada pertemuan Liga Komunis distrik London tanggal 17 November, 1852, sebuah mosi yang diajukan Marx disetujui: memisahkan organisasi local.

10

Manifesto Komunis, sebagaimana ditulis Marx dan Engels pada edisi kedua, yang diterbitkan pada tahun 1872, adalah sebuah dokumen historis yang harus dimenegerti latar belakang politiknya ketika Manifesto tersebut ditulis. Pada tahun 1872, Marx dan Engels mengatakan bahwa prinsip-prinsip umum Manifesto, sebagaimana mereka tulis tahun 1848, sudah benar secara keseluruhan. Prinsip-prinsipi umum tersebut diringkas dalam esai yang ditulis oleh seorang Marxisrevolusioner Rusia, Leon Trotsky, yang diterbitkan pertama kali tahun 1938.

Setelah 150 tahun Manifesto ditulis, terdapat perubahan besar di dunia, namun tak ada yang bertentangan dengan ide-ide dasar yang termuat dalam Manifesto. Bahkan, bilka dibandingkan dengan kapitalisme pada tahun 1848, kapitalisme sekarang ini jauh lebih dekat dengan abstraksi model kapitalisme seperti yang digambarkan pada bagian pertama Manifesto. Pada waktu itu, sisitim produksi kapitalis benar-benar dominan di Inggris. Di luar Inggris, proletariat modern, kelas pekerja yang dipekerjakan di industri-industri besar, hanya lah fraksi kecil dari seluruh populasi dunia. Sebagian besar pendusuk dunia adalah petani yang dihisap oleh pemilik tanah pra-kapitalis di bawah kekuasaan monarki.

Sekarang, para penerima upah, yang harus menjual tenaga kerjanya, mencapai 80% dari populasi aktif ekonomi Eropa, Amerika Utara, Jepang dan Australia. Pada skala dunia, pekerja kota dan desa adalah mayoritas penduduk dunia. Hanya beberapa ratus keluarga kapitalis super kaya saja yang mendominasi kehidupanekonomi negeri-negeri kapitalis meaju melalui perusahaan-perusahaan raksasa dan usha-usaha finansial yang mereka miliki dan, selain itu, mereka juga mengkonsentrasikan kesejahteraan mayoritas ekonomi kapitalis dunia. Produktivitas kerjasama social buruh telah sedemikian meningkat dan meluas dengan skala, yang ketika Marx dan Engels masih hidup di pertengahan abada ke-19, produkstivitas demikian masih sangat absur. Namuin produktivitas tersebut disubordinasikan pada ketamakan pribadi untuk memperkaya keluarga-keluarga tersebut.

Bencana Krisis ekonomi dan social, dengan kata lain, kontradiksi, telah melahirkan hasrat merubah ekonomi pasar yang anarkis dengan manajemen yang terencana, atau hasrat untuk mengelola sumber-sumber produktif pemuas kebutuhan manusia pada basis prioritas pilihan yang demokratis dan sadar. Selama kontradiksi tersebut terus ada, kelas pekerja akan berjuang melawan kapitalis, si penghisap, dan Manifesto Komunis, sebagai dokumen pertama yang memberikan penjelasan ilmiah terhadap krisis tersebut dan, secara garis besar, memberikan strategi garis massa untuk membawanya ke hasil akhir perjuangannya, akan memberikan inspirasi dan tuntutnan bagi kelas pekerja di seluruh dunia.

Catatan Kaki:

(1) “The Communist Manifesto, and its Relevance Today”, Resistance Marxist Library, New South Wales, Australia, 1998.

(2) K. Marx dan F.Engels, “Selected Works” (Moscow 1970), Volume 3, hal. 116-117.

(3) “Ibid”, hal. 126.

(4) K. Marx dan F. Engels, “Collected Works” (Moscow 1981), Volume 5, hal. 53.

(5) “Ibid”. hal. 49.

(6) K. Marx dan F. Engels, “Selected Correspondence” (Moscow 1975), hal. 64.

(7) V.I. Lenin, “Selected Works” (Moscow 1975), Volume 2, hal. 261.

(8) V.I Lenin, “Collected Works” (Moscow 1977), Volume 4, hal. 221.

(9) K. Marx dan F. Engels, “Selected Works”, Volume 3, hal. 179.

(10) K. Marx dan F. Engels, “Selected Correspondence”, hal. 386.

(11) Dikutip dalam P.N. Fedoseyef, “Karl Marx: A Biography” (Moscow 1977), hal. 117.

(12) K.Marx dan F. Engels, “Collected Works”, Volume 38, hal. 92.

(13) Dikutip dalam D.Struik , “The Birth of Comunist Manifesto” (New York 1971), hal. 57.

(14) K. Marx dan F. Engels, “Collected Works”, Volume 6, hal. 533-538.

(15) “Ibid”, Volume 17, hal. 78.

(16) “Ibid”, Volume 6, hal. 586.

(17) “Ibid”, Volume 17, hal. 78-79.

(18) “Ibid”, Volume 6, hal.633.

(19) K. Marx dan F. Engels, “Selected Works”, Volume 1, hal. 98.

(20) K. Marx, “The Poverty of Phylosophy (Moscow 1973) ,hal. 150.

(21) “Ibid”, hal. 150.

(22) K. Marx dan F. Engels, “Selected Correpondence”, hal. 254-255.

(23) K. Marx , “op.cit”, hal. 109.

(24) K. Marx dan F. Engels, “Selected Works”, Volume , hal. 191-192.

(25) K. Marx dan F. Engels, “Collected Works”, Volume 10, hal. 626.

(26) Fedoseyef, “op.cit”, hal. 264.

Read Full Article

Oleh: Karl Marx & Friedrich Engels (1)

Ada hantu berkeliaran di Eropa, hantu komunisme. Semua kekuasaan di Eropa-lama telah menyatukan diri ke dalam suatu persekongkolan keramat—Paus dan T’sar, Metternich (2) & Guizot (3), kaum Radikal Prancis (4) dan mata-mata polisi Jerman—untuk mengusir hantu tersebut.

Di mana kah ada partai oposisi yang tidak dicaci sebagai Komunis oleh lawan-lawannya yang sedang berkuasa? Di mana kah ada partai oposisi yang tidak membalas tuduhan, cap, Komunisme, baik kepada partai-partai oposisi yang lebih progresif maupun kepada lawan-lawannya yang reaksioner?

Dari kenyataan tersebut, dua hal dapat disimpulkan.

I. Semua kekuasaan di Eropa telah mengakui Komunisme sebagai suatu kekuasaan pula.

II. Telah tiba waktunya bagi kaum Komunis harus terang-terangan menyiarkan pandangan-pandangan mereka, cita-cita mereka, tujuan-tujuan mereka, aliran mereka ke seluruh dunia, dan melawan dongengan kanak-kanak tentang hantu Komunisme tersebut dengan suatu manifesto partai Komunis.

Guna maksud tersebut, kaum Komunis berbagai kebangsaan telah berkumpul di London, dan merencanakan menerbitkan manifesto berikut ini dalam bahasa Inggris, Prancis, Jerman, Italia, Vlam dan Denmark.

I

BORJUIS DAN PROLETAR

Sejarah semua masyarakat hingga sekarang ini adalah sejarah perjuangan kelas.

Sejarah perjuangan kelas orang-orang yang diperbudak melawan orang-orang merdeka, orang udik (plebeian) (5) melawan ningrat (patrician) (6), hamba melawan tuan bangsawan, buruh magang melawan pemilik gilda, pendeknya: si tertindas melawan si penindas, mereka semua senantiasa ada dalam pertentangan satu dengan yang lainnya, melakukan perjuangan yang tiada putus-putusnya, kadang-kadang dengan sembunyi-sembunyi, kadang-kadang dengan terang-terangan, setiap perjuangan yang bisa saja diakhiri dengan penyusunan-kembali masyarakat umum, atau kelas-kelas yang saling bermusuhan tersebut sama-sama binasa.

Dalam zaman permulaan sejarah, hampir di mana pun, kita dapati suatu susunan rumit masyarakat yang terbagi menjadi berbagai golongan, menjadi banyak tingkatan kedudukan sosial, misalnya, di Roma purbakala terdapat kaum ningrat, kaum ksatria, orang-orang udik, dan kaum budak serta, dalam Zaman Tengah, terdapat kaum feodal, kaum pesuruh/budak (vassals), kaum pemilik gilda, kelas buruh magang, kaum malang, dan kaum hamba; dalam hampir semua kelas tersebut terdapat lagi tingkatan-tingkatan bawahannya.

Masyarakat borjuis moderen, yang tumbuh dari runtuhan masyarakat feodal, tidak lah menghilangkan pertentangan-pertentangan kelas. Ia hanya menciptakan kelas-kelas baru, syarat-syarat penindasan baru, bentuk-bentuk perjuangan baru, sebagai pengganti yang lampau. Zaman kita, zaman borjuis, mempunyai sifat yang istimewa: ia telah menyederhanakan pertentangan-pertentangan kelas. Masyarakat seluruhnya semakin lama semakin terpecah menjadi dua golongan besar yang langsung berhadapan satu dengan yang lainnya—borjuis dan proletar.

Dari kaum hamba pada Zaman Tengah timbul lah wargakota (dari kota-kota yang paling permulaan) yang berhak-penuh. Dari wargakota-kota ini berkembang lah anasir-anasir pertama borjuis.

Ditemukannya benua Amerika dan dikelinginya Tanjung Harapan di Afrika Selatan memberikan lapangan baru bagi borjuis yang sedang tumbuh; pasar-pasar di Hindia Timur dan Tiongkok, kolonisasi atas Amerika, perdagangan dengan tanah-tanah jajahan, bertambah banyaknya alat pertukaran dan barang dagangan pada umumnya, memberikan kepada perdagangan, kepada pelayaran, kepada industri, suatu dorongan yang tak pernah dikenal sebelumnya, dan bersamaan dengan itu mendorong (maju dengan lebih cepat) anasir-anasir revolusioner dalam masyarakat feodal yang sedang runtuh tersebut.

Sistim industri feodal, dalam arti produksi industri yang semata-mata dimonopoli oleh gilda-gilda, sekarang tidak lagi mencukupi kebutuhan-kebutuhan pasar-pasar baru yang semakin bertambah. Sistim manufaktur (7) lah yang kemudian menggantikannya. Pemilik-pemilik gilda didesak keluar oleh kelas menengah manufaktur; pembagian kerja di antara berbagai gabungan gilda hilang dengan lahirnya pembagian kerja di setiap bengkel pertukangan yang memisahkan dirinya masing-masing.

Sementara itu pasar-pasar senantiasa semakin meluas, kebutuhan senantiasa bertambah. Sistim manufaktur itu pun tak lagi mencukupinya. Segera sesudah itu uang dan mesin-mesin merevolusionerkan produksi industri. Kedudukan manufaktur diambilalih industri modern raksasa, kedudukan kelas menengah industri digantikan oleh milyuner-milyuner industri, pemimpin-pemimpin kesatuan (lengkap) pasukan industri, kelas borjuis modern.

Industri modern telah menciptakan pasar dunia, yang telah dibukakan jalannya dengan ditemukannya Amerika. Pasar tersebut kemudian memberikan kemajuan mahabesar pada perdagangan, pada pelayaran, pada perhubungan darat. Kemajuan tersebut, pada gilirannya, bereaksi terhadap meluasnya industri. Dan sebanding dengan meluasnya industri, perdagangan, pelayaran, perbubungan kereta api, maka borjuis pun semakin maju, kapitalnya bertambah dan mendesak ke belakang setiap kelas peninggalan Zaman Tengah.

Oleh sebab itu, tahu lah kita bagaimana borjuis modern itu sendiri adalah hasil dari perjalanan perkembangan yang lama, dari suatu rangkaian revolusi-revolusi dalam cara produksi dan cara pertukaran.

Tiap langkah dalam perkembangan borjuis diikuti pula oleh suatu kemajuan politik yang sesuai dengan kelas tersebut. Masyarakat yang memiliki ciri-ciri yang kelas tertindasnya berada di bawah kekuasaan bangsawan feodal, yang memiliki suatu perserikatan bersenjata, dan yang memerintah komune Zaman Tengah secara mandiri—dalam hal ini adalah berupa republik-kota yang merdeka (seperti di Italia dan Jerman), di lain tempat berupa ‘pangkat ketiga’ (8) wajib-pajak dalam monarki (seperti di Perancis)—kemudian bergerak ke masa manufaktur yang sebenarnya, namun yang masih mengabdi pada monarki setengah-feodal (9), atau pada monarki absolut. Kekuatan baru pada masa manufaktur tersebut mulai menjadi kekuatan pengimbang terhadap kelas bangsawan—dalam kenyataannya, merupakan batu pijakan titik berangkat monarki-monarki besar pada umumnya—dan pada pada akhirnya menjadi masyarakat borjuis, sejak berdirinya industri modern dan pasar dunia, karena telah merebut demi dirinya sendiri segenap kekuasaan politik negara konstitusionil modern. Badan exekutif negara modern hanya lah merupakan sebuah komite untuk mengatur urusan-urusan bersama seluruh borjuis.

Borjuis, secara historis, telah memainkan peranan yang sangat revolusioner.

Borjuis, di mana saja, telah memperoleh kekuasaannya, telah mengakhiri semua hubungan feodal patriarkal, telah menggakhiri hubungan feodal pedesaan. Borjuis dengan tak kenal belas kasih telah merenggut putus pertalian feodal yang beranekaragam, yang mengikat manusia pada ‘atasan alamiahnya’, dan tak meninggalkan ikatan lain antar manusia selain kepentingan dirinya semata, selain daripada ‘pembayaran tunai’ yang kejam. Ia telah menghanyutkan getaran-suci damba keagamaan yang paling memabukkan sekalipun, menghanyutkan gairah kekesatriaan, menghanyutkan sentimentalisme filistin, ke dalam air dingin perhitungan egois. Ia telah menukar harga diri dengan nilai-tukar dan, sebagai gantinya, diperoleh lah tumpukan pakta kebebasan yang tak terhitung jumlahnya, yang telah disahkan undang-undang yang tak boleh semena-mena dibatalkan, suatu kebebasan yang tidak didasarkan pada akal sehat—perdagangan bebas. Pendek kata, penghisapan yang diselimuti oleh ilusi-ilusi keagamaan dan politik digantikan oleh penghisapan yang terang-terangan, tak kenal malu, langsung, ganas.

Borjuis telah menanggalkan anggapan mulia terhadap setiap jabatan yang selama ini dihormati dan dipuja dengan penuh ketaatan. Ia telah mengubah dokter, advokat, pendeta, penyair, sarjana menjadi buruh-upahannya yang ia bayar.

Borjuis telah merobek-robek selubung perasaan kekeluargaan, dan memerosotkannya menjadi hubungan-uang belaka. Borjuis telah membongkar makna pertunjukan kekuatan (yang sangat kasar) pada Zaman Tengah, yang begitu dikagumi oleh kaum reaksioner itu, dengan julukan imbangan: kemalasan yang paling lamban. Borjuis lah yang pertama-tama menunjukkan apa yang dapat dan seharusnya dihasilkan oleh kegiatan manusia. Ia telah melahirkan keajaiban-keajaiban yang jauh melampaui piramida-piramida Mesir, saluran-saluran-air Roma dan katedral-katedral gotik; ia telah melakukan ekspedisi-ekspedisi yang sangat berlainan ketimbang sekadar perpindahan-perpindahan bangsa-bangsa (10) dan perang-perang salib (11) di masa lalu.

Borjuis tak dapat hidup tanpa senantiasa merevolusionerkan perkakas-perkakas produksinya dan, karenanya, merevolusionerkan hubungan-hubungan produksi dan, dengan itu semuanya, merevolusionerkan segenap hubungan dalam masyarakat. Sebaliknya, mempertahankan cara-cara produksi lama, dalam bentuknya yang tak berubah, adalah sarat hidup pertama bagi segala kelas industri yang lama. Senantiasa merevolusionerkan produksi, kekacauan segala kondisi sosial yang tiada putus-putusnya, ketiadaan kepastian dan kegelisahan abadi, adalah hal-hal yang membedakan zaman borjuis dengan semua zaman terdahulu. Segala hubungan yang telah ditetapkan, yang telah beku dan berkarat, dengan rentetan prasangka-prasangka serta pendapat-pendapat kuno yang disegani, disapu bersih, segala yang tadinya baru segera bisa dibentuk menjadi usang sebelum membatu. Segala yang padat menguap ke udara, segala yang suci dinodai dan, pada akhirnya, manusia terpaksa menghadapinya dengan hati tenang semua syarat-syarat hidupnya yang sebenarnya, juga syarat-syarat hubungan-hubungannya dengan sesamanya.

Kebutuhan untuk senantiasa memperluas pasar bagi barang-barang hasil produksi merupakan dorongan di kalangan borjuis untuk merangkul muka bumi dengan barang-barangnya. Ia harus berada di mana-mana, bertempat di mana-mana, menjalin hubungan-hubungan di mana-mana.

Melalui penghisapannya atas pasar dunia, borjuis telah memberikan sifat kosmopolitan kepada produksi dan konsumsi di tiap-tiap negeri. Kaum Reaksioner meratap sedih karena borjuis telah menyeret dari bawah kakinya pijakkan bumi industri bangsanya.

Setiap harinya, Semua industri bangsanya yang sudah lapuk dihancurkan atau sedang dalam proses penghancuran. Semuanya diganti oleh industri-industri baru yang pelaksanaannya memang menjadi masalah hidup-mati bagi semua bangsa yang akan menjadi beradab, diganti oleh industri-industri yang tidak lagi mengerjakan bahan mentah dari negerinya sendiri, tetapi bahan mentah yang didatangkan dari wilayah-wilayah-dunia yang paling jauh letaknya sekalipun, diganti oleh industri-industri yang hasil-hasilnya tidak saja dipakai di dalam negeri tetapi di setiap pelosok dunia. Sebagai pengganti kebutuhan-kebutuhan masa lampau, yang hanya dipuaskan oleh produksi negerinya sendiri, muncul lah kebutuhan-kebutuhan baru, yang dipuaskan oleh hasil-hasil dari negeri-negeri serta daerah-daerah beriklim berbeda, yang sangat jauh letaknya. Sebagai pengganti keadaan lama yang terasing, keadaan yang hanya mencukupi-kebutuhan-sendiri secara lokal maupun secara bangsa, muncul lah hubungan ke segala jurusan, keadaan saling-tergantung yang universal di antara bangsa-bangsa. Dan, seperti halnya dengan produksi material, demikian juga lah keadaannya dalam hal produksi intelektual. Ciptaan-ciptaan intelek dari satu bangsa kemudian menjadi milik bersama. Kesepihakan serta kesempitan pandangan kebangsaan menjadi makin tidak mungkin dan, dari sejumlah besar literatur bangsa dan lokal, timbul lah suatu literatur dunia.

Borjuis, dengan perbaikan-cepat segala alat produksinya, dengan makin sangat dipermudahnya kesempatan menggunakan alat-alat perhubungan, menarik segala bangsa, sampai yang paling biadab pun, kedalam peradaban. Harga-harga murah barang dagangannya merupakan artileri berat yang memporakporandakan segala tembok Tiongkok, yang menaklukkan kebencian-kepala batu kaum biadab terhadap orang-orang asing. la memaksakan cara produksi borjuis kepada semua bangsa, dengan ancaman akan musnah; ia memaksakan ke tengah-tengah lingkungan mereka apa yang olehnya disebut peradaban, yaitu, supaya mereka sendiri menjadi borjuis. Pendek kata, ia menciptakan suatu dunia menurut bayangannya sendiri.

Borjuis menundukkan, menaklukan, desa kepada kekuasaan kota, la telah menciptakan kota-kota yang hebat, telah sangat menambah penduduk kota dibanding dengan penduduk desa, dan dengan demikian telah melepaskan sebagian besar penduduk dari kedunguan kehidupan desa. Sebagaimana halnya ia telah menjadikan desa bergantung kepada kota, begitu pun ia telah menjadikan negeri biadab dan setengah-biadab bergantung kepada negeri yang beradab, bangsa kaum tani kepada bangsa borjuis, Timur kepada Barat.

Borjuis senantiasa makin bersemangat menghapuskan keadaan penduduk yang terpencar-pencar dari alat-alat produksinya, dan dari hak pemilikannya. Ia telah menimbun penduduk, memusatkan alat-alat produksi, dan telah mengkonsentrasikan hak pemilikan ke dalam beberapa tangan. Akibat yang seharusnya dari hal tersebut adalah pemusatan politik. Provinsi-provinsi yang merdeka atau yang mempunyai hubungan tak begitu erat dengan kepentingan-kepentingan, undang-undang, pemerintah dan sistim pajak yang ber-lain-lainan, menjadi terpadu sebagai satu bangsa, dengan satu pemerintah, satu undang-undang, satu kepentingan kelas, satu bangsa, satu perbatasan dan satu tarif pabean.

Borjuis, yang kekuasaannya belum genap seratus tahun itu, telah menciptakan: tenaga-tenaga produktif yang lebih teguh dan lebih besar ketimbang yang telah diciptakan oleh generasi-generasi sebelumnya dijadikan satu. Ditundukkannya kekuatan-kekuatan lama kepada manusia, mesin-mesin, pelayaran kapal api, penerapan ilmu kimia pada industri dan pertanian, jalan kereta api, pembukaan benua-benua untuk tanah garapan, telegrafi listrik, penyaluran irigasi-sungai, semuanya sepertinya (merupakan kekuatan sihir) yang menyeret sejumlah besar penduduk dikeluarkan dari dalam tanah—abad terdahulu mana kah yang dapat menduga adanya tenaga-tenaga produktif yang sedemikian dahsyat itu, yang tertidur dalam pangkuan kerja masyarakat?

Jadi, tahu lah kita: alat-alat produksi dan alat-alat pertukaran, landasan pijak borjuis untuk berkembang, ditimbulkan di dalam masyarakat feodal. Memang, pada suatu tingkat tertentu dalam perkembangan alat-alat produksi dan alat-alat pertukaran, terdapat syarat-syarat hidup bagi masyarakat feodal, yang juga menghasilkan dan mengadakan pertukaran, suatu organisasi feodal pertanian dan industri manufaktur-kecil, pendek kata, hubungan-hubungan pemilikan feodal yang, namun, tidak lagi dapat disesuaikan dengan tenaga-tenaga produktif yang sudah berkembang; semuanya itu merupakan belenggu-belenggu yang terlalu banyak; semuanya itu harus dipatahkan, dan mereka memang dipatahkan.

Sebagai gantinya, datanglah persaingan bebas, disertai oleh susunan sosial dan politik yang diselaraskan dengannya, oleh kekuasaan ekonomi dan politik kelas borjuis.

Suatu gerakan serupa sedang berlangsung di hadapan mata kepala kita sendiri. Masyarakat borjuis modern, dengan hubungan-hubungan produksinya, dengan hubungan-hubungan pertukarannya, dengan hubungan-hubungan pemilikannya, dan merupakan suatu masyaratat yang telah menjelmakan alat-alat produksi serta alat-alat pertukaran yang begitu raksasa, adalah seperti tukang sihir yang tidak dapat mengontrol lagi tenaga-tenaga alam gaib yang telah dipangil oleh mantera-manteranya. Sudah sejak berpuluh-puluh tahun, dalam sejarah industri dan perdagangan, isinya hanya lah sejarah pemberontakan tenaga-tenaga produktif modern menuntut syarat-syarat produksi modern, melawan hubungan-hubungan pemilikan yang merupakan syarat-syarat hidup bagi borjuis dan kekuasaannya. Cukup lah menyebut krisis-krisis perdagangan yang dengan terulang terus secara periodik, setiap kali lebih berbahaya, mengancam kelangsungan hidup seluruh masyarakat borjuis. Krisis-krisis ini tidak saja menimpa sebagian besar barang-barang hasil produksi yang ada, tetapi juga menimpa tenaga-tenaga produktif yang telah diciptakan sebelumnya, semuanya dihancurkan secara periodik. Dalam krisis-krisis tersebut berjangkit lah wabah yang di dalam zaman-zaman terdahulu merupakan suatu kejanggalan—wabah kelebihan produksi. Tiba-tiba masyarakat mendapatkan dirinya terlempar kembali dalam suatu keadaan kebiadaban sementara; nampaknya seakan-akan suatu kelaparan, suatu perang pembinasaan umum yang telah memusnahkan persediaan segala bahan keperluan hidup; industri dan perdagangan seakan-akan dihancurkan; dan mengapa? Karena terlampau banyak peradaban, terlampau banyak bahan-bahan keperluan hidup; terlampau banyak industri, terlampau banyak perdagangan. Tenaga-tenaga produktif yang tersedia bagi masyarakat tidak lagi dapat melanjutkan perkembangan syarat-syarat kepemilikan borjuis; sebaliknya, mereka telah menjadi terlampau kuat bagi syarat-syarat ini, membelenggu mereka, dan segera setelah mereka mengatasi rintangan belenggu-belenggu ini, mereka mendatangkan kekacauan ke dalam seluruh masyarakat borjuis, membahayakan pemilikan borjuis. Syarat-syarat masyarakat borjuis terlampau sempit untuk memuat kekayaan yang diciptakan olehnya. Dan bagaimana kah borjuis mengatasi krisis-krisis tersebut? Pada satu pihak, dengan memaksakan penghancuran sejumlah besar tenaga-tenaga produktif, pada pihak lain, dengan merebut pasar-pasar baru, dan menyulap pasar-pasar yang lama dengan cara yang lebih sempurna. Itu artinya, membukakan jalan bagi krisis-krisis yang lebih luas dan lebih merusakkan, dan mengurangi syarat-syarat yang dapat mencegah krisis-krisis itu.

Senjata-senjata yang digunakan oleh borjuis untuk menumbangkan feodalisme sekarang berbalik kepada borjuis itu sendiri.

Tetapi, tidak saja borjuis tersebut memproduksi senjata-senjata yang mendatangkan mautnya sendiri; ia juga telah melahirkan manusia-manusia yang akan menggunakan senjata-senjata itu—kelas buruh modern—kaum proletar.

Disebandingkan dengan perkembangan borjuis, artinya, perkembangan kapital, maka dalam derajat yang sama proletariat, kelas buruh modern, juga berkembang—suatu kelas buruh yang hanya hidup selama mereka mendapat pekerjaan, dan hanya mendapat pekerjaan selama kerja mereka memperbesar kapital. Kelas buruh tersebut, yang harus menjual dirinya sepotong-sepotong layaknya suatu barang dagangan seperti semua barang dagangan lainnya, karenanya menyerahkan dirinya mentah-mentah kepada segala perubahan persaingan, kepada segala keguncangan pasar.

Disebabkan oleh pemakaian mesin-mesin secara luas dan, karenanya, pembagian kerja pun semakin meluas, hilanglah segala sifat perseorangan pekerjaan proletar, dan karena itu pula hilang lah segala kegairahan si buruh. Ia menjadi semata-mata lampiran-tambahan dari mesin dan dengan demikian, kecakapannya menjadi (paling) sederhana, paling menjemukan dan paling mudah didapat—itu lah semua yang dibutuhkan dari dia—ketimbang mesin. Karena itu, biaya produksi seorang buruh terbatas semata-mata setara dengan nilai bahan-bahan keperluan hidup yang diperlukan untuk hidupnya dan untuk pembiakan keturunannya. Tetapi harga sesuatu barang dagangan, oleh karena itu, juga harga kerjanya (12), akan sama dengan biaya produksinya. Oleh sebab itu, sederajat dengan makin tidak menyenangkannya kerja tersebut, turun lah upahnya. Bahkan lebih dari itu, dalam derajat yang setara dengan pemakaian mesin-mesin dan pembagian kerja yang bertambah, dalam derajat yang itu-itu pula beban kerja bertambah, baik dengan memperpanjang jam kerja, dengan menambah banjaknya pekerjaan dalam waktu tertentu, atau dengan mempertinggi kecepatan mesin-mesin, dan sebagainya.

Industri modern telah mengubah bengkel kecil kepunyaan majikan patriarkal menjadi pabrik besar kepunyaan kapitalis industri. Massa kelas buruh yang dikumpulkan dalam pabrik diorganisir seperti serdadu. Sebagai serdadu biasa pasukan industri, mereka diatur di bawah perintah suatu susunan-kepangkatan yang rapi, terdiri dari opsir-opsir dan sersan-sersan. Mereka tidak hanya menjadi budak kelas borjuis dan budak negara borjuis saja; mereka setiap hari dan setiap jam diperbudak oleh mesin-mesin, oleh mandor-mandor, dan terutama sekali oleh tuan pabrik borjuis, orang-seorang itu sendiri. Semakin terang-terangan kelaliman tersebut menyatakan bahwa keuntungan adalah tujuan dan maksudnya, maka semakin dan semakin membencikan dan membuat marah saja borjuis itu.

Semakin kurang kecakapan dan semakin kurang pemakaian tenaga kerja badan yang diperlukan maka, dengan kata-kata lain, itu berarti industri modern menjadi semakin sempurna. Semakin banyak kerja lelaki yang digantikan oleh kerja perempuan. Perbedaan umur dan perbedaan jenis kelamin tidak lagi mempunyai arti kemasyarakatan yang penting bagi kelas buruh. Semuanya merupakan perkakas kerja, jenis kelamin mereka sekadar dinilai kurang atau lebih mahalnya mereka dipakai untuk produksi.

Jika penghisapan buruh oleh pengusaha sudah sampai sedemikian jauhnya, maka saat upahnya ia terima dengan tunai, maka diterkam lah ia oleh bagian-bagian lain borjuis, siapapun borjuis itu, pemilik tanah kah, pemilik toko kah, pemilik pegadaian kah, dan sebagainya.

Lapisan rendahan dari kelas antara/tengah—kaum pengusaha kecil, pemilik toko kelontongan dan tukang riba (13) umumnya, pengrajin dan kaum tani—semuanya berangsur-angsur terjengkang menjadi proletariat, sebagian oleh karena kapitalnya yang kecil, tidak cukup untuk menjalankan industri besar, menderita kekalahan dalam persaingan dengan kelas kapitalis besar, sebagian juga oleh karena keahlian mereka menjadi tidak berharga dalam setiap produksi yang baru. Begitu lah proletariat terbentuk dari segala kelas penduduk.

Proletariat melalui berbagai tingkat perkembangan. Bersamaan dengan lahirnya proletariat, dimulai lah perjuangannya melawan borjuis. Mula-mula perjuangan tersebut dilakukan oleh kelas buruh orang-seorang, kemudian oleh buruh suatu pabrik, kemudian oleh buruh dari satu macam perusahaan di satu tempat melawan burdjuis orang seorang yang langsung menghisap mereka. Mereka tidak mengerahkan serangan-serangannya terhadap syarat-syarat produksi borjuis, tetapi terhadap perkakas-perkakas produksi itu sendiri; mereka merusakkan barang-barang impor yang menyaingi kerja mereka, mereka menghancurkan mesin-mesin, mereka membakar pabrik-pabrik, dengan paksa mereka mencoba mengembalikan kedudukannya sebagai pekerja Zaman Tengah (14) yang telah lenyap itu.

Pada tingkat tersebut kelas buruh merupakan suatu massa lepas yang tersebar di seluruh negeri dan terpecah belah oleh persaingan di kalangan mereka sendiri. Jika di suatu tempat mereka bersatu membentuk badan-badan yang lebih erat terhimpun, hal tersebut belum lah merupakan akibat dari persatuan yang aktif dari mereka sendiri, tetapi karena persatuan borjuis, kelas yang untuk mencapai tujuan politiknya sendiri terpaksa menggerakkan seluruh proletariat, namun hanya untuk sementara waktu saja mereka masih bisa berbuat demikian. Oleh karena itu, pada tingkat tersebut proletar tidak bisa melawan musuh-musuhnya, tetapi melawan musuh-musuhnya borjuis, yaitu sisa-sisa monarki absolut kelas pemilik tanah, borjuis bukan-industri, borjuis kecil. Dengan demikian seluruh gerakan yang bersejarah tersebut berpusat di tangan borjuis; tiap-tiap kemenangan yang dicapai dengan cara demikian adalah kemenangan borjuis.

Tetapi, dengan berkembangnya industri, proletariat tidak saja bertambah jumlahnya; mereka terkonsentrasi menjadi massa yang lebih besar, kekuatannya bertambah besar dan ia semakin merasakan kekuatan tersebut. Kepentingan-kepentingan dan syarat-syarat hidup yang bermacam ragam dalam barisan proletariat semakin lama semakin menjadi sama, sederajat dengan dihapuskannya segala perbedaan kerja oleh mesin-mesin dan dengan diturunkannya upah hampir di mana-mana sampai pada tingkat yang sama rendahnya. Persaingan yang semakin menjadi-jadi di kalangan kelas borjuis dan krisis-krisis perdagangan yang diakibatkannya, menyebabkan upah kelas buruh senantiasa berguncang. Perbaikan mesin-mesin yang tidak henti-hentinya itu senantiasa berkembang dengan lebih cepat, menyebabkan penghidupan mereka makin lama makin tidak menentu; bentrokan-bentrokan antara buruh orang-seorang dengan borjuis orang-seorang semakin lama bersifat bentrokan-bentrokan antar dua kelas. Sesudah itu kelas buruh mulai membentuk perkumpulan-perkumpulan menentang kelas borjuis; mereka berhimpun untuk mempertahankan upah-kerja mereka; mereka mendirikan perserikatan-perserikatan yang permanen untuk mempersiapkan diri menyongsong perlawanan sewaktu-sewaktu tersebut. Di sana-sini perjuangan tersebut meletus—menjadi huru-hara.

Kadang kelas buruh memperoleh kemenangan, tetapi hanya untuk sementara waktu. Buah yang sebenarnya dari perjuangan mereka tidak terletak pada hasil yang langsung, tetapi pada semakin meluasnya persatuan kelas buruh. Persatuan ini dibantu terus oleh kemajuan alat-alat perhubungan yang dibuat oleh industri modern, yang membawa kelas buruh dari berbagai daerah berhubungan satu dengan yang lainnya. Justru perhubungan itu lah yang diperlukan untuk memusatkan perjuangan-perjuangan lokal yang banyak itu, yang kesemuanya itu mempunyai sifat yang sama, menjadi satu perjuangan bangsa antara kelas dengan kelas. Tetapi, setiap perjuangan kelas adalah perjuangan politik. Dan persatuan ini yang, untuk mencapainya,warga kota-kota pada Zaman Tengah—dengan jalan-jalan mereka yang sangat buruk—memerlukan waktu yang berabad-abad lamanya namun, berkat adanya jalan-jalan kereta api, dicapai oleh proletar modern dalam beberapa-tahun saja.

Terorganisirnya proletar menjadi kelas yang, dengan demikian, akan menjadi partai politik, senantiasa dirusak kembali oleh persaingan di kalangan kelas buruh sendiri. Tetapi ia selalu bangun kembali, lebih kuat, lebih teguh, lebih perkasa. Ia memaksakan pengakuan undang-undang atas kepentingan-kepentingan tertentunya dengan jalan menggunakan perpecahan di kalangan borjuis sendiri. Maka lahir lah undang-undang sepuluh-jam kerja di Inggris.

Kesimpulannya, bahwa bentrokan-bentrokan antara kelas dengan kelas di dalam masyarakat lama, dengan berbagai cara, mendorong maju perkembangan proletariat. Borjuis terlibat dalam perjuangan terus-menerus. Mula-mula dengan aristokrasi; kemudian dengan bagian-bagian dari borjuis itu sendiri, yang mempunyai kepentingan-kepentingan yang bertentangan dengan kemajuan industri; dan dengan borjuis negeri-negeri asing; semuanya. Di dalam segala perjuangan tersebut borjuis merasa terpaksa berseru kepada proletariat, meminta bantuannya, dan dengan begitu menarik proletariat kedalam gelanggang politik. Oleh karena itu, borjuis sendiri membekali proletariat dengan anasir-anasir politik dan pendidikan-umumnya sendiri, dengan perkataan lain, ia melengkapi proletariat itu dengan senjata-senjata untuk melawan borjuis.

Selanjutnya, sebagaimana yang telah kita ketahui, golongan-golongan seluruh kelas yang berkuasa, dengan majunya industri, tercampak menjadi proletariat, atau setidaknya terancam syarat-syarat hidupnya oleh syarat-syarat hidup yang ada sekarang ini. Hal ini juga memberikan kepada proletariat anasir-anasir kesedaran dan kemajuan yang segar.

Akhirnya, ketika perjuangan kelas mendekati saat yang menentukan, proses kehancuran yang berlaku terhadap kelas yang berkuasa, atau pada hakekatnya terhadap seluruh masyarakat lama seutuhnya, mencapai watak yang sedemikian keras dan tegasnya, sehingga segolongan kecil kelas yang berkuasa memutuskan hubungannya dan menyatukan diri dengan kelas yang revolusioner, kelas yang memegang hari depan di tangannya. Oleh karena itu, sama seperti ketika zaman terdahulu, saat segolongan kaum bangsawan memihak borjuis, maka sekarang segolongan borjuis memihak proletariat, terutama segolongan ideolog borjuis yang telah mengangkat dirinya sampai pada taraf memahami teori gerakan yang bersejarah tersebut secara menyeluruh.

Dari semua kelas yang sekarang berdiri berhadapan dengan borjuis, hanya proletariat lah satu-satunya kelas yang betul-betul revolusioner. Kelas-kelas lainnya melapuk dan akhimya lenyap ditelan industri besar, hanya proletariat lah yang hasilnya istimewa dan hakiki.

Kelas antara/menengah rendahan, pemilik pabrik kecil, pemilik toko kelontongan, pengrajin, petani, semuanya berjuang melawan borjuis, untuk menyelamatkan hidup mereka sebagai golongan kelas antara/menengah agar terhindar dari kemusnahan. Oleh karena itu mereka tidak revolusioner, konservatif. Bahkan lebih dari itu, mereka itu reaksioner, karena mereka mencoba memutar kembali roda sejarah. Jika secara kebetulan mereka itu revolusioner, maka mereka berlaku demikian itu hanya lah karena melihat bahaya yang sedang mendekat, berupa kehancuran mereka menjadi proletariat, jadi mereka tidak membela kepentingan-kepentingannya yang sekarang, tetapi kepentingan-kepentingannya di masa datang, mereka meninggalkan pendiriannya sendiri untuk menempatkan dirinya pada pendirian proletariat.

Proletariat-gelandangan (lumpen-proletariat) (15), massa yang membusuk secara pasif dari kalangan lapisan terendah masyarakat lama, disana-sini terseret ke dalam gerakan revolusi proletar; akan tetapi, karena syarat-syarat hidupnya, menjadikan ia lebih condong melakukan peranan sebagai perkakas yang dapat disuap untuk mengadakan huru-hara reaksioner.

Syarat-syarat hidup masyarakat lama dihancurkan oleh syarat-syarat hidup proletariat. Proletar tidak mempunyai hak pemilikan; hubungannya dengan isteri dan anaknya tidak ada persamaannya dengan hubungan keluarga borjuis; kerja industri modern, penundukkan modern di bawah kapital, yang sama saja baik di Inggris maupun di Prancis, di Amerika maupun di Jerman, telah menghilangkan segala bekas-bekas watak bangsanya. Undang-undang, moral, agama, baginya adalah sama dengan segala prasangka borjuis, yang dibelakangnya bersembunyi segala macam kepentingan-kepentingan borjuis.

Semua kelas terdahulu, yang sudah memperoleh kekuasaannya, berusaha memperkuat kedudukan yang telah diperolehnya dengan menundukkan masyarakat keseluruhannya kepada syarat-syarat pemilikan mereka. Proletar tidak dapat menjadi tuan atas tenaga-tenaga produktif masyarakat kecuali dengan menghapuskan cara pemilikannya, dan dengan begitu menghapuskan juga segala cara pemilikan lain yang terdahulu. Mereka tak mempunyai sesuatu apa pun yang harus dilindungi dan dipertahankan, tugas mereka ialah menghancurkan segala perlindungan dan jaminan yang terdahulu atas milik perseorangan.

Semua gerakan sejarah yang terdahulu adalah gerakan dari minoritas-minoritas, atau untuk kepentingan minoritas. Gerakan proletar adalah gerakan yang sadar-diri dan berdiri sendiri di antara mayoritas yang melimpah, namun juga mengabdi pada kepentingan majoritas yang melimpah. Proletariat, lapisan yang paling rendah dari masyarakat kita sekarang, tidak dapat bergerak, tidak dapat mengangkat dirinya ke atas, tanpa hancur luluhnya seluruh lapisan atas masyarakat yang resmi.

Walaupun tidak dalam isinya, tetapi dalam bentuknya, perjuangan proletariat melawan borjuis adalah mula-mula suatu perjuangan di satu bangsa. Proletariat di masing-masing negeri tentu saja pertama-tama harus membuat perhitungan dengan borjuisnya sendiri.

Dalam melukiskan fase-fase paling umum perkembangan proletariat, kita bisa mengurut jejak peperangan di dalam negeri, yang lebih atau kurang tersembunyi, yang bergolak, di dalam masyarakat yang ada, sampai pada titik di mana peperangan itu meletus menjadi revolusi terang-terangan, dan akhirnya penggulingan borjuis dengan kekerasan guna meletakkan landasan bagi kekuasaan proletariat.

Hingga kini, sebagaimana yang telah kita ketahui, segala bentuk masyarakat didasarkan atas antagonisme antara kelas dengan kelas, antara kelas yang menindas dengan kelas yang ditindasnya. Tetapi untuk dapat menindas suatu kelas, harus lah dijamin syarat-syarat tertentunya, setidaknya dapat melanjutkan hidupnya sebagai budak. Si hamba, dalam zaman perhambaan, meningkatkan dirinya menjadi anggota komune, seperti juga halnya dengan si borjuis kecil, di bawah penindasan absolutisme feodal, mengembangkan dirinya menjadi borjuis. Sebaliknya, buruh modern bukannya terangkat naik dengan adanya kemajuan industri, tetapi bahkan senantiasa makin jatuh merosot di bawah syarat-syarat hidup kelasnya sendiri. Ia menjadi orang melarat, dan kemelaratan berkembang lebih cepat dari pada penduduk dan sumber kekayaan. Dan, dengan demikian, menjadi terang lah bahwa borjuis tidak pada tempatnya lagi untuk menjadi kelas yang berkuasa dalam masyarakat, sudah tidak mampu lagi untuk memaksakan syarat-syarat hidupnya kepada masyarakat sebagai undang-undang yang menentukan. Ia tidak cakap memerintah karena ia tidak mampu menjamin penghidupan bagi budaknya di dalam rangka perbudakannya itu, karena ia terpaksa membiarkan budaknya tenggelam ke dalam keadaan yang sedemikian rupa sehingga ia harus memberi makan kepada budaknya, dan bukannja ia diberi makan oleh budaknya. Masyarakat tidak dapat lagi hidup di bawah borjuis seperti ini, dengan perkataan lain, keberadaan borjuis tidak dapat didamaikan lagi dengan masyarakat.

Syarat terpokok untuk hidup dan berkuasanya kelas borjuis adalah terbentuknya dan bertambah besarnya kapital; syarat untuk kapital ialah kerja-upahan. Kerja-upahan semata-mata bersandar pada persaingan di kalangan kelas buruh sendiri. Kemajuan industri, yang pendorongnya dengan tak sengaja adalah borjuis, merubah keterpencilan kelas buruh yang disebabkan oleh persaingan, hingga ia kini bergabung secara revolusioner karena perserikatan. Perkembangan industri besar, karenanya, merenggut dari bawah kaki borjuis landasan borjuis untuk menghasilkan dan memiliki hasil-hasil produksi. Oleh sebab itu, apa yang dihasilkan oleh borjuis ialah, terutama sekali, penggali-penggali liang kuburnya sendiri. Keruntuhan borjuis dan kemenangan proletariat adalah sama-sama tak dapat dielakkan lagi.

II

PROLETAR DAN PARTAI KOMUNIS

Bagaimanakah hubungan antara Komunis dengan proletar umumnya?

Partai Komunis bukan merupakan suatu partai tersendiri yang bertentangan dengan partai-partai kelas buruh lainnya.

Partai Komunis tidak mempunyai kepentingan-kepentingan tersendiri dan terpisah dari kepentingan-kepentingan proletariat secara keseluruhan.

Partai Komunis tidak membuat prinsip-prinsipnya sendiri yang sektaris, yang hendak dijadikan pola bagi gerakan proletar. Partai Komunis, dibandingkan dengan partai-partai kelas buruh lainnya, berbeda hanya lah karena hal ini:

1. Dalam perjuangan proletar di lingkup bangsa, di berbagai negeri, mereka menunjukkan serta mengedepankan kepentingan-kepentingan bersama seluruh proletariat, terlepas dari segala kebangsaannya.

2. Dalam berbagai tingkat perkembangan yang harus dilalui oleh perjuangan kelas buruh saat melawan borjuis, mereka senantiasa dan di mana saja mewakili kepentingan-kepentingan gerakan tersebut sebagai keseluruhan.

Oleh sebab itu, Partai Komunis, pada satu pihak, pada prakteknya adalah bagian yang paling maju dan teguh hati ketimbang partai-partai kelas buruh di setiap negeri, merupakan bagian yang mendorong maju semua bagian lainnya; pada pihak lain, secara teoritik, mereka mempunjai kelebihan atas massa proletariat yang besar tersebut dalam pengertian garis perjalanannya, syarat-syaratnya, dan dilihat dari hasil-hasil umum (terakhir) gerakan proletar.

Tujuan terdekat dari Partai Komunis adalah sama dengan tujuan semua partai proletar lain-lainnya: membentuk proletariat menjadi satu kelas, menggulingkan kekuasaan borjuis, dan perebutan kekuasaan politik oleh proletariat. Kesimpulan-kesimpulan teoritik Partai Komunis sama sekali bukan lah didasarkan pada pikiran-pikiran atau prinsip-prinsip yang telah diciptakan, atau yang telah ditemukan oleh salah seorang pembaru-dunia.

Kesimpulan-kesimpulan tersebut hanya lah menyatakan, semata-mata, secara umum, hubungan-hubungan sebenarnya yang timbul dari suatu perjuangan kelas yang sedang berlaku, dari suatu gerakan sejarah yang sedang berjalan di depan mata kita. Penghapusan hubungan-hubungan hak pemilikan yang ada sekarang sama sekali bukan lah suatu ciri yang istimewa dari Komunisme.

Segala hubungan hak pemilikan di masa lampau senantiasa tunduk pada perubahan historis/kesejarahan yang diakibatkan oleh perubahan kondisi-kondisi sejarah.

Revolusi Perancis, misalnya, menghapuskan hak pemilikan feodal untuk memberi tempat kepada hak pemilikan borjuis (16).

Ciri istimewa Komunisme bukan lah penghapusan pakta hak pemilikan pada umumnya, tetapi penghapusan hak pemilikan borjuis. Tetapi hak pemilikan perseorangan borjuis modern adalah ungkapan terakhir dan paling sempurna dari sistim yang menghasilkan dan memiliki hasil-hasilnya dengan didasarkan pada antagonisme-antagonisme kelas, didasarkan pada penghisapan yang sedikit kepada yang banyak.

Dalam artian ini, teori kaum Komunis dapat lah diihtisarkan—dalam satu kalimat saja: penghapusan pemilikan perseorangan.

Kita, Partai Komunis, dimaki dengan tuduhan bahwa Partai Komunis hendak menghapuskan hak pemilikan yang diperoleh seseorang dari hasil kerjanya, hak pemilikan yang dianggap sebagai dasar bagi semua kemerdekaan, kegiatan dan kebebasan seseorang.

Hak pemilikan yang diperoleh dengan membanting tulang, yang direbut sendiri, yang dicari sendiri secara halal. Apakah yang tuan maksudkan adalah hak pemilikan si pengrajin, hak pemilikan kaum tani kecil, suatu bentuk hak pemilikan yang mendahului bentuk hak pemilikan borjuis? Yang demikian itu tak perlu dihapuskan. Perkembangan industri telah menghancurkannya, dan banyak sekali hak pemilikan, setiap harinya, masih terus dihancurkannya.

Atau kah yang tuan maksudkan itu adalah hak pemilikan perseorangan borjuis modern?

Tetapi apakah kerja-upahan, kerja si proletar, memberikan hak pemilikan bagi borjuis? Sama sekali tidak. Proletar lah yang menciptakan kapital, yaitu semacam hak pemilikan yang menghisap kerja-upahan, dan yang tidak dapat bertambah besar kecuali dengan syarat bahwa kapital menghasilkan kerja-upahan baru demi penghisapan baru. Hak pemilikan, dalam bentuknya yang sekarang ini, didasarkan pada antagonisme antara kapital dengan kerja upahan. Mari lah kita periksa kedua segi antagonisme tersebut.

Untuk menjadi seorang kapitalis, orang tidak saja harus mempunyai kedudukan perseorangan, tetapi juga kedudukan sosial dalam produksi. Kapital adalah suatu hasil kolektif, dan ia hanya dapat digerakkan oleh tindakan bersama banyak anggota, malahan, lebih dari itu, pada tingkatan terakhir, ia hanya dapat digerakkan oleh tindakan bersama semua anggota masyarakat.

Oleh karena itu kapital bukan lah suatu kekuasaan pribadi, ia adalah suatu kekuasaan sosial.

Jadi, jika kapital itu dijadikan milik bersama, menjadi milik semua anggota masyarakat, bukan berarti milik pribadi diubah menjadi milik sosial. Hanya watak sosial hak pemilikan lah yang diubah. Watak kelasnya yang dihilangkan.

Marilah sekarang kita bicara tentang kerja-upahan.

Harga rata-rata kerja-upahan adalah upah minimum, yakni suatu jumlah untuk memenuhi bahan-bahan keperluan hidup, yang mutlak diperlukan untuk mempertahankan hidup buruh sebagai seorang buruh, dalam derajat hidup sekadarnya. Oleh karena itu, apa yang telah dimiliki oleh buruh-upahan berkat kerjanya hanya lah cukup untuk memperpanjang dan melanjutkan lagi hidup yang sekadarnya itu. Kita sekali-kali tidak bermaksud untuk menghapuskan pemilikan pribadi atas hasil-hasil kerja tersebut, pemilikan yang digunakan untuk mempertahankan dan melanjutkan hidup biasa sebagai manusia, dan yang tidak menyisakan kelebihan yang dapat digunakan untuk menguasai kerja orang-orang lain; yang hendak kita hapuskan hanyalah watak celaka dari pemilikan tersebut, yang membuat buruh hidup hanya untuk memperbesar kapital belaka, dan dibolehkan hidup hanya selama kepentingan kelas yang berkuasa memerlukannya.

Di dalam masjarakat borjuis, kerja (hidup) tersebut hanya lah suatu alat untuk memperbanyak kerja yang telah ditimbun sebelumnya. Di dalam masyarakat Komunis, kerja yang tertimbun itu hanya lah suatu alat untuk memperluas, memperkaya, memajukan kehidupan buruh.

Di dalam masyarakat borjuis, karenanya, masa lampau menguasai masa kini; di dalam masyarakat Komunis, masa kini menguasai masa lampau. Di dalam masyarakat borjuis kapital adalah bebas merdeka dan mempunyai keberadaan, sedang manusia yang bekerja tak bebas dan tak mempunyai keberadaan.

Dan penghapusan keadaan tersebut dikatakan oleh borjuis sebagai penghapusan keberadaan dan kemerdekaan! Dan memang demikian lah adanya. Penghapusan keberadaan borjuis, penghapusan kebebasan borjuis dan kemerdekaan borjuis itu lah yang memang hendak dicapai.

Karena makna kemerdekaan di bawah syarat-syarat produksi borjuis sekarang ini adalah: perdagangan bebas, penjualan dan pembelian bebas.

Tetapi jika penjualan dan pembelian itu lenyap, penjualan dan pembelian bebas itupun lenyap juga.

Obrolan tentang penjualan dan pembelian bebas ini, dan segala ‘kata-kata gagah’ borjuis lainnya mengenai kemerdekaan pada umumnya mempunyai arti, jika ada, hanya jika dibandingkan dengan penjualan dan pembelian terbatas, jika dibandingkan dengan pedagang-pedagang terbelenggu Zaman Tengah, namun tak mempunyai arti jika dipertentangkan dengan penghapusan secara Komunis atas penjualan dan pembelian—dalam makna penghapusan secara Komunis atas syarat ‘produksi borjuis’; atau penghapusan secara Komunis atas borjuis itu sendiri.

Tuan merasa ngeri karena maksud kami memang menghapuskan milik perseorangan. Tetapi di dalam rnasyarakat tuan yang ada sekarang ini, milik perseorangan sembilan persepuluh dari penduduk sudah dihapuskan; hak pemilikan tersebut hanya ada pada beberapa orang justru karena memang dihapuskan dari yang sembilan persepuluh persen tersebut. Jadi, tuan memaki kami karena kami bermaksud menghapuskan suatu bentuk hak pemilikan, yang untuk merealisasikannya tuan memerlukan syarat dihapusnya hak pemilikan apa pun yang dimiliki mayoritas melimpah masyarakat.

Pendek kata, tuan memaki kami bahwa kami bermaksud menghapuskan hak pemilikan tuan. Memang begitu, justru itu lah yang kami maksud.

Sejak dari saat ketika kerja tidak dapat lagi dijadikan kapital, tidak dapat lagi dijadikan uang, atau tidak dapat lagi dijadikan sewa, dan tidak dapat lagi dijadikan suatu kekuasaan sosial yang dapat dimonopoli, artinya, sejak dari saat ketika hak pemilikan pribadi tidak dapat lagi dijadikan milik borjuis, tidak dapat lagi dijadikan kapital, sejak dari saat itu lah, tuan katakan, keberadaan tuan telah hilang.

Oleh karena itu, tuan harus mengakui bahwa yang tuan maksudkan dengan keberadaan tuan adalah tak lain daripada keberadaan seorang borjuis, seorang pemilik borjuis. Orang-orang tersebut tersebut memang harus disapu bersih dan tidak lagi diberi kemungkinan untuk hidup seperti borjuis.

Partai Komunis tidak menghapuskan kekuasaan seseorang untuk memiliki hasil-hasil masyarakat; apa yang dilakukannja hanya lah merampas kekuasaan seseorang yang menjadikan kerja orang lain takluk kepadanya dengan cara pemilikan semacam itu.

Orang telah mengemukakan keberatan bahwa dengan penghapusan milik perseorangan maka akan berhenti lah semua pekerjaan, dan kemalasan umum akan merajalela.

Bila berpegang pada pendapat tersebut, masyarakat borjuis tentunya sudah lama lenyap karena kemalasan semata-mata; karena mereka merupakan anggota-anggota yang tidak bekerja tapi memperoleh segalanya, sedangkan yang bekerja tak mendapat apapun. Seluruh keberatan tersebut hanya lah ungkapan lain kata-kata yang sama artinya: tak ada lagi kerja-upahan apabila tak ada lagi kapital.

Selain mengemukakan keberatan terhadap cara menghasilkan dan memiliki hasil-hasil material secara Komunis, dikemukakan juga keberatan terhadap cara menghasilkan dan memiliki hasil-hasil intelek secara Komunis. Justru karena bagi borjuis lenyapnya hak pemilikan kelas berarti lenyapnya produksi itu sendiri, maka lenyapnya kebudayaan kelas baginya berarti juga lenyapnya semua kebudayaan.

Kebudajaan tersebut, yang hilangnya sangat diratapi oleh borjuis, bagi golongan mayoritas yang melimpah hanya lah berarti kebudayaan untuk menjadikan mayoritas menjadi mesin.

Tetapi jangan lah ribut-bertengkar dengan kami soal penghapusan hak pemilikan borjuis, selama tuan mengenakan ukuran-ukuran, anggapan-anggapan, prasangka-prasangka borjuis tuan tentang kemerdekaan, kebudayaan, hukum, dan sebagainya. Pikiran-pikiran tuan tersebut justru adalah tak lain daripada buah yang dihasilkan oleh syarat-syarat produksi borjuis dan hak pemilikan borjuis tuan, tepat seperti halnya dengan ilmu hukum tuan, adalah tak lain daripada kemauan kelas tuan yang dijadikan undang-undang dan diterapkan bagi semua orang, suatu kemauan, yang tujuan serta wataknya hakikinya ditentukan oleh syarat-syarat hidup ekonomi kelas tuan.

Anggapan salah kaprah egoistis yang mengatakan bahwa adalah hak tuan mengubah bentuk-bentuk sosial yang timbul dari cara produksi dan bentuk hak pemilikan tuan sekarang ini, sebenarnya merupakan hubungan-hubungan kesejarahan yang timbul dan lenyap selama gerak maju produksi menjadi hukum alam dan hukum akal yang abadi. Tapi tuan menganggap semuanya itu memang demikian adanya, seperti juga dengan dengan kelas penguasa yang mendahului tuan. Apa yang sudah tuan ketahui dengan jelas tentang hak pemilikan kuno (17), apa yang sudah tuan akui tentang hak pemilikan feodal—tentu saja terlarang bagi tuan untuk mengakui hak pemilikan feodal tersebut bila maknanya: bahwa hak pemilikan borjuis tuan sendiri lah yang harus diakui.

Penghapusan keluarga! Orang yang paling radikal pun akan naik darah mendengar maksud keji kaum Komunis ini.

Didasarkan atas landasan apakah keluarga yang ada sekarang ini, keluarga borjuis itu? Atas kapital, atas hasil pendapatan perseorangan. Dalam bentuknya yang berkembang paling sempurna, keluarga semacam ini hanya terdapat di kalangan borjuis saja. Tetapi keberadaan keluarga semacam itu memiliki syarat: berupa pemaksaan penghapusan keluarga di kalangan proletar, berupa pelacuran umum.

Keluarga borjuis akan lenyap dengan sendirinya apabila sayarat-syaratnya pun lenyap, yang akan lenyap bersama dengan lenyapnja kapital.

Bila tuan menuduh bahwa tujuan kami hendak menghentikan penghisapan anak-anak oleh orang tuanya adalah suatu kejahatan, maka kami mengakui kejahatan tersebut.

Tetapi, tuan akan berkata, kami hendak menghancurkan hubungan-hubungan yang paling mesra, karena kami akan mengganti pendidikan rumah dengan pendidikan sosial.

Dan apakah pendidikan tuan tidak ditentukan juga oleh masyarakat? Oleh hubungan-hubungan sosial, yang syarat-syaratnya tuan yang bawa, oleh campur tangan langsung, atau tidak langsung, dari masyarakat dengan perantaraan sekolah-sekolah, dan sebagainya? Komunis tidak menumbuhkan campur tangan masyarakat dalam pendidikan; mereka hanya berusaha untuk mengubah watak campur tangan tersebut, untuk menyelamatkan pendidikan agar terhindar dari pengaruh kelas yang berkuasa.

Obrolan borjuis tentang keluarga dan pendidikan, tentang ikatan mesra antara ibu-bapa dengan anak, menjadi makin memuakkan, seiring dengan ekses-ekses industri besar: makin terputusnya segala ikatan keluarga di kalangan proletar, dan makin terubahnya anak-anak mereka menjadi barang dagangan dan perkakas kerja biasa.

Tetapi kalian, Komunis, hendak melakukan hak bersama atas kaum perempuan, teriak seluruh borjuis dengan serentak.

Borjuis memandang isterinya hanya sebagai suatu perkakas produksi belaka. Ia tahu betul bahwa perkakas-perkakas produksi harus digunakan bersama, dan kesimpulannya berarti: bahwa nasib untuk digunakan bersama akan menimpa pula kaum perempuan.

Borjuis sama sekali tak mempunyai dugaan bahwa sasaran sebenarnya yang dituju adalah justru menghapuskan kedudukan kaum perempuan, sekadar dijadikan perkakas produksi.

Lain daripada itu, tak ada yang lebih menggelikan daripada kegusaran borjuis terhadap apa yang mereka namakan hak bersama atas kaum perempuan yang katanya secara resmi berlaku di kalangan Komunis. Komunis tidak perlu melakukan hak-bersama atas kaum wanita; hal tersebut telah ada di hampir sepanjang segala zaman.

Borjuis kita, tidak puas dengan hal bahwa untuk mereka telah tersedia isteri-isteri dan anak-anak gadis proletar, belum lagi pelacur-pelacur biasa, mereka sangat gemar saling menggoda isteri di kalangan mereka sendiri.

Dalam kenyataannya, perkawinan borjuis adalah suatu sistim isteri-isteri untuk bersama. Komunis paling banyak hanya lah dapat dituduh bahwa mereka hendak melakukan hak-bersama atas kaum perempuan secara syah dan terang-terangan, hendak menggantikan yang sembunyi-sembunyi secara munafik. Lain daripada itu, terang lah dengan sendirinya bahwa hapusnya sistim produksi yang sekarang ini tentu akan mengakibatkan pula hapusnya hak-bersama atas kaum perempuan yang timbul dari sistim tersebut, yakni hapusnya pelacuran, baik yang resmi maupun yang tidak resmi.

Selanjutnya Komunis dituduh hendak menghapuskan tanah air dan kebangsaan.

Kelas buruh tak memiliki tanah air. Kita tak dapat mengambil dari mereka apa yang tidak mereka miliki. Karena proletariat pertama sekali harus merebut kekuasaan politik, harus mengangkat dirinya menjadi kelas yang memimpin suatu bangsa, suatu negeri, harus mewujudkan dirinya sebagai bangsa, maka sejauh itu ia bersifat bangsa, walaupun tidak dalam makna kata menurut borjuis.

Perselisihan-perselisihan dan antagonisme-antagonisme rasional antara bangsa-bangsa makin lama makin menghilang, disebabkan oleh perkembangan borjuis, oleh kemerdekaan berdagang, oleh pasar dunia, oleh keseragaman dalam cara produksi dan dalam syarat-syarat hidup yang selaras dengan itu.

Kekuasaan proletariat akan lebih mempercepat hilangnya itu semua. Aksi yang bersatu, paling tidak dari negeri-negeri yang beradab, adalah salah satu sarat utama untuk membebaskan proletariat.

Sederajat dengan dihapuskannya penghisapan atas seseorang oleh orang lainnya, dihapuskan juga lah penghisapan atas suatu bangsa oleh bangsa lainnya. Sederajat dengan hilangnya antagonisme antara kelas-kelas dalam suatu bangsa, berakhir juga lah permusuhan suatu bangsa terhadap bangsa lainnya.

Tuduhan-tuduhan terhadap Komunisme yang didasarkan pada pendirian agama, filsafat dan, pada umumnya, pendirian ideologis, tidak lah perlu diperhatikan dengan sungguh-sungguh.

Apakah diperlukan penglihatan yang dalam untuk memahami bahwa pikiran, pandangan dan pengertian manusia, pendek kata, kesadaran manusia, berubah sejalan dengan berubahnya tiap-tiap syarat hidup materilnya, dalam hubungan-hubungan sosialnya dan dalam kehidupan sosialnya?

Hal lain, apakah yang bisa dibuktikan oleh sejarah pemikiran, kecuali bahwa produksi intelektual mengubah wataknya sederajat dengan perubahan produksi materialnya? Pikiran-pikiran yang menguasai setiap zamannya adalah senantiasa pikiran-pikiran kelas yang berkuasa.

Apabila orang berbicara tentang pikiran-pikiran yang merevolusionerkan masyarakat, tidak lain hanya lah mengungkapkan kenyataan bahwa, di dalam masyarakat lama, anasir-anasir suatu masyarakat baru sedang diciptakan, dan bahwa leburnya pikiran-pikiran lama sejalan dengan leburnya syarat-syarat hidup lama.

Ketika dunia kuno sedang mendekati ajalnja, agama-agama kuno ditaklukkan oleh agama Kristen. Ketika pikiran-pikiran Kristen dalam abad ke-18 tunduk pada pikiran-pikiran rasionil, masyarakat feodal melakukan perjuangan mati-hidup melawan borjuis yang ketika itu revolusioner. Pikiran-pikiran tentang kebebasan beragama dan kemerdekaan menganut suara hati, hanya lah mengungkapkan adanya kekuasaan persaingan bebas dalam bidang pengetahuan.

Tak dapat disangkal lagi, demikian orang akan berkata, pemikiran-pemikiran yang bersendikan agama, moral, filsafat, hukum, dan sebagainya telah berubah dalam perjalanan perkembangan sejarah. Tetapi agama, moral, filsafat, ilmu politik, dan hukum, senantiasa tetap bertahan dan mencoba menentang pergantian tersebut.

“Kecuali itu, ada kebenaran-kebenaran abadi, semacam Kemerdekaan, Keadilan, dan sebagainya, yang lazim berlaku untuk segala keadaan masyarakat. Tetapi Komunisme menghapuskan kebenaran-kebenaran abadi tersebut, ia menghapuskan semua agama dan semua moral, serta bukan menyusun semuanya itu atas dasar yang baru; karenanya ia bertindak bertentangan dengan segala pengalaman sejarah yang lampau”.

Apakah jadinya arti tuduhan tersebut? Sejarah seluruh masyarakat masa lampau terdiri dari perkembangan antagonisme-antagonisme kelas, antagonisme-antagonisme yang mempunyai berbagai bentuk dalam berbagai zamannya.

Tetapi bagaimanapun juga bentuknya, kenyataannya adalah sama untuk segala zaman yang telah lampau, yaitu, penghisapan atas sebagian dari masyarakat oleh suatu bagian yang lain. Maka tidak lah mengherankan bahwa kesedaran sosial dari abad-abad yang lampau, biar pun dengan segala keragaman dan coraknya, bergerak dalam bentuk-bentuk tertentu yang sama, atau pikiran-pikiran umum, yang tidak dapat hilang sepenuhnya kecuali dengan lenyapnya sama sekali antagonisme-antagonisme kelas.

Revolusi Komunis adalah pemutusan yang paling radikal dengan hubungan-hubungan hak pemilikan tradisionil; tidak lah mengherankan bahwa perkembangannya merupakan pemutusan yang paling radikal dengan pikiran-pikiran tradisional.

Tetapi mari lah kita biarkan saja dulu keberatan-keberatan borjuis terhadap Komunisme.

Telah kita lihat di atas bahwa langkah pertama dalam revolusi kelas buruh adalah mengangkat proletariat pada kedudukan kelas yang berkuasa, memenangkan perjuangan demokrasi.

Proletariat akan menggunakan kekuasaan politiknya untuk merebut, selangkah demi selangkah, semua kapital dari borjuis, memusatkan semua perkakas produksi ke dalam tangan Negara, artinya, proletariat yang terorganisir sebagai kelas yang berkuasa; dan untuk meningkatkan jumlah tenaga-tenaga produktif secepat mungkin.

Tentu saja, pada awalnya, tak dapat dilaksanakan kecuali dengan jalan perombakan tak kenal ampun terhadap hak-hak pemilikan dan terhadap syarat-syarat produksi borjuis; oleh sebab itu, walaupun dengan jalan tindakan-tindakan yang nampaknya secara ekonomi tidak mencukupi dan tak tertahankan, namun, selama gerakan tersebut berlangsung, perombakan tersebut berlari lebih cepat, sehingga menghendaki perombakan lebih lanjut terhadap susunan masyarakat lama, dan merupakan sesuatu yang tak terelakkan sebagai cara untuk merevolusionerkan cara produksi.

Tindakan-tindakan ini tentu saja akan berlainan di-negeri-negeri yang berlainan pula.

Biar pun demikian, di negeri-negeri yang paling maju, tindakan-akan berikut ini umumnya dapat saja diterapkan:

1. Penghapusan hak pemilikan atas tanah, dan penggunaan segala sewa tanah dimasukkan ke dalam kas serta anggaran negara.

2. Pajak penghasilan progresif yang berat.

3. Penghapusan hak-waris.

4. Penyitaan hak pemilikan semua emigran dan pemberontak.

5. Pemusatan kredit di tangan negara, dengan perantaraan sebuah bank nasional yang kapitalnya merupakan milik negara dengan monopoli penuh.

6. Pemusatan alat-alat perhubungan dan pengangkutan ke tangan negara.

7. Penambahan pabrik-pabrik dan perkakas-perkakas produksi yang dimiliki oleh negara; penggarapan tanah-tanah terlantar, dan perbaikan tanah umumnya sesuai dengan rencana bersama.

8. Wajib kerja yang sama untuk semua, pembentukan pasukan-pasukan industri, terutama untuk pertanian.

9. Penggabungan antara perusahaan pertanian dengan perusahaan industri, penghapusan berangsur-angsur perbedaan antara kota dan desa, dengan pembagian penduduk yang lebih seimbang ke seluruh negeri.

10. Pendidikan cuma-cuma untuk semua anak di sekolah-sekolah umum; penghapusan kerja anak-anak di pabrik dalam bentuknya yang sekarang ini. Perpaduan pendidikan dengan produksi material, dan sebaginya, dan sebagainya.

Apabila dalam perjalanan perkembangannya perbedaan-perbedaan kelas telah hilang, dan seluruh produksi telah dipusatkan ke tangan suatu perserikatan luas seluruh bangsa, maka kekuasaan umum akan kehilangan watak politiknya. Kekuasaan politik, menurut arti kata yang sesungguhnya, hanya lah kekuasaan terorganisir dari suatu kelas untuk menindas kelas yang lainnya. Apabila proletariat selama perjuangannya melawan borjuis terpaksa, karena tekanan keadaan, mengorganisir dirinya sebagai kelas dan, apabila, dengan jalan revolusi mereka menjadikan dirinya kelas yang bekuasa maka, sebagai kelas yang berkuasa, mereka akan menghapuskan dengan kekerasan hubungan-hubungan produksi lama dan, ketika mereka, bersama-sama dengan syarat-syarat tersebut, menghilangkan syarat-syarat adanya antagonisme-antagonisme kelas dan adanya kelas-kelas pada umumnya maka, dengan demikian, hasilnya: mereka akan menghapuskan kekuasaan mereka sendiri sebagai kelas.

Sebagai ganti bagi masyarakat borjuis yang lama, dengan kelas-kelas beserta antagonisme-antagonismenya, kita akan mempunyai suatu persekutuan hidup di mana perkembangan bebas setiap orang menjadi syarat bagi perkembangan bebas bagi semuanya.

III

LITERATUR SOSIALIS DAN KOMUNIS

1. Sosialisme reaksioner

a. Sosialisme feodal

Disebabkan oleh kedudukannya dalam sejarah, menjadi panggilan suci bagi aristokrasi Prancis dan Inggris untuk menulis brosur-brosur menentang masyarakat borjuis modern. Dalam revolusi Prancis bulan Juli, 1830, dan dalam gerakan reformasi Inggris, aristokrasi tersebut sekali lagi takluk dan benci sekali pada orang-orang yang tiba-tiba menjadi kaya (parvenu). Suatu perjuangan politik yang gawat, sengit, sudah tidak mungkin lagi ada, sama sekali. Hanya tinggal perjuangan literatur lah yang masih mungkin. Tetapi, dalam lapangan literatur pun, semboyan-semboyan lama zaman restorasi tidak dimungkinkan lagi.

Untuk membangkitkan simpati, aristokrasi tersebut terpaksa berpura-pura melupakan kepentingannya sendiri dan merumuskan surat tuduhannya terhadap borjuis semata-mata, yang seolah-olah demi kepentingan kelas buruh yang terhisap. Jadi, aristokrasi membalikkan dendamnya dengan menyanyikan lagu-lagu sindiran terhadap majikannya yang baru, dan membisikkan ke telinga majikannya itu ramalan-ramalan buruk tentang bencana yang akan datang.

Dengan jalan itu muncul lah sosialisme feodal: setengah ratapan, setengah sindiran; setengah gema masa lampau, setengah ancaman masa datang; kadang-kadang, dengan kritiknya yang meranggas, pahit dan tajam menusuk borjuis tepat pada ulu hatinya; tetapi, akibatnya, selalu menggelikan karena sama sekali tak mempunyai kemampuan untuk memahami perjalanan sejarah modern.

Untuk menghimpun rakyat di sekitar dirinya, aristokrasi melambai-lambaikan kantong-pengemis proletar sebagai padanannya. Tetapi sedemikian sering rakyat mengikuti mereka, semakin rakyat jadi bisa melihat ke belakang, saat mereka melambai-lambaikan lambang kebesaran feodal lama, dan rakyat lari bubar sambil terbahak-bahak dan mengejek.

Sebagian dari kaum Legitimis Prancis dan kaum “Inggris Muda” memainkan lakon tersebut.

Cara penghisapan feodal berlainan dengan cara penghisapan borjuis, dan feodal lupa bahwa mereka menghisap dalam keadaan dan syarat yang berlainan sama sekali, yang kini telah menjadi kuno. Ketika menyombongkan diri bahwa di bawah kekuasaan feodal tak pernah ada proletariat modern, mereka lupa bahwa borjuis modern adalah anak keturunan alamiah yang dihasilkan dari bentuk masyarakat feodal itu sendiri.

Lain dari pada itu, mereka sedikit sekali bisa menyembunyikan watak reaksioner kritik-kritiknya sehingga tuduhan mereka, terutama yang ditujukan terhadap borjuis, berarti juga bahwa di bawah rejim borjuis berkembang lah suatu kelas yang nantinya pasti menghancurleburkan seluruh susunan tata tertib masyarakat lama.

Kemarahan mereka terhadap borjuis—karena borjuis melahirkan proletariat—tidak sehebat kemarahannya dalam hal bahwa borjuis melahirkan proletariat revolusioner.

Oleh sebab itu, dalam praktek politiknya, mereka ikut serta dalam segala tindakan kekerasan terhadap kelas buruh; dan dalam kehidupan biasa sehari-hari, biar pun ucapan-ucapannya begitu muluk tinggi membubung, mereka tidak malu-malu memungut warisan buah lezat yang jatuh dari pohon industri, dan tidak malu pula untuk menukarkan kejujuran, cinta dan kehormatannya dengan perdagangan bulu-domba, perdagangan gula bit dan minuman-minuman keras yang terbuat dari kentang.

Sebagaimana pendeta senantiasa berjalan bergandengan tangan dengan tuan tanah, demikian juga lah Sosialisme Gereja dengan Sosialisme Feodal.

Tak ada hal lain yang lebih mudah daripada memberi pulasan Sosialis pada cara hidup pertapaan (asketisme) Kristen. Bukan kah agama Kristen telah berseru dengan lantangnya menentang hak pemilikan perseorangan, menentang perkawinan, menentang negara? Bukan kah ia, sebagai ganti semuanya itu tadi, telah mengkhotbahkan kedermawanan bagi kemiskinan, pembujangan dan kebiasaan menahan nafsu, kehidupan biara dan bunda gereja? Sosialisme Kristen tidak lain hanya lah air suci yang digunakan pendeta untuk mengkuduskan sakit-hati kaum aristokrat.

b. Sosialisme Borjuis Kecil

Aristokrasi feodal bukan lah satu-satunja kelas yang diruntuhkan borjuis, bukan lah satu-satunja kelas yang syarat-syarat kelangsungannya menjadi rusak dan musnah dalam suasana masyarakat borjuis modern. Warga kota Zaman Tengah dan kaum tani pemilik tanah kecil adalah pendahulu borjuis modern. Di negeri-negeri industri yang perniagaannya belum berkembang, kedua kelas tersebut masih hidup berdampingan dengan borjuis yang sedang tumbuh.

Di negeri-negeri yang peradabannya telah modern, telah berkembang sepenuhnya, terbentuk lah suatu kelas borjuis kecil, yang terombang-ambing di antara proletariat dan borjuis, dan senantiasa memperbarui dirinya sebagai bagian-tambahan masyarakat borjuis. Tetapi anggota-anggota orang-seorang dari kelas tersebut terus-menerus dicampakkan ke kalangan proletariat oleh karena persaingan dan, setelah industri moden berkembang maju, mereka itu malahan melihat datangnya saat di mana mereka akan lenyap sama sekali sebagai golongan mandiri masyarakat modern, digantikan oleh perusahaan-perusahaan, oleh pertanian dan perniagaan, oleh mandor-mandor, oleh pegawai-pegawai dan pelayan-pelayan toko.

Di negeri-negeri semacam Prancis, yang kaum taninya merupakan bagian yang jauh lebih besar daripada separo jumlah penduduknya, adalah wajar bahwa penulis-penulis yang memihak proletariat dalam menentang borjuis memakai ukuran kelas tani dan borjuis kecil dalam kritiknya terhadap rejim borjuis, atau membela kelas buruh dari segi pendirian kelas antara tersebut. Dengan begitu timbul lah Sosialisme borjuis kecil. Sismondi adalah pemuka dari ajaran tersebut, tidak hanya di Prancis, tapi juga di Inggris.

Ajaran Sosialisme ini dengan sangat tajamnya mengurai kontradiksi-kontradiksi dalam syarat-syarat industri modern. Ia menelanjangi pembelaan-pembelaan munafik kaum ekonomis. Ia membuktikan, dengan tak dapat disangkal lagi, akibat-akibat yang mencelakakan dari mesin dan pembagian kerja; konsentrasi kapital dan tanah ke dalam beberapa tangan saja; kelebihan produksi dan krisis-krisisnya; ia menunjukkan keruntuhan yang tak terelakkan dari borjuis kecil dan kaum tani, kesengsaraan proletariat, anarki produksi, ketidakadilan yang sangat menyolok dalam pembagian kekayaan, perang pemusnahan industri di kalangan bangsa-bangsa, penghancuran ikatan-ikatan moral lama, hubungan-hubungan kekeluargaan lama, kebangsaan-kebangsaan lama.

Menurut tujuannya, yang mereka nilai positif, bagaimanapun juga, Sosialisme semacam ini memperjuangkan hidup-kembalinya alat-alat produksi dan alat-alat pertukaran lama dan, bersamaan dengan itu, berupaya menghidupkan kembali semua hubungan hak pemilikan lama serta masyarakat lama yang, dalam rangka hubungan hak pemilikan lama, membatasi alat-alat produksi dan alat-alat pertukaran modern yang telah dan pasti akan menghancurkan alat-alat produksi dan alat-alat pertukaran lama. Dalam kedua hal tersebut, keduanya reaksioner dan utopi.

Kata-kata mereka jang terakhir ialah: gabungan gilda sebagai ganti manufaktur; hubungan-hubungan patriarkal dalam pertanian.

Akhirnya, ketika kenyataan-kenyataan sejarah, tak dapat dibantah lagi, telah menghapuskan semua pengaruh penipuan diri yang memabukkan itu, Sosialisme semacam ini akhirnya undur diri dengan hina dan sangat mengibakan.

c. Sosialisme Jerman atau Sosialisme “Sejati”

Literatur Sosialis dan Komunis Prancis, literatur yang lahir di bawah tekanan borjuis yang sedang berkuasa, dan merupakan pernyataan dari perjuangan melawan kekuasaan tersebut, dimasukkan ke Jerman pada waktu borjuis di negeri itu baru saja memulai perjuangannya menentang absolutisme feodal.

Kaum filsuf, setengah-filsuf dan “jiwa-jiwa berbakat” Jerman dengan penuh nafsu menguasai literatur ini, namun lupa bahwa berpindahnya tulisan-tulisan tersebut keluar dari Prancis tidak lah disertai oleh berpindahnya syarat-syarat sosial Prancis ke Jerman.

Setelah berhadap-hadapan dengan syarat-syarat sosial di Jerman, literatur Prancis ini kehilangan segala arti praktisnya yang langsung, dan hanya mempunyai corak literer semata-mata. Dengan demikian, bagi para filsuf Jerman abad ke-18, tuntutan-tuntutan revolusi Prancis yang pertama tidak lebih daripada tuntutan-tuntutan ‘Akal Praksis’ pada umumnya, dan pernyataan kemauan borjuis revolusioner menurut pandangan mereka berarti hukum-hukum kemauan belaka, hukum-hukum kemauan sebagaimana yang seharusnya, hukum-hukum kemauan manusia sejati pada umumnya.

Tulisan-tulisan kaum literat Jerman kemudian hanya berwudjud penyesuaian kepada pikiran-pikiran baru Prancis tersebut namun bersaripati perasaan filsafat kuno mereka, atau lebih tepat lagi, mengambil pikiran-pikiran Prancis tersebut dengan tidak menanggalkan pandangan filsafat mereka sendiri. Cara mengambilnya sama seperti belajar bahasa asing, sekadar menerjemahkan.

Umum tahu bagaimana rahib-rahib menuliskan riwayat hidup (yang tak masuk akal) tentang orang-orang suci Katolik di atas manuskrip, yang berisi karangan-karanagn klasik zaman purba, ketika orang belum beragama. Kaum literat Jerman berbuat sebaliknya terhadap literat duniawi Prancis. Mereka menulis filsafat yang tak bermakna di belakang tulisan Prancis yang asli. Misalnya, dibelakang kritik Prancis tentang fungsi-fungsi ekonomi uang, mereka menulis tentang “alienasi kemanusiaan”, tentang negara borjuis, tentang “kemunduran kategori secara umum”, dan seterusnya dan seterusnya. Mereka menjelaskan frase filosopis (di belakang bayang-bayang kritisme historis Prancis) sebagai “filosofi aksi”, “sosialisme sejati”, “sosialisme ilmiah Jerman” dan lain sebagainya.

Literatur sosialis dan komunis Prancis benar-benar menggembirakan. Dan ketika ia berakhir di tangan orang Jerman, yang memakainya untuk mengekspresikan perjuangan suatu kelas melawan kelas yang lainnya, orang Jerman kemudian secara sadar mengubah “kesatu-sisian, pemihakan, Prancis” terhadap perwakilan sebenarnya menjadi pemihakan terhadap perwakilan kebenaran; orang Jerman tidak membela kepentingan proletariat tetapi kepentingan umat manusia, manusia secara umum, yang tidak miliki kelas apapun, tak punya kenyataan, atau yang hanya muncul di kerajaan mistik dan fantasi filosofis.

Sosialisme Jerman tersebut, atau lazimnya hasil anak sekolahan yang sedang mengerjakan pekerjaan rumahnya dengan sangat serius dan hikmat, menyanjung-nyanjung kemiskinan pembendaharaannya dengan tampilan yang menipu, dan secara bertahap kehilangan kesombongannya yang lugu.

Perjuangan orang Jerman, khususnya borjuasi Prusia, dalam melawan aristokrasi feodal dan monarki absolut atau, dengan kata lain, sebagai gerakan liberal, menjadi lebih bersungguh-sungguh. Karena itu, harapannya sangat jauh dalam memperoleh kesempatan untuk menawarkan sosialisme sejati, yang bertujuan mengkonfrontasikan gerakan sosial dengan tuntutan-tuntutan sosial namun dengan sekadar melemparkan kutukan tradisional kepada liberalisme, melawan pemerintahan yang representatif, melawan kompetisi borjuis, kebebasan dan keseimbangan borjuis, kebebasan pers borjuis, legislasi borjuis, dan mengkonfrontasikan gerakan dengan sekadar memberi kotbah pada massa bahwa massa tak punya apapun untuk diraih, semuanya hilang oleh gerakan borjuis tersebut. Sosialisme Jerman lupa bahwa, dalam waktu pendek, kritisme Prancis bisa bergema karena adanya masyarakat borjuis modern, dengan kondisi ekonomi yang menyelarasinya, dan dengan konstitusi poitik yang diterapkannya, yang semuanya itu sedang ditunda-tunda di Jerman. Bagi pemerintahan absolut, dengan para pendeta, profesor, dan tuan tanah desa pengikutnya, gerakan filosofis Jerman tersebut diperlakukan sebagai burung gagak yang ramah, yang sedang melawan borjuis yang mengancam keberadaannya.

Suatu akhir yang indah, menelan pil pahit pukulan dan peluru, karena reaksionisme pemerintahan yang itu juga yang membangkitkan kelas buruh Jerman.

Namun, sosialisme “sejati” Jerman kemudian menggunakan pemerintah sebagai senjata untuk menghadapi borjuasi Jerman sehingga, pada saat yang sama, mereka secara langsung mewakili kepentingan reaksioner, kepentingan Filistin Jerman. Di Jerman, kelas borjuis kecil, warisan abad ke-16, yang sejak itu secara konstan selalu dipangkas, dalam berbagai bentuknya adalah kaum sosialis “sejati” dengan segala keberadaan yang sekarang ada.

Mempertahankan kelas ini sama juga mempertahankan keadaan Jerman saat ini. Supremasi industrial dan politik borjuis mengancamnya, berusaha menghancurkannya; disatu sisi, dengan konsentrasi kapital; disisi lainnya, dengan pertumbuhan proletariat revolusioner. Sosialisme “sejati” muncul untuk membunuh dua burung ini dengan satu batu. Ia menyebar seperti epidemi.

Jubah jaring laba-laba yang spekulatif, yang dirajut dengan bunga-bunga retorik, berpijak pada embun sentimen gila sosialisme Jerman, adalah jubah transendental yang menyelimuti ratapan mereka terhadap “kebenaran umum”, yang hanya laku, hanya terdengar, di kalangan publik semacam itu pula dan, memang, sumsum dan tulang mereka diabdikan untuk menjual barang dagangan tersebut kepada publik seperti itu. Dan, pada waktunya, sosialisme Jeman akan tahu juga bahwa mereka merupakan perwakilan Filistin borjuis kecil.

Ia memproklamirkan bangsa Jerman sebagai satu bangsa teladan, dan itu lah tipikal borjuis kecil Jerman. Masud-maksud keji manusia model ini diselubungi intepretasi sosialis—yang disembunyikan atau dibesar-besarkan—yang bertentangan dengan karakter sebenarnya. Mereka bergerak ke arah ekstrim sebegitu jauhnya sehingga secara langsung bertentangan dengan karakter “penghancuran brutal” komunisme, dan memproklamirkan keutamaan dalam menghina semua perjuangan kelas. Sangat sedikit sekali pengecualiannya, bahwa semua yang disebut publikasi sosialis dan komunis yang ada sekarang ini (1847) didominasi oleh literatur yang melemahkan tersebut.

2. Sosialisme Borjuis atau Sosialisme Konservatif

Salah satu bagian dari borjuis adalah mereka yang menuntut jalan keluar/perbaikan terhadap dendam sosialnya yang, sebenarnya, dalam rangka menjamin kelangsungan keberadaan masyarakat borjuis.

Mereka itu adalah para ekonom, humanitarian, pewelasasih, mereka yang berusaha memperbaiki kondisi kelas buruh, organisator karitas/kedermawanan, anggota masyarakat penyayang binatang, kaum fabatik yang pemberang, dan reformis tambal-sulam dari semua jenis yang dapat dibayangkan. Bentuk sosialisme ini bekerja dalam sistem yang lengkap. Kita bisa mengacu pada buku Proudhon Philosophie de la Misĕre (Filsafat Kemiskinan) untuk melihat contoh seperti itu.

Borjuis sosialistik menginginkan semua keuntungan kondisi sosial modern tanpa perjuangan dan tak mau menerima konsekwensi bahaya yang dihasilkannya. Mereka setuju terhadap keberadaan masyarakat yang ada sekarang ini namun tanpa elemen revolusioner dan disintegrasi masyarakatnya. Mereka menginginkan borjuis yang tak berproletariat. Borjuasi secara alami menggambarkan wajah dunia yang tebaik; dan sosiliasme borjuis mengembangkan konsepsi yang menyenangkangkan ini dalam sisitem yang kurang-lebih lengkap. Mereka tak bisa membawa proletariat ke luar dari sistim ini, langsung membawanya ke Jerussalem-sosial baru, karena dalam kenyataannya proletariat harus tetap berada dalam ikatan masyarakat yang ada, harus membuang semua ide-ide kebenciannya pada borjuis.

Bagi kelas buruh, bentuk kedua sosialisme semacam ini, yang lebih praktis tapi kurang sistematis, tak lain adalah upaya untuk memukul mudur setiap gerakan revolusioner, karena sosialisme semacam ini berkesimpulan bahwa tak ada reformasi politik yang murni, atau yang ada hanya lah hanya perubahan kondisi material yang ada dalam hubungan ekonomi dan ini, katanya, akan menguntungkan kelas buruh. Dengan perubahan kondisi-kondisi material semua keberadaan, sosialisme semacam ini mengerti, bagaimanapun juga, bahwa penghapusan hubungan produksi borjuis, perubahannya yang hanya akan terjadi dengan suatu revolusi, bukan lah reformasi administratif, yang akan tetap melangsungkan keberadaan hubungan-hubungan tersebut; reformasi, karenanya, dilihat dari segala hal, akan memberikan pengaruh pada hubungan antara kapital dan tenaga kerja, arti terbaiknya adalah memperkecil biaya produksi dan menyederhanakan pekerjaan administratif pemerintahan borjuis. Sosialisme borjuis mencapai ekspresinya yang memadai jika, dan jika hanya, sekadar sebagai bahan pembicaraan.

Perdagangan bebas: memberikan manfaat pada kelas buruh. Tugas-tugas perlindungannya: memberikan manfaat pada kelas buruh. Reformasi terbatas: memberikan manfaat pada kelas buruh. Ini lah kata terakhir sosialisme borjuis yang paling bermakna. Bisa diringkas dalam satu kalimat: borjuis adalah borjuis—memberikan manfaat pada kelas buruh.

3. Sosialisme Utopia-kritis dan Komunisme Utopia-kritis

Dalam hal ini kita bukan mengacu pada literatur yang, dalam setiap revolusi besar, selalu menyuarakan tuntutan-tuntutan proletariat, seperti tulisan Babeuf dan yang lainya.

Usaha langsung pertama proletariat (untuk mencapai tujuan akhirnya), yang dikerjakan di masa yang menggairahkan secara universal, adalah ketika mereka bisa menggulingkan masyarakat feodal—usaha selanjutnya mengalami kegagalan karena negara proletariat yang mereka dirikan masih terbelakang, juga karena ketiadaan kondisi ekonomi untuk pembebasannya, kondisi yang belum tercipta, yang hanya bisa diciptakan dengan menyingkirkan zaman borjuis. Literatur revolusioner yang menyertai gerakan-gerakan pertama proletariat kemudian berkarakter reaksioner. Ia meredam asketisme universal dan peringkatan sosial dalam bentuknya yang paling kasar.

Sistem sosialis dan komunis—suatu sebutan yang tepat—tumbuh dalam masa perjuangan Saint Simon, Fourier, Owen dan yang lainnya, menyebar di periode keterbelakangan awal seperti yang tergambar di atas, tumbuh ketika terjadi perjuangan antara proletariat dan borjuis (lihat Bagian I. Borjuis dan Proletariat).

Pendiri sistem ini, sungguh, bisa melihat adanya antagonisme kelas, sebagaimana juga bisa melihat aksi elemen-elemen yang sedang didekomposisi dalam masyarakat yang sedang mencari bentuknya. Tetapi proletariat, dalam masa mudanya tersebut, menawarkan pada mereka gambaran kelas yang tanpa inisiatif historis apapun atau tanpa gerakan politik independen apapun. Ketika perkembangan antagonisme kelas saling berlomba dengan perkembangan industri, ketika situasi ekonomi seperti yang mereka dapatkan tak sedang menawarkan pada mereka kondisi material bagi pembebasan proletariat. Karena itu mereka mencari ilmu sosial baru, mencari hukum-hukum sosial baru, untuk menciptakan kondisi-kondisi yang mereka inginkan.

Aksi historis memberikan hasil berupa dorongan untuk menemukan hal-hal baru pada personal mereka sehingga, secara historis, menawarkan kondisi emansipasi yang fantastis dan menciptakan organisasi proletariat yang gradual serta spontan, yang berkembang menjadi organisasi masyarakat secara khusus, seolah-olah diciptakan oleh pencipta-pencipta ini. Masa depan sejarah, dalam pandangan mereka, dengan sendirinya akan bergerak ke arah propaganda dan praktek yang akan memenuhi rencana sosial mereka.

Dalam membentuk rencananya, mereka sadar bahwa mereka sedang mengemban kepentingan kelas buruh, yang sedang menjadi kelas yang paling menderita. Dalam pandangan mereka, proletariat hadir ke hadapan mereka hanya bila menjadi kelas yang menderita.

Perjuangan kelas yang statusnya masih terbelakang, sebagaimana keterbelakangan lingkungannya, menyebabkan Sosialis semacam itu sadar bahwa mereka jauh dari superior bila dibandingkan dengan semua antagonisme kelas. Mereka berkehendak memperbaiki kondisi setiap anggota masyarakat, bahkan yang paling sejahtera. Oleh karena itu lah mereka menyerukan cita-citanya pada dan bagi masyarakat secara umum, tanpa membedakan kelas; bahkan, preferensinya disampaikan pada kelas yang berkuasa. Bagaimana mungkin, orang yang mengerti sistim yang melingkupinya gagal memahami kemungkinan rencana yang terbaik untuk mempersembahkan negara yang terbaik bagi masyarakat?

Itu lah sebabnya mereka menolak semua aksi politik, terutama yang revolusioner; mereka berharap bisa mencapai tujuannya dengan jalan damai, dengan pengalaman yang miskin, ringkih terhadap kegagalan, dan berusaha melapangkan jalan bagi Gospel sosial baru.

Gambaran fantastik tentang masyarakat masa depan dilukiskan pada saat proletariat masih dalam tahapan terbelakang, suatu gambaran dengan konsep fantastik tentang posisinya sendiri, dan itu sesuai dengan kerinduan naluriah kelasnya untuk merelisasikan rekonstruksi umum masyarakat.

Namun, publikasi sosialis dan komunis tersebut juga mengandung elemen kritis. Mereka menyerang semua prinsip masyarakat yang ada. Sejak itu mereka penuh dengan material yang paling berharga guna pencerahan kelas buruh. Perlakuan praktis yang ditawarkan—seperti penghapusan perbedaan antara desa dengan kota, penghapusan keluarga, penghapusan sistim yang menyeret industri menjadi milik individual dan sistem upah, proklamasi harmoni sosial, konversi fungsi-fungsi negara ke dalam pengawasan murni produksi—semuanya merujuk pada upaya untuk menghilangkan antagonisme kelas pada saat antagonisme kelas tersebut baru saja panen, publikasinya baru pada tahap awal, dan bentuknya masih kacau, tak jelas. Karena itu tawaran-tawaran tersebut benar-benar berwatak utopia.

Signifikansi Sosialisme Utopia-kritis dan Komunisme Utopia-kritis menyandang hubungan sebaliknya bila dikaitkan dengan perkembangan sejarah. Dalam hal memahami perjuangan kelas modern yang sedang berkembang dan mengambil bentuk tertentunya yang nyata, utopia fantastik tersebut berposisi di luar pertentangan yang sebenarnya, tak setuju, menyerang, adanya pertentangan tersebut, sehingga kehilangan seluruh nilai praktis dan semua justifikasi teorinya. Karenanya, walaupun penggagas sistem ini, dalam banyak hal, revolusioner, para pengikut mereka dalam setiap kasus membentuk sekte yang benar-benar reaksioner. Mereka berpegang pada keaslian pandangan guru mereka dalam menentang perkembangan progresivitas historis proletariat. Karena itu mereka mencoba secara konsisiten untuk memadamkan perjuangan kelas dan mendamaikan antagonisme kelas. Mereka masih bermimpi mewujudkan eksperimental utopia sosial mereka dengan mendirikan “phalanstĕres” yang terisolasi, membentuk “koloni tanah air” (18), mendirikan “Icaria Kecil” (19)—edisi duodecimo Yerussalem baru—dan mewujudkan semua kastil awang-awang, dengan cara memaksa, menyerukan dan menyentuh perasaan borjuis. Secara perlahan mereka tenggelam dalam kategori sosialis konservatif-reaksioner seperti yang dilukiskan di atas, yang perbedaannya hanya lah bahwa mereka merupakan kaum yang, secara lebih sistimatis, mencongkakan ilmunya dengan mendesakkan kepercayaan fanatis dan takhyul terhadap efek keajaiban ilmu sosial mereka.

IV

Posisi Komunis Saat Berhubungan dengan Berbagai Partai Oposisi

Pada Bagian II telah dijelaskan hubungan antara komunis dengan partai kelas buruh yang ada, seperti kaum Charties di Inggris dan kaum reformis agraria di Amerika.

Komunis berjuang untuk mencapai tujuan mendesak, untuk memaksakan kepentingan sesaat kelas buruh; tetapi dalam gerakannya sekarang ini mereka juga mewakili dan menjaga masa depan gerakan. Di Prancis Komunis beraliansi dengan kaum sosial-demokrasi (20) dalam melawan borjuis konservatif dan radikal, untuk mempertahankan, bagaimanapun juga, hak mengambil posisi kritis dalam hal mempertahankan ayat-ayat ilusif yang secara tradisional berhasil dikukuhkan oleh Revolusi besar.

Di Swiss mereka mendukung kaum radikal tanpa kehilangan kesadaran akan kenyataan bahwa partai ini berisikan elemen-elemen antagonis—pada khususnya Sosialis-Demokratik—yang, dalam makna Prancis, khususnya borjuis radikal.

Di Polandia mereka mendukung partai yang mendesakkan revolusi agraria sebagai syarat utama bagi emansipasi nasional, yakni partai yang melancarkan pemberotakan umum Krakow tahun 1846.

Di Jerman mereka bertempur bersama borjuis, di mana pun, ketika borjuis beraksi di jalan revolusioner melawan monarki absolut, tuan feodal dan borjuis kecil.

Walaupun demikian, mereka tak pernah berhenti sesaat pun mengajar kelas buruh secerdik mungkin untuk mengakui adanya antagonisme, permusuhan, antara borjuis dengan proletariat. Kerjasama dengan borjuis hanya lah bertujuan agar kelas buruh Jerman dapat secara langsung menggunakan senjata sebanyak mungkin, dan karenanya mereka harus mendorong terciptanya kondisi sosial dan politik yang dibutuhkan borjuis yang, secara bersamaan, akan meningkatkan supremasinya, atau tujuan lain yang menyertainya adalah perjuangan melawan kelas reaksioner di Jerman hingga, akhirnya, perlawanan dengan borjuis itu sendiri bisa segera dimulai.

Para Komunis mengalihkan perhatian utamanya ke Jerman karena negeri itu berada dalam masa hamil tua revolusi borjuis, yang terikat dan bisa diarahkan sesuai dengan kondisi-kondisi peradaban Eropa yang lebih maju, yang proletariatnya begitu maju ketimbang yang ada Ingeris pada abad ke-17 dan Prancis pada abad ke-18, dan karena revolusi borjuis di Jerman akan segera terjadi, akan merupakan pembukaan yang segera tiba bagi revolusi proletar.

Pendeknya, komunis dimana saja mendukung gerakan revolusioner menentang segala orde sosial dan politik yang ada.

Dalam semua gerakan yang mereka kemukakan, komunis sadar akan persoalan utama tuntutannya: persoalan hak pemilikan, tak peduli sejauh, setinggi, apapun derajat perkembangannya pada saat itu.

Komunis merasa hina bila menyembunyikan pandangan-pandangan dan tujuan-tujuannya. Mereka secara terbuka mengemukakan tujuan-tujuannya, yang hanya bisa dicapai dengan menggulingkan (dengan kekerasan) semua kondisi sosial yang ada. Biarkan lah kelas penguasa gemetar pada revolusi komunis. Proletar tak akan kehilangan apapun selain belenggunya. Mereka akan merebut dunia, itu lah miliknya kemudian.

KELAS BURUH SELURUH DUNIA, BERSATULAH !

***

(1) Dalam “The Communist Manifesto, and its relevance for today”, Resistance Marxist Library, New South Wales, Australia, 1998.

(2) Metternich (1773-1859), perdana menteri kerajaan Austria-Hongaria.

(3) Guizot (1787-1874), perdana menteri Perancis yang reaksioner.

(4) Kaum Demokrat-Republikan burjuis. Penulis-penulis dan kaum politikus terkemuka yang menentang Sosialisme dan Komunisme.

(5 dan 6) Kaum patrisir dan plebejer adalah kelas-kelas dalam masyarakat Roma-Kuno. Kaum patrisir adalah kelas pemilik tanah besar yang berkuasa, yang menguasai tanah dan negara. Kaum plebeyer (dari perkataan pleb—rakjat jelata) adalah kelas wargakota yang merdeka, tetapi tidak mempunyai hak penuh sebagai wargakota. Untuk mengetahui kelas-kelas di Roma hingga yang serinci-rincinya, lihat tulisan Engels “The Origin of the Family, Private Property and the State.”

(7) Manufaktur di sini maksudnya bukanlah cara produksi modern yang sudah menggunakan mesin, tetapi buruh-tangan atau pengrajin yang dikumpulkan oleh seorang kapitalis di dalam satu bangunan tempat kerja.

(8) “Pangkat Ketiga”: pedagang-pedagang di kota, kelas yang membayar pajak kepada raja terpisah dari “pangkat-pangkat” lainnja (seperti kaum bangsawan dan gereja).

(9) “Monarki setengah-feodal dalam zaman manufaktur” adalah suatu monarki atau kerajaan dengan menggunakan pangkat-pangkat (agamawan, bangsawan, burjuasi—“pangkat ketiga”), yang memiliki wakilnya dalam badan-badan penasehat kerajaan.

(10) Perpindahan bangsa-bangsa di Eropa dari abad ke-4sampai abad ke-6 Masehi. Perpindahan besar-besararan berbagai bangsa tersebut terjadi selama masa itu, meluas sampai ke daerah kerajaan Roma. Engels memberikan gambran tentang sifat-sifat istimewa dari revolusi tersebut dalam Bab. VII dan Bab. VIII tulisannya, “The Origin of the Family, Private Property and the State.”

(11) Perang Salib adalah ekspedisi militer dan perampasan besar-besaran ke Timur-Dekat di bawah pimpinan Gereja Katolik pada masa abad ke-11 sampai abad ke-13, dengan dalih untuk “membebaskan” tanah suci (Palestina). Berbagai kelas dalam masyarakat feodal mengambil bagian dalam Perang Salib ini, Masing-masing kelas mengejar tujuannya sendiri—kaum feodal mencari tanah baru, kaum pedagang mencari pasar baru, kaum tani (yang terampas tanahnya) mencari tanah baru. Para pengikut Perang Salib tersebut akhirnya bisa diusir kembali ke Eropa dari negeri-negeri yang telah mereka taklukkan.

(12) Mengenai hal ini lihat pendahuluan Engels pada tulisan Marx, “Wage Labour and Capital”.

(13) Dalam bahasa aslinya, bahasa Jerman, disebut Rentier. Yang dimaksudkan adalah pemilik (dalam hal ini pemilik kecil) yang hidup dari penghasilan modalnya yang ditanam dalam surat-surat berharga, seperti obligasi pemerintah dalam dan luar negeri atau saham-saham industri.

(14) Yang dimaksud di sini ialah kaum Luddis (1811-1813), di Inggris, dan tukang tenun Silesia (1844), di Jerman.

(15) Dalam edisi Jerman (“Dietz Verlag”, l5 Aufl., Berlin 1958, hlm. 20.) dinamakan “Lumpenproletariat.” Lumpen menurut artikata sebenarnya adalah “kain atau pakaian bekas yang sudah sangat rusak.”

(16) Maksudnya adalah dalam Revolusi Besar Perancis (1789-1794) yang menggulingkan monarki absolut dan kekuasaan kaum bangsawan Perancis.

(17) Yang dimaksudkan dengan pemilikan kuno adalah pemilikan pada zaman Yunani dan Roma Kuno, yang didasarkan pada penghisapan atas kerja budak.

(18) Koloni tanah air adalah apa yang disebut Owen sebagai model masyarakat komunisnya. (Catatan Engels pada edisi Jerman, 1890).

(19) Phalanstĕres adalah nama tempat umum yang direncanakan oleh Charles Fourier, atau koloni sosialis yang direncanakannya; Icaria adalah nama yang diberikan oleh Cabet pada utopianya, lalu pada koloni komunis amerikanya. (Catatan oleh Engels pada edisi Inggeris, 1888.)

(20) Partai yang di Parlemen diwakili oleh Ledru Rollin. Nama Sosial-Demokrasi berhubungan dengan para penemu suatu bagian dari Partai Republikan atau Demokratik, yang lebih kurang mendekati warna sosialisme (Catatan Engels pada edisi Inggris, 1888); Partai di Prancis pada waktu itu menyebut dirinya Sosial-Demokrasi yang, dalam kehidupan politiknya, diwakili oleh Ledru Rollin dan, dalam literatur Lousi Blanc, beda dengan Sosial-Demokrasi Jerman saat ini. (Catatan Engels pada edisi Jerman, 1890.)

Read Full Article

Perkenalkan kami dari Partai Pembebasan Rakyat (PPR), sebuah organisasi politik yang memperjuangkan sosialisme abad 21 di Indonesia, dengan ini menyatakan sikap mendukung Rakyat Sukoharjo menutup PT Rayon Utama Makmur (RUM).

PT. RUM adalah perusahaan yang didirikan sejak tahun 2012 untuk memasok serat rayon ke pabrik PT. Sri Rejeki Isman, Tbk (PT. Sritex). Sritex sendiri merupakan perusahaan tekstil besar yang beroperasi sejak 1966 yang memproduksi seragam militer untuk TNI dan tentara di 30 negara, termasuk ke Amerika Serikat dan NATO. Selain itu, Sritex juga menghasilkan produk fashion untuk brand terkenal seperti Zara, Uniqlo dan H&M.

Pendirian PT. RUM adalah ambisi dari Sritex untuk mengamankan pasokan bahan baku dan melipatgandakan keuntungan Sritex. Untuk hal itu, Sritex juga telah mendapatkan konsesi hutan tanaman industri serat rayon seluas 100 ribu hektar di Kalimantan.

Dengan ekspansi maka keuntungan mengalir ke kantong segelintir pemegang saham Sritex. Sebanyak 56% saham Sritex dimiliki oleh PT Huddleston Indonesia di mana pemiliknya adalah Keluarga Lukminto. Kantor PT. Huddleston beralamat di Jalan Jenderal Sudirman No. 8, Senayan, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Pada pertengahan tahun 2017, Sritex mampu meraup hampir setengah triliun rupiah dalam waktu 6 bulan saja.

Tidak heran jika PT. RUM sangat dilindungi oleh negara. Kedekatan Sritex dengan institusi TNI sudah sangat terasa di Sukoharjo. Kita bisa melihat bagaimana pabrik ini dijaga oleh aparat TNI berseragam, bahkan kegiatan-kegiatan perusahaan seperti pengobatan gratis juga dijaga oleh TNI. Hal ini karena Sritex memiliki hubungan bisnis dengan TNI. Kedekatan para petinggi militer dengan Sritex sudah berlangsung sejak tahun 90an sebagai hubungan bisnis.

Sedangkan nasib rakyat Sukoharjo malah menderita karena racun dan bau busuk yang disebarkan oleh limbah PT. RUM. Sedikitnya 32 warga terkena ISPA dan 152 warga lainnya terdata mengalami pusing dan mual akibat menghirup bau tinja PT. RUM. Seorang bayi 10 bulan yang mengalami kelainan jantung harus meninggal karena diperparah oleh bau busuk yang harus dia hirup setiap harinya.

Sejak Oktober 2017, rakyat Sukoharjo dipaksa untuk menghirup bau busuk yang mengalir sepanjang 20 km hingga ke Wonogiri. Artinya, bau busuk PT. RUM telah mencemari air, tanah dan udara yang tidak mungkin hilang dalam waktu singkat.

Saat rakyat menuntut agar PT. RUM ditutup pada Februari 2018 lalu, terjadi kesepakatan bahwa PT RUM ditutup selama satu bulan untuk membereskan bau busuk tersebut. Nyatanya, sampai dengan akhir Maret 2018, bau busuk masih tercium. Bupati menolak menutup PT. RUM dan hanya melakukan penutupan sementara.

Ketidakpuasan rakyat menyeruak dalam bentuk blokade pintu masuk PT. RUM pada 23 Februari 2018. Karena Bupati tidak muncul menemui pendemo, aksi berubah menjadi pembakaran ban. Aparat kepolisian dan TNI malah menangkapi dan memukuli rakyat yang sedang berdemo. Aparat lagi-lagi menunjukkan kesetiaan mereka dalam melindungi perusahaan perusak lingkungan.

Terjadi pembakaran pos satpam dan prasasti pendirian PT. RUM. Polisi dengan sigap mengejar para pelaku dan melakukan penangkapan. Tiga orang ditangkap, termasuk aktivis mahasiswa, Muhammad Hisbun Payu yang sedang berada di Jakarta untuk melapor ke Komnas HAM mengenai pengrusakan lingkungan yang dilakukan oleh PT. RUM.

Terang sudah bahwa negara sesungguhnya adalah kaki tangan dari pemilik modal. Polda Jawa Tengah dengan sigap mengejar Is hingga ke Jakarta, tapi di saat yang sama membiarkan perusahaan perusak lingkungan berdiri dengan megah.

Ketika perusahaan meracuni rakyat dengan limbahnya dan menimbulkan korban, perusahaan hanyabertanggung jawab dengan memberikan ganti rugi berupa pengobatan massal. Tapi ketika pos satpam dan prasasti PT RUM dirusak, aktivis pembela lingkungan hidup harus ditangkap dan diperlakukan seperti kriminal. Itu artinya, negara menganggap bahwa pos satpam lebih bernilai daripada ratusan nyawa manusia yang terancam karena diracuni oleh PT. RUM. Perusahaan yang telah nyata-nyata meracuni ratusan orang malah tidak dihukum.

Penindasan yang dilakukan oleh Sritex dan PT. RUM kepada rakyat yang sedang memperjuangkan hak-haknya adalah bentuk nyata dari kapitalisme. Yakni suatu sistem ekonomi yang tidak saja menghisap hasil kerja manusia yang bernama buruh, tapi juga dilindungi oleh negara. Sebab sejatinya negara adalah pelayan dari kelas kapitalis sebagai kelas yang berkuasa.

Inilah kenyataan yang harus dihadapi oleh rakyat, bahwa musuh rakyat demikian kuatnya, sehingga tidak ada jalan lain selain mengorganisasikan diri ke dalam organisasi pergerakan yang secara konsistem memperjuangkan kepentingan rakyat.

Jika kita gagal melakukannya, maka bukan tidak mungkin alam akan menghancurkan manusia seperti yang sudah terjadi di Sidoarjo dalam bentuk Lumpur Lapindo. Tenggelamnya sebagian Sidoarjo adalah kehancuran manusia dalam skala kecil akibat dari keserakahan manusia untuk melakukan pengerukan sumber daya alam secara tidak terkendali demi kepentingan pasar.

Dalam konsep sosialisme, produksi diarahkan untuk memenuhi kebutuhan manusia yang sejati sehingga pengurangan kualitas alam bisa diminimalisir. Sebaliknya, kapitalisme berproduksi demi kepentingan keuntungan belaka tanpa memperhatikan kebutuhan manusia. Kapitalisme memproduksi barang sebanyak mungkin tanpa perencanaan untuk dijual demi mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya. Watak kapitalisme ini merusak alam dan akhirnya akan menghancurkan manusia.

Oleh karena itu, rakyat harus melakukan perlawanan demi kepentingan kelangsungan hidupnya. PT. RUM harus dilawan demi kelangsungan hidup kita, anak dan cucu kita serta lingkungan sekitar. Perlawanan ini harus diorganisir dan dilancarkan untuk memenangkan tuntutan-tuntutan mendesak yakni:

  1. Bebaskan aktivis lingkungan: Muhammad Hisbun Payu, Kelvin Ferdiansyah Subekti dan Sutarno, dari penjara dan segala dakwaan.
  2. Tangkap dan penjarakan pemilik PT. RUM karena telah merusak lingkungan dan menimbulkan kerugian berupa penyakit yang diderita oleh rakyat Sukoharjo.
  3. Tarik TNI dari kegiatan pengamanan PT. RUM, TNI harus netral dan tidak berpihak kepada perusahaan perusak lingkungan.
  4. Usut tuntas kasus pemukulan dan penganiayaan rakyat dalam aksi

Dalam perjuangan ini, maka kita harus melakukan aksi-aksi mobilisasi yang lebih besar lagi, menggalang solidaritas lintas sektor dan teritori dan melakukan kampanye serta gerakan memboikot produk-produk Sritex. Mari kita kabarkan bahwa produk-produk Sritex dihasilkan dari proses yang penuh dengan penindasan terhadap manusia dan alam, agar semakin banyak lagi yang melawan.

Read Full Article