Represif! Penggusuran Paksa Rakyat Kentingan Baru untuk Kepentingan Pemilik Modal

Penggusuran paksa di Kentingan baru hari ini, Kamis (6/12/) berakhir dengan penangkapan dan pemukulan terhadap sejumlah penghuninya. Polisi, satpol PP, anggota ormas bahkan tentara dikerahkan untuk mengawal penggusuran. Setidaknya ada 10 orang yang ditangkap, beberapa orang mengalami luka dan perempuan mengalami pelecehan seksual.

Berikut kronologinya:

08:00 – Polisi, satpol pp dan beberapa orang anggota TNI datang ke titik konflik dan berkumpul di rusunawa. Setelah itu aparat menyebar ke beberapa titik diantaranya di pertigaan patung Sukarno dan di depan lapangan

08:30 – Jalan di tutup aparat kepolisian. Beberapa kawan solidaritas yang akan merapat, dihadang dan ditanyai oleh aparat kepolusian.

09:00 – Muncul polisi berpakaian preman dari dua arah sekitar 150 orang dan beberapa orang yang mengaku ormas. Warga bahkan, jika salah seorang yang mengaku ormas melakukan pelecehan seksual secara verbal terhadap dirinya. Orang itu menyuruh warga tersebut yang merupakan seorang perempuan itu untuk melepas pakaiannya saat warga tersebut mencoba mengusir aparat dan ormas.

10:00 – Terjadi dorong dorongan di gapura blok 1 antar warga dan aparat. Seorang kawan saat mencoba mencari informasi malah dipukuli oleh polisi berpakaian preman dan diseret masuk kedalam mobil polisi. Tiga warga dan 1 kawan solidaritas yang mencoba menghadang becho masuk di tangkap. Beberapa warga juga mengalami luka-luka karena terkena pukulan dari aparag kepolisian. Parahnya saat ditanya surat tugas oleh salah satu kawan solidaritas, aparat kepolisan tidak mampu menunjukkan.

10:30 – Preman masuk dan mengeluarkan paksa isi rumah warga. Salah satu warga bahkan mengatakan saat barang-barangnya dikeluarkan paksa, HP yang ia taruh didalam lemari hilang setelah proses tersebut.

11: 15 – Beko (alat berat) masuk ke dalam dan mulai mengusur beberapa rumah warga di blok 1. Saat beberapa kawan solidaritas mencoba lagi untuk menghadang becho, kawan solidaritas dan warga malah dipukuli menggunakan pentungan oleh aparat kepolisian. Bahkan ada satu kawan solidaritas yang dicekik dan dipukuli oleh 5 aparat kepolisian hingga luka parah serta mimisan.

12:00 –  Mediasi

12:15 – Alat berat mulai mengusur lagi.

Kepentingan Pemilik Modal

Tanah seluas 15 ribu meter yang menjadi objek penggusuran diklaim dimiliki oleh enam orang, yakni H. Supriyadi, Saptono Adi Soetantyo, H. Soetantyo, Widjaya Kusumaningsih, Soemartono dan Fenty Sutantyo. Soetantyo adalah pemilik pabrik rokok PT Dijitoe Solo dan Perumahan Fajar Indah yang berlokasi di Laweyan. Fenty dan Saptono adalah anak Soetantyo, sementara Soemartono dan Widjaja masih termasuk pemiliki PT Djitoe dan Perumahan Fajar Indah.

Enam orang ini memegang 35 sertifikat tanah yang di atasnya dihuni lebih dari 200 keluarga. Jadi artinya enam orang mengusai tanah yang seharusnya bisa diperuntukan untuk tempat hidup ratusan orang. Jelas sekali penggusuran ini bukan kasus biasa karena melibatkan pemilik pabrik rokok. Mungkin rokok merek Djitoe tidak terlalu terkenal, tapi perusahaan ini mengklaim sebagai pemasok terbesar mesin pembuat rokok dan mesin pengemas di kawasan Asia.

Para penghuni telah tinggal selama puluhan tahun di atas lahan tersebut, bahkan ada yang sudah tinggal selama 50 tahun. Rumah-rumah mereka dibuat secara permanen. Orang-orang ini juga telah dimenangkan di Pengadilan Negeri (PN) Solo dan PN Semarang. Tapi pemilik modal berkata lain.

Keluarga pemilik Djitoe Grup didukung oleh Badan Pertanahan Nasional (BPN) yang mengeluarkan sertifikat dan Pemkot Solo sehingga bisa mengerahkan polisi, Satpol PP dan tentara untuk menggusur secara sewenang-wenang. Kepentingan lebih dari 200 orang bisa diabaikan demi enam orang yang dianggap istimewa.

Inilah potret negara penindas yang menggunakan aparatus kekerasannya untuk melindungi kepentingan kapitalis. Penindasan kapitalis terhadap rakyat kelas pekerja yang tidak bermilik adalah nyata adanya, bukan hanya ditulis di buku-buku ekonomi politik.

Inilah sebabnya mengapa kelas pekerja harus mengorganisir diri ke dalam sebuah organisasi massa berlawan. Mereka yang memiliki modal begitu kuat sehingga bisa menggunakan negara untuk membantu mereka, sedangkan rakyat kelas pekerja tidak memiliki apa-apa, selain tenaga kerjanya yang jumlahnya mayoritas.

Jumlah yang mayoritas ini harus diorganisasikan ke dalam sebuah organisasi yang memiliki kepentingan kelas yang sama. Karena hanya ini satu-satunya cara untuk merebut dan mempertahankan hak kita, bahkan lebih jauh lagi, untuk sosialisasi sarana-sarana produksi (termasuk tanah) menjadi milik bersama. Jangan sampai kelas pemodal berbuat sesukanya di atas kepentingan orang banyak.

Baca juga

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.