Teori Imprealisme Lenin: Mempertahankan Relevansinya bagi Abad 21

(Sam King)

Hampir 100 tahun setelah karyanya ditulis, teori Marxis klasik Lenin tentang imprealisme, terutama yang diungkapkan dalam bukunya, Imperialism, Highest Stage of Capitalism (imprealisme, perkembangan tertinggi kapitalisme)[1], tetap menjadi kerangka terbaik untuk memahami ekonomi politik internasional kapitalisme. Perkembangan kapitalis setelahnya menunjukkan aspek-aspek kunci bahwa tesis Lenin itu benar. Sama seperti gagasan dasar pendapat Marx dalam bukunya Capital (modal), yang terbukti benar bila diamati dari perkembangan kapitalisme masa kini, demikian juga hal tersebut termaktub dalam dasar-dasar teori imprealisme Lenin. Hal tersebut tetap merupakan titik awal yang penting untuk memahami perkembangan dunia internasional saat ini, seperti “globalisasi” dan “kebangkitan Cina”.

Artikel ini dibagi menjadi tiga bagian. Pertama, tentang garis besar teori Lenin dan gagasan-gagasan kuncinya yang dibutuhkan untuk diterapkan pada kondisi saat ini. Bagian akhir, bagaimana menerapkan kerangka teori Leninis untuk menunjukkan bahwa Cina bukan lah kekuatan imprealis yang sedang bangkit, dan bahkan perkembangan sepenuhnya sebagai ekonomi kapitalis pun dihalangi oleh imprealisme. Sebelum mengamati Cina, bagaimanapun juga, kita harus membuang kesalahpahaman yang menyebabkan kaum Marxis tidak mau menggunakan teori Lenin dan mendorong kita mengabaikan Lenin karena dianggap suatu kesalahan, sehingga ditanggalkan atau disingkirkan. Banyak pihak yang menyelewengkan Lenin. Dalam hal ini, akademisi Marxis, secara keseluruhan, adalah yang paling bersalah ketimbang pihak manapun.[2] Bagaimanapun juga, gagasan yang dimiliki oleh kaum Marxis yang aktif secara politik memiliki konsekuensi yang sangat penting. International Socialist Tendency (IST) adalah aliran (tendensi) Marxis yang paling kuat aktivitasnya di dunia berbahasa Inggris saat ini (di luar India). Jadi, bagian kedua akan berfokus pada kesalahpahaman dari tradisi tersebut dan dari berbagai penulis yang, pada saat tertentu, memiliki kaitan dengannya. 

Teori Lenin di Abad 21

Teori imprealisme Lenin memusatkan diri pada penjelasan tentang eksploitasi (penghisapan) yang sistematis terhadap negeri-negeri terbelakang (yang, secara secara ekonomi, miskin) oleh modal monopoli yang, terutama, berbasis di negeri-negeri kaya. Dalam kerangka-pikir Lenin, perang antar-imperialis bersifat sekunder dalam mengisap negeri-negeri yang, secara ekonomi, miskin, karena semua perang tersebut pada akhirnya ditujukan untuk menciptakan kembali batas-batas dan syarat-syarat penghisapan tersebut.

Bagi Lenin, kunci untuk memahami imprealisme adalah monopoli. Dia berpendapat: “Jika memang butuh untuk memberikan kemungkinan definisi singkat tentang imprealisme, kita harus mengatakan bahwa imprealisme adalah tahap monopoli kapitalisme. Definisi tersebut akan mencakup hal yang paling penting.”[3] Lenin menguraikan lima ciri utama karakteristik impreliasme pada awal abad 20. Lima ciri utama watak impreliasme pada awal abad 20.(Dan monopoli merupakan inti dari kelima ciri tersebut.) Yaitu:

  1. transisi dari persaingan bebas menuju monopoli;
  2. di atas landasan tersebut, terjadilah pembentukan trust, kartel, bank, dan penggabungan ke dalam bentuk baru, yang lebih tinggi dari monopoli—kapital (modal) finansial;
  3. ekspor modal menjadi lebih sangat penting dibandingkan ekspor komoditas (barang dagangan);
  4. pembagian dunia di antara perusahaan-perusahaan monopoli internasional dimulai;
  5. Tuntasnya pembagian dunia di antara kekuatan-kekuatan besar.

    Namun, sejak Lenin menuliskannya, beberapa bentuk monopoli telah berubah.

Lenin memiliki pemahaman bernuansa monopoli. Ia tidak pernah menyatakan secara spesifik bentuk-bentuk monopoli (dilihat dari tahap-tahap teknis tertentu) yang mencerminkan “perkembangan” tertitinggi yang bisa diwjudkan oleh monopoli. diwakili oleh “negara” yang mengambil-alih peran monopoli. Bukharin membuat kesalahan karena lebih menitik-beratkan pada intervensi (campur-tangan) negara secara langsung sebagai bentuk umum pada masanya, yang dianggap sebagai perkembangan tertinggi dan tak terelakkan dari monopoli kapitalis. Perusahaan “Trust kapitalis negara” sebagaimana yang dikatakan Bukharin[4], di era modern sekarang ini, sebagian besar telah digantikan oleh perusahaan-perusahaan swasta multinasional (MNC). Yakni monopoli kapitalis swasta yang didukung oleh negara dan oligopoli.

Fleksibilitas (keluwesan) pendekatan Lenin dapat dilihat, misalnya, saat memahami kolonialisme. Bila pendekatan “trust kapitalis negara” yang menjadi landasan-pikir, atau bila terlalu literal (harfiah) memahami lima lima ciri imprealismenya Lenin, maka kita akan berpendapat bahwa imprealisme memerlukan kekuasaan kolonial. Namun, Lenin berkali-kali menyatakan sebaliknya, seperti yang akan dibahas di bawah ini.

Teori Lenin telah terbukti menjadi instrumen yang sangat fleksibel untuk memahami imprealisme saat ini. Dalam menerapkannya bukan berarti menghapalkan setiap baris bukunya, tapi sebaiknya dengan mempelajari (lebih dalam) bukunya dan memahami bentuk-bentuk khusus monopoli kontemporer (masa kini). Dengan demikian, kita bisa mengungkapkan cara modern bagaimana nilai dihisap dari negeri-negeri miskin oleh modal imperialis.

Perusahaan Multinasional (MNC) modern merupakan bentuk lebih tinggi dari kapitalis monopoli, ketimbang kartel dan trust pada masa Lenin. Itulah penguatan, bukan pelemahan, monopoli kapitalis yang membuat kadar penguasaan oleh swasta yang lebih besar menjadi mungkin. Dalam kapitalisme yang lebih awal, negara (atau milisi swasta dan semi-swasta, dan lainsebagainya) harus menghilangkan kelemahan hubungan komoditas kapitalis yang terbelakang. Monopoli perizinan negara seperti oleh Inggris dan Hindia Belanda justru memberikan jalan bagi bentuk yang lebih tinggi dalam pertukaran komoditas. Perbudakan digantikan dengan upah buruh. Koloni memenangkan kemerdekaan politik. “Trust negara kapitalis” Bukharin tersebut sekarang digantikan oleh perusahaan-perusahaan multinasional. Hal tersebut mencerminkan segala kemajuan dalam hubungan produksi kapitalis.

Era neoliberal  menggambarkan keunggulan pokok monopoli swasta ketimbang kepemilikan negara. Perusahaan swasta dapat memiliki hubungan yang lebih fleksibel dengan negara. Mereka dapat meminta intervensi negara saat mereka mengalami krisis, sehingga mengizinkan perusahaan MNC untuk mensosialisikan kerugiannya (agar ditanggung negara), sambil menswastakan keuntungan mereka. Kapitalis juga mendapatkan jaminan keamanan yang jauh lebih besar bila bisnisnya dijalankan sebagai milik pribadi.

Subsidi negara untuk modal swasta dinormalisasi melalui kolaborasi (kerjasama) “perpanjangan tangan”, misalnya, “kemitraan publik-swasta”. Subdisi negara secara tidak langsung diberikan agar produktivitas tenaga kerja dan perkembangan teknologi yang tinggi terjadi melalui universitas dan lembaga-lembaga keilmuan lainnya yang disponsori negara, serta lembaga teknis lainnya. Melalui cara tersebut, produktivitas tenaga kerja yang lebih tinggi di negeri-negeri utama imprealis menjadi kunci dari monopoli yang dikerahkan oleh perusahaan multinasional di pasar internasional. Hal ini dicapai oleh perusahaan multinasional dengan sangat terorganisir, yang dikombinasikan dengan negara-negara kapitalis yang lebih makmur dan maju.

Ketidaksetaraan Pertukaran Monopolistik

Saat ini, pertukaran nilai yang tidak setara di pasar internasional antara buruh yang berproduktivitas tinggi, yang bekerja di bawah syarat-syarat kerja  “Dunia Pertama”, dengan buruh “Dunia Ketiga”, yang sangat jauh kurang produktif, adalah mekanisme kunci transfer kemakmuran dari negeri-negeri miskin ke negeri-negeri kaya. Lenin tidak secara spesifik mengungkapkan konsep ketidaksetaraan pertukaran di dalam bukunya tentang imprealisme, tapi konsepnya adalah teori pokok tentang nilai, yang ditulis Marx dalam bukunya, Capital. Sebagai contoh, teori “harga produksi” sudah mengungkapkan ketidaksetaraan pertukaran kerja antara modal dalam komposisi organic yang berbeda-beda. Meskipun Marx tidak mengantisipasi bentuk-bentuk khusus dari ketidaksetaraan pertukaran di pasar dunia setelah 150 tahun kematiannya, poin-poin imprealisme Lenin pun mengalami hal yang sama sehingga, kemudian, kaum Marxis pun sekadar melafalkannya belaka.

Pada tahun 1972, seorang Marxis Belgia, Ernest Mandel, menunjukkan bahwa pertukaran yang tidak setara telah menjadi mekanisme utama untuk menghisap nilai yang diciptakan oleh buruh Dunia Ketiga pada periode pasca perang.[5] Mandel (dan sebelumnya Grossman) menunjukkan bahwa teori pertukaran yang tidak setara telah diformulasikan oleh Marx.[6] Mandel mengaplikasikan teorinya pada pasar dunia di tahun 1970-an untuk menunjukkan bahwa, meskipun terjadi penurunan relatif dalam ekspor modal dari negeri kaya ke negeri miskin pada saat itu (sesuatu yang kemudian menjadi  sebaliknya), tidak ada akhir bagi penghisapan nilai tersebut. Perusahaan multinasional semakin mampu untuk merampas nilai tanpa kesulitan harus melakukan investasi langsung. Kecenderungan yang sama terus berlanjut hingga hari ini karena banyak jalur produksi yang semakin “di-outsourcing-kan” (dialih-dayakan) kepada pemasok independen, sedangkan perusahaan multinasional “berhemat” dan berkonsentrasi pada monopoli “kompetensi (kemampuan) pokok”, seperti diuraikan di bawah ini.

Doug Lorimer menguraikan secara spesifik mekanisme yang digunakan (oleh negara imperialis dan perusahaan multinasional dalam “pasar bebas” di era globalisasi neoliberal) untuk membangun posisi monopol yang stabil. Bagi Lorimer, “sejarah kapitalis monopoli adalah, pada saat yang sama, merupakan sejarah penguatan masing-masing negara imperialis dan penggunaannya untuk memajukan kepentingan kaum kapitalis finansial negerinya sendiri di pasar dunia”.[7]

Lorimer mencatat: “segala inovasi teknologi utama dalam 50 tahun terakhir ini diciptakan dan dikembangkan pada awalnya untuk berperang (atau mempersiapkan diri untuk berperang) oleh para peneliti yang bekerja untuk departemen militer negara imprealis… Defisit pemerintah secara massif dihabiskan untuk mengembangkan barang-barang kebutuhan perang, persenjataan, selama Perang Dunia II dan Perang Dingin, yang menciptakan hampir semua inovasi teknologi pada paruh abad 20.”[8] Keuntungan dari pemasaran teknologi ini (seperti mikrowave, internet, radar) dibagi di antara perusahaan-perusahaan multinasional, sementara tanggungjawab dan biaya untuk pengembangannya diambil-alih oleh negara.

Subsidi negara untuk mengembangkan produktivitas tenaga kerja yang tinggi umumnya diberikan kepada lembaga-lembaga negara seperti universitas. Hubungan antara negara dengan modal swasta yang intim tersebut menjelaskan mengapa perusahaan multinasional tidak meluas secara global, seperti yang dahulu pernah populer dipercaya. Hal itu juga menjelaskan mengapa produksi berteknologi tinggi semakin terkonsentrasi di negara-negara kaya—sementara, sensasi yang menyesatkan menunjukkan sebaliknya.

Berbekal teknologi terbaik, produktivitas tenaga kerja tertinggi dan didukung oleh organisasi yang paling kuat di planet ini—negara imperialis—selain berkompetisi di antara mereka sendiri, perusahaan multinasional di pasar dunia menghadapi  produsen non-monopoli, menguasai teknologi  yang sebenarnya dan mudah direproduksi atau diproduksi oleh perusahaan multinasional itu sendiri. Sebagian besar perusahaan non-monopoli tersebut mengerjakan bagiannya yang sederhana, proses produksi “massal” untuk menghasilkan barang-barang non-monopoli. Perusahaan-perusahaan multinasional dapat mendikte baik pembelian maupun harga jual dalam perdagangan mereka dengan produsen non-monopoli. Dengan demikian, produsen non-monopoli diperbolehkan mengambil keuntungan yang sekadar memadai untuk kelangsungan hidup mereka. Sisanya, dari nilai yang dihasilkan oleh para pekerja di perusahaan-perusahaan tersebut, dirampas oleh perusahaan multinasional.

Dengan demikian, produksi monopoli modern tidak meniadakan pasar tapi memperluasnya. Bahkan, dalam lingkup “persaingan bebas”, diperluas ke daerah berteknologi rendah di mana monopoli yang stabil tidak dapat dibangun. Bagaimanapun juga, “persaingan bebas” hanya ada di bawah kendali dan  disubordinasikan kepada monopoli serta persaingan monopoli. Semuanya, kecuali produksi berteknologi tinggi[9], semakin didorong ke ranah persaingan bebas yang subordinat (dikendalikan). Dengan kata lain: “bebas” bersaing memperebutkan remah-remah (recehan).

Ekspansi besar-besaran pasar dunia selama 30 tahun terakhir ini, termasuk pelipatgandaan angkatan kerja global[10], telah menciptakan lautan tenaga kerja untuk dihisap oleh perusahaan multinasional demi perluasan keuntungannya, bahkan tanpa diawasi secara langsung. Hal itu terutama terjadi di Cina. Produksi komoditas kapitalis yang berkembang pesat di Cina adalah produksi non-monopoli. Perusahaan yang melakukan “produksi missal” secara sederhana, yang tidak mereka monopoli sendiri, karenanya tidak dapat menetapkan harga. Mereka harus menjual dengan harga yang ditentukan oleh perusahaan multinasional. Hal itu membuat mereka menjadi kapitalis yang kerempeng, kere—berkeuntungan kecil.

Perusahaan multinasional yang didukung oleh negara imprealis semakin besar dan dominan dalam memegang monopoli pengetahuan dan teknologi di pasar internasional, menghisap nilai dari produsen non-monopoli, tidak memiliki arti apapun selain: sebuah sistem global yang saya sebut “ketidaksetaraan pertukaran monopoli”.

Pembagian kerja internasional yang modern dan yang sangat terspesialisasi terkait erat dengan “globalisasi” produksi, yang lebih sempurna mengungkapkan karakter monopoli imperialis dari bentuk yang sebelumnya kurang maju. Pada masa Lenin, monopoli didasarkan terutama pada pemindahan lokasi fisik mesin-mesin imprealis yang paling pokok. Dalam kasus saat ini, mesin yang paling canggih ditahan, sisanya sering dipindahkan ke negeri berupah-rendah. Terdapat kecanggihan yang lebih tinggi dalam pembagian kerja modern: produksi  yang “dicacah-cacah kecil“[11] ke dalam aspek yang dibeda-bedakan dan diorganisir sesuai dengan tingkat kecanggihannya (kesulitan). Dengan demikian, “globalisasi” dalam beberapa dekade terakhir, lebih lengkap memisahkan kapasitas ilmiah dan teknologi (yang secara umum) merupakan pekerjaan kasar atau tenaga kerja berketerampilan rendah. Sejauh mungkin, memisahkan ilmu itu sendiri—murni, hanya mengejar pengetahuan praktis yang disediakan dalam bantuan kemajuan teknis atau budaya—dari proses produktif biasa (yang sudah ditetapkan dan, dengan demikian, relatif berketerampilan rendah).

Bentuk monopoli modern mencerminkan dengan lebih baik bahwa pengetahuan ilmiah, dan aplikasi canggih untuk produksi, terkonsentrasi, pada akhirnya, tidak dalam benda-benda fisik tapi di dalam diri manusia dan interaksi manusia dengan objek lainnya. Maksudnya: itulah monopoli tenaga kerja oleh pekerja yang paling berpendidikan tinggi, baik oleh negara-negara imperialis maupun perusahaan multinasional, yang membentuk basis utama dan paling stabil bagi reproduksi imperialis. Oleh karenanya, pemindahan aparatus industri jenis tertentu ke Cina dan negeri-negeri miskin lainnya (meskipun besarannya berlebihan) tidak merusak reproduksi monopoli dalam ekonomi imperialis selama reproduksi aspek yang paling tinggi masih di kendalikan oleh inti imperialis. Sebagai contoh-contoh kasus, segunung bukti dapat menunjukkan hal tersebut.

Pandangan IST tentang imprealisme dan Lenin

Para penulis utama teori imprealisme dalam tradisi IST, Mike Kidron, Chris Harman dan Alex Callinicos, menciptakan aliran teoritis yang runut yang mengajukan posisi umum bagi seluruh pertanyaan mendasar.[12] Inovasi teoritis Kidron dirintis pada 1962, yang ditegaskan kembali oleh Harman dan Cllinicos, sehingga menciptakan kesinambungan tertentu di dalam IST berdasarkan inovasi teori Kidron yang asli tersebut.[13] Sesudah Kidron keluar dari IST, Harman, sampai dengan kematiannya pada tahun 2009, adalah teoritisi imprealisme yang paling berpengaruh. Karyanya yang paling penting, Analysing Imperialism (menganalisa Imprealisme), mempengaruhi IST dan beberapa kelompok yang tidak lagi di dalam tendency secara internasional. [14]

Eksploitasi Dunia Ketiga

Para penulis IST mengklaim telah menegakkan teori imperialismenya Lenin (kadang-kadang menggambarkannya sebagai teori “Lenin-Bukharin”) tapi, sebenarnya, menolak kesimpulan Lenin yang paling mendasar—bahwa imperialisme adalah tentang eksploitasi sistematis negeri-negeri terbelakang oleh modal dari negara-negara inti imprealis. Kesimpulan mendasar Lenin tersebut diselewengkan dengan, secara berlebihan, lebih menekankan pada kompetisi antar- imperialis, yang dipahami melalui prisma konsep monopoli negara kapitalis ala IST.

Penyajian yang tidak tepat tentang teori Lenin (dan teori Bukharin) yang diterapkan dalam berbagai isu, pada akhirnya, akarnya adalah karena mereka menolak makna eksploitasi yang sistematis. Harman berargumen bahwa posisi tersebut dibutuhkan untuk memerangi “nasionalisme kiri”, yang “mengalihkan perhatian dari dinamika sentral sistem dunia dan yang, dalam banyak hal, analisanya lebih dilandaskan pada apa yang terjadi di lokasi akumulasi yang sangat penting, pada investasi asing, dan pada perdagangan”.[15] Di tempat terjadinya eksploitasi, yakni di negeri-negeri miskin, para penulis IST lebih menekankan “persaingan antar-imprealis” dan bentrokan antara kekuatan adi-kuasa yang, menurut dalihnya, terutama bertujuan mengamankan bahan baku dan secara langsung mengambil-alih kendali ekonomi dari kekuatan adi-kuasa lain. Namun, belum ada perang yang berlangsung antara “negeri-negeri industri mapan” selama 70 tahun terakhir ini.

Harman berpandangan, “Sebagai besar negeri Dunia Ketiga, termasuk hampir seluruh Afrika dan banyak negeri Amerika Latin (di luar Brazil dan Meksiko), mengalami penurunan penting ekonomi  dalam dinamika sistem secara keseluruhan. Keuntungan dan pembayaran bunga dari daerah-daerah tersebut hanyalah seperti lapisan krim bagi kue dunia kapitalis, bahkan besarnya tidak sampai sepotong kue itu sendiri”, sementara, “sumber utama nilai lebih di dunia ada di negeri-negeri maju’.[16] Lenin dimunculkan seolah mendukung posisi tersebut.[17]

Tapi, bagi Lenin, “titik fokus dalam program Sosial Demokrat harus bertumpu pada adanya pembelahan antara bangsa penindas dan bangsa yang ditindas, yang membentuk esensi dari imprealisme.”[18] Dua tahun kemudian, ia menulis: “Akan menjadi bijaksana, mungkin, untuk menekankan secara lebih kuat dan mengungkapkan dengan lebih jelas dalam program kita: keunggulan segelintir orang paling kaya di negeri-negeri imperialis yang makmur yang, secara parasit, merampok negeri-negeri koloni dan negeri-negeri yang lebih lemah. Itulah ciri yang sangat penting dari imperialisme.[19] Bagi Lenin, “kapitalisme tumbuh menjadi sebuah sistem dunia penindasan kolonial dan yang, secara finansial, segelintir negeri ‘maju’mencekik mayoritas penduduk dunia.”[20] Imperialisme awal abad 20 menuntaskan pembagian dunia di antara segelintir negara yang, saat ini, masing-masing melakukan eksploitasi (dalam makna penarikan keuntungan-super dari) satu belahan di “seluruh dunia”.[21]

Apapun kebenaran posisi Harman mengenai tidak pentingnya eksploitasi terhadap negeri-negeri miskin demi imprealisme, namun hal itu tidak dapat dikatakan memiliki kesamaan apapun dengan posisi Lenin. 

Ekspor Kapital

Mungkin kesalahpahaman yang paling umum terhadap teori yang diajukanLenin adalah bahwa imprealisme itu prinsipnya mengenai ekspor modal. Harman berpendapat bahwa Lenin “nampaknya membuat seluruh teori imprealisme bersandar pada peran-kunci bank dalam mengekspor modal finansial”. [22]

Tapi Lenin tidak pernah menulis bahwa ekspor modal adalah landasan bagi sandaran imperialisme. Karya-karyanya berulang kali dan secara langsung menentang kesimpulan tersebut. Lenin mengurutkan lima ciri utama imprealisme; ekspor modal hanya salah satunya. Daftar ciri imperialisme tersebut memiliki hubungan sebab-akibat, ekspor modal muncul sebagai ciri ketiga. Dalam 10 bab tulisan Lenin, masing-masing dari lima ciri tersebut ditempatkan dalam satu pembahasan tersendiri. Dan bab “ekspor modal” adalah yang terpendek dari semuanya, hanya 1.115 kata.

Di bab lain bukunya, Lenin menjelaskan tentang “kemungkinan definisi singkat mengenai imperialisme”. Ekspor modal tidak disebutkan. Ia berpendapat:

[I]mperialisme adalah tahap monopoli kapitalisme. Definisi tersebut mencakup apa yang paling penting, untuk, di satu sisi, menjelaskan bahwa modal finansial adalah modal bank dari beberapa bank monopoli yang sangat besar, yang digabungkan dengan modal milik asosiasi monopoli industrialis; dan, di sisi lain, penjelasan bahwa pembagian dunia merupakan transisi dari kebijakan kolonial yang telah diperluas (tanpa hambatan) ke wilayah yang telah direbut oleh kekuatan kapitalis (manapun), menjadi kebijakan kolonial monopoli yang menguasai wilayah dunia yang telah benar-benar berhasil dibagi-bagi.[23]

Dalam perdebatan revisi program Bolshevik pada tahun 1917, Lenin secara eksplisit menentang proposal V. Sokolnikov yang mendefinisikan prinsip imperialisme sebagai “ekspor modal”. Dalam pandangan Lenin, jika program itu dimulai dengan karakterisasi imperialisme, “kita harus memulainya dengan karakterisasi imprealisme secara keseluruhan—dan, dalam kasus ini, kita harus tidak hanya mendefinisikan satu hal saja, “ekspor modal”. Dan keluhan Lenin,  “Definisi kawan Sokolnikov tentang imprealisme hanya sedikit saja cakupannya (yakni ekspor modal)”.[24]

Harman memperkenalkan kesalahpahaman kedua. Ia menegaskan: Lenin menyatakan bahwa ekspor modal mengalir, terutama, dari negeri-negeri maju menuju negeri-negeri terbelakang. Harman menulis bahwa hal itu adalah “titik berangkat utama dari penjelasan Hobson-Lenin” saat pasca perang modal  “arusnya tidak dari negeri industrial ke negeri ‘terbelakang’. Arus modal melimpah ke daerah di mana industri sudah ada.[25]

Lenin tidak menekankan pentingnya arus modal ke negeri-negeri terbelakang; namun, ia tidak percaya bahwa arus ekspor modal “sangat melimpah” dari negeri  maju ke negeri terbelakang. Lenin menyediakan tabel statistik yang menjelaskan secara rinci ekspor modal berdasarkan tujuan ekspornya.  Tabel yang langsung dibantah oleh Harman. Mengomentari hal itu, Lenin mengatakan, “modal Prancis diinvestasikan terutama di Eropa”, sementara modal Jerman “dibagi (paling) merata antara Eropa dan Amerika”. Hanya dalam kasus Inggris, tabel statistik Lenin memberikan pengakuan bahwa kapital mengalir terutama ke daerah yang belum dikembangkan. Dalam hal itu, Lenin menulis, “daerah utama investasi…berada di koloni-koloni Inggris” tapi, bahkan juga, termasuk di negeri-negeri maju, seperti Australia dan Kanada.[26] 

Kolonialisme

“Masalah utama” teori Lenin bagi Harman dan para penulis IST adalah: karena pendekatan Lenin yang sangat kuat lebih bertumpu pada penekanan bahwa kekuatan Barat (sic) yang hebat mendorong adanya pembagian dan pembagian kembali dunia di antara mereka yang, di satu sisi, mengarah pada perang dan, di sisi lain, penguasaan kolonial secara langsung. Hal itu nyaris sulit diterapkan pada situasi di mana kemungkinan perang di antara negara-negara Barat nampaknya semakin mustahil dan koloni-koloni telah memperoleh kemerdekaannya.”[27] itulah kesalahpahaman lainnya. Lenin pernah menegaskan bahwa kolonialisme sangat dibutuhkan bagi imperialisme:

Kecenderungan imperialis mengarah pada imperium besar yang sepenuhnya harus dicapai dan, dalam prakteknya, sering dapat dicapai, dalam bentuk sebuah aliansi antara negara imperialis dengan negara berdaulat—berdaulat secara politik… Perjuangan nasional, pemberontakan nasional, peralihan kekuasaan nasional sepenuhnya “dapat dicapai” dan dipenuhi dalam praktek imprealisme.

Norwegia “meraih”  hak untuk menentukan nasibnya sendiri di era imperialisme yang paling merajalela yang, konon, seharusnya tidak dapat dicapai pada tahun 1905 itu. Oleh karena itu, tidak hanya tak masuk akal, tapi menggelikan, dari sudut pandang teoritis, untuk berbicara tentang “ketidaksanggupan”… modal finansial Inggris bisa (tetap) “berjalan” di negeri Norwegia sebelum maupun sesudah peralihan kekuasaan. Modal finansial Jerman (tetap) “berjalan” di Polandia sebelum peralihan kekuasaan Polandia dari Rusia, dan akan terus “berjalan” di di sana tak peduli apa status politik yang diperoleh Polandia.[28]

Lenin berpendapat: “Era imperialis tidak akan hancur baik oleh kemerdekaan politik nasional ataupun “pencapaian” semacamnya selama dalam batas-batas hubungan imperialis dunia. Di luar batas tersebut, bagaimanapun juga, sebuah Republik Rusia atau, secara umum setiap transformasi demokratik di manapun di dunia ini, ‘tidak bisa diraih’ tanpa serangkaian revolusi dan tidak lah akan stabil jika tanpa sosialisme. [29] Di sini Lenin lebih profetis dalam mengantisipasi munculnya kebangkitan daerah-daerah koloni dalam perjuangan pembebasan nasional.

Industrialisasi

Harman berpendapat bahwa posisi Lenin adalah bahwa “ekspor modal ke negeri-negeri koloni akan mengakibatkan pembangunan industri negeri koloni”. Untuk menguatkan hal itu, ia mengutip Lenin: “Ekspor modal mempengaruhi dan sangat mempercepat perkembangan kapitalisme di negeri-negeri di mana modal tersebut diekspor. Oleh karenanya, sementara ekspor modal bisa jadi cenderung, dalam batas tertentu, menelikung pembangunan di negeri-negeri pengekspor-modal, namun hal itu hanya dapat dilakukan dengan memperluas dan memperdalam perkembangan lebih lanjut kapitalisme di seluruh dunia.”

Tapi, untuk menyimpulkan bahwa kutipan tersebut mendukung pandangan Lenin—bahwa ekspor modal membawa industrialisasi—Harman harus percaya bahwa “perkembangan kapitalisme” dan “industrialisasi” meripakan hal yang sama.

Melanjutkan pencampur-adukan yang sama, Harman menulis: “Salah satu karya Lenin di masa awal, The Development of Capitalism in Russia (perkembangan kapitalisme di Rusia), ditujukan kepada orang-orang yang membantah kemungkinan perkembangan kapitalis. Ia terus bersikukuh di posisi tersebut saat menulis Imperialism (imprealisme). Itulah keyakinan bahwa perkembangan industri yang semakin [terkonsentrasi] di daerah-daerah koloni membuat Lenin menggambarkan negeri-negeri kolonial sebagai ‘parasit’”[30] Sekali lagi, saat Lenin menyebut “kapitalisme”, Harman memahaminya sebagai “perkembangan industri”.

Dengan tidak membuat perbedaan di antara keduanya, Harman harus menyangkal kemungkinan bentuk pra-industri kapitalisme atau, setidaknya, secara tersirat menyangkal bahwa kapitalisme tak terelakkan akan berkembang dari tahap yang lebih rendah ke tahap yang lebih tinggi: kapitalisme industri. Pandangan tersebut yang, sebenarnya, tidak didukung oleh apapun yang dikatakan Lenin, pada akhirnya menjadi landasan bagi posisi IST—bahwa perkembangan kapitalis akan selalu mengarah pada bentuk-bentuk kapitalisme Cina yang lebih maju; dan industrialisasi, oleh karenanya, akan menjadi imperialisme. [31]

Imprealisme modern telah menciptakan sebuah bentuk seni yang mempromosikan “pembangunan” kapitalis non-industri. Pemahaman tersebut sangat dibutuhkan untuk memahami ekonomi-politik saat ini. Contoh yang gamblang adalah Indonesia. Ekonomi borjuis secara umum tidak membedakan antara industri maju dengan industri perakitan padat karya (dengan buruhnya yang berketerampilan rendah). Perakitan sepeda motor (yang suku-komponennya diimpor) dan mesin produksi tekstil genggam di Indonesia, keduanya digolongkan sebagai “manufaktur”. Dalam penggolongan tersebut, keduanya digabungkan dengan industri mesin paling canggih dari AS dan Jepang. Ekonom borjuis (terutama yang bekerja di Bank dunia), sejak awal tahun 1980-an, berpandangan bahwa Indonesia mulai “terindustrialisasi”—tak ada seorang pun di Indonesia yang masih percaya hal itu. Pencampuradukan antara perkembangan kapitalisme dengan industrialisasi, seperti dala pendapat Harman, cenderung mendukung pijakan-kunci teori pembangunan borjuis tersebut.

Imprealisme sebagai tahap kapitalisme

Artikel Kidron yang paling penting tentang imperialisme berjudul “Imperialisme —satu-satunya tahap tertinggi”. Dimulai dengan:

Nasib kurang baik menimpa Lenin saat menulis satu-satunya pamphlet yang ia anggap penting, dan menjadi tulisan yang paling berpengaruh, The Highest Stage of Capitalism (imperialisme: tahap tertinggi kapitalisme)… Sebenarnya pamflet tersebut ditulis untuk menjelaskan penyebab Perang Dunia I namun kemudian, pada puncaknya, [telah] kehilangan pandangan (jauh ke depan), menjadi tidak kritis, menjadi hampir universal, dalam menerima tema-tema sentralnya. Hal itu menjadi lebih aneh karena banyak hal yang ia analisa jelas-jelas telah berlalu atau menjadi kurang penting ketimbang pada zamannya. [32]

Callinicos berpendapat bahwa dalam judul asli (bahasa Rusia) pamplet Lenin tertulis tahap kapitalisme “terbaru”, bukan “tertinggi”; hal itu berubah hanya setelah kematiannya.[33] Callinicos mengambil acuan dari sebuah artikel Bellamy Foster, yang justru sangat bertentangan dengan pengakuannya. Pada khirnya, Bellamy, bagaimanapun juga, mengakui bahwa naskah tulisan tangan Lenin tahun 1916 berjudul Imperialism, the Highest Stage of Capitalism Imprealisme (imperialisme, tahap tertinggi kapitalisme).[34] Hal itu mungkin nampaknya seperti debat semantik, tetapi dampaknya adalah melemahkan legitimasi dan pentingnya teori imprealisme Lenin. Menyimpulkan pandangan tersebut, Harman mengakui bahwa “kekuatan abadi” karya Lenin dan Bukharin “tidak seperti yang lain, (kekuatannya) terletak pada caranya memberikan penjelasan mengenai seluruh apa yang disebut dengan ‘perang 30 tahun’ dalam abad ke-20 ini [1914-1945].[35] Jadi, bagi Harman, “kekuatan abadi” Lenin itu tidak kekal.[36]

Harman berpendapat bahwa “kapitalisme monopoli” telah digantikan oleh “kapitalisme negara” pada tahun 1929.[37] Sebagai akibat dari swastanisasi, yang meluas pada 1980 dan di tengah-tengah keruntuhan Stalinisme pada tahun 1991, Harman sempat menawarkan istilah “kapitalisme trans-negara”.[38] Callinicos lebih suka (memilih) tahap dan tanggal: “imprealisme klasik” (1870-1945); “imperialisme adi-kuasa” (1945-1991), dan “Imperialisme setelah Perang Dingin” (1991 dan seterusnya). Banyak akademisi yang memilih tahapnya sendiri; baik David Harvey maupun Ellen Meiksins Wood memilih versi mereka sendiri. Penggandaan tahap yang terlalu beragam akhirnya  menjadi sewenang-wenang dan deskriptif, tapi kurang analitis—seperti sebuah pepatah, seorang profesor sosiologi yang sibuk memperdebatkan apakah ada lima atau tujuh kelas sosial yang berbeda dalam masyarakat kapitalis. Dalam hal itu, pemaknaan Lenin dalam menjelaskan imperialisme sebagai tahap kapitalisme yang tertinggi dan terakhir tak ada kesamaanya.

Kisruh, sebagaimana menurut Lorimer, “berangkat dari asumsi bahwa kemungkinan-kemungkinan bentuk sosial produksi tertentu (yang dikondisikan secara historis) itu tidak terbatas. Seluruh fakta dan proses yang dianalisa oleh Marx, dan Lenin, menunjukkan justru sebaliknya—hanya secara spesifik terbatas dan bersyarat lah perkembangan tenaga produktif bisa terjadi, setiap bentuk sosial produksi ditentukan oleh kesejarahannya.[39]

Jelas, akan selalu ada gerak dari satu masa tertentu ke masa yang lainnya. Namun, saat Lenin menulis tentang suatu “tahap” kapitalisme, ia tidak bermaksud memberikan penjelasan tentang ciri yang dangkal, tapi tentang kristalisasi bentuk tertinggi dari hubungan sosial produksi kapitalis. Ia mengindentifikasikan adanya kemungkinan perubahan terakhir dalam struktur kelas mendasar yang dibentuk oleh tahap monopoli kapitalisme. Dan monopoli kapitalisme tidak dapat digulingkan tanpa revolusi sosial.

Menurut Marx, dengan terbentuknya perusahaan saham gabungan,

Modal, yang melekat di landasan cara produksi masyarakat dan mensyaratkan konsentrasi sarana-sarana/alat-alat produksi dan tenaga buruh, sekarang bisa menerima bentuk modal sosial (modal gabungan individu-individu secara langsung) yang berbeda dengan modal swasta, dan perusahaan yang terbentuk adalah perusahaan-perusahan sosial yang bertentangan dengan perusahaan-perusahaan swasta. Itulah penghapusan modal sebagai milik pribadi dalam batas-batas cara produksi kapitalis itu sendiri.

Hal ini mencakup:

Transformasi fungsi kapitalis (yang sebenarnya) yakni menjadi sekadar manajer belaka, yang bertanggung jawab terhadap uang orang lain, dan (fungsi) pemilik modal menjadi sekadar pemilik belaka, sekadar kapitalis pemilik uang …pemilikan modal, yang sekarang…sepenuhnya terpisah dari fungsinya dalam proses produksi aktual…Sehingga keuntungan menjadi sekadar sebagai perampasan surplus tenaga kerja orang lain…

Dalam perusahaan saham gabungan, fungsi (produksi) dipisahkan dari kepemilikan modal, sehingga tenaga kerja juga benar-benar terpisah dari kepemilikan sarana-sarana/alat-alat produksi dan surplus tenaga kerja. Hasil produksi kapitalis dalam perkembangan tertingginya (perusahaan saham gabungan) adalah titik penting transisi menuju transformasi modal kembali pada kepemilikan produsennya, meskipun tidak lagi sebagai milik pribadi masing-masing produsen, melainkan sebagai kepemilikan bersama produsen, kepemilikan sosial secara langsung. Hal itu, lebih jauh lagi, menjadi titik transisi menuju transformasi semua fungsi yang sebelumnya terikat pada kepemilikan modal dalam proses reproduksi menjadi fungsi sederhana gabungan/himpunan produsen, menjadi fungsi sosial.

Itulah penghapusan cara produksi kapitalis dalam cara produksi kapitalis itu sendiri, dan karenanya disebut kontradiksi yang menghapuskan dirinya sendiri yang, sekilas saja bisa dipahami, kehadiran dirinya sekadar sebagai titik transisi ke bentuk baru produksi. Kehadiran dirinya merupakan sebuah kontradiksi bahkan dalam permunculannya. Itulah yang melahirkan monopoli dalam lingkup tertentu dan karenanya memprovokasi campur-tangan negara. Itulah juga yang mereproduksi aristokrasi keuangan baru, jenis baru parasit dalam kedok penyokong/pengembang perusahaan, spekulan dan segelintir direksi; seluruh sistem yang menipu dan curang bila dikaitkan dengan pengembangan perusahaan, masalah saham dan transaksi saham. Itu sekadar produksi swasta yang tidak dikendalikan sebagai kepemilikan pribadi. [40]

Pembaca yang mengakrabi Lenin akan mengakui kedekatan argumentasi Lenin dengan apa yang tertulis dalam halaman-halaman Capital  (modal) tersebut. Sebagai yang ditunjukkan oleh Lorimer:

Lenin tak perlu menciptakan sebuah teori baru untuk sampai pada kesimpulan bahwa kapitalisme monopoli finansial adalah tahap tertinggi perkembangan kapitalisme. Ia hanya harus menunjukkan bahwa ciri yang telah Marx gambarkan sebagai karakteristik tahap tersebut—perusahaan bersaham gabungan; pemisahan kepemilikan pribadi kapital dari fungsi manajerial dalam proses produksi langsung; monopoli; munculnya “aristokrasi keuangan”; parasitisme dalam bentuk rentenir; segelintir direksi perusahaan; dan para penipu di bursa saham—telah menjadi bentuk dominan dan khas bisnis kapitalis pada awal abad ke-20. Gambaran Lenin mengenai tahap kapitalisme monopoli finansial sebagai tahap tertinggi—tahap yang kehabisan kemungkinan-kemungkinan untuk “berevolusi” , yang berbeda dengan perkembangan revolusioner—adalah kesetiaan terhadap konsepsi Marx tentang “produksi kapitalis dalam perkembangan tertingginya”.[41]

Lorimer menjelaskan:

Keterasingan produsen langsung dari kepemilikan sarana-sarana/alat-alat produksi adalah relasi internal yang merupakan esensi dari bentuk kapitalis yang memproduksi komoditas. Itulah sebabnya saat terjadi relasi internal, yang menghubungkan individu-individu pekerja dengan  individu-individu kapitalis di dalam proses produksi, maka secara lahiriah terungkap lah perkembangan antagonisme sosial yang sepenuhnya—sebagai konflik sosial antara, di satu sisi, produsen sebenarnya, yang terhimpun oleh proses produksi menjadi kolektif individualitas, dengan, di sisi lain, para penghisap non produsen yang, sama saja, terhimpun oleh kepemilikan mereka sebagai kolektif individualitas yang bertentangan dengan kolektifnya sendiri—jadi, jelas lah bahwa (a) tidak ada kemungkinan terjadi perkembangan selanjutnya dalam hubungan produksi kapitalis; (b) bahwa antagonisme sosial telah menjadi titik awal transisi ke bentuk sosial baru proses produksi; dan (c) bahwa titik awal tersebut merupakan landasan material dan bentuk umum dalam kutub positif dan negatif antagonisme sosial itu sendiri, yakni dalam himpunan produksi oleh himpunan pemilik untuk kepuasan individual dan kebutuhan bersama.[42]

 Modal Keuangan

Harman mengaitkan argumen ini dengan Lenin, yakni bahwa “kunci untuk memahami kapitalisme modern adalah pemahaman mengenai dominasi negeri-negeri maju terhadap ‘modal finansial’ (bank dan bursa saham) dalam modal industri.”[43] Ia berpendapat bahwa, dalam pandangan Lenin, “modal finansial (bank) dainggap memainkan peran sentral. Modal finansial telah mencapai tingkat yang lebih tinggi dalam monopolisasi ketimbang industri, dan sangat mengsubordinasi modal industri demi kebutuhannya.”[44] Tapi Lenin tidak pernah mendefinisikan modal finansial sebagai “bank” ataupun “bank dan bursa saham”. Definisinya terang-terangan bertentangan dengan pendapat tersebut.

Lenin mendefinisikan modal finansial sebagai penggabungan (merger) perbankan dengan modal industri, dan kemunculannya merupakan landasan bagi bentuk monopoli yang sama sekali baru serta lebih tinggi. Dengan mengacu pada dari buku Rudolf Hilferding tahun 1910, Finance Capital (modal keuangan), Lenin menulis:

Proporsi modal industri yang terus menerus meningkat…berhenti menjadi milik industrialis yang menanamkan modalnya. Mereka mendapatkan modalnya melalui media, bank yang, dalam kaitannya dengan mereka, mewakili para pemilik modal. Di sisi lain, bank dipaksa untuk meningkatkan porsi penyaluran dananya ke dalam industri. Dengan demikian, dalam tingkat yang lebih tinggi, para bankir sedang berubah menjadi kapitalis industri. Modal bank tersebut, yakni modal dalam bentuk uang, yang sebenarnya sudah diubah menjadi modal … [adalah] “modal finansial”… Modal finansial dikendalikan oleh bank-bank dan dikerjakan (investasinya) oleh para industrialis.

Lenin menambahkan bahwa definisi Hilferding “adalah definisi yang tidak lengkap sejauh definisi tersebut bungkam terhadap satu fakta yang sangat penting—bahwa peningkatkan konsentrasi produksi dan modal hingga kadar sedemikian rupa maka konsentrasi akan mengarah, dan sudah mengarah, menuju monopoli”.[45]

Dalam pandangan Lenin, kemudian, modal keuangan adalah “konsentrasi produksi; monopoli yang lahir darinya; penggabungan atau peleburan bank-bank dengan industri” dan, kemudian, “modal keuangan adalah modal bank dari beberapa bank monopoli yang sangat besar, bergabung dengan modal asosiasi monopolis industrialis.[46]

Lenin juga memberikan nama-nama pemilik modal keuangan. Mereka termasuk pemilik perusahaan-perusahaan Siemens, General Electric, Sugar Trust, United State Steel, Egyptian Sugar Refineries, Union Mining Company of Dortmund, dan Steel Syndicate of Germany. Perusahaan-perusahaan itu bukan bank (namun dimiliki juga oleh para pemilik modal keuangan).

Berdasarkan kesalahan pembacaannya, Harman berpendapat, “Bukharian melanjutkan pengembangan teori yang lebih umum ketimbang Lenin” karena “ia berfokus tidak hanya pada modal keuangan, tetapi pada cara bagaimana modal industri [sic] terlalu didorong pada petualangan militer… dalam banyak hal, sejarah kapitalisme Barat 50 tahun terakhir telah dilengkapi oleh gambaran Bukharin yang lebih umum, yang lebih cermat daripada gambaran Lenin yang agak sempit dengan konsentrasinya sekadar pada ‘modal keuangan’.[47]

Harman kebingungan memahami perbedaan antara modal keuangan yang didapat dari pinjaman dengan uang kredit[48] atau dengan kategori ekonomi sektoral borjuis, “sektor finansial” yang terdiri atas keuangan, asuransi dan perumahan (FIRE). Kategori ekonomi sektoral borjuis adalah kategori teknis dalam pembagian kerja bisnis kapitalis. Definisi Lenin, yang menjelaskan tentang kelahiran dominasi “oligarki finansial”, menggambarkan perubahan kesejarahan dalam struktur kelas kapitalis dan hubungannya dengan produksi.

Dua dekade kemudian, Harman mengayuh-balik pendapatnya, sedikit terbuka menghubungkannya kepada pandangan Lenin yang dianggap salah bahwa “modal keuangan” merupakan sub-sektor yang berbeda dan terpisah dari kelas kapitalis (mempertentangkannya dengan modal industri). Pada tahun 2003, ia hanya mengklaim bahwa “Penyampaian pikiran (phraseology) di bagian lain pamplet Lenin memungkinkan orang [yaitu Harman] menafsirkan apa yang Lenin katakan, sebagaimana juga yang dikatakan Hobson dan Kautsky, bahwa bunga (yang didapat dari bisnis) finansial dan bank-bank terutama merupakan tanggung jawab imperialisme.[49]

Harman berpikir “ungkapan” Lenin  “terutama” membingungkan karena “ia bersikeras mengenai watak ‘parasit’ modal keuangan”. Ia mengutip Lenin sebagai berikut: imperialisme menciptakan “pertumbuhan kelas yang luar biasa, atau lebih tepatnya strata (lapisan) sosial kaum rentenir, yakni orang yang hidup dari ‘guntingan kupon’, yang mengambil bagian dalam setiap perusahaan apapun, yang berprofesi sebagai pemalas (pengangguran). Ekspor modal, yang merupakan salah satu dari basis ekonomi yang paling penting dari imperialisme, samasekali masih mengisolir rentenir dari produksi, dan mensegel parasitisme di seluruh negeri yang hidup dari mengeksploitasi buruh berbagai negeri dan koloni.” [50] Namun, bagi Lenin dan Marx, lapisan parasit rentenir tidak terpisah dari sayap kelas kapitalis, atau berbeda dari “kapitalis produktif”, tetapi merupakan seluruh bagian atasnya—seluruh borjuis besar, yang sekarang terpisah dari produksi, sebagaimana dijelaskan oleh Marx.

Harman lebih lanjut menjelaskan mengapa, meskipun tampaknya ia menyadari kesalahannya dalam  membaca Lenin, ia bersikukuh mengasosiasikan Lenin sebagai pihak yang berpendapat bahwa terjadi pemisahan antara modal produktif dengan “bunga finansial dan bank”. Itu karena pengakuan tersebut mendukung posisi politik penting Harman, bahwa imprealisme bukan tentang eksploitasi ekonomi negeri-negeri terbelakang, sebagaimana Lenin bersikeras. Hal tersebut juga menjadi dasar Harman mengembangkan posisi yang dapat menyebabkan orientasi sektarian nasionalisme Dunia Ketiga.

Harman berpendapat bahwa “penekanan” Lenin “pada ‘parasitisme’ modal keuangan” mengakibatkan “beberapa orang, yang diduga mendasarkan dirinya pada karya Lenin, berposisi (dalam beberapa dekade setelah kematian Lenin) adalah mungkin untuk membentuk aliansi anti-imperialis bersama kelompok modal industri dalam melawan modal finansial—atau, dengan kata lain, jatuh kembali setepat-tepatnya ke dalam kebijaksanaan Kautsky, yang menyerang Lenin dengan begitu getir”. Formulasi Lenin “nampaknya dipandang sebagai teori imperialisme yang yang segalanya dibebankan pada peran kunci bank dalam mengekspor modal”.

Bila kita kesampingkan argumen Harman yang, sebenarnya, bukan apa yang dikatakan oleh Lenin, tapi kita amati “ungkapan” yang nampaknya ia ajukan, maka sangat lah mudah untuk menemukan sanggahan kategorisnya. Lenin menyebutnya sebagai “cara pandang reformis borjuis”, yang percaya  “adalah mungkin, di bawah kapitalisme, memisahkan” antara “modal yang diinvestasikan secara ‘produktif’ (usaha industri dan komersial) dengan modal yang diinvestasikan secara ‘spekulatif’ (dalam Bursa Saham dan operasi-operasi finansial)”.[51]

Sumber: http://marxistleftreview.org/index.php/no8-winter-2014/112-lenins-theory-of-imperialism-a-defence-of-its-relevance-in-the-21st-century

 

[1] Lenin, 1963

[2] Butuh artikel terpisah untuk mengritik tulisan-tulisan tentang imprealisme dari para akademisi yang berpengaruh, seperti David Harvey, John Bellamy Foster dan mazhab (mereka yang tergabung dalam buletin) Monthly Review.

 

[3] Lenin, 1963

[4] Istilah “trust kapitalis negara” Bukharin ini  kadang-kadang (salah) dikaitkan dengan Lenin juga. Lenin sendiri tidak pernah menggunakan istilah ini.

[5] Mandel, 1980.

[6] Tidak seperti Emmanuel—yang merumuskan teori secara eklektif (campur-aduk), dan pada akhirnya menjadi teori non marxis—pertukaran yang tak setara didasarkan pada tingkat upah diferensial. Padahal, hal itu hanyalah gejala, bukan penyebab, dari pertukaran yang tidak setara. Emmanuel, 1972, hal.87.

[7] Lorimer, 1999, hal.13.

[8] Lorimer, 2002, hal.32; juga Eaglen dan Pollak, 2012, hal.1.

[9] Pengecualian ini adalah “alamiah” monopoli berdasarkan kedekatan dengan sumber daya alam atau ke pasar di negara-negara imprealis.

[10] Freeman, 2006.

[11] UNCTAD, 2013a, hal.125.

[12] Kidron mewariskan teori imperialis pada tahun 1965, tak lama sebelum meninggalkan IST. Kidron, 1962.

[13] Dari tahun 2003, Callinicos mulai mengembangkan versi teori “imprealisme baru” yang terkait dengan David Harvey.

[14] Harman, 2003; buku Harman,  Zombie Capitalism (kapitalisme zombie), terbit tahun 2009, sebagian besar isinya mengulang formulasi teoritis tahun 2003 sampai tahun 1991; Jeff Bale, sebagai contoh, menyetujuinya dengan menulis bahwa karya Harman, Analysing Imperialism (menganalisa Imprealisme), “merupakan contoh yang luar biasa bagaimana menganalisa imprealisme secara historis (menyejarah)—baik dari segi bagaimana buku itu membeberkannya dan bagaimana pemikiran Marxis telah berkembang saat menanggapinya. Bale, 2010.

[15] Harman, 2003, p72.

[16] Harman, 2003; juga Callinicos, 2009, p178.

[17] Harman, 2003, p6.

[18] Lenin, 1974.

[19] Lenin, 1972.

[20] Lenin, 1963, Kata Pengantar untuk edisi Prncis dan Jerman.

[21] Lenin, 1963.

[22] Harman, 2003; juga Kidron, 1962; Callinicos, 2009, hal.153, 179.

[23] Lenin, 1963.

[24] Lenin, 1972.

[25] Harman, 2003; juga Kidron, 1962; Callinicos, 2009, pp153, 179,

[26] Lenin, 1963.

[27] Harman, 2003; lihat juga Kidron, 1962; Kidron, 1965; Callinicos, 2009, p179.

[28] Lenin, 1964b.

[29] Lenin, 1964b.

[30] Harman, 2003.

[31] Harman mengklaim bahwa karya Lenin, The Development of Capitalism in Russia  (perkembangan kapitalisme di Rusia), mendukung pendapatnya, tapi tanpa memberikan referensi. Karya Lenin tersebut, secara hati-hati, memisahkan berbagai tahapan perkembangan kapitalis. Lenin, 1964a, Chapter VII, Part XII.

[32] Kidron, 1962

[33] Callinicos, 2009, p44; juga Harman, 2009, p93.

[34] Bellamy Foster, 2004.

[35] Harman, 2003.

[36] Lihat juga Gasper, 2011.

[37] Harman, 1984, pp55, 62,74.

[38] Harman, 1991.

[39] Lorimer, 1999.

[40] Marx, 1981, Chapter 27, pp567-569.

[41] Lorimer, 1999, p17.

[42] Lorimer, 1999, pp17-18.

[43] Harman, 1975.

[44] Harman, 1980; juga Kidron, 1962.

[45] Lenin, 1963.

[46] Lenin, 1963.

[47] Harman, 1980.

[48] Lihat Lorimer, 2011.

[49] Harman, 2003.

[50] Harman, 2003; Callinicos mengutip frasa yang sama, dia menggambarkannya sebagai “salah satu elemen terlemah dari buku Lenin”. Callinicos, 2009, hal.48.

[51] Lenin, 1963.

Baca juga

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.