Surat Marx pada P.V. Annenkov

Brussel, 28 Desember 1846

Tuan Annenkov yth.

Semestinya anda menerima jawabanku atas surat anda tanggal 1 November, tetapi itu tidak terjadi karena toko buku baru minggu lalu mengirimkan padaku buku Monsieur Proudhon, The Philosophy of Poverty. Buku itu telah aku baca dan selesai dalam dua hari agar dapat segera menyampaikan pada anda pendapatku tentang buku itu. Karena aku membaca buku itu dengan sangat tergesa-gesa, aku tidak dapat membicarakan hingga terperinci sekali, tetapi hanya dapat menyampaikan pada anda kesan umum yang aku peroleh darinya. Jika anda menghendaki, aku dapat membicarakannya secara mendetail dalam sepucuk surat yang kedua.

Dengan terus-terang, aku harus mengakui bahwa buku itu, menurutku, secara umum, buruk, dan sangat jelek. Anda sendiri tertawa dalam surat anda yang berbicara soal “sekelumit filsafat Jerman” yang diperagakan M. Proudhon dalam karya tiada bentuk dan pretensius itu, tetapi anda beranggapan bahwa argumen ekonominya tidak terinfeksi oleh racun filsafatnya. Aku sendiri jauh daripada menuduhkan kesalahan-kesalahan dalam argumen ekonomik dalam filsafat M. Proudhon. M Proudhon tidak menyajikan suatu kritik palsu mengenai ekonomi politik karena ia adalah pemilik suatu teori filsafat yang absurd, tetapi ia memberikan pada kita suatu teori filsafat yang absurd karena ia gagal memahami sistem sosial dewasa ini dalam engrenement-(proses merangkaikan/menghubungkan dalam suatu rangkaian)nya, bila kita menggunakan sebuah kata yang, seperti banyak lainnya, dipinjam M. Proudhon dari Fourier.

Mengapa M. Proudhon berbicara tentang Tuhan, tentang nalar universal, tentang nalar kemanusiaan yang impersonal dan yang tidak pernah salah, yang selalu setara dengan dirinya sendiri selama berabad-abad, dan yang tentangnya orang cuma memerlukan kesadaran yang tepat agar mengetahui kebenaran? Mengapa ia bersandar pada Hegeliansime yang lembek untuk memberikan pada dirinya sendiri tampang seorang pemikir yang berani?

M. Proudhon serndiri yang memberikan kunci pada enigma itu.

M. Proudhon melihat dalam sejarah suatu rentetan perkembangan sosial; ia menemukan kemajuan diwujudkan dalam sejarah; akhirnya ia mendapatkan bahwa manusia, sebagai individual-individual, tidak mengetahui apa yang sedang mereka kerjakan dan melakukan kesalahan dalam gerak mereka sendiri, yaitu, perkembangan sosial mereka pada penglihatan pertama tampaknya jelas, terpisah dan berdiri sendiri dari perkembangan individual mereka. Ia tidak dapat menerangkan fakta tersebut, dan karenanya ia cuma membikin-bikin hipotesis mengenai nalar universal lah yang mengungkapkan dirinya sendiri. Tidak ada yang lebih mudah daripada membikin-bikin sebab-sebab mistikal, yaitu, frase-frase yang tidak mengandung akal sehat.

Tetapi, tatkala M. Proudhon mengakui bahwa ia tidak mengerti sedikitpun tentang perkembangan historis kemanusiaan–-ia mengakui hal itu dengan menggunakan kata-kata yang bernada-tinggi seperti: Nalar Universal, Tuhan, dan sebagainya–tidakkah dengan begini ia secara implisit dan mau-tidak-mau mengakui bahwa dirinya tidak mampu memahami perkembangan ekonomi?

Apakah masyarakat itu, apa dan bagaimanapun bentuknya? Produk dari tindakan timbal-balik orang-orang. Bebaskah orang memilih masyarakat yang bentuknya begini atau bentuknya yang begitu bagi diri mereka sendiri? Sama sekali tidak bisa. Andaikan lah suatu kelas dan perkembangan tertentu dalam tenaga-tenaga produktif manusia, dan anda akan mendapatkan suatu bentuk perdagangan dan konsumsi yang tertentu pula. Andaikan lah tahap-tahap perkembangan tertentu dalam produksi, perdagangan dan konsumsi, dan anda akan mendapatkan bentukan sosial yang bersesuaian, suatu organisasi keluarga yang bersesuaian, dari suatu tatanan-tatanan atau dari kelas-kelas, singkat kata, suatu masyarakat sipil (madani) yang bersesuaian. Andaikan sebuah masyarakat sipil tertentu dan akan anda dapatkan kondisi-kondisi politik tertentu yang hanya merupakan ungkapan resmi dari masyarakat sivil. M. Proudhon tidak akan pernah memahami hal itu karena ia mengira dirinya sedang melakukan sesuatu yang besar dengan dalam dari negara pada masyarakat –yaitu, dari resume/ikhtisar resmi masyarakat pada masyarakat resmi.

Adalah terlalu berlebihan untuk menambahkan bahwa manusia tidak bebas memilih “tenaga-tenaga produktif” mereka–yang adalah dasar dari seluruh sejarah mereka–karena setiap tenaga produktif adalah suatu tenaga perolehan, produk dari aktivitas sebelumnya. Karenanya, tenaga-tenaga produktif adalah hasil energi praktikal manusia; tetapi energi itu sendiri dikondisikan oleh keadaan-keadaan yang didapatkan manusia untuk diri mereka, oleh tenaga-tenaga produktif yang sudah diperoleh, oleh bentuk sosisal yang sudah ada sebelumnya, yang tidak mereka ciptakan yang, adalah, produk dari generasi yang mendahului mereka. Karena, kenyataan sederhana, bahwa setiap generasi berikutnya mendapatkan dirinya memiliki tenaga-tenaga produktif yang diperoleh generasi sebelumnya, yang berlaku sebagai bahan-bahan mentah bagi produksi baru, maka lahirlah suatu koherensi (perpautan) di dalam sejarah manusia, suatu sejarah kemanusiaan yang terbentuk dan semakin merupakan suatu sejarah kemanusiaan karena tenaga-tenaga produktif manusia dan, karenanya, hubungan-hubungan sosialnya telah semakin berkembang. Dari situ, mau tidak mau, barulah menyusul kesimpulan bahwa sejarah sosial manusia tidak lain dan tidak bukan adalah sejarah perkembangan individual mereka, baik hal itu mereka sadari atau tidak sadari. Hubungan-hubungan material mereka adalah dasar dari semua hubungan-hubungan mereka. Hubungan-hubungan material tersebut hanyalah bentuk-bentuk yang diharuskan untuk merealisasikan aktivitas material dan individual mereka.

M. Proudhon mencampur-adukkan gagasan-gagasan dengan hal-hal ikhwal. Manusia tidak pernah melepaskan yang telah dimenangkannya, tetapi itu tidak berarti bahwa mereka tidak pernah melepaskan bentuk sosial yang di dalamnya mereka telah memperoleh tenaga-tenaga produktif tertentu. Sebaliknya, agar hasil yang telah dicapainya tidak dirampas, dan kehilangan buah-buah peradaban, mereka diharuskan–sejak saat bentuk perdagangan mereka tidak lagi bersesuaian dengan tenaga-tenaga produktif yang diperoleh–untuk mengubah semua bentuk-bentuk sosial tradisional mereka. Aku menggunakan kata “lalu lalang perdagangan” (commerce) di sini dalam arti seluas-luasnya, sebagaimana kita menggunakan kata verkehr dalam bahasa Jerman. Misalnya, hak-hak istimewa (prvivilese-privilese), lembaga gilde-gilde dan korporasi-korporasi, rezim regulatori Abad-abad Pertengahan, yang merupakan hubungan-hubungan sosial satu-satunya yang bersesuaian dengan tenaga-tenaga produktif yang telah dicapai dan bersesuaian dengan kondisi sosial yang ada sebelumnya dan dari padanya lembaga-lembaga itu telah lahir. Di bawah perlindungan rezim korporasi-korporasi dan regulasi-regulasi, modal diakumulasi, perdagangan seberang lautan dikembangkan, koloni-koloni dibangun. Tetapi buah-buahnya berarti akan hilang bagi manusia apabila mereka mencoba mempertahankan bentuk-bentuk yang mengayomi/mematangkan buah-buah tersebut. Dari situlah menyambarnya dua petir–Revolusi-revolusi tahun 1645 dan tahun 1688. Semua bentuk ekonomi lama, hubungan-hubungan sosial yang bersesuaian dengannya, kondisi-kondisi politik yang menjadi ungkapan resmi masyarakat sipil lama, semua itu dihancurkan di Inggris. Dengan demikian, maka bentuk-bentuk ekonomi, yang dengannya manusia berproduksi, berkonsumsi dan melakukan pertukaran, adalah semuanya bersifat peralihan (transitoris) dan historis. Dengan diperolehnya jurusan-jurusan produktif baru, manusia mengubah cara produksi dan, dengan cara produksi itu, muncul lah semuahubungan ekonomi yang cuma sekedar hubungan-hubungan yang diperlukan dari cara produksi tertentu itu.

Itulah yang tidak dimengerti M. Proudhon dan bahkan, terlebih-lebih, tidak diperagakannya. M. Proudhon, yang tidak mampu mengikuti gerak sesungguhnya sejarah, membuat suatu fantasmagoria yang dengan pongah menyatakan diri sebagai puncaknya dialektika. Ia tidak merasa perlu untuk berbicara tentang abad-abad ke tujuhbelas, ke delapanbelas atau ke sembilanbelas bagi proses-proses sejarahnya alam alam-imajinasi yang berkabut dan menjulang jauh di atas ruang dan waktu. Singkat kata, itu bukan sejarah tetapi rongsokan lama Hegelian, itu bukan sejarah duniawi–suatu sejarah kemanusiaan–tetapi sejarah keramat–suatu sejarah ide-ide. Dari sudut pandangnya, manusia Cuma alat yang digunakan oleh ide atau nalar abadi untuk mengungkap diri sendiri. Evolusi-evolusi yang dibicarakan M. Proudhon dipahami sebagai evolusi-evolusi sebagaimana yang digenapkan dalam lubuk mistik ide mutlak itu. Jika orang merobek cadar bahasa mistikal itu, jadinya adalah bahwa M. Proudhon menawarkan pada kita tatanan yang di dalamnya kategori-kategori ekonomi menata dirinya sendiri di dalam kepalanya. Tidaklah memerlukan banyak pengerahan tenaga dari pihakku untuk membuktikan bahwa hal itu adalah tatanan dari suatu pikiran yang sangat amburadul.

M. Proudhon memulai bukunya dengan sebuah disertasi tentang nilai, yang memang menjadi subjek kegemarannya. Sekarang ini aku tidak akan melakukan suatu pemeriksaan atas disertasi itu.

Rangkaian evolusi-evolusi ekonomi dari nalar abadi mulai dengan “pembagian kerja.” Bagi M. Proudhon pembagian kerja itu sesuatu yang sederhana sekali. Padahal, tidakkah rejim kasta itu juga suatu pembagian kerja tertentu? Tidakkah rejim korporasi-korporasi suatu pembagian kerja yang lainnya? Dan tidakkah pembagian kerja di bawah sistem manufaktur, yang di Inggris dimulai sekitar pertengahan abad ke tujuh belas dan berakhir pada bagian akhir abad ke delapanbelas, juga sangat berbeda dari pembagian kerja dalam industri modern raksasa?

M. Proudhon begitu jauhnya dari kebenaran sehingga ia mengabaikan yang, bahkan, diperhatikan oleh para ahli ekonomi duniawi. Ketika M. Proudhon berbicara tentang pembagian kerja, ia tidak merasa perlu menyebutkan pasar dunia. Bagus. Namun, tidak kah pembagian kerja pada abad-abad ke empatbelas dan limabelas–ketika belum terdapat koloni-koloni, ketika Amerika masih belum eksis bagi Eropa, dan Asia Timur hanya ada baginya (bagi Eropa) lewat perantaraan Konstantinopel–adalah secara fundamental berbeda dari yang ada pada abad ke tujuhbelas ketika koloni-koloni sudah berkembang?

Dan itu belum semuanya. Adakah seluruh organisasi intern bangsa-bangsa (nasion-nasion), adakah semua hubungan-hubungan internasional mereka tidak lain dan tidak bukan adalah ungkapan dari suatu pembagian kerja tertentu? Dan tidakkah itu berubah ketika pembagian kerjanya berubah?

M. Proudhon begitu dangkal memahami masalah pembagian kerja sehingga ia bahkan tidak pernah menyebutkan pemisahan kota dan desa yang terjadi di Jerman, misalnya dari abad ke sembilan hingga abad ke duabelas. Demikianlah bagi M. Proudhon, pemisahan tersebut adalah suatu hukum abadi karena ia tidak mengetahui asal-usulnya maupun perkembangannya. Di sepanjang bukunya, ia berbicara sepertinya penciptaan suatu cara produksi tertentu itu akan bertahan hingga akhir zaman. Segala yang dikatakan M. Proudhon mengenai pembagian kerja hanyalah sebuah ringkasan, dan lebih dari itu suatu ringkasan yang sangat dangkal dan tidak lengkap dari yang telah dikatakan oleh Adam Smith dan ribuan orang lainnya sebelum dirinya (M. Proudhon).

Evolusi kedua adalah “permesinan.” Hubungan antara pembagian kerja dan mesin adalah sepenuh-penuhnya mistikal bagi M. Proudhon. Setiap jenis pembagian kerja mempunyai alat-alat produksinya yang khusus. Antara pertengahan abad ke tujubelas dan pertengahan abad ke delapanbelas, misalnya, orang tidak membuat segala sesuatu dengan tangan. Terdapat mesin-mesin, dan mesin-mesin yang sangat rumit, seperti perkakas tenun, bahtera, pengumpil, dan sebagainya.

Karenanya, tidak ada yang lebih absurd daripada menderivasi mesin dari pembagian kerja pada umumnya.

Sambil lalu, boleh juga aku menyatakan bahwa, karena memang sebenarnya M. Proudhon tidak memahami asal-usul permesinan, ia lebih tidak memahami lagi perkembangannya. Orang dapat mengatakan bahwa sampai tahun 1825–periode krisis umum pertama–tuntutan-tuntutan konsumsi pada umumnya telah meningkat lebih pesat daripada produksi, dan perkembangan permesinan adalah suatu konsekuensi yang niscaya atas kebutuhan-kebutuhan pasar. Sejak 1825, penemuan dan penerapan permesinan cuma hasil belaka dari pergulatan antara kelas buruh dengan kaum majikan. Namun itu hanya benar bagi Inggris. Sedangkan bagi bangsa-bangsa Eropa, mereka itu didera untuk mengadopsi permesinan karena persaingan dengan Inggris, baik di pasar-pasar dalam negeri mereka maupun di pasar dunia. Akhirnya, di Amerika Utara sendiri pengenalan mesin disebabkan oleh persaingan dengan negeri-negeri lain maupun karena kekurangan tenaga pekerja, yaitu, karena adanya disproporsi (ketidakseimbangan) antara penduduk Amerika Utara dan kebutuhan-kebutuhan industrialnya. Dari fakta itu, dapatlah dilihat kebijaksanaan apa yang dikembangkan Monsieur Proudhon ketika ia memanterakan hantu persaingan sebagai evolusi ketiga, antitesis terhadap permesinan!

Yang terakhir dan pada umumnya, adalah sepenuhnya absurd menjadikan “permesinan” sebagai suatu kategori ekonomi yang berdampingan dengan pembagian kerja, persaingan, kredit dan sebagainya.

Permesinan tidaklah lebih merupakan suatu kategori ekonomi layaknya lembu yang menyeret luku. Penerapan mesin dewasa ini merupakan salah satu hubungan sistem ekonomi kita masa kini, tetapi cara permesinan itu dipergunakan secara total berbeda dari permesinan itu sendiri. Bubuk tetaplah bubuk, apakah ia dipakai untuk melukai seseorang atau untuk mengobati luka-lukanya.

M. Proudhon melampaui dirinya sendiri ketika ia memperkenankan persaingan, monopoli, pajak-pajak atau polis-polis, neraca perdagangan, kredit dan pemilikan berkembang di dalam kepalanya menurut urutan sebagai aku menyebutkannya. Nyaris semua lembaga perkreditan telah dikembangkan di Inggris pada awal abad ke delapanbelas, sebelum penemuan mesin-mesin. Kredit publik hanyalah suatu cara segar untuk meningkatkan pemajakan dan pemuasan tuntutan-tuntutan baru yang diciptakan oleh naiknya burjuasi pada kekuasaan. Akhirnya, kategori terakhir dalam sistem M. Poroudhon terbentuk oleh pemilikan. Dalam dunia nyata, sebaliknya, pembagian kerja dan semua kategori M. Proudhon yang lainnya adalah hubungan-hubungan sosial yang dalam keseluruhannya membentuk apa yang dewasa ini dikenal sebagai pemilikan: di luar hubungan-hubungan ini, pemilikan burjuis tidak lain dan tidak lebih adalah suatu ilusi metafisikal atau juristik. Pemilikan, dalam suatu kurun waktu lain, misalnya pemilikan feodal, berkembang dalam serentetan hubungan-hubungan sosial yang sepenuhnya berlainan. M. Proudhon, dengan menegakkan pemilikan sebagai suatu hubungan yang bebas, melakukan lebih dari sebuah kesalahan dalam metode: ia dengan jelas menunjukan bahwa dirinya tidak menangkap hal ikatan yang meragamkan semua bentuk produksi burjuis, bahwa dirinya tidak memahami sifat “historis” dan “transitori” (sementara/peralihan) bentuk-bentuk produksi dalam suatu kurun waktu tertentu. M. Proudhon, yang tidak memandang lembahga-lembaga siosial kita sebagai produk-produk historis, tidak dapat memahami asal-usul maupun perkembangan mereka, ia hanya dapat menghasilkan kritik dogmatik tentang semua itu.

Karenanya, M. Proudhon terpaksa lari pada sebuah fiksi agar dapat menjelaskan perkembangan. Ia membayangkan bahwa pembagian kerja, kredit, permesinan, dan sebagainya., semuanya ditemukan untuk melayani ide pancangannya, ide mengenai persamaan/keadilan. Penjelasannya itu sungguh kepandiran sublim. Hal-hal itu ditemukan untuk kepentingan-kepentingan keadilan tetapi malangnya semua itu berbalik terhadap keadilan. Inilah seluruh persoalannya. Dengan kata-kata lain, M. Proudhon membuat suatu pengandaian mubazir dan kemudian, ketika perkembangan sesungguhnya bertentangan dengan fiksinya di setiap langkah dan sudut, ia menyimpulkan akan adanya suatu kontradiksi. Ia menyembunyikan fakta bahwa kontradiksi itu semata-mata ada antara ide-ide pancangannya dan gerak sesungguhnya.

Demikianlah M. Proudhon, karena terutama karena ia kekurangan pengetahuan historis, maka ia tidak memahami bahwa dengan berkembangnya tenaga-tenaga produktif manusia, yakni dalam kehidupan mereka, maka mereka mengembangkan hubungan-hubungan tertentu satu sama lainnya, dan bahwa sifat hubungan-hubungan itu mau tidak mau berubah bersama perubahan dan pertumbuhan tenaga-tenaga produktif itu. Ia tidak memahami bahwa “kategori-kategori ekonomi” hanyalah “ungkapan abstrak” dari hubungan-hubungan aktual tersebut dan hanyalah tetap berlaku selama hubungan-hubungan itu ada. Karena itulah, ia terjerumus ke dalam kesalahan para ahli ekonomi burjuis, yang menganggap kategori-kategori ekonomi itu sebagai hukum-hukum abadi dan tidak sebagai hukum-hukum historis yang, adalah, semata-mata hukum-hukum bagi suatu perkembangan historis tertentu dalam suatu perkembangan tertentu tenaga-tenaga produktif. Karena itu, menggantinya dengan menganggap kategori-kategori politikal-ekonomi ini sebagai ungkapan-ungkapan abstrak hubungan-hubungan sosial historis, transitori, yang sesungguhnya, Monsieur Proudhon, berkat suatu pembalikan mistik, melihat dalam hubungan-hubungan sesungguhnya itu cuma perwujudan dari abstraksi-abstraksi tersebut. Abstraksi-abstraksi itu sendiri adalah perumusan-perumusan yang ngendon di jantung Allah Bapa sejak awal dunia.

Tetapi, di sini, M. Proudhon kita yang baik itu sudah terjerumus ke dalam kejang-kejang intelektual yang amat sangat. Apabila semua kategori ekonomik itu adalah pancaran-pancaran dari jantung Tuhan, kehidupan yang tersembunyi dan kekal dari manusia, bagaimanakah kejadiannya, pertama-tama, bahwa ada yang disebut perkembangan dan, kedua, bahwa M. Proudhon bukan lah seorang konservatif? Ia menjelaskan kontradiksi-kontradiksi yang sangat jelas itu dengan suatu sistem antagonisme yang menyeluruh.

Untuk mendapatkan kejelasan mengenai sistem antagonisme-antagonisme itu marilah kita mengambil sebuah contoh.

“Monopoli” adalah sesuatu yang baik, karena ia adalah suatu kategori ekonomi dan karenanya suatu pancaran dari Tuhan. Persaingan adalah sesuatu yang baik karena ia juga suatu kategori ekonomi. Namun yang tidak baik adalah realitas dari monopoli dan realitas dari persaingan itu. Yang lebih buruk lagi adalah kenyataan bahwa persaingan dan monopoli saling mengganyang satu sama lain. Apakah yang harus dilakukan? Karena kedua ide kekal dari Tuhan itu saling berkontradiksi, maka tampaknya jelas sekali padanya bahwa terdapat juga di lubuk Tuhan suatu sintesis dari keduanya, di mana kejahatan-kejahatan monopoli diseimbangkan dengan persaingan dan sebaliknya (vice versa). Sebagai hasil pergulatan di antara kedua ide itu, hanya sisi baiknya yang akan tampak pada kita. Orang harus menyambar ide rahasia itu dari Tuhan dan kemudian menerapakannya dan segala sesuatu, dan akan jadilah yang paling baik; perumusan sintetik yang tersembunyi dalamn kegelapan nalar manusia, yang tidak mempribadi, harus diungkapkan. M. Proudhon tidak ragu-ragu sejenak pun untuk maju ke depan sebagai pengungkapnya.

Tetapi, lihatlah sejenak pada kehidupan nyata. Dalam kehidupan ekonomi masa kini, maka anda tidak hanya akan menjumpai persaingan dan monopoli, tetapi juga sintesis mereka, yang bukanlah sebuah “perumusan” (formula), melainkan adalah sebuah “gerakan.” Monopoli menghasilkan persaingan, persaingan menghasilkan monopoli. Tetapi kesetaraan itu, meripakan kesebalikan daripada menghilangkan kesulitan-kesulitan keadaan dewasa ini, sebagaimana para ahli ekonomi borjuis membayangkannya, yakni menghasilkan suatu situasi yang semakin sulit dan membingungkan. Maka, jika anda mengubah landasan yang di atasnya hubungan-hubungan ekonomi dewasa ini bertumpu, jika anda menghancurkan cara produksi “masa-kini,” maka anda tidak hanya akan menghancurkan persaingan, monopoli dan antagonisme mereka, melainkan juga akan menghancurkan kesatuan mereka, sintesis mereka, atau gerakan yang merupakan keseimbangan yang sesungguhnya dari persaingan dan monopoli.

Nah akan saya berikan sekarang sebuah contoh dari dialektika Monsieur Proudhon.

“Kebebasan” dan “perbudakan” merupakan sebuah antagonisme. Tidak perlu berbicara mengenai sisi baik dan sisi buruk dari kebebasan, juga–berbicara mengenai perbudakan–tidak perlu membicarakan sisi buruknya. Satu-satrunya hal yang harus dijelaskan adalah sisi baiknya. Kita tidak membicarakan perbudakan secara tidak langsung, atau perbudakan proletariat, tetapi mempersoalkan perbudakan langsung, perbudakan ras-ras hitam di Suriname, di Brazil, di negeri-negeri Bagian Selatan dari Amerika Utara.

Perbudakan langsung dewasa ini sepenuhnya merupakan poros industrialisme kita seperti halnya mesin, perkreditan dan sebagainya. Tanpa perbudakan tidak akan ada kapas; tanpa kapas tidak akan ada industri modern. Perbudakan telah memberi nilai pada koloni-koloni; koloni-koloni telah menciptakan perdagangan dunia; perdagangan dunia menjadi syarat mutlak bagi industri mesin besar-besaran. Demikianlah, sebelum lalu-lintas orang negro dimulai, koloni-koloni menyuplai Dunia Lama dengan produk-produk yang sedikit sekali dan tidak membuat suatu perubahan yang gamblang pada wajah bumi. Perbudakan, karenanya, merupakan suatu kategori ekonomi dengan arti-penting tertinggi. Tanpa perbudakan, maka Amerika Utara–negeri yang paling progresif–akan ditransformasi menjadi sebuah negeri patriarkal. Cukup anda menghapus Amerika Utara dari peta bangsa-bangsa, dan yang anda dapatkan adalah anarki, pembusukan total perdagangan dan peradaban modern. Tetapi, membiarkan perbudakan menghilang berarti menyapu Amerika Utara dari peta bangsa-bangsa. Dan, karena ia adalah suatu kategori ekonomik, kita mendapati perbudakan di setiap bangsa sejak awal dunia. Bangsa-bangsa modern cuma mengetahui caranya menyembunyikan perbudakan di negeri-negeri mereka sendiri, sambil secara terbuka mereka mengimportnya ke Dunia Baru. Sesudah pengamatan-pengamatan mengenai perbudakan itu, bagaimana kah M. Proudhon kita yang terhormat itu melanjutkannya? Ia akan mencari sintesis antara kebebasan dan perbudakan, jalan tengah atau keseimbangan antara perbudakan dan kebebasan.

Monsieur Proudhon telah dengan sangat baik menangkap kenyataan bahwa manusia memproduksi kain, lenan, sutera, dan adalah suatu jasa besar dari pihak M. Proudhon bahwa dirinya telah menangkap sejumlah hal kecil itu! Yang tidak ditangkapnya adalah bahwa orang-orang itu, sesuiai kemampuan-kemampuan mereka, telah juga memproduksi “hubungan-hubungan sosial” saat membuat kain dan lenan itu! Yang lebih tidak dipahaminya adalah bahwa orang-orang yang memproduksi hubungan-hubungan sosial mereka sesuai dengan produktivitas material mereka, juga memproduksi “ide-ide,” “kategori-kategori,” yaitu ekspresi ideal abstrak dari hubungan-hubungan sosial itu pula. Dengan demikian, kategori-kategori tidaklah lebih kekal-abadi daripada hubungan-hubungan yang mereka ekspresikan itu. Itu semua adalah produk-produk historis dan transitori.

Bagi M. Proudhon, sebaliknya, abstraksi-abstraksi, kategori-kategori adalah sebab primordial. Menurutnya, itulah, dan bukan manusia, yang membuat sejarah. “Abstraksi-abstraksi,” “kategori sebagaimana adanya,” yang terpisah dari manusia dan aktivitas material mereka, sudah barang tentu kekal, tidak bisa berubah, tidak digerakkan; ia hanyaklah satu bentuk dari keberadaan nalar murni; yang hanyalah merupakan satu cara lain untuk mengatakan bahwa abstraksi itu sendiri adalah abstrak. Sungguh sebuah tautologi yang mempesona!

Demikian, dipandang sebagai kategori-kategori, hubungan-hubungan ekonomi bagi M. Proudhon adalah formula-formula kekal-abadi tanpa asal-usul atau kemajuan.

Biarlah kita mengatakan dengan cara lain: M. Proudhon tidak secara langsung menyatakan bahwa “kehidupan burjuis” bagi dirinya adalah suatu “kebenaran abadi”; ia menyatakan itu secara tidak langsung dengan mendewakan kategori-kategori yang mengekspresikan hubungan-hubungan borjuis dalam bentuk pikiran. Ia menganggap produk-produk masyarakat borjuis sebagai makhluk-makhluk/keberadaan-keberadaan abadi yang lahir secara spontan, yang memberkati kehidupan mereka sendiri, seketika mereka itu menghadirikan diri mereka sendiri dalam pikirannya dalam bentuk kategotri-kategori, dalam bentuk pikiran. Jadi, ia tidak bangkit di atas kaki langit borjuis. Selagi dirinya beroperasi dengan ide-ide borjuis, kebenaran abadi yang dipraperkirakannya kemudian mencari suatu sintesis, suatu keseimbangan/ ekuilibrium dari ide-ide tersebut, dan tidak melihat bahwa metode satu itu, yang dengannya mereka mencapai ekuilibrium, adalah satu-satunya metode yang memungkinkannya.

Sesungguhnya, M. Proudhon telah melakukan apa yang dilakukan semua borjuasi yang baik. Mereka semua mengatakan bahwa pada azasnya, yaitu dipandang sebagai ide-ide abstrak, persaingan, monopoli, dan sebagainya, semua itu adalah satu-satunya landasan kehidupan yang, namun, di dalam praktek, masih menyisakan banyak sekali kekurangan. Semua, mereka it,u menghendaki persaingan tanpa akibat-akibat mematikan bagi persaingan. Semua, mereka itu, menginginkan yang tidak mungkin, yakni kondisi-kondisi keberadaan (kehidupan) burjuis tanpa keharusan konsekuensi-konskuensi dari kondisi-kondisi itu. Tiada di antara mereka memahami bahwa bentuk produksi burjuis adalah historis dan transitori, tepat sebagaimana bentuk feodal adanya. Kesalahan itu lahir dari kenyataan bahwa manusia borjuis bagi mereka merupakan satu-satunya landasan yang mungkin bagi setiap masyarakat; mereka tidak dapat membayangkan sebuah masyarakat di mana manusia berhenti sebagai borjuis.

Karena itu M. Proudhon tidak bisa tidak adalah seorang “doktriner.”

Baginya gerak historis yang menjungkir-balikkan dunia masa-kini telah menyusut menjadi masalah menemukan ekuilibrium yang tepat, sintesis dari dua pikiran borjuis. Dan dengan begitu, si pintar itu, dengan kelicikannya, dapat mengungkapkan pikiran Tuhan yangh tersembunyi, kesatuan dari dua pikiran terisolasi–yang hanya terisolasi karena M. Proudhon telah mengisolasinya dari kehidupan praktikal, dari produksi masa-kini, yaitu dari kesatuan realitas-realitas yang mereka ekspresikan.

Gantinya, gerakan bersejarah yang besar yang lahir dari konflik antara tenaga-tenaga produktif yang sudah dicapai oleh manusia dengan hubungan-hubungan sosial mereka yang sudah tidak bersesuaian lagi dengan tenaga-tenaga produktif tersebut; gantinya, peperangan-peperangan yang mengerikan yang sedang disiapkan antara berbagai kelas di dalam setiap bangsa dan di antara berbagai bangsa; gantinya, aksi massa yang praktikal dan penuh kekerasan sebagai penyelesaian satu-satunya untuk konflik-konflik tersebut–namun, gerakan besar, berkepanjangan dan rumit itu, oleh Monsieur Proudhon diganti sebagai gerak-ulah dari kepalanya sendiri. Jadinya, maka orang-orang terpelajar lah yang membuat sejarah, orang-orang yang tahu caranya mencuri pikiran-pikiran rahasia Tuhan. Orang-orang biasa cuma tinggal menerapkan wahyu-wahyu orang-orang terpelajar itu. Kini, anda mengertilah mengapa M. Proudhon bisa dinyatakan sebagai musuh dari setiap gerakan politik. Pemecahan bagi masalah-masalah sekarang ini, bagi dirinya, tidaklah terletak pada aksi publik, tetapi dalam perputaran dialektikal pikirannya sendiri. Karena baginya kategori-kategori itu adalah tenaga pendorong, maka tidak perlu mengubah kehidupan praktikal untuk mengubah kategori-kategori itu. Justru sebaliknya, orang harus mengubah kategori-kategori itu dan konsekuensinya adalah terjadinya perubahan dalam masyarakat yang ada itu.

Dalam hasratnya untuk mendamaikan kontradiksi-kontradiksi itu, Monsieur Proudhon bahkan tidak bertanya apakah landasan kontradiksi-kontradiksi itu sendiri tidak perlu ditumbangkan. Ia presis seperti doktriner politik yang menginginkan raja, dewan para wakil, dan dewan para sesepuh menjadi bagian-bagian integral dari kehidupan sosial, sebagai kategori-kategori abadi. Yang dicarinya hanyalah sebuah perumusan baru yang, dengannya, dibentuknya suatu keseimbangan/ekuilibrium antar kekuatan-kekuatan yang, padahal, keseimbangannya justru ada di dalam gerakan aktual, di mana kekuatan yang satu sekarang sedang menajdi penakluknya dan yang lainnya adalah budaknya. Demikianlah, dalam abad ke XVIII sejumlah pemikiran yang tanggung-tanggung (mediocre) sibuk mencari formula yang benar yang akan menyeimbangkan golongan-golongan sosial, kaum ningrat, raja, parlemen dan sebagainya dan, ketika mereka terbangun pada suatu pagi, mereka menemukan bahwa dalam kenyataan tidak ada lagi seorang pun raja, parlemen atau kaum ningrat. Ekuilibrium yang sesungguhnya dalam antagonisme tersebut adalah penumbangan semua hubungan sosial yang berlaku sebagai suatu landasan bagi keberadaan-keberadaan feodal tersebut dan bagi antagonisme-antagonisme eksistensi-eksistensi feodal tersebut.

Karena, di satu sisi, M. Proudhon menempatkan ide-ide abadi, kategori-kategori nalar murni dan, di sisi lain, menganggap makhluk manusia dengan kehidupan praktikalnya adalah terapan-terapan kategori-kategori tersebut, maka sejak awal orang bisa melihat bahwa di diri M. Proudhon terdapat suatu “dualisme” antara kehidupan dan ide-ide, antara roh dan tubuh, suatu dualisme yang berulang-jadi dalam banyak bentuk. Sekarang orang dapat melihat bahwa antagonisme itu tidak lain dan tidak bukan adalah ketidak-mampuan M. Proudhon untuk memahami asal-usul keduniawian dan sejarah keduniawian kategori-kategori yang didewa-dewakannya.

Suratku ini sudah menjadi terlalu panjang untuk berbicara lagi mengenai kasus yang absurd yang diangkat oleh M. Proudhon dalam memahami komunisme. Untuk sementara ini, sudilah anda membiarkan aku mengatakan bahwa seorang yang tidak memahami keadaan masyarakat sekarang, pastilah semakin tidak memahami gerakan yang cenderung akan menumbangkannya, dan semakin tidak memahami ungkapan-ungkapan literer dari gerakan revolusioner ini.

“Satu-satunya hal” yang sepenuhnya saya bersepakat dengan M. Proudhon adalah ketidaksukaannya akan mimpi-mimpi sosialistik yang sentimental di siang-hari bolong. Saya sendiri sudah, sebelum M. Proudhon, membuat diriku dimusuhi karena mencemoohkan sosialisme utopian, yang berotak-kosong dan sentimental itu. Tetapi, tidak kah M. Proudhon secara ganjil membohongi dirinya sendiri ketika ia membangun sentimentalitas borjuis-kecilnya–dalam hal ini, aku mengacu pada penolakannya mengenai rumah-tangga, cinta suami-isteri (konjugal) dan semua kedangkalan-kedangkalan seperti itu–secara berlawanan dengan sentimentalitas sosialis, yang pada Fourier, misalnya, adalah sangat lebih mendalam ketimbang pernyataan-pernyataan berulang yang penuh pretensi dari Proudhon kita yang terhormat itu? Ia sendiri begitu menyadari sendiri akan kehampaan argumen-argumennya, akan ketidakmampuannya yang setengah mati untuk berbicara mengenai hal-hal itu, sehingga ia meledak-ledak dalam amarah, keributan riuh-rendah dan murka (irae hominis probi), berbusa-busa mulutnya, mencaci-maki, mengumpat, menista dan menyumpah-nyumpah, memukul-mukul dadanya dan berteriak-teriak di hadapan Tuhan dan manusia bahwa dirinya tidak dicemari oleh kehinadinaan sosialis! Ia tidak dengan serius mengritik sentimentalitas-sentimentalitas sosialis, atau yang dianggapnya seperti itu. Bagaikan seorang suci, seorang paus, ia mengekskomunikasikan para pedosa yang malang dan menyanyikan kejayaan-kejayaan burjuasi-kecil dan dari ilusi-ilusi rumah-tangga yang penuh asmara serta patriarkal yang menyengsarakan. Dan itu bukan lah kebetulan belaka. Dari ujung rambut hingga telapak kakinya, M. Proudhon adalah filsuf dan ahli ekonomi borjuis-kecil. Dalam suatu masyarakat yang maju, sang borjuis-kecil, dari posisinya sendiri, niscaya (di satu sisi) adalah seorang sosialis dan (di sisi lain) seorang ahli ekonomi; artinya, ia silau dengan kemuliaan borjuasi besar dan bersimpati pada penderitaan rakyat. Ia sekaligus borjuis dan rakyat biasa. Di lubuk hatinya ia memuji diri sendiri bahwa dirinya tidak memihak dan telah menemukan keseimbangan yang tepat, yang mengklaim dirinya sebagai sesuatu yang berbeda karena bukan orang biasa-biasa saja. Seorang borjuis-kecil dari jenis ini memuliakan “kontradiksi” karena kontradiksi adalah landasan keberadaannya. Ia sendiri tidak bukan dan tidak lain adalah kontradiksi sosial yang sedang beraksi. Ia harus memberi pembenaran teori yang, dalam praktek, berwujud dirinya, dan M. Proudhon memahkotai dirinya sebagai penerjemah ilmiah borjuasi kecil Perancis–sebuah berkah sejati, karena burjuasi-kecil akan menjadi suatu bagian integral dari semua revolusi sosial yang akan datang.

Bersama surat ini, ingin sekali aku bisa mengirimkan pada anda bukuku mengenai ekonomi politik tetapi, sampai sejauh ini, aku tidak berhasil mencetakkan buku itu, dan juga tentang kritik atas para filsuf serta Sosialis Jerman yang aku bicarakan dengan anda di Brussel. Anda tidak akan percaya betapa banyaknya kesulitan yang dihadapi publikasi seperti itu di Jerman, kesulitan yang dari pihak kepolisian (di satu sisi) dan dari para penjual buku–yang merupakan wakil-wakil berkepentingan dari semua kecenderungan yang aku serang (di sisi lain). Dan mengenai Partai kita sendiri, ia tidak cuma sekadar miskin, tetapi sebagian besar dari Partai Komunis Jerman juga marah padaku karena aku telah menentang utopia-utopia dan hafalan-hafalan mereka.

Baca juga

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published. Required fields are marked *