Pengantar Lama untuk [Anti]-Dühring

Pengantar Lama untuk [Anti]-Dühring (1)

oleh: Friedrich Engels

Tentang Dialektika

Tulisan ini dibuat bukan karena dorongan “nurani untuk berdalih” (2). Sebaliknya, kawanku, Liebknecht, bisa menjadi saksi—ia berusaha keras membujukku agar aku menulis tangapan-kritik atas teori terbaru tentang sosialisme yang ditulis Herr Dühring. Begitu aku putuskan untuk menulisnya, maka tak ada pilihan lain kecuali menyelidiki teori tersebut yang, katanya, merupakan sitim filosofis baru yang membuahkan tuntunan praktis terbaru. Karenanya, sitim baru itu sendiri tersebut harus diuji. Dengan demikian terpaksa aku meneliti Herr Dühring, dengan merambah wilayahnya yang sangat luas—yang membicarakan segala hal yang sebisa-bisanya ia bicarakan, dan juga hal-hal lainnya. Itu lah asal-usul seri tulisan yang diterbitkan dalam Vorwärts Leipzig (3) mulai awal tahun 1877 dan seterusnya, yang sekarang aku sajikan seutuhnya.

Mengapa tulisan ini disajikan dengan begitu rinci—karena hakikat subyeknya, yakni kritik atas suatu sistem yang, sebenarnya, tak berarti selain memuji-muji diri sendiri—itu karena ada dua alasan yang perlu aku kemukakan. Di satu sisi, kritik ini akan memberikan kesempatan padaku untuk membeberkan—dalam bentuk positif berbagai bidang—pandanganku tentang berbagai masalah kontroversial yang, saat ini, memiliki makna ilmiah yang umum dan praktis. Dan, sejumput pun tak terpikir olehku ada suatu sistim alternatif lain yang ditawarkan oleh Herr Dühring; aku harapkan pembaca tidak luput melihat antar-kaitan dengan yang terkandung dalam pandangan-pandanganku yang telah aku ajukan sebelumnya, walaupun bahan yang aku uji sangat beraneka-aragam.

Di sisi lain, Herr Dühring, sang “pencipta-sistem”, sama sekali bukan lah merupakan suatu gejala yang terpisah/terisolir dari kondisi Jerman saat ini. Di Jerman, sudah demikian lama sistem-sistem filosofis—terutama filosofis alam—bermunculan berlusin-lusin bagaikan jamur di musim hujan, belum lagi munculnya sistem-sistem baru yang tak terhitung jumlahnya, apakah itu mengenai politik, ekonomi, dan sebagainya. Persis, layaknya negara modern, setiap warga negara sepertinya berkemampuan memberikan keputusannya terhadap segala masalah yang menyebabkan mereka terpanggil (bertanggungjawab) untuk memberikan suaranya; persis seperti dalam ilmu ekonomi yang mengasumsikan bahwa setiap pembeli adalah seorang ahli mengenai komoditi, yang bisa secara tepat membelinya untuk kepentingannya—asumsi-asumsi semacam itu lah yang harus diputuskan dalam ilmu-pengetahuan. Setiap orang bisa menulis mengenai segala hal, dan “kebebasan ilmu” justru diisi oleh orang-orang yang, dengan sengaja, menulis mengenai hal-hal yang belum mereka pelajari, dan mengemukakannya sebagai satu-satunya metode yang benar-benar ilmiah. Namun Herr Dühring, bagaimanapun juga, adalah tipe orang yang paling berkarakter—sangat congkak mengagung-agungkan ilmu-gadungan-nya—yang, saat ini, di mana pun di Jerman, menampilkan dirinya dan menenggelamkan segala hal ke dalam bualan-muluknya yang gegap-gempita—omong-kosong sublim (yang diagung-agungkan). (4) Omong-kosong sublim dalam puisi, dalam filsafat, dalam ekonomi, dalam historiografi; omong-kosong sublim di ruang-ruang ilmiah dan dipajang-pajang; omong-kosong sublim di mana-mana; omong-kosong sublim yang mengaku unggul dan mendalam pemikirannya yang, katanya, berbeda dengan omong-kosong pasaran yang sederhana dari bangsa-bangsa lain; omong-kosong sublim, produk massal industri intelektual Jerman yang paling berkarakter—murah tapi jelek—persis seperti barang-barang buatan-Jerman yang, sayangnya, omong-kosong sublim tersebut tidak dipamerkan bersama-sama di Philadelphia. (5) Bahkan, akhir-akhir ini, sosialisme Jerman—terutama setelah ada contoh yang paling bagus, yang bisa dilihat pada diri Herr Dühring—rakus pada omong-kosong sublim; apalagi, faktanya, gerakan praktis Sosial-Demokratik sedikit sekali membentengi omong-kosong sublim tersebut, membiarkan dirinya disesatkan oleh omong-kosong sublim tersebut, dan ada bukti lagi: bahwa keadaan kesehatan kelas pekerja kita sangat mengkhawatirkan apalagi mereka berada di negeri yang, sekarang ini, hampir segala sesuatunya, kecuali ilmu-pengetahuan alamnya, sedang dijangkiti penyakit.

Nägeli, dalam pidatonya di Munich, dalam pertemuan para sarjana ilmu-pengetahuan alam, mengajukan ide bahwa pengetahuan manusia tak akan pernah sampai memperoleh watak kemahatahuannya—ia pasti tidak tahu prestasi-prestasi Herr Dühring. Prestasi-prestasi tersebut memaksaku menelusuri sejumlah bidang yang, paling bagus sekalipun, hanya membuatku bekerja dalam kapasitas sebagai seorang pengamat, belum akhli (diletante). Terutama sekali dalam berbagai cabang ilmu-pengetahuan alam yang, bagi orang “awam”, dianggap sebagai kepongahan bila ikut-ikut mengatakan sesuatu tentangnya. Namun, aku sedikit banyak disemangati oleh suatu ungkapan yang diucapkan Herr Virchow—juga di Munich; dan di tempat lain didiskusikan dengan lebih rinci—bahwa, di luar bidang keahliannya sendiri, setiap sarjana ilmu-pengetahuan alam hanya lah seorang setengah-pemula (6), vulgo: awam. Tepat. Seorang ahli seperti dia saja bisa dan harus memberanikan diri, walau kadang-kadang harus bersinggungan dengan disiplin-disiplin ilmu yang mendekatinya—namun tentunya akan diberi kelonggaran oleh para akhli bersangkutan bila ada kekurangcermatan-kekurangcermatan kecil dan kecanggungan dalam mengungkapkannya. Dengan demikian, kuberanikan diriku mengutip proses-proses alamiah dan hukum-hukum alam sebagai contoh-contoh untuk membuktikan pandangan-pandangan teoritisku secara umum, dan aku berharap bahwa diriku memperoleh kelonggaran-kelonggaran tersebut. (7) Hasil-hasil yang dicapai oleh ilmu-pengetahuan alam modern memaksakan setiap orang untuk berurusan dengan masalah-masalah teoritis dan, dengan kekuatan tak-terelakkan yang sama juga, mendorong ilmuwan ilmu-pengetahuan alam sekarang ini mau-tak-mau harus memberikan kesimpulan-kesimpulan teoritis umum. Dalam hal itu, berlaku lah suatu kompensasi tertentu. Bila dikatakan bawa para ahli teori merupakan setengah-pemula di bidang ilmu-pengetahuan alam, maka para sarjana ilmu-pengetahuan alam sekarang ini sesungguhnya juga sama setengah-pemulanya di bidang teori, atau dalam bidang yang hingga kini disebut filsafat.

Ilmu-pengetahuan alam telah mengakumulasikan material positif dengan sedemikan massifnya, yang sangat berguna bagi ilmu-pengetahuan, oleh karena itu harus diklasifikasikan sedemikian rupa ke dalam bidang-bidang investigasi yang terpisah-pisah secara sistimastis. Dan didasarkan pada interkoneksi-dalamnya, ilmu-pengetahuan alam, secara absolut, sudah demikian intrukstifnya. Demikian pula, sudah begitu instruktifnya menggiring bidang pengetahuan yang terpisah-pisah tersebut (individual) ke dalam koneksi yang benar dengan yang lainnya. Ketika dilakukan, bagaimanapun juga, ilmu-pengetahuan alam akan masuk ke dalam bidang teori dan, dengan demikian, metode empirisisme tak bisa dipakai, hanya pemikiran teoritis lah yang akan banyak membantu. Tapi, pemikiran teoritis akan memiliki kualitas yang medalam (tidak empiris) sepanjang ia menghargai kapasitas hakikatnya. Kapasitas hakiki tersebut harus dikembangkan, diperbaiki dan, untuk memperbaikinya, tak ada cara lain kecuali mempelajari filsafat-filsafat sebelumnya.

Dalam setiap kurun, dan karenanya juga dalam kurun kita, pikiran teoritis merupakan sebuah produk historis yang, di waktu yang berbeda, bentuknya pun berbeda dan, dengan demikian, isi/kandungannya pun sangat berbeda pula. Ilmu mengenai pikiran karenanya, seperti semua ilmu lainnya, adalah suatu ilmu-pengetahuan historis, ilmu-pengetahuan mengenai perkembangan historikal pikiran manusia. Yang demikian juga penting sekali bagi penerapan-praktis pikiran dalam bidang-bidang empiris. Karena, pertama-tama, teori hukum-hukum pikiran sama sekali bukan lah suatu “kebenaran abadi” yang berlaku selamanya, seperti nalar cupet filistin (8) yang mereka-reka dengan menggunakan “logika”. Sejak zaman Aristoteles hingga sekarang, logika formal itu sendiri telah menjadi medan kontroversi yang sengit. Dan dialektika sejauh ini telah diteliti secara memadai, mendalam, hanya oleh dua pemikir, Aristoteles dan Hegel. Justru dialektika itu lah yang merupakan bentuk pemikiran yang paling penting bagi ilmu-pengetahuan alam saat kini, karena hanya dialektika lah yang menyediakan analogi dan, dengan demikian, memberikan metode penjelasan terhadap proses-proses evolusioner yang terjadi dalam alam, antar-kaitan antar-kaitan pada umumnya, dan transisi-transisi dari satu bidang penelitian ke bidang penelitian lainnya.

Kedua, mengakrabi pemikiran historis untuk melihat evolusi pikiran manusia, mengakrabi pandangan mengenai saling-koneksi umum dalam dunia eksternal, yang terungkap pada berbagai waktu, sangat dibutuhkan oleh atau merupakan syarat ilmu-pengetahun alam teoritis karena, memang, dianjurkan oleh ilmu-pengetahuan itu sendiri. Di Jerman, bagaimanapun juga, kurangnya keakraban dengan sejarah filsafat justru cukup sering dan, secara mencolok, dipamerkan. Proposisi-proposisi yang diajukan dalam filsafat abad-abad yang lalu, yang acapkali telah lama dikesampingkan secara filosofis, seringkali dikemukakan oleh para pakar ilmu-pengetahuan alam—yang menganggap teori usang tersebut sebagai kearifan keluaran baru, bahkan menjadi mode untuk beberapa saat. Benar-benar merupakan suatu prestasi besar ketika teori mekanika-panas menemukan teori yang memperkuat prinsip koservasi enerji dengan bukti-bukti yang masih segar, dan itu ditonjolkan kembali; tapi apakah prinsip tersebut bisa dikatakan sebagai sesuatu yang mutlak baru bila akhli fisika yang terhormat tersebut mengingat kembali bahwa hal tersebut pernah dirumuskan oleh Descartes? Karena ilmu fisika dan ilmu kimia mengulangi pekerjaannya secara ekslusif, hanya di tataran molekul-molekul dan atom-atom, maka, mau tidak mau, filsafat atomik Yunani kuno tampil kembali ke depan. Itu pun diperlakukan secara dangkal oleh yang terpintar di antara mereka! Jadi, Kekulé berkata pada kita (Ziele und Leistungen der Chemie) (9) bahwa Democritus, yang semestinya Leucippus, yang pertama menemukannya, namun ia bersikukuh bahwa Dalton lah yang paling pertama menyatakan eksistensi atom-atom elementer yang secara kualitatif berbeda-beda dan, katanya, Dalton lah yang pertama juga menemukan pengertian bahwa sumber atom-atom tersebut memiliki elemen-elemen berbeda-beda yang karakter bobotnya pun berbeda-beda. Padahal, setiap orang bisa membaca dalam Diogenes Laertius (X, 1, §§ 43-44 dan 61): bahwa Epicurus telah menemukan pengertian bahwa sumber atom-atom tersebut berbeda-beda bukan saja besaran dan bentuknya namun juga bobotnya, dengan demikian ia, dalam kerjanya, sudah akrab dengan bobot atom dan volume atom.

Tahun 1848, revolusi yang tak tuntas, yang sebenarnya tak memberikan apapun kecuali revolusi di bidang filsafat. Dengan menerjunkan diri ke bidang yang praktis, itu artinya menyiapkan industri modern dan penipuan, itu artinya memprakarsai kemajuan perkasa seperti yang telah dialami oleh ilmu-pengetahuan alam di Jerman, yang dibabtis oleh para pengkhotbah keliling karikatural—Vogt, Büchner, dan lainya—dan bangsa Jerman sedang dengan tegas membalikkan dirinya dari filsafat klasik Jerman yang telah tersesat di padang pasir Hegelianisme-Lama Berlin. Hegelianisme-Lama Berlin memang layak menerima (perlakuan) tersebut. Tapi suatu bangsa yang berniat mencapai puncak-puncak ilmu-pengetahuan tak mungkin berhasil tanpa pemikiran teoritis. Namun, tak hanya Hegelianisme, tapi dialektika juga dibuang ke laut—dan itu justru pada saat sifat dialektis proses-proses alami, tanpa bisa ditolak lagi, sedang mendesakkan dirinya ke dalam pikiran kita, dan saat—karenanya—hanya dialektika lah yang dapat membantu ilmu-pengetahuan alam menyeberangi bukit-bukit teori. Itu lah yang menyebabkan keheningan tanpa-daya metafisika-lama. Yang berlaku di kalangan umum sejak itu ialah, di satu pihak, refleksi-refleksi hambar terhadap Schopenhauer, yang gayanya hanya cocok sebagai kaum filistin, bahkan kemudian cocok bagi Hartmann; dan di pihak lainnya, materialisme vulgarnya si pengkhotbah keliling, Vogt dan Büchner. Di universitas-universitas, varitas-varitas eklektisisme yang paling beraneka-ragam bersaing satu sama lain, namun hanya memiliki satu kesamaan: semuanya hanya diramu dari fosil-fosil filsafat-filsafat lama dan semuanya sama-sama metafisik. Segala yang diselamatkan dari fosil-fosil filsafat klasik adalah neo-Kantianisme tertentu, yang kata akhirnya: “benda-dalam-dirinya-sendiri”, yang selama-lamanya tidak-bisa-dikenali, yang, sebenarnya, hanya sekeping Kantianisme yang paling tidak layak dilestarikan. Hasil akhirnya: ketidakutuhan dan kebingungan pikiran teoretis, yang kini berkuasa.

Orang nyaris tidak bisa memungut satu buku teori pun mengenai ilmu-pengetahuan alam tanpa memperoleh kesan bahwa para sarjana ilmu-pengetahuan alam alam itu sendiri pun merasa betapa mereka sedang dikuasai oleh ketidakutuhan dan kebingungan tersebut, sedangkan apa yang dinamakan filsafat, yang kini beredar, sama sekali tak menawarkan suatu jalan keluar bagi mereka. Dalam hal itu, memang benar-benar tak ada jalan keluar, tak ada kemungkinan untuk mendapatkan kejelasan, kecuali berpindah, dengan satu atau lain bentuk, dari pemikiran metafisik kepada pemikiran dialektis.

Perpindahan ke pemikiran dialektis tersebut bisa dilakukan dalam berbagai cara. Bisa terjadi secara spontan, semata-mata karena kekuatan penemuan-penemuan ilmu-pengetahuan alam itu sendiri, yang menolak dipaksa masuk ke dalam metafisika Procrustean-lama. Tapi proses tersebut akan berkepanjangan, akan menyita banyak tenaga, padahal bisa digunakan untuk menanggulangi begitu banyaknya friksi yang tak perlu. Dalam banyak hal, proses tersebut sudah berlangsung, terutama dalam biologi. Proses tersebut sebenarnya bisa dipersingkat jika para ahli teori di bidang ilmu-pengetahuan alam lebih mengakrabkan diri pada filsafat dialektika dalam bentuk-bentuk yang, secara historis, telah ada. Di antara bentuk-bentuk yang ada, terdapat dua yang, mungkin, khusus bermanfaat bagi ilmu-pengetahuan alam modern.

Yang pertama adalah filsafat Yunani. Dalam filsafat Yunani, dialektika masih tampil dalam bentuk kesederhanaannya yang murni, masih belum terganggu oleh rintangan-rintangan (10) memukau yang dipajang oleh metafisika abad ke tujuhbelas dan ke delapanbelas-—Bacon dan Locke di Inggris, Wolff di Jerman—yang, karena caranya sendiri, menghambat kemajuannya sendiri, sehingga kemudian tidak bisa memahami apa itu bagian dan apa itu keseluruhan, juga tidak bisa memahami inter-koneksi umum benda-benda. Di antara orang-orang Yunani—karena mereka belum cukup maju untuk membedah, menganalisa alam—alam masih dipandang sebagai suatu keutuhan, sebagai sesuatu yang umum. Keterkaitan universal gejala-gejala alam tak terbukti bila kita tak mengerti partikular-partikular; bagi orang-orang Yunani hal tersebut merupakan hasil dari kontemplasi (renungan) langsung. Di situ lah letak kekurangan filsafat Yunani yang menyebabkan ia kemudian harus mengalah pada model-model pandangan lain mengenai dunia. Tetapi di situ pula letak keunggulannya ketimbang semua lawan metafisik mereka berikutnya. Sehubungan dengan Yunani, metafisika benar dalam partikular-partikular; sehubungan dengan metafisika, Yunani benar dalam jeneralisasi. Itu lah alasan pertama mengapa kita harus tertarik pada filsafat, sebagaimana juga bidang-bidang lainnya (yang begitu banyak), yang harus dihubungkan dengan filsafat, agar bisa kembali dan kembali lagi kepada prestasi-prestasi sedikit orang itu, yang memiliki bakat dan aktivitas universal, yang menyempurnakan perkembangan manusia—dan itu tak bisa diklaim oleh siapapun. Alasan lainnya, bagaimanapun juga: bahwa berbagai bentuk filsafat Yunani, dalam embrionya, dalam awal kelahirannya, sudah terkandung hampir semua cara pandang dunia yang ada pada filsafat setelahnya. Karena itu, ilmu-pengetahuan alam teoretis juga harus kembali ke Yunani bila ia berhasrat menelusuri kembali sejarah asal-usul dan perkembangan prinsip-prinsip umum yang dipakainya saat ini. Dan cara pandang tersebut kini semakin mengedepan. Semakin jarang saja contoh-contoh ilmuwan pengetahuan alam yang, sambil beroperasi dengan fragmen-fragmen filsafat Yunani—misalnya filsafat atomik, juga filsafat tentang kebenaran-kebenaran abadi—memandang rendah Yunani (dengan kecongkakan Baconian) karena Yunani tak memiliki ilmu-pengetahuan alam empiris. Akan sangat menggairahkan bila upaya untuk memajukan pandangan tersebut dapat diakrabkan dengan filsafat Yunani.

Bentuk kedua dialektika, yang paling dekat pada para naturalis Jerman, adalah filsafat Jerman klasiknya Kant dan Hegel. Di Jerman, sekarang sudah dilakukan upaya-upaya awal, misalnya, telah menjadi mode untuk kembali pada Kant, bahkan terpisah dari neo-Kantianisme (sepotong-sepotong) seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya. Sejak diketahui bahwa Kant adalah penulis dari dua hipotesis yang brilyan yang, tanpa itu, ilmu-pengetahuan alam teoritis sekarang ini jelas-jelas tak bisa maju—yakni teori (yang tadinya dianggap sebagai penemuan Laplace) mengenai asal-usul sistem matahari dan teori mengenai penghambatan peredaran (rotasi) bumi oleh pasang-surut—dan Kant kembali dihormati oleh kalangan ilmuwan ilmu-pengetahuan alam, yang memang layak diterima oleh Kant. Namun mempelajarai dialektika dalam karya-karya Kant akan merupakan suatu tugas yang sia-sia, membuang banyak tenaga, dan ganjarannya sedikit, karena kini sudah ada, dalam karya-karya Hegel, deretan garis besar komprehensif tentang dialektika, walaupun dikembangkan dari titik-berangkat yang sama sekali salah.

Setelah, di satu pihak, reaksi menentang “filsafat alam” tak memiliki wacana dan merosot menjadi sekadar cercaan—suatu reaksi yang sebagian besar diberi alasan karena kesalahan titik-berangkatnya dan pemerosotan (yang tak tertolong lag) akibat Hegelianisme Berlin; dan setelah, di pihak lain, ilmu-pengetahuan alam terang-terangan ditinggalkan luluh lantak oleh metafisika eklektik karena kekurangan syarat-syarat teoritiknya, maka barangkali ada kemungkinan untuk sekali lagi menyebut nama Hegel di depan para ilmuwan ilmu-pengetahuan alam tanpa memancing tarian St.Vitus yang (begitu mengasyikkan) dipertontonkan Herr Dühring.

Pertama-tama, harus ditegaskan bahwa, dalam hal ini, masalahnya bukan lah untuk membela kelemahan titik-berangkat Hegel—yang berkesimpulan bahwa jiwa, pikiran, ide, adalah primer dan dunia nyata sekadar fotokopi dari ide. Feuerbach sudah meninggalkan kesimpulan tersebut. Kita semua setuju, bahwa di setiap bidang ilmu-pengetahuan, baik dalam ilmu-pengetahuan alam maupun ilmu-pengetahuan sejarah, orang harus memulainya dari fakta-fakta yang sudah tersedia (given facts)—dalam ilmu-pengetahuan alam, karenanya, dimulai dari berbagai bentuk material dan berbagai bentuk gerak materi; karenanya, dalam ilmu-pengetahuan alam teoritis (juga), inter-koneksi inter-koneksi tidak dibentuk menjadi fakta-fakta tapi harus diselidiki di dalamnya dan, saat ditemukan, harus diverifikasi sejauh mungkin lewat eksperimen.
Masalahnya juga bukan untuk membela isi dogmatik sistem Hegelian sebagaimana dikhotbahkan oleh para Hegelian Berlin, baik dari aliran yang lebih tua maupun dari aliran yang lebih muda. Oleh karena itu, bila titik-berangkat idealis sudah bisa ditumbangkan, maka sistim yang dibangun di atas titik-berangkat tersebut—khususnya filsafat alam Hegelian—juga ikut tumbang. Namun harus diingatkan kembali, bahwa polemik ilmuwan ilmu-pengetahuan alam ketika menentang Hegel, sejauh mereka memang memahami Hegel secara tepat, semata-mata ditujukan terhadap dua hal: yaitu, titik-berangkat idealis tersebut, dan konstruksi sistem yang arbiter (serampangan) serta mengingkari fakta.

Setelah semua nya dijadikan bahan pertimbangan, sebenarnya masih ada juga yang tersisa dari dialektika Hegel. Karena jasa Marx lah—berbeda dengan Eniyovo (11) yang cuma setengah-setengah saja, tanggung-tanggung, congkak, cerewet, genit, tapi kini bekoar-koar di Jerman yang berkebudayaan—untuk yang pertama kalinya, metode dialektika diangkat kembali setelah dilupakan. Marx pula lah yang bisa menjelaskan kaitan dan perbedaan dialektikanya dengan dialektika Hegelian dan, pada saat yang sama, menerapkan metode tersebut—dalam karyanya, Capital—pada fakta-fakta ilmu-pengetahuan empiris, ekonomi politik. Dan ia berhasil melakukannya sehingga, bahkan di Jerman pun, aliran ekonomi baru mengangkat-ngangkat perbincangan mengenai sistem perdagangan-bebas—yang masih vulgar karena hanya menyalinnya dari Marx (namun sering meleset)—dengan alasan (berpura-pura) mengritiknya.

Dalam dialektika Hegel masih berlaku posisi-terbalik, yang juga berlaku baik dalam semua inter-koneksi maupun dalam semua cabang lain dalam sistemnya. Tapi, sebagaimana yang dikatakan Marx: “Di tangan Hegel, Mistifikasi yang diderita dialektika sedikit pun tak menghalanginya untuk menjadi yang pertama menyajikan bentuk umum bagaimana dialektika bekerja secara konprehensif dan dengan cara yang sadar. Oleh Hegel dialektika diberdirikan oleh kepalanya. Dialektika harus dibalikkan agar berdiri secara benar, agar orang bisa menemukan inti-rasional di balik kulit mistiknya.” (12)

Dalam ilmu-pengetahuan alam sendiri, cukup sering kita menemukan teori-teori yang relasi nyatanya berdiri dengan kepalanya, refleksinya diambil dari bentuk aslinya, karenanya harus dibalik agar berdiri dengan kakinya. Teori-teori seperti itu cukup sering mendominasi dalam jangka waktu yang panjang. Selama hampir dua abad, panas itu dipandang sebagai suatu zat istimewa yang misterius, padahal hanyalah merupakan bentuk gerak materi biasa, tapi itu lah memang yang terjadi. Dan teori mekanik mengenai panas lah yang melakukan pembalikan tersebut. Namun begitu, ilmu fisika didominasi oleh teori kalori, yang menemukan serangkaian hukum yang sangat penting mengenai panas dan membuka jalan, khususnya melalui Fourier dan Sadi Carnot, (13) bagi konsepsi yang benar, sehingga kini bagian-bagiannya telah membalikkan secara tepat hukum-hukum yang ditemukan oleh pendahulunya, atau untuk menerjemahkannya ke dalam bahasanya sendiri. (14) Demikian pula dalam ilmu-kimia, teori folgistik (15) (phlogistic) pertama-tama memberikan bahannya, yang diambil dari seratus tahun kerja eksperimentasi, dan dengan bantuan Lavoisier berhasil menemukan—di dalam oksigen yang ditemukan Priestley—penangkal sesungguhnya terhadap fantasi folgiston sehingga bisa membuang jauh-jauh seluruh teori folgistik. Tapi hal itu bukan berarti bisa menyingkirkan sama sekali hasil-hasil eksperimentasi ilmu folgistik. Bahkan sebaliknya. Teori-teori folgistik tetap bertahan, hanya formulasinya saja yang dibalikkan, sudah diterjemahkan dari folgistik ke dalam bahasa kimia yang kini berlaku dan, dengan demikian, teori-teori folgistik masih mempertahankan kesahihannya.

Hubungan dialektika Hegelian terhadap dialektika rasional sama seperti hubungan teori kalori terhadap teori mekanik (mengenai panas) dan hubungan teori folgistika terhadap teori Lavoisier.

***

Catatan:

1. Marx, Karl dan Engels, Frederick, Selected Works, Vol. 3 (Progress Publishers: Moscow, 1977), hal. 58.

2. Ada yang menerjemahkan “dorongan kalbu”; atau mungkin bisa juga “kalbu berkilah” atau “kilah lubuk hati”; yakni memberikan alasan/penolakan yang datang dari lubuk hati, kalbu atau nurani. (—ed.)

3. Vorwärts (maju)—organ sentral Partai Buruh Sosialis Jerman, yang diterbitkan di Leipzig dari 1 Oktober, 1876, hingga 27 Oktober, 1878. Tulisan Engels, Anti-Dühring, diterbitkan dalam organ tersebut antara 3 Januari, 1877, hingga 7 Juli, 1878.

4. Pikiran-pikiran, pendapat-pendapat, atau kesimpulan-kesimpulan primitif yang disampaikan oleh orang kuno, bodoh, kepada intelektual modern; Merriam Webster’s Collegiate Dictionary, Tenth Edition (Merriam-Webster, Incorporated: Springfield, Massachusetts, USA,1996) hal.1172. (—ed.)

5. Mengacu ke Pameran Industri Dunia ke VI, yang dibuka di Philadelphia, Amerika Serikat, pada tanggal 10 Mei, 1876; empatpuluh negeri turut berpartisipasi dalam pameran tersebut, termasuk Jerman. Pameran tersebut membuktikan bahwa industri Jerman masih ketinggalan dan dijuluki berprinsip “murah tapi jelek.”

6. Mengacu pada pidato Nägeli dan Virchow di Kongres Sarjana-sarjana ilmu-pengetahuan alam dan fisika Jerman, September, 1877, dan juga mengacu pada proposisi Virchow dalam bukunya Die Freiheit der Wissenschaft im modernen Staat (kebebasan ilmu dalam negara modern), Berlin, 1877, hal. 13. Bahan-bahan Kongres diterbitkan dalam Tageblatt der 50. Versammlung deutscher Naturforscher und Aerzte in München 1877 (buletin kongres sarjana-sarjana Ilmu-pengetahuan alam dan fisika Jerman ke-50 di Münich, 1877).

7. Engels tidak mau lagi menggunakan teks tersebut—ia mencoretnya—karena ia menggunakannya dalam Pengantar edisi pertama Anti-Dühring.

8. Philistine: Penduduk asli Palestian-kuno barat daya; seseorang—yang di luar kebiasaan masyarakatnya, sering tak menggunakan tudung kepala—yang dipandu oleh filsafat materialisme dan selalu mengagung-agungkan pemikiran-pemikiran intelektual dan nilai-nilai artistik; seseorang yang kurang pengetahuannya dalam pengetahuan tertentu; Merriam Webster’s Collegiate Dictionary, Tenth Edition (Merriam-Webster, Incorporated: Springfield, Massachusetts, USA,1996) hal.872. (—ed.)

9. Engels mengacu pada pamflet Kekulé Aims and Achievements of Chemistry, yang terbit di Bonn pada tahun 1878. (—ed.)

10. “Enchanting Obstacle” (holde Hindernisse); hambatan tapi memukau—suatu ungkapan dari New Springnya Heine, prolog. (—ed.)

11. Mengacu pada filosof-filosof borjuis Jerman seperti Büchner, Lange, Dühring, Fechner dan yang lain-lainnya; Marx, Karl dan Engels, Frederick, Selected Works, Vol. 2 (Progress Publishers: Moscow, 1977), hal. 98.

12. Marx, Karl dan Engels, Frederick, Selected Works, Vol. 2 (Progress Publishers: Moscow, 1977), hal. 98.

13. Mengacu pada buku-buku: J.B.J. Fourier, Thëorie analytique de la chaleur (analisa teori tentang Panas), Paris, 1822 dan S. Carnot, Rëflexions sur la puissance motrice du feu et sur les machines propes à développer cette puissance (refleksi terhadap kekuatan motif api dan mesin untuk mengembangkan kekuatan tersebut), Paris, 1824. Engels kemudian mengacu pada fungsi C dalam catatan halaman 73-79 buku Carnot.

14. Fungsi C Carnot secara harfiah membalikkan: 1/c = temperatur absolut. Tanpa pembalikan tersebut tak satu pun bisa dikerjakan olehnya [catatan Engels].

15. Menurut pandangan yang berlaku dalam ilmu kimia pada abad ke-18, folgiston (phlogiston) dianggap sebagai prinsip pembakaran (kerentanan daya bakar, mudah terbakar, mudah panas, mudah meledak) yang diperkirakan, diharapkan, eksis dalam raga-raga (bodies) yang mudah terbakar. Kerapuhan teori tersebut dibuktikan oleh Lavoisier, akhli kimia terkemuka Perancis, yang memberikan suatu penjelasan yang benar tentang proses pembakaran, yakni sebagai kombinasi kimia antara zat-zat yang mudah terbakar dengan oksigen.

Baca juga

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.