Manifesto Partai Komunis

Oleh: Karl Marx & Friedrich Engels (1)

Ada hantu berkeliaran di Eropa, hantu komunisme. Semua kekuasaan di Eropa-lama telah menyatukan diri ke dalam suatu persekongkolan keramat—Paus dan T’sar, Metternich (2) & Guizot (3), kaum Radikal Prancis (4) dan mata-mata polisi Jerman—untuk mengusir hantu tersebut.

Di mana kah ada partai oposisi yang tidak dicaci sebagai Komunis oleh lawan-lawannya yang sedang berkuasa? Di mana kah ada partai oposisi yang tidak membalas tuduhan, cap, Komunisme, baik kepada partai-partai oposisi yang lebih progresif maupun kepada lawan-lawannya yang reaksioner?

Dari kenyataan tersebut, dua hal dapat disimpulkan.

I. Semua kekuasaan di Eropa telah mengakui Komunisme sebagai suatu kekuasaan pula.

II. Telah tiba waktunya bagi kaum Komunis harus terang-terangan menyiarkan pandangan-pandangan mereka, cita-cita mereka, tujuan-tujuan mereka, aliran mereka ke seluruh dunia, dan melawan dongengan kanak-kanak tentang hantu Komunisme tersebut dengan suatu manifesto partai Komunis.

Guna maksud tersebut, kaum Komunis berbagai kebangsaan telah berkumpul di London, dan merencanakan menerbitkan manifesto berikut ini dalam bahasa Inggris, Prancis, Jerman, Italia, Vlam dan Denmark.

I

BORJUIS DAN PROLETAR

Sejarah semua masyarakat hingga sekarang ini adalah sejarah perjuangan kelas.

Sejarah perjuangan kelas orang-orang yang diperbudak melawan orang-orang merdeka, orang udik (plebeian) (5) melawan ningrat (patrician) (6), hamba melawan tuan bangsawan, buruh magang melawan pemilik gilda, pendeknya: si tertindas melawan si penindas, mereka semua senantiasa ada dalam pertentangan satu dengan yang lainnya, melakukan perjuangan yang tiada putus-putusnya, kadang-kadang dengan sembunyi-sembunyi, kadang-kadang dengan terang-terangan, setiap perjuangan yang bisa saja diakhiri dengan penyusunan-kembali masyarakat umum, atau kelas-kelas yang saling bermusuhan tersebut sama-sama binasa.

Dalam zaman permulaan sejarah, hampir di mana pun, kita dapati suatu susunan rumit masyarakat yang terbagi menjadi berbagai golongan, menjadi banyak tingkatan kedudukan sosial, misalnya, di Roma purbakala terdapat kaum ningrat, kaum ksatria, orang-orang udik, dan kaum budak serta, dalam Zaman Tengah, terdapat kaum feodal, kaum pesuruh/budak (vassals), kaum pemilik gilda, kelas buruh magang, kaum malang, dan kaum hamba; dalam hampir semua kelas tersebut terdapat lagi tingkatan-tingkatan bawahannya.

Masyarakat borjuis moderen, yang tumbuh dari runtuhan masyarakat feodal, tidak lah menghilangkan pertentangan-pertentangan kelas. Ia hanya menciptakan kelas-kelas baru, syarat-syarat penindasan baru, bentuk-bentuk perjuangan baru, sebagai pengganti yang lampau. Zaman kita, zaman borjuis, mempunyai sifat yang istimewa: ia telah menyederhanakan pertentangan-pertentangan kelas. Masyarakat seluruhnya semakin lama semakin terpecah menjadi dua golongan besar yang langsung berhadapan satu dengan yang lainnya—borjuis dan proletar.

Dari kaum hamba pada Zaman Tengah timbul lah wargakota (dari kota-kota yang paling permulaan) yang berhak-penuh. Dari wargakota-kota ini berkembang lah anasir-anasir pertama borjuis.

Ditemukannya benua Amerika dan dikelinginya Tanjung Harapan di Afrika Selatan memberikan lapangan baru bagi borjuis yang sedang tumbuh; pasar-pasar di Hindia Timur dan Tiongkok, kolonisasi atas Amerika, perdagangan dengan tanah-tanah jajahan, bertambah banyaknya alat pertukaran dan barang dagangan pada umumnya, memberikan kepada perdagangan, kepada pelayaran, kepada industri, suatu dorongan yang tak pernah dikenal sebelumnya, dan bersamaan dengan itu mendorong (maju dengan lebih cepat) anasir-anasir revolusioner dalam masyarakat feodal yang sedang runtuh tersebut.

Sistim industri feodal, dalam arti produksi industri yang semata-mata dimonopoli oleh gilda-gilda, sekarang tidak lagi mencukupi kebutuhan-kebutuhan pasar-pasar baru yang semakin bertambah. Sistim manufaktur (7) lah yang kemudian menggantikannya. Pemilik-pemilik gilda didesak keluar oleh kelas menengah manufaktur; pembagian kerja di antara berbagai gabungan gilda hilang dengan lahirnya pembagian kerja di setiap bengkel pertukangan yang memisahkan dirinya masing-masing.

Sementara itu pasar-pasar senantiasa semakin meluas, kebutuhan senantiasa bertambah. Sistim manufaktur itu pun tak lagi mencukupinya. Segera sesudah itu uang dan mesin-mesin merevolusionerkan produksi industri. Kedudukan manufaktur diambilalih industri modern raksasa, kedudukan kelas menengah industri digantikan oleh milyuner-milyuner industri, pemimpin-pemimpin kesatuan (lengkap) pasukan industri, kelas borjuis modern.

Industri modern telah menciptakan pasar dunia, yang telah dibukakan jalannya dengan ditemukannya Amerika. Pasar tersebut kemudian memberikan kemajuan mahabesar pada perdagangan, pada pelayaran, pada perhubungan darat. Kemajuan tersebut, pada gilirannya, bereaksi terhadap meluasnya industri. Dan sebanding dengan meluasnya industri, perdagangan, pelayaran, perbubungan kereta api, maka borjuis pun semakin maju, kapitalnya bertambah dan mendesak ke belakang setiap kelas peninggalan Zaman Tengah.

Oleh sebab itu, tahu lah kita bagaimana borjuis modern itu sendiri adalah hasil dari perjalanan perkembangan yang lama, dari suatu rangkaian revolusi-revolusi dalam cara produksi dan cara pertukaran.

Tiap langkah dalam perkembangan borjuis diikuti pula oleh suatu kemajuan politik yang sesuai dengan kelas tersebut. Masyarakat yang memiliki ciri-ciri yang kelas tertindasnya berada di bawah kekuasaan bangsawan feodal, yang memiliki suatu perserikatan bersenjata, dan yang memerintah komune Zaman Tengah secara mandiri—dalam hal ini adalah berupa republik-kota yang merdeka (seperti di Italia dan Jerman), di lain tempat berupa ‘pangkat ketiga’ (8) wajib-pajak dalam monarki (seperti di Perancis)—kemudian bergerak ke masa manufaktur yang sebenarnya, namun yang masih mengabdi pada monarki setengah-feodal (9), atau pada monarki absolut. Kekuatan baru pada masa manufaktur tersebut mulai menjadi kekuatan pengimbang terhadap kelas bangsawan—dalam kenyataannya, merupakan batu pijakan titik berangkat monarki-monarki besar pada umumnya—dan pada pada akhirnya menjadi masyarakat borjuis, sejak berdirinya industri modern dan pasar dunia, karena telah merebut demi dirinya sendiri segenap kekuasaan politik negara konstitusionil modern. Badan exekutif negara modern hanya lah merupakan sebuah komite untuk mengatur urusan-urusan bersama seluruh borjuis.

Borjuis, secara historis, telah memainkan peranan yang sangat revolusioner.

Borjuis, di mana saja, telah memperoleh kekuasaannya, telah mengakhiri semua hubungan feodal patriarkal, telah menggakhiri hubungan feodal pedesaan. Borjuis dengan tak kenal belas kasih telah merenggut putus pertalian feodal yang beranekaragam, yang mengikat manusia pada ‘atasan alamiahnya’, dan tak meninggalkan ikatan lain antar manusia selain kepentingan dirinya semata, selain daripada ‘pembayaran tunai’ yang kejam. Ia telah menghanyutkan getaran-suci damba keagamaan yang paling memabukkan sekalipun, menghanyutkan gairah kekesatriaan, menghanyutkan sentimentalisme filistin, ke dalam air dingin perhitungan egois. Ia telah menukar harga diri dengan nilai-tukar dan, sebagai gantinya, diperoleh lah tumpukan pakta kebebasan yang tak terhitung jumlahnya, yang telah disahkan undang-undang yang tak boleh semena-mena dibatalkan, suatu kebebasan yang tidak didasarkan pada akal sehat—perdagangan bebas. Pendek kata, penghisapan yang diselimuti oleh ilusi-ilusi keagamaan dan politik digantikan oleh penghisapan yang terang-terangan, tak kenal malu, langsung, ganas.

Borjuis telah menanggalkan anggapan mulia terhadap setiap jabatan yang selama ini dihormati dan dipuja dengan penuh ketaatan. Ia telah mengubah dokter, advokat, pendeta, penyair, sarjana menjadi buruh-upahannya yang ia bayar.

Borjuis telah merobek-robek selubung perasaan kekeluargaan, dan memerosotkannya menjadi hubungan-uang belaka. Borjuis telah membongkar makna pertunjukan kekuatan (yang sangat kasar) pada Zaman Tengah, yang begitu dikagumi oleh kaum reaksioner itu, dengan julukan imbangan: kemalasan yang paling lamban. Borjuis lah yang pertama-tama menunjukkan apa yang dapat dan seharusnya dihasilkan oleh kegiatan manusia. Ia telah melahirkan keajaiban-keajaiban yang jauh melampaui piramida-piramida Mesir, saluran-saluran-air Roma dan katedral-katedral gotik; ia telah melakukan ekspedisi-ekspedisi yang sangat berlainan ketimbang sekadar perpindahan-perpindahan bangsa-bangsa (10) dan perang-perang salib (11) di masa lalu.

Borjuis tak dapat hidup tanpa senantiasa merevolusionerkan perkakas-perkakas produksinya dan, karenanya, merevolusionerkan hubungan-hubungan produksi dan, dengan itu semuanya, merevolusionerkan segenap hubungan dalam masyarakat. Sebaliknya, mempertahankan cara-cara produksi lama, dalam bentuknya yang tak berubah, adalah sarat hidup pertama bagi segala kelas industri yang lama. Senantiasa merevolusionerkan produksi, kekacauan segala kondisi sosial yang tiada putus-putusnya, ketiadaan kepastian dan kegelisahan abadi, adalah hal-hal yang membedakan zaman borjuis dengan semua zaman terdahulu. Segala hubungan yang telah ditetapkan, yang telah beku dan berkarat, dengan rentetan prasangka-prasangka serta pendapat-pendapat kuno yang disegani, disapu bersih, segala yang tadinya baru segera bisa dibentuk menjadi usang sebelum membatu. Segala yang padat menguap ke udara, segala yang suci dinodai dan, pada akhirnya, manusia terpaksa menghadapinya dengan hati tenang semua syarat-syarat hidupnya yang sebenarnya, juga syarat-syarat hubungan-hubungannya dengan sesamanya.

Kebutuhan untuk senantiasa memperluas pasar bagi barang-barang hasil produksi merupakan dorongan di kalangan borjuis untuk merangkul muka bumi dengan barang-barangnya. Ia harus berada di mana-mana, bertempat di mana-mana, menjalin hubungan-hubungan di mana-mana.

Melalui penghisapannya atas pasar dunia, borjuis telah memberikan sifat kosmopolitan kepada produksi dan konsumsi di tiap-tiap negeri. Kaum Reaksioner meratap sedih karena borjuis telah menyeret dari bawah kakinya pijakkan bumi industri bangsanya.

Setiap harinya, Semua industri bangsanya yang sudah lapuk dihancurkan atau sedang dalam proses penghancuran. Semuanya diganti oleh industri-industri baru yang pelaksanaannya memang menjadi masalah hidup-mati bagi semua bangsa yang akan menjadi beradab, diganti oleh industri-industri yang tidak lagi mengerjakan bahan mentah dari negerinya sendiri, tetapi bahan mentah yang didatangkan dari wilayah-wilayah-dunia yang paling jauh letaknya sekalipun, diganti oleh industri-industri yang hasil-hasilnya tidak saja dipakai di dalam negeri tetapi di setiap pelosok dunia. Sebagai pengganti kebutuhan-kebutuhan masa lampau, yang hanya dipuaskan oleh produksi negerinya sendiri, muncul lah kebutuhan-kebutuhan baru, yang dipuaskan oleh hasil-hasil dari negeri-negeri serta daerah-daerah beriklim berbeda, yang sangat jauh letaknya. Sebagai pengganti keadaan lama yang terasing, keadaan yang hanya mencukupi-kebutuhan-sendiri secara lokal maupun secara bangsa, muncul lah hubungan ke segala jurusan, keadaan saling-tergantung yang universal di antara bangsa-bangsa. Dan, seperti halnya dengan produksi material, demikian juga lah keadaannya dalam hal produksi intelektual. Ciptaan-ciptaan intelek dari satu bangsa kemudian menjadi milik bersama. Kesepihakan serta kesempitan pandangan kebangsaan menjadi makin tidak mungkin dan, dari sejumlah besar literatur bangsa dan lokal, timbul lah suatu literatur dunia.

Borjuis, dengan perbaikan-cepat segala alat produksinya, dengan makin sangat dipermudahnya kesempatan menggunakan alat-alat perhubungan, menarik segala bangsa, sampai yang paling biadab pun, kedalam peradaban. Harga-harga murah barang dagangannya merupakan artileri berat yang memporakporandakan segala tembok Tiongkok, yang menaklukkan kebencian-kepala batu kaum biadab terhadap orang-orang asing. la memaksakan cara produksi borjuis kepada semua bangsa, dengan ancaman akan musnah; ia memaksakan ke tengah-tengah lingkungan mereka apa yang olehnya disebut peradaban, yaitu, supaya mereka sendiri menjadi borjuis. Pendek kata, ia menciptakan suatu dunia menurut bayangannya sendiri.

Borjuis menundukkan, menaklukan, desa kepada kekuasaan kota, la telah menciptakan kota-kota yang hebat, telah sangat menambah penduduk kota dibanding dengan penduduk desa, dan dengan demikian telah melepaskan sebagian besar penduduk dari kedunguan kehidupan desa. Sebagaimana halnya ia telah menjadikan desa bergantung kepada kota, begitu pun ia telah menjadikan negeri biadab dan setengah-biadab bergantung kepada negeri yang beradab, bangsa kaum tani kepada bangsa borjuis, Timur kepada Barat.

Borjuis senantiasa makin bersemangat menghapuskan keadaan penduduk yang terpencar-pencar dari alat-alat produksinya, dan dari hak pemilikannya. Ia telah menimbun penduduk, memusatkan alat-alat produksi, dan telah mengkonsentrasikan hak pemilikan ke dalam beberapa tangan. Akibat yang seharusnya dari hal tersebut adalah pemusatan politik. Provinsi-provinsi yang merdeka atau yang mempunyai hubungan tak begitu erat dengan kepentingan-kepentingan, undang-undang, pemerintah dan sistim pajak yang ber-lain-lainan, menjadi terpadu sebagai satu bangsa, dengan satu pemerintah, satu undang-undang, satu kepentingan kelas, satu bangsa, satu perbatasan dan satu tarif pabean.

Borjuis, yang kekuasaannya belum genap seratus tahun itu, telah menciptakan: tenaga-tenaga produktif yang lebih teguh dan lebih besar ketimbang yang telah diciptakan oleh generasi-generasi sebelumnya dijadikan satu. Ditundukkannya kekuatan-kekuatan lama kepada manusia, mesin-mesin, pelayaran kapal api, penerapan ilmu kimia pada industri dan pertanian, jalan kereta api, pembukaan benua-benua untuk tanah garapan, telegrafi listrik, penyaluran irigasi-sungai, semuanya sepertinya (merupakan kekuatan sihir) yang menyeret sejumlah besar penduduk dikeluarkan dari dalam tanah—abad terdahulu mana kah yang dapat menduga adanya tenaga-tenaga produktif yang sedemikian dahsyat itu, yang tertidur dalam pangkuan kerja masyarakat?

Jadi, tahu lah kita: alat-alat produksi dan alat-alat pertukaran, landasan pijak borjuis untuk berkembang, ditimbulkan di dalam masyarakat feodal. Memang, pada suatu tingkat tertentu dalam perkembangan alat-alat produksi dan alat-alat pertukaran, terdapat syarat-syarat hidup bagi masyarakat feodal, yang juga menghasilkan dan mengadakan pertukaran, suatu organisasi feodal pertanian dan industri manufaktur-kecil, pendek kata, hubungan-hubungan pemilikan feodal yang, namun, tidak lagi dapat disesuaikan dengan tenaga-tenaga produktif yang sudah berkembang; semuanya itu merupakan belenggu-belenggu yang terlalu banyak; semuanya itu harus dipatahkan, dan mereka memang dipatahkan.

Sebagai gantinya, datanglah persaingan bebas, disertai oleh susunan sosial dan politik yang diselaraskan dengannya, oleh kekuasaan ekonomi dan politik kelas borjuis.

Suatu gerakan serupa sedang berlangsung di hadapan mata kepala kita sendiri. Masyarakat borjuis modern, dengan hubungan-hubungan produksinya, dengan hubungan-hubungan pertukarannya, dengan hubungan-hubungan pemilikannya, dan merupakan suatu masyaratat yang telah menjelmakan alat-alat produksi serta alat-alat pertukaran yang begitu raksasa, adalah seperti tukang sihir yang tidak dapat mengontrol lagi tenaga-tenaga alam gaib yang telah dipangil oleh mantera-manteranya. Sudah sejak berpuluh-puluh tahun, dalam sejarah industri dan perdagangan, isinya hanya lah sejarah pemberontakan tenaga-tenaga produktif modern menuntut syarat-syarat produksi modern, melawan hubungan-hubungan pemilikan yang merupakan syarat-syarat hidup bagi borjuis dan kekuasaannya. Cukup lah menyebut krisis-krisis perdagangan yang dengan terulang terus secara periodik, setiap kali lebih berbahaya, mengancam kelangsungan hidup seluruh masyarakat borjuis. Krisis-krisis ini tidak saja menimpa sebagian besar barang-barang hasil produksi yang ada, tetapi juga menimpa tenaga-tenaga produktif yang telah diciptakan sebelumnya, semuanya dihancurkan secara periodik. Dalam krisis-krisis tersebut berjangkit lah wabah yang di dalam zaman-zaman terdahulu merupakan suatu kejanggalan—wabah kelebihan produksi. Tiba-tiba masyarakat mendapatkan dirinya terlempar kembali dalam suatu keadaan kebiadaban sementara; nampaknya seakan-akan suatu kelaparan, suatu perang pembinasaan umum yang telah memusnahkan persediaan segala bahan keperluan hidup; industri dan perdagangan seakan-akan dihancurkan; dan mengapa? Karena terlampau banyak peradaban, terlampau banyak bahan-bahan keperluan hidup; terlampau banyak industri, terlampau banyak perdagangan. Tenaga-tenaga produktif yang tersedia bagi masyarakat tidak lagi dapat melanjutkan perkembangan syarat-syarat kepemilikan borjuis; sebaliknya, mereka telah menjadi terlampau kuat bagi syarat-syarat ini, membelenggu mereka, dan segera setelah mereka mengatasi rintangan belenggu-belenggu ini, mereka mendatangkan kekacauan ke dalam seluruh masyarakat borjuis, membahayakan pemilikan borjuis. Syarat-syarat masyarakat borjuis terlampau sempit untuk memuat kekayaan yang diciptakan olehnya. Dan bagaimana kah borjuis mengatasi krisis-krisis tersebut? Pada satu pihak, dengan memaksakan penghancuran sejumlah besar tenaga-tenaga produktif, pada pihak lain, dengan merebut pasar-pasar baru, dan menyulap pasar-pasar yang lama dengan cara yang lebih sempurna. Itu artinya, membukakan jalan bagi krisis-krisis yang lebih luas dan lebih merusakkan, dan mengurangi syarat-syarat yang dapat mencegah krisis-krisis itu.

Senjata-senjata yang digunakan oleh borjuis untuk menumbangkan feodalisme sekarang berbalik kepada borjuis itu sendiri.

Tetapi, tidak saja borjuis tersebut memproduksi senjata-senjata yang mendatangkan mautnya sendiri; ia juga telah melahirkan manusia-manusia yang akan menggunakan senjata-senjata itu—kelas buruh modern—kaum proletar.

Disebandingkan dengan perkembangan borjuis, artinya, perkembangan kapital, maka dalam derajat yang sama proletariat, kelas buruh modern, juga berkembang—suatu kelas buruh yang hanya hidup selama mereka mendapat pekerjaan, dan hanya mendapat pekerjaan selama kerja mereka memperbesar kapital. Kelas buruh tersebut, yang harus menjual dirinya sepotong-sepotong layaknya suatu barang dagangan seperti semua barang dagangan lainnya, karenanya menyerahkan dirinya mentah-mentah kepada segala perubahan persaingan, kepada segala keguncangan pasar.

Disebabkan oleh pemakaian mesin-mesin secara luas dan, karenanya, pembagian kerja pun semakin meluas, hilanglah segala sifat perseorangan pekerjaan proletar, dan karena itu pula hilang lah segala kegairahan si buruh. Ia menjadi semata-mata lampiran-tambahan dari mesin dan dengan demikian, kecakapannya menjadi (paling) sederhana, paling menjemukan dan paling mudah didapat—itu lah semua yang dibutuhkan dari dia—ketimbang mesin. Karena itu, biaya produksi seorang buruh terbatas semata-mata setara dengan nilai bahan-bahan keperluan hidup yang diperlukan untuk hidupnya dan untuk pembiakan keturunannya. Tetapi harga sesuatu barang dagangan, oleh karena itu, juga harga kerjanya (12), akan sama dengan biaya produksinya. Oleh sebab itu, sederajat dengan makin tidak menyenangkannya kerja tersebut, turun lah upahnya. Bahkan lebih dari itu, dalam derajat yang setara dengan pemakaian mesin-mesin dan pembagian kerja yang bertambah, dalam derajat yang itu-itu pula beban kerja bertambah, baik dengan memperpanjang jam kerja, dengan menambah banjaknya pekerjaan dalam waktu tertentu, atau dengan mempertinggi kecepatan mesin-mesin, dan sebagainya.

Industri modern telah mengubah bengkel kecil kepunyaan majikan patriarkal menjadi pabrik besar kepunyaan kapitalis industri. Massa kelas buruh yang dikumpulkan dalam pabrik diorganisir seperti serdadu. Sebagai serdadu biasa pasukan industri, mereka diatur di bawah perintah suatu susunan-kepangkatan yang rapi, terdiri dari opsir-opsir dan sersan-sersan. Mereka tidak hanya menjadi budak kelas borjuis dan budak negara borjuis saja; mereka setiap hari dan setiap jam diperbudak oleh mesin-mesin, oleh mandor-mandor, dan terutama sekali oleh tuan pabrik borjuis, orang-seorang itu sendiri. Semakin terang-terangan kelaliman tersebut menyatakan bahwa keuntungan adalah tujuan dan maksudnya, maka semakin dan semakin membencikan dan membuat marah saja borjuis itu.

Semakin kurang kecakapan dan semakin kurang pemakaian tenaga kerja badan yang diperlukan maka, dengan kata-kata lain, itu berarti industri modern menjadi semakin sempurna. Semakin banyak kerja lelaki yang digantikan oleh kerja perempuan. Perbedaan umur dan perbedaan jenis kelamin tidak lagi mempunyai arti kemasyarakatan yang penting bagi kelas buruh. Semuanya merupakan perkakas kerja, jenis kelamin mereka sekadar dinilai kurang atau lebih mahalnya mereka dipakai untuk produksi.

Jika penghisapan buruh oleh pengusaha sudah sampai sedemikian jauhnya, maka saat upahnya ia terima dengan tunai, maka diterkam lah ia oleh bagian-bagian lain borjuis, siapapun borjuis itu, pemilik tanah kah, pemilik toko kah, pemilik pegadaian kah, dan sebagainya.

Lapisan rendahan dari kelas antara/tengah—kaum pengusaha kecil, pemilik toko kelontongan dan tukang riba (13) umumnya, pengrajin dan kaum tani—semuanya berangsur-angsur terjengkang menjadi proletariat, sebagian oleh karena kapitalnya yang kecil, tidak cukup untuk menjalankan industri besar, menderita kekalahan dalam persaingan dengan kelas kapitalis besar, sebagian juga oleh karena keahlian mereka menjadi tidak berharga dalam setiap produksi yang baru. Begitu lah proletariat terbentuk dari segala kelas penduduk.

Proletariat melalui berbagai tingkat perkembangan. Bersamaan dengan lahirnya proletariat, dimulai lah perjuangannya melawan borjuis. Mula-mula perjuangan tersebut dilakukan oleh kelas buruh orang-seorang, kemudian oleh buruh suatu pabrik, kemudian oleh buruh dari satu macam perusahaan di satu tempat melawan burdjuis orang seorang yang langsung menghisap mereka. Mereka tidak mengerahkan serangan-serangannya terhadap syarat-syarat produksi borjuis, tetapi terhadap perkakas-perkakas produksi itu sendiri; mereka merusakkan barang-barang impor yang menyaingi kerja mereka, mereka menghancurkan mesin-mesin, mereka membakar pabrik-pabrik, dengan paksa mereka mencoba mengembalikan kedudukannya sebagai pekerja Zaman Tengah (14) yang telah lenyap itu.

Pada tingkat tersebut kelas buruh merupakan suatu massa lepas yang tersebar di seluruh negeri dan terpecah belah oleh persaingan di kalangan mereka sendiri. Jika di suatu tempat mereka bersatu membentuk badan-badan yang lebih erat terhimpun, hal tersebut belum lah merupakan akibat dari persatuan yang aktif dari mereka sendiri, tetapi karena persatuan borjuis, kelas yang untuk mencapai tujuan politiknya sendiri terpaksa menggerakkan seluruh proletariat, namun hanya untuk sementara waktu saja mereka masih bisa berbuat demikian. Oleh karena itu, pada tingkat tersebut proletar tidak bisa melawan musuh-musuhnya, tetapi melawan musuh-musuhnya borjuis, yaitu sisa-sisa monarki absolut kelas pemilik tanah, borjuis bukan-industri, borjuis kecil. Dengan demikian seluruh gerakan yang bersejarah tersebut berpusat di tangan borjuis; tiap-tiap kemenangan yang dicapai dengan cara demikian adalah kemenangan borjuis.

Tetapi, dengan berkembangnya industri, proletariat tidak saja bertambah jumlahnya; mereka terkonsentrasi menjadi massa yang lebih besar, kekuatannya bertambah besar dan ia semakin merasakan kekuatan tersebut. Kepentingan-kepentingan dan syarat-syarat hidup yang bermacam ragam dalam barisan proletariat semakin lama semakin menjadi sama, sederajat dengan dihapuskannya segala perbedaan kerja oleh mesin-mesin dan dengan diturunkannya upah hampir di mana-mana sampai pada tingkat yang sama rendahnya. Persaingan yang semakin menjadi-jadi di kalangan kelas borjuis dan krisis-krisis perdagangan yang diakibatkannya, menyebabkan upah kelas buruh senantiasa berguncang. Perbaikan mesin-mesin yang tidak henti-hentinya itu senantiasa berkembang dengan lebih cepat, menyebabkan penghidupan mereka makin lama makin tidak menentu; bentrokan-bentrokan antara buruh orang-seorang dengan borjuis orang-seorang semakin lama bersifat bentrokan-bentrokan antar dua kelas. Sesudah itu kelas buruh mulai membentuk perkumpulan-perkumpulan menentang kelas borjuis; mereka berhimpun untuk mempertahankan upah-kerja mereka; mereka mendirikan perserikatan-perserikatan yang permanen untuk mempersiapkan diri menyongsong perlawanan sewaktu-sewaktu tersebut. Di sana-sini perjuangan tersebut meletus—menjadi huru-hara.

Kadang kelas buruh memperoleh kemenangan, tetapi hanya untuk sementara waktu. Buah yang sebenarnya dari perjuangan mereka tidak terletak pada hasil yang langsung, tetapi pada semakin meluasnya persatuan kelas buruh. Persatuan ini dibantu terus oleh kemajuan alat-alat perhubungan yang dibuat oleh industri modern, yang membawa kelas buruh dari berbagai daerah berhubungan satu dengan yang lainnya. Justru perhubungan itu lah yang diperlukan untuk memusatkan perjuangan-perjuangan lokal yang banyak itu, yang kesemuanya itu mempunyai sifat yang sama, menjadi satu perjuangan bangsa antara kelas dengan kelas. Tetapi, setiap perjuangan kelas adalah perjuangan politik. Dan persatuan ini yang, untuk mencapainya,warga kota-kota pada Zaman Tengah—dengan jalan-jalan mereka yang sangat buruk—memerlukan waktu yang berabad-abad lamanya namun, berkat adanya jalan-jalan kereta api, dicapai oleh proletar modern dalam beberapa-tahun saja.

Terorganisirnya proletar menjadi kelas yang, dengan demikian, akan menjadi partai politik, senantiasa dirusak kembali oleh persaingan di kalangan kelas buruh sendiri. Tetapi ia selalu bangun kembali, lebih kuat, lebih teguh, lebih perkasa. Ia memaksakan pengakuan undang-undang atas kepentingan-kepentingan tertentunya dengan jalan menggunakan perpecahan di kalangan borjuis sendiri. Maka lahir lah undang-undang sepuluh-jam kerja di Inggris.

Kesimpulannya, bahwa bentrokan-bentrokan antara kelas dengan kelas di dalam masyarakat lama, dengan berbagai cara, mendorong maju perkembangan proletariat. Borjuis terlibat dalam perjuangan terus-menerus. Mula-mula dengan aristokrasi; kemudian dengan bagian-bagian dari borjuis itu sendiri, yang mempunyai kepentingan-kepentingan yang bertentangan dengan kemajuan industri; dan dengan borjuis negeri-negeri asing; semuanya. Di dalam segala perjuangan tersebut borjuis merasa terpaksa berseru kepada proletariat, meminta bantuannya, dan dengan begitu menarik proletariat kedalam gelanggang politik. Oleh karena itu, borjuis sendiri membekali proletariat dengan anasir-anasir politik dan pendidikan-umumnya sendiri, dengan perkataan lain, ia melengkapi proletariat itu dengan senjata-senjata untuk melawan borjuis.

Selanjutnya, sebagaimana yang telah kita ketahui, golongan-golongan seluruh kelas yang berkuasa, dengan majunya industri, tercampak menjadi proletariat, atau setidaknya terancam syarat-syarat hidupnya oleh syarat-syarat hidup yang ada sekarang ini. Hal ini juga memberikan kepada proletariat anasir-anasir kesedaran dan kemajuan yang segar.

Akhirnya, ketika perjuangan kelas mendekati saat yang menentukan, proses kehancuran yang berlaku terhadap kelas yang berkuasa, atau pada hakekatnya terhadap seluruh masyarakat lama seutuhnya, mencapai watak yang sedemikian keras dan tegasnya, sehingga segolongan kecil kelas yang berkuasa memutuskan hubungannya dan menyatukan diri dengan kelas yang revolusioner, kelas yang memegang hari depan di tangannya. Oleh karena itu, sama seperti ketika zaman terdahulu, saat segolongan kaum bangsawan memihak borjuis, maka sekarang segolongan borjuis memihak proletariat, terutama segolongan ideolog borjuis yang telah mengangkat dirinya sampai pada taraf memahami teori gerakan yang bersejarah tersebut secara menyeluruh.

Dari semua kelas yang sekarang berdiri berhadapan dengan borjuis, hanya proletariat lah satu-satunya kelas yang betul-betul revolusioner. Kelas-kelas lainnya melapuk dan akhimya lenyap ditelan industri besar, hanya proletariat lah yang hasilnya istimewa dan hakiki.

Kelas antara/menengah rendahan, pemilik pabrik kecil, pemilik toko kelontongan, pengrajin, petani, semuanya berjuang melawan borjuis, untuk menyelamatkan hidup mereka sebagai golongan kelas antara/menengah agar terhindar dari kemusnahan. Oleh karena itu mereka tidak revolusioner, konservatif. Bahkan lebih dari itu, mereka itu reaksioner, karena mereka mencoba memutar kembali roda sejarah. Jika secara kebetulan mereka itu revolusioner, maka mereka berlaku demikian itu hanya lah karena melihat bahaya yang sedang mendekat, berupa kehancuran mereka menjadi proletariat, jadi mereka tidak membela kepentingan-kepentingannya yang sekarang, tetapi kepentingan-kepentingannya di masa datang, mereka meninggalkan pendiriannya sendiri untuk menempatkan dirinya pada pendirian proletariat.

Proletariat-gelandangan (lumpen-proletariat) (15), massa yang membusuk secara pasif dari kalangan lapisan terendah masyarakat lama, disana-sini terseret ke dalam gerakan revolusi proletar; akan tetapi, karena syarat-syarat hidupnya, menjadikan ia lebih condong melakukan peranan sebagai perkakas yang dapat disuap untuk mengadakan huru-hara reaksioner.

Syarat-syarat hidup masyarakat lama dihancurkan oleh syarat-syarat hidup proletariat. Proletar tidak mempunyai hak pemilikan; hubungannya dengan isteri dan anaknya tidak ada persamaannya dengan hubungan keluarga borjuis; kerja industri modern, penundukkan modern di bawah kapital, yang sama saja baik di Inggris maupun di Prancis, di Amerika maupun di Jerman, telah menghilangkan segala bekas-bekas watak bangsanya. Undang-undang, moral, agama, baginya adalah sama dengan segala prasangka borjuis, yang dibelakangnya bersembunyi segala macam kepentingan-kepentingan borjuis.

Semua kelas terdahulu, yang sudah memperoleh kekuasaannya, berusaha memperkuat kedudukan yang telah diperolehnya dengan menundukkan masyarakat keseluruhannya kepada syarat-syarat pemilikan mereka. Proletar tidak dapat menjadi tuan atas tenaga-tenaga produktif masyarakat kecuali dengan menghapuskan cara pemilikannya, dan dengan begitu menghapuskan juga segala cara pemilikan lain yang terdahulu. Mereka tak mempunyai sesuatu apa pun yang harus dilindungi dan dipertahankan, tugas mereka ialah menghancurkan segala perlindungan dan jaminan yang terdahulu atas milik perseorangan.

Semua gerakan sejarah yang terdahulu adalah gerakan dari minoritas-minoritas, atau untuk kepentingan minoritas. Gerakan proletar adalah gerakan yang sadar-diri dan berdiri sendiri di antara mayoritas yang melimpah, namun juga mengabdi pada kepentingan majoritas yang melimpah. Proletariat, lapisan yang paling rendah dari masyarakat kita sekarang, tidak dapat bergerak, tidak dapat mengangkat dirinya ke atas, tanpa hancur luluhnya seluruh lapisan atas masyarakat yang resmi.

Walaupun tidak dalam isinya, tetapi dalam bentuknya, perjuangan proletariat melawan borjuis adalah mula-mula suatu perjuangan di satu bangsa. Proletariat di masing-masing negeri tentu saja pertama-tama harus membuat perhitungan dengan borjuisnya sendiri.

Dalam melukiskan fase-fase paling umum perkembangan proletariat, kita bisa mengurut jejak peperangan di dalam negeri, yang lebih atau kurang tersembunyi, yang bergolak, di dalam masyarakat yang ada, sampai pada titik di mana peperangan itu meletus menjadi revolusi terang-terangan, dan akhirnya penggulingan borjuis dengan kekerasan guna meletakkan landasan bagi kekuasaan proletariat.

Hingga kini, sebagaimana yang telah kita ketahui, segala bentuk masyarakat didasarkan atas antagonisme antara kelas dengan kelas, antara kelas yang menindas dengan kelas yang ditindasnya. Tetapi untuk dapat menindas suatu kelas, harus lah dijamin syarat-syarat tertentunya, setidaknya dapat melanjutkan hidupnya sebagai budak. Si hamba, dalam zaman perhambaan, meningkatkan dirinya menjadi anggota komune, seperti juga halnya dengan si borjuis kecil, di bawah penindasan absolutisme feodal, mengembangkan dirinya menjadi borjuis. Sebaliknya, buruh modern bukannya terangkat naik dengan adanya kemajuan industri, tetapi bahkan senantiasa makin jatuh merosot di bawah syarat-syarat hidup kelasnya sendiri. Ia menjadi orang melarat, dan kemelaratan berkembang lebih cepat dari pada penduduk dan sumber kekayaan. Dan, dengan demikian, menjadi terang lah bahwa borjuis tidak pada tempatnya lagi untuk menjadi kelas yang berkuasa dalam masyarakat, sudah tidak mampu lagi untuk memaksakan syarat-syarat hidupnya kepada masyarakat sebagai undang-undang yang menentukan. Ia tidak cakap memerintah karena ia tidak mampu menjamin penghidupan bagi budaknya di dalam rangka perbudakannya itu, karena ia terpaksa membiarkan budaknya tenggelam ke dalam keadaan yang sedemikian rupa sehingga ia harus memberi makan kepada budaknya, dan bukannja ia diberi makan oleh budaknya. Masyarakat tidak dapat lagi hidup di bawah borjuis seperti ini, dengan perkataan lain, keberadaan borjuis tidak dapat didamaikan lagi dengan masyarakat.

Syarat terpokok untuk hidup dan berkuasanya kelas borjuis adalah terbentuknya dan bertambah besarnya kapital; syarat untuk kapital ialah kerja-upahan. Kerja-upahan semata-mata bersandar pada persaingan di kalangan kelas buruh sendiri. Kemajuan industri, yang pendorongnya dengan tak sengaja adalah borjuis, merubah keterpencilan kelas buruh yang disebabkan oleh persaingan, hingga ia kini bergabung secara revolusioner karena perserikatan. Perkembangan industri besar, karenanya, merenggut dari bawah kaki borjuis landasan borjuis untuk menghasilkan dan memiliki hasil-hasil produksi. Oleh sebab itu, apa yang dihasilkan oleh borjuis ialah, terutama sekali, penggali-penggali liang kuburnya sendiri. Keruntuhan borjuis dan kemenangan proletariat adalah sama-sama tak dapat dielakkan lagi.

II

PROLETAR DAN PARTAI KOMUNIS

Bagaimanakah hubungan antara Komunis dengan proletar umumnya?

Partai Komunis bukan merupakan suatu partai tersendiri yang bertentangan dengan partai-partai kelas buruh lainnya.

Partai Komunis tidak mempunyai kepentingan-kepentingan tersendiri dan terpisah dari kepentingan-kepentingan proletariat secara keseluruhan.

Partai Komunis tidak membuat prinsip-prinsipnya sendiri yang sektaris, yang hendak dijadikan pola bagi gerakan proletar. Partai Komunis, dibandingkan dengan partai-partai kelas buruh lainnya, berbeda hanya lah karena hal ini:

1. Dalam perjuangan proletar di lingkup bangsa, di berbagai negeri, mereka menunjukkan serta mengedepankan kepentingan-kepentingan bersama seluruh proletariat, terlepas dari segala kebangsaannya.

2. Dalam berbagai tingkat perkembangan yang harus dilalui oleh perjuangan kelas buruh saat melawan borjuis, mereka senantiasa dan di mana saja mewakili kepentingan-kepentingan gerakan tersebut sebagai keseluruhan.

Oleh sebab itu, Partai Komunis, pada satu pihak, pada prakteknya adalah bagian yang paling maju dan teguh hati ketimbang partai-partai kelas buruh di setiap negeri, merupakan bagian yang mendorong maju semua bagian lainnya; pada pihak lain, secara teoritik, mereka mempunjai kelebihan atas massa proletariat yang besar tersebut dalam pengertian garis perjalanannya, syarat-syaratnya, dan dilihat dari hasil-hasil umum (terakhir) gerakan proletar.

Tujuan terdekat dari Partai Komunis adalah sama dengan tujuan semua partai proletar lain-lainnya: membentuk proletariat menjadi satu kelas, menggulingkan kekuasaan borjuis, dan perebutan kekuasaan politik oleh proletariat. Kesimpulan-kesimpulan teoritik Partai Komunis sama sekali bukan lah didasarkan pada pikiran-pikiran atau prinsip-prinsip yang telah diciptakan, atau yang telah ditemukan oleh salah seorang pembaru-dunia.

Kesimpulan-kesimpulan tersebut hanya lah menyatakan, semata-mata, secara umum, hubungan-hubungan sebenarnya yang timbul dari suatu perjuangan kelas yang sedang berlaku, dari suatu gerakan sejarah yang sedang berjalan di depan mata kita. Penghapusan hubungan-hubungan hak pemilikan yang ada sekarang sama sekali bukan lah suatu ciri yang istimewa dari Komunisme.

Segala hubungan hak pemilikan di masa lampau senantiasa tunduk pada perubahan historis/kesejarahan yang diakibatkan oleh perubahan kondisi-kondisi sejarah.

Revolusi Perancis, misalnya, menghapuskan hak pemilikan feodal untuk memberi tempat kepada hak pemilikan borjuis (16).

Ciri istimewa Komunisme bukan lah penghapusan pakta hak pemilikan pada umumnya, tetapi penghapusan hak pemilikan borjuis. Tetapi hak pemilikan perseorangan borjuis modern adalah ungkapan terakhir dan paling sempurna dari sistim yang menghasilkan dan memiliki hasil-hasilnya dengan didasarkan pada antagonisme-antagonisme kelas, didasarkan pada penghisapan yang sedikit kepada yang banyak.

Dalam artian ini, teori kaum Komunis dapat lah diihtisarkan—dalam satu kalimat saja: penghapusan pemilikan perseorangan.

Kita, Partai Komunis, dimaki dengan tuduhan bahwa Partai Komunis hendak menghapuskan hak pemilikan yang diperoleh seseorang dari hasil kerjanya, hak pemilikan yang dianggap sebagai dasar bagi semua kemerdekaan, kegiatan dan kebebasan seseorang.

Hak pemilikan yang diperoleh dengan membanting tulang, yang direbut sendiri, yang dicari sendiri secara halal. Apakah yang tuan maksudkan adalah hak pemilikan si pengrajin, hak pemilikan kaum tani kecil, suatu bentuk hak pemilikan yang mendahului bentuk hak pemilikan borjuis? Yang demikian itu tak perlu dihapuskan. Perkembangan industri telah menghancurkannya, dan banyak sekali hak pemilikan, setiap harinya, masih terus dihancurkannya.

Atau kah yang tuan maksudkan itu adalah hak pemilikan perseorangan borjuis modern?

Tetapi apakah kerja-upahan, kerja si proletar, memberikan hak pemilikan bagi borjuis? Sama sekali tidak. Proletar lah yang menciptakan kapital, yaitu semacam hak pemilikan yang menghisap kerja-upahan, dan yang tidak dapat bertambah besar kecuali dengan syarat bahwa kapital menghasilkan kerja-upahan baru demi penghisapan baru. Hak pemilikan, dalam bentuknya yang sekarang ini, didasarkan pada antagonisme antara kapital dengan kerja upahan. Mari lah kita periksa kedua segi antagonisme tersebut.

Untuk menjadi seorang kapitalis, orang tidak saja harus mempunyai kedudukan perseorangan, tetapi juga kedudukan sosial dalam produksi. Kapital adalah suatu hasil kolektif, dan ia hanya dapat digerakkan oleh tindakan bersama banyak anggota, malahan, lebih dari itu, pada tingkatan terakhir, ia hanya dapat digerakkan oleh tindakan bersama semua anggota masyarakat.

Oleh karena itu kapital bukan lah suatu kekuasaan pribadi, ia adalah suatu kekuasaan sosial.

Jadi, jika kapital itu dijadikan milik bersama, menjadi milik semua anggota masyarakat, bukan berarti milik pribadi diubah menjadi milik sosial. Hanya watak sosial hak pemilikan lah yang diubah. Watak kelasnya yang dihilangkan.

Marilah sekarang kita bicara tentang kerja-upahan.

Harga rata-rata kerja-upahan adalah upah minimum, yakni suatu jumlah untuk memenuhi bahan-bahan keperluan hidup, yang mutlak diperlukan untuk mempertahankan hidup buruh sebagai seorang buruh, dalam derajat hidup sekadarnya. Oleh karena itu, apa yang telah dimiliki oleh buruh-upahan berkat kerjanya hanya lah cukup untuk memperpanjang dan melanjutkan lagi hidup yang sekadarnya itu. Kita sekali-kali tidak bermaksud untuk menghapuskan pemilikan pribadi atas hasil-hasil kerja tersebut, pemilikan yang digunakan untuk mempertahankan dan melanjutkan hidup biasa sebagai manusia, dan yang tidak menyisakan kelebihan yang dapat digunakan untuk menguasai kerja orang-orang lain; yang hendak kita hapuskan hanyalah watak celaka dari pemilikan tersebut, yang membuat buruh hidup hanya untuk memperbesar kapital belaka, dan dibolehkan hidup hanya selama kepentingan kelas yang berkuasa memerlukannya.

Di dalam masjarakat borjuis, kerja (hidup) tersebut hanya lah suatu alat untuk memperbanyak kerja yang telah ditimbun sebelumnya. Di dalam masyarakat Komunis, kerja yang tertimbun itu hanya lah suatu alat untuk memperluas, memperkaya, memajukan kehidupan buruh.

Di dalam masyarakat borjuis, karenanya, masa lampau menguasai masa kini; di dalam masyarakat Komunis, masa kini menguasai masa lampau. Di dalam masyarakat borjuis kapital adalah bebas merdeka dan mempunyai keberadaan, sedang manusia yang bekerja tak bebas dan tak mempunyai keberadaan.

Dan penghapusan keadaan tersebut dikatakan oleh borjuis sebagai penghapusan keberadaan dan kemerdekaan! Dan memang demikian lah adanya. Penghapusan keberadaan borjuis, penghapusan kebebasan borjuis dan kemerdekaan borjuis itu lah yang memang hendak dicapai.

Karena makna kemerdekaan di bawah syarat-syarat produksi borjuis sekarang ini adalah: perdagangan bebas, penjualan dan pembelian bebas.

Tetapi jika penjualan dan pembelian itu lenyap, penjualan dan pembelian bebas itupun lenyap juga.

Obrolan tentang penjualan dan pembelian bebas ini, dan segala ‘kata-kata gagah’ borjuis lainnya mengenai kemerdekaan pada umumnya mempunyai arti, jika ada, hanya jika dibandingkan dengan penjualan dan pembelian terbatas, jika dibandingkan dengan pedagang-pedagang terbelenggu Zaman Tengah, namun tak mempunyai arti jika dipertentangkan dengan penghapusan secara Komunis atas penjualan dan pembelian—dalam makna penghapusan secara Komunis atas syarat ‘produksi borjuis’; atau penghapusan secara Komunis atas borjuis itu sendiri.

Tuan merasa ngeri karena maksud kami memang menghapuskan milik perseorangan. Tetapi di dalam rnasyarakat tuan yang ada sekarang ini, milik perseorangan sembilan persepuluh dari penduduk sudah dihapuskan; hak pemilikan tersebut hanya ada pada beberapa orang justru karena memang dihapuskan dari yang sembilan persepuluh persen tersebut. Jadi, tuan memaki kami karena kami bermaksud menghapuskan suatu bentuk hak pemilikan, yang untuk merealisasikannya tuan memerlukan syarat dihapusnya hak pemilikan apa pun yang dimiliki mayoritas melimpah masyarakat.

Pendek kata, tuan memaki kami bahwa kami bermaksud menghapuskan hak pemilikan tuan. Memang begitu, justru itu lah yang kami maksud.

Sejak dari saat ketika kerja tidak dapat lagi dijadikan kapital, tidak dapat lagi dijadikan uang, atau tidak dapat lagi dijadikan sewa, dan tidak dapat lagi dijadikan suatu kekuasaan sosial yang dapat dimonopoli, artinya, sejak dari saat ketika hak pemilikan pribadi tidak dapat lagi dijadikan milik borjuis, tidak dapat lagi dijadikan kapital, sejak dari saat itu lah, tuan katakan, keberadaan tuan telah hilang.

Oleh karena itu, tuan harus mengakui bahwa yang tuan maksudkan dengan keberadaan tuan adalah tak lain daripada keberadaan seorang borjuis, seorang pemilik borjuis. Orang-orang tersebut tersebut memang harus disapu bersih dan tidak lagi diberi kemungkinan untuk hidup seperti borjuis.

Partai Komunis tidak menghapuskan kekuasaan seseorang untuk memiliki hasil-hasil masyarakat; apa yang dilakukannja hanya lah merampas kekuasaan seseorang yang menjadikan kerja orang lain takluk kepadanya dengan cara pemilikan semacam itu.

Orang telah mengemukakan keberatan bahwa dengan penghapusan milik perseorangan maka akan berhenti lah semua pekerjaan, dan kemalasan umum akan merajalela.

Bila berpegang pada pendapat tersebut, masyarakat borjuis tentunya sudah lama lenyap karena kemalasan semata-mata; karena mereka merupakan anggota-anggota yang tidak bekerja tapi memperoleh segalanya, sedangkan yang bekerja tak mendapat apapun. Seluruh keberatan tersebut hanya lah ungkapan lain kata-kata yang sama artinya: tak ada lagi kerja-upahan apabila tak ada lagi kapital.

Selain mengemukakan keberatan terhadap cara menghasilkan dan memiliki hasil-hasil material secara Komunis, dikemukakan juga keberatan terhadap cara menghasilkan dan memiliki hasil-hasil intelek secara Komunis. Justru karena bagi borjuis lenyapnya hak pemilikan kelas berarti lenyapnya produksi itu sendiri, maka lenyapnya kebudayaan kelas baginya berarti juga lenyapnya semua kebudayaan.

Kebudajaan tersebut, yang hilangnya sangat diratapi oleh borjuis, bagi golongan mayoritas yang melimpah hanya lah berarti kebudayaan untuk menjadikan mayoritas menjadi mesin.

Tetapi jangan lah ribut-bertengkar dengan kami soal penghapusan hak pemilikan borjuis, selama tuan mengenakan ukuran-ukuran, anggapan-anggapan, prasangka-prasangka borjuis tuan tentang kemerdekaan, kebudayaan, hukum, dan sebagainya. Pikiran-pikiran tuan tersebut justru adalah tak lain daripada buah yang dihasilkan oleh syarat-syarat produksi borjuis dan hak pemilikan borjuis tuan, tepat seperti halnya dengan ilmu hukum tuan, adalah tak lain daripada kemauan kelas tuan yang dijadikan undang-undang dan diterapkan bagi semua orang, suatu kemauan, yang tujuan serta wataknya hakikinya ditentukan oleh syarat-syarat hidup ekonomi kelas tuan.

Anggapan salah kaprah egoistis yang mengatakan bahwa adalah hak tuan mengubah bentuk-bentuk sosial yang timbul dari cara produksi dan bentuk hak pemilikan tuan sekarang ini, sebenarnya merupakan hubungan-hubungan kesejarahan yang timbul dan lenyap selama gerak maju produksi menjadi hukum alam dan hukum akal yang abadi. Tapi tuan menganggap semuanya itu memang demikian adanya, seperti juga dengan dengan kelas penguasa yang mendahului tuan. Apa yang sudah tuan ketahui dengan jelas tentang hak pemilikan kuno (17), apa yang sudah tuan akui tentang hak pemilikan feodal—tentu saja terlarang bagi tuan untuk mengakui hak pemilikan feodal tersebut bila maknanya: bahwa hak pemilikan borjuis tuan sendiri lah yang harus diakui.

Penghapusan keluarga! Orang yang paling radikal pun akan naik darah mendengar maksud keji kaum Komunis ini.

Didasarkan atas landasan apakah keluarga yang ada sekarang ini, keluarga borjuis itu? Atas kapital, atas hasil pendapatan perseorangan. Dalam bentuknya yang berkembang paling sempurna, keluarga semacam ini hanya terdapat di kalangan borjuis saja. Tetapi keberadaan keluarga semacam itu memiliki syarat: berupa pemaksaan penghapusan keluarga di kalangan proletar, berupa pelacuran umum.

Keluarga borjuis akan lenyap dengan sendirinya apabila sayarat-syaratnya pun lenyap, yang akan lenyap bersama dengan lenyapnja kapital.

Bila tuan menuduh bahwa tujuan kami hendak menghentikan penghisapan anak-anak oleh orang tuanya adalah suatu kejahatan, maka kami mengakui kejahatan tersebut.

Tetapi, tuan akan berkata, kami hendak menghancurkan hubungan-hubungan yang paling mesra, karena kami akan mengganti pendidikan rumah dengan pendidikan sosial.

Dan apakah pendidikan tuan tidak ditentukan juga oleh masyarakat? Oleh hubungan-hubungan sosial, yang syarat-syaratnya tuan yang bawa, oleh campur tangan langsung, atau tidak langsung, dari masyarakat dengan perantaraan sekolah-sekolah, dan sebagainya? Komunis tidak menumbuhkan campur tangan masyarakat dalam pendidikan; mereka hanya berusaha untuk mengubah watak campur tangan tersebut, untuk menyelamatkan pendidikan agar terhindar dari pengaruh kelas yang berkuasa.

Obrolan borjuis tentang keluarga dan pendidikan, tentang ikatan mesra antara ibu-bapa dengan anak, menjadi makin memuakkan, seiring dengan ekses-ekses industri besar: makin terputusnya segala ikatan keluarga di kalangan proletar, dan makin terubahnya anak-anak mereka menjadi barang dagangan dan perkakas kerja biasa.

Tetapi kalian, Komunis, hendak melakukan hak bersama atas kaum perempuan, teriak seluruh borjuis dengan serentak.

Borjuis memandang isterinya hanya sebagai suatu perkakas produksi belaka. Ia tahu betul bahwa perkakas-perkakas produksi harus digunakan bersama, dan kesimpulannya berarti: bahwa nasib untuk digunakan bersama akan menimpa pula kaum perempuan.

Borjuis sama sekali tak mempunyai dugaan bahwa sasaran sebenarnya yang dituju adalah justru menghapuskan kedudukan kaum perempuan, sekadar dijadikan perkakas produksi.

Lain daripada itu, tak ada yang lebih menggelikan daripada kegusaran borjuis terhadap apa yang mereka namakan hak bersama atas kaum perempuan yang katanya secara resmi berlaku di kalangan Komunis. Komunis tidak perlu melakukan hak-bersama atas kaum wanita; hal tersebut telah ada di hampir sepanjang segala zaman.

Borjuis kita, tidak puas dengan hal bahwa untuk mereka telah tersedia isteri-isteri dan anak-anak gadis proletar, belum lagi pelacur-pelacur biasa, mereka sangat gemar saling menggoda isteri di kalangan mereka sendiri.

Dalam kenyataannya, perkawinan borjuis adalah suatu sistim isteri-isteri untuk bersama. Komunis paling banyak hanya lah dapat dituduh bahwa mereka hendak melakukan hak-bersama atas kaum perempuan secara syah dan terang-terangan, hendak menggantikan yang sembunyi-sembunyi secara munafik. Lain daripada itu, terang lah dengan sendirinya bahwa hapusnya sistim produksi yang sekarang ini tentu akan mengakibatkan pula hapusnya hak-bersama atas kaum perempuan yang timbul dari sistim tersebut, yakni hapusnya pelacuran, baik yang resmi maupun yang tidak resmi.

Selanjutnya Komunis dituduh hendak menghapuskan tanah air dan kebangsaan.

Kelas buruh tak memiliki tanah air. Kita tak dapat mengambil dari mereka apa yang tidak mereka miliki. Karena proletariat pertama sekali harus merebut kekuasaan politik, harus mengangkat dirinya menjadi kelas yang memimpin suatu bangsa, suatu negeri, harus mewujudkan dirinya sebagai bangsa, maka sejauh itu ia bersifat bangsa, walaupun tidak dalam makna kata menurut borjuis.

Perselisihan-perselisihan dan antagonisme-antagonisme rasional antara bangsa-bangsa makin lama makin menghilang, disebabkan oleh perkembangan borjuis, oleh kemerdekaan berdagang, oleh pasar dunia, oleh keseragaman dalam cara produksi dan dalam syarat-syarat hidup yang selaras dengan itu.

Kekuasaan proletariat akan lebih mempercepat hilangnya itu semua. Aksi yang bersatu, paling tidak dari negeri-negeri yang beradab, adalah salah satu sarat utama untuk membebaskan proletariat.

Sederajat dengan dihapuskannya penghisapan atas seseorang oleh orang lainnya, dihapuskan juga lah penghisapan atas suatu bangsa oleh bangsa lainnya. Sederajat dengan hilangnya antagonisme antara kelas-kelas dalam suatu bangsa, berakhir juga lah permusuhan suatu bangsa terhadap bangsa lainnya.

Tuduhan-tuduhan terhadap Komunisme yang didasarkan pada pendirian agama, filsafat dan, pada umumnya, pendirian ideologis, tidak lah perlu diperhatikan dengan sungguh-sungguh.

Apakah diperlukan penglihatan yang dalam untuk memahami bahwa pikiran, pandangan dan pengertian manusia, pendek kata, kesadaran manusia, berubah sejalan dengan berubahnya tiap-tiap syarat hidup materilnya, dalam hubungan-hubungan sosialnya dan dalam kehidupan sosialnya?

Hal lain, apakah yang bisa dibuktikan oleh sejarah pemikiran, kecuali bahwa produksi intelektual mengubah wataknya sederajat dengan perubahan produksi materialnya? Pikiran-pikiran yang menguasai setiap zamannya adalah senantiasa pikiran-pikiran kelas yang berkuasa.

Apabila orang berbicara tentang pikiran-pikiran yang merevolusionerkan masyarakat, tidak lain hanya lah mengungkapkan kenyataan bahwa, di dalam masyarakat lama, anasir-anasir suatu masyarakat baru sedang diciptakan, dan bahwa leburnya pikiran-pikiran lama sejalan dengan leburnya syarat-syarat hidup lama.

Ketika dunia kuno sedang mendekati ajalnja, agama-agama kuno ditaklukkan oleh agama Kristen. Ketika pikiran-pikiran Kristen dalam abad ke-18 tunduk pada pikiran-pikiran rasionil, masyarakat feodal melakukan perjuangan mati-hidup melawan borjuis yang ketika itu revolusioner. Pikiran-pikiran tentang kebebasan beragama dan kemerdekaan menganut suara hati, hanya lah mengungkapkan adanya kekuasaan persaingan bebas dalam bidang pengetahuan.

Tak dapat disangkal lagi, demikian orang akan berkata, pemikiran-pemikiran yang bersendikan agama, moral, filsafat, hukum, dan sebagainya telah berubah dalam perjalanan perkembangan sejarah. Tetapi agama, moral, filsafat, ilmu politik, dan hukum, senantiasa tetap bertahan dan mencoba menentang pergantian tersebut.

“Kecuali itu, ada kebenaran-kebenaran abadi, semacam Kemerdekaan, Keadilan, dan sebagainya, yang lazim berlaku untuk segala keadaan masyarakat. Tetapi Komunisme menghapuskan kebenaran-kebenaran abadi tersebut, ia menghapuskan semua agama dan semua moral, serta bukan menyusun semuanya itu atas dasar yang baru; karenanya ia bertindak bertentangan dengan segala pengalaman sejarah yang lampau”.

Apakah jadinya arti tuduhan tersebut? Sejarah seluruh masyarakat masa lampau terdiri dari perkembangan antagonisme-antagonisme kelas, antagonisme-antagonisme yang mempunyai berbagai bentuk dalam berbagai zamannya.

Tetapi bagaimanapun juga bentuknya, kenyataannya adalah sama untuk segala zaman yang telah lampau, yaitu, penghisapan atas sebagian dari masyarakat oleh suatu bagian yang lain. Maka tidak lah mengherankan bahwa kesedaran sosial dari abad-abad yang lampau, biar pun dengan segala keragaman dan coraknya, bergerak dalam bentuk-bentuk tertentu yang sama, atau pikiran-pikiran umum, yang tidak dapat hilang sepenuhnya kecuali dengan lenyapnya sama sekali antagonisme-antagonisme kelas.

Revolusi Komunis adalah pemutusan yang paling radikal dengan hubungan-hubungan hak pemilikan tradisionil; tidak lah mengherankan bahwa perkembangannya merupakan pemutusan yang paling radikal dengan pikiran-pikiran tradisional.

Tetapi mari lah kita biarkan saja dulu keberatan-keberatan borjuis terhadap Komunisme.

Telah kita lihat di atas bahwa langkah pertama dalam revolusi kelas buruh adalah mengangkat proletariat pada kedudukan kelas yang berkuasa, memenangkan perjuangan demokrasi.

Proletariat akan menggunakan kekuasaan politiknya untuk merebut, selangkah demi selangkah, semua kapital dari borjuis, memusatkan semua perkakas produksi ke dalam tangan Negara, artinya, proletariat yang terorganisir sebagai kelas yang berkuasa; dan untuk meningkatkan jumlah tenaga-tenaga produktif secepat mungkin.

Tentu saja, pada awalnya, tak dapat dilaksanakan kecuali dengan jalan perombakan tak kenal ampun terhadap hak-hak pemilikan dan terhadap syarat-syarat produksi borjuis; oleh sebab itu, walaupun dengan jalan tindakan-tindakan yang nampaknya secara ekonomi tidak mencukupi dan tak tertahankan, namun, selama gerakan tersebut berlangsung, perombakan tersebut berlari lebih cepat, sehingga menghendaki perombakan lebih lanjut terhadap susunan masyarakat lama, dan merupakan sesuatu yang tak terelakkan sebagai cara untuk merevolusionerkan cara produksi.

Tindakan-tindakan ini tentu saja akan berlainan di-negeri-negeri yang berlainan pula.

Biar pun demikian, di negeri-negeri yang paling maju, tindakan-akan berikut ini umumnya dapat saja diterapkan:

1. Penghapusan hak pemilikan atas tanah, dan penggunaan segala sewa tanah dimasukkan ke dalam kas serta anggaran negara.

2. Pajak penghasilan progresif yang berat.

3. Penghapusan hak-waris.

4. Penyitaan hak pemilikan semua emigran dan pemberontak.

5. Pemusatan kredit di tangan negara, dengan perantaraan sebuah bank nasional yang kapitalnya merupakan milik negara dengan monopoli penuh.

6. Pemusatan alat-alat perhubungan dan pengangkutan ke tangan negara.

7. Penambahan pabrik-pabrik dan perkakas-perkakas produksi yang dimiliki oleh negara; penggarapan tanah-tanah terlantar, dan perbaikan tanah umumnya sesuai dengan rencana bersama.

8. Wajib kerja yang sama untuk semua, pembentukan pasukan-pasukan industri, terutama untuk pertanian.

9. Penggabungan antara perusahaan pertanian dengan perusahaan industri, penghapusan berangsur-angsur perbedaan antara kota dan desa, dengan pembagian penduduk yang lebih seimbang ke seluruh negeri.

10. Pendidikan cuma-cuma untuk semua anak di sekolah-sekolah umum; penghapusan kerja anak-anak di pabrik dalam bentuknya yang sekarang ini. Perpaduan pendidikan dengan produksi material, dan sebaginya, dan sebagainya.

Apabila dalam perjalanan perkembangannya perbedaan-perbedaan kelas telah hilang, dan seluruh produksi telah dipusatkan ke tangan suatu perserikatan luas seluruh bangsa, maka kekuasaan umum akan kehilangan watak politiknya. Kekuasaan politik, menurut arti kata yang sesungguhnya, hanya lah kekuasaan terorganisir dari suatu kelas untuk menindas kelas yang lainnya. Apabila proletariat selama perjuangannya melawan borjuis terpaksa, karena tekanan keadaan, mengorganisir dirinya sebagai kelas dan, apabila, dengan jalan revolusi mereka menjadikan dirinya kelas yang bekuasa maka, sebagai kelas yang berkuasa, mereka akan menghapuskan dengan kekerasan hubungan-hubungan produksi lama dan, ketika mereka, bersama-sama dengan syarat-syarat tersebut, menghilangkan syarat-syarat adanya antagonisme-antagonisme kelas dan adanya kelas-kelas pada umumnya maka, dengan demikian, hasilnya: mereka akan menghapuskan kekuasaan mereka sendiri sebagai kelas.

Sebagai ganti bagi masyarakat borjuis yang lama, dengan kelas-kelas beserta antagonisme-antagonismenya, kita akan mempunyai suatu persekutuan hidup di mana perkembangan bebas setiap orang menjadi syarat bagi perkembangan bebas bagi semuanya.

III

LITERATUR SOSIALIS DAN KOMUNIS

1. Sosialisme reaksioner

a. Sosialisme feodal

Disebabkan oleh kedudukannya dalam sejarah, menjadi panggilan suci bagi aristokrasi Prancis dan Inggris untuk menulis brosur-brosur menentang masyarakat borjuis modern. Dalam revolusi Prancis bulan Juli, 1830, dan dalam gerakan reformasi Inggris, aristokrasi tersebut sekali lagi takluk dan benci sekali pada orang-orang yang tiba-tiba menjadi kaya (parvenu). Suatu perjuangan politik yang gawat, sengit, sudah tidak mungkin lagi ada, sama sekali. Hanya tinggal perjuangan literatur lah yang masih mungkin. Tetapi, dalam lapangan literatur pun, semboyan-semboyan lama zaman restorasi tidak dimungkinkan lagi.

Untuk membangkitkan simpati, aristokrasi tersebut terpaksa berpura-pura melupakan kepentingannya sendiri dan merumuskan surat tuduhannya terhadap borjuis semata-mata, yang seolah-olah demi kepentingan kelas buruh yang terhisap. Jadi, aristokrasi membalikkan dendamnya dengan menyanyikan lagu-lagu sindiran terhadap majikannya yang baru, dan membisikkan ke telinga majikannya itu ramalan-ramalan buruk tentang bencana yang akan datang.

Dengan jalan itu muncul lah sosialisme feodal: setengah ratapan, setengah sindiran; setengah gema masa lampau, setengah ancaman masa datang; kadang-kadang, dengan kritiknya yang meranggas, pahit dan tajam menusuk borjuis tepat pada ulu hatinya; tetapi, akibatnya, selalu menggelikan karena sama sekali tak mempunyai kemampuan untuk memahami perjalanan sejarah modern.

Untuk menghimpun rakyat di sekitar dirinya, aristokrasi melambai-lambaikan kantong-pengemis proletar sebagai padanannya. Tetapi sedemikian sering rakyat mengikuti mereka, semakin rakyat jadi bisa melihat ke belakang, saat mereka melambai-lambaikan lambang kebesaran feodal lama, dan rakyat lari bubar sambil terbahak-bahak dan mengejek.

Sebagian dari kaum Legitimis Prancis dan kaum “Inggris Muda” memainkan lakon tersebut.

Cara penghisapan feodal berlainan dengan cara penghisapan borjuis, dan feodal lupa bahwa mereka menghisap dalam keadaan dan syarat yang berlainan sama sekali, yang kini telah menjadi kuno. Ketika menyombongkan diri bahwa di bawah kekuasaan feodal tak pernah ada proletariat modern, mereka lupa bahwa borjuis modern adalah anak keturunan alamiah yang dihasilkan dari bentuk masyarakat feodal itu sendiri.

Lain dari pada itu, mereka sedikit sekali bisa menyembunyikan watak reaksioner kritik-kritiknya sehingga tuduhan mereka, terutama yang ditujukan terhadap borjuis, berarti juga bahwa di bawah rejim borjuis berkembang lah suatu kelas yang nantinya pasti menghancurleburkan seluruh susunan tata tertib masyarakat lama.

Kemarahan mereka terhadap borjuis—karena borjuis melahirkan proletariat—tidak sehebat kemarahannya dalam hal bahwa borjuis melahirkan proletariat revolusioner.

Oleh sebab itu, dalam praktek politiknya, mereka ikut serta dalam segala tindakan kekerasan terhadap kelas buruh; dan dalam kehidupan biasa sehari-hari, biar pun ucapan-ucapannya begitu muluk tinggi membubung, mereka tidak malu-malu memungut warisan buah lezat yang jatuh dari pohon industri, dan tidak malu pula untuk menukarkan kejujuran, cinta dan kehormatannya dengan perdagangan bulu-domba, perdagangan gula bit dan minuman-minuman keras yang terbuat dari kentang.

Sebagaimana pendeta senantiasa berjalan bergandengan tangan dengan tuan tanah, demikian juga lah Sosialisme Gereja dengan Sosialisme Feodal.

Tak ada hal lain yang lebih mudah daripada memberi pulasan Sosialis pada cara hidup pertapaan (asketisme) Kristen. Bukan kah agama Kristen telah berseru dengan lantangnya menentang hak pemilikan perseorangan, menentang perkawinan, menentang negara? Bukan kah ia, sebagai ganti semuanya itu tadi, telah mengkhotbahkan kedermawanan bagi kemiskinan, pembujangan dan kebiasaan menahan nafsu, kehidupan biara dan bunda gereja? Sosialisme Kristen tidak lain hanya lah air suci yang digunakan pendeta untuk mengkuduskan sakit-hati kaum aristokrat.

b. Sosialisme Borjuis Kecil

Aristokrasi feodal bukan lah satu-satunja kelas yang diruntuhkan borjuis, bukan lah satu-satunja kelas yang syarat-syarat kelangsungannya menjadi rusak dan musnah dalam suasana masyarakat borjuis modern. Warga kota Zaman Tengah dan kaum tani pemilik tanah kecil adalah pendahulu borjuis modern. Di negeri-negeri industri yang perniagaannya belum berkembang, kedua kelas tersebut masih hidup berdampingan dengan borjuis yang sedang tumbuh.

Di negeri-negeri yang peradabannya telah modern, telah berkembang sepenuhnya, terbentuk lah suatu kelas borjuis kecil, yang terombang-ambing di antara proletariat dan borjuis, dan senantiasa memperbarui dirinya sebagai bagian-tambahan masyarakat borjuis. Tetapi anggota-anggota orang-seorang dari kelas tersebut terus-menerus dicampakkan ke kalangan proletariat oleh karena persaingan dan, setelah industri moden berkembang maju, mereka itu malahan melihat datangnya saat di mana mereka akan lenyap sama sekali sebagai golongan mandiri masyarakat modern, digantikan oleh perusahaan-perusahaan, oleh pertanian dan perniagaan, oleh mandor-mandor, oleh pegawai-pegawai dan pelayan-pelayan toko.

Di negeri-negeri semacam Prancis, yang kaum taninya merupakan bagian yang jauh lebih besar daripada separo jumlah penduduknya, adalah wajar bahwa penulis-penulis yang memihak proletariat dalam menentang borjuis memakai ukuran kelas tani dan borjuis kecil dalam kritiknya terhadap rejim borjuis, atau membela kelas buruh dari segi pendirian kelas antara tersebut. Dengan begitu timbul lah Sosialisme borjuis kecil. Sismondi adalah pemuka dari ajaran tersebut, tidak hanya di Prancis, tapi juga di Inggris.

Ajaran Sosialisme ini dengan sangat tajamnya mengurai kontradiksi-kontradiksi dalam syarat-syarat industri modern. Ia menelanjangi pembelaan-pembelaan munafik kaum ekonomis. Ia membuktikan, dengan tak dapat disangkal lagi, akibat-akibat yang mencelakakan dari mesin dan pembagian kerja; konsentrasi kapital dan tanah ke dalam beberapa tangan saja; kelebihan produksi dan krisis-krisisnya; ia menunjukkan keruntuhan yang tak terelakkan dari borjuis kecil dan kaum tani, kesengsaraan proletariat, anarki produksi, ketidakadilan yang sangat menyolok dalam pembagian kekayaan, perang pemusnahan industri di kalangan bangsa-bangsa, penghancuran ikatan-ikatan moral lama, hubungan-hubungan kekeluargaan lama, kebangsaan-kebangsaan lama.

Menurut tujuannya, yang mereka nilai positif, bagaimanapun juga, Sosialisme semacam ini memperjuangkan hidup-kembalinya alat-alat produksi dan alat-alat pertukaran lama dan, bersamaan dengan itu, berupaya menghidupkan kembali semua hubungan hak pemilikan lama serta masyarakat lama yang, dalam rangka hubungan hak pemilikan lama, membatasi alat-alat produksi dan alat-alat pertukaran modern yang telah dan pasti akan menghancurkan alat-alat produksi dan alat-alat pertukaran lama. Dalam kedua hal tersebut, keduanya reaksioner dan utopi.

Kata-kata mereka jang terakhir ialah: gabungan gilda sebagai ganti manufaktur; hubungan-hubungan patriarkal dalam pertanian.

Akhirnya, ketika kenyataan-kenyataan sejarah, tak dapat dibantah lagi, telah menghapuskan semua pengaruh penipuan diri yang memabukkan itu, Sosialisme semacam ini akhirnya undur diri dengan hina dan sangat mengibakan.

c. Sosialisme Jerman atau Sosialisme “Sejati”

Literatur Sosialis dan Komunis Prancis, literatur yang lahir di bawah tekanan borjuis yang sedang berkuasa, dan merupakan pernyataan dari perjuangan melawan kekuasaan tersebut, dimasukkan ke Jerman pada waktu borjuis di negeri itu baru saja memulai perjuangannya menentang absolutisme feodal.

Kaum filsuf, setengah-filsuf dan “jiwa-jiwa berbakat” Jerman dengan penuh nafsu menguasai literatur ini, namun lupa bahwa berpindahnya tulisan-tulisan tersebut keluar dari Prancis tidak lah disertai oleh berpindahnya syarat-syarat sosial Prancis ke Jerman.

Setelah berhadap-hadapan dengan syarat-syarat sosial di Jerman, literatur Prancis ini kehilangan segala arti praktisnya yang langsung, dan hanya mempunyai corak literer semata-mata. Dengan demikian, bagi para filsuf Jerman abad ke-18, tuntutan-tuntutan revolusi Prancis yang pertama tidak lebih daripada tuntutan-tuntutan ‘Akal Praksis’ pada umumnya, dan pernyataan kemauan borjuis revolusioner menurut pandangan mereka berarti hukum-hukum kemauan belaka, hukum-hukum kemauan sebagaimana yang seharusnya, hukum-hukum kemauan manusia sejati pada umumnya.

Tulisan-tulisan kaum literat Jerman kemudian hanya berwudjud penyesuaian kepada pikiran-pikiran baru Prancis tersebut namun bersaripati perasaan filsafat kuno mereka, atau lebih tepat lagi, mengambil pikiran-pikiran Prancis tersebut dengan tidak menanggalkan pandangan filsafat mereka sendiri. Cara mengambilnya sama seperti belajar bahasa asing, sekadar menerjemahkan.

Umum tahu bagaimana rahib-rahib menuliskan riwayat hidup (yang tak masuk akal) tentang orang-orang suci Katolik di atas manuskrip, yang berisi karangan-karanagn klasik zaman purba, ketika orang belum beragama. Kaum literat Jerman berbuat sebaliknya terhadap literat duniawi Prancis. Mereka menulis filsafat yang tak bermakna di belakang tulisan Prancis yang asli. Misalnya, dibelakang kritik Prancis tentang fungsi-fungsi ekonomi uang, mereka menulis tentang “alienasi kemanusiaan”, tentang negara borjuis, tentang “kemunduran kategori secara umum”, dan seterusnya dan seterusnya. Mereka menjelaskan frase filosopis (di belakang bayang-bayang kritisme historis Prancis) sebagai “filosofi aksi”, “sosialisme sejati”, “sosialisme ilmiah Jerman” dan lain sebagainya.

Literatur sosialis dan komunis Prancis benar-benar menggembirakan. Dan ketika ia berakhir di tangan orang Jerman, yang memakainya untuk mengekspresikan perjuangan suatu kelas melawan kelas yang lainnya, orang Jerman kemudian secara sadar mengubah “kesatu-sisian, pemihakan, Prancis” terhadap perwakilan sebenarnya menjadi pemihakan terhadap perwakilan kebenaran; orang Jerman tidak membela kepentingan proletariat tetapi kepentingan umat manusia, manusia secara umum, yang tidak miliki kelas apapun, tak punya kenyataan, atau yang hanya muncul di kerajaan mistik dan fantasi filosofis.

Sosialisme Jerman tersebut, atau lazimnya hasil anak sekolahan yang sedang mengerjakan pekerjaan rumahnya dengan sangat serius dan hikmat, menyanjung-nyanjung kemiskinan pembendaharaannya dengan tampilan yang menipu, dan secara bertahap kehilangan kesombongannya yang lugu.

Perjuangan orang Jerman, khususnya borjuasi Prusia, dalam melawan aristokrasi feodal dan monarki absolut atau, dengan kata lain, sebagai gerakan liberal, menjadi lebih bersungguh-sungguh. Karena itu, harapannya sangat jauh dalam memperoleh kesempatan untuk menawarkan sosialisme sejati, yang bertujuan mengkonfrontasikan gerakan sosial dengan tuntutan-tuntutan sosial namun dengan sekadar melemparkan kutukan tradisional kepada liberalisme, melawan pemerintahan yang representatif, melawan kompetisi borjuis, kebebasan dan keseimbangan borjuis, kebebasan pers borjuis, legislasi borjuis, dan mengkonfrontasikan gerakan dengan sekadar memberi kotbah pada massa bahwa massa tak punya apapun untuk diraih, semuanya hilang oleh gerakan borjuis tersebut. Sosialisme Jerman lupa bahwa, dalam waktu pendek, kritisme Prancis bisa bergema karena adanya masyarakat borjuis modern, dengan kondisi ekonomi yang menyelarasinya, dan dengan konstitusi poitik yang diterapkannya, yang semuanya itu sedang ditunda-tunda di Jerman. Bagi pemerintahan absolut, dengan para pendeta, profesor, dan tuan tanah desa pengikutnya, gerakan filosofis Jerman tersebut diperlakukan sebagai burung gagak yang ramah, yang sedang melawan borjuis yang mengancam keberadaannya.

Suatu akhir yang indah, menelan pil pahit pukulan dan peluru, karena reaksionisme pemerintahan yang itu juga yang membangkitkan kelas buruh Jerman.

Namun, sosialisme “sejati” Jerman kemudian menggunakan pemerintah sebagai senjata untuk menghadapi borjuasi Jerman sehingga, pada saat yang sama, mereka secara langsung mewakili kepentingan reaksioner, kepentingan Filistin Jerman. Di Jerman, kelas borjuis kecil, warisan abad ke-16, yang sejak itu secara konstan selalu dipangkas, dalam berbagai bentuknya adalah kaum sosialis “sejati” dengan segala keberadaan yang sekarang ada.

Mempertahankan kelas ini sama juga mempertahankan keadaan Jerman saat ini. Supremasi industrial dan politik borjuis mengancamnya, berusaha menghancurkannya; disatu sisi, dengan konsentrasi kapital; disisi lainnya, dengan pertumbuhan proletariat revolusioner. Sosialisme “sejati” muncul untuk membunuh dua burung ini dengan satu batu. Ia menyebar seperti epidemi.

Jubah jaring laba-laba yang spekulatif, yang dirajut dengan bunga-bunga retorik, berpijak pada embun sentimen gila sosialisme Jerman, adalah jubah transendental yang menyelimuti ratapan mereka terhadap “kebenaran umum”, yang hanya laku, hanya terdengar, di kalangan publik semacam itu pula dan, memang, sumsum dan tulang mereka diabdikan untuk menjual barang dagangan tersebut kepada publik seperti itu. Dan, pada waktunya, sosialisme Jeman akan tahu juga bahwa mereka merupakan perwakilan Filistin borjuis kecil.

Ia memproklamirkan bangsa Jerman sebagai satu bangsa teladan, dan itu lah tipikal borjuis kecil Jerman. Masud-maksud keji manusia model ini diselubungi intepretasi sosialis—yang disembunyikan atau dibesar-besarkan—yang bertentangan dengan karakter sebenarnya. Mereka bergerak ke arah ekstrim sebegitu jauhnya sehingga secara langsung bertentangan dengan karakter “penghancuran brutal” komunisme, dan memproklamirkan keutamaan dalam menghina semua perjuangan kelas. Sangat sedikit sekali pengecualiannya, bahwa semua yang disebut publikasi sosialis dan komunis yang ada sekarang ini (1847) didominasi oleh literatur yang melemahkan tersebut.

2. Sosialisme Borjuis atau Sosialisme Konservatif

Salah satu bagian dari borjuis adalah mereka yang menuntut jalan keluar/perbaikan terhadap dendam sosialnya yang, sebenarnya, dalam rangka menjamin kelangsungan keberadaan masyarakat borjuis.

Mereka itu adalah para ekonom, humanitarian, pewelasasih, mereka yang berusaha memperbaiki kondisi kelas buruh, organisator karitas/kedermawanan, anggota masyarakat penyayang binatang, kaum fabatik yang pemberang, dan reformis tambal-sulam dari semua jenis yang dapat dibayangkan. Bentuk sosialisme ini bekerja dalam sistem yang lengkap. Kita bisa mengacu pada buku Proudhon Philosophie de la Misĕre (Filsafat Kemiskinan) untuk melihat contoh seperti itu.

Borjuis sosialistik menginginkan semua keuntungan kondisi sosial modern tanpa perjuangan dan tak mau menerima konsekwensi bahaya yang dihasilkannya. Mereka setuju terhadap keberadaan masyarakat yang ada sekarang ini namun tanpa elemen revolusioner dan disintegrasi masyarakatnya. Mereka menginginkan borjuis yang tak berproletariat. Borjuasi secara alami menggambarkan wajah dunia yang tebaik; dan sosiliasme borjuis mengembangkan konsepsi yang menyenangkangkan ini dalam sisitem yang kurang-lebih lengkap. Mereka tak bisa membawa proletariat ke luar dari sistim ini, langsung membawanya ke Jerussalem-sosial baru, karena dalam kenyataannya proletariat harus tetap berada dalam ikatan masyarakat yang ada, harus membuang semua ide-ide kebenciannya pada borjuis.

Bagi kelas buruh, bentuk kedua sosialisme semacam ini, yang lebih praktis tapi kurang sistematis, tak lain adalah upaya untuk memukul mudur setiap gerakan revolusioner, karena sosialisme semacam ini berkesimpulan bahwa tak ada reformasi politik yang murni, atau yang ada hanya lah hanya perubahan kondisi material yang ada dalam hubungan ekonomi dan ini, katanya, akan menguntungkan kelas buruh. Dengan perubahan kondisi-kondisi material semua keberadaan, sosialisme semacam ini mengerti, bagaimanapun juga, bahwa penghapusan hubungan produksi borjuis, perubahannya yang hanya akan terjadi dengan suatu revolusi, bukan lah reformasi administratif, yang akan tetap melangsungkan keberadaan hubungan-hubungan tersebut; reformasi, karenanya, dilihat dari segala hal, akan memberikan pengaruh pada hubungan antara kapital dan tenaga kerja, arti terbaiknya adalah memperkecil biaya produksi dan menyederhanakan pekerjaan administratif pemerintahan borjuis. Sosialisme borjuis mencapai ekspresinya yang memadai jika, dan jika hanya, sekadar sebagai bahan pembicaraan.

Perdagangan bebas: memberikan manfaat pada kelas buruh. Tugas-tugas perlindungannya: memberikan manfaat pada kelas buruh. Reformasi terbatas: memberikan manfaat pada kelas buruh. Ini lah kata terakhir sosialisme borjuis yang paling bermakna. Bisa diringkas dalam satu kalimat: borjuis adalah borjuis—memberikan manfaat pada kelas buruh.

3. Sosialisme Utopia-kritis dan Komunisme Utopia-kritis

Dalam hal ini kita bukan mengacu pada literatur yang, dalam setiap revolusi besar, selalu menyuarakan tuntutan-tuntutan proletariat, seperti tulisan Babeuf dan yang lainya.

Usaha langsung pertama proletariat (untuk mencapai tujuan akhirnya), yang dikerjakan di masa yang menggairahkan secara universal, adalah ketika mereka bisa menggulingkan masyarakat feodal—usaha selanjutnya mengalami kegagalan karena negara proletariat yang mereka dirikan masih terbelakang, juga karena ketiadaan kondisi ekonomi untuk pembebasannya, kondisi yang belum tercipta, yang hanya bisa diciptakan dengan menyingkirkan zaman borjuis. Literatur revolusioner yang menyertai gerakan-gerakan pertama proletariat kemudian berkarakter reaksioner. Ia meredam asketisme universal dan peringkatan sosial dalam bentuknya yang paling kasar.

Sistem sosialis dan komunis—suatu sebutan yang tepat—tumbuh dalam masa perjuangan Saint Simon, Fourier, Owen dan yang lainnya, menyebar di periode keterbelakangan awal seperti yang tergambar di atas, tumbuh ketika terjadi perjuangan antara proletariat dan borjuis (lihat Bagian I. Borjuis dan Proletariat).

Pendiri sistem ini, sungguh, bisa melihat adanya antagonisme kelas, sebagaimana juga bisa melihat aksi elemen-elemen yang sedang didekomposisi dalam masyarakat yang sedang mencari bentuknya. Tetapi proletariat, dalam masa mudanya tersebut, menawarkan pada mereka gambaran kelas yang tanpa inisiatif historis apapun atau tanpa gerakan politik independen apapun. Ketika perkembangan antagonisme kelas saling berlomba dengan perkembangan industri, ketika situasi ekonomi seperti yang mereka dapatkan tak sedang menawarkan pada mereka kondisi material bagi pembebasan proletariat. Karena itu mereka mencari ilmu sosial baru, mencari hukum-hukum sosial baru, untuk menciptakan kondisi-kondisi yang mereka inginkan.

Aksi historis memberikan hasil berupa dorongan untuk menemukan hal-hal baru pada personal mereka sehingga, secara historis, menawarkan kondisi emansipasi yang fantastis dan menciptakan organisasi proletariat yang gradual serta spontan, yang berkembang menjadi organisasi masyarakat secara khusus, seolah-olah diciptakan oleh pencipta-pencipta ini. Masa depan sejarah, dalam pandangan mereka, dengan sendirinya akan bergerak ke arah propaganda dan praktek yang akan memenuhi rencana sosial mereka.

Dalam membentuk rencananya, mereka sadar bahwa mereka sedang mengemban kepentingan kelas buruh, yang sedang menjadi kelas yang paling menderita. Dalam pandangan mereka, proletariat hadir ke hadapan mereka hanya bila menjadi kelas yang menderita.

Perjuangan kelas yang statusnya masih terbelakang, sebagaimana keterbelakangan lingkungannya, menyebabkan Sosialis semacam itu sadar bahwa mereka jauh dari superior bila dibandingkan dengan semua antagonisme kelas. Mereka berkehendak memperbaiki kondisi setiap anggota masyarakat, bahkan yang paling sejahtera. Oleh karena itu lah mereka menyerukan cita-citanya pada dan bagi masyarakat secara umum, tanpa membedakan kelas; bahkan, preferensinya disampaikan pada kelas yang berkuasa. Bagaimana mungkin, orang yang mengerti sistim yang melingkupinya gagal memahami kemungkinan rencana yang terbaik untuk mempersembahkan negara yang terbaik bagi masyarakat?

Itu lah sebabnya mereka menolak semua aksi politik, terutama yang revolusioner; mereka berharap bisa mencapai tujuannya dengan jalan damai, dengan pengalaman yang miskin, ringkih terhadap kegagalan, dan berusaha melapangkan jalan bagi Gospel sosial baru.

Gambaran fantastik tentang masyarakat masa depan dilukiskan pada saat proletariat masih dalam tahapan terbelakang, suatu gambaran dengan konsep fantastik tentang posisinya sendiri, dan itu sesuai dengan kerinduan naluriah kelasnya untuk merelisasikan rekonstruksi umum masyarakat.

Namun, publikasi sosialis dan komunis tersebut juga mengandung elemen kritis. Mereka menyerang semua prinsip masyarakat yang ada. Sejak itu mereka penuh dengan material yang paling berharga guna pencerahan kelas buruh. Perlakuan praktis yang ditawarkan—seperti penghapusan perbedaan antara desa dengan kota, penghapusan keluarga, penghapusan sistim yang menyeret industri menjadi milik individual dan sistem upah, proklamasi harmoni sosial, konversi fungsi-fungsi negara ke dalam pengawasan murni produksi—semuanya merujuk pada upaya untuk menghilangkan antagonisme kelas pada saat antagonisme kelas tersebut baru saja panen, publikasinya baru pada tahap awal, dan bentuknya masih kacau, tak jelas. Karena itu tawaran-tawaran tersebut benar-benar berwatak utopia.

Signifikansi Sosialisme Utopia-kritis dan Komunisme Utopia-kritis menyandang hubungan sebaliknya bila dikaitkan dengan perkembangan sejarah. Dalam hal memahami perjuangan kelas modern yang sedang berkembang dan mengambil bentuk tertentunya yang nyata, utopia fantastik tersebut berposisi di luar pertentangan yang sebenarnya, tak setuju, menyerang, adanya pertentangan tersebut, sehingga kehilangan seluruh nilai praktis dan semua justifikasi teorinya. Karenanya, walaupun penggagas sistem ini, dalam banyak hal, revolusioner, para pengikut mereka dalam setiap kasus membentuk sekte yang benar-benar reaksioner. Mereka berpegang pada keaslian pandangan guru mereka dalam menentang perkembangan progresivitas historis proletariat. Karena itu mereka mencoba secara konsisiten untuk memadamkan perjuangan kelas dan mendamaikan antagonisme kelas. Mereka masih bermimpi mewujudkan eksperimental utopia sosial mereka dengan mendirikan “phalanstĕres” yang terisolasi, membentuk “koloni tanah air” (18), mendirikan “Icaria Kecil” (19)—edisi duodecimo Yerussalem baru—dan mewujudkan semua kastil awang-awang, dengan cara memaksa, menyerukan dan menyentuh perasaan borjuis. Secara perlahan mereka tenggelam dalam kategori sosialis konservatif-reaksioner seperti yang dilukiskan di atas, yang perbedaannya hanya lah bahwa mereka merupakan kaum yang, secara lebih sistimatis, mencongkakan ilmunya dengan mendesakkan kepercayaan fanatis dan takhyul terhadap efek keajaiban ilmu sosial mereka.

IV

Posisi Komunis Saat Berhubungan dengan Berbagai Partai Oposisi

Pada Bagian II telah dijelaskan hubungan antara komunis dengan partai kelas buruh yang ada, seperti kaum Charties di Inggris dan kaum reformis agraria di Amerika.

Komunis berjuang untuk mencapai tujuan mendesak, untuk memaksakan kepentingan sesaat kelas buruh; tetapi dalam gerakannya sekarang ini mereka juga mewakili dan menjaga masa depan gerakan. Di Prancis Komunis beraliansi dengan kaum sosial-demokrasi (20) dalam melawan borjuis konservatif dan radikal, untuk mempertahankan, bagaimanapun juga, hak mengambil posisi kritis dalam hal mempertahankan ayat-ayat ilusif yang secara tradisional berhasil dikukuhkan oleh Revolusi besar.

Di Swiss mereka mendukung kaum radikal tanpa kehilangan kesadaran akan kenyataan bahwa partai ini berisikan elemen-elemen antagonis—pada khususnya Sosialis-Demokratik—yang, dalam makna Prancis, khususnya borjuis radikal.

Di Polandia mereka mendukung partai yang mendesakkan revolusi agraria sebagai syarat utama bagi emansipasi nasional, yakni partai yang melancarkan pemberotakan umum Krakow tahun 1846.

Di Jerman mereka bertempur bersama borjuis, di mana pun, ketika borjuis beraksi di jalan revolusioner melawan monarki absolut, tuan feodal dan borjuis kecil.

Walaupun demikian, mereka tak pernah berhenti sesaat pun mengajar kelas buruh secerdik mungkin untuk mengakui adanya antagonisme, permusuhan, antara borjuis dengan proletariat. Kerjasama dengan borjuis hanya lah bertujuan agar kelas buruh Jerman dapat secara langsung menggunakan senjata sebanyak mungkin, dan karenanya mereka harus mendorong terciptanya kondisi sosial dan politik yang dibutuhkan borjuis yang, secara bersamaan, akan meningkatkan supremasinya, atau tujuan lain yang menyertainya adalah perjuangan melawan kelas reaksioner di Jerman hingga, akhirnya, perlawanan dengan borjuis itu sendiri bisa segera dimulai.

Para Komunis mengalihkan perhatian utamanya ke Jerman karena negeri itu berada dalam masa hamil tua revolusi borjuis, yang terikat dan bisa diarahkan sesuai dengan kondisi-kondisi peradaban Eropa yang lebih maju, yang proletariatnya begitu maju ketimbang yang ada Ingeris pada abad ke-17 dan Prancis pada abad ke-18, dan karena revolusi borjuis di Jerman akan segera terjadi, akan merupakan pembukaan yang segera tiba bagi revolusi proletar.

Pendeknya, komunis dimana saja mendukung gerakan revolusioner menentang segala orde sosial dan politik yang ada.

Dalam semua gerakan yang mereka kemukakan, komunis sadar akan persoalan utama tuntutannya: persoalan hak pemilikan, tak peduli sejauh, setinggi, apapun derajat perkembangannya pada saat itu.

Komunis merasa hina bila menyembunyikan pandangan-pandangan dan tujuan-tujuannya. Mereka secara terbuka mengemukakan tujuan-tujuannya, yang hanya bisa dicapai dengan menggulingkan (dengan kekerasan) semua kondisi sosial yang ada. Biarkan lah kelas penguasa gemetar pada revolusi komunis. Proletar tak akan kehilangan apapun selain belenggunya. Mereka akan merebut dunia, itu lah miliknya kemudian.

KELAS BURUH SELURUH DUNIA, BERSATULAH !

***

(1) Dalam “The Communist Manifesto, and its relevance for today”, Resistance Marxist Library, New South Wales, Australia, 1998.

(2) Metternich (1773-1859), perdana menteri kerajaan Austria-Hongaria.

(3) Guizot (1787-1874), perdana menteri Perancis yang reaksioner.

(4) Kaum Demokrat-Republikan burjuis. Penulis-penulis dan kaum politikus terkemuka yang menentang Sosialisme dan Komunisme.

(5 dan 6) Kaum patrisir dan plebejer adalah kelas-kelas dalam masyarakat Roma-Kuno. Kaum patrisir adalah kelas pemilik tanah besar yang berkuasa, yang menguasai tanah dan negara. Kaum plebeyer (dari perkataan pleb—rakjat jelata) adalah kelas wargakota yang merdeka, tetapi tidak mempunyai hak penuh sebagai wargakota. Untuk mengetahui kelas-kelas di Roma hingga yang serinci-rincinya, lihat tulisan Engels “The Origin of the Family, Private Property and the State.”

(7) Manufaktur di sini maksudnya bukanlah cara produksi modern yang sudah menggunakan mesin, tetapi buruh-tangan atau pengrajin yang dikumpulkan oleh seorang kapitalis di dalam satu bangunan tempat kerja.

(8) “Pangkat Ketiga”: pedagang-pedagang di kota, kelas yang membayar pajak kepada raja terpisah dari “pangkat-pangkat” lainnja (seperti kaum bangsawan dan gereja).

(9) “Monarki setengah-feodal dalam zaman manufaktur” adalah suatu monarki atau kerajaan dengan menggunakan pangkat-pangkat (agamawan, bangsawan, burjuasi—“pangkat ketiga”), yang memiliki wakilnya dalam badan-badan penasehat kerajaan.

(10) Perpindahan bangsa-bangsa di Eropa dari abad ke-4sampai abad ke-6 Masehi. Perpindahan besar-besararan berbagai bangsa tersebut terjadi selama masa itu, meluas sampai ke daerah kerajaan Roma. Engels memberikan gambran tentang sifat-sifat istimewa dari revolusi tersebut dalam Bab. VII dan Bab. VIII tulisannya, “The Origin of the Family, Private Property and the State.”

(11) Perang Salib adalah ekspedisi militer dan perampasan besar-besaran ke Timur-Dekat di bawah pimpinan Gereja Katolik pada masa abad ke-11 sampai abad ke-13, dengan dalih untuk “membebaskan” tanah suci (Palestina). Berbagai kelas dalam masyarakat feodal mengambil bagian dalam Perang Salib ini, Masing-masing kelas mengejar tujuannya sendiri—kaum feodal mencari tanah baru, kaum pedagang mencari pasar baru, kaum tani (yang terampas tanahnya) mencari tanah baru. Para pengikut Perang Salib tersebut akhirnya bisa diusir kembali ke Eropa dari negeri-negeri yang telah mereka taklukkan.

(12) Mengenai hal ini lihat pendahuluan Engels pada tulisan Marx, “Wage Labour and Capital”.

(13) Dalam bahasa aslinya, bahasa Jerman, disebut Rentier. Yang dimaksudkan adalah pemilik (dalam hal ini pemilik kecil) yang hidup dari penghasilan modalnya yang ditanam dalam surat-surat berharga, seperti obligasi pemerintah dalam dan luar negeri atau saham-saham industri.

(14) Yang dimaksud di sini ialah kaum Luddis (1811-1813), di Inggris, dan tukang tenun Silesia (1844), di Jerman.

(15) Dalam edisi Jerman (“Dietz Verlag”, l5 Aufl., Berlin 1958, hlm. 20.) dinamakan “Lumpenproletariat.” Lumpen menurut artikata sebenarnya adalah “kain atau pakaian bekas yang sudah sangat rusak.”

(16) Maksudnya adalah dalam Revolusi Besar Perancis (1789-1794) yang menggulingkan monarki absolut dan kekuasaan kaum bangsawan Perancis.

(17) Yang dimaksudkan dengan pemilikan kuno adalah pemilikan pada zaman Yunani dan Roma Kuno, yang didasarkan pada penghisapan atas kerja budak.

(18) Koloni tanah air adalah apa yang disebut Owen sebagai model masyarakat komunisnya. (Catatan Engels pada edisi Jerman, 1890).

(19) Phalanstĕres adalah nama tempat umum yang direncanakan oleh Charles Fourier, atau koloni sosialis yang direncanakannya; Icaria adalah nama yang diberikan oleh Cabet pada utopianya, lalu pada koloni komunis amerikanya. (Catatan oleh Engels pada edisi Inggeris, 1888.)

(20) Partai yang di Parlemen diwakili oleh Ledru Rollin. Nama Sosial-Demokrasi berhubungan dengan para penemu suatu bagian dari Partai Republikan atau Demokratik, yang lebih kurang mendekati warna sosialisme (Catatan Engels pada edisi Inggris, 1888); Partai di Prancis pada waktu itu menyebut dirinya Sosial-Demokrasi yang, dalam kehidupan politiknya, diwakili oleh Ledru Rollin dan, dalam literatur Lousi Blanc, beda dengan Sosial-Demokrasi Jerman saat ini. (Catatan Engels pada edisi Jerman, 1890.)

Baca juga

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.