Kemiskinan dan Globalisasi

Kemiskinan dan Globalisasi (1)

oleh Vananda Shiva

Belum lama ini aku mengunjungi Bathinda, negara bagian Punjab, karena terjadi sebuah epidemi bunuh diri di kalangan petani. Punjab sebelumnya dikenal sebagai daerah pertanian yang tersubur di India. Sekarang, setiap petani terbelit hutang dan tak besemangat hidup lagi. Sebagian besar tanah nya mengering, gersang dan berubah menjadi gurun. Sebagaimana yang dikatakan seorang petani tua, bahkan pepohonan berhenti berbuah karena penggunaan-berlebihan pestisida telah membunuh serangga-serangga yang membantu penyerbukan–lebah dan kupu-kupu.

Dan Punjab bukan lah satu-satunya daerah yang mengalami bencana sosial dan lingkungan seperti itu. Tahun lalu, saat aku di Warangal, negara bagian Andara Pradesh, juga ditemukan sejumlah petani yang bunuh diri. Para petani–yang secara tradisonil menanam kacang-kacangan, dan berbagai jenis padi-padian–dirayu oleh perusahaan bibit untuk membeli dan menanam bibit kapas hibrida, yang dipuji-puji sebagai benih yang akan memberikan kekayaan dan akan membuat petani menjadi jutawan/wati (karenanya mereka namai “emas putih”). Yang terjadi malah sebaliknya, mereka jatuh miskin.

Bibit asli/lokal digantikan oleh benih hibrida baru, yang tak bisa disimpan (sekali pakai) dan harus dibeli setiap tahun nya dengan harga yang mahal. Benih hibrida tersebut juga rentan terhadap serangan hama. Pembelanjaan untuk pestisida di Warangal melonjak 2.000 persen, dari 2,5 juta dollar AS (tahun 1980) menjadi 50 juta dollar (tahun 1997). Sekarang para petani masih juga mengkonsumsi pestisida yang sama–atau untuk bunuh diri, agar mereka bisa terbebas selamanya dari hutang yang tak sanggup mereka lunasi.

Perusahaan bibit tersebut sekarang mencoba memperkenalkan bibit rekayasa genetik, yang lebih mahal lagi dan berisiko terhadap lingkungan. Itu lah mengapa petani seperti Malla Reddy, dari Serikat Petani Andhara Pradesh, tak lagi memakai benih Monsanto (yang menghasilkan panenan kapas Bollgrad) di Warangal.

Pada 27 Maret, Betavati Ratan mengakhiri hidup nya karena tak mampu lagi membayar pinjamannya yang ia pakai untuk menggali sumur guna mengairi lahannya seluas dua acre (1 acre = 4.000 meter persegi). Sekarang sumur itu mengering, bersamaan dengan sumur-sumur lainnya di Gujarat dan Rajastan, di mana lebih dari 50 juta penduduk sedang menderita kekeringan.

Kekeringan bukan lah “bencana alam”. Namun “bencana buatan manusia”. Akibat penggalian air tanah di daerah yang gersang untuk mengairi tanaman ekspor, ketimbang dengan bijaksana mengairi tanaman pangan untuk kebutuhan penduduk lokal.

Karena pengalaman seperti itu lah, yang membuat aku berkesimpulan bahwa kita telah salah berpuas diri dengan ekonomi global. Saya akan bersikukuh dalam kuliah ini bahwa saatnya lah (sekarang ini) kita berhenti dan mulai memikirkan dampak globalisasi bagi kehidupan orang-orang biasa. Ini penting demi kelanjutan hidup dan pembangunan.

Protes di Seattle dan protes terhadap WTO pada tahun lalu telah memaksa setiap orang untuk berpikir kembali. Dalam seri kuliah ini banyak orang menerima aspek berbeda pembangunan berkelanjutan, tak begitu saja menerima mentah-mentah globalisasi. Bagi ku, waktunya lah sekarang untuk mengevaluasi secara radikal apa yang telah kita lakukan. Tindakan yang kita telah lakukan atas nama globalisasi terhadap rakyat miskin adalah brutal dan tak termaafkan. Ini secara khusus terbukti di India dan kita menjadi saksi bencana globalisasi yang tidak henti-hentinya, khususnya dalam pangan dan pertanian.

Siapa yang memberi makan dunia? Jawabanku sangat berbeda dengan apa yang biasa diberikan oleh sebagian besar orang.

Jawabanku: para perempuan dan petani kecil lah yang bekerja dengan keanekaragaman hayati yang merupakan penyedia utama pangan di negeri dunia ketiga. Dan, berlawanan dengan asumsi yang dominan (kini), kenekaragaman hayati berbasiskan pertanian kecil adalah lebih produktif dibanding dengan pola tanam industri yang sejenis (monokultur).

Kekayaan keanekaragaman hayati dan sistem produksi pangan berkelanjutan dihancurkan atas nama peningkatan produksi pangan. Namun dengan penghancuran keragaman hayati, kekayaan sumber nutrisi justru hilang. Saat ukuran poduktivitas yang dipakai adalah jumlah nutrisi per luas lahan (dari sudut pandang keanekaragaman hayati), atau yang disebut dengan “hasil tinggi” industri pertanian atau perikanan, secara tidak langsung menunjukkan hasil produksi pangan atau nutrisi yang lebih banyak.

Perhitungan hasil (output) biasanya mengacu pada berbagai panen tanaman dan produksi. Menanam satu jenis tanaman di seluruh lahan (layaknya pola tanam monokultur) tentu saja akan meningkatkan hasil panenan tanaman tersebut secara individual. Menanam bermacam-macam tanaman dengan menggabungkannya akan menghasilkan panenan tanaman yang lebih rendah secara individual (tanaman tersebut), tapi akan menghasilkan total panen (tanaman) pangan yang lebih tinggi. Hasil panenan ditentukan dengan cara sedemikian rupa agar produksi pangan di pertanian kecil/sempit oleh para petani kecil tak lagi ada, tak lagi diperhitungkan. Cara tersebut meniadakan hasil produksi jutaan petani perempuan di Dunia Ketiga–para petani, seperti di daerah asal saya di Himalaya, yang berjuang melawan penebangan hutan dalam gerakan Chipko, yang lahannya ditanami (bahkan hingga sekarang) jenis padi-padian (Jhangor), sejenis bawang (Marsha), jenis arcis (Tur), kacang kapri hitam (Urad), kacang kapri kuda (Gahat), kacang buncis, kedelai kandungan glisin tinggi (Bhat), terlalu banyak lagi untuk disebutkan. Dari perspektif keanekaragaman hayati, produktivitas yang didasarkan pada keanekaragaman hayati akan lebih tinggi ketimbang produktivitas dengan pola tanam tanam sejenis (monokultur). Aku menyebut cara berpikir yang mengabaikan keunggulan (tingginya) produktivitas keanekaragaman hayati tersebut sebagai “Pola Pikir Monokultur”, yang menciptakan pola tanam monokultur di lahan dan di dunia kita.

Para petani Suku Maya di Chiapas dinilai tidak produktif karena mereka hanya memproduksi 2 ton jagung dalam satu acre. Padahal, keseluruhan hasil produksinya sebenarnya sebanyak 20 ton per acre, bila saja keanekaragaman panenan nya–seperti buncis-buncisan, labu-labuan, sayur-sayuran lainnya, dan buah-buahan–ikut dihitung.

Di pulau Jawa, petani kecil menanam 607 jenis tanaman dalam pekarangan mereka. Di daerah sub-Sahara Afrika, kaum perempuan menanam 120 jenis tanaman. Di Thailand, satu pekarangan rumah saja memiliki 230 jenis tanaman dan, di Afrika, pekarangan nya memiliki lebih dari 60 jenis pohon. Keluarga di pedesaaan Kongo memakan lebih dari 50 jenis daun-daunan dari kebun mereka.

Suatu studi terhadap Nigeria bagian timur mendapati bahwa pekarangan rumah satu keluarga, yang luasnya sekadar 2% dari lahan pertanian nya, bisa menghasilkan setengah dari total panen lahan mereka. Di Indonesia, 20% pendapatan rumah tangga dan 40% pasokan pangan domestik berasal dari pekarangan yang dikelola oleh perempuan.

Penelitian yang dilakukan oleh Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) menunjukkan bahwa lahan kecil yang ditanami beraneka ragam tanaman bisa menghasilkan pangan ribuan kali lebih banyak dibanding industri besar monokultur.

Dan keaneka ragaman hayati, di samping memberikan hasil pangan yang lebih tinggi, merupakan strategi terbaik untuk mengatasi kekeringan dan perluasan gurun.

Apa yang dibutuhkan dunia agar bisa bisa memberi makan penduduknya yang terus bertambah adalan mengintensifkan keanekaragaman hayati, bukan mengintensifkan penggunaan bahan bahan kimia atau rekayasa genetika. Saat perempuan dan para petani kecil memberi pangan dunia melalui keanekaragaman hayati nya, kita berulang-ulang mengatakan bahwa tanpa rekayasa genetika dan globalisasi pertanian dunia akan kelaparan. Walaupun semua bukti empiris menunjukkan bahwa rekayasa genetika tak bisa menghasilkan lebih banyak pangan, bahkan menyebabkan penurunan hasil panen, namun tetap saja ia dipromosikan sebagai satu-satunya alternatif untuk mencegah kelaparan.

Karena itu aku bertanya, siapa sebenarnya yang memberi makan dunia?

Dengan sengaja mengabaikan keanekaragaman hayati, mengabaikan produksi alamiah, mengabaikan produksi yang dikelola perempuan, mengabaikan produksi yang dikelola para petani kecil Dunia Ketiga, tak bedanya dengan menganggap bahwa perusakan dan perampasan sebagai penciptaan.

Ambil kasus “beras emas”, yang sering disebut-sebut sebagai beras yang kaya kandungan Vitamin A nya, dan berguna untuk mencegah kebutaan. Diasumsikan bahwa tanpa rekayassa genetika kita tak bisa mengatasi kekurangan Vitamin A. Padahal, alam telah memberikan kita kelimpahan dan keragaman sumber Vitamin A. Jika beras tidak direkayasa (macam-macam) maka beras itu sendiri akan menyediakan Vitamin A. Bila herbisida tak digunakan untuk menyemprot lahan gandum kita, kita telah mempunyai dedaunan banthua, amaranth, biji/ tanaman yang ditumbuk untuk bumbu (mustard) yang lezat, dan nutrisi hijau yang kaya kandungan Vitamin A nya.

Perempuan di Bengal menanam lebih dari 150 jenis tanaman–antara lain Hinche sak (Enhydra fluctuans), Palang sak (Spinacea oleracea), Tak palang (Rumex vesicarious), Lal Sak (Amaranthus gangeticus). Tetapi mitos penciptaan sebagai hasil karya para ahli rakayasa genetika sebagai pembuat Vitamin A, menegasikan semua keragaman pemberian alam dan pengetahuan bagaimana perempuan telah menggunakan keanekaragaman hayati untuk memberi makan anak-anak dan keluarga mereka.

Cara yang paling ampuh untuk memudahkan penghancuran alam, ekonomi lokal, dan produsen (kecil) otonom adalah dengan menyembunyikan peran mereka dalam produksi.

Perempuan berproduksi untuk keluarga dan komunitas nya diperlakukan sebagai orang-orang “yang tak produktif” dan “secara ekonomi” tak aktif. Nilai kerja perempuan dipandang rendah–walau pekerjaan nya lah yang bisa mempertahankan kelanjutan kehidupan ekonomi–karena memang demikian lah hakikat yang dihasilkan oleh suatu sistem yang dibangun oleh patriarki kapitalis. Demikian lah cara bagaimana globalisasi mengancurkan ekonomi lokal, dan pengancuran tersebut dianggap sebagai pertumbuhan.

Dan perempuan sendiri memang direndahkan. Sebab banyak perempuan di pedesaan dan dalam komunitas penduduk asli bekerja sama dengan proses alam, pekerjaan mereka kerap berlawanan dengan “pembangunan” yang dikendalikan pasar dan kebijakan-kebijakan perdagangan. Dan karena (pada umumnya) pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan dan bisa memastikan keberlangsungan hidup direndahkan, maka berkurang lah pelindung kehidupan dan sistem pendukung kehidupan.

Produksi yang berkelanjutan dan regeneratif direndahkan dan disembunyikan secara mencolok (terutama) di area kerja yang menghasilkan pangan. Di satu sisi, pembagian kerja secara patriarki mewajibkan peran perempuan sebagai pemberi makan keluarga dan masyarakat namun, di lain sisi, ekonomi patriarki dan cara pandang ilmu pengetahuan dan teknologi yang patriarki, secara gaib, menghilangkan sumbangan kerja perempuan dalam menyediakan makanan. “Memberi Makan Dunia” menjadi sesuatu yang tak berkaitan dengan perempuan (yang sebenarnya paling besar perannya) dan, malahan, diproyeksikan agar tergantung kepada agrobisnis global dan perusahaan-perusahaan bio-teknologi hayati.

Padahal, industrialisasi dan rekaya genetika pangan dan globalisasi perdagangan dalam sektor pertanian lah yang menciptakan (resep) kondisi bagi kelaparan, atau bukan untuk memberi makan orang-orang miskin.

Di mana-mana, produksi pangan menjadi ekonomi negatif–para petani lebih banyak membelanjakan uangnya untuk membeli bahan-bahan produksi yang dihasilkan oleh industri ketimbang pendapatan yang mereka terima dari hasil panennya. Akibatnya, hutang mereka semakin menumpuk dan epindemi bunuh diri mewabah baik di negeri-negeri miskin maupun di negeri-negeri makmur.

Globalisasi ekonomi mengarah pada konsentrasi industri pembibitan, meningkatkan pengunaan pestisida dan, akhirnya, menumpuk hutang. Kapital-intensif, perusahaan yang menguasai pertanian sedang ditebar ke daerah-daerah petani miskin–namun, hingga sekarang, masih bisa mencukupi pangannya sendiri. Di daerah-daerah yang telah mengenal pertanian industri (melalui globalisasi), biaya yang semakin meningkat jelas membuat para petani kecil tak mungkin bisa bertahan.

Globalisasi pertanian industri yang tak berkelanjutan sesungguhnya menguras pendapatan petani Dunia Ketiga melalui kombinasi penurunan nilai mata uang, peningkatan biaya produksi, dan penjatuhan harga komoditas hasil panennya.

Petani, di mana-mana, dengan jumlah panen yang sama, menerima pendapatan yang lebih rendah ketimbang sepuluh tahun yang lalu. Serikat Tani Nasional Kanada, tahun ini, memberikan laporan di bawah ini kepada senat:

“Di saat para petani penghasil biji-bijian (cereal)–gandum, jagung, oat (jenis gandum langka yang tumbuh didaerah dingin)–mengalami kerugian dan (terdesak) hampir bangkrut; perusahaan-perusahaan pembuat sarapan (cereal) meraup keuntungan besar. Pada tahun 1998, perusahaan cereal seperti Kellogg’s, Quaker Oats, dan General Mills menikmati tingkat keuntungan berturut-turut sebesar 56%, 165% and 222%. Walau 8 galon jagung dijual seharga kurang dari 4 dollar AS, tapi 8 galon serpih jagung (olahan untuk sarapan) dijual seharga 133 dollar AS…Mungkin petani terlalu sedikit mengambil keuntungan; padahal orang lain terlalu banyak mengambil keuntungan.”

Dalam laporan Bank Dunia diakui bahwa “yang menyebabkan polarisasi antara harga konsumen domestik dengan harga dunia adalah keberadaan perusahaan dagang besar dalam pasar komoditi internasional.”

Walau konsumen harus membeli dengan harga yang semakin tinggi, namun pendapatan petani semakin rendah. Di India, antara tahun 1999 dan 2000, harga pangan meningkat dua kali lipat. Di pedesaaan, konsumsi pangan biji-bijian jatuh 12%. Pertumbuhan ekonomi yang dikeruk dari perdagangan global sebenarnya dilandaskan pada surplus yang semu. Perdagangan pangan semakin meningkat, tapi konsumsi orang-orang miskin semakin merosot. Bila pertumbuhan hanya meningkatkan kemiskinan, produksi riil menjadi ekonomi yang negatif, dan para spekulan dihargai sebagai “pencipta kemakmuran”, maka ada yang salah dalam konsep dan kategori kemakmuran dan proses pembangunan nya. Mendesak produksi riil–yang dilakukan oleh manusia dan alam–sehingga menjadi ekonomi yang negatif menyiratkan bahwa produksi barang-barang riil dan jasa sedang merosot, yang akan menciptakan lembah kemiskinan yang lebih dalam bagi jutaan orang yang menjadi bagian dari jalur menuju pembangunan kemakmuran.

Perempuan–sebagaimana telah saya katakan–adalah produsen utama dan pengelola pangan dunia. Namun, pekerjaan mereka dalam produksi dan pengelolaannya sekarang telah dihilangkan.

Baru-baru ini, perusahaan Mc Kinskey mengatakan: ”Perusahaan besar penghasil pangan Amerika mengetahui bahwa agrobisnis India memiliki kesempatan besar untuk tumbuh, khususnya dalam pemrosesan makanan. India memproses sekadar 1% tanaman pangan yang mereka tanam, dibandingan dengan Amerika, 70%. Pemrosesan pangan di India hanya meningkat 1 persen dibandingkan dengan 70 persen yang dihasilkan oleh Amerika Serikat…”.

Bukan maksudnya kami, orang-orang India, lebih banyak makan makanan mentah. Konsultan global gagal melihat bahwa 99% pemrosesan pangan dikerjakan oleh perempuan di tingkat rumah tangga mereka, atau oleh industri kecil perumahan, yang terlepas dari kontrol agrobisnis global. 99% pemrosesan bahan-bahan pertanian tetap berlangsung dalam skala kecil. Sekarang, di bawah tekanan globalisasi, segalanya berubah. Undang-undang higienis semu/palsu diberlakukan/digunakan agar ekonomi lokal dan pemrosesan skala kecil bangkrut.

Pada bulan Agustus 1998, pemrosesan minyak makan lokal skala kecil dilarang di India karena “tak memenuhi peraturan mengenai kemasan”, sehingga penjualan minyak makan tanpa kemasan dinyatakan ilegal dan semua minyak makan harus dikemas plastik atau almunium. Peraturan tersebut mengakibatkan kilang-kilang minyak kecil ditutup; peraturan tersebut juga menghancurkan pasar bagi berbagai benih tanaman bahan minyak makan–minyak kelapa, mustard, wijen, kacang tanah, biji rami.

Dan pengambilalihan industri minyak makan tersebut mempengaruhi kehidupan 10 juta orang. Pengambilalihan atau penukaran tepung (atau apa yang disebut atta) dengan tepung bermerek dan dikemas dalam bungkus mempengaruhi hidup 100 juta orang. Jutaan orang dijerumuskan menjadi orang miskin baru.

Pemaksaaan penggunaan kemasan akan menambah beban lingkungan, yakni jutaan ton sampah baru.

Globalisasi sistem pangan sedang menghancurkan keragaman budaya pangan lokal dan ekonomi pangan lokal. Globalisasi monokultur sedang dipaksakan kepada orang-orang dengan menganggap bahwa apa saja yang segar, berasal dari tanah setempat dan buatan tangan, akan berbahaya bagi kesehatan. Tangan manusia dianggap sebagai alat penyebar penyakit yang paling berbahaya, dan kerja tangan dikatakan sebagai pelanggaran terhadap undang-undang, yang harus digantikan oleh mesin dan bahan kimia yang dibeli dari perusahaan-perusahaan global. Yang demikian itu bukan lah resep untuk memberikan makan dunia, tetapi mencuri kehidupan orang miskin untuk menciptakan pasar bagi mereka yang sangat berkuasa.

Manusia dianggap sebagai parasit, yang harus dibasmi demi “kesehatan” ekonomi global.

Dalam proses nya, konsep kesehatan baru dan ancaman ekologi dipaksakan kepada rakyat negeri-negeri dunia ketiga melalui dumping bahan pangan yang telah direkayasa secara genetis dan berbagai produk berbahaya lainnya.

Perkembangan yang terakhir, karena aturan WTO, India telah dipaksa untuk menyingkirkan semua batasan bagi masuknya barang-barang impor.

Diantaranya adalah sampah atau bagian dari binatang yang telah mati yang akan mengancam budaya kami dan menyebabkan ancaman terhadap kesehatan, seperti penyakit sapi gila.

Pusat Pencegahan Penyakit Amerika Serikat yang berada di Atlanta telah menghitung bahwa setiap tahun nya terjadi hampir 80 juta penyakit bawaan (sejak lahir) karena pangan. Kematian akibat keracunan makanan melonjak empat kali lipat setelah deregulasi. Infeksi tersebut paling banyak diakibatkan oleh pabrik penghasil daging. Amerika Serikat menyembelih 93 juta babi, 37 juta sapi, 2 juta anak sapi, 6 juta kuda, kambing, biri-biri dan 8 milyar ayam dan kalkun setiap tahun nya.

Sekarang perusahaan daging besar Amerika Serikat ingin men-dumping daging yang telah terkontaminasi dengan cara kekerasan dan keji kepada konsumen India.

Sampah sang kaya di-dumping kepada orang-orang miskin. Kemakmuran si miskin dirampas secara kasar melalui (cara baru dan pintar) seperti melalui hak paten atas keanekaragaman hayati dan pengetahuan penduduk asli.

Hak paten dan hak kekayaan intelektual sebenarnya dimaksudkan untuk memberikan penghargaan terhadap penemuan baru. Tapi, hak paten juga dikenakan terhadap varietas padi semacam basmati–di daerah kelahiran ku, varietas tersebut sudah sangat lama dikenal–atau pestisida yang berasal dari Neem (sejenis tumbuhan)–yang telah digunakan oleh nenek dan ibu ku lama sebelumnya.

Rise Tec, satu perusahaan yang berkantor di AS, telah mengenakan hak paten No. 5.663.484 terhadap jenis beras dan biji-bijian basmati.

Basmati (satu jenis padi yang harum), neem (berguna juga untuk penguat dan pengharum rambut), lada, labu-labuan, kunyit… setiap aspek inovasi yang terkadung dalam pangan atau sistem kesehatan penduduk asli sekarang dibajak dan dipatenkan. Pengetahuan si miskin telah diubah/dirampas menjadi kekayaan peruasahaan global, sehingga orang miskin harus membayar bibit dan obat-obatan yang telah mereka kembangkan sendiri untuk nutrisi dan kesehatan mereka.

Klaim yang tak benar tentang hak cipta tersebut sekarang telah menjadi norma global, dan Trade Related Intellectual Property Rights Agreement (perjanjian perdagangan atas hak-hak kekayaan intelektual yang bisa diperdagangkan) nya WTO lah yang memaksa negeri-negeri di dunia mengkukuhkan rejim yang mengizinkan mempatenkan bentuk-bentuk kehidupan dan pengetahuan penduduk pribumi.

Ketimbang mengakui bahwa kepentingan komersial dibangun berlandaskan alam dan sumbangan dari kebudayaan lain, hukum global malahan mendewa-dewakan mitos patriarkis tentang penciptaan agar hak-hak kekayaan baru diterima sebagai bentuk-bentuk kehidupan–tak beda nya bagaimana kolonialisme menggunakan mitos penemuan sebagai basis/alasan untuk mengambil laih tanah milik orang lain sebagai koloni.

Manusia tidak menumbuhkan kehidupan bila mereka memanipulasi nya. Pengakuan Rice Tec bahwa ia menghasilkan “penemuan instan bibit padi unggulan”, atau pengakuan Institut Roslin bahwa Ian Wilmut telah “menciptakan” rel, berarti menyangkal kemampuan kreativitas alam, menyangkal kemandirian mengorganir kapasitas bentuk-bentuk kehidupan, dan menyangkal inovasi-inovasi lebih awal dari komunitas-komunitas Dunia Ketiga.

Pemberian hak-hak paten dan hak-hak kekayaan intelektual bertujuan mencegah pembajakan. Sebaliknya, hak-hak tersebut telah menjadi alat untuk membajak pengetahuan tradisionil (milik bersama) negeri-negeri Dunia Ketiga yang miskin, dan menjadikan nya “hak milik” ilmuwan dan perusahaan dari Barat.

Saat benih dan tanaman semacam dipatenkan, seperti dalam kasus basmati, pencurian mereka sebut sebagai penciptaan, dan menyimpan serta membagi-bagikan benih disebut sebagai pencurian kekayaan intelektual. Perusahaan-perusahaan yang telah memiliki hak paten yang demikian banyak/luas seperti terhadap kapas, kacang kedelai, mustard (bumbu-bumbuan tumbukan dari biji-bijian), menuntut petani yang menyimpannya sebagai bibit, dan menyewa lembaga detektif untuk menemukan petani yang menyimpan bibit tersebut atau membagi-bagikannya kepada tetangga nya.

Pengumuman terakhir yang menyatakan bahwa Monsanto memberikan bahan-bahan genetik padi tiruan (genome) secara gratis adalah salah kaprah, karena Monsanto tak pernah memiliki suatu komitmen untuk tidak mematenkan varietas padi atau varietas tanaman lainnya.

Berbagi dan saling tukar–yang merupakan landasan kemanusiaan kami dan bagaimana kami mempertahankan lingkungan hidup (ecological survival) kami–dianggap sebagai perbuatan kriminal. Anggapan seperti itulah yang membuat kita (semua) miskin.

Alam telah memberikan pada kita kelimpahan–pengetahuan tentang keanekaragaman hayati, pertanian, dan nutrisi yang dimiliki oleh kaum perempuan penduduk asli dikembangkan berdasarkan kelimpahan tersebut, agar kita tak kekurangan, agar kita tumbuh-berkembang karena kita saling-berbagi.

Orang-orang miskin dijerumuskan menjadi lebih miskin lagi dengan memaksa mereka membayar apa yang tadinya milik mereka. Bahkan orang-orang kaya menjadi makin kaya karena keuntungan mereka diperoleh dengan mencuri dan menggunakan pemaksaan serta kekerasan. Cara-cara seperti itu bukan lah upaya untuk menciptakan kesejahteraan tapi penjarahan.

Pembangunan berkelanjutan mensyaratkan perlindungan terhadap semua spesies dan semua manusia, serta pengakuan bahwa spesies yang beragam dan manusia yang beragam berperan penting dalam proses ekologi. Binatang penyerbuk sangat penting bagi pembuahan dan kelanjutan generasi berbagai tanaman. Keanekaragaman hayati di suatu ladang menyediakan sayur-sayuran, pakan ternak, obat-obatan, dan melindungi tanah dari erosi air serta udara.

Bila manusia semakin jauh melantur ke jalan pembangunan tak berkelanjutan, maka manusia akan semakin tidak toleran terhadap spesies lainnya dan tak akan sanggup melihat pentingnya peran mereka untuk keberlangsungan hidup nya.

Pada tahun 1992, saat petani India menghancurkan perusahaan pembibitan Cargill di Bellary, Kartanaka, untuk memprotes kegagalan pembibitan, Direktur Utama Cargill mengatakan, “Kami mencoba memberikan teknologi tinggi (cerdas) kepada petani India, yang akan mencegah lebah mengganggu penyerbukan.” Saat aku berpastisipasi dalam pertemuan United Nations Biosafety Negotiations (negosisasi keanekaragaman hayati PBB), Monsanto membagikan bahan bacaan yang membela penggunaan herbisida nya (Roundup)–
yang, katanya, mampu membersihkan lahan (yang ditanami) dari “tumbuhan liar yang mencuri sinar matahari”. Tapi apa yang Monsanto sebut sebagai tumbuhan liar adalah tetumbuhan hijau yang menyediakan vitamin A (seperti yang terdapat dalam beras) yang berguna untuk mencegah kebutaan pada anak-anak dan anemia pada perempuan dewasa.

Pandangan dunia yang menganggap bahwa penyerbukan sebagai “pencurian oleh lebah”, dan pengakuan bahwa keanekaragaman hayati sebagai “pencuri” sinar matahari, adalah pandangan yang digunakan untuk mencuri hasil alam–dengan cara menggantikan varietas terbuka (melalui penyerbukan) dengan benih hibrida dan steril, yang akan menghancurkan keanekaragaman flora karena dibasmi oleh hibrida semacam Roundup. Menyusutnya jumlah kupu-kupu Raja–karena tanaman nya kini sudah direkayasa secara genetik–merupakan salah satu contoh perusakan lingkungan oleh teknologi hayati (biotechnologies) yang baru. Bila kupu-kupu dan lebah menghilang, maka produksi akan berkurang. Bila keanekaragaman hayati melenyap, maka pula lenyap pula lah sumber nutrisi dan pangan.

Bila perusahaan-perusahaan besar memandang petani kecil dan lebah sebagai pencuri, dan melalui aturan perdagangan serta teknologi baru berupaya mendapatkan hak untuk menyingkirkan mereka, maka kemanusiaan telah mencapai ambang yang berbahaya. Otoritas untuk menindas serangga kecil, tumbuhan kecil, petani kecil datang dari sebuah ketakutan yang mendalam–takut akan semua yang hidup dan bebas. Dan ketidakamanan serta ketakutan yang mendalam tersebut akan membuat mereka melakukan kekerasan terhadap semua spesies dan manusia.

Ekonomi perdanganan bebas dunia, yang telah menjadi ancaman bagi kesinambungan dan kelangsungan hidup rakyat miskin serta spesies lainnya (sebagai taruhannya), bukan lah sekadar efek samping atau merupakan sebuah penyimpangan tapi, memang, merupakan sebuah cara yang sistematis–melalui restrukturisasi cara pandang kita pada tataran yang paling mendasar. Atas nama persaingan dan efisiensi pasar, pembangunan berkeberlanjutan, saling-berbagi, dan bertahan hidup dianggap (secara ekonomi) sebagai pelanggaran.

Malam ini, aku hendak berpendapat: kita harus dengan segera membawa planet ini dan manusia nya kembali pada gambaran nya yang sejati.

Memberi makan dunia hanya lah bermakna memberi makan segala sesuatu yang membangun dunia.

Dengan memberikan pangan kepada makhluk dan spesies lain berarti memelihara kondisi untuk keamananan pangan kita sendiri. Dengan memberi makan cacing berarti memberi makan kita sendiri. Dengan memberi makan sapi berati memberi makan tanah; dan menyediakan pangan bagi tanah berarti menyediakan pangan bagi manusia. Cara pandang tentang kelimpahan dilandaskan pada saling berbagi dan kesadaran mendalam manusia sebagai anggota keluarga dari bumi ini. Kesadaran bahwa jika kita menyengsarakan mahluk lain, berarti kita menyengsarakan diri sendiri; dan bila kita menyehatkan makan mahluk lain, berarti kita menyehatkan diri sendiri; kesadaran seperti itu lah yang merupakan landasan nyata bagi pembangunan berkelanjutan. Tantangan bagi pembangunan berkelanjutan (pada milenium baru) adalah apakah manusia (dalam ekonomi global) bisa mengakhiri cara pandang yang berlandaskan pada ketakutan dan kelangkaan, monokultur dan monopoli, perampasan dan penyingkiran, serta digantikan dengan cara pandang yang berlandaskan kelimpahan dan saling berbagi, keanekaragaman dan desentralisasi, serta menghargai dan memberikan martabat kepada segala makhluk.

Pembangunan berkelanjutan menuntut kita untuk menyingkirkan jebakan ekonomi yang tak menyisakan ruang bagi spesies dan manusia lainnya. Globalisasi Ekonomi telah menjadi perang melawan alam dan rakyat miskin. Tetapi hukum globalisasi bukan lah suatu takdir. Hukum globalisasi bisa diubah. Hukum globalisasi memang harus diubah. Kita harus menghentikan peperangan ini.

Sejak Seattle, sebuah sistim yang berbasiskan peraturan membutuhkan ungkapan yang paling sering digunakan. Globalisasi adalah aturan komersial yang mendewakan Wall Street sebagai satu-satunya sumber nilai. Hasilnya, segala sesuatu harus bernilai tinggi–alam, budaya, masa depan direndahkan nilainya dan dirusak. Aturan-aturan globalisasi meremehkan aturan-aturan keadilan dan pembangunan berkelanjutan, meremehkan welas-asih dan saling bagi. Kita harus menyingkirkan totalitarisme pasar dan mengganti nya dengan demokrasi bumi.

Kita bisa bertahan sebagai spesies hanya jika kita hidup sesuai dengan aturan-aturan biosfir. Biosfir bisa mencukupi kebutuhan manusia jika ekonomi global menghargai batas-batas yang ditentukan oleh pembangunan berkelanjutan dan keadilan.

Sebagaimana Gandhi mengingatkan kita: “Bumi bisa mencukupi kebutuhan setiap orang, tapi tak bisa mencukupi orang-orang rakus.”

 

Pertanyaan dari Hadirin

Sujata Gupta, dari Tata Energy Research Institute:Aku ingin mendengar pandangan anda tetang penggunaan yang berkelanjutan terhadap barang yang terbatas, misalnya air untuk pertanian. Apa yang saya dengar dari kuliah anda adalah: secara total mengutuk sistem pasar.

Vandana Shiva (VS): Biarkan aku menanggapinya dengan berkata: aku mencintai pasar. Aku mencintai pasar lokal ku, tempat “angsa” lokal dijual, dan seseorang bisa ngobrol dengan perempuan. Tragedi sesungguhnya adalah: pasar telah berbalik menjadi satu-satunya prinsip yang mengatur kehidupan, dan Wall Street telah menjadi satu-satunya sumber nilai; dan yang aku kutuk adalah, mereka menghancurkan pasar serta nilai-nilai lainnya. Dalam masalah air, jalan keluar nya adalah: manajemen konservasi dan kelangkaan air jangan diserahkan pada orang yang mampu membeli sampai tetes yang terakhir, tapi harus diserahkan ke tangan komunitas, sehingga bisa digunakan secara berkesinambungan dalam batas-batas pengganti nya, yang baru, bisa disediakan. Air harus dikembalikan kepada komunitas dan diatur dengan akal sehat–diperlakukan melebihi kepentingan pasar semata.

Professor Marva, dari University of Delhi: Bisa kah pembangunan berkelanjutan tanpa populasi berkelanjutan?

VS: Aku pikir, pertumbuhan populasi yang tak berkelanjutan merupakan gejala dan produk dari pembagunan yang tak berkelanjutan. Pertumbuhan penduduk bukan lah merupakan gejala yang terpisah. Anda bisa melihat data nya: pertumbuhan populasi India stabil hingga tahun 1800–hingga adanya kolonisasi, penyingkiran orang dari lahan-lahan nya, mulai menyebabkan populasi bertambah. Tingkat pertumbuhan penduduk tertinggi di Inggris terjadi setelah rakyat kecil digusur dari lahan-lahan nya. Semua itu menyebabkan orang kehilangan sumber daya untuk meningkatkan kehidupan nya dan, kemudian, orang harus mengandalkan/menjual tenaga kerja nya ke pasar–dengan upah harian (yang berlaku di pasar) yang tak menentu. Itu lah yang memicu pertumbuhan populasi. Peningkatan populasi merupakan hasil dari pembagunan yang tak berkelanjutan.

Bhoopinder Singh Hooda, anggota Majelis Legislatif dari Haryama: Aku berasal dari keluarga petani, dan aku sendiri adalah seorang petani. Petani terus menerus dieksploitasi, bahkan sebelum ada globalisasi. Dan aku sepenuhnya sependapat dengan kau–globalisasi menyebabkan neo-kolonialisasi, tapi kita tak bisa menghindari globalisasi. Aturan WTO telah menjadi kenyataan–tak ada satu negeri pun yang bisa menghindari nya, sebagaimana yang kau anjurkan.

VS: Aturan-aturan WTO ditulis di atas lembaran-lembaran kertas–seperti yang selalu aku katakan dalam kuliah ku, aturan-aturan tersebut bukan lah takdir dari Tuhan. Dengan demikian, aturan-aturan tersebut bukan lah kenyataan yang abadi (yang tak bisa diubah) layaknya tanah dan dataran Gangga. Aturan-aturan tersebut justru harus diubah–itu lah pesan yang disampaikan di Seattle, dan cara untuk mengubahnya adalah dengan mempertimbangan kehidupan rakyat, mempertimbangkan penggunaan sumber daya yang berkeberlanjutan, dalam nurani setiap langkah keputusan perdagangan, agar menjamin bahwa setiap aturan perdagangan mencerminkan pembangunan berkelanjutan dan hak-hak rakyat untuk memperoleh jaminan kehidupan.

Bhoopinder Singh Hooda: Petani di India tak memperoleh subsidi (negatif)–tak ada subsidi pagi petani. Jadi, bagaimana mungkin, persaingan yang tak seimbang tersebut bermain dalam globalisasi?

VS: Tepat, sekali, itu lah isu yang sebenarnya–menurut mereka, kita akan memiliki medan yang setara. Menurut mereka, bila aturan-aturan WTO diterapkan/dilaksanakan maka kita akan memiliki pasar yang adil bagi petani India. Itu lah alasan terpenting satu-satunya mengapa India setuju menandatangani pakta GATT setelah peretemuan Uruguay Round (putaran/pertemuan Uruguay). Sekarang, nyatanya, sebaliknya: medan nya tak setara–negeri-negeri Utara (anggota OECD) memberikan subsidi sebesar 343 milyar dollar, dan subsidi tersebut sebenarnya sudah meningkat dua kali lipat nya begitu pertemuan Uruguay Round selesai; sementara India memberikan subsidi (negatif) sebesar 25 milyar dollar. Sekarang orang bisa saja tetap sengit (mendebat) mempersoalkan negeri-negeri utara yang memberikan subsidi demikian tinggi–aku pikir argumen nya harus diubah menjadi seperti ini: bagaimana kita bisa menjamin bahwa petani kecil di setiap negeri, juga air, tanah, keragaman hayati di setiap negeri dapat dilindungi, dan bagaimana kita bisa memastikan bahwa aturan-aturan perdagangan yang sama sekali salah (yang disepakati oleh para menteri atau sekretaris/pejabat perdagangan) bisa diperbaiki untuk menjamin bahwa medan yang tak setara tersebut tak akan menghancurkan Bumi dan para produsen nya.

Dr. Sandhya Tiwari, dari Confederation of Indian Industry (konfederasi industri india): Dr Shiva, apakah memang benar bahwa pekerjaan untuk menyelamatkan plasma nuftah dan keanekaragaman hayati harus diserahkan pada petani, juga untuk mengembangkan tanaman-tanaman yang kurang produktif? Apakah tak sebaiknya pekerjaan tersebut diserahkan pada akhli nya?

VS: Baik lah, aku juga akan mengatakan nya: serahkan pada akhli nya, yaitu petani perempuan. Alasan mengapa sampai sekarang kita bisa memiliki/menyediakan keanekaragaman hayati adalah karena ada akhli-akhli keanekaragaman hayati–yakni orang-orang yang, secara jender, disebut perempuan; yang hanya memiliki sejumput tanah di belahan dunia termiskin–yang terus menerus menyelamatkan keanekaragaman hayati karena (menurut perspektif mereka) lebih produktif. Tidak lah akan produktif bila setiap petani (di satu wilayah) menanam jagung, seperti yang dikehendaki perusahaan perdagangan monopoli (satu-satunya); yang sangat produktif dan efesien dalam menggunakan air dan tanah–untuk memberi makan keluarga, memiliki sedikit kelebihan produksi untuk dijual ke pasar lokal, untuk memembiayai sekolah anaknya; adalah komunitas tersebut yang, sesungguhnya, akan menyelamatkan, menjaga, sumber daya demi kita. Kita tak bisa mempercayakan sumber daya tersebut ke tangan yang lainnya.

Gulgit Choudhury, dari Ram Organics: Sebelumnya aku bekerja di Monsanto. Aku punya pertanyaan sederhana buat kau. Seandainya saja anda diberi peluang untuk mengembangkan parameter pengaturan sosial (yang menjamin pembangunan berkelanjutan), apa yang akan kau anjurkan untuk negeri seperti India?

VS: Sebenarnya, dalam lima tahun terakhir ini, kami–dengan cara membangun demokrasi partisipatoris; dengan cara yang bisa menjamin bahwa setiap orang dari semua lapisan bisa mendapatkan akses informasi; dengan cara yang bisa menjamin bahwa suatu komunitas telah terorganisir–telah terlibat dalam mengembangkan semacam kriteria untuk mengatur sumber daya secara kolektif, karena sumberdaya hanya bisa dipertahankan (keberadaan nya) secara kolektif. Jika uang dan kekuasaan yang kumiliki kugunakan untuk menggali/membor sumur-pipa, maka aku bisa mengeringkan sumur-dangkal tetangga ku, (biasanya) seorang perempuan miskin. Dan, karena nya, satu-satunya cara bagi penduduk desa untuk menyelamatkan air tanah adalah dengan melakukan apa yang Paani Panchayath lakukan di Harash–memastikan penggunaan air sesuai dengan batasnya. Sistem pengaturan harus dimulai dari tempat di mana orang akan merasakan dampaknya dan, karena nya, mensyaratkan pembangunan kembali desentralisasi demokrasi langsung. Menurutku, para penggarap bukan lah individu-individu yang terisolasi karena konsekuensi dari apa yang mereka lakukan akan dirasakan oleh tetangga-tetangganya. Bila aku menanam bibit jagung (rekayasa) bio-teknologi di ladangku, maka aku akan membunuh kupu-kupu raja di ladang tetanggaku. Komunitas, kolektif, merupakan kesatuan masyarakat yang lebih penting dibicarakan ketimbang para penggarap individual, dan itu lah yang menjadi landasan utama pembuatan keputusan yang harus dipertanggungjawabkan baik oleh perusahaan maupun oleh pemerintah. Demikian lah pengalaman yang telah dirintis setelah aksi Seatle; dan pengalaman tersebut–yang harus bisa dipertanggungjawabkan (atau disesuaikan) lokalisasi nya, agar keputusan-keputusan yang dibuat dijamin sesuai dengan tempat nya, dan produksi yang dijalankan sesuai dengan tingkatan nya–merupakan upaya baru demokrasi yang melibatkan masyarakat seluruh dunia, bahkan saat globalisasi sedang mengancam hidup kita.

Pembawa acara, Kate Adie: Terima kasih. Nah, kita masih disediakan waktu agar hadirin (yang ada di Nehru Memorial Library, Delhi, ini) bisa mengajukan beberapa pertanyaan. Tapi itu nanti, sebentar lagi. Sebelumnya, aku akan membacakan beberara surat-elektronik (e-mail) yang dikirimkan ke situs Reith BBC. Dari Bangladesh, Alimgihia Haque, mengatakan bahwa ia sendiri simpati pada Vandana Shiva dan Pangeran Wales dalam menangani masalah pangan GM. Syukur pada Tuhan, katanya, bahwa rakyat Inggris bisa mengemukakan suaranya, dan Perdana Menteri Blair harus mendengarkan nya.

Seorang peserta dari Malaysia, yang bernama Yong, mengkritisi pemimpin-pemimpin negeri nya sendiri. Menurutnya, di satu sisi, para pemimimpin tersebut mengutuk globalisasi; tapi, di sisi lain, mereka memberikan persetujuan bagi pembangunan bendungan dan aktivitas-aktivitas lain yang merusak lingkungan.

Chris Whitehouse, yang mengirim kan surat elektronik nya dari Nepal, bertanya apakah bila dibangun jalan lebih banyak, disediakan lemari pendingin lebih banyak, dihadirkan kakus (berpenyiram) yang rakus air lebih banyak, rakyat negeri-negeri berkembang akan lebih bahagia? Apakah kakus berpenyiram air membuat negara berkembang lebih bahagia? Setiap masyarakat, menurutnya, harus diberikan hak untuk menentukan visi pembangunan nya sendiri.

Zeb Phibbs, dari Inggris, mengatakan bahwa karena kita makan daging lah maka kita punya banyak persoalan. 70% dari tetumbuhan digunakan untuk memberi makan binatang yang, kemudian, kita bunuh untuk makanan kita. Gunakan saja lahan tersebut untuk (langsung menanam) tanaman pangan kita, sehingga kita bisa dengan mudah memberi makan setiap orang. Menjadi seorang vegetarian memudahkan jawaban nya–bebas dari kekerasan dan keberkelanjutan. Apalagi yang kalian butuhkan?

Akhirnya, kita mendapat surat dari Anthoni Giddens, yang sebelumnya juga memberikan kuliah di acara ini. Ia menulis untuk Anda, Vanda, seperti ini: “Aku megucapkan selamat atas presentasi anda yang menantang. Aku harus mengatakan nya, walau aku banyak tak setuju dengan apa yang anda katakan. Bukan kah sessuatu yang kontradiktif: menggunakan media global untuk melawan globaliasasi?”

VS: Menurutku BBC bukan lah produk dari rezim globalisasi ekonomi seperti yang telah diberikan oleh WTO, atau seperti liberalisasi perdagangan yang baru-baru ini diberlakukan. Menurutku BBC, yang didirikan pada tahun 1922, merupakan cerminan dari intergrasi ekonomi dan komunikasi internasional yang berbeda dengan apa yang disebut globalisasi ekonomi. Makna globalisasi ekonomi yang ada sekarang ini adalah konsentrasi korporat, atau penguasaan korporat; dan, sebenarnya, BBC merupakan contoh (perlawanan) terhadap nya, berbeda dengan media dan komunikasi global seperti Time Warner yang, sekarang, telah dibeli oleh American on Line, Disney, dan New Corporation.

Prof. Vinod Chowdhury, pengajar ekonomi di St. Stephen’s College: sangat lah mengejutklan ku bahwa Vandanaji bisa memiliki cara pandang sepihak seperti itu. Aku menghormati presentasi nya yang begitu bersemangat. Nampaknya Vandanaji sangat percaya bahwa terdapat dua paradigma yang, jelas, saling bertentangan. Yang satu, adalah paradigma yang intinya dilandaskan pada desentralisasi, demokrasi–segala hal yang baik dalam kehidupan: kaum perempuan diperhatikan dan dijaga; anak-anak diperhatikan dan dijaga; ini, itu, dan sebagainya, diperhatikan dan dijaga. Yang lainnya, adalah sisi yang sangat jahat. Segala yang salah. Sebenarnya, hidup tak seperti seperti itu. Aku memohon dengan sangat pada Vandanaji, hendaknya kau mempertimbangkan paradigma ketiga–sesedikit apapun, kita bisa mengambil yang terbaik dari kedua sisi; mengambil pendekatan yang eklektis (campuran) dan praktis. Aku mendukung Boopinder Singh Hooda–Ketua Kongres Haryama–yang telah bertanya kepada kau sebelumnya tapi kau tak menjawabnya: saat ini, apa alternatif nya bila tak satu negeri pun yang sanggup menghindari WTO? WTO bukan lah sekadar secarik kertas ibu; tapi merupakan suatu komitmen yang harus dilakukan oleh negeri-negeri yang terlibat dalam WTO, bila tak ingin negerinya menjadi negeri paria, dan kita tak boleh menjadi negeri paria. Mohon ditanggapi.

VS: Aku sudah menanggapinya; aku sudah mengatakan bahwa aturan-aturan tersebut harus ditulis ulang. Menulis ulang aturan-aturan yang berat sebelah. Sebenarnya, aturan-aturan WTO lah yang samasekali berat sebelah karena mereka sesungguhnya hanya melindungi kepentingan salah satu sektor dari komunitas global, yakni adalah korporasi global, bukan industri lokal, bahkan bukan bisnis eceran lokal, bukan petani kecil di mana pun, baik di utara, maupun di selatan. Dan aturan-aturan tersebut bisa ditulis ulang. Itu lah pemikiran yang hendak aku sampaikan. Jangan anggap aturan-aturan WTO dalam Uruguay Round Treaty (pakta/kesepakatan pertemuan Uruguay) sebagai sesuatu yang sudah final, atau sebagai aturan-aturan perdagangan yang selayaknya. Aturan-aturan nya sedang ditinjau ulang. Apa yang kami serukan di Seattle merupakan masukan yang lebih demokratik, yang berkelanjutan dan adil, sebagaimana layaknya aturan-aturan yang hendak diterapkan di bidang pertanian, pada hak-hak kepemilikan intelektual, dalam bidang jasa, dalam bidang investasi, empat area baru yang mau diatur mereka. Sebelumnya, tak ada yang mempermasalahkan GATT. GATT yang lama merupakan cerminan: perdagangan riil atas produk riil lintas nasional. GATT yang baru, hasil dari Uruguay Round, adalah tentang siasat untuk menginvasi setiap relung kehidupan sehari-hari kita; dan bila kau seorang perempuan, kau akan memiliki cara pandang yang agak berbeda. Itu lah sebabnya kita harus berbicara masalah jender. Bila kau seorang yang miskin, kau akan memiliki pandangan yang berbeda dari orang kaya. Memiliki pandangan yang berbeda karena berbeda tempat/posisi dalam masyarakat bukan lah suatu masalah. Adalah opurtunistik bila kita mengambil sejumput (elemen) perspektif orang kaya, sejumput perspektif orang miskin, dan menempatnya menjadi kepingan-kepingan kecil tersusun (jigsaw) pernyataan-pernyataan oportunis. Masyarakat hidup dengan prinsip-prinsip, sistim organisasi, nilai-nilai, dan cara pandang yang terpadu. Dan apa yang sedang kita serukan/perjuangkan adalah menyeimbangkan pandangan sepihak yang berat sebelah, sepihak–bahwa kita hidup sekadar dalam dunia komersil.

Rovinder Raki, pelajar: Anda kelihatannya sangat memuji keadilan dan efesiensi pertanian tradisionil, masyarakatnya, serta pola produksinya. Tetapi kenyatannya, petani dihisap dalam masyarakatnya, oleh lintah darat dan tuan-tuan feodal. Saat pasar menyentuh masyarakat seperti itu, sistem sosial yang menghisap tersebut bisa ditaklukan. Sekarang, apa yang hendak kutanyakan adalah: apa yang menahan kau sehingga tak menghargai dampak baik dari pasar, bisa membersihkan yang kotor/jahat, atau apa yang disebut dampak sanitasi pasar?

VS: Baik lah, dampak sanitasi pasar memang seharusnya menghentikan perlakuan terhadap manusia layaknya kuman. Menyapu bersih semuanya. Pemikiran yang tidak menyingkirkan, menghilangkan yang kecil/tak berdaya lah yang sebenarnya aku coba ungkapkan (untuk disimak, ditakzimi benar) dalam kuliahku ini. Selama ini, selalu terjadi penghisapan¾aku sepakat dengan Tuan Hooda¾tapi seharusnya tak boleh lagi ada penghisapan dalam periode ekonomi sekarang ini.

***

Keterangan:

1. Disampaikan pada acara Kuliah Reith, BBC.

Baca juga

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.