Kemiskinan dan Degradasi Lingkungan: Tantangan dalam Ekonomi Global

Kemiskinan dan Degradasi Lingkungan: Tantangan dalam Ekonomi Global (1)

Oleh: Akin L. Mabogunje   

Penurunan tingkat hidup dihadapi setiap orang di negeri yang sedang berkembang setiap harinya. Mungkin sebagian saja yang jarak dan tingkat hidupnya mengalami kenaikan mencolok–yang merupakan fenomena yang muncul pada perang dunia kedua–meskipun telah diusahakan diatur kesenjangannya, dan agen internasional yang berhubungan dengannya telah berusaha menawarkan pembangunan global dan pembangunan ekonomi dalam serangkaian pengenalan sosial. Meskipun beberapa negeri mengalami perkembangan yang sangat penting dalam segala hal, dan beberapa kelompok pribadi serta kelas sosial telah keluat dari kemiskinan, jutaan sisanya telah terperosok dan kehilangan harapan.

Menurut Laporan World Development tahun 2000/2001, 1,2 milyar orag dari 6 milyar populasi dunia hidup dengan 1 dollar perhari, 2,8 milyar manusia, atau hampir setengah dari populasi dunia, hidup dengan kurang dari 2 dollar perhari. Di tahun 1998, 40% populasi di Asia Selatan dan lebih dari 46% di pinggiran kota Sahara-Afrika, hidup kurang dari 1 dollar perhari. (2)

Bagaimanapun juga, kemiskinan tidak lagi cukup didefinisikan dengan istilah pendapatan sedikit, ini harus dijelaskan dari beberapa segi fenomena. Dalam sebuah percobaan yang memggambarkan rumitnya kemiskinan, UNDP membedakan antara orang yang berpendapatan rendah dengan orang yang miskin. (3) Menurut UNDP, orang yang berpendapatan rendah terdapat ketika tingkat pendapatan seseorang jatuh di bawah ukuran garis kemiskinan nasional. Pendapatan didasarkan pada ukuran penialaian kemiskinan–yang menjelaskan sumber-sumber ekonomi bagi kebutuhan dasar minimum, khususnya makanan; juga untuk memudahkan perbandingan penilaian dengan negeri-negeri yang sedang mengalami kemajuan dalam mengurangi kemiskinan.

UNDP mendefinisikan kemiskinan manusia sebagai penolakan atau kerugian terhadap kesempatan dan pilihan yang akan memungkinkan pribadi itu “sehatan, hidup kreatif, dan menikmati standar kebaikan hidup, kebebasan, martabat, penghormatan terhadap diri sendir  serta orang lain.” (4) Untuk mengukur kemiskinan manusia, UNDP  mengemukakan tiga indikasi: pertama, hubungan manusia dengan ancaman kematian–hubungannya dengan status usia muda, dalam arti ukuran prosentase populasi yang meninggal sebelum usia 40; kedua, hubungannya dengan pribadi membaca dan komunikasi–dalam arti ukuran prosentase orang dewasa yang buta huruf; ketiga, hubungannya dengan standar hidup dan ukuran prosentase manusia yang memiliki akses terhadap pelayanan kesehatan dan air bersi, serta prosentase balita kurang gizi.

Kesalahan-kesalahan definisi tersebut–yang menghubungkan kemiskinan dengan gambaran lingkungan–merupakan kelemahan dalam pendekatan penyelesaian permasalahan. Dalam sebuah pembicaraan dalam sessi utama pertemuan Lembaga ekonomi dan sosial PBB, pada Juni, 1993, Boutros Boutros Ghali, Sekretaris jenderal PBB, menunjukkan usaha untuk merubah pendekatan tersebut ketika dia menunjukkan bahwa kemiskinan hanyalah salah satu aspek dari fenomena umum kerugian kemanusiawian.

Kerugian adalah konsep multi-dimensi dalam bidang ekonomi, dan perwujudan dari kerugian itu sendiri adalah kemiskinan, dalam politik (marginalisasi), dalam hubungan sosial (diskriminasi), dalam budaya (ketidakmapanan), dan dalam ekologi (ancaman penyeranga. Perbedaan bentuk kerugian menguatkan satu sama lain, seringkali rumahtangga yang sama, daerah yang sama, desa yang sama menjadi korban dari semua bentuk kerugian ini. Kita harus melawan kerugian tersebut dalam setiap bentuk. Bagaimana pun juga, tidak ada dimensi lain dari kerugian yang dapat dipecahkan kecuali kita membicarakan persoalan kemiskinan dan pengangguran. (5)

Konsep-konsep tersebut menempatkan kemiskinan dalam jaringan yang lebih luas saat memaknai kerugian. Karena orang miskin seringkali terlempar dari proses pembuatan keputusan komunitas mereka, diskriminasi saat melakukan protes terhadap kerusakan lingkungan dalam masyarakatnya, terbuang dari sumber abadi masyarakatnya, dan dipindahkan untuk mengisi daerah lingkungan yang tidak aman dalam ruang sosialnya. Dan solusi bagi dilema mereka membutuhkan berbagai cara pendekatan guna memahami batas kerugiannya.

Globalisasi, kemiskinan, dan lingkungan

Bisa jadi, yang paling penting dalam pembangunan di dunia saat ini adalah apa yang secara umum di maksaud “globalisasi”. Globalisasi adalah sebagian hasil  kemajuan yang luar biasa luar biasa dalam informasi tehnologi yang mereka punya, sebagi akibatnya menyusutkan dunia dan mata rantai luas di seluruh bagian di bumi ini, atau menciptakan hubungan secara global. Globalisasi juga hasil dari perluasan model produksi kapitalis. Berubahnya organisasi teknologi dan manufaktur membantu perkembangan perusahaan transnasional yang telah menimbun orang-orang kaya dan menjadikan individu negara menjadi berbangsa tunggal. Teknologi komunikasi membolehkan sumber keuangan yang sangat besar bergerak dari satu bagian dunia ke bagian yang lain, hanya dalam satu menit. Transfer seketika itu juga dari sumber-sumber ekonomi secra luas berpotensi merusak kekayaan ekonomi dari negeri-negeri dan berakibat hancurnya kesempatan hidup dan pekerjaan dalam jumlah yang besar. Karena itu, negara dengan bangsa yang tunggal, mendesak dengan hebat dalam bentuk persaingan untuk investasi asing guna meninggikan tingkat pertumbuhan ekonomi mereka. Untuk menarik investasi tersebut, negara-bangsa harus mencapai tingkat minimum pembangunan infrastruktur dan, lebih penting lagi, mempertahankan tingkat kestabilan politik, ekonomi,dan sosial.

Menjalankan manufaktur disusun dari model klasik –diambil dari contoh dari operasi produksi kendaraan oleh Henry Ford pada awal abad duapuluh)–sehingga pabrik terbesar dapat memproduksi semua komponen yang baik hingga berakhirnya produk, dan guna menghasilkan metode yang mudah dalam produksi komponennya, maka komponen-komponen tersebut diproduksi  berbagai negeri yang berbeda dan kemudian dipasang di tempat lain di dekat tempat penjualan.

Karena itu, meskipun globalisasi menambah buruk kemiskinan di beberapa tempat–dan di antara kelompok yang sama–hal tersebut juga memiliki potensi demokratisasi (yang mungkin mendasar) untuk menghancurkan kemiskinan. Membangun ekonomi tidak dapat keluar dari kemiskinan tanpa menarik perusahaan transnasional tapi, pada waktu yang sama, mereka tidak dapat menarik perusahaan-perusahaan tersebut kecuali  mereka mencapai tingkatan tertentu pembangunan. Karena banyak negeri berkembang ekonominya berada dalam tingkat awal transfomasi pasar bebas model kapitalis,  dan kondisi tersebut diperlukan untuk menarik investor internasional yang sangat sulit didatangkan, khususnya untuk Asia Selatan dan pinggiran Sahara-Afrika.

Menggabungkan Pembangunan Ekonomi kedalam Pasar Global   

Dalam tingkat awal kapitalisme, sangat kritis perbedaan faktor-faktor produksi– tanah, buruh, modal, dan pengusaha–sebagai komoditi, yang dapat mereka bawa bebas, mengatur sendiri pasar pasokan dan permintaan. Untuk masuk kedalam ekonomi global, orang miskin dari negeri berkembang harus mentransformasikan diri mereka sendiri dari petani dengan lahan sendiri menjadi pekerja upahan. Bagaimanapun juga, harga tenaga mereka harus di ditentukan oleh pasokan dan permintaan. Meskipun buruh dianggap sebagai komoditi sebagaimana komoditi yang lain namun, dalam kenyataannya, buruh memiliki sifat manusiawi. Komoditas yang lain dapat menjadi pendorong produksi dan, karenanya, digunakan tanpa pandang bulu, bahkan bisa tak pernah dipakai. Tapi, buruh, tidak dapat diperlakukan dengan cara tersebut, tanpa konsekuensi kemanusiaan yang keras. Untuk alasan tersebut lah, ketika model produksi kapitalis muncul di Eropa, massa rakyat dilemparkan ke dalam kemiskinan yang hina dan dihinakan. Perkembangan ekonomi seperti menghadapi akibat yang serupa, setelah mereka tergabung dalam pasar kapitalis global.

Ulasan dalam Sistem Kapitalis di Inggris pada pertengahann abad pertama dari abad ke sembilanbelas, catatan Karl Polanyi,

“Sistem ini, yang mengatur kekuatan manusia (buruh)–yang menggunakan fisik, juga psikologi dan moralitas sejak lahirnya, ‘manusia’, label yang diberikannya. Perampokan yang dilindungi karena ditutupi oleh institusi budaya, mengakibatkan manusia akan binasa disebabkan oleh berkembangnya permasalahan sosial. Mereka akan mati sebagai korban karena tergelincir oleh keadaan sosial yang sangat akut–masalah buruk, asusila, kejahatan dan mati kelaparan. Alam akan mengurangi unsur lingkungan tempat tinggal, dan pencemaran alam, kotornya sungai, ancaman terhadap keamanan (dari serangan militer), kekuatan produksi pangan dan bahan mentah dihancurkan…

Niscaya, buruh, tanah dan peredaran uang menjadi unsur utama dalam ekonomi pasar. Tapi tidak ada masyarakat yang  dapat tahan dengan akibat dari sistem tersebut, … melawan kerusakan akibat pabrik setan ini.” (6)

Dalam wajah dampak-dampak permasalahan sosial seperti ini, tidak mengherankan jika masyarakat Eropa, dan disusul di Amerika Utara, dari pertengahan abad keduapuluh hingga kini, memaksa melindungi individu dari kemungkinan kerusakan akibat ekonomi pasar bebas. Perlindungan tersebut datang dalam bentuk serikat buruh, dan pemerintah pusat, sebagai wakil rakyat, berjanji untuk mengendalikan potensi kekacauan sosial yang mengganggu akibat kapitalisme melalui peraturan seperti bea cukai, undang-undang pabrik, jaminan sosial dan undang-undang pensiun, kode etik pekerja, serta undang- undang lain tentang kesejahteraan sosial.

Globalisasi merupakan perwujudan dari luasnya jangkauan kapitalisme, dan mereka memaksa negeri-negeri yang berada dalam fase awal kapitalisme untuk berhadapan dengan kemiskinan yang ada dalam populasi mereka. Populasi seperti itu mengejar produksi bahan-bahan mentah untuk pasar global, dan hal tersebut menjadikannya bertambah beradab dengan pilihan menggunakan pengganti produk industri–seperti mengganti kawat tembaga dengan serat optik. Negeri sedang berkembang, dengan produk industrial yang baru lahir, harus bersaing dengan produk yang lebih murah dan baik dari negeri maju. Kapasitas bersaing negeri yang sedang berkembang sangat lemah terutama dalam sektor inovasi tehnologi, disebabkan oleh kelemahan dalam sistem pendidikan dan kemampuan lembaga mereka. Karenanya, harga untuk produksi awal terlihat menurun dari nilai sebenarnya.

 Situasi tersebut tidak membantu negeri yang sedang berkembang, yang cenderung melindungi produk pertanian mereka dengan bea cukai, kuota, dan subsidi ekspor. Prektek tersebut menyengsarakan perdagangan negeri yang sedang membangun–yang lebih dari 2 pertiga orang miskinnya  hidup di daerah pinggiran–sehingga perdagangan produksi pertanian di dunia tumbuh  hanya 1.8 persen per tahun antara antara 1985 dan 1994.

Ditambah globalisasi, ketidakstabilan politik dan konflik daerah adalah faktor yang membuat kemiskinan semakin dalam di berbagai negeri yang sedang berkembang. Antara 1987 dan 1997, lebih dari 85% konflik bersenjata yang terjadi didunia–yaitu perang sipil melawan perbatasan negara mereka sendiri. (7) 14 konflik terjadi di negeri-negeri Afrika, seperti Sudan, Somalia, Angola, Rwanda, Burundi, Liberia, dan Sierra Leone. Di Asia tercatat 14 konflik, di Kamboja, Vietnam, Sri Lanka, dan Indonesia, sementra di Eropa puas dengan pecahnya bekas Yugoslavia. (8) Meskipun populasi keseluruhan naik,  dan konflik tersebut dilakukan oleh populasi yang berbeda secara sosial-ekonomi, namun korban-korbannya terutamadari kalangan rakyat miskin. Jumlah yang sangat berarti dari peristiwa tersebut adalah orang-orang yang asetnya (secara sosial dan material) serta sumber mata pencahariannya dirusak, dan  merupakan orang-orang yang terlantar sebagai akibat konflik bersenjata–yang menambah deretan orang miskin. Pemindahan populasi menciptakan pengungsian besar-besaran, yang mengacaukan pasar-pasar dan bentuk lain lembaga ekonomi dan sosial, dan membebani biaya pengalihan tenaga manusia dan pengeluaran belanja aktivitas produksi. Di tahun 1998, diperkirakan ada 12.4 juta pengungsi internasional dan 18 juta rakyat terlantar, hampir setengahnya berada di Afrika. (9)

Kemiskinan dan degradasi lingkungan

Meskipun globalisasi mencoba mendesakkan pertumbuhan ekonomi dan ketidakamanan yang ditimbulkan dari konfflik bersenjata di daerah, namun terdapat kemajuan di bidang ilmu kesehatan–khususnya dalam ilmu penyakit mewabahyang telah mengakibatkan peledakan jumlah penduduk. Antara tahun 1960-2000, pertumbuhan populasi penduduk berkembang dari 3 milyar menjadi sekitar 6 milyar. Populasi dunia mencapai 6.1 milyar di pertengahan 2000, dan saat ini rata-rata pertumbuhan per tahunnya sekitar 1.2 persen (sekitar 77 juta orang). PBB memperkirakan bahwa, di tahun 2050, populasi dunia akan mencapai antara 7.9 milyar dan 10.9 milyar penduduk. (10) Populasi di negeri yang sedang membangun diharapkan berubah sedikit selama 50 tahun kedepan dan, bahkan, diharapkan lagi untuk menguranginya di beberapa negeri. Bagaimanapun juga, di dunia berkembang, populasi dikuatirkan mencapai 3.3 juta antara tahun 2000 dan 2050. (11)

Perubahan luar biasa dalam populasi global, dari pinggiran kota hingga masyarakat kota, telah  terjadi di wilayah yang sedang membangun dan di daerah yang sedang berkembang di dunia. Kenyataannya, di tahun 2030, populasi penduduk kota dikuatirkan  2 kali dari jumlah populasi penduduk pinggiran kota secara global. (12) Perubahan penyebaran populasi dari pinggiran kota menuju daerah kota telah diikuti dengan perubahan pemusatan orang miskin. Kemiskinan di pusat kota telah mencapai lebih cepat dibanding daerah pinggiran. Menurut perhitungan PBB, 600 juta penduduk di daerah kota di negeri yang sedang berkembang (hampir 28 persen  dari penduduk negeri yang sedang berkembang) tidak dapat menemukan kebutuhan dasarnya untuk bernaung, mendapatkan air dan pelayanan kesehatan. Kenyataannya, sekitar setengah dari populasi penduduk kota di negeri miskin hidup di bawah garis kemiskinan yang ditentukan. (13) Jumlah ini diperkirakan  muncul secara fenomenal melebihi beberapa dekade selanjutnya. Cepatnya pertumbuhan penduduk dan urbanisasi menyebabkan kebutuhan produksi untuk ekspor, yang selanjutnya berakibat buruk pada lingkungan setidaknya dalam 7 cara:

Penebangan hutan. Jalannya pertanian di negeri yang sedang berkembang relatif masih sangat primitif, bergantung pada pengolahan lahan kosong, dengan membersihkan dan membakar semak-semak serta hutan untuk membuat ruang bagi hasil pangan. Secara bersamaan, penebangan hutan muncul dari kebutuhan untuk kayu bakar. Untuk contoh, diperkirakan, kayu bakar dan semak-semak yang tersedia sekitar 52 % dari pasokan energi deomestik di daerah pinggiran sahara afrika; kayu arang, produk lain dari hutan, juga merupakan sumber utama dari energi domestik. (14)

Penggundulan tanah hingga menjadi padang pasir (desertifikasi). Pengolahan tanah berlebihan dan ternak yang berlebihan, dalam tanah pinggiran sebagian besar menyebabkan desertifikasi. Meskipun desertifikasi akibat dari berbagai faktor dan terjadi di berbagai jenis lingkungan, namun yang menyebabkan resiko terutama sekali sering ditemukan dalam wilayah yang bertanah gersang atau setengah gersang. Di wilayah padang rumput tropis, di perbatasan padang pasir, kelebihan ternak berpotensi menyebabkan desertifikasi karena pemberian makanan populasi ternak yang sangat banyak–yang secara cepat berkembang untuk memenuhi permintaan–memerlukan batas pengembangannya. Desertifikasi juga muncul disebabkan karena penghilangan kayu–yang dijadikan sebagai bahan bakar–dan salinisasi hasil panen disebabkan aturan pengairan yang jelek.

Hilangnya anekaragam hayati. Jurang lebar ekosistem menyebabkan orang miskin mengembangkan penghidupannya dengan susah payah dan dihinakan, dan ekosistem berbagai komunitas–baik tanaman maupun binatang–telah ditempatkan dalam proses resiko. Menurut World Resources Institute, sebagian ilmuan setuju bahwa antara 5 dan 10 % spesies/makhluk hutan tropis akan mati pada setiap dekade, sejumlah tertentu hutan akan hilang dan mengalami gangguan. Hilangnya hutan tersebut telah mencapai sekitar 100 species perhari. (15) Lebih dalam lagi, sekitar sepertiga hutan yang hidup di tahun 1950 telah musnah, terutama untuk pertanian, ternak, atau pengumpulan kayu bakar. (16) Perguruan tinggi ilmu pengetahuan Amerika serikat memperkirakan lebih dari 50% dari semua spesies di bumi hidup di hutan tropis: empat mil persegi bidang tanah khas hutan tadah hujan mengandung sebanyak 1,500 spesies tanaman dan tumbuhan, 750 spesies pohon, 125 spesies mamalia, 400 spesies unggas, 100 specses reptil, 60 spesies amphibi, dan 150 speies kupu-kupu. (17)

Erosi. Tekanan populasi telah membuat masa tanah tandus, selain itu juga pengolahan yang berlebihan hasil panen, khususnya di negeri yang sedang berkembang, di mana kemiskinan mengakibatkan dominasi pengembalaan ternak di kosong. Sebagai akibat dari pengolahan tanah yang berlebihan dan musnahnya hutan, erosi tanah menjadi tersebar luas, sebagai contoh, di Ethiopia, tercatat secara relatif tiap tahun humus hilang sampai 296 ton metric per hektar dalam lereng curam. Bahkan negeri-negeri yang agak moderat, erosi dapat dihasilkan secara cepat terutama di daerah-daerah yang tidak dilindungi oleh vegetasi. Di Afrika Barat, tercatat kehilangan 30 sampai 35 tons metric per hektar di lereng yang hanya 1 sampai 2 persen. (18) Di wilayah-wilayah dengan letak batu endapan yang tidak stabil, seperti di Nigeria bagian selatan, erosi di selokan sangat merusak lahan. Erosi angin juga menjadikan kering tanah pinggiran hingga mendekati seperti gurun pasir.

Polusi kota. Polusi kota menggambarkan “keberhasilan” pembentukan kota dan daerah metropolitan dalam negeri yang sedang berkembang. Dimulai dengan sulitnya kondisi tempat perlindungan dari perkampungan penduduk liar, yang terdiri dari pondok pengganti sementara dalam lahan yang orang-orang miskin, yang tidak punya hak kepemilikan, dan biasanya kurang memadainya pasokan air dan  fasilitas sanitasinya. Polusi udara menjadi permasalahan yang serius di daerah seperti itu. Ketergantungan orang-orang miskin pada bahan bakar biomass untuk memasak dan keperluan domestik lain meningkatkan konsentrasi ketergantungan khusus, yang sering melampaui standar WHO, terutama di daerah daerah dimana orang-orang miskin terkonsentrasi. Kebutuhan orang-orang miskin yang rendah berarti transport di antara orang kota telah mendorong berkembang nya model transportasi dengan polusi tinggi, seperti motor dengan mesin satu tak. Kendaran bekas tidak dipelihara dengan baik sehingga menambah tingkat polusi di sebagian kota di negeri yang sedang berkembang. (19)

Membangun sistem dan mekanisme yang efektif yang dapat memfasilitasi ilmu pengetahun dan tekhnik, yang digunakan untuk membantu kaum miskin dan lingkungan hidup, menjadi sangat penting. Munculnya paradigma kesinambungan ilmu pengetahuan mendorong proses yang dapat membantu produksi ilmu pengetahuan di mana para cendekiawan dan para pemegang saham, termasuk kaum miskin, saling berhubungan dalam merumuskan isu-isu penting, bukti-bukti yang relevan, dan membentuk argumen yang dilandaskan pada pemahaman sosial.

Kepastian ilmu pasti menekankan bahwa, ketika pemegang saham terlibat dalam pembentukan pengetahuan seperti itu, maka mereka akan menjadi perantara bagi perkembangan yang berkesinambungan dan wajar. (20) Hanya dengan cara itulah, kita dapat dengan efektif mengatasi masalah kemiskinan dan perusakan lingkungan hidup di negeri-negeri berkembang, dan memulai tugas menghapuskan kemiskinan dalam konteks pembangunan yang berkesinambungan.

(TAMAT)

Keterangan:

1. Poverty and environmental degradation: Challenges within the global economyEnvironment, Jan-Feb, 2002.

2. Bank Dunia. Laporan Perkembangan Dunia 2000/2001: Melawan Kemiskinan (New York: Oxford University Press, 2003), halaman 3.

3. UNDP (United Nations Development Programme/program pembangunan Persatuan Bangsa-bangsa),Laporan Perkembangan Manusia 1997 (New York: : Oxford University Press, 1997), halaman 3.

4. Ibid, halaman 15.

5. Persatuan Bangsa-Bangsa. 1993.

6. K. Polanyi. The Great Transformation: The Political and Economics Origin of Our Time (New York: HoltReinhart dan Winston, 1944), halaman 75.

7. Bank Dunia, lihat no 1, halaman180.

8. D. A. Pottebaum. Economic and Social Implications of War and Conflict (Itacha, New York:Universitas Cornell. Departemen Ekonomi Agrikultural, 1999).

9. Bank Dunia,  lihat no. 1, halaman 127.

10. Divisi Populasi Persatuan Bangsa BangsaProspek Populasi Dunia: edisi Revisi tahun 2000, rancangan naskah, 28 February, 2001.

11. Ibid.

12. Pusat Pemukiman Manusia PBB (UNCHS), An Urbanizing World: Laporan Global terhadap Pemukiman Manusia (Oxford: Oxford University Pres, 1996).

13. A. Marshal dan kawan-kawan. The State of World Population 1996: Changing Places: Population, Development and the Urban Future (Population Fund PBB). Dapat dilihat di http://www.unfpa.org/swp/1996/SWP96MN.HTM.

14. Institute Sumber Daya Dunia (WRI), Sumber Daya Dunia 1994-95: A Guide to the Global Enviroment (New York: Oxford University Press, 1994), halaman 10.

15. WRI, dapat dilihat di http://www.wri.org/bidivtropical/html.

16. P. H. Raven dan T. Williams, dan kawan-kawan, Human Nature and Society: The Quest for a suitable World,  Lanjutan dari Forum Biodiversity, Dewan Pengurus Biologi, Dewan Penelitian Nasional (Pers Akademi Nasional, 2000).

17. Rainforest Web.Org. dapat dilihat di http://www.rainforestweb.org_information/biodiversity/?state*more.

18. WRI, Sumber Daya Dunia 1987: Perkiraaan Sumber Daya Dasar yang Menyokong Ekonomi Global (New York: Basic nooks Inc., 1987), halaman 3.

19. Program Lingkungan Hidup PBB (UNEP) dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Air Pollution in the Worlds MegacitiesEnvironment  Maret, 1994, halaman 4-13, halaman 25-37; dan UNEP dan WHO, Monitoring the  Global Environment: Perkiraan Kualitas Udara daerah Urban, Environment, Oktober, 1998, halaman 6-13, halaman 26-37.

20. R. W. Kates et al., Sustainability ScienceScience, 27 April 2001, 641-42. Juga bisa dilihat di http://www.sustainabilityscience.org.

Keterangan Tambahan:

1. Akin L. Mabogunje adalah seorang ahli geografi yang penelitian dan karyanya didasarkan pada perkembangan daerah urban dan rejional. Ia adalah ketua Development Policy Centre (pusat kebijakan pembangunan), yang berada di Ibadan, Nigeria; ia yang juga Wakil Ketua Prakarsa Internasional Bidang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi untuk Kesinambungan. Sebagai sejawat Akademi Sains Nasional Amerika Serikat, baru-baru ini, ia dianugrahi medali kehormatan tertinggi Nigeria: Comander of the Order of Niger. Dia juga seorang editor-kontributor terbitan Enviroment.

2. Artikel di atas diambil dari makalah yang dihaturkan  pada pertemuan terbuka Human Dimensions of Global Environmental  Change Research Community (dimendi-dimensi kemanusiaan komunitas penelitian perubahan lingkungan hidup) di Rio de Jainero, Brasil, pada tanggal 6-8 Oktober, 2001, di bawah pengawasan Brazilian Academy of Sciences.

Baca juga

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published. Required fields are marked *