Dia yang Terbaik pada Zamannya

kartiniLinda Sudiono

Kemeriahan terangkai dalam kegiatan karitatif tahunan di pemukiman padat penduduk maupun sekolah-sekolah setiap tanggal 21 april. Perkumpulan2 perempuan, baik itu PKK, Dharma Wanita maupun organisasi perempuan modern berkompetisi meramaikan perayaan hari Ulang tahun perempuan yang dikenal sebagai Ibu dari seluruh anak Indonesia, begitulah Kartini diperkenalkan kepada setiap generasi sejak tahun 1964. Melalui buku-buku sejarah dan lagu karangan Ismail Marzuki, kartini dicitrakan sebagai sosok perempuan sejati Indonesia dan simbol emansipasi perempuan. Emansipasi yang kemudian ditindaklanjuti oleh bangsa Indonesia melalui kegiatan kreasi masakan dan sanggul antar RT, pemakaian kebaya oleh seluruh remaja putri disekolah maupun pembacaan puisi serta seminar di kalangan intelektual Indonesia. Itukah wujud emansipasi yang diusung oleh Kartini dalam pingitannya sebagai perempuan priyayi pribumi hindia belanda?

Kesadaran dari Humanisme Liberal
Kartini lahir dan dibesarkan dalam lingkungan feodal priyayi pribumi dari ayah seorang asisten wedana onder distrik mayong kabupaten jepara dan ibunya seorang anak dari kepala mandor pabrik gula. Kartini tidak pernah bertemu Ibunya. Ia dibesarkan dalam lingkungan poligami yang sarat dengan intrik, kecemburuan dan diskriminasi. Tidak ada catatan sejarah yang jelas mengenai Ibu kandungnya. Hal ini dapat dimaklumi mengingat kesadaran sosial feodalisme pribumi yang memandang perkawinan pria bangsawan dengan perempuan kalangan jelata merupakan peristiwa yang mengotori darah ningrat, sebagai tabir yang enggan disibak

Sebagai perempuan dari seorang Bupati, kartini memiliki keistimewaan yang tidak didapatkan oleh perempuan jelata lainnya. Ia bersyukur mendapat kesempatan untuk menikmati terang ilmu pengetahuan di sekolah belanda, setidaknya itulah yang terungkap dalam salah satu suratnya :
“pengkhianatan besar terhadap adat kebiasaan negeriku, kami bocah-bocah perempuan keluar rumah untuk belajar dan karenanya harus meninggalkan rumah setiap hari…” [1]
Kehidupannya di sekolah rendahan belanda menjadi tapak awal bagi kesadaran kritis Kartini muda. Diskriminasi rasial yang lazim terjadi di bangsa jajahan menjadi makanan sehari-hari bagi kartini di lingkungan sekolah.
“orang-orang belanda itu menertawakan dan mengejek kebodohan kami, tapi kami berusaha maju, kemudian mereka mengambil sikap menantang terhadap kami…” [2]

Perlu dicatat bahwa kepedulian kartini terhadap bangsa, khususnya terhadap kaum perempuan tidak hadir tanpa pijakan. Melalui keunggulan dalam menguasai bahasa belanda, kartini mendapat kesempatan yang tidak dimiliki perempuan pada zamannya untuk melahap buku-buku eropa, yang kemudian berkontribusi terhadap perkembangan pemikirannya. Beberapa karya yang paling berpengaruh dalam perputaran hidup Kartini antara lain Max havelaar dan Minnebrieven. Pengetahuannya tentang penderitaan pribumi di hindia belanda justru ia dapatkan dari karya agung Multatuli tersebut. Ini dapat dipahami mengingat pingitan keras terhadap perempuan, sebagaimana juga yang dialami oleh Kartini, membuatnya hampir mustahil untuk dapat bercengkrama, apalagi berkelana diluar lingkungan kastil agung priyayi.

Karya lain yang menjadi bekal perjuangan kartini adalah Moderne Maagden atau perawan-perawan Modern karya Marcel Prevost, seorang pengarang roman dan drama yang mengagungkan tentang keadilan. Dari buku inilah, pemikiran tentang emansipasi perempuan kartini dapatkan, juga kekagumannya terhadap buku Die Wapen Nieder karya Berthan Von Suttner, karya yang bersumbangsih bagi perjuangan perdamaian dunia.[3]

Kausalitas sejarah dan realitas telah melahirkan situs-situs peristiwa yang memaksa Kartini untuk menjaring generik situasi bangsa Hindia. Kartini menyadari lemah posisinya sebagai pribumi di bawah jajahan koloni. Dia menyadari penjajahan saudara dari bangsawan pribumi terhadap rakyat jelata, dan yang kemudian menjadi penting dalam sosok kartini adalah kesadaran mengenai ketidak berdayaan perempuan di lingkungan penjajahan, yang berkelindan dengan kesadaran sosial feodal. Ketika perjuangan gerakan Susan B. Anthony dan Elizabeth C. Saton melahirkan gelombang perlawanan perempuan di Amerika, Kartini berduka terbenam dalam ketidakberdayaan diri dan bangsanya. Gema kebangkitan gelombang gerakan demokrasi pemilihan di bidang politik dan pendidikan yang setara bagi kaum perempuan secara tidak langsung menjadi bahan renungan bagi kartini, bahwa ia tidak bisa diam karena dia terlanjur tahu. Dia terlanjur tahu duka bangsa terjajah, dia terlanjur tahu penderitaan subordinat kaum perempuan. dan sebagaimana kampanye yang ditiupkan dari dunia barat, maka ia memulai dengan Pendidikan.

“aku ingin dapat pergunakan bahasa belanda, dengan sempurna menguasainya, sehingga aku dapat mempergunakannya sebagaimana aku kehendaki, dan kemudian aku akan berusaha dengan alat-alat penaku menarik perhatian mereka, yang dapat membantu usaha kami untuk mendatangkan perbaikan bagi nasib wanita jawa…kami akan goncangkan dia bunda, dengan seluruh kekuatan kami…dengan demikian kami tak bakal menganggap hidup kami sia-sia”[4]

Dalam ketidakberdayaan, ia memulai dengan kemampuannya. kartini mengetahui dengan jelas bahwa perjuangannya tidak memiliki titik hantam tanpa keterlibatan sebanyak-banyaknya kaum perempuan. Untuk meningkatkan partisipasi maka perempuan harus berpengetahuan. Bagi kartini, Pendidikan merupakan sokoguru bagi sebuah bangsa, perempuan adalah tiang penyangga, maka perempuan harus berpendidikan. kelahiran selalu dimulai dari rahim seorang perempuan dan dari dia pulalah manusia pertama kali menerima didikan.

“ perempuan sebagai pendukung peradaban! Bukan, bukan karena perempuan yang dianggap cakap untuk itu, melainkan karena saya sendiri juga yakin sungguh-sungguh, bahwa dari perempuan mungkin akan timbul pengaruh besar, yang baik atau buruk akan berakibat besar bagi kehidupan : bahwa dialah yang paling banyak dapat membantu meninggikan kadar kesusilaan manusia…dari perempuanlah manusia itu pertama-tama menerima belajar merasa, berfikir, dan berkata-kata… dan bagaimanakah ibu-ibu bumiputera dapat mendidik anak-anaknya, kalau mereka sendiri tidak berpendidikan?”[5]

Kartini memang terbaik pada zamannya. Dia melambangkan kebangkitan dari kaum perempuan yang tertidur di atas pijakan konservatisme feodal. Menjadi dapat dimaklumi ketika Kartini memulainya dengan Pendidikan atas landasan keterasingan kaum perempuan dalam produksi kehidupan sosial, maka tereliminasi pula hak-hak pribadinya. Kartini memang pantas untuk dinobatkan sebagai pelopor, pelopor emansipasi perempuan di Indonesia. Perjuangan kartini melambangkan kesadaran dari fondasi zamannya, yang tentunya akan menjadi berbeda dengan landasan sosial ekonomi saat ini. Konsekuensi logisnya adalah menyangkut landasan bergerak dari analisas sosial ekonomi yang berbeda dengan strategi perjuangan yang berbeda pula.

Perjuangan Perempuan dalam Zamannya
Gerak perlawanan massa selalu dimulai dari landasan status situasi. Begitulah kita diajarkan oleh sejarah. Termasuk di dalamnya adalah kebangkitan gerakan perempuan pada awal abad ke 19, yang kemudian menjalar bagaikan jamur ke setiap bangsa-bangsa yang sedang berkembang. Landasan status situasi berada dalam elemen eksistensi dirinya dalam rupa ketimpangan sosial, berlandaskan kelas. Tidak hanya selesai pada titik itu, di dalam setiap ketimpangan sosial, simultan ketimpangan berlandaskan gender ada di dalamnya, baik yang berada di dalam eksistensi yang terstruktur maupun tidak terstruktur, maka dia dinamakan budaya. Mari kita belajar dari beberapa catatan sejarah tentang kebangkitan maupun keterlibatan perempuan.

Revolusi Perancis 1871, eksperimen presentasi murni massa rakyat diperancis bermula dari kaum perempuan. Percobaan serangan gerilya tentara “pertahanan nasional” Thiers terhadap Garda Nasional—pasukan tentara bentukan rakyat— pada tanggal 18 Maret 1871 mengalami kegagalan karena ratusan ibu-ibu warga sekitar mengerumuni artileri garda nasional yang akan diambilalih dan memprotes tindakan tentara Thiers. Keributan yang terjadi memicu kedatangan pasukan garda nasional dan warga lainnya. Kegagalan pelucutan senjata warga oleh tentara “Pertahanan Nasional” membuat Thiers ketakutan dan melarikan diri ke Versailles, kehancuran dari eksistensi terstruktur. Kekuasaan diambil alih dan Paris berada sepenuhnya di tangan proletariat. Di Rusia, tuntutan pada hari minggu terkahir pada bulan Februari 1917 para perempuan terhadap “roti dan perdamaian” menjadi pioner kekuatan yang menurunkan pemerintahan tsar 4 hari kemudian.

Tidak dapat dipungkiri bahwa peluang struktur politik bagi kebangkitan perempuan justru dilahirkan oleh pemerintahan anti rakyat serta pengabaian (baca : peremehan) terhadap peran perempuan. Pemandangannya yang ganjil di Brazil ketika perayaan Hari Perempuan Internasional diizinkan untuk digelar oleh kekuasaan otoriter Ernesto Geisel. Jangan berpikir kalau pemerintah otoriter mampu dan mau berpikir tentang pembebasan perempuan. Keberhasilan itu di dapatkan dari penilaian terhadap peran kaum perempuan yang apolitis dan tidak berbahaya. Pemerintahan Ernesto Geisel harus menelan pil pahit dari penilaian itu. Kesempatan perempuan untuk melakukan mobilisasi massa inilah yang kemudian memberikan ruang bagi konsolidasi gerakan oposisi dalam menumbangkan Rezim Geisel.

Perlawanan perempuan setiap belahan dunia menampilkan keterkaitan antara landasan ekonomi politik dengan bangkitnya perlawanan perempuan, dengan tujuan dan capaian yang berkesesuaian dengan hukum perkembangan sejarah. Begitu juga seharusnya kita memahami kelebihan sekaligus keterbatasan Kartini dalam perjuangannya. Sebagai simbol kebangkitan perempuan Indonesia, Kartini memang jauh dari menyentuh akar persoalan perempuan. Bekal gerakannya berdiri pada Humanisme dengan pandangan berkesempatan yang berperikemanusiaan bagi perempuan. Pendidikan menjadi perwakilan kebenaran, kemajuan peradaban, maka dia akan menjadi senjata yang sebaik-baiknya untuk mendamaikan dunia. Tidak ada yang salah dengan pandangan itu, hanya saja gerak strateginya yang Humanis tanpa menyentuh esensi penindasan menjadi terkesan utopis.

Namun demikianlah yang dititipkan situasi padanya. Kartini hidup dalam lingkungan feodal priyayi dengan kekuatan pasung terhadap perempuan yang luar biasa. Kondisi perempuan kalangan bangsawan dapat kita dalami dalam ungkapan tulisan Sriati Mangoenkoesoemo :
“Betapa menggairahkan keadaannya (= wanita desa itu) dibandingkan dengan wanita dari golongan atas. Betapa lebih menggairahkan hubungannya dengan suaminya dan keluarganya. Mereka berbagi kesukaan…pada merekalah para suami mula-mula datang kalau memerlukan nasihat bagaimana pajak harus dibayar. Bersama-sama mereka berbagi suka dan duka yang diberikan kepada mereka oleh hidup ini ”[6]

Tulisan diatas tidak sedang memberikan pemahaman kepada kita bahwa kehidupan perempuan jelata lebih baik. Penindasan terhadap perempuan bersifat universal, dia menimpa semua entitas yang bernama perempuan, dengan kadar kualitas dan rupa yang berbeda-beda. Demikian pula penindasan yang menimpa perempuan jelata dan bangsawan pada zaman itu. “Kesucian” kasta ningrat menjadi jeratan karena dialah yang akan menjadi causa prima pesakitan dari setiap masalah. Dalam lingkungan seperti inilah Kartini berkapitulasi, namun bagaimanapun juga dia telah memulai. Setidaknya nyata bahwa pendidikan-lah yang dibutuhkan oleh perempuan pada zamannya, sesuatu yang menjadi landasan taktis perempuan untuk setara.

Degradasi Makna Perjuangan Kartini
Bagi mereka yang membenci gerakan massa maka berterimakasihlah pada Soeharto. Diktator ulung inilah yang telah menjaring perangkap besar bagi seluruh rakyat miskin Indonesia dalam jebakan utang dan kemesraan mental bangsa terjajah. Jangan bilang dia diktator kalau gerakan sipil tidak dia hancurkan. Segera setelah naik ke pangkuan singgasana, Soeharto dan para pendukungnya melakukan pembersihan secara besar-besaran terhadap angkatan bersenjata dan administrasi sipil orde lama. Semua yang bernuansa orde lama tersingkir dengan digantikan oleh hiasan-hiasan orde baru. Hiasan yang dirangkai dari darah dan tulang jutaan rakyat tidak bersalah.

Paranoid orde baru menjadikan demokrasi mati suri. Aliansi segitiga antara angkatan darat, mahasiswa angkatan 66 dan teknorat segera menjadi pijar bagi orde baru. Angkatan darat sebagai senjata “pengawas” sipil, teknorat sebagai intelegensia corong liberalisme ekonomi pengganti berdikari dan mahasiswa sebagai resi dengan mitologi tanggung jawab moral masyarakat secara organik, dengan sesekali dikonfigurasi untuk menjadi kekuatan penekan tunggal, cerminan puing-puing demokrasi orde baru. Sebuah legitimasi sekaligus delegitimasi terhadap gerakan massa mengatasnamakan kestabilan sosial.[7]

Belajar dari kekhilafan brazil yang mengabaikan kekuatan peran perempuan dalam dunia politik, suara lantang Gerwani mengajarkan pada penguasa orde baru akan determinatif gerakan perempuan dalam mengubah dunia. Sindrom desekrasi gerakan perlu dilancarkan, sembari meyakinkan korporasi asing bahwa kekuatan oposisi sejati, dibawah panji komunis, berhasil dimusnahkan.

Penggalian terhadap sejarah peran perempuan zaman feodalisme dalam bingkai budaya patriarki dilakukan. Gerakan perempuan di kambingkan hitamkan sebagai laknat dan tidak beradab. Perempuan sejati indonesia adalah perempuan yang patuh mengayomi, figuran yang menonjolkan para pemeran utama. Ideologi ibuisme ala orde baru mengembalikan perempuan kedalam ranah domestik, dengan pujian manis sebagai tiang negara, dengan makna tersirat sebagai yang bertanggung jawab terhadap kehancuran negara. Gerakan perempuan mengalami deideologisasi dan depolitisasi.

Zaman reformasi meniupkan kembali angin segar pada gerakan demokratik. Lembaga Swadaya Masyarakat yang sebelumnya dimanfaatkan untuk mengalihkan tanggungjawab negara kini menjadi salah satu kekuatan yang melahirkan embrio kebangkitan perempuan. Gaung kesetaraan mulai digemakan oleh berbagai kalangan, sambil memanggil keluar perempuan dari ranah domestik. Ada capaian memang, namun kondisi perempuan tidak banyak beranjak dari tempatnya. Dia masih berbeban ganda, dia masih penderita utama.

Kompleksitas Perempuan Indonesia
Perempuan bergerak dari sejarah yang berbeda sehingga menjadi hal yang mutlak kepentingan partikularnya menjadi perhatian. Budaya patriarki tidak memberikan celah penerimaan dalam kesadaran masyarakat bahwa dia sepantasnya dimanusiakan. Berbagai kalangan memandang tujuan sejatinya telah tercapai ketika perempuan mendapatkan pendidikan dan menduduki berbagai jabatan formal yang tidak pernah di dapatkan oleh Kartini. Pemikiran semacam ini sekali lagi membuktikan kepada kita pandangan masyarakat yang belum terbebas.

Budaya patriarki tidak akan hilang hanya dengan memberikan posisi penting, memberikan kuota sebanyak 30% untuk menjamin keterlibatan politik atau melindunginya dari kekerasan rumah tangga melalui pengaturan hukum. Kebijakan hanya akan menjadi dorongan taktis yang afirmatif untuk mempermudah perjuangannya untuk terbebas. Yang seharusnya ada di dalam benak setiap pejuang kesetaraan adalah menciptakan syarat materiil untuk mengembalikan perempuan pada posisinya sebagai manusia yang berdaulat, bukan untuk menjadi lebih unggul, tetapi menjadi determinan dan beriringan dengan entitas lain dalam masyarakat tanpa dalil sosial budaya, ekonomi maupun politik. Demikianlah sesungguhnya esensi dari eksistensi manusia. Esensi manusia dalam mempertahankan hidup untuk dapat menciptakan sejarah, dengan syarat logis berproduksi materiil dan reproduksi. Ini menjadi tanggung jawab semua manusia untuk memanusiakan manusia.

Kondisi materiil inilah yang tidak dimiliki oleh perempuan Indonesia secara holistik. Dengan status ekonomi berkembang memberikan tawaran kesempatan yang lebih kecil kepada Indonesia untuk memiliki independensi. Pastinya akan menjadi pertanyaan di benak kita bagaimana Indonesia yang memiliki kekayaan alam melimpah ruah ini bisa menyandang status berkembang? Dan bagaimana pula status berkembang ini berdampak ganda pada kemajuan kaum perempuan?

Pertama, pembangunan logika modal dalam kekuasaan teritori. Momentum perang dunia menjadi ajang pemulihan perekonomian melalui perbelanjaan senjata dunia dengan dibangunnya Industri persenjataan. Amerika Serikat dengan tegas memberikan dukungan kepada negara eropa yang kalah dalam perang melalui program Marshall Plan untuk sekutu maupun saingan globalnya. Tujuannya jelas, kucuran dana strategis negara bangsa Amerika Serikat, pertama untuk memperbaiki posisi ekonomi kapitalis eropa demi kepentingan melindungi dominasi ekonomi politik Amerika Serikat, melalui rekonstruksi Lembaga Internasional yang berarti juga melindungi perekonomian dunia dari ancaman pergolakan buruh ala soviet dan kedua, untuk memastikan pembukaan dan penerimaan pasar terhadap kapital finansial—melalui persetujuan bretton woods—amerika serikat yang perhitungan standar nilai perdagangan emasnya berdasarkan dolar amerika serikat.

Disinilah titik pertemuan antara logika kekuasaan teritori dan logika kekuasaan kapitalis ala Arrighi. Pemaksaan logika kekuasaan kapitalis yang lintas teritori melalui Logika kekuasaan teritori negara bangsa amerika serikat adalah untuk menghilangkan batas negara bangsa imperialis lainnya dengan semakin mengukuhkan negara bangsa amerika serikat melalui penerapan pasar bebas baru berganti raga, tanpa berganti jiwa, Neoliberalisme.[8]

Untuk memastikan sentralisasi sumber daya alam dan perekonomian negara berkembang di tangan lembaga dunia di bawah kontrol Amerika Serikat, ekspor modal dan kredit dikucurkan, dengan tujuan yang telah tersebut sebelumnya, yaitu pembukaan pasar. Salah satu sasaran empuknya adalah Indonesia, yang telah lama di gadaikan oleh pemerintah orde baru. Privatisasi adalah salah satu senjata ampuh kolonisasi segala bidang, bumi, air, pendidikan, kesehatan yang menyangkut hajat hidup 200 juta lebih penduduk Indonesia.

Kedua, watak kekuasaan pemimpin Indonesia. Tak perlu diragukan lagi warisan dampak dari Soeharto terhadap 200 juta lebih rakyat Indonesia beserta keturunannnya. Perekonomian dalam negeri yang terbangun di atas landasan utang luar negeri dan modal asing di bawah pemerintahan soeharto beserta kroninya di bawah payung partai Golkar mulai mengalami kehancuran akibat krisis moneter tahun 1997 yang bertepatan dengan jatuh tempo pembayaran utang luar negeri. Untuk menalangi pembayaran utang yang berjumlah fantastik, Pemerintahan Soeharto menyepakati penandatanganan Letter of Intens dari International Moneter Fund (IMF) dengan harapan pengembalian keseimbangan neraca keuangan. Imbalannya, Indonesia diwajibkan untuk memberlakukan beberapa kebijakan penyesuaian salah satunya adalah Privatisasi Badan Usaha Milik Negera (BUMN).

Mei 1998, kediktatoran Soeharto berhasil diruntuhkan disertai tumbal nyawa para aktivis kontra soeharto dan bangkai serta harga diri ribuan perempuan tionghoa yang diperkosa, siksa dan dibunuh, yang Menurut David Bourchier, spesialis studi Indonesia di Universitas western Australia, dilansir oleh Sydney Morning Herald dan banyak pihak, dibawah komando pimpinan Kopassus pada saat itu, Prabowo Subianto. Hal ini pulalah yang menyebabkan Prabowo memperoleh “penghargaan” sebagai Persona In Grata dari beberapa negara barat, termasuk Washington, dan kelompok pembela HAM internasional lainnya. Hebatnya, saat ini mantan komandan lapangan Timor Timur ini menjadi calon presiden potensial dalam Pemilihan umum yang akan datang.

Pemerintahan pasca soeharto, mulai dari Habibie sampai pada SBY-Boediono, mempertahankan karakter orde baru sebagai agen kapitalisme yang loyal. Aset negara dibawah pemerintahan komprador terus bertranformasi menjadi milik perorangan melalui segala bentuk kebijakan yang menghalalkan kebebasan berinvestasi dan privatisasi bidang infrastruktur yang mempengaruhi hajat hidup orang banyak. Megawati yang “beroposisi” di era orde baru, mulai menunjukkan taringnya pasca berkuasa. Suasana represif mulai memanas pasca diterbitkannya Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang ketenagakerjaan yang memberlakukan sistem outsourching dan sistem kerja kontrak. Pemerintah di bawah kekuasaan Susilo Bambang Yudhoyono telah 4 kali menaikkan bahan bakar minyak yaitu Maret tahun 2006 40 % untuk gas dan 28% untuk bahan bakar minyak, oktober 2006, juni 2008 sebesar 30% dan terakhir april 2012. Kenaikan ini menyebabkan kenaikan di hampir semua bahan komoditi mulai dari bahan pangan, pakaian, transportasi, pendidikan dan kesehatan. Pengangguran meningkat mencapai 4 juta orang. 175 juta Ha tanah didominasi oleh kapitalis swasta, setara dengan 91% area lahan Indonesia. Kekayaan minyak dan gas dikuasai sebanyak 90%, 89% mineral dan 75% batu bara, dieksploitasi untuk pemenuhan kebutuhan di negara maju.

Dampaknya cukup jelas, menimpa rakyat miskin, terutama perempuan miskin yang sebelumnya terbelenggu patriarki. 10 juta perempuan muda mengalami anemia karena kekurangan gizi, 11,8 juta perempuan melahirkan bayi prematur. Tahun 2005, dari total 4 juta perempuan hamil, 1 juta diantaranya mengalami kekurangan energi yang kronis dan 2 juta yang mengalami anemia kronis, yang menyebabkan 350.000 bayi lahir dengan berat badan kurang atau cacat setiap tahunnya. Di jakarta, perempuan yang mengalami PHK mencapai 88% dari total pengangguran. Ketika angka buta huruf Indonesia mencapai 9,7 juta jiwa, 65% diantaranya adalah perempuan.

Ini adalah buah benih perkawinan mesra antara Patriarki dan Sistem Ekonomi Liberal. Persoalannya tidak terpisah, maka tidak seharusnya ia dipisahkan dalam pemahaman rakyat miskin dan gerakan demokratik Indonesia. Perjuangan bagi pembebasan perempuan bersifat universal. Sebagai perempuan, ia di belenggu oleh Patriarki. Penindasan akan bertambah bagi perempuan korban sistem ekonomi neoliberal, yang tidak dititipkan kelebihan lain kecuali sekedar kebutuhannya untuk bertahan hidup. Ini kompleksitas perempuan Indonesia masa kini, yang luput dari perhatian seorang kartini sebagai pelaku sejarah pada zamannya.

Penutup
Bagaimanapun juga Kartini telah memenuhi panggilan zaman. Dia telah berperan dengan sebaik-baik pada masanya. Sosoknya menjadi pelopor, namun perjuangannya tidak tepat untuk di duplikasi. Gerakan perempuan memiliki strategi perjuangan yang berkesesuaian dengan perkembangan zaman yang menitipkan kompleksitas modernisasi. Sejarah hanya menjadi acuan untuk merumus, bukan patron untuk bertindak. Hanya dengan demikian perjuangan perempuan akan menemukan esensinya, yang tidak beromantisme dengan masa lalu, yang tidak sektarian dan parsial dengan mengelitiskan isu tanpa kompartemen, namun menjadi salah satu kekuatan penentu dunia masa depan. Oleh karena itu, menjadi jelas bagi kita bagaimana semu nya perjuangan pembebasan tanpa keterlibatan perempuan.

[1] Surat Kartini kepada Estella Zeehandelaar, 25 Mei 1899
[2]Surat Kartini kepada Estella Zeehandelaar, 12 Januari 1900.
[3] Pramoedya Ananta Toer, Panggil Aku Kartini saja, Jakarta, Lentera Dipantara, 2003
[4]Surat kepada Ny. Ovink Soer, tahun 1900
[5]Surat kepada Nyonya M.C.E. Ovink-Soer, 2 November 1900.
[6] Sriati Mangoenkoesoemo dalam “De Javaansche Vrouw” sebagaimana yang dikutip oleh Pramoedya Ananta Toer, Sang Pemula, Jakarta, Lentera Dipantara, 2003, hlm. 103
[7] Suryadi A radjab, Panggung Mitologi dalam Hegemoni Negara:Gerakan Mahasiswa di Bawah Orde Baru, Problem Filsafat No.02/Tahun I/Januari 2012
[8] Doug Lorimer, Serangan Global Imperialisme dan Kemungkinan Perlawanannya, dipresentasikan dalam Konferensi Marxism Tahun 2000 di Sydney Tanggal 5-9 Januari 2000

 

You might also like

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published. Required fields are marked *