Pidato Peringatan Hari Lahirnya Partai Rakyat Demokratik (PRD)

Image

Oleh: Danial Indra Kusuma*

Che pernah mengatakan soal orkestra individualitas dalam perjuangan: “Revolusi bukanlah, sebagaimana dipahami sebagian orang, merupakan standarisasi kehendak kolektif, standarisasi inisiatif kolektif. Sebaliknya, revolusi adalah pembebas kapasitas indvidu manusiawi. Apa yang dilakukan revolusi, bagaimanapun juga, adalah mengarahkan kapasitas tersebut.”

Dan keteguhan individu-individu orkestra tersebut layaknya lagu anak-anak, Bintang Utara:

Bintang utara

ia lah satu-satunya bintang yang tak pernah bergerak
ajeg
stabil
tak bergeming
bisa jadi panduan melaut.

Lalu, bintang panduan apa untuk revolusi?

Baik hati, berani, mau belajar, mau bekerja
itulah bintang panduan revolusi
yang tak pernah bergerak
ajeg
stabil
tak bergeming
oleh kekalahan.

Karena itu, Inilah kami, yang ingin selalu tegak, tak goyah oleh kekalahan. Sepanjang tahun-tahun perjuangan, pribadi-pribadi luar biasa bangkit-tercipta, ditempa dari orang-orang yang terlibat dalam perjuangan dan, di antara mereka, terjalin kasih sayang dan perkawanan, yang tumbuh melampaui segala keraguan terhadap kemungkinan dapat berkawan secara tulus, melampaui keraguan terhadap kemungkinan mewujudkan SOLIDARITAS TANPA BATAS.

Dan kejujuran, sebenarnya, sepenuhnya milik perjuangan, bila perjuangan memang hendak diarahkan bagi kemenangan yang indah dan baik hati. Karena hidup adalah tanggung jawab terhadap pemikiran. Dan ini lah kejujuran kami:

Kami dengan takzim percaya dan memegang teguh pendapat bahwa tugas menjelaskan kebenaran berdiri tegak melampai segala pertimbangan kenyamanan—dan itu telah menjadi perilaku kami. Kami harus mengabarkan kepada kawan-kawan yang berjuang bagi kemanusiaan: keyakinan kami.

Dan Che mengatakan: “Kami telah membuktikan bahwa revolusi dimulai oleh segintir orang yang memiliki keteguhan hasrat dan tak takut mati”

Kita telah melalui, melangkahi, hari-hari perjuangan itu, bahkan menit-menit yang penuh bahaya, atau saat-saat ikhlas melepaskan nyawa kita. Kita telah menapaki jalan perjuangan dengan terseok-seok penuh keputusasaan, tapi kita juga pernah menapakinya dengan gagah-bergegas. Ilmu dan kekerasan hati lah yang menyebabkan kita tetap berjalan atau akan tetap berjalan tegak, karena rindu akan kemenangan perjuangan selalu memagut kemanusiaan kita, dalam mencapai wujud kongkrit manusia-sosial yang bahagia. TAK MUDAH, kecuali dilakukan oleh manusia sosial yang bahagia, bahkan sebelum revolusi dimenangkan, walau segelintir–dan memang lazimnya segelintir bila revolusi masih diperjuangkan. Sampai kepenuhan massanya yang, setahap demi setahap, menjadi manusia yang indah (yang entah seperti apa, karena aku tak bisa menetapkannya tanpa mewujudkan materi dan jiwa juang yang menjadi alasnya).

Tantangannya adalah, kita adalah generasi yang diwarisi tingkat kesulitan yang cukup tinggi oleh kaum durjana penindas, manusia-Indonesia yang durjana–sampai-sampai kata “Indonesia” bukan lah kata yang mengandung kebahagiaan–yang, kata orang-orang kiri, bisa menjadi tahap menjadi manusia dunia yang bahagia. Namun gagal; dalam kata-kata yang menghibur: belum berhasil. Nasionalisme tetap menjadi omong kosong, bualan ngigau orang demam. Walau masih indah dalam lubuk hati dan tindakan para pejuang yang menganggapnya sebagai alas material dan kejiwaan pembalikkan kekuasaan para durjana borjuis–Amin. dan memang benar, karena ada negeri-negeri impian yang masih ada, yang baru ada, dan sedang berkecambah, sebagai acuannya. Ya, negeri-negeri yang sudah jauh berjuang dan sedang tumbuh berjuang, dengan tingkat kesulitannya masing-masing–dan manusia-Indonesia: masih setengah mati sulitnya. MEMANG TIDAK MUDAH, apa mau dikata.

Bahkan–juga kata orang-orang kiri–gagasan-gagasan “bagi lagi dikit, dong” demokrasinya, “bagi lagi dikit, dong” HAM nya, “bagi lagi dikit, dong” kesejahteraannya, “bagi lagi dikit, dong” penegakkan hukumnya, “bagi lagi dikit, dong” pemerintah bersihnya, dan
lain-lain, dan lain-lain gagasan-gagasan sosial-demokrat, juga bisa menjadi alas juang bagi tahap selanjutnya–sebagaimana kita setuju alas reformasi tahun 1998, terutama ceceran demokrasinya. Itu pun masih TAK MUDAH.

Itu platform programnya. Dan, secara politik,

Katanya, persatuan ke luar, dalam semangat kompromi–dalam arti bukan kapitulasi, bukan menyerah–adalah obatnya.

Katanya, obat lainnya, dalam kadar dosis tungkat kesulitan yang lebih tinggi, adalah kebersamaan ke dalam, dalam manajemen:

Bahwa dinamika di dalam (internal) organisasi berkembang di atas dua prinsip: demokrasi dan sentralisme. Kombinasi dari dua konsep itu, demokrasi dan sentralisme, sama sekali tidak saling-bertentangan. Organisasi bukan hanya menjaga agar batasan keduanya selalu diperjelas dengan tegas, tetapi juga menjamin siapapun yang berada dalam batasan itu akan menikmati hak untuk ikut menentukan arah kebijakan organisasi. Kebebasan mengritik dan perjuangan pemikiran adalah kandungan mutlak dari demokrasi dalam organisasi. Pendapat bahwa suatu organisasi tidak mengizinkan perbedaan pendapat adalah sebuah dongeng dari organisasi yang akan tak berdaya. Sesungguhnya, sejarah organisasi yang sukses adalah sejarah perbedaan pendapat yang diambil hikmah dan hidayahnya. Dan, sungguh, bagaimana mungkin sebuah organisasi yang benar-benar berkeinginan mencapai sukses, yang memutuskan untuk memikul tugas mendapatkan kekuasaan politik, mendapatkan kekuasaan negara, dan menyatukan ke bawah panji-panjinya sendiri para pembaru, para pejuang dan para petarung yang paling pemberani, hidup dan berkembang, bila tanpa pertukaran pemikiran, bila tanpa pengelompokan dan pembentukan formasi perbedaan pemikiran SEMENTARA. Kemampuan kepemimpinan organisasi untuk melihat jauh ke depan seringkali memungkinkan diperlunaknya pertentangan dan perbedaan pemikiran, serta dipersingkatnya pertarungan pemikiran, tetapi tak lebih dari itu. Kepemimpinan pusat organisasi harus mengandalkan dukungan demokratik yang membara seperti itu. Dari situ lah mereka mendapatkan keberanian untuk mengambil keputusan dan memberikan perintah. Setelah syarat demokrasi dipenuhi, baru lah ada kemungkinan ketepatan kepemimpinan dalam semua tahapan yang genting, yang akan memberinya kewibawaan dan pengakuan yang tinggi terhadap kepemimpinan organisasi, yang merupakan modal moral tak ternilai dari sentralisme. Jadi, sentralisme atau satu komando harus terlebih dahulu melewati tahap atau jalan demokrasinya, demikian pula tahap atau jalan demokrasi harus dilalui setelah tahap pelaksanaan keputusan (agar ada kewibawaan dalam menyimpulkan evaluasi pelaksanaan keputusan). Sentralisme adalah fakta, namun kita tak bisa semena-mena menghancurkannya tanpa demokrasi, ia melenyap oleh demokrasi, hingga sentralisme berganti menjadi (manajemen) koordinasi segala kreatifitas yang indah.

Sampai sekarang, SEMUANYA TAK MUDAH. Memang, karena kita ini adalah generasi yang mewarisi beban sejarah yang berat; anak-anak haram jadah sejarah.

*Danial Indra Kusuma adalah pendiri Partai Rakyat Demokratik. Danial merupakan bagian dari gerakan mahasiswa 74 dan 78. Pada pertengahan 80an dia bersama individu-individu Marxis lainnya mendirikan “Pre Formation Party”, organisasi bawah tanah yang mengadvokasi berbagai kasus-kasus rakyat. Setelah perpecahan dalam pre formation pary tersebut, Danial bersama Web Warouw, Sugeng Bahagijo, dan lainnya mengorganisasikan pembentukan Persatuan Rakyat Demokratik. Persatuan Rakyat Demokratik mengalami perpecahan setelah kepemimpinan Sugeng Bahagijo yang tak menjalankan 2 keputusan penting kongres: Pendirian Partai Rakyat Demokratik dan dukungan tuntutan referendum terhadap Timor Leste. Pada Juli 2007, Danial Indra Kusuma mengundurkan diri dari PRD yang saat itu berada di bawah kepemimpinan Dita Sari, Agus Jabo, Joko Purwanto, dan Binbin Firmansyah, karena Danial Indra Kusuma beserta 9 orang pimpinan PRD lainnya–yang di pecat, tidak setuju PRD dan Papernas di sub-ordinasikan ke dalam Partai Bintang Reformasi (PBR). Danial kemudian turut mendirikan KPRM-PRD. Dan KPRM-PRD berubah nama menjadi Partai Pembebasan Rakyat. Danial Indra Kusuma saat ini menjadi pengajar ekonomi-politik baik buruh-buruh FSPMI.

You might also like

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published. Required fields are marked *