Perlawanan Rakyat Podi Menolak Tambang

Oleh: Ephen*Image

Betapa kebiadaban mereka telah mengusik kami. Tanah kami dirampas, lingkungan kami di rusak, laut dan air kami di cemari. Sungguh kalian memang manusia biadab!

 

Mungkin sepatah kata di atas bisa menggambarkan situasi rakyat Podi atas penolakan mereka pada perusahaan pertambangan yang beroperasi di Desa Podi. Desa Podi merupakan desa yang terletak di Kecamatan.Tojo Barat, Kabupaten Tojo Una-una. Desa ini merupakan desa yang pernah dilanda bencana banjir bandang pada tahun 1996 dan 1998, yang paling parah terjadi pada tahun 2003. Karena desa ini sering dilanda banjir, sehingga banjir di desa Podi ditetapkan sebagai bencana bencana nasional.

 

Dalam beberapa tahun terakhir, rakyat desa Podi sedang gencar-gencarnya melakukan perlawanan untuk menolak kehadiran perusahaan tambang yang beroperasi di desa Podi ini, dimana menurut mereka bahwa, perusahaan tambang tersebut tidak pro terhadap rakyat.

 

Sekilas tentang profil perusahaan yang sedang melakukan perusakan di desa Podi.

Perusahaan yang sedang melakukan perombakan alam secara masif di desa Podi adalah PT. Artaindo Jaya Abadi, perusahaan itu sudah melakukan kegiatan eksplorasi dan eksploitasi kurang lebih 3 tahun. Perusahaan ini dimiliki oleh investor dari India, dan sedang melakukan pengelolaan (perampokan) Bijih Besi. Sejak beroperasinya hingga sekarang, perusahaan ini telah melakukan “perombakan” alam secara besar-besaran, dalam hal ini adalah perusakan hutan yang mengakibatkan lahan pencaharian rakyat—yang kegiatan sehari-harinya sebagai petani Damar—semakin hari semakin berkurang penghasilannya.

 

Sudah menghilangkan mata pencaharian dan merampas tanah rakyat, PT. Artaindo Jaya Abadi tidak mau memberikan ganti rugi, walaupun dalam dokumen amdalnya dicantumkan bahwa tanah-tanah di areal perusahaan itu sudah diganti rugi. Itu merupakan bentuk manipulasi yang dilakukan oleh PT. Artaindo Jaya Abadi. Permasalahan berikutnya adalah pencemaran air sungai, dimana sungai tersebut sangat dibutuhkan oleh warga desa Podi dalam keseharian. Laut juga dicemari oleh aktivitas eksploitasi Bijih Besi padahal, sebagian besar rakyat Podi bergantung pada hasil laut yaitu sebagai nelayan. Tercemarnya sungai dan laut disebabkan oleh pembuangan limbah padat berupa pasir dan kerikil hasil dari aktifitas eksploitasi Bijih Besi PT. Artaindo Jaya Abadi. Dari beberapa penjelasan tentang situasi penindasan yang menggerogoti rakyat Podi ini, muncul-lah embrio-embrio perlawanan yang semakin hari semakin massif. Untuk memperjuangkan haknya, rakyat Podi semakin mengokohkan barisan bersama dengan organ-organ mahasiswa, serta NGO-NGO yang peduli dengan persoalan rakyat Podi, melakukan penolakan terhadap perusahaan tambang yang tidak pro terhadap warga. Perjalanan perjuangan rakyat Podi untuk menolak keberadaan PT. Artaindo Jaya Abadi, dimulai ketika sekelompok massa dari Desa Podi melakukan hearing di DPRD Kab. Tojo Una-una. Hearing dihadiri oleh Bupati Tojo Una-una dan anggota dewan yang gagah dan mewah dengan pakaiannya. Ternyata dari hearing itu tidak menghasilkan apa- apa. Dari sini kita bisa menilai bahwasanya pemerintah sangat tidak pro terhadap rakyat, mereka hanya berpihak terhadap para pemodal-pemodal (kapitalis), mereka bersetubuh dengan para kapitalis itu hanya untuk memperkaya diri dan mengisi kantong-kantong mereka sendiri, sementara, rakyat dan alam-lah yang menjadi korban.

 

Ketika hearing di DPRD Kab. Tojo una – una, tidak menghasilkan apa-apa, hanya menemui jalan buntu maka, rakyat Podi kemudian melakukan aksi di areal perusahaan. Mereka melakukan aksi walaupun perusahaan itu telah dijaga oleh puluhan aparat kepolisian (Brimob) dan TNI yang bersenjatakan lengkap. Namun situasi ini tidak  membuat rakyat desa Podi gentar, sehingga aksi terus berjalan dan tetap melakukan aksi menolak perusahaan. Aksi itu tidak menghasilkan apa-apa dikarenakan kondisi massa aksi yang masuk sedikit. Dengan kondisi ini, massa akhirnya kembali dan melakukan konsilidasi-konsolidasi untuk melakukan aksi yang lebih besar. Belajar dari kondisi-kondisi sebelumnya, massa rakyat Podi memasifkan diskusi–diskusi yang dibantu oleh kawan-kawan mahasiswa dan aktifis dari beberapa NGO. Berangkat dari diskusi-diskusi yang sudah dilakukan maka, warga Podi dan kawan-kawan mahasiswa serta NGO memutuskan untuk melakukan aksi lagi di perusahaan. Ketika melakukan aksi yang kesekian kalinya, sempat terjadi incident-insident yang sengaja diprovokasi oleh pihak yang pro terhadap perusahaan. Incident tersebut berupa intimidasi secara psikologis yang dilakukan oleh pihak kepolisian kepada rakyat. Namun karena keberanian dan semangat kawan-kawan maka agenda perlawanan rakyat Podi menolak tambang terus berlangsung dan tidak melunturkan perlawanan rakyat. 

 

Ketika melakukan aksi di depan areal perusahaan, ada indikasi bahwa massa aksi hendak dibenturkan dengan para pekerja yang bekerja di perusahaan itu. Namun untuk menghindari benturan, maka kawan-kawan mempaketkan isu-isu sentral dalam orasi-orasi politik seperti: penghisapan terhadap kaum buruh yang dilakukan oleh perusahaan, upah yang tidak merata, tidak adanya jaminan sosial tenaga kerja, dan sebagainya. Berkat isu-isu yang dipaketkan, maka benturan tidak terjadi, malahan ada sebagian pekerja yang bersimpati dan mendukung aksi itu, Namun mereka tidak berani untuk melebur dengan massa rakyat Podi karena ketakutan mereka terhadap pihak perusahaan dan juga karena tidak adanya alat perjuangan kaum pekerja dalam perusahaan itu.

 

Aksi yang dilakukan ke-sekian kalinya ini merupakan aksi penolakan perusahaan tambang yang tidak pro terhadap rakyat, yang ada di desa Podi. Dikarenakan pada aksi itu ada indikasi bahwa massa aksi mau dibenturkan dengan pihak pekerja, yang dilakukan oleh pihak perusahaan, maka akhirnya kawan-kawan memutuskan untuk kembali mengkonsolidasikan massa dan juga ditambah menkonsolidasikan pekerja yang mau berjuang melawan segala bentuk penindasan yang dilakukan oleh pihak perusahaan dengan membangun alat perjuangan massa untuk melawan perusahaan tambang yang dengan sangat jelas tidak berpihak pada  rakyat Podi dan pekerja.

Diskusi-diskusi rakyat kembali dilakukan dengan melibatkan kawan-kawan pekerja untuk membangun penyatuan antara rakyat Podi dan sebagian pekerja, selain itu juga ada pembagian kerja kawan-kawan di ranah litigasi dan non-litigasi. Ada bagian yang mengurus masalah pelanggaran-pelanggaran hukum yang dilakukan oleh pihak perusahaan (hukum formal ) meskipun, kita pahami bahwa hukum hari ini lebih condong berpihak pada para penguasa dan pengusaha. Namun kawan-kawan tetap berjuang dalam ranah itu. Dari hasill konsolidasi, untuk membangun gerakan yang lebih besar maka diputuskan untuk membagun gerakan solidaritas lintas desa. Dimana solidaritas lintas desa ini diharapkan dapat membangun gerakan perlawanan rakyat menjadi semakin massif.

 

Momentum hari bumi   

               

Pasca diskusi-dikusi yang dilakukan, maka gerakan perlawanan rakyat Podi memanfaatkan momentum Hari Bumi untuk mengkampanyekan persoalan yang ada di desa mereka, dengan dibantu oleh beberapa desa tetangga lainnya. Alasan untuk melibatkan desa-desa lainnya karena, sadar/tidak sadar tetangga juga nantinya ikut ditindas oleh sistem hari ini yang jelas tidak berpihak pada rakyat. Momentum hari bumi ini dimanfaatkan untuk melakukan aksi di kantor DPRD Kab. Tojo Una-una. Ketika melakukan aksi di depan kantor DPRD Kab. Tojo Una-una  selama beberapa jam, maka masa aksi diundang untuk masuk di dalam kantor DPRD untuk menyampaikan aspirasinya. Dimana inti dari aspirasi rakyat Podi adalah mendesak DPRD agar secepatnya menyelesaikan masalah ini, di antaranya mencabut izin sementara perusahaan itu sampai persoalan di Podi diselesaikan dan sebagainya, kalau tidak rakyat akan melakukan tindakan-tindakan yang lebih bringas.

Tambahan

Hingga saat ini rakyat podi sedang melakukan konsilidasi –konsilidasi untuk tetap untuk tetap berjuang hingga perusahaan yang tidak pro terhadap rakyat ituangkat kaki di desa podi.

Anggota Pembebasan

Reportase  ini diambil dari http://www.pembebasan-pusat.blogspot.com

 

 

You might also like

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published. Required fields are marked *