May Day dan Tanggung Jawab Gerakan

Barra Pravda*

1 Mei 1886 hingga 1 Mei 2013, adalah rentang waktu yang cukup lama bagi perjuangan kelas buruh. 127 tahun sudah berlalu.Kini pergerakan buruh terus berupaya mengambil manfaat dan semangat dari atmosfir perjuangan kaum buruh waktu itu. Mereka berjuang demi kesejahteraan, melakukan mobilisasi politik, menyerang pusat-pusat industri dan pemerintahan. Kebanyakan adalah para serikat buruh di Eropa Barat dan Amerika.

Kapitalisme yang menggantikan sistem produksi feodal mengakibatkan jumlah pekerja industri meningkat tajam, angkatan kerja semakin naik, perempuan yang awalnya ada di rumah, oleh kapitalisme ditipu untuk keluar ruma. Bukan untuk menciptakan keadilan tapi, untuk menggerakkan mesin-mesin industri, demi keuntungan si kapitalis. Seketika itu pula, aktifitas industri menyerap banyak sekali tenaga kerja. Dalam proses masa-masa gegap gempitanya revolusi industri (berkembangnya mesin) membuat posisi tenaga kerja yang bekerja secara manual menjadi rendah. Pada masa itu, kehadiran mesin diserang sebagai faktor penyebab PHK. Inilah kejahatan kapitalisme dalam mekanisme rekruitmen tenaga kerja. Sepertinya, teori Adam Smith yang menganggap bahwa: ”Tingkat upah ditentukan oleh perimbangan permintaan dan penawaran pasar tenaga kerja (buruh)” memberikan legitimasi bagi para ekonom borjuis kala itu. Jika begitu maka, dengan kata lain, ’penawaran’ tenaga kerja (buruh) yang berlebih dan ’permintaan’ yang terbatas, membuat pengusaha mendapatkan keyakinan konsep untuk menurunkan tingkatan ’harga jual’ tenaga buruh yang berwujud upah. Di sinilah ketepatan Marx dalam memandang bahwa penghisapan kaum buruh (oleh pengusaha/majikan) telah sempurna dengan dikuasainya tenaga yang keluar dari hasil kerja para buruh. Tapi ingat (peringatan bagi borjuis) bahwa, mesin memang mengefektifkan KERJA, tapi mesin tidak bisa menghilangkan yang namanya KERJA itu sendiri. Artinya, tanpa sentuhan kerja manusia, mesin tak akan memiliki nilai guna/pakai. Bisa saja para kapitalis memiliki semua uang di jagat raya ini, bisa saja kapitalis memiliki komoditas di seluruh bumi ini, tapi, tanpa adanya KERJA dari manusia (buruh), segala uang dan komoditas tadi tak akan berguna. Ini menunjukkan bahwa, salah satu faktor paling fundamental dari kapitalisme adalah buruh/proletar itu sendiri. Maka, proletar memiliki peluang yang sangat mungkin untuk merebut alat produksi, membalikkan secara radikal sistem ekonomi kapitalisme menjadi sosialisme, itu adalah keniscayaan, bukan utopia belaka.

Apa yang harus dilakukan?

Membangun kekuasaan rakyat. Tentunya, cita-cita tersebut hanya jadi utopis jika belum memiliki syarat-syaratnya. Dan akan membingungkan untuk dibayangkan jika kita tidak memulai untuk bergerak satu langkah maju dalam mengolah perjuangan, memberikan perspektif yang lebih politis bahkan ideologi. Terlebih, gerakan buruh dan rakyat lainnya masih terus mendapatkan hambatan represi Negara dan pengusaha lewat aparat militer dan preman. Belum lagi adanya aristokrasi dari pimpinan-pimpinan serikat buruh reformis yang bisa menghambat majunya kehendak massa.

Bertransformasi menjadi gerakan politik

Yang harus dibangun adalah memperbanyak anggota dan meluaskan serikat buruh. Selain itu, perjuangan buruh harus memiliki perspektif lebih maju lagi dengan meningkatkan kapasitas perlawanan ekonomis menjadi politis. Karena, selama kekuasaan kapitalis belum jatuh maka, persoalan-persoalan demokrasi dan kesejahteraan (ekonomis) rakyat akan terus muncul. Padahal, perjuangan ekonomi menyediakan kesempatan proletariat untuk mendirikan organisasi-organisasi secara luas, seperti serikat buruh, yang sekadar mencurahkan komitmen mereka pada beberapa daftar isu, sedangkan, perjuangan politik menuntut proletariat untuk membentuk partai politik/kekuasaannya sendiri. Dan, menghimpun kekuatan-kekuatan yang memiliki pemahaman terhadap kepentingan-kepentingan klas proletariat secara fundamental dan program revolusioner (mengabdi pada kesejahteraan rakyat) yang jelas untuk menjalankannya. Memang harus diakui bahwa, maraknya radikalisasi buruh hingga bisa memobilisasi puluhan ribu massa, solidaritas antar pabrik dan geruduk pabrik di Indonesia tahun-tahun ini dipelopori oleh serikat-serikat buruh reformis. Maka, radikalisme pergerakan buruh yang sudah semakin maju dalam metode menuntutnya, di tambah dengan adanya pengalaman-pengalaman konfrontasi antar klas (buruh vs borjuis) di Negara lain puluhan tahun silam, adalah tabungan berharga sebagai referensi perjuangan dan pengalaman. Apalagi, langkah penanganan atas krisis kapitalisme yang dipilih oleh ekonom borjuis berkonsekuensi pada kebutuhan mengambil lebih banyak keuntungan. Pengambilan lebih banyak keuntungan oleh si kapitalis memiliki syarat penghematan ongkos produksi, meluaskan dan memperdalam penindasan (eksploitasi alam dan tenaga kerja). Seperti pengalaman perjuangan buruh Paris yang di-capture oleh Engels dalam artikel Pendahuluan untuk Manifesto Komunis tahun 1893 yang mengatakan: “Jika Revolusi/perjuangan tahun-tahun sebelumnya bukanlah/belum menjadi suatu revolusi sosialis, maka ia melapangkan jalan, menyiapkan dasar untuk revolusi sosialis. Melalui dorongan yang kuat terhadap industri besar di semua negeri, rezim borjuis dimanapun, selama ratusan tahun, telah menciptakan proletariat yang besar jumlahnya, terkonsentrasi dan perkasa“. Sehingga, langkah maju berikutnya dalam melakukan perjuangan adalah untuk mentransformasikan diri menjadi perjuangan politik, merebut kekuasaan.

Demokrasi mundur hambat kemajuan

Jika demokrasi tidak dimajukan kapasitasnya maka, kaum buruh akan semakin kesulitan melakukan demonstrasi, mogok, blokir jalan dan geruduk pabrik menuntut penangguhan upah, penghapusan outsourching dan kebebasan berserikat. Sebagaimana yang tertulis pada paragraph sebelumnya, transformasi perjuangan membutuhkan perluasan organisasi/serikat buruh dengan partisipasi rakyat seluas-luasnya agar terlibat dalam perjuangan. Tentunya, langkah tersebut sudah memiliki hambatan di depan mata: anti demokrasi. Kapitalisme dan pemerintahan agen imperialis SBY-Boediono tentu tidak menghendaki adanya kemajuan kualitas demokrasi karena, dalam batas-batas tertentu, kapitalisme menyetujui adanya demokrasi selama tuntutannya tidak mengganggu aktifitas Kapital. Maka, jika demokrasi makin meningkat kualitasnya (menjadi demokrasi kerakyatan—partisipasi penuh di tangan rakyat) akan semakin mengganggu kekuasaan kapitalis, demokrasi kerakyatan semakin berhadapan dengan demokrasi liberal.

Ancaman kemunduran demokrasi ditunjukkan rezim dengan setumpuk antrian draft rancangan undang-undang anti demokrasi maupun undang-undang yang sudah diketok palu oleh DPR. Sebut saja RUU Ormas yang menghambat pembangunan partisipasi rakyat dalam berorganisasi, paksaan menunggalkan ideologi dan menjadi tiket masuk untuk pembahasan RUU Kamnas. Satu paket dengan RUU Ormas, RUU Kamnas memiliki definisi abstrak tentang ‘keamanan nasional’, karena bisa saja pemogokan buruh di sebuah kawasan jalur utama modal didefinisikan membahayakan keamanan nasional. Ada lagi, nanti, bukannya mendorong partisipasi yang produktif namun, Negara mengajak rakyat terlibat dalam wajib militer dengan dirancangnya draft RUU Komponen Cadangan Negara. Dan masih banyak produk hukum anti demokrasi lain seperti UU Pemilu, UU Parpol, RUU Rahasia Negara, UU Intelejen, UU Penanganan Konflik Sosial yang, secara keseluruhan, menjadikan warga Negara sebagai alasan dibuatnya UU. Padahal, seharusnya, UU dibuat untuk membatasi kewenangan dan mengatur penguasa agar otoritasnya tidak dipakai untuk menyakiti rakyat.

Maka, perjuangan menuntut seluas-luasnya demokrasi sesungguhnya bermakna, melapangkan jalan agar kita bisa lebih bebas menuntut dan berpropaganda tentang jalan keluar sosialisme yang masih ‘diharamkan’ Negara. Karena jika tidak dilawan, gerakan akan kesulitan menuntut upah, kebebasan berserikat dan kesejahteraan. Apalagi kaum gerakan masih menganggap bahwa isu penyempitan demokrasi sebagai isu pinggiran, terbukti dengan minimnya respon menghadang pengesahan Undang-undang anti demokrasi.

Semakin luas dan dalamnya penindasan kapitalisme sebetulnya memberikan landasan untuk mengorganisir perlawanan lebih luas lagi dan peluang menyatukan serangan dari seluruh korban penindasan.

Kaum pergerakan, terutama serikat buruh, telah memiliki bekal untuk memajukan kapasitasnya, minimal adalah menjaga atmosfer perlawanan. Selain itu, represi Negara juga tampak dalam perjuangan kaum tani di daerah-daerah dan warga yang sedang mempertahankan lahannya dari pengusaha tambang dan perkebunan. Tingkat represinya juga tak kalah sadis. Tentara dan preman dikerahkan menghadapi demonstrasi para korban industri pertambangan dan perkebunan. Inilah titik yang bisa mempertemukan gerakan buruh dengan gerakan rakyat lain di luar sektornya, agar juga budaya solidaritas—yang sudah dimiliki antar serikat buruh—bisa lebih luas lagi dikembangkan menjadi solidaritas antar rakyat tertindas. Tinggal bagaimana mulai membuat saluran propaganda antara serikat buruh di Bekasi, Jakarta, Tangerang dengan perjuangan petani di NTB, Lampung, Kebumen juga perlawanan warga desa di Sinjai (Bontokatute), Sulteng (Podi/Tojo una-una), Kupang (Labuhan Bajo) dan lainnya.

Tanggung Jawab Gerakan: menjadi Pelopor

Menyatukan perjuangan agar serangan makin terkonsentrasikan akan berdampak pada besarnya daya gempur itu sendiri sehingga makin efektif untuk menghancurkan dasar-dasar penindasannya yaitu kapitalisme dan pemerintahannya. Kaum pergerakan butuh memastikan terbangunnya konsolidasi lebih besar dan luas lagi dalam bentuk pusat-pusat konsolidasi bersama seperti MPBI, Rumah Buruh di Bekasi, Omah Tani di Batang,  Sekber Buruh dan sebagainya. Menghidupkannya sebagai sebuah ajang untuk membangun perspektif merebut kekuasaan politik sampai terpastikan pula perencanaan menjangkau sektor perlawanan rakyat yang lain seperti perjuangan petani, mahasiswa, warga yang dirampas lahannya dan pentingnya perlawanan kaum perempuan dalam perjuangan merebut demokrasi. Selamat Hari Buruh Internasional!

*Anggota Partai Pembebasan Rakyat

Image

You might also like

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published. Required fields are marked *