Peringatan Hari Tani dan perjuangan hak pendidikan di Yogyakarta

Sumber Foto: ipoel.wordpress.com

(Yogyakarta reportase, 12/9) Beberapa kelompok pergerakan di Jogjakarta mempersiapkan diri menuju Hari Tani tgl 24 September 2012 nanti. Di saat yang sama beberapa organisasi mahasiswa, melalui komite aksi menolak UU Perguruan Tinggi, berusaha menggalang kampanye untuk meneruskan perlawanan menolak komersialisasi pendidikan.

Komite Rakyat Bersatu (KRB), sebuah aliansi yang telah berdiri lebih dari 2 tahun, terdiri dari organisasi mahasiswa, organisasi politik, perempuan, buruh dan kaum miskin kota, saat ini sedang memantapkan persiapan menuju Hari Tani. “Yogyakarta harus fokus pada kasus agraria, karena berbagai kasus sengketa tanah dan persoalan agraria tak berhenti. Klaim Sultan Dan Pakualaman Ground, kasus penggusuran di Kulonprogo, Parangtritis, pedagang kaki lima 0KM Malioboro, dan beberapa tempat di Yogyakarta terus  terjadi. KRB adalah alat politik yang kita upayakan menjadi penyatu potensi perlawanan rakyat di Yogyakarta” kata Iwan Fatoni, Aktivis Partai Pembebasan Rakyat (PPR) yang juga terlibat di KRB.

Ia juga menambahkan bahwa strategi Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) pemerintah SBY, telah dimulai dengan investasi pertambangan yang dipusatkan di Kulonprogo, rencana bisnis “Hotel and Resort” di Parangtritis dan Gunung Kidul. Dari dua kasus ini saja telah membuat masyarakat di 3 daerah tersebut menjadi tumbalnya. Apalagi, sejak UU Pengadaan Tanah Untuk kepentingan Publik disahkan, serta turunan perda RTRW (Rencana Tata Ruang dan Wilayah) semakin melegitimasi pelanggaran hak-hak rakyat.

Namun demikian, hingga kini belum dapat terjadi penyatuan gerakan perlawanan di 3 daerah tersebut. Restu Baskara, aktivis Persatuan Perjuangan Indonesia (PPI), menekankan bahwa kepentingan KRB adalah mencari cara untuk menggelar dialog bersama petani dan masyarakat setempat terkait perjuangan hak-haknya. Untuk itu ajang-ajang diskusi yang dipersiapkan antara lain di Kampus UIN, Kulonprogo dan Parangtritis. Harapannya berbagai aktivitas ini dapat dimuarakan menjadi lebih besar pada 24 September nanti.

Di saat yang sama, kegagalan membatalkan pengesahan RUU Pendidikan Tinggi (PT),  yang kini sudah menjadi UU sejak 13 Juli lalu, adalah tamparan kuat bagi organisasi pergerakan mahasiswa. Memang perlawanan terhadap UU PT tidak seheboh dan sekencang UU BHP yang berhasil memobilisasi massa cukup besar secara serentak dan tersebar di daerah-daerah di Indonesia hingga menuai keberhasilan mencabut UU tersebut di tahun 2010.

Menurut Nunung Lestari, aktivis Serikat Mahasiswa Indonesia (SMI), UU PT memberikan legitimasi kepada Perguruan Tinggi Negeri (PTN) untuk diswastanisasi. Artinya negara lepas tangan atas persoalan Pendidikan Tinggi. Jika dikaji lebih mendalam, banyak sekali pasal-pasal siluman terdapat di dalam UU tersebut. Ia menambahkan bahwa praktek-praktek kebijakan liberalisasi pendidikan sudah semakin menjadi-jadi. Setiap tahun ajaran baru biaya pendaftaran untuk masuk Perguruan Tinggi meroket, uang SPP naik serta pungutan-pungutan liar lainnya.

Supriadi, aktivis Pusat Pergerakan Mahasiswa untuk Pembebasan Nasional (PEMBEBASAN) Yogyakarta, menambahkan bahwa kondisi kampus juga diperparah dengan menyempitnya ruang demokrasi bagi mahasiswa. “Union Busting” (pemberangusan serikat) bukan saja problem buruh di pabrik, tetapi juga mahasiswa: “Kami malah tidak dibolehkan memiliki independensi dalam berorganisasi. Organisasi non bentukan kampus dilarang masuk. Mahasiwa yang terlibat demonstrasi di DO. Rasanya seperti kembali pada NKK/BKK  (Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kemahasiswaan) di zaman Orde Baru” lanjut Upit, nama panggilannya sehari-hari.

Sementara itu, Ahmad Yani, Koordinator Aliansi Mahasiswa Menggugat (AMM) menjelaskan bahwa, AMM juga tengah mempersiapkan rentetan agenda merespon kembali UU Pendidikan Tinggi. AMM adalah sebuah Aliansi yang terdiri dari organisasi-organisasi mahasiswa. Mereka berencana melakukan geruduk kampus-kampus di Yogyakarta. “Kami akan menggeruduk kampus, membagi-bagi selebaran, quesioner dan mimbar bebas di kampus-kampus. Ini bertujuan agar mahasiswa sadar akan kondisi pendidikan dan terlibat dalam perjuangan pendidikan itu sendiri” ungkap pria yang sehari-hari dipanggil Iyan. AMM juga akan melakukan diskusi publik yang rencananya diselenggarakan di UGM dan UIN. “Muara agenda AMM ini adalah aksi demonstrasi pada tanggal 27 September 2012 nanti. Menurutnya, gerakan mahasiswa seharusnya bangkit kembali, kampus-kampus harus bergelora, mogok belajar hingga tuntutan dipenuhi.*

Tinta Berontak

You might also like

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published. Required fields are marked *