Marsinah FM : Suara Buruh Perempuan

KBR68H – Ada 70 ribu buruh perempuan di Kawasan Berikat Nusantara (BKN), Cakung, Jakarta Utara. Lebih banyak ketimbang buruh lelaki. Buruh-buruh perempuan itu menghadapi persoalan umum, yaitu minimnya hak normatif seperti upah lembur, cuti haid dan cuti melahirkan. Untuk memperjuangkan hak tersebut, buruh perempuan yang tergabung dalam Forum Buruh Lintas Pabrik (FBLP) membangun radio komunitas. Radio ini diberi nama MARSINAH, dari nama seorang pejuang buruh perempuan yang tewas akibat kekerasan rezim Orde Baru 9 tahun lalu. Reproter KBR68H Damar Fery Ardiyan menengok siara Radio Marsinah FM, yang diluncurkan bertepatan dengan Hari Kartini akhir pekan lalu.

Antara Pabrik dan Siaran Radio

Usai berpeluh di tengah bisingnya deru mesin pencetak tusuk gigi, Ari Widiastari tampak senang mendapat libur akhir pekan lebih panjang dari biasanya. Ia adalah buruh perempuan di Kawasan Berikat Nusantara (BKN), Cakung, Jakarta Utara.

Dari pabrik, Ari bergegas menuju sekretariat Forum Buruh Lintas Pabrik (FBLP) di Semper, Jakarta Utara. Hanya butuh 10 menit ia memacu sepeda motornya. Di sana, Ari akan bersiaran.

“Oia, hari ini saya mau siaran ke Marsinah FM di Semper situ. Nanti jam 16 sampai 18.”

Tema siarannya apa hari ini?

“Kalau untuk sore ini, karena menjelang weekend jadi kita hanya kirim-kirim salam dan cerita-cerita selama satu pekan ini, pengalaman teman-teman di dalam pabrik selama satu minggu.”
Tiba di kantor FBLP, Ari segera bergabung dengan sejumlah buruh perempuan yang sedang rapat. Mereka membahas persiapan acara peluncuran Radio Marsinah.

Usai rapat, Ari menuju ke ruang studio yang berukuran sekitar 4×4 meter. Di dalamnya terdapat perlengkapan siar, dari mulai computer, mixer enam channel, dua microphone, dan dua buah headphone. Perlengkapan itu diletakan pada dua buah meja yang disusun menyerupai huruf L.

Baru satu bulan Ari menjadi penyiar di Radio Marsinah. Di udara, dia disapa Dias. Dari nama belakangnya, Widiastari.

Lelah kerja lebih 8 jam sehari hilang saat Ari mengisi gelombang siar radio komunitas Marsinah, di 106 FM.

“Senang. Justru malah ke balik. Begitu lelah kerja seharian, begitu duduk di sini dengarin musik, bisa interaktif dengan teman-teman. Begitu banyak sharing dengan atensi-atensi yang masuk. Tidak capek. Banyak teman-teman. Hampir setiap hari kumpul.”

Radio Marsinah menjadi ruang kelas untuk menimba lebih banyak ilmu.

“Kalau saya pribadi, ini belajar yang mahal tetapi gratis. Sembari menimba ilmu untuk mencari pengetahuan. Dari sini, saya jadi tahu alat-alat komunikasi untuk siaran. Bahan-bahan yang mau disiarkan jadi kita tahu. Belajar intinya.”

Di hadapan microphone, Ari tidak ragu menyapa pendengar dan sesekali membaca pesan pendek yang masuk. Dia mengaku sempat grogi, apalagi ini kali pertama ia bersiaran. Pengalaman yang ia miliki hanya bekerja dari satu pabrik ke pabrik lain di Kawasan Berikat Nusantara, Cakung.

“Awalnya grogi, rubrik apa yang mesti diomongin. Mungkin bahasa, karena di sini banyak orang jadi tidak konsentrasi dengan banyak orang yang ingin ikut bersiaran. Kita juga terbatasnya pengalaman bersiaran Memang tidak pernah bersiaran, ini baru kali pertama. Masih grogilah.”
“Tetapi lambat laun kita mengalir saja dengan ngobrol. Karena saya juga mengalami situasi di lapangan jadi mengalir saja, kaya cerita ke teman dan temen share ke kita.”

Menyuarakan Kondisi Buruh Perempuan

“Seperti hari ini kita capek karena tidak dapat target. Harus mencapai target akhirnya lembur, (tetapi -red) tidak dibayar. Itu kan marak sekali di KBN. Nama trendnya, skorsing. Itu akan menjadi bahan kita diskusi dan harus kita pecahkan bersama-sama.”

Seorang buruh lainnya Titin Wartini menjelaskan masalah lembur tidak dibayar, atau dikenal dengan istilah skorsing.

“Kita bekerja dari pukul 7.30 pagi dan pulang 15.30. Itu sudah seharusnya. Tetapi kenyataan tidak begitu. Absen iya 15.30, tapi kami pulang sampai mendapatkan target. Itu salah. Seharusnya kami itu dimasukannya lembur, bukan dimasukannya lembur tidak dibayar.”

Skorsing diterapkan bukan karena buruh malas, melainkan karena beban kerja yang selalu ditambah, sambung Ari Widiastari..

Penanggung Jawab Radio Marsinah, Dian Septi Trisnanti

“Jadi begini, sistem di KBN itu pada umumnya, kalau kita sudah ditentukan dengan target 100 per satu jam, kalau hari ini kita tercapai, besok itu dinaikan. Jadi tenaga kita itu akan habis untuk mengejar target itu sendiri. Sebenarnya bukan karena kita tidak bisa mencapai target yang sudah ditentukan. Tetapi begitu kita sampai, besok dinaikan lagi, dinaikan lagi, begitu seterusnya. Itu yang membuat kita itu kelelahan sendiri dengan target yang tidak pasti.”

Ketua Forum Buruh Lintas Pabrik Jumisih mengatakan, pelanggaran jam kerja ini bisa terjadi setiap hari.

“Pelanggaran jam kerja itu parah di KBN. Di UU 13 itu sudah ada peraturan bahwa satu minggu itu adalah 40 jam kerja seminggu. Tetapi di sini itu tidak. Itu dilanggar setiap harinya. Sehari yang seharusnya dia berkerja delapan jam, dia bekerja 9 jam, 10 jam. Tetapi kelebihan jam kerja dari 8 jam ke 9 atau 10 jam itu tidak dihitung sebagai lembur. Tetapi itu disebut skor atau sanksi karena si buruh tidak mendapatkan target. Ini normatif sekali, di Bekasi jarang ada isu seperti ini. Ini marak dilakukan pengusaha di sini karena satu perusahaan terapkan itu, yang lain akan mengikuti.”

Selain pelanggaran jam kerja, masalah umum lain yang terjadi adalah minimnya hak-hak normatif, seperti cuti hamil dan melahirkan. Penanggungjawab Radio Marsinah, Dian Septi Trisnanti.

“Untuk di pabrik itu problemnya, tidak ada cuti haid, cuti hamil melahirkan juga tidak ada. Biasanya kalau hamil itu di-PHK, dirumahkan, diputus kontrak. Diputus kontrak setelah melahirkan, suruh bikin lamaran lagi. Itu untuk menghindari cuti hamil dan melahirkan. Mayoritas begitu. Lalu pelecehan seksual dalam pabrik, itu ada.”

Berangkat dari kondisi itu, Radio Marsinah mencoba memberikan ruang dan informasi bagi buruh perempuan, lanjut Dian.

“Karena diskusi tentang kesetaraan gender itu belum membumi. Dia masih di balik kampus, masih dalam wacana penelitian. Belum membumi dalam artian, apa feminis itu? Buruh gak ngerti. Perempuan akar rumput tidak mengerti apa gender itu? Ini yang harus ditransfer sehingga mereka mengerti, paham. Kalau mereka sudah punya kesadaran mereka akan bertindak. Jadi radio buruh perempuan ini jangan dimaknai sebagai alat propaganda organisasi. Ini adalah pusat informasi dan pengetahuan untuk teman-teman buruh perempuan supaya menyadari hak sebagai buruh, menyadari hak mereka sebagai perempuan.”

Sudah dua bulan Radio Marsinah mengudara. Akhir pekan lalu radio ini resmi diluncurkan. Berbagai tantangan menanti di depan.

Jangkauan Masih Terbatas

Penanggungjawab Radio Marsinah, Dian Septi Trisnanti mengatakan, radio buruh perempuan ini mencoba membangun kesadaran dan membuka ruang informasi lewat beberapa program siaran.

“Ada banyak. Ada rubrik pagi, kemudian sore itu dunia luas, informasi tentang hak buruh perempuan. Terus ada talkshow. Talkshow sendiri ada lima, ada tentang hak dan hukum, union, cermin, ada rubrik inbox sms, ada rubrik rumah. Yang baru jalan adalah hak dan hukum, union dan cermin.”

Talkshow hak dan hukum siar setiap Jumat pukul 8 malam. Menurut Dian, talkshow ini ingin memberikan perspektif lain tentang isu yang sedang muncul di media arus utama. Misalnya, soal aksi-aksi buruh saat menolak kenaikan harga BBM.

Program-program acara Radio Marsinah tidak setiap waktu hadir dalam ruang dengar. Kata Dian, siaran radio ini hanya di pagi dan sore hari, usai buruh menuntaskan pekerjaannya di pabrik. Di luar itu, kosong.

“Kayak Ari yang bersiaran sekarang. Dia itu masuk pagi. Maka, kemudian dia pulang jam 15.00, siarannya sore. Kalau dia shift malam jam 23.00, dia bisa siaran pagi. Sore bisa, tetapi jam 23.00 dia kerja. Tetapi kalau masuk jam 15.00, berarti dia siarannya pagi setelah pulang kerja. Jadi setelah pulang kerja.”

Meski sudah bersiaran selama hampir dua bulan, Dian mengaku masih kesulitan untuk menjaring pendengar.

“Ini sedang kita kampanyekan terus. Harapannya bisa banyak yang mendengar. Itu tantangannya yang paling sulit.”

Untuk mengatasinya bagaimana?

“Satu kita buat sms terus keanggota dan teman-teman buruh yang kita kenal. Kita belum kalkulasi penuh, mungkin belasan sampai 20 an. Belum lebih.”

Di antara belasan pendengar, ada Atin Kurniati dan Ratna Sari.

“Ia, hampir setiap malam, kadang sampai jam 12. Dari radio ini dapat tentang perempuan, tentang hak-hak perempuan.”

“Saya suka dengar radio Marsinah. Karena ini radio komunitas, bukan komersil. Radio ini beda dengan radio lainnya, misinya untuk memajukan perempuan itu yang saya setuju. Banyak tahu dari Marsinah soal isu-isu perempuan. Dengerin lewat radio, lewat handphone.”

Akhir pekan lalu Radio Marsinah meresmikan keberadaannya. Bertepatan dengan Hari Kartini, acara peresmian diisi dengan suguhan musik dangdut, pembacaan puisi dan surat Kartini, pameran lukisan dan juga orasi politik.

Walaupun sudah meresmikan keberadaannya, Radio Marsinah belum bisa mendapatkan hak gelombang siar sebagai radio komunitas. Jatah frekuensi untuk radio komunitas dikuasai oleh Radio Jakarta Islamic Center (JIC), kata Penanggung Jawab Radio Marsinah Dian Septi Trisnanti.

“107,7 FM sampai 107,9 FM itu jalurnya komunitas. Ini masih kepakai oleh gelombang Islamic Center. Dalam sebulan ini kita masih 106 FM, itu kan punya komersil. Untuk sementara kita masih pakai itu. Karena kalau pake 107,7 – 107,9 FM di depan gang saja udah gak terdengar, itu habis oleh Islamic Center. Dia pakai 3000 watt dan komersil dia. Kita akan mengurus perijinan, masih dalam proses.”

Jangkauan siar radio JIC bisa mencapai Bogor, Bekasi, hingga Karawang. Padahal PP nomor 51/2005 secara tegas membatasi jangkauan siar radio komunitas, hanya sejauh 2,5 kilometer dengan kekuatan maksimal 50 watt.

Terkait masalah ini, Dian mengaku sudah menanyakan soal ini kepada Komisi Penyiaran Indonesia Daerah KPID Jakarta. Namun menurut Dian, KPID tidak bisa berbuat banyak atas penggunaan gelombang komunitas ini oleh JIC.

“Dia (KPID -red) bilang Jakarta Islamic Center itu di 107,7 dia memang bukan radio komunitas tetapi radio komersil memang. Dia bilangnya 80 watt, tetapi aku cek di websitenya 3000 watt. Dia malah bilangnya, KPID tidak bisa menindak JIC karena mengantongi memo Gubernur. Aku bilang itu melanggar. Malah kita disuruh pindah. Loh komunitasnya di sini, malah kita yang disuruh pindah. Mereka tahu itu komersil tetapi gelombangnya komunitas. Nanti mau kita urus untuk komplainnya. Galang solidaritas.”

Masalah itu tidak menyurutkan langkah mereka. Titin Wartini mengajak buruh perempuan lain di KBN Cakung untuk terlibat dalam gerakan buruh melalui radio ini.

“Selama ini, saya pribadi hanya mengetahui perempuan itu tidak jauh-jauh banget dari dapur, sumur lantas naik ke kasur. Tetapi setelah mengenal Marsinah FM ini tidak lagi. Kawan-kawan buruh perempuan itu berhak tahu dan harus tahu dan yang paling penting adalah berani melawan di setiap ada penindasan. Tidak seperti dulu lagi, ditindas nangis, sekarang tidak.”

Kaki sudah dilangkahkan, suara sudah dipancarkan. Radio Marsinah FM siap menjadi media perjuangan bagi buruh perempuan. Penanggung Jawab Radio Marsinah Dian Septi Trisnanti.

“KBN Cakung itu 90% adalah perempuan. Di dalam serikat buruh, perempuan itu jarang menempati posisi pimpinan strategis padahal massanya kebanyakan perempuan Ini kan problem. Hambatannya besar, hambatan keluarga, pekerjaan domestik-anak suami, masyarakat. Kita mendorong perempuan untuk maju.”

Radio buruh MARSINAH, dari Perempuan Buruh untuk kesejahteraan dan kesetaraan.

You might also like

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published. Required fields are marked *