Karen Cries on the Bus*

Vivi Widyawati[1]

“Mario aku menginginkan perceraian, aku butuh sendiri”. “Aku butuh menjadi diri sendiri”.

Bagi banyak perempuan tidak mudah mengucapkan kalimat di atas. Karena kalimat tersebut mengandung makna negatif dalam kacamata masyarakat patriarki. Dominasi dan kontrol masyarakat terhadap perempuan, baik di lingkup sosial maupun rumah tangga, membuat perempuan tak bisa menjadi dirinya sendiri, sehingga perempuan tak punya kebebasan untuk menentukan apapun dalam berbagai aspek hidupnya.

Karen Cries on the Bus (Karen Menangis di dalam Bis) adalah sebuah film yang mengisahkan seorang perempuan bernama Karen (Ángela Carrizosa) berjuang untuk mendapatkan kembali jati dirinya dengan bercerai dari suaminya setelah 10 tahun perkawinan mereka.

Tentu tidak mudah bagi Karen untuk hidup sendiri, setelah selama 10 tahun sangat tergantung pada suaminya secara ekonomi dan psikologi. Keinginannya untuk berpisah dan menata hidupnya sendiri begitu kuat, menjadikan Karen berani mengerjakan apa saja agar bisa bertahan hidup: menjadi sales kursus bahasa Inggris, meminta-meminta dijalan, sampai mencuri makanan di supermarket. Kehidupan yang sulit tak menjadikannya kalah dan kembali kepada suaminya.

Pertemuannya dengan Patricia, seorang penata rambut yang kemudian menjadi sahabatnya, membawanya mengenal kehidupan yang selama perkawinannya tidak pernah dia bayangkan untuk dilakukan. Menghabiskan malam untuk menyenangkan dirinya sendiri, mengenal teman-teman baru, mengubah potongan rambut, hingga kemudian jatuh cinta pada seorang penulis naskah teater.

Menonton film ini, saya mendapat kesan bahwa si penulis naskah, Gabriela Rojas Vera, selain memunculkan problematika-problematika yang dihadapi oleh perempuan dalam kaitannya dengan relasi perkawinan, juga kemenangan seorang perempuan untuk menjadi dirinya sendiri.

Problem pertama yang coba dimunculkan adalah, ketika Karen menyatakan kepada suaminya bahwa dia ingin bercerai karena ingin menjadi dirinya sendiri. Lalu tanggapan dingin suaminya cenderung merendahkan dengan balik bertanya, “sendiri? kamu tidak bisa melakukan apapun.” “Bagaimana kau akan mengatur hidupmu sendiri?”. Percakapan ini menyiratkan bagaimana kuatnya dominasi Mario (si suami) atas Karen sehingga dia sangat tidak yakin jika Karen bisa hidup sendiri.

Problem kedua adalah tentang pandangan perempuan sebagai milik laki-laki. Muncul dalam adegan percakapan antara Karen dan ibunya ketika ia menyampaikan ingin bercerai dan tinggal kembali bersama ibunya, lalu ibunya menjawab: “ini adalah rumahmu, tapi kamu adalah milik suamimu”.

Selain problematika, film ini menyajikan, dengan cukup baik, proses perubahan seorang Karen dari yang sangat tertutup menjadi yang penuh percaya diri. Pada adegan ketika suaminya kemudian datang meminta maaf dan menginginkan Karen kembali, ia menjawab dengan lugas: “perkawinan kita adalah sebuah kesalahan, aku tidak pernah menjadi perempuan yang kamu inginkan”.  Karen lebih memilih untuk menjadi dirinya sendiri.

“Saya tidak bisa pergi bersamamu”, demikan ucap Karen kepada pasangan barunya, dan memilih pekerjaannya sebagai penjaga toko buku. Inilah adegan yang sangat dramatik, karena sesaat sebelumnya, padahal, Karen tampak agak bahagia ketika pasangan barunya mengajaknya pindah dan hidup bersama di Argentina. Penolakannya kemudian muncul seketika sebagai respon ketika pasangannya menyuruhnya mengambilkan jaket di gantungan. Sepertinya sutradara hendak menampilkan bayang-banyang masa lalu Karen, sebagai pelayan suaminya, melalui adegan tersebut,

Berdurasi 98 menit, film ini terasa lambat karena pengadeganannya yang sangat teratur dan kadang menjadikannya datar. Tapi justru dengan demikian ia berhasil mengaduk-aduk emosi penonton. Kekuatan film ini terletak pada dialognya yang sanggup menghidupkan karakter dari para pemain, dan kesederhanaan skenario yang menjadikannya begitu nyata seperti kehidupan sehari-hari.

Sutradara dan Penulis Naskah    : Gabriel Rojas Vera

Produser            : Alejandro Prieto

Aktor                  : Ángela Carrizosa, Juan Manuel Díaz Oroztegui, Diego  Galindo, Angélica Sánchez

Musik                 : Rafael Escandόn

Suara                 : Carlos Rincon

Durasi                : 98 menit

Produksi            : Caja Negra

Tanggal Rilis   : 13 Mei 2011

Film                   : Colombia

***


*Telah dicetak dalam Koran Pembebasan Edisi II, November-Desember 2011.

[1] Anggota Partai Pembebasan Rakyat, aktivis Perempuan Mahardhika

You might also like

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published. Required fields are marked *