Pendapatan per Kapita: Mencerminkan Siapa?

A PRASETYANTOKO Ketua LPPM, Unika Atma Jaya, Jakarta
Thursday, 09 February 2012

Kian jelas,Indonesia masuk dalam kelompok negara berpenghasilan menengah (middle income countries). Badan Pusat Statistik (BPS) baru saja merilis data pendapatan per kapita 2011, yang sudah mencapai Rp30,8 juta atau sekitar USD3.542,9.

Terjadi kenaikan cukup signifikan dari periode sebelumnya.Dengan kata lain, penduduk Indonesia rata-rata berpenghasilan Rp2,56 juta setiap bulannya. Tidak ada yang salah dengan data statistik ini.Kenaikan itu bersumber dari dua hal pokok, kinerja pertumbuhan ekonomi yang berada di atas 6% sejak 2010, serta penguatan nilai tukar yang membuat “nilai” perekonomian kita naik.Meskipun begitu,ada persoalan di balik peningkatan tersebut.
Pertama, peningkatan diikuti oleh penguatan rupiah, sehingga daya saing produk ekspor kita melemah. Dunia usaha berorientasi ekspor pasti kedodoran menghadapi situasi itu. Kedua, terkait dengan hal pertama, buruh akan menghadapi kondisi perusahaan yang menghadapi kesulitan, sehingga tuntutan kenaikan upah menjadi sulit. Itulah mengapa seakan terjadi suasana yang berbeda di dunia nyata.Kontradiksi itu sangat jelas terjadi untuk kasus upah buruh.

Bagaimana mungkin, perekonomian baik dan pendapatan per kapita meningkat, tetapi upah buruh tidak bisa dinaikkan? Itulah realitas yang oleh ekonom terkemuka JM Keynes disebut sebagai “counter intuitive”. Ilmu ekonomi harus mampu menjelaskan situasi yang tidak sesuai dengan intuisi tersebut. Di Kabupaten Tangerang, misalnya,buruh terus berjuang menuntut pemberlakuan kenaikan upah minimum regional (UMR) dari Rp1.379.000 menjadi Rp1.527.000 per bulan. D

emikian pula di Kabupaten Bekasi, yang berujung pada penutupan jalan tol. Dan jika kita lihat, besaran UMR masih berada jauh di bawah pendapatan per kapita. Jadi, pertanyaan yang menggelitik: sebenarnya pendapatan per kapita itu mencerminkan kelompok masyarakat yang mana?

Kesenjangan Sektoral

Kenaikan pendapatan per kapita mengukur pendapatan rata-rata penduduk dalam setahun. Dia merupakan turunan langsung dari produk domestik bruto (PDB) yang sepanjang 2011 tumbuh sebesar 6,5% atau secara nominal sebesar Rp7.427,1 triliun. Inilah kinerja perekonomian terbaik sejak 15 tahun terakhir. Pertanyaannya, siapa yang menikmati pertumbuhan tinggi tersebut?

Dilihat secara sektoral, industri transportasi dan telekomunikasi tumbuh paling pesat, sebesar 10,69%. Disusul oleh industri per-dagangan, hotel dan restoran sebesar 9,18%. Bagaimana dengan sektor pertanian? Dia hanya tumbuh 2,98%. Betapa besar perbedaan itu.Umumnya, sektor jasa erat kaitannya dengan kelompok menengah yang berpenghasilan dan daya beli relatif tinggi.

Apa yang membuat Indonesia tumbuh cukup tinggi? Perekonomian Indonesia berbasis pada permintaan domestik,dengan mengandalkan kenaikan daya beli kelas menengah.Pada struktur PDB 2011, sebesar 54,3% disumbang oleh kegiatan konsumsi masyarakat, sementara konsumsi pemerintah sebesar 9%,sehingga total permintaan domestik (permintaan rumah tangga dan pemerintah), hampir mencapai 65% sendiri dari total PDB.

Sementara sisanya disumbang oleh investasi (32%), dan selisih dari ekspor terhadap impor. Sejak 2010, investasi tumbuh tinggi.Tidak bisa disangkal, memburuknya proyeksi perekonomian negara-negara maju, justru menjadi berkah bagi perekonomian yang sedang tumbuh seperti Indonesia.

Goldman Sachs mengatakan, negara seperti Indonesia tidak bisa lagi disebut sebagai “emerging market”, tetapi “growth market”.Potensi pasarnya luar biasa, sehingga banyak investor yang tertarik untuk masuk. Sejak 2010, nilai investasi di Indonesia terus meningkat. Data BPS menunjukkan pembentukan modal tetap bruto (PMTB) tumbuh di atas 8% sejak 2010.

UNCTAD dalam World Investment Report 2011, juga mencatat bahwa Indonesia pada 2010 masuk 20 negara penerima aliran modal asing langsung (Foreign Direct Investment– FDI).Ke depan, sektorsektor konsumsi dan terkait dengan kebutuhan kelompok menengah akan tumbuh.

Kelas Menengah

Indonesia memang surga bagi sektor konsumsi. Betapa tidak, penduduknya sangat besar, sekitar 230 juta jiwa. Menurut catatan Bank Dunia (2010),jumlah kelas menengah di Indonesia mencapai 134 juta. Definisinya, kelompok dengan penghasilan sebesar USD2–20 per hari. Dari kelompok yang lebar itu, bisa diklasifikasikan dalam 4 kelompok.

Pertama,lowest middle class dengan penghasilan antara USD2–4/hari (sebanyak 38% dari total penduduk). Kedua, low middle class antara USD4–6/hari (sebanyak 11%). Ketiga, middle middle class atau berpenghasilan antara USD6–10 USD(5%).Keempat, upper middle classdengan penghasilan antara USD10–20/hari (1,3%).

Kita bisa melihat,kelompok yang disebut “kelas menengah” itu, ternyata hampir separuhnya berpenghasilan kurang dari USD6/hari. Jadi, sebenarnya pendapatan per kapita bahkan tidak mewakili kelompok menengah di Indonesia. Pendapatan per kapita sejatinya lebih mencerminkan banyaknya orang kaya dan super kaya. Indonesia memiliki pertumbuhan orang kaya tercepat di antara negara-negara ASEAN.

Di antara negara berkembang, Indonesia berada di urutan ke-8 dilihat dari banyaknya jumlah orang kaya. World Wealth Report 2011 yang disusun Merrill Lynch & Capgemini melaporkan, dibandingkan dengan wilayah lain, usia orang-orang super kaya (highly net-worth individual/HNWI) di kawasan Asia dikuasai oleh orang muda.

Bila secara global jumlah HNWI yang berusia 31–45 tahun hanya 15%, di kawasan Asia proporsinya sebesar 38%.Sama-sama kaya, tetapi dengan umur yang lebih muda, punya implikasi ganda: konsumsi lebih banyak dan usia produksi lebih panjang. Predikat investment grade akan membuat investasi terus mengalir. Namun, kue pembangunan ternyata hanya dinikmati oleh sekelompok penduduk.

Kenaikan pendapatan per kapita lebih disebabkan oleh peningkatan jumlah kelas menengah, dan terutama orang-orang superkaya yang peningkatan asetnya melonjak drastis akhir-akhir ini. Pendapatan per kapita jelas tidak mencerminkan pendapatan buruh, apalagi pekerja informal yang jumlahnya sangat banyak di negeri ini.

Ada persoalan sangat serius dengan kesenjangan di negeri ini.Bagi sebagian besar penduduk, kenaikan pendapatan per kapita itu tidak bermakna apaapa, karena tidak ikut menikmatinya.

You might also like

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published. Required fields are marked *