Lima Menit Menjelang Fajar dan Harum Angin Bagai Kebebasan

Tak lagi seperti lima menit menuju tengah malam. Setelah musim semi di Arab melompat ke Spanyol dan Yunani, kemudian ke Wall Street di New York, tiba-tiba saja rasanya seperti lima menit menjelang fajar.

Tak perlu lagi merasa tak ada waktu hentikan dunia yang sedang menuju kehancuran. Inilah pendahuluannya dan kita sedang membanjirinya.

Kita tiba-tiba berada di dalam suatu momen yang tak ditandai oleh protes rutin melelahkan, yang berbicara bukan atas nama siapapun dan tidak kepada siapapun.

Para penindas (musuh-musuh bersama kita) tak lagi tak tertantang—atau semakin tak lagi tak tertantang. Mereka, malahan, sedang diombang-ambing ke belakang, dibuat bingung, terperangah, gusar. Si Milyuner Bupati New York tidak bisa membersihkan taman yang kecil itu[1]—dan tiba-tiba saja persoalannya bukan lagi bagaimana memaksa para ‘penduduk[2]’ pergi, melainkan apakah mungkin (ia) dibuat lengser jika tetap memaksakannya.   

Sekian lama, segala hal yang membuat orang menangis setiap malam: kemiskinan global yang membuat mati rasa, kesepian menyakitkan orang-orang non-komunitas yang tercerai berai, kaum muda dan tua yang terabaikan, perang dominasi yang tak kunjung berakhir, struktur global imperium, alam yang sedang binasa, fabrikasi kebodohan, intoleransi, kefanatikan, pemerkosaan dan brutalitas yang sehari-hari biasa terhadap perempuan—semua ini seperti tampak tak tersentuh dan permanen.

Sekarang, tiba-tiba… suatu hari berbeda menghampiri—dimana kita semakin dapat melihat dan bertindak dengan cara menakjubkan, bersama riak-riak benturan baru. Telinga-telinga  menjadi tegak. Pandangan mata diangkat. Denyut nadi lebih cepat. Tiba-tiba kita mengenali wajah-wajah orang lain—yang dulunya tak kita kenali—bergairah dan bangkit dengan semangat yang sama. Yang (dulu) kuat tampak rentan dan malu.

Pagi menjelang… Pergilah, dan bangunkan yang masih terlelap.

Harapan pada suatu masyarakat baru, dengan melenyapkan kapitalisme, tampak masih jauh dari lelah. Tidak (ia belum lelah), ia tiba-tiba saja bersemi dari setiap pori-pori. Pendudukan belasan kota adalah angin penanda badai yang akan datang.

Inilah suasana hati yang sedang menghasilkan pergerakan revolusioner militan dan berdedikasi, menuju suatu proses kebenaran baru.

Orang-orang maju, radikal, tidak puas, yang merasa sendiri dan terisolasi—tiba-tiba sadar mereka adalah jutaan. Kawan-kawan bermunculan dari bayang-bayang, terpikat pada tiap-tiap nyala pagi.

Jaringan mengental nyaris satu malam. Pikiran-pikiran baru berlompatan dari satu manusia ke manusia lain, membentuk kata pada setiap paragraf, saling menyesuaikan dan menjernihkan. Wujud-wujud ekspresi menggetarkan yang lama dan (telah) kecapaian… Generasi baru menemukan bahasanya sendiri dari pesan-pesan di udara.

 

Ayo mengerti (peristiwa) ini seperti apa ia adanya. Ayo kenali dimana kita berdiri. Ayo rangkul berbagai kemungkinan di dalam kebaharuan.

Penyimpangan dari norma ini menyingkapkan apa yang sudah bergerak ke tempatnya, dan telah lama dibangun.  Dan penyingkapan itu mentransformasi segalanya—khususnya, karena kita semua melihatnya bersama, di dalam kesamaan, dan mengenali diri kita sendiri dari dalam gambar itu.

Teruslah tidak sabar pada sistem kriminal ini.

Bersabarlah pada kasih sayang terhadap sesama—dengannya kita temukan bahasa yang sama untuk beraksi dan bertransformasi.

Dengarlah pada yang baru. Dan genggamlah dengan kuat kebenaran yang telah lama disembunyikan dan disangkal—tetapi kini kita suarakan tepat dari pusat panggung.

Ayo rampas landasan moral tertinggi (suatu posisi paling berharga untuk dipertahankan), dan jangan pernah menyerahkannya. Dan sadarilah bahwa para centeng berjas dan ber video-kamera akan datang merebut landasan itu, dan membuat kita seperti orang bodoh, pecundang, barbarian tepat di pintu gerbang.

 

Yang terpenting: Ayo dengan sadar bergerak ke segala hal.

Perubahan yang kita inginkan adalah soal mengambil akumulasi kekayaan, teknologi, kerja keras, ilmu pengetahuan, dan keterhubungan seluruh peradaban global—dan akhirnya (akhirnya!) menempatkannya untuk melayani kita semua, termasuk diantara kita yang paling minoritas dan sebelumnya lemah. Ini mengenai yang diam tiba-tiba angkat bicara, dan yang terkaya tiba-tiba terdiam.

Ini bukan tentang “pembiayaan anggaran” (!) namun tentang kekuasaan dalam makna yang paling fundamental. Kita tidak mau memajaki para triltyuner kapital keuangan—kita harus menyingkirkan tangan-tangan zombi mereka dari tenggorokan kita semua… sehingga kita bisa bernafas, mungkin untuk pertama kalinya, dalam hidup kita. Dan sehingga kita dapat mengubah keseluruhan arah dari dunia ini.

“Kebebasan” yang kita kehendaki bukanlah surat ijin individual yang digembar-gemborkan oleh para ideolog gila hormat (partai) Republik (kebebasan yang “sesuai kemauan saya, brengsek kau”). Melainkan, kita harus menemukan kebebasan kita semua, bersama-sama, membentuk dunia mereka bersama—satu etos solidaritas yang saling perduli. Itulah kebebasan (kemampuan dan kemungkinan) yang muncul ketika kekuasaan baru rakyat menyingkirkan segala hal dari (si penguasa) yang sangat sedikit.

 

Revolusi mulai dari gagasan-gagasan dan pengakuan bersama. Kemudian bergerak ke lapangan kekuasaan.

Pada momen ini: kita mendapati seberkas cahaya betapa imperium ini menuju kehancuran, dan bagaimana para tentara mulai tercerai berai. Mereka tidak mati di medan perang, setidaknya bukan pada awalnya—namun dalam dukungan baru yang tiba-tiba (datang) dari kaum muda yang sedang bangkit.

Kita tidak bisa “mengambil kembali Amerika”—kita tidak pernah memilikinya. Tapi kita bisa mengambil alihkendali kehidupan kita sendiri, planet kita, dan masa depan kita bersama—merenggutnya dari musuh-musuh dan kekuatan-kekuatan yang mengancam.

Momen pendudukan ini memang bukanlah soal beberapa konsep “Amerika”. Ini global—karena masyarakat kita, masa depan kita, biosfer kita, semuanya adalah global. Gelombang pendudukan dan pernyataan yang menular ini adalah soal siapa yang akan memberi bentuk bola dunia biru yang indah ini secara keseluruhan.  Dan kita tidak boleh biarkan ia disusutkan dan dikorup oleh slogan Amerika Lebih Dulu (Nomor Satu).

“Mimpi Amerika” yang lama, menjanjikan setiap orang kemampuan untuk menanjak di atas satu sama lain. Mimpi yang baru datang ini dapat berupa suatu komunitas global manusia yang saling mengembangkan satu sama lain—menggantikan komunitas penjual kemanusiaan.

Ayo bergerak lah ke segala hal. Ayo bergerak ke masa depan itu sendiri. Ayo selamatkan satu-satunya bumi yang kita punya. Ayo bertujuan untuk bersama-sama menghapuskan kemiskinan banyak orang dan penderitaan orang -orang yang dilecehkan.

Di sini di kala fajar, ayo kita bayangkan hari yang kita kehendaki, dan membuat visi revolusioner itu menjadi pusat perdebatan, sekali ini, dan mungkin semenjak dari sekarang. ***

 

–> Ini adalah liflet cetak hitam putih berukuran kertas 8.5 x 14, yang ditulis Mike Ely dan disebarkan oleh suatu kelompok kiri AS, Kasama, http://kasamaproject.org/about/, yang mendukung aksi pendudukan Wall Street, New York, pada 14 Oktober 2011. Diterjemahkan oleh Zely Ariane dari http://kasamaproject.org/2011/10/14/suddenly-it-is-five-minutes-to-dawn-and-the-wind-smells-like-freedom/

_______________________________

[1] Bupati New York, Bloomberg, dan pemilik taman Zuccoty (Liberty) Plaza, membatalkan penggusuran para demonstran pendudukan Wall Street yang berdiam di taman itu, pada pagi hari di 14 Oktober 2011, setelah massa bersiap mempertahankan hak berdiam di sana.(pent)

[2] Penerjemah selanjutnya akan menggunakan kata ‘penduduk’ dalam artikel ini untuk mengacu pada para demonstran yang menduduki Wall street dan tempat-tempat lain yang mengikuti kampanye ini.

You might also like

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published. Required fields are marked *