Berburu Hantu Komunisme

Zely Ariane
Menurut Ketua Hubungan Luar Negeri Partai Golkar, Iris Indira Murti, parpol di Indonesia perlu membuat program yang lebih berorientasi pada rakyat secara nyata, seperti yang dilakukan Partai Komunis Cina. (Kompas, 6/9/11)
Tren Cina, raksasa baru dunia, mewabah di dunia akademik, seminar, buku, dan layar kaca. Negara China adalah negara Partai Komunis, sementara Negara Indonesia, sejak 1 Oktober 1965, adalah negara anti komunis. Bahkan Partai Golkar, yang dalam sejarahnya benci komunis, kini hendak belajar dari Partai Komunis Cina. 
Ketika lebih dari 40 tahun komunisme dijadikan hantu di Indonesia, khususnya oleh partai penguasa Golkar di masa Orde Baru, maka keinginannya belajar dari Partai Komunis Cina (PKC) itu patut dipolemikkan. Mumpung bulan September, terasa tepat menghubungkan wabah itu dengan beberapa soal menyangkut komunisme. 
Marxisme-Leninisme

Tak seperti Partai Komunis Indonesia (PKI) yang dilarang di dalam Ketetapan XXV/MPRS/1966, PKC bukanlah partai terlarang. Tak seperti idelogi Komunisme/Marxisme-Leninisme, termasuk taktik perjuangan oleh Lenin, Stalin, Mao Tse Tung, yang juga dilarang di sini, Marxisme-Leninisme dan pemikiran Mao Tse Tung yang menjadi ideologi PKC, juga bukan ideologi terlarang di sana.
Menurut TAP XXV, komunisme/ Marxisme Leninisme dilarang karena dianggap bertentangan dengan Pancasila. Bila demikian, apakah Marxisme Leninisme di Cina dengan Marxisme Leninisme di Indonesia berbeda? Yang satu melawan Pancasila, yang satu berorientasi pada rakyat? Kalau begitu mengapa tidak diadvokasi saja Marxisme Leninisme yang berorientasi pada rakyat ala PKC, yang telah membuat anggota dewan dari Partai Golkar memuji-mujinya?
De-hantuisasi Komunisme 

Semakin sering (apalagi bebas) Komunisme/Marxisme Leninisme disebut, ditulis, diteliti, dibela, dicaci maki, maka semakin hilang makna kehantuannya.  Perdebatan mengenai Marxisme antara Goenawan Muhammad, pengarang buku Marxisme, Seni, Pembebasan, dengan Martin Suryajaya, penulis buku Alain Badiou dan Masa Depan Marxisme Indonesia, di media facebook adalah wujud penghancuran karakter penghantuan komunisme di negeri ini. Sayangnya, belum terjadi di dunia akademik yang seharusnya sebagai pusat polemik.
Apakah kita tahu apa itu komunisme/Marxisme Leninisme? Yang kita ketahui adalah karikatur komunisme, dibawah rezim Soeharto, sebagai yang anti agama, perempuan lacur Gerwani yang menari-nari telanjang, atau “darah itu merah, jenderal” di dalam salah satu adegan pembunuhan para jenderal di film “G30 S/PKI”. Itu saja.
Sementara buku-buku hasil penelitian bertanggung jawab tentang apa yang terjadi pada 30 September 1965, yang mengungkapkan versi berbeda dari versi TNI dan Orde Baru, dibakar oleh kaum reaksioner berjubah; dilarang oleh Kejaksaan Agung.
Tapi hantu tak bisa diburu, karena gagasan komunisme dapat diperoleh dimanapun, dengan cara apapun. Karena pikiran manusia tidak bisa dilarang berhenti, kecuali dibuat mati, seperti ratusan ribu anggota dan simpatisan komunis Indonesia pada periode 1965-1966. Atau diisolasi tanpa informasi, tak dibolehkan membangun organisasi sendiri dan memahami komunisme dengan caranya sendiri.
Mengenali Si Hantu

Filsuf Marxis Perancis, Daniel Bensaid, mengatakan, nama Komunisme telah menderita kerusakan parah akibat disandera rezim politik birokratik yang menjadikannya karikatur kekuasaan totalitarian partai atas rakyat. Di dalam diskurus arus besar, apalagi setelah Fukuyama mendeklarasikan end of history, pasar-bebas ala Cina lah yang lebih populer sebagai ‘jalan komunisme’. Dan ‘komunisme’ jenis ini lebih menghegemoni ketimbang hipotesis teoritik beserta upaya heroik-eksperimental pergerakan komunis abad 20.
Komunisme, menurut Marx, adalah satu asosiasi dimana perkembangan bebas setiap manusia merupakan syarat bagi perkembangan bebas seluruh manusia. Perkembangan bebas individu bukan lah tujuan di dalam dirinya sendiri, melainkan jalan untuk pembebasan seluruh umat manusia.
Individualisme dalam masyarakat liberal, oleh karena itu, bukanlah wujud kebebasan individu. Karena sekadar ‘bebas’ menjual tenaga kerja untuk ‘bebas’ membeli komoditas. Tapi tak bebas menentukan upah dan harga, memilih lokasi dan jenis pekerjaan, karena semua sudah ditentukan lebih dulu secara sepihak oleh si pemilik pasar dan si pemilik komoditas.
Perkembangan bebas manusia bukan pula egalitarianisme mekanik ala sosialisme sama rata sama rasa, apalagi sosialisme larang melarang dan bungkap membungkam. Perkembangan bebas itu akan terhambat jika sistem kekuasaan membiarkan pembakaran buku, melarang kebebasan berekspresi, berkeyakinan, berorientasi seksual, dan berideologi.
Tak ada perkembangan bebas individu kalau mayoritas masyarakat tak mampu (baca: bebas) sekolah dimanapun; setinggi apapun, tak bisa (baca: bebas) mendapat perawatan berkualitas ketika sakit. Sementara segelintir manusia ‘bebas’ wara wiri memilih sekolah dan rumah sakitnya, setinggi apapun kualitasnya, dimanapun letaknya .
Caci makilah komunisme Marx, belalah jalan komunisme Cina. Keduanya jauh lebih baik daripada membuatnya menjadi hantu. Sehingga pemerataan listrik, sekolah, internet, penghentian pembakaran buku adalah program utama perburuan hantu. Agar rakyat tak lagi takut dan tak mempan dihantu-hantui.

You might also like

4 thoughts on “Berburu Hantu Komunisme

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published. Required fields are marked *